Harta & Hati

July 21, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Selasa 21 Juli 2009:

Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya. (Mazmur 62:11)

Bekerja keras agar dapat memiliki banyak uang dan materi adalah baik. Berusaha sebaik-baiknya agar dapat menjadi kaya adalah absah. NamunTuhan tidak mengijinkan kita mendapatkan uang atau materi dengan cara-cara yang tidak benaratau melanggar hukum. Antara lain: memeras, merampas dan mencuri. Artinya jika ingin mendapatkan uang, gunakanlah cara-cara yang baik dan benar.

Namun Alkitab menganjurkan yang lebih dalam lagi. Janganlah hatimu melekat kepada harta. Artinya: jangan cintai harta seperti kita mencintai Tuhan atau sesama. Jangan jadikan uang sebagai kekasih, suami atau istri. Sebab yang pantas dikasihi dengan segenap hati hanyalah Tuhan dan manusia. Orang yang mengasihi uang tidak dapat berbahagia (Pengkotbah 5:9). Bahkan cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10). Maksudnya: karena mencintai uanglah orang terjebak dalam berbagai kejahatan termasuk mencuri, memeras dan merampas.

Lantas bagaimana? Uang atau harta cukuplah diperalat atau diperhamba saja. Uang dan harta jangan dijadikan tujuan, tetapi alat untuk mewujudkan tujuan yang lebih mulia. Tujuan yang lebih mulia itu: mengasihi Tuhan dan sesama, melayani, membangun kehidupan bersama dll.

Doa:

Ya Allah, ubahlah dan baharuilah hati kami. Engkau Tuhan dan Allah kami yang kami kasihi dengan segenap hati dan jiwa kami. Ingatkanlah kami agar tidak mencintai uang dan harta. Juga agar kami tak menjadikan uang sebagai tujuan satu-satunya dan terakhir dalam hidup kami. Sebab tujuan hidup kami adalah memuliakan Tuhan dan melayani sesama. Demi Kristus kami berdoa. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

14 Responses to Harta & Hati

  1. Ninggor Pardede on July 21, 2009 at 6:52 am

    Bimbinglah aku Tuhan. Amin.

  2. rusman sagala on July 21, 2009 at 8:12 am

    Setuju Amang,uang dapat membeli banyak hal,namun tidak dapat membeli segalanya.Bukankah uang dapat membeli obat termahal tapi tidak dapat membeli kesehatan,atau membeli kasur tercanggih namun tidak dapat membeli tidur nyenyak dan hanya dapat membeli rumah termewah namun tidak dapat membeli rumah tangga,dll,dll…..
    Terima kasih Tuhan atas renungan segar hari ini,kuatkan kami untuk bekerja dengan cerdas agar kami mampu mencapai hasil maksimal demi kemuliaanMu.

  3. abrianto nababan on July 21, 2009 at 8:14 am

    Apapun yang kami punyai saat ini, kami serahkan semuanya hanya kepadaMU, dan akan kami pergunakan demi kemuliaan namaMU, karena semua yang kami miiki bersumber daripadaMU

  4. Mangara Pakpahan on July 21, 2009 at 8:21 am

    “ORAET LABORA”

    Pertanyaan nya: – Apakah bekerja untuk hidup ? atau
    – Apakah hidup untuk bekerja ?

    Doa ku:
    Tuhan, aku benar-benar membutuhkan uang, supaya dapat membeli kebutuhan ku. Ajarlah aku untuk mengelolanya dalam memenuhi kebutuhan ku, supaya diri ku tidak dikuasai olehnya, melainkan itu dapat ku pergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Demi kemuliaan Mu ya Kristus Tuhan ku. Amin.

  5. Agus Karta Parulian Panggabean on July 21, 2009 at 8:36 am

    Awas!!!! Salah satu cita-cita orang Batak yang bernama HAMORAON bisa membawa kita jatuh ke dalam dosa, seperti: penipuan, pencurian, pembajakan, perampokan, pemalsuan dokumen, dll. Apalagi jika iman kita lemah, godaan tersebut akan membuat kita jadi pelaku tindak kejahatan.

  6. liberty on July 21, 2009 at 10:20 am

    Benar sekali Firman Tuhan hari ini, meyadarkan ,agar uang hanya untuk alat mewujudkan tujuan . ada dua pertanyaan amang, epistel kemarin mengatakan dimana hartamu disitulah hatimu, sementara ayat renungan hari ini janganlah hatimu melekat pada hartamu”
    Kemudian Tulisan “amang berusaha sebaik-baiknya untuk dapat menjadi kaya adalah absah” ? kok Absah bukan “sah”amang salah tulis kali ya?

  7. Jansen H. Sinamo on July 21, 2009 at 10:54 am

    Minggu lalu saya berceramah di Pekanbaru pada sebuah perusahaan yang sedang merayakan panen raya kelapa sawit dengan tema pesta yang tak lazim: “Uang adalah tuan yang jahat, tetapi hamba yang baik.”

    Meskipun sangat benar namun sempat terkejut juga dengan tema yang sangat gerejawi itu untuk sebuah korporasi yang hakikatnya mengejar laba.

    Senanglah, apalagi pemilik perusahaan itu seorang warga HKBP pula:-)

    Puji Tuhan.

  8. Robert Sibarani on July 21, 2009 at 2:26 pm

    Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu…….

  9. Erpesim on July 21, 2009 at 3:56 pm

    Pemerasan dan perampasan adalah hal umum yang sering dikerjakan dan secara pelahan-lahan menyatu dlm kehidupan sehari-hari.
    Persaingan dan Kesempatan yg terbatas,adlah setan yg menjadi momok.

    Disamping pencarian harta berbentuk barang juga harus dicermati dalam persaingan memberi Pengetahuan (Ilmu dan ketrampilan) dgn biaya selangit (memeras) dan perampasan Kesempatan hidup orang lain (memanfaatkan Informasi dan Koneksi yg terbatas).
    Pemerasan dan perampasan model ini selalu bermuara ke sikap mengumpul dan menumpuk harta pribadi dan kelompoknya.

    Puji Tuhan Nats Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita,bahwa cara2 pencarian dgn cara “memeras” dan “merampas”,Tidak untuk Dipercayai (apalagi dikerjakan) dan hasil harta dari situ janganlah dijadikan Pengharapan (krn pasti membawa kesia-siaan).

    Kiranya,Roh Kudus menolong dan memampukan kita melakukan FirmanNYA.

  10. Nainggolan Prabu on July 21, 2009 at 4:02 pm

    Uang bukanlah segalanya, walau segalanya harus dibeli dengan uang. Jesus juga mengajari kita apa dan bagaimana cara berdoa. Seperti untaian kalimat dalam Doa Bapa Kami. “.. berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya..”. Sebagai manusia “dunia”, saya sering lupa makna kata “secukupnya”. Pikiran penuh rencana. Dulu sebelum punya rumah, hati sering berguman, betapa senangnya kalo sudah punya rumah sendiri. Setelah punya rumah, ehhh masih marsak pula.

    Melihat teman ruas pergi ke kebaktian dg kendaraan sendiri bersama anak2/isteri, hati senang melihatnya dan kapan ya kami sekeluarga seperti itu?. Dan setelah punya kendaraan sendiri, ehhh… masih ada yang kurang.

    Ternyata semuanya sia-sia seperti kata yang sering disampaikan dalam Penghotbah. Makin banyak uang keinginanpun pasti banyak. Tadi pagi seorang korban Bom Mega kuningan, mengatakan ” Sekalipun saya mengalami luka sobek di kepala, saya sangat bersyukur kepada ALLah, sebab pada hari ini saya masih menikmati indahnya hidup”. Ya.. bersyukur dalam segala hal sebab disanalah hasonangan itu. Saya masih ingat betul Khotbah hari minggu kemaren. “Belajarlah memberi dari kekurangan yang kita miliki, tidak perlu menunggu segalanya berlebih baru ingat untuk memberi, karena kalau sudah punya banyak mungkin juga idak sudi berbagi. Pasu-Pasu nagodang Ima roha Sonang. Dan memang bukan uang rupanya yang bikin hati ini sonang. Tuhan ampunilah aku orang yang berdosa ini. Amen

  11. Friska pardede on July 21, 2009 at 7:47 pm

    Ai haram do amang menerima amplop ( tentu isinya uang) molo halak mangurus urusanna di kantor2 instansi pemerintah sebagai wujud terimakasihnya????

  12. Nainggolan Prabu on July 22, 2009 at 9:25 am

    Menerima Amplop: (Friska Pardede)
    Kalau Amang Pdt diharuskan memberi jawaban atas pertanyaan ini, saya yakin pasti hodogan karena terjebak dalam kondisi Maju kena mundur juga kena. Saya bukan hendak menggurui atau sok tau, namun ingin sedikit memberi informasi yg erat kaitannya tentang dunia peramplopan ini.

    Bukan bermaksud bermain politik, dan saya tidak tau di Instansi mana sdr. Friska bekerja. Salah satu agenda penting dari Presiden SBY adalah melanjutkan Reformasi Birokrasi yang telah terlaksana dan pertama sekali direform adalah unit Eselon I dilingkungan Dep. Keuangan. Reformasi tersebut tentu hrs dipersiapkan dgn baik yg menyangkut sistem maupun SDM terutama kwalitasmoral dan kemampuan .

    Salah satu Unit Dep. Keuangan yg pertama sekali melakukan silent Revolution Ref. Birokrasi adalah Ditjen Pajak. Dari pengalaman yang ada, dinegeri ini banyak orang berteriak untuk berantas korupsi namun dalam hati mereka tidak rela kalau permainan kotor itu disapu bersih. Baik sebagian besar pamong dan rakyat kita.

    Salah satu ciri Birokrasi yg telah direform adalah ada kepastian dalam pelaksanaan suatu pekerjaan yang berkaitan dengan pelayanan Publik. Berapa hari dan berapa biayanya, dan kebetulan di DITJEN Pajak semua pelayanan dilakukan dengan GRATIS/tidak dipungut biaya. Kepastian tsb dibakukan dalam siatem yg disebut SOP (standart Operating Pro).

    Utk memastikan SOP tsb dijalankan ada alat kendali yang disebut Kode Etik. Namun hrs dipahami bahwa merobah sistem sangat mudah tidak sesulit merobah sikap perilaku SDM dalam instansi. Artinya tantangan yang terberat berasal dari dalam Birokrasi. (Internal). JIka terbukti ada penyimpangan maka Kode etik akan me
    rekomendasi

    Dengan adanya SOP dan Kode Etik yang mengikat SDM sebagai pelaku pelayanan Publik, maka permainan amplop yang menjadikan berjuta rakyat negeri ini tidak mendapat pelayanan yg terbaik dari para pamongnya, dapat terkikis habis. Tidak mudah melakukan itu karena sejak Zaman Devide et Impera s/d Era Reformasi Pamong di negri ini sudah terbentuk sebagai Pamong bermental majikan, bukan pamong yang melayani rakyat negeri ini, pamong yang pamrih dan korup. Di dalam gereja juga jamak saya lihat mental seperti itu, mereka bicara soal pelayanan tapi ada bandrolnya.

    Fuji Tuhan 1 Januari 2010, Kepolisian RI juga akan melaksanakan pelayanan yang kita harapkan jauh lebih baik dari yang sekarang, krn sejak saat itu gaji para polisi kita sudah akan dinaikkan sesuai standar dan kemampuan negara dan sesuai dg kaidah yang hrs dipenuhi dalam reformasi Birokrasi iru.Minimal polisi tidak lagi dibenci oleh rakyat yang selam ini masih merasa tidak dilindungi dan dilayani.

    Sebagai umat kristen mudah2an kita mampu melakukan seperti apa yang diucapkan dan dikerjakan Jesus ketika datang ke dunia yang fana ini. “Aku datang bukan utk dilayani melainkan melayani, dan Aku datang ke Dunia bukan untuk orang benar tapi bagi mereka yang berdosa”.

  13. Friska pardede on July 22, 2009 at 9:46 pm

    Untuk amang Bpk. Prabu Nainggolan terimakasih atas tanggapannya.
    Di instansi saya memang masih amat sangat kental kebiasaan jelek ini krn memang instansi saya ini sangat berdekatan dgn dunia usaha.
    Karena kebiasaan yg sudah mendarah daging kita jadi tidak menyadari lagi itu haram apa halal.

    Ketika saya membaca renungan harian di ruma ini hal tsb selalu menggelitik hati saya….tetapi memang enak sih menerimanya krn saya memang tdk pernah minta semata2 pemberian krn pelayanan saya cepat dan prima, saya tidak pernah menahan2 urusan org itu kalau amplopnya blm ada, sungguh tidak pernah.

    Tetapi teman saya ada yg ditugasi untuk mengumpulkan amplop2 yg lebih besar untuk setoran ke atas, beberapa lapis ke atas dan saya yakin hampir semua instansi masih melakukan ini dan kalau org itu tidak mampu mengumpulkan sesuai target berarti org itu tdk bisa kerja dan segera dimutasikan. Mudah2an saya tidak akan pernah ditunjuk.

    Beberapa hari ini ada ketakutan di kantor saya krn konon KPK sedang mengintai, lalu buru2 para bos mengumpulkan stafnya dan mengatakan untuk hati2 kalau tertangkap tanggung sendiri…..

    Mudah2an SOP dan kode etik itu cepat sampai di instansi saya dan seluruh instansi pemerintah di negara ini agar sayapun terbebas dari kebiasaan jelek ini krn saya memang sudah muak bin muntah menyaksikan perilaku2 pimpinan di kantor saya yg silih berganti dan tetap seperti itu dan yg paling konyol uang pengusaha masuk tetapi urusan tetap tidak bisa….alamak…aku jadi malu., jadi kalian tidak usah taulah nama instansi saya sebab saya khawatir salah seorang pengunjung ruma ini pasti pernah berurusan dgn kantor saya.

  14. Sabar Simanjuntak on July 23, 2009 at 12:44 pm

    Pak Pdt. Saya mau bertanya : Bagaimana jika kita memiliki suatu harta yg bs di pakai orang lain, tetapi kita baru kenal sm seseorang itu (belum tahu bgmn sifatnya) dia minta tolong sm kita untuk memakai harta kita. Apakah yg harus kita perbuat?
    Tolong jawabannya di krm ke pesan fb saya, dare_juntaxs@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*