Nunga Loja Au O Tuhan

May 14, 2009
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

kikaopung-br-hutabarat.JPG

Nunga loja au o Tuhan di si ulubalang ari
Naeng tumibu au pajumpang rap dohot Ho di surgo i
Nunga bot mata ni ari, lam jonok nang ajalhi
Nunga loja au o Tuhan rade ma baen ingananki.

(Aku sudah lelah, ya Tuhan, di hari yang panas terik
Aku ingin cepat bertemu denganMu di sorga
Hari sudah gelap tanda ajalku sudah dekat
Aku sudah lelah ya Tuhan, sediakanlah tempat kediamanku)

Nang pe naung hudai hubolus hamoraon, hagabeon
songon ombun na mamolus sude do tinggal ambolong
Aha na tarboan ahu lobi sian uloshi?
Nunga loja au o Tuhan rade ma baen ingananki.

(Walaupun sudah kualami kulewati kekayaan dan kesuburan
seperti embun yang berlalu semua hilang lenyap
Apakah yang bisa kubawa selain dari ulos-ku?
Aku sudah lelah, ya Tuhan, sediakanlah tempat kediamanku)

Lam rambon simalolongku gok nang uban di ulungku
reung nang holi-holingku gale sude pamatangki.
Ndang be sai huparsinta leleng ari-aringki
Nunga loja au o Tuhan, rade ma baen ingananku.

(Mataku semakin kabur kepalaku penuh uban
Tulang-tulangku kering dan seluruh tubuhku lemah.
Tidak lagi kudamba agar lama hari-hari kehidupanku.
Aku sudah lelah, ya Tuhan, sediakanlah tempat kediamanku)

Dia berbaring di kursi panjang sambil memejamkan mata. Kakakku Ibeth sedang memeriksa ujian mahasiswanya. Inangbajuku adik Mama yang di rumahnya beberapa bulan ini Mama tinggal di belakang. Dia menyanyikan lagu karangan Sidik Sitompul (S Dis) itu perlahan kata demi kata, ayat demi ayat luar kepala. Aku mengambil Buku Ende di rak dan ikut menyanyi dengannya.

Usianya sudah 81 Tahun. Dan beberapa bulan ini kondisi fisiknya merosot. Sama persis dengan lagu yang dinyanyikannya itu. Tulang-tulangnya siang malam terasa ngilu karena rematik. Lututnya bengkak dan membuatnya sangat sulit berjalan. Wajahnya sembab karena sinusitis dan tidak bisa dioperasi karena usianya yang sudah lanjut. Pendengarannya berkurang banyak. Dan matanya kabur sehingga tidak bisa lagi membaca. Yang terakhir ini kutahu faktor yang membuat Mama sangat down. Membaca adalah satu-satunya hiburannya di usia tuanya, selain mengkait dan menyulam, atau berkebun kecil-kecilan, dan kini dia tidak bisa lagi melakukannya. Lantas mau apa lagi? Hati dan pikirannya masih terang. Namun kini dia memilih lebih banyak diam dan berbaring. Dia tidak lagi begitu antusias kalau diajak bercerita tentang adat, keadaan politik dalam negeri atau bahkan kisah sehari-hari kami. Dia lebih banyak menatap langit-langit dengan mata terpejam. Dan sesekali bersenandung.

Aku tidak melihat ada air mata saat dia menyanyikan lagu yang menurutku sangat menyayat itu. Dan aku tidak mendengar ada nada keluhan atau gugatan di balik suaranya. Dia menyanyikan lagu itu dengan sangat tenang dan ringan. Ikhlas tanpa beban. Dan itu membuat keangkuhanku runtuh dan lidahku kelu. Oh Tuhan. Bagaimana aku sanggup menyanyikan syair lagu itu dengan ikhlas untuk seorang perempuan yang melahirkan aku dan sepanjang hidupnya mengajarkan anak-anaknya tentang hidup yang jujur dan benar?

Nunga loja au o Tuhan di si ulubalang ari
Naeng tumibu au pajumpang rap dohot Ho di surgo i
Nunga bot mata ni ari, lam jonok nang ajalhi
Nunga loja au o Tuhan rade ma baen ingananki.

Serpong 14 Mei 2009 malam

Share on Facebook

45 Responses to Nunga Loja Au O Tuhan

  1. DSB on May 15, 2009 at 12:45 am

    Kalau sudah waktunya kita harus ikhlas. Berikut lagu yang saya nyanyikan kira2 sebulan sebelum bapa saya, yang sudah sering merasa letih, berpulang.

    Masuk ma ho, na gogot do harbangan
    Masuk ma ho, sompit do dalan i
    Jesus manjou nang ho di parjalangan
    Sai ro ma ho naeng sonang rohami

    Jesus manjou ho, bege ma i
    Unang be togang
    Oloi joi joi na i
    Unang be togang
    Oloi joi joi na i

  2. Andar on May 15, 2009 at 2:42 am

    Terimakasih untuk tulisan ini. Sangat menyentuh sekali dan tiba-tiba wajah ibu terlintas di penglihatan saya. Terimakasih untuk seluruh ibu di dunia ini.

  3. Ninggor Pardede on May 15, 2009 at 6:48 am

    Keindahan rumametmet. Suatu ketika sangat memanas suatu ketika sangat membumi.
    Berbahagialah anak yang mampu membahagiakan mama atau bapaknya semasih mereka hidup. Saya masih dan masih selalu ingin bernyanyi dan menyanyikan lagu buat inonghu di umurnya yang masih 71. Saat ini sy akan langsung telp inonghu di Balige.
    Tetaplah bernyanyi Amang.

  4. dista br harianja on May 15, 2009 at 7:26 am

    Pertama kali aku mengucapkan terima kasih pada Tuhan Yesus Kristus karena Dia memberikan mamak Bapakku yang sangat baik dan sanggup menghadapi semua kelakuan anak-anaknya. Tulisan yang berjudul ” Nunga loja Au O Tuhan” begitu sangat menyentuh. ketika membacanya tidak sadar aku telah basah mataku. trimakasih Amang cerita ini begitu berguna buat ku.

  5. Rico on May 15, 2009 at 7:41 am

    Amang, saya turut bersimpati dengan kondisi yang sedang dialami Mama-nya Amang. Saya berdoa untuk kepulihan beliau dari kondisinya sekarang. Saya juga berdoa agar Amang sekeluarga dan kakak beradik dapat tabah dan ikhlas bila tiba saatnya Tuhan membawa beliau bersamaNya ke hangoluan na so ra suda. Amin.

  6. Andy Harahap on May 15, 2009 at 7:43 am

    Sulit sekali menahan air mata ini… saya jadi teringat sama ompung boru kami di Balige.. saat kami pulang kampung, tiap kami duduk di samping tempat tidurnya.. dia selalu bilang.. “biarin ompung mati yach.. sudah tidak tahan saya… sakit sakit semua badan ompung.. kalian tidak ada yang boleh nangis klo ompung mati” dan sesudah berkata begitu biasanya otomatis kami akan memijit pelan2 kaki dan tangan ompung sambil menahan tangis.. dan sesudah kami pulang ke Jakarta, 3 bulan kemudian kami diceritakan bahwa sesaat sebelum Ompung meninggal dia sempat berteriak memanggil inang tulang kami dari tempat tidurnya.. dan sambil berbaring dia melambaikan tangan sambil tersenyum dan menutup mata..

    Ceritanya Amang bagus sekali.. Thanks yach.. btw (OOT), untuk kursus bahasa bataknya, boleh minta tolong di buat seperti lagu diatas nggak Amang..? karena buat saya, format dan kata-katanya lebih mudah dimengerti.. :-) maklum saya nggak bisa bahasa batak sama sekali..

  7. Jan Winner Sinaga on May 15, 2009 at 7:52 am

    Trims untuk tulisannya, saya jadi ingat ketika NHKBP di kampung saya (Sarimatondang) menyanyikan lagu ini ditengah malam, kita seolah terbawa ke alam lain. Saya jadi ingat ibu saya di kampung (usianya sekarang 80 thn). Tuhan memberkati

  8. Waspada Marbun on May 15, 2009 at 8:00 am

    Selamat berjumpa Amang Pendeta, saya membaca tulisan ini pagi ini dan sangat terharu. Mama saya berpulang dengan umur 63 tahun dan sudah 15 tahun yang lalu. Kami berdoa agar Ibu yang tercinta diberika kekuatan.
    St W. Marbun – HKBP Maranatha Cilegon

  9. elumban on May 15, 2009 at 8:06 am

    Membaca renungan ini, saya langsung teringat hari-hari terakhir menjelang Ayah kami dipanggil Tuhan tahun 2000 yg lalu.
    Saya ingat hari itu hari minggu, dan saya mendapat giliran utk menjaga beliau di rumah sakit, dan kondisinya sdh sangat kritisN dan berbicara pun sdh sulit. Waktu itu masih belum jam empat pagi, dia memaksakan diri berbicara utk diantar ke Gereja. Saya jawab, sekarang belum jam empat pagi, belum ada gereja yg buka. Lalu ayah kami berkata “ah molo songoni buat ma buku ende i, marende ma hita”. Ketika itu lagu pertama yg dia minta saya nyanyikan adalah BE 292:

    Dung ro Jesus, patar ma tu au
    Gogona sude, holong na di ahu
    Ibana haposan, haporusan i
    Tung mate iba sonang roha i

    Nabernit pe ro manosak tu ahu
    Ilungku pe ro tung marsak do ahu
    Dang ganggu rohanku, ai Jesus di ahu
    Ibana gogongku malua do ahu,

    Patar arsakhi, peak di jolom
    Tu ginjang ma ahu, mangido gogom
    Dang tuk dang tau jolma haporusan i
    Sai holan arsak hu dipajojori

    Setiap saat saya berdoa, agar Tuhan memperkenankan saya untuk tetap bernyanyi sampai akhir hidup saya.

  10. abrianto nababan on May 15, 2009 at 8:16 am

    Amang DTA !
    Saya jadi teringat dengan ibu saya di bona pasogit, dimana kondisi kesehatannya sudah menurun ( kira2 sudah 4 tahun ), semua syair lagu diatas persis menimpa ibu saya sekarang, kadang2 saya berpikir Tuhan kenapa kondisi ini harus dialami ibu saya ?padahal semasa kesehatannya masih prima, ibu aktif di gereja dan semua orang ( teman2nya ) mengatakan bahwa ibu saya adalah orang yang lemah lembut, ramah, baik dan tidak pernah menyakiti hati orang dan satu pesanya kepada kami anak2nya adalah “Jangan pernah membalaskan (balas dendam ) apa yang dilakukan orang lain terhadap kalian” dan pesan itu sampai saat saya ingat walaupun kadang2 sangat susah utk melaksanakannya tetapi saya selalu berusaha untuk melakukannya

    Doa permohonan saya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah agar segala penyakit yang ada pada tubuh ibu saya disembuhkan, tetapi sampai sekarang sepertinya kami anak2nya harus lebih bersabar lagi untuk menunggu jawaban dari Tuhan dan kami anak2nya telah mengikhlaskan agar kehendak Tuhanlah yang jadi kepada ibu saya

    Satu syair lagu yang sangat pas ke pada ibu saya dan selalu saya nyanyikan ;

    Hamu anakkonhu,Tampukni pusupusuki
    Pasabar ma boru pasabar ma amang laho patureture au
    Nungnga matua au, jala sitogutoguon i
    sulangan mangan au, siparidion au alani parsahitonki

    Somarlapatan marende, manortor, marembas hamu
    molo dung mate au….
    Somarapatan nauli na denggan patupaonmu
    molo dung mate au….
    uju dingolungkon ma nian
    tupa ma bahen angka na denggan
    asa tarida sasude, holong ni rohami mar natuatuai

    pada saat saya mengetik lagu ini, saya tidak bisa membendung airmata saya yang menetes dengan sendirinya…

  11. Sampe Manullang on May 15, 2009 at 8:25 am

    Masih terekam pandangan mama disaat akhir hidupnya, dan rasa syukur dihati ini ketika beberapa hari sebelumnya beliau berkata siap pulang ke rumah Bapa. Terima kasih untuk lagunya

  12. setyawan on May 15, 2009 at 8:34 am

    Membaca syair di atas teringat akan alm ibundaku yg menderita sakit berkepanjangan tanpa daya krn koma berbulan-bulan terbaring di rs. Mungkin itu juga yg disuarakannya kpd Yesus. Sangat mengharukan syairnya. Mauliate bos mengingatkan diriku untuk selalu bersyukur dan berpengharapan penuh kpd Yesus apapun yg terjadi pd diriku. Dia-lah yg menguatkan diriku.

  13. Hitler P. Sigalingging on May 15, 2009 at 8:45 am

    Bersyukur atas apa yang Tuhan rancangkan bagi kehidupan kita. Bersyukur atas keluarga yang penuh cinta kasih. Bersyukur atas waktu, kesempatan yang terlalui. Bersyukur atas kasih Mama yang tak berkesudahan. Bersyukur atas doa Mama sepanjang waktu buat anak-anaknya.

    Kupersembahkan puisi ini untuk setiap Mama :

    M ama, aku tahu engkau telah lelah
    A ir matamu pun sudah tak terlihat disana
    M atahari bagimu kini sudah semakin redup, namun
    A ku tahu kelak engkau tinggal diam bersamaNya

  14. A.K.P. Panggabean on May 15, 2009 at 8:54 am

    Hu rasa ndang cocok lagu ni enetmuna i tu hami na maradian di rumamuna on, panditanami. Alana godangan angka ama/ ina na umposo do hami na berkunjung tuson daripada ompung-ompung. Alai anggo sekedar marsiajar hata Batak, boi ma i.

    Daniel Harahap:
    Ai so tu hamu huendehon ende no 836 i. Tu dainang naung marsahit-sahit jala paima-imahon panjouon sian ginjang i do.

  15. par_Balige on May 15, 2009 at 8:57 am

    ……..
    tangan halus nan suci tlah menangkap tubuh ini
    jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan,
    kata mereka diriku selalu di manja
    kata mereka diriku selalu ditimang,..
    oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku….

    Aku sedang mendengar lagu ini saat aku membaca tulisan amang dan air mataku menetes deras ( jadi malu juga sih sama rekan samping kiri kanan ). Aku jadi ingin mendengar suara mamaku dan mau bilang terimakasih buat semua yang telah dilakukannya untuk membesarkanku.
    Terimakasih juga buat amang DTA atas tulisannya yang amat menyentuh.
    Terimakasih buat seluruh ibu di dunia,..

  16. paska on May 15, 2009 at 8:59 am

    Amang pendeta dan keluarga, yang kuat ya..
    Apapun yang terbaik untuk namboru, saya turut bawa dalam doa..
    Bisikan salam sayang dan hormat saya untuk namboru..

    Lagu ini saya nyanyikan juga dengan lembut ditelinganya sambil mengelus tangannya lembut, pada saat alm bapak sakit dan menjelang ajalnya..

    S’lamat di tangan Yesus, aman pelukanNya;
    dalam teduh kasihNya aku bahagia.
    Lagu merdu malaikat olehku terdengar
    dari neg’ri mulia: damai sejahtera

    S’lamat di tangan Yesus, aman pelukanNya;
    dalam teduh kasihNya, aku bahagia

  17. Gerda Silalahi on May 15, 2009 at 9:18 am

    campur aduk hatiku membaca tulisan ini. terharu hingga mata ini basah.

    mungkin itulah sebenarnya perasaan orangtua di masa senjanya, sudah capek. sementara kita anak-anaknya ingin sekali memperlama umur orangtua kita agar sempat membahagiakan mereka.

  18. Kimron Manik on May 15, 2009 at 9:28 am

    Terima kasih amang, Kisah di atas mengingatkan kita supaya lebih dekat kepada Tuhan, semoga semua Tuhan menyertai Mamanya Amang, memberikan kekuatan dan ketabahan serta penghiburan dalam menghadapi hari-hari mendatang…

  19. Ismail Napitupulu on May 15, 2009 at 9:53 am

    Lagu yg mengingatkan aku dan membuat air mataku tak terasa mengalir, membuat aku teringat ketika ibuku hrs pergi u/ selamanya 8 April 2009 yl, tanpa ada pesan, dia hrs pergi dlm usia 62th., saat dimana dia masih ingin menimang cucu cucunya yg lucu yg mulai bisa di ajak bicara.

    Tuhan… kuatkan kami menerima kenyataan ini, kini tinggallah seorang bapa yg tak pernah membayangkan ditinggal oleh istri tercintanya di usia yg masih tergolong muda…kiranya Tuhan Yesus memberi penghiburan yg sejati… Amin

  20. Friska pardede on May 15, 2009 at 9:54 am

    Ah…aku jadi teringat ompung boruku, ketika dia tidak mampu lagi mempertahankan prinsipnya untuk mengatakan tidak ketika anak2nya memaksa untuk tinggal di Jakarta krn dikampung tinggal mamakku yg juga tinggal sendiri (jarak 3km) krn ompungku ini terserang struk , selama 3 thn di Jakarta (setiap thn minta mudik) akhirnya pasrah atas panggilan Bapanya diusia 85 thn. Diantara cucunya yg sdh banyak itu akulah yg paling dekat dgnnya, membawakan makanan kesukaannya setiap hari Saptu dan menghadiahiya sebuah tape recorder untuk mendengarkan nyanyian no 838 tsb yg selalu menghiasi kamarnya dirmh tulang saya (putra terkecil beliau), susternya siap mmbolak balik lagu itu tanpa henti dan memuji saya cucu terbaiksedunia.

    Kini mamak saya sdh sepuh juga (72) tapi saya belum mau mengiriminya kaset nyanyian tsb, saya berharap usianya juga bisa seperti ompung saya ini(prinsipnya juga teguh tidak mau ikut kami anak2nya), barusan saya menelponnya dia dalam keadaan sehat, terimakasih Bapa disorga karena anugrah yg Engkau berikan buat Mamak saya perlindunganMu adalah satu2nya keyakinan buat kami anak2nya dalam kesendiriannya.

  21. elumban on May 15, 2009 at 10:01 am

    Kurasa Lae AKP ini sedang mengalami krisis sentivitas kemanusiaan.

  22. Jansen H. Sinamo on May 15, 2009 at 10:01 am

    Terimakasih Amang DTA, saya diajak menyaksikan kefanaan hidup, kerentanan hidup di Bumi ini. Tanpa sorga maka hidup memang selintasan saja. Visi dan harapan tentang rumah Bapa menjadi fokus yang makin penting tatkala usia semakin beranjak tinggi.

    Ayah dan ibu saya meninggal di pangkuan saya saat masing-masing berusia 61 dan 66 tahun. Menyaksikan dari jarak dekat lampu itu padam perlahan-lahan, binarnya redup pelan-pelan, lalu akhirnya berhenti dan selesai, adalah sebuah pengalaman yang surealistik, unik, dramatis.

    Semoga keluarga besar amang DTA, teristimewa Ibunda, tetap disertai dame nasumurung i pada momen-momen sakral ini: submitting our life to God.

  23. elumban on May 15, 2009 at 1:10 pm

    Saya sangat mengagumi lagu “Uju di Ngolungkon ma Nian” karangan Bapak Denny Siahaan. Lagu tersebut sangat menyentuh dan saya anggap sebagai Poda yang harus diperhatikan oleh Orang Batak agar memperhatikan orangtuanya di masa hidupnya.
    Saya pernah baca di koran SIB ada satu Koor Ama pernah menyanyikan lagu tersebut dalam format paduan suara Ama. Kalau ada diantara penghuni rumametmet yang mempunyai partitur koornya, saya sangat berterima kasih sekali kalau ada yang mau mengirimkan kepada saya elumban@gmail.com

    Horas.
    Elumban

  24. florasilaban on May 15, 2009 at 1:35 pm

    Permasalahan yang ada membuat kita sering capek ,apalagi untuk memperbaiki kebiasaan keluarga yang jauh dari kehendak Tuhan.
    menegakkan kebenaran adalah pekerjaan yang sangat melelahkan sehingga membuat kita putus asa , kita masih sering terbawa arus yang mengakibatkan kita jauh dari Tuhan.

  25. Erpesim on May 15, 2009 at 2:14 pm

    Terimakasih Amang DTA mau sharing pengalaman pribadi yg indah dan mengharukan. Tidak semua orang dapat kesempatan menikmati saat-saat seperti ini,seperti istilah Bang sinamo ini adalah momen-momen sakral. Kita tercengang,seakan-akan menyaksikan dan mendengar kisah heroik seorang anak Tuhan yang berjuang untuk melepaskan penderitaan duniawi untuk menghampiri kehidupan sorgawi. Lebih dari itu Amang DTA,ikut terlibat dan merasakan bagian dari momen-momen sakral itu.Didepan mata, Ibunda yang melahirkan kita tergeletak tak berdaya.

    Bersyukurlahlah Amang.Lagu2 “Nunga Loja Au o Tuhan” dan yg lainnya terasa lebih “/mengena/touching”,jika momen seperti ini terjadi pada kita.Saya sudah merasakan langsung momen ini dan bgmn juga air mata jatuh bercucuran sementara mulut bernyanyi untuk menghibur dan menguatkan hati Ibunda yang berjuang menahan sakit dan menyampaikan keluh kesahnya. Aku mengenal Ibuku seorg yang sungguh dan selalu mengandalkan Tuhan, walaupun jatuh- bangun ia selalu datang kepada Tuhan. Dalam masa sakitnya datang dan saya selalu bisikan ditelinganya, rasa sakit seperti apapun TIDAK BOLEH mengalahkan Kasih dan kebaikan Tuhan yang sdh mama terima. Berjuang ma…berjuang ma…Raihlah mahkota KemenanganMu dan Nyatakan Kuasa Tuhan atas derita dan rasa sakitmu. Dengan tatapan sendu dan nyaris hampa Mama berkata lirih “Yesus berkuasa..Yesus berkuasa”. Bahkan saya teringat waktu itu dia berkata sambil tersenyum:Songon Pandita ho Amang akke. Akupun tersenyum bahagia. Waktu itu kami juga bisa berphoto bersama, Marulaon na badia dan mambaen sipanganon sbg bentuk rekonsiliasi klg besar. Dan itu semua atas permintaan mama sendiri. Seminggu kemudian setelah saya pulang ke Jakarta, diumur 79 tahun mama kembali kepangkuan Bapa di Surga ditengah iringan nyanyian koornya (Koor Ina HKBP- Sudirman). What a precious moment. Saya bersukacita, Mamaku pergi dalam Damai kristus. Semoga Amang DTA dan keluarga besar tetap tabah dan selalu disertai Tuhan melakukan yang terbaik buat Ibunda yang sedang lemah.

  26. ruly on May 15, 2009 at 3:05 pm

    ompung boruku jg suka lagu ini amang, dulu dia sering menyanyikannya tanpa menangis, yg menangis memang orangtua kami yg mendengar. kemudian jadi lagu BE yg tercantum di nisannya.
    saya turut berdoa semoga diberi yg terbaik buatnya n seluruh keluarga tetap kuat.

  27. Bonar Nainggolan on May 15, 2009 at 4:03 pm

    Dalam perjalanan hidupku sebagai Anak Samosir saya memiliki 3 Dainang :

    Dainang Pangintubu (Mama Kandung)
    Dainang Pardijabu ( Isteri Tercinta )
    Dainang Simatua ( Ibu Mertua Almarhum)

    Dainang yang paling berjasa bagiku adalah Inang Pangintubu, Namun 3 Dainang ini adalah orang yang paling saya hargai dan hormati sepanjang hayat. Amang pendeta… Umur 81 tahun adalah umur yang sarat dengan berkat yang bekelimpahan, Moment yang sangat Indah bagi Amang dan berkesan krn masih bisa bernyanyi bersama dengan Dainang yang tidak semua orang mampu melakukannya. Amang …. terima kasih…. apa yang Amang lakukan terhadap Dainang itu adalah Jamita yang terbaik, terutama bagi saya. Terimakasih.

  28. R. Pangaribuan on May 15, 2009 at 4:08 pm

    Ah, mauliate ma amang DTA, sai tibu ma dileon Tuhan ta hahipason di Ompung natua-tua muna.

    Ndang terasa sadia godang be tissu na habis hubahen botari on laho mangapusi ilu namaraburan manjaha tulisan ni amang on. Gabe taringot ahu tu dainang pangintubu di huta, kalas onom sd dope abangku siahaan, nungga ditinggalhon da amang dainang, alai nang pe songon i dipargogoi Tuhan do dainang laho pasingkolahaon hami na 5 sude angka ianangkonna. Ala ni dao ni parsingkolaan na uju i di huta nami, heado sampe mar sampulu lima taon lobi dainang on holan sahalak na tinggal di jabu, ala sude hami marsingkola dohot mangaranto angka ianakkonna.
    Agia pe sahalakna kerja kersa do dainang on mangula asa boi hami sude sikkola, jadi boi do hami dipasingkolahon sahat gabe sarjana agia pe holan partani ibana.

    Marumur ma nuaeng dainang 70 taon, ala asido roha ni Tuhan ala sehat-sehat dope dainang. Sai ni jujuan do nian asa tinggal ibana di Jakarta on alai dang olo.

    Alai nang pe songon i molo tarsor dainang ro tu Jakarta on, na sa tolap ni gogo niba nungga be nibaen natau palas rohana anggiat nian boi malum halojaon na na saleleng on na laho pasingkolahon iangka anangkonna.

    Hamu anakkonhu,Tampukni pusupusuki
    Pasabar ma boru pasabar ma amang laho patureture au
    Nungnga matua au, jala sitogutoguon i
    sulangan mangan au, siparidion au alani parsahitonki

    Somarlapatan marende, manortor, marembas hamu
    molo dung mate au….
    Somarapatan nauli na denggan patupaonmu
    molo dung mate au….
    uju dingolungkon ma nian
    tupa ma bahen angka na denggan
    asa tarida sasude, holong ni rohami mar natuatuai

    Unang holan na mangendehon hita ate, taulahon nadenggan tu natua-tuanta be uju di ngoluna.

    Daniel Harahap:
    Lagu itu sebenarnya jauh lebih bagus kalau bukan “si orangtua” yang mengatakan, tetapi hati si anak sendiri. Sebab pada dasarnya orangtua kita tidak pernah menuntut apa-apa dari anaknya.

  29. Ruas-Bandung on May 15, 2009 at 4:13 pm

    Menurut saya lagu ini adalah untuk semua kalangan na porsea..sebab cepat atau lambat kita akan sampai pada satu keadaan seraya berkata “…Nunga loja au o Tuhan”.

    Sebagai orang Batak memang kita sangat sensitif bila berbicara ortu masing-masing khususnya “Da Inang Pangintubu”. Tidak heran bila teman dari suku-suku lain mencibir pemuda Batak yang mau menangis bila mendengar lagu yang menyangkut ibu. Dan hal ini susah untuk menjelaskan kepada mereka. Di sisi lain emosi amarah orang Batak akan cepat terbakar bila yang dihina adalah ibunya. Lihat saja lagu-lagu Batak menyangkut orangtua, kebanyakan adalah bercerita tentang ibu.

    Sebagai seorang yatim piatu….pesan moral yang ingin saya bagikan adalah…BAHAGIAKAN ORANGTUA SEMASA HIDUP…unang dung sahat natua-tua i tu harajaon na di Banua Ginjang i baru timbul penyesalan.

    Alai aha pe i…lagu nunga loja au o Tuhan sangat berkesan buat saya pribadi.

  30. robert sibarani on May 15, 2009 at 4:59 pm

    Kondisi orang tua kita yang sudah semakin menua dan semakin kehabisan tenaga dan kemapuan segalanya , memang membuat kita salalu was was apakah yang akan terjadi, sekalipun kita sudah tau jawabannya akhir hiduplah nantinya yang ada. Tapi kita tidak cukup larut dalam situasi yang seperti ini segeralah berbuat yang banyak lagi kesenangan dan kebahagiaan bagi mereka semasih ada umur dan waktu yang diberikan Tuhan kita.

    Jangan sampai suatu saat ketika saatNya tiba menjamput nya, lantas kita meraung raung seakan tidak punya pengharapan lagi, dan anehnya seakan akan kita lah yang paling menyesal atas kematiannya. Padahal semasa hidupnya kita tidak ada waktu untuk mencoba memberikan yang terbaik.Samasekali itu tidak akan bisa membalikakan keadaan lagi.

    sebaiknya kita berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka /orang tua kita. Memberikan yang terbaik buat orang tua kita tidak selalu mahal, sederhana saja asal itu tulus dan iklas.

    Mungkin yang harus kita ketahui, bahwa suatu saat kita pun akan mengalami keadaan yang sama , itupun jika Tuhan membrikan umur yang panjang buat kita seperti mereka.

    Saya yakin sedari kecil hingga sekarang ini saya bisa seperti apa adanya aku sekarang ini adalah karena orang tua kita, terutam doa ibu kita yang senantiasa selalu menyertai kehidupan kita , Justru saya yang sdh dibesarkan disekolah kan sehingga tau caranya menghargai sesama malah kadang kadang lupa mendoakan mereka, bertegur sapa dengan mereka via telepon dan lainnya.

    Syair lagu dan lantunan lagu ini memang sangat menyentuh sekali, tapi bukan berarti kita takut menghadapi kenyataan kalopu tuahn sudah menetukan ajal kita , justru ini sebagai pemompa semangat kita untuk selalu mengenang segala kebaikan mereka shg timbul niat yang tulus mewujudkan kebaikan dan kebahagiaan keada orang tua kita.

    Ya Tuhan ..ajarkanlah kami untuk selalu dapat memberikan yang terbaik buat orang tua kami, dan kami mau serahkan sisa hidup mereka hanya kedalam Tangan MU saja .
    kami mohon jika sudah tiba waktunya , layakkan lah mereka menjadi penghuni kerajaan Mu dan ampunilah segala dosa dosa mereka, kami tau banyak kesalahan kesalahan dan kekurangan orang tua kami semasa kecil kami dulu sampai sekarang ini baik dalam menasihati dan mengajari kami juga dalam melengkapi segala kebutuhan kami. Tapi bagaimanapun mereka adalah orang tua kami yang kami sangat hormati dan kami cintai, yang Engakau percayakan untuk mengurusi kami dari sejak lahir hingagga saat ini. berikan lah mereka keyakinan yang teguh bahwa suatu saat nanti mereka adalah bagian pewaris Kerjaaan MU. Trimakasih Tuhan yang baik yang telah memberikan orang tua yang sangat baik bagi kami.

  31. rumanap on May 16, 2009 at 2:00 am

    @elumban
    Horas bah, kebetulan au pe lomo rohangku mambege ende “Uju di ngolungkon ma nian” terlebih pada syairnya. Ai godang do ra di tanda ho disi angka dongan na malo mangaransemen..molo dung gabe koor , lehon ma nang tu au da.. alai molo boi unang ma tu si AKP pa arensemenhon.. biar roha sotung gabe lagu rock annon dibaen he he he.
    (rumanap..datugalapang 16)
    rumanapsihombing@yahoo.co.id

  32. liya djajadisastra on May 16, 2009 at 8:29 am

    Lagu ini saya temukan tersembunyi di komputer suami thn 2003 dan menurut ‘peoperties’nya dibuat tepat 15 hari sebelum ia meninggal 30 juni 2002, ketika itu dia sudah sangat sakit …. Saya hanya mengerti kalimat pertamanya saja krn keterbatasan bahasa, hari ini saya mengetahuinya secara lengkap. Rupanya seluruhnya itu sedang dia rasakan waktu itu. Terimakasih amang pendeta.
    Liya Djajadisastra

    Daniel Harahap:
    Pastilah lagu itu sangat mendukung beliau saat itu.

  33. abrianto nababan on May 16, 2009 at 9:26 am

    @) elumban,

    Horas….au pe tertarik do di lagu i, molo nga dapot hamu partitur nai, minta tolong majo asa tong lean hamu tu au ate, molo au dapotan parjolo hu lean pe tu hamu, mauliate
    nababanabrianto@yahoo.com

  34. T.Manullang on May 16, 2009 at 9:44 am

    Saya jadi teringat rabu 6 mei 2009 jam 21.58 terima sms dr boru ni raja i ” mami sudah pergi” dia tidak sanggup untuk menyampaikannya secara langsung lwt telp. Selamat jalan inang na burju.

  35. Ruas-Bandung on May 16, 2009 at 9:53 am

    Amang DTA…saya yakin amang sangat berbahagia memiliki ibu dengan umur yang sudah memasuki babak bonus ( lewat 70 th). Saya sendiri ditinggal dainang pangintubu saat beliau berumur 56 tahun. Tetapi bila saya teringat akan beliau, saya masih bisa mengingat warna suaranya.

  36. pritonga on May 16, 2009 at 10:29 pm

    buka FB menangis, buka rumametmet menangis…tak tahu lagi apa yang harus saya tulis

  37. hainata simanjuntak on May 17, 2009 at 9:43 am

    Pertanyaanya.bgmn nanti anakku mengenangku

  38. Hodbin Marbun on May 18, 2009 at 11:47 am

    Naeng manetek ilu mangendehon lagu i, Nunga Loja Au O Tuhan, Gabe taringot Tu Damang Dohot tu Dainang Di Huta.
    Mauliate tu Laguna i Amang.

  39. mangantar butarbutar on May 19, 2009 at 8:53 am

    Trimakasih atas tulisannya, saya sangat terharu.
    Tuhan Memberkati kita.

  40. S. Marihot Hutahayan on May 19, 2009 at 1:08 pm

    “Nunga Loja Au O Tuhan”, lagu yang selalu kunyanyikan saat Bapak yang sedang sakit kanker kutemani selama 5 bulan di rumah, mulai dari bicaranya masih jelas dan baru Marulaon Nabadia , hingga gerakannya semakin terbatas dan dia minta dipindah ke rumah kakak dan dijemput Tuhan, Mertua yang sakit dan sudah tidak bisa lagi diajak bercanda atau berbicara, dan Adik Mertuaku yang meninggal beberapa minggu lalu di Depok. Entah kenapa, mulai lagu tersebut dipopulerkan Nainggolan Sister, sampai dimasukkan di Buku Ende yang baru, saya sangat terharu dan ikut menangis saat menyanyikannya.
    Seperti tengah malam ini, saat saya menyalakan lampu luar di lantai dua. Saat turun tangga, saya memandangi foto Bapak saya di dinding samping tangga. Ada kerinduan yang dalam. Lalu entah kenapa saya tergerak untuk menyalakan laptop di meja dan membuka rumametmet. Mata saya langsung tergerak kepada tulisan Amang : “Nunga Loja Au O Tuhan”.
    Malam ini, aku menangis kembali menyanyikan lagu itu Amang. Teringat semua penderitaan Bapak saya selama beberapa bulan berobat jalan di rumah. Tetapi hati kecil saya merasakan kebahagiaan yang sangat besar, bisa mendampingi Bapak saya di rumah saat saya tidak sedang ngajar.
    Saya yakin, Amang juga akan merasakan kebahagiaan seperti yang pernah saya rasakan, bisa mendampingi orang tua tercinta di Serpong. Maka, nikmatilah masa-masa indah itu Amang, dan temanilah Ompung Boru saya itu menyanyi :

    “Nunga loja au o Tuhan di si ulubalang ari
    Naeng tumibu au pajumpang rap dohot Ho di surgo i
    Nunga bot mata ni ari, lam jonok nang ajalhi
    Nunga loja au o Tuhan rade ma baen ingananki.
    ……………………………………………………..

    Tuhan Jesus Par Holong jala Pandaooni Bolon ima Na tontong Maniop Tanganni Ompung Boru Hatiha Mandapothon Sambulon Ni Tondina, ditingki na dibuhulNa. Amen!

  41. S. Marihot Hutahayan on May 19, 2009 at 1:13 pm

    Amang, tengah malam kemarin saya sudah kirim email sebelumnya, eeh saya lihat belum masuk. Maka saya kirim lagi siang hari ini. Sekadar menjelaskan kenapa pada email tersebut ada kata-kata :”….tengah malam ini….” Horas jala gabe!

  42. tanti on June 14, 2010 at 2:26 pm

    horas amang pandita

    molo mangendehon endo on hati saya tersayat2, sekarang ibu mertuaku sedang terbaring dirumah sakit umur 77 tahun dan dokter vonis umurnya tinggal 3 bulan karena sirosis, jujur walaupun aku mantu aku belum rela kehilangan beliau karena menurut saya beliau adalah seorang mertua yang baik dan tidak pernah mengeluh akan kelakuan kami anak2nya,beliau adalah panutan bagi saya…..saya sangat dekat dengan beliau……..mohon agar bapak pendeta bawa dalam doa ya……..krn aku percaya tidak ada yang mustahil bagi TUHAN aku percaya semua bisa dilewati oleh ibu mertua saya.

    Daniel Harahap:
    Mari kita berdoa untuk orangtua kita. Semoga mereka selalu mendapatkan damai Tuhan di hari-hari senja mereka.

  43. jasmen Siamtupang on July 30, 2010 at 2:05 pm

    Sungguh cerita ini memang membuat hati miris, spontak saya teringat akan mama di Kampung. Saya yakin dibalik itu semua Tuhan punya maksud lain.

  44. jeffrey chicharito on December 31, 2010 at 4:06 pm

    saya juga pernah mengalami kisah dari pada ibunda amang tercinta. kisah ini terjadi pada keluarga kami, yg dimana opung kami jg mrsakan hal itu. sungguh mengharukan. puji syukur ku panjatkan kepada Tuhan Yesus kristus atas bekat yg telah Dia limpahkan kpd opung ku shgga opung bisa sehat kembali. gBu.

  45. Mangantar Pandjaitan on August 29, 2011 at 11:48 pm

    Kata kata lagu ini sungguh menyentuh hati,tapi belum pernah saya mendengar bagaimana noot lagunya,apakah ada kaset atau CD nya?Mohon bagaimana cara mendapatkannya,HP 081361930930.Alamat Jalan Monginsidi no.28,MEDAN-20152.Mauliate Parjolo,amang/inang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*