Pesta Kedua Pentakosta: Laporan dari Serpong

June 1, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Pukul 18.30 hujan masih turun. Kebaktian dijadwal pukul 20.00. Saya ikhlas. Berapa pun jumlah anggota jemaat yang hadir saya akan tetap tenang. Kotbah sudah selesai saya tuliskan di buku catatan. Acara sudah selesai dicetak dan diletakkan di meja depan pintu gereja, dan saya sudah mengingatkan koster agar AC dinyakan sejam sebelum kebaktian.

Pukul 19.30 saya keluar dari rumah. Hujan sudah reda. Syukurlah. Jarak dari rumah ke gereja hanya dua puluh meter. Jubah saya tenteng bersama Alkitab, buku catatan kotbah dan buku konkordansi. Gereja masih sepi. Satu orang pun jemaat belum ada yang datang kecuali tukang pohul-pohul. Saya senyum dalam hati. Rupanya parhalado parartaon kami tetap ingat “tradisi” di HKBP Serpong: perayaan kedua atau pesta paduahon mesti ada bonus snack untuk jemaat yang burju. Saya pun menuang kopi yang dari termos yang sudah diletakkan Hendro di teras gereja lantas masuk ke konsistori.

Pukul 19.35 kolega saya Pdt Benget Simamora datang lengkap berjas. Dia saya tugaskan melayankan liturgi sementara saya berkotbah. Dua-duanya pendeta. Semua ini adalah bagian dari tekad untuk menyatakan Pesta paduahon ini tetap penting walau pengalaman saya pribadi tetap perulangan dan anti klimaks. Beberapa saat kemudian beberapa teman sintua datang.

Pukul 20.00 tepat kebaktian kami mulai. Lima menit sebelumnya kami berkemas. Ketepatan waktu adalah kebiasaan dan hampir jadi tradisi kami di HKBP Serpong. Berapa pun jumlah anggota yang datang kebaktian kami mulai tepat waktu. Ini juga merupakan bagian ungkapan hati bahwa ibadah ini penting.

Pukul 20.30 saya siap-siap hendak memulai kotbah. Saat persembahan jumlah anggota jemaat dan parhalado yang hadir termasuk saya hitung 42 orang. Sekali lagi: 42 orang. Pendeta hadir dua orang, artinya: 100 persen. Parhalado yang hadir 6 orang atau 20%. Satu orang memberitahukan berhalangan hadir. Yang lain sudah saya sms, yang membalas tiga orang dan benar-benar hadir. Selebihnya tidak ada kabar. Jumlah anggota jemaat kami 400 Kepala Keluarga atau hampir 1500 jiwa.

Pukul 21.10 kebaktian selesai. Kami bersalam-salaman di pintu. Pohul-pohul dibagikan. Kayaknya berlebih walau tak sampai dua belas bakul. Saya dengar anggota jemaat yang hadir disuruh bawa pulang oleh-oleh pohul2 dari gereja. Saya dan beberapa sintua ngobrol sehabis menghitung persembahan. Jumlah persembahan ke pusat Rp 311.000. Persembahan pertama dan kedua saya dengar angkanya Rp 200 ribuan. Ada kawan sintua bercanda: gereja “tekor” apalagi jika snack dihitung. Tentu saja itu canda. Sebab semua paham gereja bukan sedang jualan. :-)

Pukul 21.40 saya kembali ke rumah. Saya berencana akan melanjutkan lagi membaca buku James Dunn “Jesus and The Spirit” yang terus terang telah membantu saya mempersiapkan kotbah perayaan kedua Pentakosta ini. Tapi sebelumnya saya tidak tahan godaan untuk mengecek Ruma Metmet dan Facebook. Tentang kotbah saya, biarlah jemaat yang menilai. Terutama Tuhan. Yang penting saya telah berusaha dan berdoa. Seperti saya katakan di posting sebelumnya seandainya saya dalam posisi memilih maka saya akan meniadakan Pesta-pesta kedua di HKBP yang menurut saya kurang kuat dasar teologisnya dan secara psikologis benar-benar anti klimaks, dan secara teknis sulit dihadiri. Saya akan mengajak HKBP fokus kepada kalender liturgi gereja. Namun selama saya tidak mempunyai pilihan maka saya akan melayankannya dengan ikhlas walaupun saya anggap ini hanya tradisi demi tradisi belaka.

Pukul 20.14 laporan pesta kedua selesai dan siap untuk diposting. Seandainya banyak pendeta dan anggota jemaat mau membuat laporan tentang pesta-pesta kedua ala hkbp ini saya yakin di sinode godang 2010 dan sebelumnya rapat pendeta agustus nanti kita bisa ambil keputusan. Daripada hanya mengeluh saja. Atau membiarkan sesuatu hanya karena alasan sudah biasa atau “adat”. :-)

Share on Facebook

20 Responses to Pesta Kedua Pentakosta: Laporan dari Serpong

  1. Jansen H. Sinamo on June 1, 2009 at 10:52 pm

    Sesudah ‘soul-searching’ soal pesta kedua ini, perlu juga merenungkan respons Roh Kudus atas pesta ini; atau sikap Yesus atas pesta Natal kedua.

    Barangkali ada petunjuk dari buku James Dunn…

    Horas ma.

  2. rumanap on June 1, 2009 at 11:44 pm

    Malam ini saya mengikuti Kebaktian terindah Pesta Kedua PENTAKOSTA di hkbp Serpong..saya katakan Pesta yang mewah..ada kopi, snack dan dilayani 2 orang Pendeta (Parliturgi & Parjamita ) dan kotbah yang disampaikan sangat bernas ( sayang tidak banyak yang datang).. Tapi mungkin juga karena sepi, saya jadi bisa lebih menikmati.. sepulang kebaktian saya memang membaca lagi 1 Kor.12 ; 13 ; 14.. Saya dapat banyakkkkk malam ini

  3. Michael on June 2, 2009 at 12:09 am

    Laporan dari Tebet.
    Kebaktian dimulai tepat waktu, jam 19.00 WIB.
    Parhalado/Sintua yang bertugas sudah datang beberapa menit sebelum kebaktian dimulai. Yang datang lengkap.
    Jumlah jemaat yang datang sekitar 60 orang, padahal tidak ada hujan atau gerimis… Mayoritas sudah datang sebelum jam 19.00, karena salah sangka dengan jam mulai kebaktian. Mereka pikir Kebaktian dimulai jam 18.00 seperti jam kebaktian biasa di hari Minggu. Gitulah kalo malas menghafal berita di Warta Jemaat… ;)
    Pendeta yang melayani adalah pendeta baru yang berusia masih sangat muda… Isi dan penyampaian khotbahnya? Ah, tak mau comment lah… Yang pasti beberapa jemaat yang berusia lanjut menyarankan agar pendeta baru ini benar-benar mau belajar keras agar bisa gagal menidurkan jemaat pada saat khotbah… hahaha…

    Saya sepakat dengan amang Harahap, bahwa kebaktian kedua ini emang perlu ditinjau lagi, apakah memang perlu benar untuk Jemaat atau memang ada tujuan lainnya…

  4. andar on June 2, 2009 at 2:59 am

    Saya hari ini menghadiri hari raya “Pfingstmontag” (Pentakosta hari Senin) di sebuah gereja Lutheran di Hamburg, Jerman, yang memang dijadikan libur resmi disini. Saya belum menanyakan landasan teologis apa yang dipergunakan untuk merayakan hari ke-2 ini. Hanya saya berpikir bahwa tradisi merayakan 2 kali perayaan Natal, Paskah, dan Turunnya Roh Kudus memang sudah menjadi tradisi turun temurun di Jerman yang kemudian dibawa ke tanah Batak. HKBP adalah hasil penginjilan badan misi di Jerman. Dengan adanya beberapa kali perayaan hari raya Kristen sebanyak dua kali menjadikan waktu libur mereka semakin panjang dan tempat-tempat rekreasi menjadi penuh sesak. Yang datang kebaktian tetap saja lebih sepi dari hari sebelumnya.

  5. Siregar on June 2, 2009 at 7:20 am

    Lain lagi di Sutoyo, jadwal kebaktian jam 19.00, tapi dimulai sudah 19.30 yang hadir sekitar 53 orang dari 1000 an KK, sudah termsuk pendeta 2 orang, Sintua baru dilantik sehari sebelumnya 10 orang, yang hadir 2 orang saja. ada dua koor dengan anggota sangat sedikit,,,,, tetapi gak ada pohul pohul dan kopi…. dan tetap SEMANGAT……

  6. Yanti sihombing on June 2, 2009 at 9:20 am

    Di Siantar….masih masuk pagi pukul 10.00 Wib…. Jemaat kami 856 KK yang hadir hari pesta Ke II Pentakoste itu hanya 50 orang itupun karena ada 2 kelompok koor yang mengumandangkan KOOR. Sintua 48 orang. yang hadir hanya 10 orang. seandainya kel. sintua hadir semua pada hari itu tentu keliatan sudah penuh itu gereja. yang khotbah Pdt. Muda baru ditahbiskan di Serang Maret yang lalu… tapi isi khotbahnya bagus dan tajam. lebih bagus dari khotbah Minggu semalam.kutanya teman-teman yang digereja lain katanya, gerejanya juga sepi…sejenak aku berpikir apakah ada pengaruhnya karena kebetulan tgl 1 dimana PNS lagi gajian? lalu yang lain yang tidak PNS gajian jugakah? betul juga tuh amang sebaiknya pesta ke II ini dibahas aja di Rapat pendeta.

  7. gabarel sinaga on June 2, 2009 at 9:29 am

    HKBP Rawamangun dimulai pukul 19.00, masih seperti biasa hampir 50 orang dari kl. 2000 KK . Yang berkhotbah Pdt. Banner Siburian. tidak ada koor atau PS. hampir 1 jam acara kebaktian . Pdt. Siburian pun setelah ibadah selesai mengatakan “agar lebih hangat” salamannya di depan dekat altar, tidak seperti biasanya habis ibadah salaman di pintu keluar.

    Saya perhatikan memang dari segi jumlah di Pesta-II Pencurahan Roh Kudus ini yang paling sedikit hadir…
    Pesta -II seperti ini, Kita nikmati sajalah…… Kita ajak teman, keluarga…
    Angka naberWAJIB ma tasungkun… boasa songon i!

  8. Bang Tampu on June 2, 2009 at 9:49 am

    Kami dari Parung Panjang Bogor,
    Parhalado sudah sepakat untuk menyatukan pesta pertama dan kedua, mengingat kondisi dan situasi yang dapat dimaklumi.

    Daniel Harahap:
    Apa arti sesungguhnya “kondisi dan situasi yang dapat dimaklumi”? Bisa lebih dijelaskan? :-)

  9. JP Manalu on June 2, 2009 at 10:01 am

    Kalau di HKBP Solo, kami tidak melakukan pesta peringatan kedua turunnya Roh Kudus itu amang. Tadi malam kami melakukan acara mangapuli ke rumah salah seorang CSt, dan yang datang untuk mengikuti acara itu lumayan sekitar 30 orang, padahal biasanya acara mangapuli di sini sudah cukup banyak kalau dihadiri 10 orang. Barangkali ruas yang datang tadi malam itu berpikir, sama-sama ibadah juga, bedanya hanya dilakukan di rumah; bukan di gereja.

    Baidewei, gara-gara kalender HKBP tanggal 1 Juni 2009 diberi warna merah, hari Minggu yang lalu nyaris terjadi “kesalahan” penentuan hari arisan kumpulan marga yang kami ikuti. Salah seorang pensiunan St. yang menjadi anggota kumpulan mengusulkan, supaya pertemuan dilakukan pada hari Senin tanggal 1 Juni kemarin; setelah menggunakan kalender HKBP sebagai rujukan, ide amang tersebut langsung dipertanyakan oleh anggota lain, lha itu kan hari kerja….. Untunglah amang itu segera menyadari kekeliruan tsb.

    Daniel Harahap:
    Aturan dari mana pulak itu mengganti Pesta Paduahon (yang nyata2 tertulis di Aturan) dengan mangapuli? Ah, sai na adong do HKBP ta on ate. Ndang holan par- Solo, sude hita do. Alai on ma patuduhon sada kontradiksi ni bangsonta: secara formal bangkol hian paubahon hasomalan, alai dibagasan praktek boi do sude paubahon dibagasan dos ni roha. :-)

  10. Ferry Siahaan on June 2, 2009 at 10:24 am

    Tadi malam saya mengikuti kebaktian Pentakosta hari kedua di HKBP Rawamangun. Tdk spt biasanya, gereja sangat sepi. Iseng2 saya hitung, yg hadir (kalo tdk salah hitung) hanya 50 orang termasuk pelayan ibadah. Kontras sekali dg besarnya gereja yg bisa menampung ribuan orang dlm sekali ibadah itu. Biasanya memang tdk seperti itu, yg hadir bisa mencapai ratusan orang. Tp kebetulan hari Senin kmrn, Distrik XIX Jakarta Dua juga mengadakan ibadah Pesta Diakonia di Grand Mangaraja, Pulo Gadung, jadi mungkin sebagian besar jemaat sudah “tersedot” ke sana. :)

    Sebenarnya banyak hal yg bisa dilakukan gereja utk “menyiasati” agar jemaat mau datang ke pesta kedua tsb. Misalnya di HKBP Rawamangun pada Natal II 26 Des 2008 yg lalu, diadakan ibadah dgn liturgi bernuansa zending dlm rangka Tahun Marturia HKBP. Jemaat yg hadir cukup banyak, krn banyak jg koor yg menyanyi dlm acara tsb. Kemudian Paskah II tgl 13 April 2009 yg lalu diadakan sekaligus dgn pesta puncak Parheheon Ina. Jemaat yg hadir sangat banyak, meskipun acara dimulai pukul 18.00 WIB.

    Di beberapa gereja lain Natal II sering digabung dgn acara Natal kategorial (Naposo, Ina, Ama) atau Natal bersama seluruh wijk. Saya ingat beberapa thn yg lalu, Paskah II di di sebuah gereja HKBP pernah diadakan dlm bentuk konser koor Naposobulung. Thn 2005 saya juga pernah melayani acara ibadah Paskah II di HKBP Sudirman, yg diadakan dlm bentuk pagelaran operet/drama. Dan jemaat yg hadir juga banyak.

    Saya tetap setuju perayaan hari kedua itu diteruskan, tapi sebaiknya gereja2 HKBP juga mengadakan “modifikasi” acara tsb, supaya tdk spt yg Amang tulis di atas, terkesan pengulangan & antiklimaks.

    Daniel Harahap:
    Modifikasi Ibadah (al: memperbanyak koor, menggabung dengan pesta, dll) untuk mendongkrak pengunjung sebenarnya merusak makna ibadah itu sendiri.

  11. rjh on June 2, 2009 at 10:28 am

    @ Andar
    Terimakasih atas informasinya tentang ‘Pfingsmontag’ di Jerman. Saya baru tahu itu.

    Di gereja, di tempat saya mengikuti ‘pesta paduahon’ Pentakosta (HKBP Malang-Jawa Timur) kebaktian ini dimulai pkl. 19.00 wib dan yang hadir 61 orang (komposisi : Kategori ama, ina, dan naposo masing-masing 1/3, sudah termasuk parhalado di antaranya). Jumlah tersebut sama dengan 20 % dari rata-rata 300 orang pada kebaktian Minggu. Cuaca pada malam itu cerah. Pada ‘pesta paduahon’ Perayaan paskah dan pentakosta dalam kurun waktu 54 bulan terakhir ini kehadiran berfluktuasi antara 60-70 orang, kecuali ‘pesta paduahon’ natal berkisar antara 200-250 orang karena bersamaan dengan perayaan natal gabungan ama, parompuan, dan seksi diakoni sosial. Saya tidak bisa bayangkan betapa kecewanya anggota jemaat yang, katakanlah, sekitar 60 orang itu jika ‘pesta paduahon’ itu ditiadakan hanya oleh faktor presensi dan yang, katanya, tidak ada dasar teologisnya. Dan jika kita asumsikan dalam setiap jemaat HKBP yang sudah ribuan itu hadir rata-rata 20 orang pada ‘pesta paduahon’ ?. Selain alasan teologis, kalau boleh dikategorikan begitu, seperti saya tuliskan pada komentar terdahulu, dulu di gereja HKBP ada yang namanya ‘partangiangan epiphanias’ 7 malam berturut-turut di gereja yang diselenggarakan dalam rangkaian natal dan tahun baru, akhirnya harus ditutup oleh faktor presensi. Dulu, di gereja HKBP partangiangan passion diselenggarakan 5 malam berturut-turut di gereja menjelang Jumat Agung (ini sudah pernah kita diskusikan) tapi sekarang ada yang menggabungkannya dengan kebaktian Minggu, 5 Minggu sebelum Jumat Agung, ada yang melakukannya hanya 1, 2 malam, bahkan ada jemaat yang sama sekali tidak melaksanakannya lagi. Semuanya menjadi begitu hanya pertimbangan faktor presensi. Kemudian… kegiatan kebaktian apa lagi yang harus dihentikan jika kita anggap kehadiran anggota terlalu sedikit atau, jika kita aggap pula, tidak ada dasar teologisnya ? Saya yakin bahwa ‘pesta paduahon’ itu dimasukkan dalam Aturan setelah pesta itu dilaksanakan, bukan sebaliknya, dimasukkan dalam Aturan dulu baru dilaksanakan, artinya ‘pesta paduahon itu’ bukan sesuatu yang konstitusional. Karena itu kita tidak melaksanakannya karena ada dalam Aturan, tapi hal itu kita masukkan dalam Aturan karena para pendahulu kita melihat bahwa ‘pesta paduahon’ adalah bagian dari upaya pembinaan spiritual. Maka, jika sekiranya ada teman kita yang akan mengusulkan pada Rapat Pendeta, atau Sinode Godang agar ‘pesta paduahon’ itu ditiadakan maka, dengan rendah hati, saya berupaya mebujuk mereka mengatakan :”unang ma songon i angka dongan….”
    Gutten Pfingsmontag ! (walaupun sudah lewat sehari)

    Daniel Harahap:
    Saya salah satu yang akan mengusulkan di Rapat Pendeta dan Sinode Godang agar Pesta Paduahon ditiadakan bukan karena alasan jumlah pengunjung, tetapi karena merupakan repetisi (perulangan) yang tidak perlu dan anti klimaks. :-) Namun saya setuju bahwa Passion dikembalikan menjadi empat malam dan selama masa Passion jemaat dilarang berpesta. Juga agar perayaan natal dikembalikan 25 Desember s/d 6 Januari dan pada masa Adven HKBP melarang mengadakan Natal.

  12. tanobato on June 2, 2009 at 11:15 am

    Ada yang menggelitik perasaanku membaca kegelisahan Amang DTA untuk melakukan pengakhiran perayaan “ekstensi” seperti ini yang – meskipun masih punya pengharapan – namun masih tersisa pesimisme (meskipun mungkin sangat tipis …). Dengan jabatan yang disandang sebagai “orang dalam” (pendeta resort, anggota MPS, dan lain-lain)ternyata belum kuat untuk melakukan perubahan, apalagi orang-orang yang sekadar anggota jemaat biasa.

    Kegelisahan akan menghapus saja perayaan ekstensi seperti ini sering menggodaku tatkala mendengar komentar rada sinis dari anggota jemaat menanggapi kegiatan ini sebagai “asa tamba do durung-durung dibahen na dipatupa HKBP pesta paduahon …”. Itu dari anggota jemaat sendiri, bagaimana pula tanggapan dari warga gereja lain yang memang tidak mengadakan perayaan ekstensi? Kebayang, ‘kan? Saranku, kalau tidak ada landasan teologis yang memadai, disudahi sajalah SEMUA kegiatan di HKBP ini. Fokus sajalah pada yang utama, yakni pelayanan jemaat.

    Kalau boleh titip “amanah”, Amang … tolong diwacanakan untuk mengubah peraturan yang memungkinkan Sekjen HKBP bukanlah harus dari kalangan pendeta (boleh dari non pendeta, asalkan punya kompetensi dan kemampuan manajerial administrasi yang mumpuni …). Cukuplah Eforus HKBP dari kalangan pendeta karena masih ada fungsinya sebagai penjaga dogma. Tapi, ma’af, ini memerlukan keberanian semua orang (termasuk para pendeta juga yang mungkin terancam kehilangan peluang mendapatkan jabatan sebagai penguasa di HKBP …)

    Daniel Harahap:
    PGI saja yang bukan gereja mengharuskan Ketua Umum dan Sekretaris Umumnya dari pendeta. Apalagi HKBP. Maaf, saya tidak setuju jika Sekjen boleh dari anggota jemaat. Sebab bagaimanapun organisasi HKBP harus dikelola sebagai gereja dan bukan sebagai koperasi simpan-pinjam atau punguan adat atau parpol. :-) Namun menurut Aturan salah seorang pimpinan, yaitu Kepala Departemen Diakonia boleh berasal dari anggota jemaat yang bukan pendeta.

  13. Friska pardede on June 2, 2009 at 11:25 am

    Di greja kami , ibadah dimulai pkl 19.30 pendeta yg bertugas adalah pensiunan krn ketiga pendeta kami menghadiri pesta diakonia yg di diadakan di Mangaraja. Jumlah yg hadir kira2 200an dan semuanya peserta kor krn memang ada himbauan, isi kotbah lumayam mengkritik mengapa pesta hatri ini sepi seharusnya sama dgn pesta natal dstnya.

    Melihat jumlah yg hadir(selalu begitu saat pesta2 kedua) dari jumlah jemaat kami yg hampir 6000(jlh kk 1800an) prihatin, tetapi itulah yg terjadi.
    Ada juga hal yg mengesalkan

    Nyanyian untuk ibadah sudah disiapkan( dibagikan) ke organis dan song leader utk 3 bln ke depan tetapi utk yg tadi malam anak saya bisa dapatkan pkl 19 (setengah jam seblm ibadah dimulai) pada hal dari siang( juga kemarinya ( hari Minggu) saya sdh tlp kesana kemari( o tahe grejaku) krn anakku memang masih hrs latihan supaya pelayanannya baik (dan dia pulang kuliah pkl 6 sore).

  14. Tetty Sihombing on June 2, 2009 at 11:26 am

    Tradisi Inggris, pesta natal kedua disebut “Boxing Day Service”. Kami sempat heran waktu mendengar nama it: apa hubungan antara tinju dan natal kedua? Ternyata nama Boxing Day diambil dari kebiasaan masyarakat Ingris membungkus kado di kotak2 dan diberikan kepada petugas2 pengantar susu, koran , kebersihan dll. pada hari natal kedua (26/12). Pesta natal kedua dikhususnkan sebagai “caroling and refreshment service”….Diadakan sore hari, jemaat dewasa dan anak2 rame2 nyanyi lagu2 natal hampir sepanjang kebaktian lalu dilanjutkan dengan makan minum kue2 dan hidangan natal ;ain di halaman. Yang hadir biasanya sangat banyak.

    Pesta paskah kedua (Easter Monday Service) diadakan pagi hari dan diisi kebaktian singkat lalu “fun & games” dan diakhiri dengan “barbeque” untuk makan siang. Pada paskah kedua banyak yang datang bukan untuk kebaktiannya tapi lebih untuk ikut barbeque-nya jadi kebaktiannya dibuat sangat sangat singkat…

  15. UTM. Nainggolan on June 2, 2009 at 1:10 pm

    Horas amang, lebih parah di HKBP Tigaraksa, yang hadir cuma 9 orang termasuk Pengkhotbah dan Liturgis, Sintua 2 orang, ina 4 orang, naposo 1 orang…. Yah memprihatinkan.
    bagaimana pula dengan Gereja Pentakosta yang melakukan doa semalam suntuk selama 10 malam menyambut hari Pentaskosta… mari kita renungkan…

  16. Happy on June 2, 2009 at 4:50 pm

    Horas.. pesta perayaan Pentakosta kedua di HKBP Jatiwaringin dilaksanakan pukul 19.30 yang dihadiri oleh jemaat yang lumayan banyak. Kotbah dibawakan oleh amang pendeta Einar Sitompul dan semoga dimateraikan ke hati jemaat yang hadir. Usul amang, dari pada membahas untuk meniadakan hari pesta kedua, lebih baik mengulas tentang makna hari pentakosta dan kaitannya dengan pergerakan gereja-gereja. Kitapun mungkin sudah lupa kalau hari ke 50 setelah kenaikan Tuhan Yesus kita merayakan hari Pentakosta yang kebetulan jatuh pada hari minggu sehingga dianggap sebagai ibadah minggu biasa. semoga berkenan…

    Daniel Harahap:
    Usul peningkatan kualitas perayaan Pentakosta dengan usul peniadaan pesta kedua adalah dua hal berbeda. Menurut saya perayaan pentakosta yang jatuh hari minggu itu saja yang diperbesar. Tidak perlu bikin perulangan. Baidewei istilah lumayan banyak itu konkretnya berapa? :-)

  17. rjh on June 3, 2009 at 8:47 am

    @ Tetty Sihombing

    Thanks so lot for your information about ‘Boxing Day Servie’ and ‘…caroling and refreshment service’
    (my note is : that’s refreshment, not repetition, isn’t it ?)

    Gabe lam tangkas ma nuaeng di iba, ndada holan di HKBP dohot di huria angka na mamulik dohot manjae sian HKBP hape na masa ‘pesta paduahon’ i. Adong do hape di tano Dois (ida : Andar) adong di Inggeris. Atik beha mangurupi hasomalan ni na di dua bangso na bolon i laho pahot rohanta tongtong mamestahon ‘pesta paduahon’ i. Ai, atik beha muse, molo holan hasomalan (tradisi) di HKBP do i gabe sai adong deba dongan na hurang mangargahon i. Hombar tu Almanakta i 3.220 ma nuaeng hurianta di HKBP. Songon na hutaringoti nantoari molo 20 halak pe ro di ganup ‘pesta paduahon’ i nunga hirahira 60.000 halak ruasta i na marpestapaduahon di sandok HKBP. Hita ma manimbangi

    Daniel Harahap:
    Molo ruas ni HKBP 2 juta (alai holan Tuhanta do na umboto i) lapatanna: 1.940.000 nari ndang dohot marpesta dua hali! Boha nama i? :-)

  18. Ruas-Bandung on June 3, 2009 at 10:31 am

    Memang hurang populer dope di hita ruas HKBP Tondi Porbadia i. ala kebetulan do ari minggu dipatupa ari “Turunnya Roh Kudus” gabe rame alai rame ni parmingguon biasa do.

    Taida ma hata haporseoaonta i.
    Ahu porsea di Debata Jahowa, ima….(dipaboa do ise do Debata I). Ahu porsea di Jesus Kristus…(dipaboa do ise Jesus I). Ahu porsea di Tondi Porbadia…(alai ndang dipaboa ise Tondi Porbadia I).

    Memang hurang gigih do HKBP patandahon ise Tondi Parbadia i, apalagi molo dibandingkon dohot gereja ni donganta na lain (misalna gereka kharismatik).

    Molo pe keliru pendapathu, bah dipature angka donganma.

  19. labora d. marbun on June 3, 2009 at 12:30 pm

    kegagalan pesta ke 2 di HKBP (natal, paskah, pantekosta), kegagalan siapa??? 50% Parhalado (pendeta and penetua), 25% pekerjaan, 25% jemaat itu sendiri… (sorry.. kesimpulan bukan dari hasil quick count ya)

  20. O. Pasaribu on June 3, 2009 at 5:57 pm

    @ rjh
    Adong do hape di tano Dois (ida : Andar) adong di Inggeris.

    O. Pasaribu
    Molo tangkas taparrohahon komentar ni inanta Tetty Sihombing na di ginjang i, jelas do didok “paskah kedua diisi kebaktian lalu “fun & games’ dan diakhir dengan barbeque. Pada paskah kedua banyak yang datang bukan untuk kebaktiannya tapi lebih untuk ikut barbeque-nya” Mungkin kebaktian i antar songon kebiasaan di hita, molo adong kegiatan di gereja, selalu didahului kebaktian singkat.
    Molo hita di HKBP gabe gamang/tanggung do. Kebaktian hera na marmeam-meam. Pesta, dang adong. Hea do hubege kabar digereja nami pesta paduahon holan dihadiri keluarga parhalado.
    Menurut ahu, perlu ditinjau aha do tujuanna mambahen pesta paduahon i. Nunga tarcapai tujuan i? Peraturan harus ditinjau / dievaluasi. dang harga mate. Mauliate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*