Kenangan Dari Foto Masa Kecil

June 10, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Sal Hutahaean

Beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke Laguboti, saya iseng-iseng membuka album foto-foto lama di rumah. Yang paling menariki adalah foto-foto hitam putih yang lucu-lucu. Yang terbanyak tentu adalah foto rame-rame, terutama foto suasana nikah, kemudian foto orang meninggal lengkap dengan wajah mayat yang kaku, foto kakak-kakak saya bergaya artis entah itu di kuburan, di pantai, atau di depan gereja, dan foto makan-makan dengan fokus foto terarah pada makanan di dalam panci. Lalu ada juga foto diri kami waktu kecil yang tak kalah lucunya.

Dari seluruhnya itu, yang paling menarik hati saya adalah satu foto diri saya semasa kecil berpose dengan seseorang. Seingatku foto itu adalah ketika saya masih kelas 3 atau 4 SD dan teman yang berdiri cengengesan di sampingku di dalam foto itu adalah sumurung. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, sedang sumurung  walaupun lebih pendek usianya sebenarnya dua tahun di atasku. Sumurung anak yang dekil, jarang mandi, dan wajahnya menunjukkan mimik anak batak yang benar-benar “jigil” tampak jelas di foto itu. Jigil itu dua level di atas jugul, kombinasi lasak, gumarapus, licik, dan cengeng. Memang begitulah sumurung, ia anak nakal, ia licik, ia emosional, dan lebih parah lagi ia unpredictable. Kami berteman, tapi seingatku hubungan kami seringkali mengalami pasang surut. Sebentar akrab, sebentar “marsanding”, kadang-kadang berkelahi,tapi kemudian akrab lagi bagai dua anak kembar.

Ada satu kenangan yang tak mungkin saya lupakan bersama sumurung. Kenangan tentang berjudi. Saya pernah berjudi dengan dia dalam jumlah rupiah yang tidak tanggung-tanggung untuk ukuran anak-anak! Kami berjudi berdua, saling berhadapan, hanya kami berdua, tidak ada seorangpun yang tahu. Ketika itu saya kelas 3 SD, sedangkan sumurung kelas 5. Kami berjudi berminggu-minggu.

Awalnya, suatu waktu sepulang sekolah sumurung mengajak saya main kelereng. Waktu itu kebetulan saya punya uang 50 rupiah. Ini kejadian tahun 70-an awal, saat itu “rate” durung-durung di gereja kami masih 5 rupiah, jadi untuk anak kampung seperti kami jumlah 50 rupiah itu cukup besar. Sumurung juga kebetulan punya uang yang jumlahnya kira-kira sama. Ia mengusulkan agar dalam bermain kami pakai taruhan, supaya seru katanya. Awalnya saya menolak, tapi dia pintar memanas-manasi, bilang saya penakut, sehingga saya pun jadi nekad bertaruh. Nah, kami bermain kelereng dengan taruhan 1 rupiah saja.

Setelah bermain berjam-jam ternyata kami berimbang. Dia menang sekali, saya sekali, begitu seterusnya. Jadi uang di tangan masih relatif tetap.

Menjelang sore hari sumurung mengajukan lagi usul baru. “Kita lipatkanlah taruhannya,” katanya. Daripada disebut penakut, saya setuju saja dan kami pun bermain dengan taruhan dua rupiah. Ketika hari sudah mulai gelap dan biji kelereng sudah samar-samar tampak, kami menghentikan permainan. Saya gembira sekali. Saya menang sekitar 10 rupiah. Adapun sumurung, mukanya yang dekil itu memerah, ia begitu gusar karena kalah, “Besok kita lanjut, ya,” katanya dengan nada mengancam.

Malamnya saya tidur nyeyak. Selain karena capek juga karena puas. “Aha dope, nga monang 10 rupiah.” Terbayanglah jajanan di sekolah yang enak-enak. Sepuluh rupiah lebih dari cukup untuk membeli sepiring mie gomak dan beberapa onde-onde singkong yang besar-besar. “Kalau besok main dan saya menang lagi, wah, saya bisa jajan terus setiap hari,” pikir saya dalam hati. Berbekal pikiran seperti itu saya pergi tidur.

Esoknya, benar juga. Kami bermain lagi sepulang sekolah dan saya pun menang lagi. Wajah sumurung makin merah saja, merah seperti bunga rias. Marrara songon palang. Dia mengomel-ngomel tidak puas, sebentar bilang tanah tempat bermain kami tidak rata, sebentar lagi bilang saya bermain curang. Saya diam saja, hari itu dia memang kalah lebih banyak. “Besok kita main yang lain saja,” katanya cemberut di akhir permainan.

Ketika dia datang esok harinya, dibawanya kartu domino. “Marleccet ma hita,” ajaknya. Maksudnya main kartu gaple atau domino. Saya belum pernah main domino, karena itu saya pun ditraining dulu oleh sumurung. Setelah paham barulah kami bertaruh.

Walaupun taruhannya kecil-kecil, main “leccet” ternyata bikin uang cepat habis. Tentu saja saya yang kalah, namanya juga melawan guru sendiri. Untuk mengamankan sisa modal, saya pun mengajukan ganti permainan. “Saya belum mahir main kartu ini, kita main catur saja,” kata saya. Kami pun main catur. Tetapi baru bermain satu “plat” kami segera sadar ternyata catur terlalu lambat dipakai berjudi. Untuk menghemat waktu, taruhan pun kami tingkatkan.

“Lipat lima,” kata sumurung. “Ba i,” jawab saya setuju.

Kami bermain dengan taruhan 5 rupiah. Kalau di domino sumurung unggul, untuk catur saya masih lebih baik. Ketika gelap mulai turun, sumurung sudah kehabisan modal, dia kalah terus. Ketika permainan kami hentikan untuk hari itu dia terpaksa berhutang 5 rupiah. Itulah rupanya enaknya berjudi. Boleh berhutang.

Pada dasarnya kami adalah anak-anak yang jarang memperoleh uang dari orangtua, punya uang 50 rupiah adalah kejadian langka. Uang 50 rupiah yang saya punya adalah “berkah” yang saya peroleh dari saudara yang kebetulan berkunjung. Modal sumurung, menurut ceritanya adalah uangnya sendiri yang dia dapat setelah memecahkan celengannya.

Singkat cerita, kami bermain judi hampir setiap pulang sekolah. Kami juga semakin rajin jajan. Ada perasaan bahwa dapat uang ternyata gampang. Dengan berjudi tidaklah susah dapat 5 atau 10 rupiah. Karena yang berjudi hanya kami berdua dan dua-duanya makin rajin jajan, tentu saja modal kami pun tidak bertahan lama. Uang di tangan segera habis untuk jajan mie gomak dan onde-onde singkong. Akan tetapi, karena nikmatnya judi sudah merasuk ke dalam otak, walaupun uang sudah habis kami masih tetap saja bermain. Bedanya, kali ini kami berjudi tanpa modal, menjudikan uang yang tidak ada, si utang-utang!

Begitulah. Berminggu-minggu kami berjudi dan dengan tekun menghitung “uang angan-angan” yang diperoleh. Supaya tidak ketahuan orangtua, apapun kami buat jadi judi. Kami bertaruh untuk permainan bola kaki satu lawan satu, bertaruh main layangan, bertaruh main ular-tangga, bertaruh mamak siapa yang lebih duluan pulang dari pasar, bertaruh sintua siapa yang memimpin doa “ale amanami” di sekolah minggu. Pokoknya, apapun yang terpikirkan kami buat bertaruh. Runyamnya, setelah berjudi tanpa uang cash, saya makin royal bertaruh dan tidak terlalu banyak pertimbangan. Akibatnya gampang diduga, saya sering kalah, sehingga hutang mulai menumpuk. Karena tergoda untuk segera melunasi hutang yang menumpuk itu, saya pun mengajukan taruhan dengan jumlah semakin besar. Kadang-kadang seratus rupiah, bahkan lima ratus rupiah!

Suatu waktu sumurung tak lagi mau meladeni ajakan taruhan saya yang memang sudah tak masuk akal itu. “Nga pagodanghu utangmu, sae ma hita,” katanya. Lalu dia lanjutkan, “Bayarlah …”

Saya pucat, saat itu utang saya sudah mencapai angka sepuluh ribu rupiah!

Setengah mati saya mengajaknya untuk main lagi, tak sedikit pun digubrisnya. “Bayarlah dulu, kalau tidak kukasih tahu sama ompung,” katanya. Sumurung memanggil ompung pada ibu saya.

Bah, gawat kawan ini, pikirku.

Kalau dulu saya sempat tidur enak karena menang, sekarang saya benar-benar tak bisa tidur lagi. Nilai 10.000 pada masa itu kira-kira setaralah jumlahnya dengan 1 juta uang sekarang. Bayangkan, anak kelas tiga SD punya hutang 1 juta rupiah. Padahal, pemasukannya hanya 20 rupiah seminggu, potong limper untuk durung-durung.

Sumurung pun mulai meneror saya. Setiap minggu saya harus menyetorkan uang padanya. Dari 20 rupiah yang saya peroleh dari ibu, 15 rupiah untuk sumurung dan limper untuk tuhan. Saya takut memberi tahu siapa pun akan situasi finansial yang saya hadapi. Kalau ibu tahu, dia akan sedih karena saya berjudi. kalau kakak atau abang saya tahu, saya pasti akan dapat hukuman.

Setiap kali jumpa sumurung, dia pasti menagih, padahal dia tahu saya tidak punya uang. Tapi tampaknya kawanku si dekil itu menikmati benar posisinya yang menguntungkan itu. Saya benar-benar benci padanya, tapi saya tak berdaya.
Harapan saya hanya satu, sumurung mau bermain lagi, sehingga saya bisa menang dan melunasi seluruh utang. Setiap malam saat mau tidur saya tak pernah lupa berdoa, “Tuhan, tolonglah agar sumurung mau bermain lagi, sampai utangku
lunas, kalau utangku lunas tuhan, saya tak mau berjudi lagi”. Tapi harapanku sia-sia. Tak ada tanda-tanda sumurung akan mengubah putusannya.

Suatu hari, salah seorang kakak saya meletakkan tumpukan uangnya di meja belajar kami. Aku mengambil satu uang logam lima rupiah. “Uang kakak banyak, dia tidak akan tahu saya ambil satu, saya akan berikan sumurung untuk menutup mulutnya yang semakin nyinyir itu,” pikir saya. Benar saja, kakak saya tidak tahu dan
sumurung pun senang saya beri tambahan 5 rupiah. Sejak saat itu, saya bukan hanya mengambil uang kakak yang ditaruh di atas meja, saya mulai lebih aktif mencari dimana kakak-kakak saya meletakkan uangnya. Awalnya tidak ada masalah, tetapi lama-lama mereka mulai curiga kenapa uang yang mereka simpan selalu berkurang. Saling curiga pun mulai terjadi di dalam rumah kami. Yang satu menuduh yang lain, tapi tidak ada yang mengaku.

Sementara itu, setiap malam ketika akan tidur, saya masih tetap berdoa, walau takut-takut. “Tuhan, saya bukan pencuri, tuhan. Tapi mau bagaimana lagi, sumurung semakin rajin menagih, terpaksa saya mencuri. Tolonglah saya, tuhan.
Tolonglah anakmu yang kecil ini, tolonglah tuhan, suruhlah sumurung agar kami bermain lagi, bantulah juga saya tuhan supaya menang, tolong tuhan, tolong. Aaaa… men!” Walau takut-takut saya berdoa dengan penuh keyakinan.

Minggu dan bulan berlalu, saya baru berhasil membayar beberapa ratus rupiah dari total utang yang sepuluh ribuan itu. Sumurung masih tetap tidak berubah, tampaknya tuhan pun begitu juga.

Saya sendiri semakin kurus, stress berkepanjangan. Sepanjang hari utang itu saja yang saya pikirkan. Saya dilanda kecemasan berganda, cemas kalau-kalau hutang saya terbongkar, juga cemas kalau-kalau pencurian yang saya lakukan ketahuan. Dalam himpitan persoalan yang berat itu, sempat juga saya berdoa, “Tuhan, bagaimana kalau kau matikan saja si sumurung itu…” Tapi itu juga tak dikabulkan tuhan. Bukannya mati, sumurung tampaknya makin sehat saja, sementara saya makin menciut kurus.

Suatu malam, hujan turun dengan sangat derasnya. Esok paginya, seluruh persawahan di luar perkampungan kami tergenang. Pematang-pematang sawah rata ditutupi air. Banyak ikan peliharaan yang lepas dari empang-empang terbawa oleh air yang meluap. Siang harinya, ketika air sudah surut kembali, orang-orang berjejer di pematang sawah yang mulai mengering memegang joran pancing. Mereka memancing ikan-ikan mas yang lepas dari empang. Saya tertarik dan ikut bergabung, menapaki pematang sawah yang licin karena tergenang semalaman.

Senang sekali rasanya ikut duduk di pematang sawah, menonton ke dalam air pelampung-pelampung pancing bergerak-gerak tanda umpan dimakan ikan. Kalau gerakan pelampung semakin liar, joran ditarik dan kilau kekuningan ikan mas yang terangkat menggelepar ke udara adalah tontonan yang benar-benar menarik. Tampaknya banyak ikan kelaparan di dalam air di bawah sana, karena sebentar-sebentar ada saja pancing yang terangkat membawa ikan.

Saking asiknya menonton, saya tidak menyadari seseorang ternyata mendekati saya dari belakang. Tiba-tiba sepasang tangan mendorong saya kuat-kuat ke dalam sawah. Saya panik tapi masih sempat mendengar suara orang yang mendorong tadi berteriak di belakang saya, “Sae utang!” Saya terjerambab jatuh tercebur ke dalam sawah, muka dan badan saya penuh lumpur, untung airnya tidak terlalu dalam lagi. Saya keluar dari dalam sawah, memandang orang yang saya benci itu masih tertawa berjingkrakan.

Saya malu, kesal, dan marah. Saya keluar dari lumpur dan siap-siap untuk membalas. Penghinaan seperti ini harus dibayar dengan perkelahian. Biarpun dia kelas lima saya tidak takut. Tetapi tiba-tiba saya sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Si kunyuk dekil yang berjingkrakan disana masih terus berseru-seru, “sae utang, … sae utang … sae utang.”

Sadar apa yang terjadi segera saya ikut larut dalam kegembiraan sumurung. Hilang sudah niat berkelahi, yang ada malah kegembiraan dan rasa lega yang sukar diceritakan. Saya ikut bersamanya berjingkrakan, berteriak-teriak “sae utang … sae utang … sae utang!”. Utang sudah impas, sudah impas, sudah impas. Ya tuhan, begini sajakah? Sebuah tolakan tangan ke dalam lumpur dan semua utang, semua kecemasan saya lunas saat itu juga? Semudah itukah?

Tapi memang begitulah, kami memang anak-anak, tapi kami punya aturan, jika sudah dikatakan “sae utang” maka tak ada hutang piutang lagi. Semua anak-anak di kampung kami tahu aturan itu. Rupanya sumurung yang dekil licik itu entah
bagaimana ceritanya tiba-tiba seperti kesurupan malaikat, mengambil keputusan menganggap lunas hutang piutang kami hanya dengan imbalan satu tolakan ke lumpur yang benar-benar menggembirakannya.

Aku berjalan ke arah sumurung, senyumnya merekah, wajahnya yang dekil berseri-seri. Dia letakkan tangannya di pundak saya, saya pun meletakkan tangan di pundaknya. Kami meniti pematang sawah, pulang sambil marsikedan-kedanan.

Bertahun-tahun kami terus berteman dan semakin akrab, hingga akhirnya saya harus bersekolah ke medan dan sejak itu kami jadi jarang bertemu. Belakangan saya dengar sumurung sudah jadi pengusaha di suatu kota di sumatera. Saya pikir pekerjaan itu cocok dengan karakternya.

Saya belajar dari pengalaman traumatik berjudi itu, belajar untuk tidak pernah terjatuh lagi dalam perangkap judi. Kadang-kadang saya masih mau main turf, atau main joker karo, tetapi saya tak pernah lagi terperosok sampai kalap dalam berjudi. Saya sudah tahu batas-batasnya. Saya bisa mengatasinya. Kalau saya mendengar ada orang dewasa yang menggadaikan barang-barangnya, atau berhutang kesana-kemari karena kalah berjudi, saya biasanya tersenyum dan berkata dalam hati, “kasihan kawan itu, dia mengalaminya sekarang, saya sudah melewatinya ketika masih kelas 3 SD.”

diposting dengan ijin penulis dan tanpa perubahan apapun dari milis hkbp.

Share on Facebook

28 Responses to Kenangan Dari Foto Masa Kecil

  1. tanobato on June 10, 2009 at 11:10 am

    Sangat menarik ceritanya!

    Layaklah dijadikan bahan pelajaran tentang Tuhan, perangkap judi, dan sportivitas. Tak usah malu untuk belajar pada anak-anak. Lebih supuluh tahun yang lalu aku pun belajar salah satu bahasa daerah (termasuk yang paling sulit, mungkin …) pada anak-anak setempat. Ini berdasarkan saran seorang kawan yang berdasarkan pengalamannya sendiri sebelumnya seringkali dikibuli oleh orang dewasa tentang kosakata yang mengandung arti yang sangat jauh bedanya …

    Horas jala gabe! Marsiajar ma hita be!

  2. Bang Tampu on June 10, 2009 at 1:05 pm

    hahahahahahahahahahah, cukup menarik.
    kalau saya punya pengalaman mencuri jambu, yang ketahuan sama pemiliknya dan disiram dengan makanan pinahan lobu, yang kebanyakan air, hahahahahahahahah

  3. Jansen H. Sinamo on June 10, 2009 at 2:44 pm

    Hah-hah-hah, saya jadi ingat sebuah buku berjudul “All I Really Need To Know I Learned In Kindergarten” oleh Robert Fulghum.

    Keistimewaan Pak Hutahaean ini: pandai memetik hikmah dari pengalamannya dan pandai pula berbagi cerita. Prima.

    Storytelling termasuk menulis buku tampaknya makin perlu kita galakkan. Di Gamedia minggu lalu kulihat: buku-buku di seksi Kristen kalah amat sungguh jauh ragam judulnya dibandingkan dengan yang di seksi Islam.

    Titip salam dan pesan buat Pak Hutahaean: Tulislah buku; anda sungguh bertalenta. Tulisan anda gurih dan bergizi.

    Horas.

  4. renalmon hutahaean on June 10, 2009 at 3:47 pm

    ketawak aku setengah mati membaca ceritamu anggia.aku masih ingat waktu masih sd mengambil kotak2 sabun di kamar mandi untuk kujadikan motor2an.bertaruh tebak2an beka motor yang lewat dijalanan dg uang serupiah.main legar yg mengasikkan.banyaklah lagi.memang menyenangkan.horas ma!

  5. Melfa Lamria on June 10, 2009 at 4:04 pm

    Terimakasih diberi kesempatan membaca cerita ini..sangat susah dilukiskan dengan kata2, yg jelas saya seperti ada ikut menyaksikan dalam cerita itu. Benar2 sampai message cerita ini.

  6. Nainggolan Prabu on June 10, 2009 at 5:29 pm

    Ha..ha.haaaa, cerita yang menarik. Pengalaman anak esde awal tahun 70 han apalagi di tapanuli hampir semua mirip2 dengan pengalaman Lae ini. Mirip dengan kami anak2 di samosir. Marsanding, marsikedan-kedan…Mi gomak. Cerita yang sangat menarik Lae. Alur ceritanya tidak membosankan. Saya masih menunggu
    cerita lain yang menarik dari Lae kita ini. Mudah2an Si Sumurung yang Jigil itu bisa baca cerita ini. pengalaman yang tak terlupakan. Terimakasih Lae.

  7. Ruas-Bandung on June 10, 2009 at 5:38 pm

    Setelah aku baca cerita pak Hutahaean ini, ada pertanyaan di benak saya apakah cerita ini adalah cerita rohani.
    Ahh..yang jelas cerita pak Hutahaean ini adalah khotbah yang bagus buat saya hari ini.
    Seringlah “berkhotbah” pak Hutahaean.

  8. Mangara Pakpahan on June 10, 2009 at 8:45 pm

    Hahahaa… :-D Ending cerita ini sangat menarik bagi Saya. Saya pikir cerita ini dapat disebut sebagai khotbah yang hidup, kontekstual, berangkat dari pengalaman hidup, ya semacam kesaksian-lah. :-)
    Dan sepertinya neh..Pak Hutahaean sudah mulai mengikuti jejak Amang Pdt. DTA untuk menuliskan kisah lalu hidupnya, sebagaimana yang boleh kita baca dalam buku yang berjudul “Anak Penyu Menggapai Laut”. Mantap Pak Hutahaean…

    Terimakasih buat cerita nya Pak Hutahaean…..

    Salam,

  9. Friska pardede on June 10, 2009 at 9:20 pm

    Cerita yang sangat menyegarkan ketika semua media hanya menyiarkan berita2 yang tidak mengenakkan (masalah TKI, helikopte jatuh,Ambalat, pilpres) dll.
    Diantara kenangan dimasa kecilku yg banyak itu yg paling lucu adalah kalau marahan sama teman(marsanding) saya akan sangat marah apabila musuh kita menyebut nama orang tua kita( dan semua anak didesa kami seperti itu), rasanya ingin membunuh org tsb krn merasa sangat dihina dan entah kenapa org Batak selalu menyingkat namanya) dan sangat pantang menyebut nama org tua kita

  10. A Napitupulu on June 11, 2009 at 8:41 am

    Cerita yang sangat natural, menggelitik, dan menjadi kotbah.
    Semoga ada banyak lagi serita yang seperti ini.
    Horas

  11. yanti sihombing on June 11, 2009 at 9:26 am

    wow….ceritanya keren bangat…… sambung lagi dong amang ceritanya. aku jadi teringat tahun 75 an…. waktu itu aku kalah main karet gelang….karena kalah aku nangis…. ngadu ama mamakku… eh.. bukannya dibela aku…. malah digotil pulak……sejak itu aku tidak pernah mengadu kepada siapa pun kalau kalah bertarung….. kalau bapak ini hebat ya… dah kalah berani pulak nyimpan rahasia…. jadi penasaran neh mo ketemu spt.. apa orangnya ya…..
    horas ma ba tu pengalaman tahun 70 an i.. ha..ha..

  12. Gloria on June 11, 2009 at 10:43 am

    hehehehe…ceritanya bagus dan penuh makna.
    Keep writing Pak Sal.. :)

  13. Joice Hutabarat on June 11, 2009 at 3:11 pm

    Hahahhaa…lucu….manjaha carita on, gabe sahera na mulak gelleng iba amang, cara bercerita amang benar2 bisa menghadirkan gambaran asli masa kecil di huta, marsanding, marsikedan-kedanan, amang tahe…keep writing amang!!

  14. Lolly Marbun on June 11, 2009 at 3:27 pm

    manTap bah…

  15. Zekson P on June 11, 2009 at 4:01 pm

    Ha…. bagus.. bagus… bagus..
    “turi-turian mar dongan poda”

  16. M Tampubolon on June 11, 2009 at 4:22 pm

    Ido ate tabonai memori ni amantai, jarang-jarang songini marutang digarar dohot dionjar tu hauma. adong dope songini nuaeng? naeng mandaftar jo ahu. martua amanta i.

  17. rumanap on June 11, 2009 at 5:42 pm

    Gaya bercerita na sangat bagus.
    Alani caritamon gabe kepingin au naeng marsitandaan lebih bagas.. Jadi melalui FB nga hu ajak hamu mardongan..Unang jua Amang da. Mansai lomo rohangku marcarita-carita sisongonon tu dongan magodang nang tu sundut na umposo..Mauliate do tong dohonon tu par Rumametmet on, ala marhite hamu do gabe taruli iba mananda Amang Sal Hutahaean. Saya sependapat dengan Guru Etos Jansen Sinamo ” Tulislah buku, anda sungguh bertalenta”..
    So jo tahe.. sotung naung adong do buku karya muna ?

  18. richard hutahaean on June 11, 2009 at 6:29 pm

    Ahhhhh…..ketara kali si renalmon hutahaean bandal kali ya….Makanya ampara, baek-baek sekarang ya…..wkwkwkwkwkwkwkwkwk

  19. eric arac on June 11, 2009 at 7:08 pm

    ‘Jigil’ dua level di atas ‘jugul’? Yang saya tahu hanya ‘jogal’, ‘jugul’, ‘jigil’. :) Bravo buat Sal Hutahaean.

    Tentang hutang, saya jadi ingat masa kecil juga, waktu itu saya masih SD pertengahan tahun tujuhpuluhan. Sore hari, ada sepasang suami isteri datang ke rumah kami membawa makanan. Hanya berdua, dan setahuku mereka bukan keluarga dekat kami, tapi makanan yang dibawanya komplit dengan “namargoar”. Hal itu tidak biasa, bahkan aneh. Pada masa itu di kampung kami makan dengan lauk ikan asin saja masih susah. Malam itu kami makan dengan enak dan sepuasnya seperti berpesta pora. Belakangan saya tahu dari ibu saya, bahwa mereka datang membawa makanan itu untuk meminta orang tua saya menghapus hutang mereka karena pengakuan mereka tidak sanggup lagi membayar. “sae utang”. Bah, boi do hape songoni. :)

  20. Ninggor Pardede on June 12, 2009 at 7:14 am

    Hahahaha….. Sae utang dungi masikedankedanan…

  21. John Pasaribu on June 12, 2009 at 11:29 am

    Pas ma songonon hualami najolo dihuta (80-an), alai dang huboto pajojorhan songon cerita on.
    Kronologisnya tepat, alurnya dapat dan pesannya sampai.
    keep writing ‘Lae,,,,,,,,

  22. sal hutahaean on June 12, 2009 at 2:31 pm

    Parjolo, terimakasih untuk Amang DTA yang telah memuat tulisan luccu-luccu ini di rumametmet. Na paduahon, untuk teman-teman pembaca, baik yang menulis tanggapan maupun yang tidak, terima kasih telah meluangkan waktu membaca.

    @tanobato:
    setuju Abang, anak-anak memang nggak suka neko-neko, tulus, dan punya aturan dan cara sendiri menjaga sportivitas. Ihut ni i, blog tanobato bagus tuh Abang. :)

    @Bang Tampu:
    Hahaha juga Bang Tampu. Mungkin bukan kali pertama ompung itu kehilangan jambu, sampai segitu marahnya.

    @Jansen H. Sinamo:
    Mauliate Abang, pujian yang membesarkan hati. Sai sinungka-sungka do nian, alai dang apala hantus dope. Horas ma muse.

    @renalmon hutahaean:
    senanglah sudah hatiku kalau bisa kubikin kawan “ketawak”. Apalagi seingatku ketawa renalmon itu khas, menggelegar.

    @Melfa Lamria:
    Terimakasih ito. Karena pengalaman langsung memang agak lebih mudah diceritakan. Selain itu, tampaknya saya juga sudah ketularan gaya tulis dari rumametmet. Pak pendeta kan jago nulis, gayanya sederhana, kalimat pendek, kata-kata membumi, tapi tepat sasaran. Sikit-sikit awak tirulah. Di buku “anak ni ponu” lebih terasa gaya itu.

    @Nainggolan Prabu:
    Horas pulo samosir. Mauliate, lae. Sama-sama esde tahun 70-an kita ya? I ma da, bahat ma tutu angka siingoton hatiha i. :)

    @Ruas-Bandung:
    Unang paseriushu hamu par-bandung i. Holan cerita lucu-lucu do on, dang khotbah. “ngan heureuy wae,” kata orang bandung mah. :)

    @Mangara Pakpahan:
    Sama-sama, terima kasih juga. Tidak mudah ngikuti jejak DTA, Amang. Ligat kali pun. Hahahaha

    @Friska pardede :
    Betul ito (ito, angkang, atau inanguda, ibu saya sonakmalela). Begitu tinggi nama orangtua bagi kita semasa dakdanak. Aku ingat, banyak perkelahian anak-anak terjadi di kampung kami yang bermula dari seseorang menyebut nama orangtua temannya. Pintor marrara pinggol. :)

    @A Napitupulu:
    Mauliate, tulang. Menggelitik? Ah, jangan-jangan tulang juga punya cerita yang lebih seru yang mau diceritakan? :)

    @yanti sihombing:
    Gampang itu, kita bisa jumpa di fb. Kita marpariban lho, saya kan hela ni parombus-ombus. Horas ma tutu tu par pengalaman 70.

    @Gloria:
    Terima kasih juga, Gloria :)

    @Joice Hutabarat:
    Syukurlah kalau cerita itu bisa bikin ito “sahera mulak gelleng”. Memang itu kok tujuannya, marnostalgia tu hutanta na uli i. :)

    @Lolly Marbun:
    MauliAte, LolLy … :)

    @Zekson P:
    Poda? Mana ku berani? Luccu-luccu aja nya.

    @M Tampubolon:
    Betul, Lae Tampubolon. Coba ndak begitu, sampai sma pun belum tentu bisa lunas.

    @rumanap:
    Horas, Lae Rumanap. Sudah saya acc di fb.

    @richard hutahaean:
    ah, daong, na burju do ibana. Marampara do hamu tahe? hahahaha

    @eric arac:
    Ada juga yang begitu ya? Biasanya itu “hutang” adat lho, semacam ihur-ihur dari pangalua. Tapi ini lain ya. Alai nga tung mansai tabo i da, untuk kedua belah pihak. Hutang lunas disini, makan besar disana. Semua heppi. hahahaha

    @Ninggor Pardede:
    Itulah enaknya. Marsikedankedanan.

    Horas ma di hita,

    sal hutahaean

  23. M Tampubolon on June 12, 2009 at 3:09 pm

    Jigil=jungkat, jogal, jugul, jekjek, jengjeng. (5j)

  24. S. Marihot Hutahayan on June 13, 2009 at 9:27 am

    Sabass namanjaha sarito mi ba Ampara.
    Anggo manurut ahu, ngaikkon suratonmu buku sarito jo Ampara, ai tung mansai tabo do molo ho marsarito. Andigan ma hira-hira haruar buku sarito ni komandani? Mamintor hutuhor pe godang. Horas jala gabe!

  25. delila on August 17, 2009 at 1:22 pm

    oo, dua anak yang lugu, nakal tapi lucu
    sangat menarik ternyata pengalaman2 masa kecil jika diceritakan dengan jenaka membuat daku tertawa lepas (just f u)

  26. Ronald Manurung on September 20, 2009 at 4:39 pm

    Ha, ha,ha,ha. Sampai sakit perut aku lae membaca alur ceritanya. Sangat kena dan sangat teratur alur ceritanya. Waktu saya lg terbahak bahak membaca, anak saya yg paling kecil tiba tiba masuk kamar, dan tanya, kenapa papi ketawa sendiri.
    Saya jadi teringat kisah di Toba di thn 60 an, tidak jauh berbeda, walaupun kelas judi nya lae sekitar dua tingkat diatas. Kalau waktu nya kami, paling dibayar dengan tugas membawa bukunya yg menang atau kelereng dan karet gelang.
    Ditunggu lagi kisahnya yg lain ya lae Hutahaean.
    Horas.

  27. Gaya Hutasoit on November 19, 2009 at 1:02 pm

    Mantap. Kalau di hutaku, bisa siutang-utang taruhan gambiri=kemiri. Bukan itu saja, utang pulur (peluru katapel). Hebatnya tak ada utang yang tak terbayar. Harus lunas amang. Pelunasan bisa barter dengan mangga atau jual jasa menjaga horbo.

  28. H.sinaga on November 24, 2009 at 12:23 pm

    lae M. Tampubolon! tamba dope sadanai, juang ! jala biasana angka nasongonon “jelek” do on.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*