Tuhan Sangat Dekat. Bagaimana Kita Harus Hidup?

July 9, 2009
By

Almanak Kamis 09 Juli 2009:

Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.  (1 Korintus 7:17)

Ini salah satu ayat yang paling sulit kita pahami dan terapkan. Rasul Paulus menyangka Kristus akan datang kembali segera menghakimi seluruh dunia ini. Waktu kedatanganNya itu sudah di ambang pintu atau sangat dekat. Sebab itu bagi Paulus waktu sekarang adalah waktu darurat. Seluruh hati dan pikiran serta tenaga harus diarahkan menyambut kedatangan Kristus itu yang tinggal sesaat lagi. Kita tidak punya waktu lagi untuk berleha-leha dan bersantai-santai.

Dengan latar belakang “waktu darurat” itulah kita memahami ayat di atas.¬† Berhubung Kristus sudah sangat dekat maka orang tidak usah berpikir terlalu banyak tentang dirinya atau penderitaannya sebab semua akan berakhir dengan kedatangan Kristus itu. Yang hamba tidak perlu capek-capek membebaskan dirinya, namun jika dia dapat bebas ya bersyukurlah. Yang belum menikah tidak perlu buru-buru menikah. Yang tidak bersunat tidak perlu menyunatkan dirinya. Masing-masing orang agar tinggal dalam keadaannya.

Dugaan Paulus tentang waktu kedatangan Kristus  ternyata tidak terjadi. Persis seperti yang dikatakan Yesus: tidak seorang pun mengetahui kapan kedatangan Anak Manusia. Parousia atau kedatangan Kristus keduakali belum terjadi. Lantas bagaimana? Sebagian orang lantas (mungkin tanpa sadar) berpikir Kristus tidak akan datang lagi, sebab itu hidup suka-suka atau sekehendak hatinya. Sebagian orang lagi menganggap Kristus sudah sangat dekat, dan karena itu menghentikan seluruh aktifitasnya dan tidak lagi membuat rencana, atau tidak lagi berpikir tentang perubahan hidupnya dan masyarakat.

Menurut saya kita harus memahami seruan Paulus ini sebagai alarm atau peringatan dini agar berjaga-jaga bahwa kedatangan Kristus kembali (secara individual melalui kematian kita) akan tiba. Selanjutnya: agar kita tidak terlalu menyusahkan keadaan hidup kita dan menganggapnya penderitaan abadi. Satu lagi: agar kita tetap menjaga kekudusan dan kesalehan. Namun kita juga harus hati-hati dan tidak menjadikan ayat ini sebagai pembenaran untuk berhenti berkarya dan bertanggungjawab, tak lagi memperjuangkan perubahan dan pembaharuan.

Doa:

Ya Allah, ajarlah kami menjaga kekudusan dan kesalehan. Beri kami iman agar kami berani mengubah apa yang bisa diubah dalam hidup kami, dan ikhlas menerima apa yang tidak bisa kami ubah lagi. Dan beri kami sukacita abadi dalam RohMu agar kami tetap bersukacita bagaimanapun kondisi hidup kami. Dalam Yesus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

4 Responses to Tuhan Sangat Dekat. Bagaimana Kita Harus Hidup?

  1. Jansen H. Sinamo on July 9, 2009 at 10:36 am

    Hidup dengan sebuah urgensi maksimal membuat manusia secara bio-psiko-emosi-spiriual berperforma optimal — sebaliknya hidup tanpa urgensi alias santai sesantai santainya membuat kita takkan maju-maju, sehingga ulu pun pada magurbak:-))

    Dengan latar begini maka keniscayaan mati dan prospek kiamat sungguh-sungguh menjadi sebuah berkat bagi kita, bagi gereja, dan bagi kemanusiaan.

    Maka, bersegeralah bekerja, melayani, berupaya, dan berikhtiar wahai jiwaku; gunakan setiap saat waktumu dengan bijak, dan jaganlah lupakan Kristus Tuhanmu di horizon pandanganmu. Demikianlah engkau bergabung dengan barisan orang beriman dari segala abad dan tempat menuju rumah Bapa kita di surga.

    Haleluya.

  2. reynardo nainggolan on July 9, 2009 at 11:15 am

    Seperti kata Amang di http://rumametmet.com/?p=427

    Martin Luther mengatakan: sekali pun Kristus datang besok, maka hari ini aku akan tetap menanam pohon apel. Artinya: penantian kedatangan Tuhan (kedalam kehidupan kita) justru harus dipandang sebagai undangan memperbaiki, menata-ulang dan membaharui seluruh aspek kehidupan kita

    Mauliate Amang…

  3. Hedmon Tampubolon on July 9, 2009 at 12:45 pm

    Mampukan kami Tuhan hidup bijaksana dan seturut dengan teladan-Mu…Amin

  4. Friska pardede on July 9, 2009 at 8:36 pm

    Iya ya mari kita berkarya dan bertanggung jawab dgn sepenuh hati terhadap apapun yang saat ini ada dipundak kita masing2 dan menjaga kekudusan dan kesalehan pribadi masing2.

    Berkaitan dengan ini saya nompang amang diruma ini memberitahukan bahwa Yayasan Musik Greja(Yamuger) kepada :aktivis,pemerhati musik g
    reja dan jemaat mengadakan Work Shop:
    1.Festifal Pengiring Jemaat
    -Work Shop I 11 Juli 2009 pkl 16-18
    -work shop II 8 Agustus 2009 pkl 16-18

    2.Workshop Musik Greja Sabtu 22 Agusrus 2009 pkl 10-15
    – Vokal, pembicara : Chatarina w. Leimena
    – Conducting, pembicara : Michelle Hetharia
    – Pengiring nyanyian jemaat pembicara: Christina Mandag

    Mbak christina Mandag ini pernah saya dengar main orgel pipa di Greja GPIB Immanuel mengiringi ibadah Minggu, kebetulan lagunya: Pujilah Tuhan Sang Raja kj no 10 ( BE no 6 Puji Jawoba Nasangap huhut Marmulia).
    Biasanya kita menyanyikannya di HKBP biasa2 saja sedangkan waktu itu….aduh terasa lagu ini menjadi lain betapa agung dan kudus…..kesakralannya luar biasa.

    Keterangan lebih lanjut hub: 021.4755606/4897623.
    Saya tertarik memberitahukan di ruma ini karena, banyak sekali pemusik, song leader , dirgen dan jemaat yg menyanyikan nyanyian jemaat ini asal2an, pengetahuannya sedikit tapi bicaranya banyak yg penting tampil… tidak perduli kadang2 dlm satu ibadah koornya 6-7 dan pengiring koornya(musiknya) jauh lebih besar dari pada koornya sehingga kata2 dari koor itu jadi tidak jelas, begitu juga yg lainnya, jadi seringkali menjadi batu sandungan buat jemaat yg lain.

    Belum lagi saat ini ada promosi musik in box, saya tidak mengerti maksutnya penggagas cara ini , kalau ada mengiringi jemaat pakai musik in box lalu kotbah in box pun nanti diperlukan dong, jemaat tidak perlu datang ke greja menyanyi dan dengar kotbah ala …in box aja sambil ngopi di rumah(atau dimana saja) pemusik dan pendetapun jadinya menganggur deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*