Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Saya tidak kenal Prita Mulyasari, ibu berjilbab yang disidang karena menuliskan keluhannya tentang pelayanan rumah sakit internasional dekat rumah saya di Serpong Tangerang. Namun kasus yang dialaminya benar-benar ikut menguras perasaan saya. Mungkin karena saya juga punya hobi yang sama: menulis pengalaman, baik buruk apalagi indah. Tentang apa saja. Jangan-jangan dalam hati saya juga kuatir besok-besok mengalami seperti Ibu Prita: dipenjara hanya karena curhat pesawat saya delay, koneksi internet saya lelet, atau listrik padam. Namun ada lagi yang membuat saya gundah. Rupanya tanpa banyak sorotan Fifi Tanang, Aseng dan Winny, juga warga negara baik2 republik ini, sudah dipenjara karena menulis surat pembaca menyangkut properti yang mereka beli di kawasan Mangga Dua. Ah, saya susah. Negeri ini terasa sangat pengap. Dahulu yang sok jagoan tentara, kini sesudah reformasi yang dipelopori mahasiswa, yang sok jagoan malah pengusaha. Ah kepala saya pusing. Bagi saya kebebasan berekspresi, kebebasan menulis termasuk di milis, status facebook, atau blog adalah hak-hak mendasar warga negara. Tanpa itu negara ini sama saja dengan kerangkeng. Dan saya tidak mau hidup dikerangkeng, diberangus atau disumpal. Saya mau bebas. Saya pikir Anda juga.
Namun syukurlah, pagi ini ditengah kesumpekan ada sedikit berita gembira. Angsa kami telah menetaskan telurnya. Dari enam telur dua sudah menjadi anak angsa kuning menggemaskan. Sementara saya mau melamun tentang angsa dulu.
Nanti setelah segar kita kursus lagi: tentang bagaimana memberanikan rakyat berbicara dan menulis. Tentang apa yang mesti dilakukan jika mendapat pelayanan buruk di rumah sakit atau sekolah. Tentang reformasi yang sedang sekarat. Atau apa saja.
Aduh..selamat atas menetasnya telur angsa2 amang itu, telur yg dipertahankan induknya sampai mati sebulan yl itu kan amang, aku jadi ingat lagi pertanyaan boruku Nina(amat penyayang binatang) gimana khabarnya telur angsanya amang yg 7 butir itu, eh ga taunya dapat berita yg membahagiakan sesuai dgn harapannya, cerita amang ini menyeimbangkan emosi jiwa terhadap persoalan2 yg bikin sumpek belakangan ini.
Hehehe….selamat lah say, akhirnya…..Btw, termasuk dlm klausul perjanjian juga?
Bagi hamu jo bah……… manang tolor nai pe haduan ate………… hehehehhee
Demi kelangsungan hidup si angsa, maka ular-ular yang ada disitu harus dimatikan terlebih dahulu atau minimal diserahkan pada pihak kebun binatang Ragunan.
Daniel Harahap:
Sekarang mesti ekstra hati-hati mengeluarkan pendapat. Nanti Lae bisa dituduh mencemarkan nama baik ular.
Selamat atas angsanya amang..
Selamat atas rezeki yang diterima melalui anak angsa, saya sangat kagum dengan ketabahan Ibu Prita, saya melihat di TV beliau tidak marah-marah akan tetapi dengan santun menjawab pertanyaan wartawan , apakah saya bisa berbuat demikian apabila saya mengalami hal yang sama dengan Ibu tsb.
Ha.. Ha.. Amang DTA benar benar tulisannya jadi oase di padang gersang.Selamat atas lahirnya si kembar angsa, ada melek melehan amang? He.. He.. Syalom
Duh senang nya.. waktu kecil saya juga mendambakan agar kalkun2 saya mau bertelor dan jadi anak, ternyata tidak..
baidewei jenis kelaminnya apa Amang..??
Potong bebek angsa masak di kuali, nona minta dansa dansa empat puluh kali…………. eh, salah, Angsanya bukan mau dipotong kan amang? Jangan sampai terjadi pembunuhan, kalau Angsanya minta dansa boleh…
Apakah suatu kebetulan telur angsa yang menetas cuma 2, dan ini sama dengan anak Bu Prita ada 2? Bukan ya. Di dunia tidak ada yang kebetulan. Kuesioner yang harus dibaca dan diisi pembaca rumametmet cukup ringkas. Pagi ini ketika masih di rumah saya berangan-angan menulis mengenai hak pasien, arti awam informed consent beserta lima kriteria yang terkandung di dalamnya, durasi komunikasi medik awal antara dokter dan pasien, serta banyak hal lain. Tapi apa boleh buat, saya diharuskan baring sepekan akibat isialgika kanan yang saya derita. Nurani saya sepertinya tidak mau tulus menerima perintah dokter ini, lebih karena tugas yang bak kejar tanyang membuat paper untuk presentasi. Apapun, saya sangat concern dengan masalah Prita. Sungguh sangat banyak pemelajaran yang dapat diangkat bagi para pakar hukum, para akar kesehatan (tidak hanya dokter). Dalam sistem pemelajaran sekarang yang selalu menggunakan skenario asli, topik ini sangat relevan. Semoga semua yang ingin dan bertugas membenahi aspek hulu kemelut yang terjadi sekarang, selain melaksanakan YA pada kuesioner penjaga rumametmet, sebaiknya juga SHOW HOW dan DOES, tidak terbatas ranah KNOW.
Wah…berita yang menggembirakan perjuangan induk angsa itu tidak sia-sia
Angsa-angsa muda penggantinya sudah muncul…selamat Amang
Pokoknya, kalau anak-anak angsa itu sakit, jangan sekali-kali membawanya berobat ke RS Omni International di Alam Sutra
Selamat Atas kelahiran angsa yang baru…. kapan “tardidi” amang?
sudah makan bangun-bangun angsanya?
selamat 3* malo-maloma hamu mangarawat, sotung diposati dakdanaki ate. dirimpu boneka angsa, saking gemasna gabe dipisat. akhirna tewas.
Jaga Amang sotung diturbing ulok. Ai bohado kesimpulan hasil ‘visum et repertum’ najolo, alana diturbing ulok do manang sahit nagabe sikkam mabarbarna? Horas!
Kalau melihat/menemukan sesuatu yg kurang baik spt pelayanan publik, gak usah di kasih tau atau dibeberkan apalagi lewat internet. Ntar kayak inang Prita. Dang i Amang DTA? Masipasombuan ma. Ido pinangido ni negara on. Hohom! Argado mangurus pinda warga negara Amang?