Kantor Pusat HKBP Pindah Ke Jakarta?

May 11, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

lonceng-hkbp-menteng.jpg

Ini masalah sensitif di HKBP? Ya. Sejak dulu. Sebab itu tidak perlu takut membicarakannya. Wacana pemindahan Kantor Pusat HKBP dari Pearaja-Tarutung (kurang-lebih 300 kilometer, delapan jam perjalanan dari Medan) bukan isu baru. Sebagian berpendapat, termasuk saya dulu, HKBP bagaimanapun juga harus tetap berkantor pusat di Pearaja. Alasan utama ada dua. Pertama: alasan historis. Bagaimanapun HKBP harus menghargai sejarahnya yang bermula dari Tanah Batak. Lahan sempit Pearaja itu telah menjadi saksi dan simbol sejarah HKBP yang sangat panjang. Dan walaupun tidak pernah diformalkan Pearaja yang menjadi kediaman Eforus atau pemimpin tertinggi HKBP dalam hati dianggap menjadi “kampung suci” HKBP yang sangat berguna memberi ketenteraman hati bagi warga HKBP di Tanah Batak dan di daerah-daerah perserakannya. Kedua: alasan keberpihakan. Dengan tetap memilih secara sadar berkantor pusat di kampung Tarutung, jauh dari pusat kekuasaan, ekonomi dan informasi (juga hiburan), HKBP mau menyatakan keberpihakannya kepada petani-petani desa sederhana di Tapanuli. HKBP tetap ingin tinggal bersama warganya yang miskin dan sebagian besar tertinggal itu. Secara teologis saya pikir itu baik.

Namun saya mengaku telah berubah pikiran dan tidak lagi kukuh berpendapat bahwa Kantor Pusat HKBP harus di Pearaja Tarutung. Saya sekarang malah mau menyarankan agar Kantor Pusat dipindahkan – bukan ke Pematang Siantar atau Medan seperti pernah dulu diwacanakan – tetapi sekalian ke Jakarta. Alasan saya ada beberapa:

Pertama: Jakarta adalah ibukota negara dan pusat pemerintahan serta perekonomian. Itu adalah alasan saya yang pertama dan terutama. Sebagai “gereja besar berskala nasional dan bahkan global” HKBP harus hadir di ibukota negara dan menunjukkan eksistensinya sebagai gereja yang ditempatkan Tuhan di negara Indonesia berdasar Pancasila ini. Dengan berkantor pusat di Jakarta HKBP, melalui Pimpinannya, menurut saya bukan saja akan lebih efektif menyampaikan tugas dan tanggungjawabnya menyampaikan suara kenabian, imamat dan pastoral kepada pemerintah , namun juga untuk menunjukkan kepada seluruh bangsa bahwa HKBP ada dan merupakan bagian integral negara dan bangsa majemuk ini. Memang di jaman moderen ini kita telah memiliki teknologi telekomunikasi yang membuat hubungan Tarutung-Jakarta sangat cepat dan mudah. Namun bagaimanapun juga kehadiran fisik pimpinan HKBP di even-even nasional di Jakarta sangat dibutuhkan bukan saja untuk HKBP tetapi terutama untuk memberikan kontribusi kepada negeri ini.

Kedua: potensi HKBP sebagian besar di Jakarta. Suka tak suka kita harus jujur mengatakan bahwa potensi HKBP sebagian besar ada di Jakarta. Sumber dana Kantor Pusat sebagian besar dari jemaat-jemaat HKBP di Jakarta sekitarnya. Tokoh-tokoh HKBP yang dapat diajak Eforus berdiskusi khususnya dalam rangka hubungan HKBP dengan masyarakat dan negara juga ada di Jakarta. Sederhana saja: saya membayangkan HKBP akan jauh lebih mudah menggalang dana pelayanannya jika kantor pusatnya ada di Jakarta. Usaha Pimpinan yang sekarang membangun sistem administrasi pelayanan HKBP yang moderen juga akan menjadi sangat mudah jika Kantor Pusat HKBP di Jakarta. Dan dengan sistem yang lebih kuat itu maka Kantor Pusat juga justru lebih bisa berperan di daerah-daerah tertinggal di Tapanuli dan bukan hanya sekadar mengeluhkannya. Dan kalau perlu HKBP bikin komitmen persepuluhan. Artinya: sepuluh persen pemasukan HKBP harus disisihkan untuk dana membangun Tapanuli.

Ketiga: efisiensi organisasi dan kepemimpinan. Berhubung sebagian besar HKBP sudah berada di luar Tapanuli maka urusan Pimpinan HKBP juga sudah lebih banyak di luar Tapanuli. Dan apa yang terjadi? Sejak beberapa periode terakhir waktu Pimpinan HKBP lebih banyak di luar Tarutung. Itu tidak bisa disalahkan. Sebab untuk hanya untuk urusan dua jam di Medan saja Pimpinan HKBP harus rela paling sedikit enam belas jam di jalan pulang pergi. Padahal jika Pimpinan di jakarta maka waktu ke Medan mungkin hanya perlu enam jam pp.

Keempat: orientasi masa depan. Tuhan menganugerahkan warga HKBP yang sebagian besar Batak itu dengan jiwa perantau. HKBP telah tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan di Amerika Serikat. Warga HKBP bahkan sudah ada dan banyak di Timur Tengah. Menurut saya dengan memindahkan Kantor Pusat ke Jakarta kita akan lebih fokus membangun masa depan dan tidak hanya tenggelam dalam persoalan-persoalan masa lalu tanpa ada jalan keluarnya. Masa lalu adalah sejarah. Dan sejarah kita catat dan simak serta jadikan pelajaran. Namun kita sebagai gereja dipanggil bergerak ke masa depan. Saya tidak mengatakan Jakarta adalah tujuan terakhir dari HKBP. Namun dari Jakartalah HKBP lebih baik memandang ke seluruh dunia termasuk ke akarnya di Tanah Batak. Dan hanya dengan berkedudukan di Jakartalah Kantor Pusat HKBP tidak terperangkap dalam sekat-sekat sangat sempit dan sangat primordial. Bagaimana?

Ini hanya saran saya saja berdasarkan sejumlah pertimbangan (termasuk kasus pembatalan IMB gereja di Depok). Yang harus mengambil keputusan adalah seluruh warga HKBP. Dan sebelum mengambil keputusan tentu kita perlu mengadakan percakapan, perhitungan dan perencanaan yang sangat matang, dan terutama berdoa mencari bimbingan Roh Tuhan. Namun saya bermimpi Sinode Godang 2010 telah mampu mengambil keputusan. Dan kita merayakan Jubileum 150 Tahun HKBP tahun 2011 nanti benar-benar dengan semangat dan tekad benar-benar baru menjadi gereja meng-indonesia dan meng-global. Dan sepenuhnya melayani Tuhan.

Horas HKBP.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

115 Responses to Kantor Pusat HKBP Pindah Ke Jakarta?

  1. Hitler P. Sigalingging on May 13, 2009 at 9:08 am

    Mengapa Amang berpikiran seperti itu?
    Ada dua hal yg coba sy angkat:
    1. Kita masih memerlukan akar histori kita yg notabene Tarutung itu. Mungkin ide Amang bisa saja terjadi bila HKBP melakukan perubahan total dan terjadi minimal 10 poin perubahan mendasar seperti pemberdayaan, kemiskinan, peran serta sosial, perencanaan, pelatihan, lapangan pekerjaan, masyarakat luas, bangsa dan negara, dll.
    2. Bisa saja dalam 2-3 tahun ini kita pindahkan ke Jakarta. Kita sebutlah HKBP Representative. Namun ini juga tidak mudah. Buatlah semacam Renstra HKBP bila Jakarta menjadi pemegang kendali untuk tahun2 ke depan.
    Pada dasarnya, ide Amang kulihat baik namun kita buatlah sematang dan sebaik mungkin visi-misi ke depannya.
    Jangan sampai gagal!

  2. Mangara Pakpahan on May 13, 2009 at 9:20 am

    Menanggapi respon di atas Pak Pdt DTH, bukankah program DANA ABADI tersebut sudah diputuskan dalam agenda kerja HKBP ? Artinya, yang sudah diputuskan berarti harus dijalankan…. :-) Jangan-jangan program tersebut lambat tercapai disebabkan karena masih banyak di antara kalangan pelayan sendiri yang kurang setuju (seperti Pak Pdt DTH contohnya … he..he..he…) Bukankah kalau pelayannya sudah sejahtera, maka pelayanan pun juga ter-sejahterahkan…? Kan sedikit ganjil juga amang, kalau Pdt muda yang baru ditahbiskan bertugas di kota besar sama balanjonya dengan Pdt Ressort na matua di huta…… Bagaimana ya…?

    Daniel Harahap:
    Saya setuju program dana abadinya. Namun tidak sentralisasi penggajian pendetanya. Menurut saya dana abadi itu sebaiknya hanya untuk membantu penggajian pendeta di daerah2 terpencil dan miskin demi keadilan dan pemerataan. Yang saya tolak bukan dana abadinya, tetapi konsep sentralisasinya.

  3. Imanuel Manalu on May 13, 2009 at 9:28 am

    Saya tetap tidak setuju. Biarkanlah KAntor Pusat HKBP berada di Tarutung dan persoalan yg ada di ibukota ini diselesaikan oleh Pendeta REsor atau Praeses yang bersangkutan. Apalagi Jakarta sudah dibagi menjadi tiga Distrik, kurang apalagi?
    Kecuali memang petinggi2 HKBP itu sudah bosan di kampung dan juga mau merasakan “nikmatnya” hidup di ibukota sebagai petinggi salah satu organisasi besar di Asia Tenggara ini

    Daniel Harahap:
    Immanuel kan sudah beberapa kali bilang tidak setuju? Ya sudahlah. Toh di blog ini kita tidak hendak mengambil keputusan. :-)

  4. Imanuel Manalu on May 13, 2009 at 9:38 am

    Menambahkan, memang kasus Cinere itu cukup membuat kita prihatin, tapi tidak serta merta itu mendukung rencana perpindahan kantor pusat ke Jakarta. bagaimana seandainya ada kasus serupa di makasar?apakah kantor pusat akan dipindah ke makasar juga?
    Kembali saya tekankan,masalah regional biarlah menjadi tanggung jawab penedta resor dan Praeses setempat, ephorus hendaknya memberi saran dan nasihat saja, dan kalau memang sangat diperlukan dan bila kedatangannya dapat menyelesaikan masalah,barulah beliau datang ke jakarta.
    Masalah cinere bukan lah rahasia umum, memang pendirian gereja dmana2 selalu saja ada tantangannya, saya cuma ingat satu ungakapan mengenai org Kristen yang saya yakini sampai sekarang : “Semakin dibabat semakin merambat”

  5. Hitler P. Sigalingging on May 13, 2009 at 10:04 am

    Sejauh ini sistem desentralisasi (pemekaran) pun banyak kekurangannya. Bayangkan RI dulunya ada 12 provinsi menjadi 20 provinsi lalu menjadi 27 dan akhirnya sekarang ada 33 provinsi. Memang semakin maju jaman, semakin melek orang akan kebutuhan pemekaran, tapi usahakan tidak karena faktor keetnikan atau permainan pusat.

    HKBP kan masih bisa dikendalikan secara sentralistik… termasuk keuangannya. Yang harus kita pikirkan adalah bgmn pengelolaan sumber dana yg belum ada (seperti dari perpuluhan) dan bagaimana sistem audit keuangannya yg berjalan baik.

    Daniel Harahap:
    Seumur hidup keuangan HKBP belum pernah dikendalikan secara sentralistik.

  6. Ricky on May 13, 2009 at 10:32 am

    Daniel Harahap:
    Tole ma. Bahen ma hamu torus HKBP holan gabe sijaga tambak ni ompung dohot huta na tarulang ala naung ditinggalhon hamu i,

    Daniel Harahap:
    Kalimat itu bukan saya tujukan kepada Lae pribadi, tapi kepada semua orang Batak yang selalu mendaku mencintai kampung halamannya tapi meninggalkannya, mendaku menghargai sejarah tapi tidak mau ziarah.

    –> dari kalimat di atas, sebagai orang awam saya jadi tau, rupanya amang lah yg merasa kalo HKBP pusat itu cuma tambak belaka and ujung2 nya menyalahkan kami orang batak yg perantau yg tidak pernah atau mungkin jarang atau mungkin tidak mau “ZIARAH” kesana.

    selain itu saya juga menilai kalo amang tidak bisa menerima kalo ide amang ini tidak bagus and salah sehingga setiap ada pendapat di cari kesalahannya untuk di comment. padahal keterangan dari abang amang sendiri (Pdt. Mula Harahap tanggal May 2nd, 2009 at 11:28am) sudah cukup jelas and tepat.

    mungkin perlu di pertanyakan tujuan amang menjadi pendeta itu apa? janganlah liat wadah or organisasinya cukup lah tanya ke diri sendiri apa tujuan kita jadi pendeta. kalo menurut aku sih, peduli amat dengan organisasi nya. kalopun organisasi yg kita ikuti jadi besar biarlah karena banyaknya jiwa2 yg sudah kita menangkan untuk Tuhan.

    Banyak sekali penyangkalan yg dapat di tulis mengenai ide amang daripada sekedar alasan history belaka. malah timbul pertanyaan saya: “kalo sudah mencoba nasionalis, kenapa kita gak fokus untuk memenangkan jiwa2 yang bukan orang batak untuk menjadi bagian dari HKBP?” jangan bilang HKBP sekarang ini sudah bertambah besar. Dengan banyaknya gereja kharismatik + banyak juga pendeta batak berkotbah di sana ini harusnya jadi tantangan bagi HKBP bagaimana caranya untuk berintropeksi tentang hal ini.

    saya yakin jika di itung persentase para kawula muda batak yg bergereja di hkbp dengan yg di bukan hkbp akan lebih banyak yg bergereja di bukan hkbp.
    fokuslah akan hal ini, karena bisa jadi sekarang ini yg bergereja di sana hanyalah para orang tua saja and yg memang rindu untuk berbicara or mendengar bahasa batak saja daripada membicarakan tentang topik pemindahan gereja.

    mohon maaf kalo kurang berkenan, saya tidak ada maksud apa2 dan hanya ingin hkbp tetap eksis dmn pun berada. seperti kata Mama ku bilang: “mengalah bukan berarti kalah”

    Daniel Harahap:
    Mamaku bilang: “jangan pernah lelah mengatakan kebenaran”. :-)

  7. Ricky on May 13, 2009 at 10:50 am

    hehehe, ini mah ujung2nya malah jadi berbalas pantun aja amang.

    Daniel Harahap:
    Mamaku bilang: “jangan pernah lelah mengatakan kebenaran”.

    menimpali pendapat amang di atas: berarti amang udah merasa seperti Tuhan tau mana yg benar atau tidak. karena amang merasa pendapat amang itu benar, padahal menurut sebagian besar orang di sini adalah salah.
    tapi meski begitu aku gak bisa menilai benar atau salah, karena benar salah itu kalo yg nilai diri sendiri berarti kurang subjektif.

    justru malah saya balik bertanya: “tau dari mana amang kalo pendapat amang itu benar?” sementara lebih dari 50% tidak setuju.

    sekali lagi, saya hanya merasa and merenungkan bahwa: keterangan dari abang amang sendiri (Pdt. Mula Harahap tanggal May 2nd, 2009 at 11:28am) sudah cukup jelas and tepat.

    jangan bilang keterangan Pdt. Mula Harahap itu hanya untuk amang saja, tapi itu juga untuk kami semua, yang notabene harus mengerti and memahami fungsi or capability kita dalam suatu subjek. yang mana biarlah kita mengurusi apa yg menjadi keahlian kita saja.


    Daniel Harahap:
    Ricky, kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang dan juga tidak tergantung Abang. :-) Catatan tambahan: Mula Harahap itu bukan pendeta. :-)

  8. Ricky on May 13, 2009 at 11:10 am

    Yah wis lah… yang penting saya dan banyak orang di sini sudah berpendapat, di terima atau tidak itu tergantung Amang, karena toh amang yg punya forum ini.

    Mengenai Amang Mula Harahap saya mohon maaf, tapi jadi bahan renungan nih buat saya. cos seharusnya Amang yg notabene seorang pendeta lah yg harusnya lebih wise, tapi kok……? sekali lagi mohon maaf kalo kurang berkenan, and semoga sukses.

  9. jeremy on May 13, 2009 at 3:09 pm

    Wah, makin menarik nih amang, makin banyak berbalas komen2nya…

    tidakkah menjadi pemikiran mereka, kalau waktu hampir 16 jam pp pearaja polonia habis begitu saja??? dengan 16 jam itu, pimpinan mungkin bisa mengunjungi 5-6 gereja satu hari… ( iya kalau dikunjungi :P )

    pemikiran ricky juga harus dipikirkan amang, cobalah lihat gereja berbahasa batak, isinya sekarang hanya orang tua, kemana yang muda??
    Semoga HKBP di umur yang mau 150tahun ini tidak menjadi seorang yang terlalu uzur, tua, susah bergerak dan tidak pikun….

    Daniel Harahap:
    Makanya saya usulkan supaya sekalian Pusat dipindahkan ke Jakarta agar lebih mudah mengadakan pembaharuan termasuk mengajak anak2 muda HKBP yang “berkeliaran” dimana-mana pulang ke HKBP. Tapi banyak orang lebih suka bernostalgia tentang kampung yang sunyi dan damai semu. :-)

  10. Imanuel Manalu on May 13, 2009 at 3:53 pm

    kalau nanti ada apa2 di tarutung dan sekitarnya atau medan, brarti eporus jg sibuk pp jakarta medan 2 jam +6 jam ke tarutung juga lah…sama2 capek lah beliau
    urusan jakarta dimintakan kepada Praeses yg 3 org itulah untuk menyelesaikan. kl mereka tidak bisa, gabung aja lagi itu 3 distrik di jakarta dengan distrik VIII jawa kalimantan, atau minimal,diganti dengan org lain yg dirasa lebih capable

  11. Hitler P. Sigalingging on May 13, 2009 at 4:16 pm

    Sdr Ricky, tak usahlah banyak protes mengenai Amang DTA.
    Yang kutahu dari diri manusia itu ada hak dan kewajiban. Mereka seiring, sejalan.
    Mengenai komen Amang saya rasa itu karakternya. Yang tahu hanya beliau dan Tuhan.
    Oiya mengenai komen Jeremy, tunjukkanlah HKBP mana? Biar menjadi tugas para Pdt untuk memperbaikinya.. :)
    Sekali lagi : “lanjutkan” Amang hak dan kewajibannya maniroi angka biru2 na…

  12. Ricky on May 13, 2009 at 4:20 pm

    Daniel Harahap:
    Makanya saya usulkan supaya sekalian Pusat dipindahkan ke Jakarta agar lebih mudah mengadakan pembaharuan termasuk mengajak anak2 muda HKBP yang “berkeliaran” dimana-mana pulang ke HKBP. Tapi banyak orang lebih suka bernostalgia tentang kampung yang sunyi dan damai semu.

    –> coba amang kasih link ini ke ephorus or ke orang yg berkepentingan yg bisa mengakomodir usul amang ini.
    Amang bisa debat kusir dengan mereka dengan alasan yg Amang berikan di sini jikalau mereka menolak. and tolong beritahu kami alasan yg signifikan dari para pemimpin HKBP mengenai usulan Amang ini jikalau jawaban mereka menerima or menolak. (kalo menerima, kapan rencana mereka akan melaksanakannya).

    Dan kalo bisa jangan mengecilkan peran penting dari kampung kita, meskipun di sana jauh dari maju di banding di ibukota, tapi terbukti di sanalah tercipta orang2 Batak yg hebat. Jangan terlalu silau dengan kemilau ibukota. harusnya mumpung amang bagian dari HKBP and pendeta di HKBP yg punya akses untuk menyampaikan langsung pendapat ke Ephorus.

    Aku sih melihat untuk Gereja2 yg di latarbelakangi dengan embel2 daerah sangat wajar jika masih terlalu ke adat or dalam hal ini HKBP ke batak2an.
    ini sangat wajar. saya melihat ini hampir sama dengan gereja Katolik yg masih menganut sistem atau budaya yg sudah turun temurun. (sorry kalo salah, ini hanya pendapat saya saja). Jadi, kalo melihat hal seperti ini jangan dari satu sisi or mungkin 4 alasan yg di berikan oleh Amang. tapi di lihat juga dari beratus alasan selain itu.

    bisa jadi, dengan adanya pusat HKBP di sana, lingkungan di sana jadi cepat berkembang di banding tidak adanya pusat HKBP di sana. (sekali lagi ini hanya pendapat saya karena melihat tujuan pemerintah untuk pembangunan merata yg mana salah satu yg di aplikasikan adalah dengan memindahkan universitas negeri ke pinggir kota or bahkan di luar ibukota provinsi di mana tujuannya untuk membangun lingkungan sekitar)

    so, ini masalah kompleks yg mungkin bisa amang kemukakan ke Pimpinan HKBP. Sekali lagi, kita harus fair. memang yg Amang kemukakan mungkin sisi positif yg menurut Amang, tapi kalo mo membandingkan or mo fair kita semua juga harus lihat ada tidak sisi negatif nya jika memang pindah ke Jakarta. biar kalopun jadi pindah HKBP bisa mengantisipasi sisi negatif dari hal ini.

    Daniel Harahap:
    Ricky, ada pertanyaan: kau tinggal dimana sekarang? Jakarta atau Tapanuli. Jika kau sekarang di Tapanuli, aku akan menyimak. Tapi kalau kau ada di Jakarta dan memposting dari Senayan City saranku: pulanglah dulu ke sana dan tinggal dua bulan saja di sana untuk belajar banyak. :-)

  13. Erpesim on May 13, 2009 at 4:57 pm

    Saat ini saya mempersepsikan posisi Gereja HKBP sbg Organisasi Pelayanan sdg “Krisis” karena teraniaya dan kehilangan Idola Spritual. Teraniaya, tanyakanlah suka duka atau tipu muslihat yg “harus” dilakoni Panitia Pembangunan untuk bekerja. Kadang-kadang bisa lebih Ular dari Ulok.Hal Idola Spritual,karena sosialisasi aktivitas Pimpinan Gereja yg sangat jarang atau nyaris tidak pernah terdengar. Jika HKBP tidak berbuat dan melakukan perubahan yg signifikan,maka cepat atau lambat HKBP akan kehilangan “drive” atas jemaat terutama generasi mudanya. Bukankah sudah cukup banyak domba2 HKBP yang pergi mencari rumput di halaman tetangga? Kita perlu solusi,kita perlu “CHANGE”. Saya berpendapat,bahwa kita memerlukan Pemimpin yang mau kerja keras untuk menggerakkan semua potensi jemaat yang ada secara konsisten dan terpadu. Menindaklanjuti upaya2 semua pihak memajukan HKBP selama ini,mk salah satu langkah konkrit yg dapat dilakukan adalah memindahkan Poskonya ke Ibukota negara ini. HKBP lam tu majuna.

  14. Ricky on May 13, 2009 at 5:00 pm

    Aku pernah tinggal di sumatera hampir 6 tahun di tempat terpencil dan 2 bulan KKN di tempat yg lebih terpencil lagi dengan saya satu2nya yg beragama Kristen (ujung2nya malah banyak orangtua di situ mengangkat saya jadi anaknya). and beberapa kali berkunjung ke Tapanuli and sebagian lebih dari 2 bulan.
    Memang aku sekarang tinggal di jakarta, tapi bukan berarti aku gak peduli tentang HKBP.

    Amang mungkin melihat dari satu sisi, kalo kantor pusat di tapanuli sana banyak kekurangannya (dlam hal ini kalo aku liat cuma dari segi praktis and ekonomi yang mana itu belum terbukti benar seandainya memang pindah ke Jakarta) justru aku melihat banyak sisi negatifnya jika HKBP Pusat pindah ke Jakarta.
    Ok, memang perlu mem blow up masalah 200 Jemaat di cinere sana, tapi bagaimana dengan nasib jutaan Jemaat HKBP lainnya?
    mending kita ambil hikmahnya aja and anggap aja ini salah satu ujian dari iblis yg kalo nanti kita lolos dan tidak terpancing untuk melakukan hal2 yg negatif tentunya rencana besar sudah di siapkan oleh Tuhan.

  15. Daniel T.A. Harahap on May 13, 2009 at 5:09 pm

    Kawan-kawan, diskusi tentang perlu tidaknya pemindahan Kantor Pusat ke Jakarta saya pikir sudah cukup. Jumlah komen yang masuk sudah 114 komen. Terima kasih atas semua partisipasinya. Saya diskusi dan debat ini sangat berguna bagi kita. Blog ini bukan tempat mengambil keputusan namun sekadar wacana. Mari kita merenung dan berpikir serta bertindak nyata, demi gereja dan juga bangsa. Sekali lagi terima kasih atas komen-komennya. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang salah dalam merespon atau mengusik pemikiran lanjutan. :-)

    Horas HKBP

    Pdt Daniel T.A. Harahap