Bayi Itu Bernama Haposan

June 13, 2009
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Sabtu 13 Juni 2009. Terimakasih kepada Evangelis B Siregar yang mau datang jauh-jauh dari Kernolong membidani kelahirannya.  Hari ini setelah sembilan tahun ditunggu telah lahir bayi credit union (CU) di HKBP Resort Serpong yang kami beri nama: Haposan. Artinya: dapat dipercaya atau setia.  Harapan kami, credit union ini sama dengan makna dasarnya: perkumpulan orang-orang yang saling percaya. (credit, credere = percaya, trust).

Ketuanya St Manahan Simanjuntak. Sekretarisnya Ny Siahaan br. Silalahi. Bendahara: Evangelis Elly br Silitonga.  Anggotanya dua puluh orang yang langsung menandatangani formulir pendaftaran anggotanya dengan melampirkan fotokopi KTPnya. Beberapa hal mendasar sudah kami sepakati hari ini yang kelak akan dituangkan dalam AD/ AR, antara lain: uang pangkal Rp 150.000. Simpanan wajib Rp 25.000 per bulan. (angka ini dibuat sengaja “kecil”, mengingat banyak orang belum mampu mendisiplinkan diri membayar iuran bulanan. Simpanan sukarela dibebaskan dalam bentuk deposito enam bulan. Pinjaman dapat diberikan dengan jaminan tiga orang anggota (jika macet maka simpanan wajib penjamin akan dipakai menggantinya).

Bagaimana dengan sisa hasil usaha. Rapat anggota sepakat 50% akan dibagi untuk anggota. 20% dana pengembangan atau cadangan. 10% jasa pengurus. 10% untuk dana pendidikan. 10% persembahan persepuluhan untuk gereja.

Banyak mimpi indah sudah terbayang di kepala. Namun ceramah Evangelis B Siregar benar-benar mengena. CU ini tujuan utamanya adalah melatih anggota hidup teratur (menyimpan, meminjam dan mengangsur), memberdayakan dirinya sendiri, dan membangun solidaritas dengan mempercayakan sebagian miliknya dikelola orang lain. Satu lagi: membangun martabat sebagai manusia yang tidak ingin dikasihani. Semua itu perlu proses dan waktu. Dan terutama butuh sikap saling percaya. Sebab itulah kami namanya credit union ini Haposan. Sebab semua orang harus dapat dipercaya dan harus setia. Sebab Tuhan kita juga setia.

Share on Facebook

17 Responses to Bayi Itu Bernama Haposan

  1. Friska pardede on June 13, 2009 at 9:55 pm

    Selamat atas kelahiran bayi “Haposan” mudah2an perkembangannya kelak akan membuat para ayah dan bunda2nya sangat bangga atas nama yg dipilihkan buatnya dan mimpi2 yg sudah terbayang itu akan terwujud kelak.

    Agak cemburu awak sikit( walu bukan anggota) tontu jenis kelamin ni si Haposan on baoda ate amang! alai dang pola bohai ate dos do hak dohot kewajiban ni anggota baoa dohot boru2
    Dan sekali lagi selamat!!!andaikan ada di greja kami…..

  2. kenzo on June 14, 2009 at 5:05 pm

    Syalom, ama PDT, kalau ada yamg pinjam brapa binganya yang sesuai dengan kristen?

    Daniel Harahap:
    Kesepakatan kemarin 2% per bulan. Masih kemahalan kah? :-)

  3. Bergman Silitonga on June 15, 2009 at 5:42 am

    Selamat atas lahirnya si haposan, semoga menjadi cikal bakal sebuah CU yang mensejahterakan anmggotanya, just info, CU yang mandiri benar benar merupakan contoh ekonomi kerakyatan dan bukan neolib. Di sumut sudah terbukti sebuah CU bisa besar bahkan dapat membuka perkebunan jeruk dan pasar swalayan di siborong borong.
    J

  4. t.m.sihombing on June 15, 2009 at 7:19 am

    Program koperasi seperti ini memang bagus dalam rangka mencari sebagian dana untuk distribusi pembiayaan Diakonia dan kegiatan Gereja lainnya.
    Masalahnya sebagian besar para majelis tidak setuju adanya koperasi karena Gereja bukan pelayanan komersial, tetapi kalau prinsip tersebut di pegang kapankah Gereja maju ? Yang penting bahwa Koperasi dibentuk tidak mengganggu kegiatan kerohanian Gereja dan tidak berkantor di Lingkungan Gereja.
    Koperasi sama tanggung jawabnya dan bidang usahanya dengan apa yang disebut PT,CV,Fa, maka Existensi koperasi ini bila hanya berdasarkan yuran dari para anggotanya dan disalurkan kepada anggota yang membutuhkan memang kurang memberikan keuntungan yang relatip besar tetapi dalam bidang Diakonia misalnya memerangi kemiskinan anggota jemaatnya sangatlah membantu. Usaha melalui Koperasi di Gereja sebenarnya dapat memberikan hasil yang optimal kalau ada anggota jemaatnya yang duduk dalam pemerintahan/ perusahaan memberikan kesempatan kepada koperasi ini untuk bersaing dalam perdagangan barang dan jasa dan modol usaha per transaksi dapat dibiayai oleh beberapa Jemaat yang mempunyai dana yang diangkat sebagai Investor.

    Dana yang besar dari Investor ini harus diperlakukan sebagai pinjaman dan kelebihannya dari Bank bahwa Koperasi masih memungkinkan melakukan negosiasi agar dapat membayar tingkat bunga yang relatip lebih kecil. Di HKBP Rawamangun ada Koperasi tetapi didirikan oleh beberapa jemaat dan majelis tidak ikut campur dalam kegiatan tersebut namun sudah banyak orang yang meminjam uang yang datangnya dari jemaat HKBP maupun diluar HKBP. Hal ini selalu membuat pertentangan dan sudah mau diperbaiki dengan membentuk Koperasi yang baru dan koperasi dimaksud akan dikelola oleh Direktur pelaksana yang diangkat dari anggota dan Komisarisnya dari beberapa sintua yang juga mampu memberikan kontribusi permodalan yang besar( Direktur Pelaksana dan Majelis tidak hanya omong doang tetapi harus menanamkan uangnya yang relatip besar dan mengerti pergerakan ekonomi/bisnis) dan koperasi yang baru ini akan berkantor dalam area terpisah dari Gereja, Soalnya ada pertanyaan apakah membantu jemaat HKBP yang ekonominya lemah bisah dikategorikan masuk dalam program Diakonia tetapi dengan imbalan tingkat bunga ?

    Selamat atas lahirnya Koperasi laki2 “HAPOSAN” di di HKBP Serpong dengan memegang teguh atas anggaran dasar khususnya dalam bidang pembagian hasil dan akan terus melakukan perbaikan sesuai dengan missi Gereja.

    Daniel Harahap:
    Komen saya jempek dulu: Nunga marpulu taon umur ni koperasi ni Ina di HKBP Rawamangun, jala mansai denggan do i. Unang segai hamu. Jala ndang adong hak ni parhalado pamatehon koperasi i. Ai rapot anggota koperasi do na marhak mambubarhon i. Molo so lomo roha ni Parhalado markantor koperasi i di alaman ni HKBP Rawamangun ba suru hamu pinda nasida. Manang bahen hamu sewana. Alai anggota di rohangku lomo do roha ni Tuhan Jesus dohot godang halak di koperasi naung marumur marpulu taon i.

    Bunga uang koperasi perlu agar koperasi tetap berjalan dan hasilnya juga akan kembali ke anggota termasuk peminjam. Yang penting bunganya menurut saya harus di bawah bunga bank. Jadi 1 1/2 persen sampai 2 persen bolehlah. :-)

  5. Zekson Pangaribuan on June 15, 2009 at 9:33 am

    Pertama-tama, selamat atas lahirnya bayi “Haposan” harapan kita, semoga dapat membantu anggotanya.

    Daniel Harahap:
    Komen saya jempek dulu: Nunga marpulu taon umur ni koperasi ni Ina di HKBP Rawamangun, jala mansai denggan do i. Unang segai hamu. Jala ndang adong hak ni parhalado pamatehon koperasi i.

    Koperasi yang di Rawamangun, punya Ina? atau punya gereja iya?
    Bayi si “Haposan” yang di Serpong ini, punya gereja atau Ina juga?

    Daniel Harahap:
    Unang segai hamu. Jala ndang adong hak ni parhalado pamatehon koperasi i.

    Kalau manambai parhalado punya hak gak?, misalnya Ama bikin lagi koperasi jual sembako, dengan harga murah tapi kualitas bagus. Boleh gak dalam satu gereja dua koperasi?

    Daniel Harahap:
    Koperasi dan gereja adalah dua badan hukum yang berbeda dan terpisah. Namun gereja dalam rangka mewujudkan panggilan tugasnya dibidang diakonia dan menterjemahkan kasih Yesus boleh2 saja memfasilitasi warganya membentuk koperasi atau CU atau CUM. Namun itu tetap terpisah dari gereja. Yang berkuasa di koperasi (CU dan CUM termasuk koperasi) adalah rapat anggota. Dan keanggotaan koperasi itu sifatnya sukarela. Jadi sebenarnya tidak ada koperasi milik gereja. Yang ada hanyalah: anggota2 gereja berhimpun membentuk koperasi (dengan doa, dukungan dan bantuan gereja). Bahwa di satu gereja anggota2nya membentuk lebih dari satu koperasi silahkan saja. Tapi jangan dianggap koperasi yang satu “resmi” dan yang lain tidak. Semua koperasi otonom dan independen.

  6. Nainggolan Prabu on June 15, 2009 at 9:45 am

    Pas lihat Judul Postingnya, kaget dan penasaran bayi apa gerangan Karena pagi tadi baru menyaksikan seorang bayi umur 2th yang mengalami kelaparan yang berkepanjangan hingga berat badan yang tadinya 9 kg susut menjadi 2kg Tubuhnya hanya terdiri dari tulang yang dibalut kulit. ( orang modern bilang kurang gizi ) tepatnya di suatu desa di Jawa Barat. Ibunya menjadi TKI di Arab (tanah Suci ?). Ayahnya buruh yang bekerja apasaja (serabutan katanya). Cermin tidak ada kepedulian antar sesama msh jamak ditengah kita.

    Dan setelah membaca sampai tuntas, saya tambah kaget lagi, bahwa masih ada manusia yang berpikiran mulia menghadirkan dan melakukan sesuatu yang sangat berarti bagi sesama. Macam STM orang Medan bilang.STM ( Serikat Tolong Menolong). Bagus itu.

    Kalo berbicara ttg sekelompok orang yg bernama Majelis kita dah paham. Sama seperti pembaharu di negeri saya ini. Kaum Tua tidak ada yang menjadi Reformis. Semua dilakukan oleh kaum Muda. Dari sejak Zaman Pergerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, sampai pada puncak perjuangan kaum Muda dengan proklamasi kemerdekaan 1945.

    Kalau pemuda tidak menculik Sukarno dan Hatta dan membawanya kesebuah rumah Tionghoa di Rengas dengklok, mungkin sejarah akan jadi lain. Kaum Tua hanya melamun dan menjelma jadi Hedonis dan seolah menjadi parkinson (menggigil terus = Hitir-hitir) terhadap datangnya perobahan. Sukarno Hatta menjadi Ragu-Ragu pra kemerdekaan. DEmikian juga di dalam Gereja semua aturan entah apalah namanya, kita bisa amandemen, yang tidak bisa kita amandemen sebagai anggota jemaat adalah apa yang telah tertulis dalam Alkitab. Tks dan mhn maaf jika tidak berkenan.

  7. A.K.P. Panggabean on June 15, 2009 at 10:16 am

    Rasanya gema tahun Diakonia kali ini gaungnya lebih keras dari gema tahun Marturia tempo hari apalagi gema tahun Koinonia 2 tahun lalu.

    Saking kerasnya peringatan 175 tahun Nommensen dirayakan di tahun Diakonia kali ini (!). Sesuatu yang sangat aneh alias janggal. Karena Nommensen itu adalah seorang penginjil alias missionaris, bukan seorang mantri kesehatan atau pekerja sosial. Jadi, peringatan 175 tahun Nommensen lebih tepat dirayakan di tahun Marturia tempo hari, bukan di tahun Diakonia kali ini.

    Daniel Harahap:
    Lho tahun lalu kan Nommensen masih 174 tahun? Gereja selalu bikin perayaan kelipatan 50 atau 25 tahun. Lagi pula tak ada salahnya merayakan penginjilan bersama2 diakonia. Justru paling tepat, sebab penginjilan sesungguhnya tak terlepas dari diakonia. Dan Nommensen juga sangat konsern kepada pelayanan diakonia termasuk menjadikan kompleks gereja sebagai proyek percontohan.

  8. yanti sihombing on June 15, 2009 at 11:13 am

    Selamat atas kelahiran bayi baru…”Haposan”….aku bangga karena amang sangat mendukung ide CU ini.

    Aku share ya amang.. Tahun 2000 kami bentuk CU di desa di Tebing Tinggi Ress. Bakaran Batu- SUMUT. Tidak tanggung ada 2 kelompok. Hingga tahun 2004 (Rapat Akhir Tahun) saham satu kelompok 220 juta. Padahal anggotanya benar-benar miskin secara ekonomi. Simpanan wajibnya hanya Rp. 2.000,-/ bulan. Pindahlah aku ke Siantar. Diganti oleh kawan yang tidak mo tau dengan CU. Kebetulan di distrik ada Koperasi…jadi katanya kalau ada anggota dari tempat kami itu, maka akan ada komisaris di huria itu (parhalado full.timer) dan dana komisaris itu lumayan…karena koperasi itu sudah besar.nah..kelompok yang di Ress. tidak mau. Mereka kuat hingga sekarang..kelompok yang satu lagi mulai kacau dengan info yang tidak jelas…ada juga yang tergiur…(karena sudah dirasakan enaknya ber CU selama ini). Padahal angan2 anggota, dari saham, 100 juta untuk beli pupuk….dan akan disalurkan ke anggota dengan harga lebih murah dari toke. CU yang lainpun sudah OK. mengadakan revolvingfund untuk CU ini…karena akan ada angan2 membantu anggota membeli sawah.

    Setiap bulan pertemuan itu dimulai dengan kebaktian.. sharing informasi, dan juga pengetahuan2. spt…. Marhaiason… dijabu…penerangan tentang kesehatan ibu dan anak…pengelolaan keuangan…..hingga ke pembicaraan otonomi daerah.. dan kalau ada yang pesta seolah olah CU sudah bagian dari adat.. karena sudah dijouhon… manortor ma par CU… gilanya…. akhirnya anggota sebahagian tarik diri dan mendaftar ke koperasi…. mau tidak mau…. akupun setujulah mereka hengkang… karena kupikir, tidak ada gunanya lagi berdebat dengan yang mencari keuntungan dari dana komisaris….dan mereka tidak akan kuat kalau tidak didampingi. yang kusayangkan adalah CU itu adalah wadah mempersatukan warga… karena tadinya mereka pecah karena issu begu ganjang dan saling fitnah hingga ke pengadilan…

    Kini sebahagian mereka anggota koperasi di wilayah kota… padahal mereka jauh dari kota dan tidak saling mengenal. Yang mempersatukan mereka hanya uang. Itupun yang ngantar dan ambil hanya komisaris tidak beda dari koperasi2 yang biasa kukenal. Sedih kali hatiku waktu itu amang. makna persekutuan hilang, persaudaraan itu tinggal biasa-biasa. sekarang kalau anggota mengeluh… paling kubilang taon ma… katanya orang mulai lagi menggossip, tidak spt dulu ada pelatihan pupuk organik… jadi orang bicara pupuk organik lah…. dll. akh…. itulah itu amang….

    Kini lahir lagi CU modifikasi.. selamat jugalah buat CUM meski rada-rada… pemegang saham tertinggi akan menerima hasil tertinggi begitukan? karena anggotanya majemuk dan besar…tapi bagus sekalilah.. aku juga anggota CUM. semoga CU nabaru sorang on….tetap kuat….Betul itu amang saboi-boina parhalado dang gabe manursari ide on.

    Buat Para Pengurus. Selamat melayani.. terus berjuang ya… buat anggota CU….. tetap bertahan ya… na tabo an na mar CU i…… nga maminjam iba, marbunga muse napininjam i… ah… jotjoti hamu ma maminjam laos dipahatop paulakkon asa godang jaloon muna di RAT anoon… Sukses buat HKBP Serpong!

    Daniel Harahap:
    Terima kasih atas share-nya. Sangat memperkaya dan mencerahkan. :-)

  9. A.K.P. Panggabean on June 15, 2009 at 11:25 am

    1) Ah siapa bilang? Buktinya tempo hari belum genap 150 tahun, HKBP sudah bikin perayaan 146 tahun HKBP dan 67 tahun kemandirian HKBP.

    2) Nommensen sangat concern terhadap pelayanan diakonia karena dia rindu akan keberhasilan tugas utamanya yakni penginjilan orang Batak. Jadi diakonia itu hanyalah penunjang ulaon Marturia (marBarita Nauli).

    Daniel Harahap:
    Yang pertama: saya tidak ikut-ikutan. :-)
    Yang kedua: saya tidak setuju. Diakonia bukan alat penginjilan. Diakonia ya diakonia. Kasih ya kasih tak berpamrih. Kalau bersaksi ya bersaksi saja.

  10. A.K.P. Panggabean on June 15, 2009 at 11:35 am

    Yang saya katakan diakonia hanyalah penunjang daripada tugas penginjilan, bukan alat penginjilan.

    Daniel Harahap:
    Menurut saya diakonia juga bukan penunjang atau pelengkap penginjilan. Diakonia adalah satu dari tiga tugas utama yang diberikan Yesus kepada gereja.

  11. t.m.sihombing on June 15, 2009 at 2:29 pm

    Koperasi saat ini sudah merupakan badan usaha, berdirinya koperasi apakah didirikan oleh kelompok ama, ina atau naposo atau kumpulan jemaat tidaklah di persoalkan keberadaannya dan kita boleh mengucapkan terimakasih karena peran dari koperasi ini dapat membantu program Gereja, yang menjadi perdebatan adalah dimana tempat bertransaksi, di dalam lingkunagn Gerejakah atau diluar Gereja.

    Majelis tidak pernah menyatakan pembubaran koperasi yang ada di lingkungan Gereja dan tidak pernah menyewakan lingkungan Gereja menjadi tempat koperasi, hanya diusulkan agar para pemilik Koperasi dimaksud dapat melakukan kegiatannya diluar lingkungan Gereja.

    Daniel Harahap:
    Emangnya bertransaksi di halaman gereja pada hari biasa dan bukan saat ibadah emangnya dosa? Kalau bertransaksi jual buku ende kok boleh? :-)

  12. elumban on June 16, 2009 at 8:30 am

    Loja nai ate namarhuria di HKBP on…….
    (Martangiang): Ale Tuhan sai patonggor ma simalolong nami marnida angka na denggan, jala alani ra hami mangulanonsa. Amen.

  13. florasilaban on June 18, 2009 at 1:45 pm

    Aku punya keponakan namanya Janner Anggiat Haposan, sama dengan nama bayi kecil ini, selamat ………………..kalau bunga 2 % per bulan masih terlalu besar, bagaimana kalau 1 atau 1 1/2 persen saja, agar tidak membebani anggota yang akan meminjam.

  14. JP Manalu on June 19, 2009 at 9:59 am

    Untuk inang Flora Silaban, soal bunga yang 2% itu, hemat saya kalau sumber dananya juga berbunga rendah, maka meminjamkannya juga bisa rendah. Hemat saya, suku bunga 2% perbulan itu sudah cukup wajar, apalagi sedang dalam proses pertumbuhan. Nanti kalau sudah semakin mapan, dan ‘eskalasi’nya semakin besar, sehingga biaya tetapnya semakin kecil, yakinlah inang, bisanya itu diturunkan.
    Selamat untuk HKBP Serpong yang telah berhasil membidani lahirnya sang bayi. Semoga bayi bertumbuh secara wajar, sehat sehingga bisa menjadi salah satu sumber sukacita bagi warganya dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Kita-kita (gereja-gereja yang lain; yang belum!) kapan ya?

  15. henry aritonang on June 25, 2009 at 3:29 pm

    Boleh gak jemaat diluar HKBP Serpong ikut?

  16. Hengki Tampubolon on June 25, 2009 at 5:24 pm

    Menyambung tulisan Lae Z. Panagaribuan dan Amang St.T.M. Sihombing (horas Uda!), perlu saya pertanyakan ke Amang Pdt DTA Harahap beberapa permasalahan:
    1. Apakah ada yang salah dari pengajuan proposal kami (PS Ama Jerico yg merupakan Ama Parorot anggota dari Punguan Ama) kepada Parhalado yg mana dalam proposal yang kami ajukan kami memintakan sebuah tempat (masih di lingkungan gereja, yg kebetulan saat ini masih belum berfungsi) untuk menjadi tempat koperasi kami di bidang perdagangan barang-barang sembako (karena kami tahu bahwa sebelumnya sdh ada koperasi simpan pinjam di lingkungan gereja kami (walaupun anggotanya bkn khusus dr anggota jemaat kami)? Kami meminta tempat tersebut karena tempat lain yang sblmnya kami perkirakan bisa kami sewa sebagai kantor koperasi, ternyata tidak bisa kami sewakan. Selain itu jg karena keterbatasan modal kami.
    2. Apakah salah jika koperasi trsbt melakukan kegiatan juga di hari Minggu? Rencana kami, jika di hari Minggu, koperasi tersebut menjadi tmpt berkumpulnya para Ama/Ina Parorot yang mengantar&menunggu anak2nya ke Sekolah Miggu (dr pd mereka berkumpul ke warung2 di seberang gereja).
    3. @Amang St. T.M. Sihombing: Kpn itu rencana pembentukan koperasinya? Kok kami tdk prnh mendengar info tersebut?

  17. untung sitompul on June 29, 2009 at 8:57 am

    Horas dan selamat ma tu bayi na ro i..sian judul na hupikkir do toho bayi yg baru lahir,,,,hape bayi bisnis do,,,sai marpakkorhon ma tu akka na makkaporluhon,,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*