Pesta Kedua ala HKBP
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Dalam hal ini saya benar-benar gelap. Saya tidak tahu selain HKBP, gereja mana lagi yang mengadakan pesta-pesta gerejawi (Natal, Paskah, dan Pentakosta) dua kali. Dan saya juga tidak tahu dari mana asal-muasalnya dan alasannya. Namun yang saya tahu HKBP mengatur beberapa hari besar gerejawi harus dirayakan dua kali.
Pesta pertama tidak ada masalah. Namun pesta kedua di HKBP, jujur saja, selalu bagaikan anti klimaks. Pesta pertama Natal tanggal 25 penuh sesak, pengunjung gereja melimpah keluar dan suasana benar-benar semarak. Namun pesta kedua tanggal 26 Desember suasana berbeda total: sunyi, hambar, membosankan. Begitu juga yang terjadi dengan pesta Paskah atau Kebangkitan. Juga dengan Pentakosta. Berhubung pesta kedua selalu jatuh hari Senin, dan secara nasional bukan hari libur, maka biasanya di banyak gereja HKBP jumlah anggota (termasuk parhalado) yang hadir bisa dibilang dengan jari tangan dan kaki. Begitulah terjadi dari tahun ke tahun sampai malam nanti: pesta kedua turunnya Roh Kudus.
Beberapa pendeta berusaha menyiasati pesta kedua agar tetap ramai. Pesta kedua natal misalnya di beberapa gereja diganti dengan pesta gabungan dengan pembacaan ayat alkitab oleh warga (liturgi, pajojorhon), mengundang sebanyak-banyaknya koor. Sedikit tertolong. Pengunjung banyak namun tetap saja tidak bisa mendongkrak suasana. Kadang pesta kedua diberi bonus snack. Yang terakhir ini jujur termasuk saya yang melakukan. Namun maksudnya bukanlah supaya menambah jumlah yang hadir, tetapi sebagai upa ni na burju atau hadiah bagi yang setia. Sebab hanya orang-orang yang setia sajalah yang mau hadir di Pesta Kedua. Tanpa niat dan tanpa kesengajaan siapa yang mau di hari Senin sore yang macet dan melelahkan masih mau datang ke gereja? Sebab itu menurut saya jemaat yang burju harus diberi upah oleh gereja walau dia tak memintanya.
Lantas bagaimana? Bagi saya selama Aturan belum diubah ya mesti dilaksanakan. Nanti malam Pesta Kedua Pentakosta. Saya mengundang Saudara-saudara datang ke gereja. Kalau berkenan datanglah ke HKBP kami di Serpong pukul delapan malam. Tapi soal snack sehabis kebaktian, saya tak janji, karena kemarin saat sermon lupa dibicarakan. Minimal pesta kedua ini bisa dipakai sebagai penegasan atau pendalaman tentang makna perayaan. Apalagi suasananya tidak terlalu ramai sehingga baik untuk kontemplasi.
Tapi kalau Saudara nanti membicarakan amandemen aturan di huria-huria boleh juga dipergumulkan apakah pesta kedua ala HKBP ini sebaiknya dihilangkan saja karena selain tak lagi sesuai dengan jaman, kurang memiliki dasar teologis, juga acap merupakan perulangan dan anti klimaks. Silakan mengamandemen aturan. Namun ingat: ide amandemen itu bukan alasan Saudara boleh tidak datang nanti malam ke Pesta Kedua. Kalau Saudara anggota jemaat apalagi Parhalado HKBP Serpong, saya akan mencatat siapa saja yang datang!
Horas HKBP!
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
June 1st, 2009 at 8:19 am
Terpaksa deh hadir…soalnya akan diabsen Amang Pendeta DTA…
*Tapi Amang, itu against ‘human rights loh! Hahaha…..
June 1st, 2009 at 8:20 am
Benar, kalau di kota besar memang pengunjung sangat sedikit, sehingga kebaktian diadakan malam hari. Tetapi di bonapasogit masih meliburkan diri pada pesta kedua, dan kebaktian tetap diadakan pagi menjelang siang. Walaupun jemaat yang datang tidak sebanyak pesta pertama.
June 1st, 2009 at 8:40 am
Benar Amang Pendeta, selama bertahun-tahun ini jadi pergumulan di juga GKPS, sepert kami di GKPS Cililitan nanti malam biasayan yang hadir berkisar 25 orang termasuk pelayan. memang benar-benar antiklimaks dibandingkan yang hadir kebaktian Minggu. Perlu ditinjau ulang pesta tuntunan ini, demi pertumbuhan anggota jemaat juga.
Daniel Harahap:
Masalah: di gereja-gereja kita bisa sesuatu masalah terjadi bertahun-tahun tanpa ada jalan keluar.
June 1st, 2009 at 8:41 am
Horas. Mengenai Pesta Kedua (Natal, Paskah, Pentakosta) itu diaturkan dalam Aturan Peribadahan HKBP (kalau tidak salah 1906). Dan pesta kedua ini tidak pernah masalah dari dulu sampai sekarang terutama di Bonapasogit, daerah asal muasalnya warga jemaat HKBP. Kenapa? Walau pun hari kedua ini menjadi tidak hari fakultatif di Sumatera Utara dan terpengaruh juga kabupaten-kabupaten di Tapanuli; mari kita ajak dengan bijak para warga jemaat kita di sana terutama yang di Bonapasogit. Bukankah mereka juga (bupati beserta semua jajaran pemkabnya, Camat, lurah, kepala desa) butuh dan ikut juga merayakan Pesta Kedua ini. Dulu yang sulit diatasi ialah keputusan Pusat yang berlaku dengan skala nasional, mis. diadakan ujian akhir smp atau smu serentak di Indonesia pd hal ditentukan bertepatan harinya Pesta Kedua Perayaan Gerejawi itu.
Nah, kalau yang di kota ada susahnya, memang! Karena kita harus mengikuti tradisi kantoran sekarang ini dan para saudara-saudara kita yg tdk seiman yang tidak perlu membutuhkan libur pada hari kedua itu. Karena itu khususnya kita yg di kota-kota, katakanlah bukan daerahnya Kristen, kita diharuskan secara bijaksana untuk menyesuaikan dengan tradisi dan tempat kerja serta tempat di mana kita bertempat tinggal. Tapi menurut saya peraturan dan tradisi HKBP yang baik yang sudah kita emban sejak lebih seratus tahun yl, tak perlulah diubah. Hanya di luar tano Batak (sebagaimana doa dalam Agenda HKBP) kita harus punya hikmat dari Tuhan. Mungkin sbgmn ucapan Yesus juga dalam Mat 10:16. Barangkali itulah dulu. Biasanya kita pada Pesta Kedua di daerah “tano Batak” dari pagi sampai sore ada kegiatan. Sorenya katekisasi massal, atau ada kegiatan anak-anak semacam festival. Masih banyak gereja kita melaksanakan dan menikmatinya menjadi pujian kepada TUHAN kita. Kenapa karena orang kota, katakanlah Metropolitan, itu juga ingin diubah. Jadi ke sawah, ke tombak dan ngobrol2 di lapo tuak nanti semua orang … bagaimana jadinya …???
Daniel Harahap:
Tolong dicek jika saya salah: jangan-jangan di bona pasogit pesta kedua lebih sepi lagi dibanding di kota! Lantas: bagaimana dengan suasana anti klimaks itu? Tapasombu ma?
June 1st, 2009 at 9:21 am
Amang, apakah banyak tidaknya orang yang datang pada pesta kedua mengurangi berkat dari Tuhan?? Mungkin saja pada hari minggu ada yang berhalangan hadir dan pada hari seninnya bisa datang?
Daniel Harahap:
Masalah utamanya bukan soal berkat Tuhan semakin sedikit atau semakin banyak (bagi pendeta atau jemaat, atau dua-duanya), tetapi aturan HKBP yang masih mewajibkan membuat dua kali pesta gerejawi pada saat natal, paskah dan pentakosta. Perayaan kedua itu adalah anti klimaks. Jemaat yang berhalangan datang jari Minggu biasanya justru semakin berhalangan ke gereja hari Senin.
June 1st, 2009 at 9:58 am
Begitu juga di greja kami yang namanya pesta kedua pastilah sepi, untuk nanti malam ada himbauan agar semua peserta koor untuk menyanyi , dan sebagai peserta kor sayapun pasti datang he he he kalau bukan peserta koor belum tentu juga, tapi seperti biasanya juga malah nhkbpnya ga pernah hadir krn mungkin…ga penting??atau …..
June 1st, 2009 at 10:03 am
Kayaknya orang Batak senang dengan anti kliamks. Istilah na panggohi. Unang di si paralang-alangan tumagon ma lobi. Unang adong sarita.
Kalau Businessmen tidak suka anti klimaks kalau bisa super duper klimaks than stop , asa toruslakku tiga-tiga.
June 1st, 2009 at 10:22 am
Mengenai berlanjut atau tidak tentang penyelenggaraan hari ke 2 padaperingatan hari keagamaan, saya belum ada komentar. Namun selagi hal ini masih diagendakan di HKBP, maka fenomena “sepinya” pada hari ke 2 perlu ada pemikiran atau kajian “penanggulangannya”. Maksudnya pemikiran / kajian tentang upaya agar pada hari ke 2 tersebut dapat lebih semarak. Oleh karena fenomena ini merata di seluruh HKBP, maka kajian pemikiran ini harus dari kantor pusat, tentunya kantor pusat juga merasakan hal ini. Bila memang ada kajian, maka sekaligus juga dikaji seperti yang dikemukakan Pak DTA apakah perlu ada penyelenggaraan hari ke 2, atau paling tidak, tidak seluruh hari keagamaan ada hari ke 2-nya.
June 1st, 2009 at 10:30 am
Aku juga beberapa kali “terkecoh” dengan kalender HKBP. Di kalender eksklusif tersebut (yang formatnya tidak berbeda jauh sejak puluhan tahun yang lalu …) tercantum tanggalnya merah sehingga aku kira libur, padahal di kalender resmi (dan juga kalender yang dikeluarkan jemaat)tidak libur. Supaya tidak terkecoh, aku gantungkan keduanya berdampingan. Tapi ada keanehan baru: dua kalender, dua-duanya dikeluarkan (atau paling tidak) ada berbau HKBP (yang satu keluaran Kantor Pusat, satunya lagi keluaran Jemaat …), namun pernyataan liburnya berbeda …
Kebijaksanaan yang bagus yang sudah dilakukan di banyak jemaat untuk menyelenggarakan kebaktian perayaan “extension” seperti ini pada malam hari. Selain tidak mengganggu kewajiban bekerja di kantor, juga tidak menghalangi kewajiban beribadah dengan lebih khusyuk karena warga jemaat yang hadir hanyalah secuil dari sebahagian …
Horas jala gabe! Beta taparenta haradeontabe!
Daniel Harahap:
Sehebat apapun pendeta (apalagi pendeta tidak hebat seperti saya) tidak sanggup mendongkrak suasana anti klimaks di pesta kedua. Tapi berhubung masih diwajibkan ya saya akan layani juga. Tapi awas, kalau nanti malam tidak datang ya?!
June 1st, 2009 at 10:30 am
Saya pikir HKBP sangat bijak bila ada permasalahan delik dalam dirinya yang harus dicari solusinya. Yang agak sulit adalah ke luar dari dirinya. Misalnya dalam memutuskan yang sehubungan dengan adat/budaya Batak yang ada kaitannya dengan Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon, keputusan bijaksana diambil supaya jangan muncul masalah terutama di wilayah Toba (distrik Toba dan distrik Toba Hasundutan). Telah lama diadakan pembagian posisi wilayah HKBP, dulu menonjol istilah daerah tradisional, daerah transisi dan daerah pekotaan. Walau pun tidak dapat sempurna pembagian tsb. Barangkali apalagi menyangkut hal-hal yang menyolok adanya perbedaan di daerah tersebut, saya pikir, bila terpaksa harus diambil keputusan menyangkut hal perbedaan itu, sebaiknya ada “kecuali di …” (asing ma molo di …). Atau mungkin sebaiknya tidak ada diambil keputusan menyangkut hal yang berbeda itu (seperti akhirnya sebagaimana kita lihat dalam RPP). Semuanya nanti menjadi kebijakan Pimpinan, atau bila muncul masalah diambil keputusan di rapat MPS atau rapat Distrik, sehingga ada penanggulangan masalah yang di”alokasikan” (?) di tempat masalah tsb. Mauliate ma da …. Ai na marsitaringot do hita … Selamat Melayani …
Daniel Harahap:
Macam mananya Bapak ini. Awak sedang mengajak diskusi soal Pesta Paduahon Bapak larikan pulak ke soal RPP dan adat. Oh HKBP kami ini.
June 1st, 2009 at 10:52 am
Saya suka mengikuti kebaktian yang sepi. Kalau bisa mengharap seandainya acaranya dimulai jam 9 malam.. jadi saya sudah benar-benar selesai bekerja..
June 1st, 2009 at 11:19 am
Horas amang!
Kalo kami di Palangka Raya (Kalteng), pesta paduahon malah tetap dilaksanakan seperti kebaktian biasa (jam 09.00 pagi) dan hasilx seperti pagi ini ruas yang datang termasuk pendeta berjumlah 12 orang, sementara kapasitas gereja 400 orang ! Tapi entah kenapa saya menyukai suasana ibadah yang “sepi” ini, karena rasanya lebih hening dan syahdu.
Daniel Harahap:
Kalau mau suasana lebih hening lagi untuk berdoa, datang saja besok ke gereja hari Selasa subuh. Serius.
June 1st, 2009 at 12:53 pm
Tahun 1981, saya pernah terkecoh di negara yang tidak begitu jauh dari republik ini karena siap-siap ke gereja pada hari Senen sesudah Perayaan Paskah (Minggu). You know, when I asked a student who lived in the same dormitory, he was laughing at me because he doesn’t know about the ’second easter’ as we know it in HKBP. Ai hurimpu, di tingki i, di sandok portibi on do masa ‘pesta paduahon’ songon na taulahon i. Hape holan HKBP dohot angka huria na manjae/mamulik sian HKBP do.
Sekembalinya ke Indonesia saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pendeta HKBP kelahiran 1920-an beliau bercerita tentang latar belakang pesta II itu di HKBP kira-kira sebagai berikut : Zendeling kita (entah siapa, barangkali Nommensen) mau menekankan 3 tonggak sejarah keselamatan oleh Allah melalui Yesus Kristus yaitu : Kelahiran (natal), kebangkitan (paskah), dan turunnya Roh Kudus (pentakosta) sebagai 3 peristiwa yang sangat penting untuk ditanamkan kepada orang kristen batak dalam rangka pemantapan iman mereka kala itu. (Bahkan pada paskah subuh orang kristen batak itu digiring ke pekuburan dalam rangka ‘pemribumian teologi’ mengenai hubungan orang hidup dan mati. Tidak ada tradisi gereja lain yang seperti itu, walaupun sekarang HKBP melaksanakannya sesuai kondisi)). Karena itu zendeling kita mengaturkan agar ketiga pesta besar itu dirayakan dua hari berturut-turut dan mencantumkannya dalam Aturan, yang kita ikuti pula mencantumkannya dalam Aturan Huria terbaru.
Menurut analisis saya (tidak salah kan ?) perayaan ganda itu diaturkan hanya pada tahap awal saja menunggu pemantapan iman, bukan untuk seterusnya . Tapi kita sudah ‘terlanjur’ merayakannya, bahkan mentradisikannya sampai sekarang. Lalu, pemikiran kita sekarang, apakah kita masih harus meneruskannya atau tidak, dengan mempertanyakan dasar teologisnya, atau, meneruskan atau menghentikannya (karena hanya) berdasarkan tradisi saja. Jika sekiranya cerita pendeta tersebut di atas adalah alasan untuk melakukan ‘pesta paduahon’ apakah itu tidak bisa digolongkan kepada alasan teologis ? (na manungkun do ahu), atau jika alasan tradisi bukankah hal itu harus kita anggap sebagai tradisi yang baik?
Pada suatu jemaat pernah diperbincangkan untukmenghentikan partangiangan sektor di suatu sektor yang sedikit sekali pesertanya. Lalu seorang berkata :” ai kan didok do “molo pungu dua manang tolu halak….” Jika kita berbicara soal presensi peserta maka kita sering menghadapi jawaban yang membuat kita sendiri agak ‘terpojok’. Maka menurut hemat saya, mari kita teruskan saja merayakan ‘pesta paduahon’ itu. Mengenai sedikit dan banyak yang hadir, sekali lagi menurut hemat saya, bukan menjadi alasan yang pas untuk menghentikan atau meniadakan ‘pesta paduahon’. Mengenai jam pelaksanaan, kegiatan pada pesta tersebut, dan lain-lain tentu dapat kita lakukan sesuai keadaan jemaat masing-masing. Tu angka dongan ruas, ba taingot antong, ai nunga ditingtinghon, tasangahon antong, unang sai tadok :’ndang sanga’ hape na lupa do hita. Molo loja pe hita sian ulaon sadari i, molo taharingkothon gabe so tahilala do na loja i. Tu angka dongan parhalado pe, unang sumurut pangaradeonta nang pe tarummotik na ro tu parpunguan i ate. Unang pola sai marasing pangaradeonta di parpunguan na otik dohot na torop ate amang/inang. Horas ma. Happy Pentecost !!
Daniel Harahap:
Mari memelihara tradisi perayaan antiklimaks yang “terlanjur”…
June 1st, 2009 at 1:21 pm
Pesta paduahon mungkin bagi sebagian orang sudah tidak perlu lagi atau bahkan tidak diingat lagi.. dan maaf kalau berdasarkan pendapat amang malah “terpaksa” melayani, tapi bagi saya dan suami, pesta paduahon ini masih sangat berarti sama dengan pesta pertama sehingga dari kantorku di wilayah Sudirmanpun aku usahakan untuk hadir tepat waktu di gereja HKBP Jatiwaringin.. dan yang pasti tidak dalam keadaan terpaksa. Apapun yang terpaksa akan tidak memberikan hasil yang baik… Doa kami, siapapun yang menghadiri dan melayani dalam pesta paduahon ini tidak sia-sia datang dan tidak sia-sia pulang….
Daniel Harahap:
Kalau saya diijinkan memilih, maka saya akan memilih menghentikan pesta paduahon dengan alasan itu hanya repetisi (perulangan) yang tidak perlu dan antiklimaks. Namun dalam hal ini saya tidak bisa memilih. Sebab itu selama masih diwajibkan, maka saya akan melakukan kewajiban saya sebaik-baiknya termasuk mengingatkan parhalado agar jangan lupa menyediakan minuman kopi/teh manis dan lapet nanti malam. Datanglah ke Serpong sesekali pada pesta paduahon.
June 1st, 2009 at 1:41 pm
Pesta Gerejawi hari kedua pada masa sekarang ini, terlebih di kota besar, memang dari segala segi boleh dikatakan sangat memprihatinkan. Apakah harus terus diadakan dalam kondisi seperti itu?
Menurut logika umum (kalau amang pendeta bilang gelap, kita coba pakai logika
), dulu Pesta hari kedua itu diadakan pasti ada dasar berpikirnya atau alasannya, apakah alasan teologis atau alasan lain. Dasar berpikir atau alasannya inilah yang harus dicari tahu, untuk menjawab pertanyaan di atas. Apakah masih relevan untuk masa kini atau perlu untuk diperbaharui, dikaji ulang, atau malah tidak perlu diadakan lagi. Sebaiknya kajian dan putusan mengenai ini adalah ranah Kantor Pusat.
Daniel Harahap:
Bukan ranah atau wewenang Kantor Pusat tetapi Sinode Godang. Karena hal itu diatur dalam konstitusi HKBP. Jadi usul perubahan pun harus datang dari jemaat-jemaat.
June 1st, 2009 at 1:58 pm
Hahaha…. Soal hening lain dong dengan pembahasan ini. Menurut saya, pesta kedua memang sudah sangat jarang diikutsertakan “orang” (warga gereja) termasuk pelayannya. Ya itu dia, karena kesibukan di tempat tugas sehari2. Bahkan ada juga gereja yang memberi kebijakan, klo pesta paduahon perayaan gerejawi (khususnya utk paskah dan pentakosta ‘gabe dipasada’, klo natal saya pikir belum terlalu semua lah). Kalau pun ada setiap gereja yang memelihara pesta paduahon, boleh saya katakan itu hanya berlaku di sabungan/ressort (jemaat induk di ressort, khususnya hkbp ya Pak). Coba kalau di lihat ke jemaat cabang atau pagarannya….Hmmmm… Entahlah.. Pasti sepi. Kalau saya sih, menceritakan ini benar2 lihat sendiri loh… Ya begitulah….
June 1st, 2009 at 3:51 pm
1. Sebenarnya Natal II, Paskah II, Pentakosta II tidak tepat disebut Pesta Natal II, Pesta Paskah II, Pesta Pentakosta II. Sebab tidak ada suasana pesta di dalamnya. Tata ibadahnya pun sama persis dengan tata ibadah minggu biasa.
2. Untuk masyarakat kota ibadah Natal II, Paskah II dan Pentakosta II agak mengganggu kegiatannya sehari-hari, walaupun jam ibadahnya tidak sama dengan jam ibadah di bona pasogit (jam 10 pagi). Meskipun jam ibadahnya dimulai jam 7 atau 7.30 malam, tetap saja masyarakat kesulitan untuk mengikuti ibadah tsb. Sebab kemacetan sudah semakin parah di wilayah ibukota.
June 1st, 2009 at 4:44 pm
@ dta
Makanya saya menghindarkan kata anti klimaks dalam membicarakan itu.
June 1st, 2009 at 4:55 pm
Ibadah adalah bersekutu dengan Tuhan yang empunya Gereja.
Pimpinan Gereja telah menetapkan adanya Pentakosta I dan II,saya sikapi dalam segala kerendahan hati.
Rasa kecewa pelayan2 Gereja melihat sepinya yg hadir di Pesta kedua ala HKBP adalah,wajar dan manusiawi sekali.
Terimakasih untuk penjelasan Amang RJH,perihal latar belakang historis Pesta kedua ala HKBP. Mari kita maknai dan perkaya.
Karena pada prinsipnya, msg2 kita bertanggung jawab sendiri-sendri.
Kiranya Roh Kudus menolong dan menghibur kita semua.
Selamat hari haya pentakosta II.
Daniel Harahap:
Koreksi: tidak ada hari raya pentakosta II. Yang ada: perayaan kedua pentakosta. Baidewei: Amang nanti malam datang ke gereja kan? :-)>
June 1st, 2009 at 5:00 pm
Membaca semua posting ini, saya cuma bisa bersedih, kami di hkbp prabumulih (sumsel) ingin juga kebaktian malam ini, tapi gereja kami yang masih berbentuk sopo-sopo tanpa dinding, tanpa pintu… tanpa listrik… ( 100 m2) letaknya ditengah hutan karet (tidak ada pemukiman disekitarnya). tak mungkin kami beribadah malam ini. Apalagi Amang Pendeta Resort Plaju tak mungkin juga datang..
Berbahagialah semua Jemaat HKBP yang sudah punya Gereja… malam ini boleh bersukacita dan berdoa menjamu Roh Kudus itu…
Mudah2an Roh Kudus yang Turun malam ini singgah di Prabumulih dan melihat tempat ibadah kami itu… Amin
Daniel Harahap:
Huss. Roh Kudus adalah yang mendirikan gereja dan yang punya gereja. Dialah yang mengundang dan menjamu kita. Jangan dibalik: menganggap kita adalah tuan rumah dan Dia adalah tamu.
June 1st, 2009 at 5:42 pm
saya kira bkn hanya hkbp ina (indonesia), di new zealand juga hr ini libur nasional, untuk pentakosta. sungkun hamuma ate.
angkup nii, di indonesia ndang hari libur nasional pentakoste. na toho do ari minggu parningotan i. jala na mambahen pesta paduahon ari pentakoste i holan hkbp do dohot angka pomparanna.
daniel harahap:
tu ise ma sungkunon so adong tondong di new zealand.
June 1st, 2009 at 5:58 pm
Suatu gagasan yang menarik dan baru terpikirkan juga (wah..selama ini kemana saja..?
)
Coba diusulkan saja melalui utusan jemaat ke SG untuk rencana tahun depan. Poin yang coba saya tangkap adalah : bila prakarsa ini datangnya dari pihak pelayan, maka akan sedemikian rupa para pelayan mengadakan “kegiatan-kegiatan” rohani semisal “repetitive ceremonial ini. Apakah hal ini tidak boleh? Ya, boleh2 saja. Apakah hal ini baik? Ya, baik-baik saja. Artinya, kita coba melihat bahwa ada perspektif lain atau cara pandang lain mengenai acara “pesta” ini. Yang saya maksudkan adalah apakah prakarsa ini berasal dari pihak Allah? Mari merenung,
Maaf sebelumnya, bukannya saya mendukung Amang Pdt DTA, atau sedang membuat analisis sendiri mengingat efektifitas acara yang sudah tidak lebih dibanding hari pertama, atau melihat data statistika jumlah jemaat yang datang (+ pelayannya yg minim), atau bahkan menutup mata terhadap kebutuhan jemaat tertentu di tempat2 tertentu yang memang hari kedua itu memang masih dikategorikan sama dengan hari pertama. Namun, yang ingin saya sampaikan disini adalah kita selaku warga gereja yang baik, perlu meresponi isu-isu seperti ini. Kita perlu mengambil sikap selaku gereja yang tidak ekslusif melainkan dialogis. Bukan begitu?
June 1st, 2009 at 6:08 pm
O Pasaribu:
kalau di gereja kami di depok, pesta paduahon dilaksanakan pada hari senin jam 10.00 pagi. mungkin pertimbangannya, biar dibuat jam 08.00 malam, yang datang hanyalah para orang tua atau pensiunan. kalau yang msh aktif bekerja, jarang sekali datang. paling2 kalau dia aktif digereja, mis pengurus kategorial, dll, jumlahnya tidak banyak.
Daniel Harahap:
Coba ampara tanya berapa yang datang Senin pagi tadi.
O Pasaribu:
Satu lagi hal yang menurut saya perlu dirobah, yaitu “mandurung tu jolo” Biasanya pada hari2 besar kristen, HKBP selalu melakukan mandurung tu jolo. hasil persembahan ini akan dipakai oleh kantor pusat utk kegiatan kategorial lain. misalnya utk Sekolah Pandita, dll. Menurut saya, persembahan ini tidak usah lagi harus diantar ke depan, cukup diberikan ditempat duduk spt biasa, karena hal ini sangat merepotkan terutama bagi para orang tua yg sdh susah jalan, dan juga bagi semua jemaat, apalagi yang tempatnya sempit. Yang saya ketahui dulu, harus diantar ke depan, kerena itu utk keperluan kategorial di ktr pusat, maka supaya lebih banyak dari kolekte biasa. malah harus ditingting 2 minggu sebelumnya. dulu dikampung kalau diberikan ditempat duduk banyak ruas yang tidak memberikan persembahan atau memberikan sedikit. dengan diantar kedepan dan tempat persembahan agak terbuka, dan ditungguin sama sintua, maka ruas akan malu kalau tidak memberikan atau hanya sedikit. Menurut saya pola pikir semacam ini harus ditinggalkan. menurut saya, kalau sekarang ini, diantara kedepan atau ditempat duduk sama saja karena sdh disiapkan sebelumnya. di kampung juga sdh seperti itu sekarang.
Daniel Harahap:
Kami di Serpong sudah jarang mengumpulkan persembahan ke depan. Hanya even yang sangat khusus saja. Dulu selama tiga tahun di Rawamangun tidak pernah sekali pun dilakukan persembahan ke depan (alasannya: terlalu banyak makan waktu)
June 1st, 2009 at 8:13 pm
Menurut pengamatan saya, yang namanya pesta paduahon itu ( termasuk Natal ) selalu sepi dengan kehadiran ruas, saya setuju dengan pendapat amang DTA walaupun memang perlu kajian yang lebih mendalam mengenai hal tsb, tetapi paling tidak kondisi nyata yang ada saat ini bisa menjadi acuan untuk mengambil keputusan…horas….
June 1st, 2009 at 8:30 pm
saya baru tahu bahwa ada aturan dan peraturan soal beberapa acara hari besar gerejawi di HKBP yang “kurang” memiliki landasan theologis. Tapi selama itu demi kebaikan dan kemajuan pelayanan, pantas untuk kita dukung!. cuma sangat perlu kita sarankan agar Landasan2 theologis untuk setiap acara gereja harus benar-benar diperhatikan dalam membuat aturan ke depannya. saya tetap yakin bahwa pengulangan2 acara gerejawi tersebut dahulu-nya mempunyai maksud dan tujuan tersendiri
Daniel Harahap:
Jangan asal yakin saja. Sesekali cek dan periksa keyakinannya.
June 1st, 2009 at 8:53 pm
horas amang pandita. gmn kita bahas tata cara perjamuan kudus khususnya kota besar dan sudah punya dana berkecukupan untuk hal per
jamuan kudus. krna banyak manfaatnya. al
1 waktu perjamuan lebih singkat dan tidak membosankan
2 kebersamaan seluruh jemaat memakan dan meminumnya
3 dan mungkin adong ditambai dongan pengunjung attar boido segi kesehatan penyakit menular, geli sapanginuman namarbao, dll
gmn pandapot ni amang. mauliate.
Daniel Harahap:
Ah Anda ada-ada saja. Apa sih hubungan Perjamuan Kudus dengan na marbao?
June 1st, 2009 at 9:08 pm
mau pesta ke2 kek, pesta ke3kek, yg penting kita kerjakan dgn sepenuh hati, lihat apa yg ada dan syukuri berapa yg ada, jgn fokus pd yg tidak ada. mungkin kalo soal aturan dan “tradisi” yg satu ini, sy pribadi jg agak hopeless, but at least, sy coba nikmati hadirat dan memandangnya sbg moment yg Tuhan izinkan ada utk sy ikuti. How good is our church, How Great is our God.
Daniel Harahap:
Anda terdaftar di gereja mana? Kalau di HKBP atau “turunannya” apakah hari ini Anda hadir di pesta kedua itu? Kalau tidak, renungkan lagilah pendapat Anda.
June 3rd, 2009 at 7:39 am
Songon na menarik do tutu hal on, ala memang dao do otik na dohot di “pesta paduahon ” di jabodetabek on. Alai molo di hutata an attar lumayan do na ro,. ALAI tong do dang sa godang ni Ari pertama i.
Jadi molo saroha do (Alai tetap do Tuhan yg berkenan) tetap ma adong Peta II uang pola di hapus, alai dang pola be ra ikkon wajib sude gereja Secaara National melaksankanhon na. Tergantung situasi pada saat i ma.
Boi ma wilayah2 na so memungkinan dang pola ikkon ikkon wajib di gereja.
Boi ma Pesta II dalam bentuk na lain. - contohnya 1. di bagi acara sian gereja songon berupa acara na di lehon tu tiap2 keluarga asa melaksanakan ibadah di rumah masih2 (songon acara malam tahun Baru).
2. tergantung situasi masing2 wilayah ma,
Peeta II tetap ada alai bentuk na ma ne beda. Alai Manang dia pe Ikkon na berkenan diroha ni Kristus Ama I.
June 3rd, 2009 at 2:56 pm
Gereja lain yang punya pesta kedua selain HKBP saya tidak tahu.
Tapi dalam tradisi Katolik dikenal “Oktaf” (pesta seminggu berturut-turut) yaitu pada hari Natal dan Paskah.
Selama seminggu itu kemeriahan ditambahkan pada Misa hari biasa dengan Gloria in excelsis Deo dan Pengakuan Iman dinyanyikan, atau prakteknya sekedar diucapkan, dan pada oktaf Paskah madah Victimae Paschali Laudes dapat dinyanyikan atau diucapkan sebelum Evangelium. Dan secara fakultatif juga dikenal Oktaf Pentakosta, yang belakangan ini relatif tergantikan oleh Novena Pentakosta.
Rasanya Gereja-gereja Lutheran terutama yang konfessional juga masih merayakan Oktaf-oktaf itu.
(Note: pesta oktaf itu biasanya juga tidak populer di kalangan jemaat gereja-gereja di atas)
June 20th, 2009 at 12:05 pm
Sedikit cerita pribadi.
Kebetulan saya salah seorang organis di gereja kami di Batam. Jujur aja, kalau “pesta” padouahon dilaksanakan jam kerja, saya tidak pernah mau kalau ditugasi jadi organis. Tapi kalau kebaktiannya malam, saya biasanya mau, tapi lebih senang kalau ada rekan organis yang lain yang bertugas, ha3.
Kalau kebaktian minggu biasa, walau halangan apa pun biasanya sebisanya saya tetap gereja, apalagi kalau lagi bertugas organis. KAlau gak bisa geraja pagi, ya siang, atau sore. Tapi kalau udah kebaktian pesta paduahon (catatan : kalau kebaktiannya malam, bukan jam kerja) kalau bisa, saya datang, kalau ada halangan, walaupun halangannya tidak terlalu penting, saya gak datang, ha3.
Biasanya di gereja kami, kalau kebaktian paduahon pada jam kerja, organisnya gak ada, karena organis lebih memilih kerja atau sekolah bagi yang masih sekolah. Karena bagi saya “kerja juga ibadah” (tolong koreksi amang kalau saya salah).
Jadi kalau pesta paduahon tetap mau dipertahankan, sebaiknya dilaksanakan pada malam hari.
Tapi sebenarnya saya lebih memilih pesta paduahon ditiadakan. Apalagi, ternyata pesta paduohon itu hanya berlaku di HKBP.
Tapi, bagaimana pula dengan tardidi yang biasanya dilaksanakan pada pesta paduahon Natal dan pesta paduahon Paskah?
Jadi bingung pula aku ini, kebetulan boruku tardidi pada pesta paduahon Natal….
Kemudian, kenapa disebut “PESTA”? Mohon penjelasannya juga amang.
Maaf, sedikit lari dari topik pesta paduohon, ini tentang pesta parjolo. Harapan aja kepada pendeta HKBP, mohon persiapan khotbah untuk kebaktian pesta ini (Natal, Paskah, Pentakosta) dimaksimalkan. Sebaiknya baca literatur yang banyak yang berhubungan dengan suasana pestanya, sangat baik kalau disertai cerita2 (tentunya cerita yang ada hikmahnya) yang berhubungan dengan suasana pesta itu. Karena sering kalau udah pesta begini, di awal2 kebaktian, parhalado menyambut dengan semangat dan ucapan selamat natal, paskah, dll, acaranya juga dibuat khusus dan dicetak, eh… pas giliran khotbah, gak kelihatan khotbahnya disiapkan untuk menyambut pesta itu.
Apalagi kalau Natal, berhubung lagunya enak2, jangan sampai jemaat lebih senang waktu nyanyiin lagu natalnya (klimaks) daripada dengarin khotbah natalnya (anti klimaks).
May 21st, 2010 at 11:44 am
Aku juga bingung neh bang (status kesenioran) kalau memang Pentakoste itu diadakan dua kali dan Indonesia telah mengakui bahwa Kristen agama yang legal kenapa hingga saat ini tidak ada pemberlakuan hari Libur pada perayaan pesta kedua pentakoste? Salah satu yang perlu disikapi dengan bijak menurutku: sebab mengapa kita membuat pentakoste II itu menjadi peribadahan sedangkan jemaat yang datang aja tidak ada (saya melayani di HKBP Efrata Res Palembang). Sehingga untuk hari senin besok di sini tidak ada ibadah. padahal HKBP mengadakan persembahan ke JPIC. Kalau memang ibadah itu seperti yang dikatakan oleh Amang Pdt. Rahman Tua Munthe, maka perlu adanya sikap yang tegas: apakah ibadah pentakoste II itu hanya dilakukan di daerah Tapanuli (HKBP Berkembang) atau memang harus ada wacana yang dilampirkan kepada Menteri Agama selaku HKBP telah diakui pendiriannya dan legalitasnya pada tanggal 11 Juni 1931. Salam
June 17th, 2010 at 11:02 am
Horasma dihita sude…
Molo hujahado akka natarsurat digijjang, tung mansai marsisirdo imbulukku, boasa ninna hamuma : Alana rap sudedo mulai sian pandita, parhalado dohot ruas mamboto akka kejadian i, jala sudedo dang lomo rohana dihari kedua i sepi sepi margareja, alai molo didok rupani adong sibahason mengenai peraturan dohot akka nasing mengenai dunia, jala didok muse disediakan makan malam,,, bah…. hatop hian ro, sms tu sms pe dang marna so, kadang-kadang 5 sappe 6 onom sms masuk dengan berita yg sama tanpa ada yg menyuruh, jala nijawab doon jala nitambaan muse akka komentar ( SMS A )
hape molo sms paingothon tu gareja ari paduahoni adongdo? palingmara molo mandapot sms iba dijawab dengan OK atau OK TKS, tanpa ada kalimat lain. (SMS B )
Dison pandapothu bahwa
( SMS A) seseorang itu berkerinduan dan ingin terlibat makanya dia respon sms tadi dengan kalimat tambahan kemudian mengirimkan ketemannya yg lain agar ikut juga.
( SMS B ) molo hukaitkan on tu (SMS A) berarti…………….seseorang itu kurang rindu… hehehe.. maaf
Dison adong tugas pemikiran :
1. Bagaimana menciptakan agar seperti (SMS A)
2. Bagaimana membuat (SMS B) supaya menjadi (SMS A)
Pertanyaan :
1. Tugas siapakah ad.2 diatas ???
2. Apakah harus melihat aturan organisasi ? ckckckckck