Saat Panen Atau Paceklik Juga Perlu Istirahat

Almanak Jumat 31 Juli 2009:

Enam hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga. (Keluaran 34:21)

Ada 2(dua) alasan utama mengapa manusia disuruh Tuhan beristirahat sehari dalam sepekan. Pertama:  mengingat penciptaan Tuhan atas langit dan bumi (Keluaran 20). Kedua: mengingat pembebasan dari perbudakan (Ulangan 5).  Bagi kita orang Kristen tambah satu lagi: untuk merayakan kebangkitan Kristus. Intinya sama: manusia perlu beristirahat dan tidak bisa terus-menerus bekerja. Bahkan bukan hanya manusia, semua mahluk dan  alam termasuk ternak dan juga tanah juga perlu istirahat.

Ayat hari ini mengingatkan kita bahwa di saat-saat kritis atau genting, atau di saat-saat yang kita anggap begitu penting (membajak atau sebaliknya panen) manusia tetap perlu beristirahat sehari dalam sepekan. Jangan kuatir. Dan jangan serakah. Baiklah kita sadar uang bukan segalanya. Tubuh dan jiwa kita akan hancur jika dipaksa terus-menerus bekerja. Bagaimanapun juga manusia tetap butuh istirahat sejenak. Bahkan di saat-saat dukacita sekalipun!

Tuhan menciptakan hari istirahat itu demi kepentingan kita.  Yaitu untuk memulihkan raga dan jiwa kita, mengembalikan keseimbangan hidup, mengisi ulang hati yang kosong, dan memberi kita kesempatan merenung firman Tuhan dan berdoa lantas menjadi manusia baru. Ibarat batere jiwa kita perlu dicas ulang. Ibarat tempayan hati kita perlu diisi kembali. Sebab itu taatilah pesan Tuhan. Bekerja keraslah selama lima atau enam hari dan kemudian istirahatlah.

Doa:

Ya Allah, doronglah kami bekerja keras menyejahterakan hidup kami. Berilah kami kesehatan yang baik. Dan ajarlah kami menghargai hari istirahat yang Kauanugerahkan. Biarlah kami memakai hari istirahat pemberianMu untuk sungguh-sungguh memulihkan raga dan jiwa kami, membuat hidup kami kembali segar dan baru. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

7 Responses to “Saat Panen Atau Paceklik Juga Perlu Istirahat”

  1. abrianto nababan Says:

    Amin…

  2. Djuara Lubis Says:

    Mauliate atas renungan indah ini,
    Masalahnya (atau bukan masalah???), kita tidak terlalu biasa membedakan dengan tegas antara istirahat dengan bekerja. Waktu bekerja, kita bersantai-santai dan waktu istirahat kita menyenggol juga pekeraan kita. Budaya kita juga permisif terhadap campuran kerja dan santai ini. Bukankan dalam Bahasa Batak “horja” atau “ulaon” bisa berarti bekerja dan bisa pula berarti pesta? Bahasa lain di nusantara juga banyak yang seperti ini. Memang, produktivitas kita memang rendah. Bagaimana Mr. Ethos?

  3. Jansen H. Sinamo Says:

    Hari Sabat, Tahun Sabat, Tahun Yobel semua perlu untuk:
    -Revitalisasi jiwa kita
    -Rekondisi tubuh kita
    -Rejuvenasi lingkungan kita

  4. Friska Pardede Says:

    Tidak ditulis kan amang hari yg dimaksud adalah Minggu.
    Kalau halak hita yg dikota2 besar agak susah menjalankannya, justru setiap hari ketujuh itu ada arisan2 keluarga, nah kalau kita yg ketempatan …ya tidak sempatlah ke greja utk mencas ulang rohani kita sedangkan Jumat dan sabtu kondangan lha….. kapan istirahatnya.

    Daniel Harahap:
    Ala nii orui hamu ma na marisan i. Ingot patik ni Debata: ingkon mangulon do jolma! :-)

  5. M Donal Panjaitan Says:

    Terimakasih Yesus…..
    berikanlah kemampuan buat hamba baik dikala bekerja dan beristirahat semuanya kulakukan hanya untuk kemuliaan NamaMU saja.
    karena hanya Engkaulah Tuhan Yesus Juruselamat Saya yang hidup yang mampu memberikan dari segala hal yang tidak bisa kami pikirkan.

    Terpujilah NamaMU

  6. Nainggolan Prabu Says:

    Amen.

    Membajak…, panen… dan jangan lupa istirahat.

    Membaca kata membajak dalam renungan Amang Pdt saya jadi teringat romantika hidup di Samosir terkait dengan aktivitas membajak, kenangan yg sarat pergumulan, denting kehidupan yg sarat dengan renungan pada masa awal sampai akhir tahun 70 han.

    Bagi masyarakat Toba di Samosir kata membajak bukan hanya sebagai kiasan akan tetapi mejadi satu kegiatan nyata dan rutin manakala saatnya mengolah sawah dan ladang sudah tiba. Saya termasuk yang mengalami langsung betapa beratnya membajak ladang yang hendak ditanami.

    Pada saat membajak ( bahasa toba:Maninggala) ada tiga makluk yg saling bekerja sama. 2 manusia dan 1 Hewan( biasanya kerbau) dan ada kalanya 2 hewan (bisa sapi bisa kerbau) dan 1 Manusia tergantung jenis hardware dan type bajak yang dipakai. Saya dan Oppungdoliku memakai jenis yg pertama.

    Sebagai anak gembala saya tau betul perangai kerbauku yg sering bekerja sama saat membajak. Kerbaunya tentu yg sudah terlatih. Dan cerita tentang melatih bagaimana seharusnya seekor kerbau agar bisa dipakai untuk membajak bukan kerja yang mudah. Pelatihannya sangat seru lebih seru dari Pelatihan di OutBond. Waktu membajak yang tepat adalah pada saat subuh,menjelang pagi, maka pada kokok ayam yg kedua kami harus berangkat menuju ladang menuntun kerbau sambil menjinjing Hardware Bajak antara Lain Auga (bahasa alkitab: Kuk) seberat 20 kg karena terbuat dari kayu yang kuat dan keras dan Bajak yang beratnya kira-kira 35 Kg. karena hari masih gelap ditambah rimbunnya pohon mangga, Oppung Doliku harus pake lampu senter, tidak ada listrik, sementara aku duduk berlekuk diatas kerbau membungkus kepala sampai ujung kaki dengan sarung karena udara pagi yang dingin sekali.

    Kerbau sudah hapal jalan menuju ladang kami, yang disisi barat tumbuh dua pohon mangga yang berbuah setiap menjelang bulan Desember. Kerbau juga sudah hapal mana jalan yang berlobang untuk dihindari, tak perlu dikomando, karena saya yang duduk diatasnya sudah melakukan training sebelumnya bagaimana cara melompati dan menghindari jalan berlobang ditepian tebing yang agak curam sepanjang jalan menuju ladang kami.

    Cara melatihnya: Saya menunjukkan dan melakukan lompatan dan kerbauku memperhatikanku, dan setelah beberapa kali latihan baru Kerbauku bisa melakukannya. Pernah kerbauku terjatuh karena latihan yg ketat dan keras, kaki kerbau terluka. Oppungdoli liat itu luka, habislah aku dimarahin. Aku menangis saat itu, rasanya sangat sedihnya, karena rasa sedihnya agak lain jika cucu dimarain seorang Oppungdoli.

    Luka diobatin dengan seburan sekapur sirih dari mulut Oppung, dan saya ingat betul, mulut Oppung komat kamit sesaat akan menyemburkan air sirih yg mirip obat merah itu, mungkin mengucap doa Bapa Kami, saya tidak tau. Yg jelas Luka mengering dan sembuh.

    Pada saat membajak, sayalah yg mengendalikan kerbau agar berjalan lurus. Saya pegang ujung Kuk biasanya pada posisi sebelah kanan kerbau. Kerbau menarik Bajak, Oppung Doli yang mengendalikan alat bajak yang membelah tanah yg terangkai tali rotan dengan Kuk, harmoni yg indah dan serasi dalam bekerja. Intinya Saya dan Kerbaulah yang menarik alat bajak, jadi pekerjaan Oppung tidak begitu berat, ibarat bertukang, saya dan kerbaulah keneknya dan Oppunglah Mandornya.

    Mentari pagi pun muncul dari ufuk timur dg sinar terang namun terasa sejuk dan tibalah saatnya maradian (istirahat). Tanah hasil bajakan terlihat gembur dan memperlihatkan kesuburan. Satu indikasi kelak akan ada hasil panen yang baik. Kuk dilepas dari leher kerbau dan kami duduk melepas lelah dibawah pohon Mangga yang rimbun, kerbaupun merumput dekat pematang.

    Indahnya harmoni dan dinamika hidup di alam desa. Saat istirahat terasa sangat nikmat, karena sejak subuh sekujur badan basah dengan keringat. Kira-kira pukul 6.30 Oppung Boru datang dengan jinjingan sarapan pagi. Ada kopi Sidikkalang kegemaran Opungdoli dan kopi harus panas, dan buatku Oppungboru membuatkan minuman susukaleng cap Bendera dan tak lupa Singkong rebus dg campuran sedikit garam, enak dan segar karena singkong juga hasil dari ladang kami.

    Pada saat musim mengolah ladang seperti itu, tanaga sangat terkuras, dari pagi hingga menjelang sore harus kerja karena musim tanam akan segera dimulai. Oppung Boru harus sediakan biaya ekstra, karena menu makan siang dan malam kamipun sesekali beda dg yg biasanya ( Gulamo bakar ditambah sambal tomat bakar pokoknya serba dibakar). Dan daun singkong tentu.

    Sembari Oppungboru mempersiapkan sarapan pagi yang nikmat itu, Oppungdoli sudah siap untuk berdoa. “Martangiang ma hita “kata Oppung. Sebelum masuk sesi doa, Horbopun harus dekat dg kami bertiga. Entalah Oppungdoli kayak tukang berkat aja, mengajak Kerbau kami agar ikut dalam sesi doa. Dalam doanyapun Oppung meminta agar Horbo kami diberi gogo dan kesehatan dan mohon agar maranaki (bertambah banyak). ‘Mauliate ma diho ale Tuhan’. Amen. Dan akupun akan segera mandi(marusop :artinya mandi .tanpa sabun, dan jarang sikat gigi, kadang pake pasir aja cukup, dan sampai sekarang gigi saya masih utuh) ditepian Danau Toba.

    Setelah marusop 2 atau 3 kali segera berlari menuju Sekolah (SD). Tidak ada seragam dan tanpa alas kaki. Hati senang karena dalam setiap Doanya Oppung menyerahkan hidup dan kehidupan kami ke tangan Tuhan dan juga, “Lehon ma dipahoppunamion gogo dohot hapistaron dibagasan sikkolana, anggiat nian ale Tuhan sahat ibana tu nasininta ni rohana hombar tu lomoni roHam”doa Oppungku.

    Lahan sudah siap untuk ditanami , sehabis dibajak harus dicangkul dan di tata rapi untuk membuat pematang , karena kami akan menanami bawang putih diladang kami. Jeramipun sudah siap untuk menutup bibit bawang putih yang baru ditanam. Kenapa bawang putih?, belakang saya tau karena harganya dipasar beda dari bawang biasa dan modalnyapun memang lebih banyak. Pantas Oppungboru mengolah menu yang enak pada pra musim tanam. Untung yg didapat dari hasil panen berlipat rupanya.Biasanya pelit kok jadi royal. Puji Tuhan.

    Seusai musim tanam Oppungdoli biasanya akan pergi “Manombang” dengan berjualan secara kredit disekitar areal perkebunan , katanya di Sumatera Timur. Menunggu sambil melakukan pemeliharaan , kalo dak salah lebih kurang 2 setengah bulan, saat panenpun tiba. Oppungdolipun pasti balik dari Sumatera Timur, yang biasanya lewat dari Tigaras, dari sana dengan kapal motor diturunkan di pantai dekat Rumah kami yang dikelilingi pohon beringin dan bambu ditepi Danau Toba, Danauku.

    Oppungdoli tidak akan Lupa oleh2 kegemaranku dan Oppungboru. Buat saya pasti ada Roti Putar yg rasanya manis. Bentuknya memang bak rotan yang diplintir sama persis dg rotan yang terangkai di alat bajak kami yg di alat Kuk itu. Dan buat Oppungboru pasti ada pisang dan Rotibulan yang setengah renyah dan empuk, rasanya mirip roti ketawa, bentuknya bundar sebesar piring kecil,dibungkusnyapun dengan mirip kertas koran dan semuanya dibeli di Siantar. Dan seperti biasanya kalo Oppungdoli dah turun dari kapal, aku dan temanku akan mengikuti sampai dirumah, dan juga para dongan sahuta, sejenak kami bersama menikmati oleh2 bawaan Oppungdoli. Pokoknya enaklah… dan .. entalah .. sekarang ini … di kampungku hal seperti itu sudah jarang terjadi. Kalau sudah balik dari panombangan , pertama yg ditanya adalah keadaan horbo kami yg jumlahnya 7 ekor itu. Selalu tanya “Denggando nian diparmahan ho horbo i?.

    Kerja keras, membajak dan berkeringat sejak subuh sampai terbit fajar, duduk berlekuk diatas kerbau menuju ladang ditengah subuh yang dingin, semua terasa indah dan nikmat disaat menuai di panen ini. Saat itu Hari Pokkan di Haranggaol adalah Hari Senin dan Kamis. Hari Senin aku terpaksa bolos dari sekolah, karena ingin ikut Oppung ke Haranggaol menjual hasil panen kami yang berlimpah itu. Bayangkan 2 Goni Garis Sada ( standar karung Goni paling Besar) setara 100 kg/per Goni, bawang putih kelas super pula. . “Aku sudah bilang sama Si Malau”. Jawabku Saat Oppung tanya. (Guru kami marganya Malau, Guru nariting,/galak sudah banyak Balobas patah karena dipakai gebukin kami, yg malas dan tukang main “marlimper ” /permainan memakai koin limarupiah saat jeda istirahat). Saat itu Guru mukulin murid merupakan hal yang biasa.

    Kapal Motor yg diberi nama “KM Saur Na Uli” membawa kami ke Haranggaol. Tak lama kami nungguin, Toke bawangpun datang, Oppungboru sekalipun buta huruf tapi bisa menghitung jumlah penjualan, akurat sekali. Sudah menjadi kesepakatan bahwa yang menjadi bendahara di rumah adalah Oppungboru dan Oppungdoli tidak keberatan, yg penting uang Tuak di sore hari lancar. Taulah Aku ternyata Oppungboru ini punya uang yang lumayan banyak buat ukuran orang desa. Bertiga kami makan siang bersama, makanan yg paling enak , “panggang”. Setelah itu adalah acara sopping-sopping. (Mangalului situhoron). Sesi yg paling nikmat dan sangat bertolak belakang dengan kegiatan pra musim tanam 4 bulan yang lalu itu. ‘Etama talului ma sipatum, amang” Suara Oppungboru yang lembut dan menyejukkan, sulit mencari tandingannya dimasa “pertarungan ” seperti sekarang ini. Saya ingin membeli Bibel yg baru, karena Bibel kami yg dirumah sudah kumal dan banyak halaman yang terlepas dan sebagian hilang, tahun mulai dipakai masih tertera yaitu tahun 1953.

    Kami harus punya Bibel, karena Oppungboru buta huruf, maka tugaskulah membaca Bibel untuk Oppungku. “Jaha jo muse Jamita ni Pandita sinari minggui”, Jahahon jo Mateus i”. Itulalah Oppungboruku.

    Oh ya Oppungboru pasti dah tau …. ini sudah Nopember… menjelang Natal. Guru sekolah minggu sudah membagikan kami masing-masing ayat alkitab untuk dihapal. Akupun sudah dapat ayatnya: “Sada Musa sada ayat sada rodi ayat Tolu” sudah tiga kali aku dapat ayat itu, yaitu sejak kelas 4 s/d kelas 6.Jadi sangat hapal betul. Sekolah minggu kami sudah merencanakan Haul besar, kami menyebutnya “Marjagal-Jagal” yaitu acara makan bersama para anak “Sikkola Minggu” bersama para Guru Sikkola Minggu sebelum malam ” Mar Ayat-Ayat”. (Membaca nat Alkitab secara luar kepala, berdiri empat atau 5 orang diatas bangku panjang menghadap para Jemaat( Orangtua). Mental hrs kuat karena banyak juga teman yang Mokkot (grogi) dan tak mampu mengucapkan ayat-ayatnya dihadapan mata orang banyak, bahkan nangis juga ada, saking gugupnya. Pokoknya ragam gaya anak sekolah minggulah.

    Saat Marjaga-jagal sudah tiba, saat itu makanan berlimpah dan enak-enak pula. Bayangkan yg dipotong adalah beberapa ekor lomok-lomok dan ayam kampung, makanan sampai berlebih dan disuruh bawa pulang. Makan sepuasnya karena nanti mala m mar ayat-ayat . Malam ini adalah pertarungan, “mar ayat-ayat “ya ..uji nyali, keberanian dan demontrasi Suara siapa yang paling menggelegar menyampaikan ayat-ayatnya. Malam yang sangat mengesankan, Malam eksistensi dan malam aktualisasi diri.

    Ari Pesta Sikkola Minggu…. malam ini, Setelah beberapa hari dipandang-pandang (dipelototin) Shootingpun mulai dan … Action…Sepatu Baru, Baju lengan panjang bahannya Tetoron warnanya birulangit ada gambar kembang di belahan depan, Celanapun baru bermerek AMCO ditambah lagi sore tadi sudah mandi, kali ini harus pake “Sabun Angin” ( Sabun Mandi Wangi ), gigipun sudah disikat, kali ini sudah pake Odol “Delident”, bukan pasir lagi. Semuanya dibeli dari Onan Haranggaol setara “pasar Senennya ” orang Jakarta di era tahun 70 an. Semuanya berkat dari Tuhan, berkat panen yg melimpah.Panen bawang putih.

    Oppungdoli dan Oppungboru menemaniku berjalan ke Gereja , Terang yg tersisa dari petromak Lapo Tuak sepanjang jalan ke Gereja menerangi gulita malam. Indahnya terang itu. Oppungboru terlihat anggun dg dandannya yg sederhana, Oppungdoli memang Cakap dan ganteng selalu pake Jas dan Peci. Malam itu kampung terasa semarak dan rame, suara yang saling menyapa dan memanggil penuh keakraban.

    Terang lampu Petromak yang bergelantungan di dalam gereja membagi terangnya bagi sekeliling yg gulita lewat jendela dan pintu yg terbuka lebar. Malampun menjadi terang dan kenangan yg anggun sepanjang hayat. Senandung rohani dan Doa dan juga berkat malam itu masih terasa hingga detik ini. Tuhan.. hari inipun masih tetap teringat untaian kalimat Doa Oppungdoli, Tuhan hari inipun saya masih ingin mendekati Pintumu yang terbuka Lebar, TanganMu ma hutiop asa anggiat sahat au tu nasininta nirohakku, hombar tu lomoni roHam. Amen
    .

  7. K.S. Turnip Says:

    Daniel Harahap:
    Ala nii orui hamu ma na marisan i. Ingot patik ni Debata: ingkon mangulon do jolma!

    Setuju … Amang pandita. Hampir semua orang Batak pasti ada ikut arisan, sekilas tidak ada yang salah memang. Tetapi jika di telusuri rumah tangga demi rumah tangga, ketemu lah kejanggalan tsb. Jika saja kita ikuti semua arisan, niscaya setiap hari minggu tidak pernah ada waktu untuk istirahat.
    Bayangkan : 1. Arisan marga dari pihak suami, 2. Arisan marga dari pihak istri, 3. Arisan marga dari ibu pihak suami (bere), 4. Arisan marga dari ibu pihak istri (bere), 5. Arisan marga dari suami yang satu oppu, 6. Arisan marga dari istri yang satu oppu, 7. Arisan parsahutaon, 8. Arisan dari gereja.
    Satu bulan hanya ada 4 X hari minggu, paling banyak 5 X. Jadi tidak heran, saya mempunyai teman yang jaraknya hanya sepelemparan batu, tapi tidak pernah bertemu selama lebih dari 5 tahun. Padahal teman yang berada di luar pulau bisa ketemu setiap tahun. Anehhh…..kaaannn…..???

Leave a Reply