Plonco Yang Sama Sekali Tidak Lucu

July 17, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Muak. Ini benar-benar memuakkan. Perempuan, mahasiswi-mahasiswi teologi berteriak-teriak melengking-lengking memakai megaphone. Menyalak sekeras-kerasnya. Maaf, persis seperti anjing-anjing betina lapar baru dilepas dari kerangkeng. Mahasiswa-mahasiswa baru yang datang ke kampus teologi ini dengan seribu impian indah tentang gereja, kini hanyalah tikus-tikus mainan. Inilah yang dinamakan POSMA (Pekan Orientasi Studi dan Kemahasiswaan), nama halus dari plonco atau penggojlokan. Suatu istilah yang tak terlalu jauh dari penjagalan.

Aku belum sembuh dari luka dukaku ditinggal ayah, dan sekarang aku dijadikan olok-olok dan bulan-bulanan mahasiswa-mahasiswi tingkat 2, 3 dan 4. Mereka suruh kami membawa dua kaleng susu kental, dan sebuah apel. Untuk apa? Aku tak melihat ada gunanya kecuali untuk mereka minum diam-diam nanti di kamar asrama. Tapi, susu kental manis itu sebagian rupanya kami yang harus meminumnya, langsung dari kalengnya, bergiliran, sambil berbaris. Katanya lambang solidaritas. Kurang ajar! Seumur hidup aku tidak suka susu. Belum giliranku, aku sudah mau muntah duluan, tapi kutahan kuat-kuat, sampai badanku bergidik dan mukamu teras memerah. Habis susu datanglah apel. Satu apel untuk semua orang. Masing-masing satu gigitan, bergantian. Menjijikkan.

Apakah mereka puas? Belum. Sebentar-sebentar kami disuruh berbaris hanya untuk dibentak-bentak, atau lebih tepat sekadar untuk menyaksikan “senior-senior” (sengaja kuberi tanda petik) punya kuasa di lapangan ini walau mungkin mereka sangat bodoh di kelas. Makin rendah tingkatnya makin galak dan banyak pula tingkahnya. Kadang kami disuruh berjalan jongkok, maju-mundur. Kadang hanya disuruh menari-nari. Pokoknya sesuka syahwat mereka. Satu membuat kesalahan semua kena hukuman.

Aku ke sini untuk belajar teologi dan mempersiapkan diri jadi pendeta jemaat, namun yang terjadi aku hanya belajar jongkok, meneriakkan yel-yel, dan melakukan berbagai tingkah konyol lain. Namun aku terus-menerus menyabarkan diriku dan mengatakan ini harga yang harus kubayar mewujudkan cita-citaku. Naluri survival-ku mengatakan aku tidak boleh menjadi pusat perhatian mereka. Supaya tidak jadi bulan-bulanan. Karena itu aku menurut saja apapun yang mereka perintahkan dan bersikap setenang dan sewajar mungkin. Tapi rupanya mereka menemukan juga titik lemahku: aku tak bisa berbaris. Sedari kecil memang tangan dan kakiku kalau disuruh baris mirip boneka kayu Pinokio. :-) Jadilah aku bahan olok-olok mereka setiap hari. Aku sunguh-sungguh merasa dipermalukan.

Apa lagi? Tentu saja mengumpul tanda tangan “senior” sebanyak-banyaknya. Katanya supaya kenal. Anak-anak baru, termasuk aku, lagi-lagi menurut saja. Tidak ada kata TIDAK. Itu hukum perploncoan. Meminta tanda tangan “senior” harus sopan dan hormat! Itu perintah mereka dengan suara memekakkan kuping. Saban kali aku pun memaksa diriku agar “rela” menghiba, berjongkok di depan kampret-kampret haus darah ini. Demi sebuah tanda tangan. Namun, tiba-tiba kepalaku diketok menggunakan buku. Kamu bodoh sekali! Aku terkejut. Aku tidak merasa salah apa-apa. Pukulan itu tidak keras, tapi aku merasa sungguh dihina. Itulah penghinaan terbesar sepanjang hidupku. Aku menatap lama mata “senior” angkuh berbadan mini ini, diam dan menarik nafas. Tunggu satu saat, aku pasti membalas, kataku dalam hati. Mungkin dia menangkap sinyal kemarahan yang luar biasa di mataku. Dia membiarkan aku menyelonong pergi. Pluit berbunyi lagi. Kami diperintahkan mencari tandatangan bibik di dapur, tukang sapu kampus, penjaga dan supir. Katanya mahasiwa teologi wajib hormat kepada yang kecil Saat itu aku merasa geli. Menghormati pesuruh? Apa urusanku dengan Bi Romlah? Tapi tiba-tiba aku sadar khusus dalam hal satu ini mereka benar.

Pembantaian lima hari. Dari Senin sampai Jumat. Dari pagi sampai petang. Setiap hari, kerjaku hanya menunggu jam kapan 18.00 tiba, saat POSMA (nama halus plonco) menurut buku bubar, dan mahasiswa baru boleh pulang, sebelum besok dikerjai lagi. Dalam siksa dan derita jam terasa begitu lambat berputar, atau bahkan seolah tak bergerak. Jam enam sore itu begitu lama baru tiba. Namun, begitu tiba, “senior-senior” masih mengulur waktu setengah jam atau sejam lagi. Bangsat!

Aku heran mengapa tidak ada seorang pun dosen yang mengawasi di lapangan kampus ini. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti kenapa doktor-doktor dan pendeta-pendeta dosen STT yang pintar-pintar itu, membiarkan mahasiswa-mahasiswi, termasuk yang baru setahun di kampus ini, sudah bisa berbuat sesuka-sukanya, mengumbar nafsu buas primitifnya? Apakah mereka diam-diam setuju? Aku jadi punya penilaian lain terhadap kampus teologi ini.

Pada hakikatnya aku tidak biasa omong jorok. Ayah dan ibuku bahkan sekali pun tidak pernah berkata jorok atau kasar. Mereka orang-orang santun dan lembut kepada anak-anaknya. Tapi di kampus teologi, yang katanya tempat persemaian pendeta jemaat, sepertinya orang-orang begitu hobi berkata jorok dan kasar, menghina dan merendahkan orang lain yang belum dikenalnya. Apakah ini hanya sekedar “permainan peran” yang didisain untuk melatih mental mahasiswa baru sebelum bergumul dengan masalah-masalah teologi? Bohong, kataku. Kupikir mereka memang sedang punya masalah dengan jiwanya sendiri. Saat itu, sekali lagi saat itu, kecuali Pdt Bonar Tobing, mahasiswa S2, yang sangat lembut itu, yang kuperhatikan diam-diam selalu mengintip pembantaian dari celah gedung lantai dua, kecuali Pdt. Abe Poli, orang Rote yang sangat gagah dan ramah itu, kecuali Tiur Tobing, Mieke, dan segelintir mahasiswa tingkat atas, aku mau mengatakan “senior-senior” ini hanyalah monyet-monyet, anjing-anjing dan babi-babi! Sisanya: orang gila. Aku janji, kalau tiba waktuku menjadi senior di kampus teologi ini, aku tidak akan melakukan hal yang sama kepada adikku. Sungguh. Pasti ada cara lain untuk membangun persekutuan dan kesetiakawanan sejati.

Hari terakhir adalah yang paling kejam dan menakutkan. Hari pembantaian. Mungkin pikir mereka inilah kesempatan terakhir untuk mengolok-olok dan mempermainkan manusia. Sejak pagi kami disuruh-suruh, dibentak, dihina dan diperintah untuk melakukan hal-hal konyol, yang mereka sendiri pasti tidak suka melakukannya. Bernyanyi dan menari dibawah bentakan. Menirukan topeng monyet atau lebih sadis, menirukan perempuan sedang melahirkan. Menghitung lebar kampus dengan memakai sebatang korek api. Pokoknya tidak ada satu pun yang benar kami lakukan, menurut mereka, sehingga ada alasan untuk meneruskan gojlokan.

Hampir jalan 20.00 malam. Kami masih berdiri berbaris di tengah lapangan badminton, yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat kampus STT Jakarta, dan dipagar rapat oleh mahasiswa tingkat dua keatas. Aku tidak tahu persis apa alasannya di hari terakhir ini ada begitu banyak sekali “kakak tingkat”. Mungkin mereka ingin menonton pertunjukan sirkus terakhir, mungkin juga mereka sedang berjaga-jaga jika emosi yang terpendam mahasiswa baru tiba-tiba meledak. Walaupun mereka punya otoritas dari Senat Guru Besar untuk melakukan penggojlokan (aku lebih suka menggunakan istilah penyiksaan fisik atau psikis), tetapi kekuatan mahasiswa baru mengontrol emosinya sulit diprediksi, sebab itu mereka butuh banyak kawan, seandainya terjadi sesuatu di luar skenario.

Temanku seorang anak Bali, tiba-tiba diumumkan melalui megaphone, melakukan kesalahan fatal. Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya. Hari sudah gelap dan lampu lapangan dimatikan. Tapi dia dikerumuni oleh beberapa orang “senior” laki-laki. Seorang senior berbadan kekar bertampang sipir Nusakambangan berdiri di panggung dan mengatakan si anak Bali harus dihukum, dikeluarkan dari persekutuan. Siapa yang mau solider, setia kawan, menemani dia dihukum, tantangnya pongah bagaikan Goliath. Suasana hening. Semua mahasiswa baru diam mematung. Ancamannya: dikeluarkan dari persekutuan. Aku menarik nafas. Amarahku sudah sampai di puncak. Anak Bali ini baru saja kukenal di kampus ini, tapi bagaimanapun dia temanku sepenanggungan. Aku tak mau membiarkan dia sendiri dihukum. Aku pun menunjuk tangan dan maju ke depan. Melihat aku nekad maju, satu per satu temanku laki-laki maju. Akhirnya semua maju. “Bagus!” katanya. “Itu namanya solider.” Rupanya dia sedang menguji solidaritas kami. Tai kucing, makiku dalam hati, namun aku malam itu merasa menang.

Lantas kami pun disuruh baris ular. Memanjang. Aku membayangkan dereten orang-orang yang sedang antri masuk ke kamar gas Nazi. Perasaanku campur aduk. Marah. Letih. Muak. Gelisah menunggu-nunggu kapan saat pembalasanku tiba. Lihatlah nanti, kataku dalam hati berulang-ulang, walau aku sendiri belum tahu apa yang hendak kulakukan. Lantas mata-mata kami pun ditutup dengan kain. Masing-masing kemudian disuruh memegang bahu teman di depannya. Kami disuruh menyanyi, berulang-ulang, setengah suara: Inginkah kau ikut Yesus. Katanya kami hendak dibawa ke tiang gantungan. Mengikut Yesus dihukum dan disalibkan. Sebab itu perintah mereka: nyanyilah! Ikutlah Yesusmu ke Golgota!

Inginkah kau ikut Yesus pikul Salib.
Jangan takut, jangan bimbang, ikut Tabib.
Pikullah salibmu saja, jangan bimbang.
Lihatlah Mahkota Raja agung kudus!

Aku tak bisa melihat apa-apa, persis seperti orang buta. Tapi aku mendengar suara-suara yang sangat gaduh dan kacau sekali di sekelilingku. Seperti suara seng yang berdebar-debar, kaleng dipukul-pukul, pintu digedor-gedor, cemeti yang dilecutkan ke lantai, tong sampah jatuh dari ketinggian dan terakhir suara kaca pecah. Disertai teriak-teriak makian dan umpatan. Benar-benar kaotik, kacau sekali. Konsentrasi benar-benar pecah. Beberapa temanku perempuan kedengaran terisak-isak menangis. Ada yang meraung ketakutan. Arak-arakan anak domba ke pembantaian itu diperintahkan berjalan lambat, dengan mata terpejam. Aku tidak tahu sedang digiring kemana. Kami berkeliling, menaiki tangga, menikung, dan turun lagi. Nyanyian kami makin lama makin keras. Inginkah kau ikut Yesus pikul salib? Jangan takut, jangan bimbang ikut Tabib! Aku kehilangan orientasi, dan hampir kehilangan kesadaran. Aku sudah tidak memikirkan mereka sama sekali lagi. Aku mulai menitikkan air mata, mengingat ayahku yang tak kulihat demi mengikut panggilanNya, mengingat kesusahanku sendiri.

Akhirnya arak-arakan berhenti. Mata-mata pun dibuka. Tiba-tiba kami sudah duduk di depan sidang Pengadilan Terakhir. Aku langsung mencium bau busuk sandiwara. Memuakkan. Ada jaksa yang menuduh kami agar dihukum, plonconya diperpanjang, diulang lagi dari awal, atau kami semua dikeluarkan dari persekutuan. Ada berlagak jadi pembela kami. Ada yang jadi hakim. Terjadilah perdebatan. Pendek cerita, Hakim mengambil keputusan: semua mahasiswa baru dinyatakan benar dan bebas karna anugerah! POSMA selesai. Para “senior” berdatangan meminta maaf. Bersalam-salaman dan berpeluk-pelukan. Katanya ini hanyalah permainan peran sebagai bahan kenangan. Aku menyalami mereka sekenanya, sekedar basa-basi. Masalahku dengan mereka kuanggap belum selesai. Aku pun bergegas pulang ke Pulomas. Jam sudah 3 pagi.

POSMA sudah usai. Bagi para “senior” itu mungkin sebuah kemenangan dan kebanggaan. Terutama punya bahan baru pembicaraan, bekal canda dan lucu-lucuan sesama mereka kelak. Bagi para mahasiswa baru, terutama aku, itu telah menorehkan luka kemarahan dan dendam. Ya, jujur aku mengatakan: aku dendam. Ya, plonco, apapun itu namanya sekarang, atau apapun alasan pembenarannya, bagiku pada hakikatnya hanyalah sebuah rantai kekerasan, ajang umbar nafsu biadab, dan arogansi kekuasaan. Semuanya dilakukan atas nama persekutuan dan solidaritas. Lebih konyol lagi: demi keakraban. Tapi aku sendiri janji akan memutuskan rantai memuakkan itu, minimal bagi diriku sendiri.

Sebelum tertidur karena kelelahan raga dan jiwa, aku mengatakan lagi kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengakui senioritas semua orang yang telah mempermalukan dan menghinaku selama plonco kemarin. Itulah salah satu pembalasanku. Aku tidak akan mau memanggil mereka Abang atau Kakak. Aku hanya akan memanggil Abang dan Kakak hanya kepada siapa yang kuanggap pantas. Sebab bagiku senioritas bukanlah soal siapa yang lebih dulu masuk ke kampus, bukan pula soal umur, tetapi melulu soal komitmen, tanggungjawab dan kesetiaan. Siapa yang komitmen, tanggungjawab, dan kesetiaannya paling tinggi, dialah seniorku yang sesungguhnya. Senior sejati. Kelak, bila waktuku tiba, aku juga mau dianggap senior karena orang-orang lain melihat ke-tiga hal itu nyata-nyata ada dalam diriku.

Cuplikan buku Anak Penyu Menggapai Laut – Perjalanan Seorang Muda Belajar Teologi, Menjadi Pendeta dan Pribadi Otentik oleh Daniel T.A. Harahap

Mari Bergabung di Cause: Stop Perploncoan Biadab Di Semua Sekolah!

Share on Facebook

15 Responses to Plonco Yang Sama Sekali Tidak Lucu

  1. Ika Angelia Silalahi on July 17, 2009 at 8:47 am

    Great story…saya juga sudah baca biografi Amang…
    Saya juga ga stuju dengna MOS…GA bERGUNA sama sekali!!

    GOd bless you

  2. Djuara Lubis on July 17, 2009 at 12:53 pm

    Setuju, Amang Pendeta!

    Mari kita pikirkan sama-sama agar masa pengenalan sekolah/kampus menjadi proses yang mengakrabkan. Banyak kegiatan kreatif bisa dilakukan untuk itu. Yang pasti, bentakan dan kekonyolan tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kejengkelan.

  3. Hedmon Tampubolon on July 17, 2009 at 1:49 pm

    sudah berhentikah plonco di kampus2 dan sekolah2?
    kayaknya sudah sulit deh…
    ganti generasi total tuh baru bisa stop.
    Selama belum stop total, banyak korban sakit hati, fisik dan lain2 yang akan terjadi.
    Semoga harapan anak muda diatas bisa terkabul…

  4. Jansen H. Sinamo on July 17, 2009 at 7:02 pm

    Perpeloncoan telah menjadi virus yang menguasai otak-otak mahasiswa senior perguruan-2 tinggi kita puluhan tahun. Virus ini jahat, buruk, dan negatif.

    Bagaimana membasmi virus ini?

  5. Friska pardede on July 17, 2009 at 7:51 pm

    Belum sampai kecerita itu amang!! karena bukunya baru sampai ditangan saya 2 hari yang lalu, tetapi begitu membaca nya di ruma ini wah…..perasaanku bercampur aduk antara percaya dan tidak, masa iya suh di sekolahnya para rahaniwan ini ada juga acara seperti ini, tapi kan itu dulu kan amang…!mudah2an saat ini sudah tidak ada lagi.

    Tadinya terhadap putraku satu2nya dan ganteng pula kiunginkan dia menjadi pendeta dan berkuliah di almamaternya amanh ini, aku selalu meminta kepada Tuhan agar putraku ini terpanggil bukan krn paksaanku, pertimbanganku tentu kampus ini akan mencetak calon pendeta yg cerdas sekaligus bijak dan pandai yang akan membawa umat ke arah yg lebih baik.
    Bayanganku ia akan berkotbah diatas mimbar dgn baik dan akan melayani sebaik mungkin, pokoknya jauh lebih baik dari pendeta2 yg selama ini melayani di tempatku bergreja.

    Tetapi sepertinya dia tidak terpanggil malah di terima di fisika UI thn lalu, dan saya masih berharap selesai kuliah ini mudah2an dia terpanggil, mungkin saja kan…!
    Tetapi membaca kisah amang ini aku jadi berpikir kok…begitu ya, sungguh saya tidak menyangka, beda benar dgn ospeknya dia thn lalu, semuanya dibuat cerdas…tidak ada senioritas yg berlebihan , kelihatan memang senior dan maba sama2 di didik menjadi calon2 intelektual sejati

  6. Supardi Manurung on July 18, 2009 at 8:26 pm

    Horas Amang, apa ceritanya lebih panjang daripada yang di “Anak Penyu” ya?

  7. S.Simatupang on July 20, 2009 at 9:06 am

    Terimakasih dalam cerita kisah nyata ini.

    Kuncinya pelaksanaan Pelonco adalah dari para Dosen dan para Pendeta yg memberi izin , sebab semua itu diketahui mereka. tapi kalau boleh Perguruan Thoeologi janganlah dibiasakan pelonco yg kurang ajar yang wajar wajar saja. Tuhan Memberkati.

    Daniel Harahap:
    Tidak ada plonco yang wajar. Semua plonco kurang ajar dan kurang beradab. Sebab itu harus dihapuskan dimana saja.

  8. Nakita on July 21, 2009 at 12:54 pm

    Saya setuju per-ploco-an dihapuskan di semua tingkatan pendidikan. Ploco tidak saja merusak fisik tetapi juga mental. Bisa menimbulkan akar pahit dan tidak sehat.

  9. inilina gultom on July 21, 2009 at 1:51 pm

    Hari gn masih ada plonco. Jaman saya kul angkatan 2002 dah ga ada tuh.. apa perguruan Tinggi sekarang dah mundur ya. Upss jgn marah dulu.. kalo ga mau dibilang MUNDUR n JADUL…. maka hapuskanlah Perploncoan dalam bentuk apapun…… Merdeka. Yg GAul donk.. Tuhan memberkati.

  10. O. Pasaribu on July 22, 2009 at 9:15 am

    Pantasan di STT Jakarta ada yang sampai meninggal pada saat pelonco. itu terjadi th 2006 atau 2007 (sudah lupa) Yang meninggal itu tetangga kami di bojong gede dan satu gereja dgn kami di GPIB Bogor. Sejak kecil dia bercita-cita jadi pendeta, tapi apa daya dia harus merelakan nyawanya ditangan para seniornya di STT. Memang keterangan resminya dari dokter maupun STT dia meninggal bukan karena siksaan. Tapi fakta menyatakan dia meninggal pada saat pelenco. Kasih sekali…………

  11. tanobato on July 23, 2009 at 10:48 am

    Kisah yang disampaikan Amang DTA itu yang dicuplik dari buku “Anak Penyu” terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saat kuliah di STT Jakarta mengambil Program Pasca Sarjana dan ada yang meninggal ketika masa orientasi mahasiswa baru, aku sangat merasakan suasana kampus yang sedang berduka. Saat itu aku juga heran, koq sampai ada yang meninggal, padahal dalam beberapa hari sebelumnya aku tak melihat sedikitpun penyiksaan (apalagi seperti yang diceritakan amang DTA di atas yang terjadi pada ‘masa kegelapan’ …).

    Melihat, mendengar, dan mencoba-memahami apa yang disampaikan oleh Pemimpin STT Jakarta saat itu tentang ‘kecelakaan’ tersebut aku menjadi yakin bahwa itu bukanlah dampak penyiksaan secara langsung yang dilakukan oleh mahasiwa senior. Dan itu terbukti juga oleh kesediaan keluarga almarhum mahasiswa dalam menerima kenyataan tersebut tanpa melakukan tindakan hukum. Dan tahun selanjutnya – kalau tak salah – kegiatan orientasi mahasiswa baru selalu memberikan kesempatan untuk mengenang almarhum, sekaligus sebagai peringatan bagi semua untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindakannya.

    Meskipun secara pribadi dan melihat keseharian mahasiswa STT yang penampakannya lebih sekuler dari kampus non-teologi, namun untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru aku masih percaya bahwa peristiwa yang dialami amang DTA lebih sepuluh tahun yang lalu tidak lagi terjadi di STT Jakarta.

    Daniel Harahap:
    Itu adalah kisah tahun 1982 atau lebih dua puluh tahun yang lalu. :-) Tapi kisah perploncoan yang lebih biadab masih terjadi. Ketik saja kata ospek di imaji Google. Maka foto2 ospek biadab di banyak kampus segera bermunculan membuat mual perut dan geram perasaan.

  12. Sabar Simanjuntak on July 23, 2009 at 1:17 pm

    Saya sangat setuju jika di setiap kampus atau sekolah ospek itu ditiadakan/dihapuskan karena itu bkn cara mendi2k yg baik.

  13. Robert Sibarani on July 27, 2009 at 11:56 am

    Perpoloncoan itu tdk ada manfaat nya buat mahasiswa, cuma ngabisin dana aja……jadi sumber pengahsilan sampingan fihak yg lain…

  14. yanti sihombing on July 30, 2009 at 2:48 pm

    ya….perpeloncoan harus dihapuskan. Apalagi untuk mahasiswa STT dimanapun itu…. itu benar-benar biadap. Tahun 2002 saya liat mahasiswa STT diplonco di STT HKBP…yang peloncoin mahasiswa yang sudah lulus 3 tahun sebelumnya tapi belum juga jadi vikaris di HKBp karena kalah melulu. waktu itu aku dengar …seseorang bilang…. Eh… babi, alani bapakmu do dang monang ahu… kebetulan, waktu itu ada anak Eporus lagi mahasiswa baru, yang satu lagi aku dengar… Eh.. bangsat… alani anak praeses do ho kan… bangsat do bapa mi…. hepeng do na ringkot disi. Darahku pun naik ke ubun-ubun….. saya kebetulan aja kesana…. ada yang dicari toh saya bukan alumni STT… lalu saya bilang… pantesan kamu kau kalah melulu, ngomongmu aja tidak layak jadi Pandita… koreksi diri dong…..hampir aja aku diseruduk ama itu orang tapi tidak takut saya waktu itu…..saya pikir…. biarin… kalau ini jadi petaka di STT biarin jugalah supaya semua kaum di STT itu taw dan menghentikan Ordik itu. ya spt itulah….. bagaimana pulak sekarang ini ya apa masih ada plonco di STT?

  15. Daniel Siregar on July 13, 2010 at 2:35 pm

    sebelumnya aku akan manggil dengan sebutan abang kepada Amang Pendeta, karena Abang adalah seniorku…tapi aku jauh sekali di bawah abang.
    aku juga memang tidak setuju dengan apa yang dilakukan STT Jakarta selama bertahun-tahun mungkin juga sudah berpuluh tahun lamanya dengan mengadakan “OSMABA”. Istilah ini yang muncul pada waktu itu. dan pada Akhirnya “hal memuakkan itu” terjadi untuk terakhir kalinya di STT Jakarta pada tahun 2006. di satu sisi Aku bersykur Puji Tuhan Alhamduliah, akhirnya hal memuakkan yang pernah aku alami itu berhenti juga, tapi di sisi lain aku bersedih, mengapa setelah “tragedi” itu terjadi, STT Jakarta baru “Sadar”. Mungkin ada banyak juga yang menangis sedih.
    Akan tetapi ada dua kemungkinan: Pertama memang menangis sedih akan “tragedi” yang terjadi pada waktu itu, atau yang ke dua, menangis karena untuk tahun-tahun berikutnya yang menyebut dirinya senior tidak dapat melampiaskan “nafsu binatangnya”.
    Sedikit curhat, Aku juga mengalami hal itu selama 5 hari plus satu hari mengikuti “Jalan Salib” menurut katanya mereka yang mengaku diri senior-senior itu. Tujuan OSMABA itu agar kami dapat memupuk rasa solidaritas terhadap teman,(apa tidak ada cara lain padahal ini sudah dilakukan berpuluh tahun lamanya, berarti STT Jakarta tidak berkembang dalam hal metode, karena masih dipertahankan Hingga Tahun 2006) tapi mereka “senior-senior” yang menganggap diri Paling Pintar (KARENA BANYAK ORANG DI STT JAKARTA MENGANGGAP DIRI PALING PINTAR, MUNGKIN INI JUGA TRADISI ATAU APALAH NAMANYA) itu lupa atau tidak tahu bahwa mereka juga sedang membangun LUKA BATIN/SAKIT HATI, yang untuk mengobatinya tidaklah mudah.
    Tapi ada sebuah pertanyaan untuk abang, karena abang selalu menyebutkannya berulang kali mengenai balas dendam, apa abang sudah membalaskan dendam tersebut?
    Terima Kasih…Mauliate Godang.

    Daniel Harahap:
    Sudah. Dengan cara: tidak melakukan hal yang sama saat saya menjadi senior dan bahkan ketua Senat Mahasiswa STT Jakarta. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*