Oleh: Daniel T.A. Harahap
Masa saban kali pulang pesta Batak aku migren alias sakit kepala dan harus minum obat? Ah, yang betul-betul sajalah. Apa yang salah dengan diriku atau sebaliknya apa yang terjadi di pesta Batak? Ah jangan kalian bilang aku menghina adat Batak apalagi mengatakan aku malu jadi Batak. Aku tak menghina kebatakan dan tak pernah malu jadi Batak (walau tak juga terlalu bangga).
Aku cuma mengatakan: saban kali pulang dari pesta Batak aku migren. Bahasa Medannya: pening. Dan kudengar banyak orang juga merasakan hal yang mirip.
Persoalan kemigrenan paska menghadiri pesta Batak ini sebenarnya sudah beberapa kali kubilangkan dan kutuliskan. Namun belum ada perubahan sedikit pun (kecuali katanya pesta Batak yang dihadiri Kepala Negara, tapi berapalah itu?). Ya emangnya siapa aku ini bisa mengubah suatu puak? Ya aku bukan orang besar nan kuat di kaum keluargaku sendiri apalagi di negeri ini. Tapi biarpun begitu aku sudah tekad akan terus saja bicara tentang pesta batak yang membuat banyak orang migren ini. Anggap saja kita main tarik-tambang. Kuat-kuatan. Siapa kuat dia menang. Aku merasa benar dan kupikir pada akhirnya kita sama-sama menang.
Kemarin sepanjang perjalanan, pulang pesta, sambil menyetir aku melamun punya uang banyak dan membangun gedung pesta Batak yang benar-benar ideal. Ah, janganlah langsung mematikan lamunanku dengan mengatakan: kok pendeta masih melamun punya uang banyak dan bikin gedung? Namanya juga orang lagi migren atau pening. Biar aja aku meneruskan lamunanku yang penting tetap hati-hati di jalan.
Pertama: aku akan bikin gedung pesta Batak dengan pelataran parkir yang sangat luas dan dan asri. Kayaknya, sakit kepala itu sudah mulai muncul dari lapangan parkir. Rata-rata gedung Pesta Batak tidak punya ruang parkir yang memadai. Mobil-mobil tamu karena itu harus diparkir sampai ke pinggir-pinggir jalan atau ke gang-gang becek atau bahkan sampai ke depan rumah penduduk. Bagaimana kalau hujan atau panas terik? Aku maklum harga tanah di ibukota ini sangat mahal. Tapi, aku melamun uangku cukup banyak membuat pelataran parkir yang bukan hanya luas tetapi juga hijau. Mobil-mobil bagus, setengah bagus atau kurang bagus (seperti punyaku) milik orang Batak harus bisa mendapat parkir yang teduh. Ah kubayangkan sebagai pemilik gedung itu para tamu akan senyum bahagia keluar dari mobilnya. Sebab itu mereka harus disambut pohon, bunga, suara air dan angin. Berhubung orang Batak banyak yang tidak punya supir dan belum percaya kepada sistem valet, maka pelataran parkir itu harus dilengkapi dengan selasar-selasar untuk pejalan kaki. Terutama juga bagi para tamu yang naik kendaraan umum. Aku ingin melayani yang terakhir. Alternatif: menyediakan jasa ojek payung.
Kedua: gedung pesta Batak milikku itu harus punya teras yang juga luas. Bahasa Bataknya: andar. Orang Batak suka berinteraksi sekaligus beraktualisasi. Pesta Batak sebenarnya merangkap reuni. Sebab itu aku harus menyediakan ruang untuk kebutuhan ini. Teras itu sebab itu perlu dilengkapi bak-bak bunga hidup sekaligus tempat duduk. Satu lagi: untuk para perokok. Perhitunganku dalam satu atau dua dekade ini merokok masih merupakan adat atau kebiasaan turun-temurun bagi banyak lelaki Batak. Daripada mereka merokok dalam ruang, atau ngambek pulang (karena ditegur satpam merokok di dalam ruang) mending kita sediakan tempatnya. Tentu sekaligus dengan asbak-asbak besar. Aku tidak ingin gedung pestaku kotor dengan puntung rokok yang digesek-gesek di lantai. Sebab itu alih-alih menyediakan satpam untuk memergok para perokok mending menyediakan tenaga kebersihan yang banyak terus-menerus menyapu lantai agar bersih mengkilap, dan mencari apakah di sela-sela bunga itu ada puntung.
Ketiga: ini yang terpenting, aku akan membangun gedung pesta dengan sistem akustik yang benar-benar prima. Kayaknya gaya orang Batak berbicara sekeras-kerasnya sementara sulit dihilangkan (mungkin sampai kebanggaan ekonomi dan politik orang Batak pulih kembali)
Agar para tamu tidak pekak atau mengalami gangguan pendengaran karena “adat” mengharuskan speaker (pemancar suara) disetel sekeras-kerasnya, maka sistem akustik (penerimaan suara)-lah menjadi solusinya. Tiga sisi dinding dan plafon gedung pesta milikku harus dilapis sistem penyerap suara eks impor. Lantai dilapisi karpet atau kayu. Sekuat apapun suara parhata berteriak mengumumkan jambar atau menyuruh boru-nya (aneh, entah kenapa harus selalu dengan membentak) akan terdengar lembut. Sekuat apapun para penyanyi meneriakkan kesedihannya di suasana gembira itu, akan terdengar merdu. Aha. Pokoknya di gedung pesta milikku orang tua-tua tidak perlu takut duduk dekat speaker. Di gedung pesta milikku orang-orang akan bisa enak ngobrol sambil makan. Persis makan nasi beralas daun pisang di sawah di pinggir danau Toba!
Berhubungan dengan hal kedua aku akan memesan kepada arsitek agar mereka merancang suatu bangunan tanpa AC namun sejuk. Bagaimana caranya terserah merekalah. Banyak orang Batak belum bisa berhenti merokok walaupun saban malam sudah mongkol-ongkol. Dan sebagian mereka adalah para jurubicara atau parhata di pesta yang sangat dibutuhkan kehadirannya. Sebab itu daripada daripada mending buat gedung yang sirkulasi udaranya luar biasa mirip sawah. Mungkin dengan membuat cerobong2 di atap untuk menangkap angin seperti di kapal-kapal. Atau memasang kipas penyedot udara besar-besar di plafon. Atau membuat jendela, pintu dan ventilasi besar-besar. Yang penting udara di dalam ruang tetap bersih. Ina-ina dan namarbaju tidak perlu berkipas-kipas takut meleleh dan ama-ama tidak perlu membuka kancing atas apalagi sampai harus menarik kemejanya ke atas perutnya.
Keempat: gedung pesta milikku kelak (aku sudah merancang namanya: Sopo Tandi, tentang artinya tanya saja kepada bapakmu) juga mencerminkan tata ruang Batak yang sesungguhnya. Tentang hal ini sudah lama kudiskusikan dengan dua temanku arsitek Batak. Menurutku kultur Batak tidak mengenal satu pusat atau sentrum perhatian, apakah itu panggung pengantin atau elit parhata atau jurubicara. Kultur Batak memiliki ratusan dan ribuan titik simpul. Setiap orang lelaki dan perempuan harus menjadi pusat perhatian. Bagaimana penyelesaiannya dari segi tata ruang? Gampang. Serahkan kepada ahlinya. Pokoknya di gedung pesta milikku semua orang harus merasa dirinya ada, hadir, spesial dan berharga. (dengan atau tanpa emas di tubuhnya). Rahasianya kubuka sedikit: asesori harus ditempatkan merata, tidak hanya di panggung tetapi juga di antara tamu. Kursi2 tamu dibuat khusus dengan sehingga bisa berputar 360 derajad. Gedung dilengkapi layar besar di empat penjuru yang terus-menerus memancarkan bukan hanya wajah mempelai, orangtua dan ompung atau udanya, tetapi seluruh yang hadir secara bergantian. Aturan tambahan : Bir tidak boleh hanya dibagi di meja parhata tetapi di semua meja termasuk yang di pojok.
Kelima dan terakhir: di gedung pesta batak milikku itu fasilitas toilet dan ruang gantinya harus benar-benar representatif. Selalu dalam keadaan bersih, beraroma segar dan indah. Aku tahu orang Batak kalau ke Pesta ingin tampil habis-habisan. Namun banyak yang tidak punya kendaraan sebab itu mereka harus biasanya melap keringat dan berganti pakaian sebelum masuk ke ruang pesta di gedung. Nah gedung pesta Batak yang baik harus mengakomodasi kebutuhan ini.
Tapi bagaimana dengan kebiasaan mengantongi makanan di meja yang juga membuat kepala pusing? Ah itu bukan urusanku sebagai pemilik gedung. Itu urusan para pendeta dan pemimpin masyarakat. Kalau aku ditanya, saranku sederhana saja: kalau Batak berpesta sebaiknya pake nasi kotak saja. Namun kotaknya dibuat bagus dan isinya hangat (seperti makanan di pesawat) dan sendok/garpu/gelas memang dipersilahkan dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Horas tujuh kali! Peace.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
hahaha… setuju amang…
sewanya jangan mahal-mahal ya…
yang mendesak skarang untuk diubah suara spekernya (tata suara), emang kalo belum begetar dinding ama atap itu, belum pesta ya namanya???
horas 7 kali juga!
Daniel Harahap:
Soal speaker (tata pengeluaran suara) tidak bisa lagi diubah. Menyetel speaker sekencang2nya sudah “adat”. Sebab itu yang bisa diubah ada akustik (sistem penerimaan suara). Bikin dinding dan plafon yang sempurna menyerap suara sekencang2nya. Sehingga bagaimanapun kuatnya suara raja parhata menyuruh-nyuruh (entah kenapa mesti pake suara membentak) tetap terdengar lembut.
Satu yang pasti Amang… seandainya pun terwujud dan jadi gedung seperti yang amang hayalkan itu… awak lah salah satu yang gak mungkin bisa pesta disitu, karena sudah pasti mahal sewanya.
Perlu juga dibuat ruang angan-angan. Sementara orang berpesta dia bebas berangan-angan.. karena sebagus apapun gedung yang Amang angan-angankan, ada juga yang beda keinginannya. Selamat marangan-angan..siapa tau jadi kenyataan.
Daniel Harahap:
Ya. Orang yang tidak suka kupingnya dicekoki suara-suara keras, yang hobi ngobrol rileks sambil makan sangsang panas dan panggang berasap, yang rindu dengar orang batak nyanyi lembut penuh percaya diri, silahkan ke gedung pesta milik saya. Hahahaha.
Mudah2 an lamunan amang jadi kenyataan ya…hahahahha lebih cepat lebih bagus,agar yang namanya MIGREN / PENING itu tak lagi amang rasakan. Siapa tau juga ada Konglomerat Batak yang sedang melamunkan hal ini, amang bisalah bagi saham dgn dia, tapi seperti yg ” Meb ” katakan, sewanya jangan mahal2 ya amang !!!!! awak ni kan selalu cari yang termurah….masalah yg lainnya itu nomor 2 amang,……… Oh ya, Kebetulan bapak ku sudah di balipapan amang,sdh tak bisa lagi dihubungi, SOPO TANDI itu apa artinya amang ????
Horas and Mejuah -Juah 7 kali.
Hatop ma bangun amang, alai usul tu amang, khusus pangisi ni rumametmet dilean discount 50 %
Saya pernah berangan-angan bahkan sampai mimpi (tapi nggak sampai migrenlah amang!), justru semuanya dimulai dari Gereja HKBP Serpong!
Mulai dari awal pintu masuk Jl. Oliander saya sampai pintu gerbang gereja itulah luas tanah milik HKBP Serpong, mulanya dibangun gereja megah, lalu SD HKBP Serpong, klinik umum dan bersalin, dan akhirnya angan-angan itu sampai kepada “RUMAH ADAT HKBP SERPONG”. Bahkan saya pernah ajak teman saya “arsitek” lewati lokasi HKBP Serpong dan menanyakan berapa biaya semuanya mulai dari gereja hingga rumah adat…kira-kira 25 milyar belum termasuk isi (angan-angan seperti sedang terjadi waktu itu)…amangoi amang…level ni jemaat saja masih Rp. 400 juta…gimana mau 25 milyar? jika pesta tiap tahun berarti butuh 62 tahun?
Byar….angan-angan intor habang!
Saranhu tu pandita i: UNANG HOLAN HAMI NA MANJAHA SURATMUNA ON. INGKON DOHOT DO NAMPUSA GEDUNG I MANJAHAHONSA. SONGONI NANG PARMUSIK DOHOT SOUND SYSTEM.
Asa boi nasida manjaha tulisanmuna on, cetak hamu ma i dungi fax hamu ma tu nasida. Santabi ndang na mangajari
Daniel Harahap:
Alai diboto hamu do ruhut di dunia virtual molo pagodangho mamangke huruf na balga (kapital) sarupa do i dohot na marsoara gogo manang “berteriak”?
Hamu ma manongos manang mem-fax!
Seluas apa pun tempat parkirnya, rasanya tetap aja enggak cukup dan sembrawut Amang, soalnya emang begitu kan, kalau tamunya enggak banyak sampai parkirnya enggak cukup, bukan pesta batak namanya. Makin enggak cukup parkirnya makin kesohorlah orang yang berpesta itu.
Nga sude dongan saruangan(60 halak) heran mamereng au mengkel gabe dohot donganku marga Siregar (silom ) manjaha on ala naeng pamuli boru ibana dung sae dijaha didok : ai dipahatop amang i ma nian gedung i ito asa disi hita marpesta inna.
Satu lagi amang! ditaman yg asri itu disediakan jugalah ayunan buat anak2, biar mamaknya ga terganggu marpocco2 he he he.
Luar biasa amang angan2nya ….. tapi kita harus mimpi dulu kok amang, mudah2an cepat terwujud ya amang. Horas….
Daniel Harahap:
Masalahnya angan-angan itu belum saya komunikasikan dengan Inanta (istri). Hahahaha.
DTA: Hamu ma manongos manang mem-fax!
Anggo iba kebetulan ndang hea dope iba manghilalahon na nialamanmuna na sailaon dung haruar iba sian gedung pesta batak. Tingki naposo bulung dope iba, ndang hea hansit ulu ni iba dung mulak sian konser musik rock. Gumogo do amplifier ni konser musik rock i sian amplifier ni parende Batak.
Jadi hamu ma na manongos manang memfax tulisanmuna i.
Daniel Harahap:
Pokokna hamu ma mem-fax. Molo ndang olo hamu ndang pola boha.
Tamba ni angan-angan [ai so manggarar ate]:
Di utara gedung pesta i adong ma nian gareja; jadi udur mardalan pat ma sude keluarga sian gareja salpu pamasu-masuon tu gedung pesta i, songon na di huta i.
Di purba ni gedung i, adong ma nian kompleks paranak, mar 4-5 kamar, dohot 1 aula metmet, inganan ni rombongan paranak dohot hula-hulana marhobas laho borhat tu kompleks parboru, mangan sibuha-buhai, jala udur ma sian i tu gareja.
Di pastima ni gedung i, adong muse ma kompleks parboru, dos songon kompleks paranak nangkin, holan aulana umbalga, ala disi do mangan sibuha-buhai sude.
Jadi ulaon sadari: sian buha-buha ijuk sahat ro di borngin, boi ma sude berlangsung di kompleks inon.
Mungkin porlu 2 hektar tano bahen kompleks on.
Olo do saut angan-angan on: begin with the end in mind, ninna sada parhapistaran.
indahnya ada gedung begini amang… klau tanah tidak mencukupi, parkiran sampai LG5 pun juga boleh, asal ada lift sampai ground… Speaker tu amang baiknya digantung diatas deh… jangan disamping… budeg saya kalau dah ditaruh disamping deket meja.. he he he he.. kamar mandi paling penting amang, tapi itulah kita amang orang batak, yang namanya kebersihan kmar mandi kurang… orang luar ada yang pernah ngomong sendiri sama saya “Your races are very dirty, uneducationed about the toilet” wah sakit hati juga amang, tapi gimana yah, kenyataan.. tapi amang karpet atau parquette untuk lantai? yakin amang dengan pesta yang selalu ada yang pecah, tumpah dan puntung rokok??? ahhhhh bikin proposal aja amang ama punggawa2 batak yang banyak uang tu, buat satu di jakarta, jadi pilot project…
setuju kalo ada gedung begini….
tambahan lagi buat amang, buat dapur yg nyaman juga. jadi kaum parhobas dengan senang hati marhobas: tempat meletakkan makanan yang sudah matang, tempat memasak dengan tungku besar yang asapnya tidak lari ke ruang pesta, dan tempat mencuci perabotan makanan/minuman supaya sampah dan beceknya ga kebawa ke mana2.
karena saya juga punya jagoan kecil, kalo ada sarana bermain buat anak2 supaya tidak takut tertabrak oleh kendaraan lewat ato minta jajanan macam2 dari ortunya.
Wish all come true….!!!!
Semoga tidak cuma amang DTA yang berangan-angan seperti itu. Semoga ada juga orang batak yang kaya raya dan bingung mau kemana duitnya dibuat yang berangan-angan sama dengan amang DTA, karena dia juga sering sakit kepala setiap kali pulang dari acara pesta adat orang batak.. Dan yang terpenting, dia tidak menyewakan gedungnya dengan harga yang mahal.. karena tetap aja, orang-orang yang punya duit pas-pas an but pesta ga bisa menyewa gedung dengan fasilitas elite.. Atau, semoga Tuhan memberi rejeki buat amang DTA untuk membangun gedung yang sama persis seperti yang diangan-angankan dan jangan mahal-mahal ya amang… Tuhan memberkati
Daniel Harahap:
Jangan-jangan rezeki untuk membangun gedung mungkin lebih baik diberikan Tuhan kepada orang lain, supaya saya tetap bisa jadi pendeta. Dan blogger.
Angan-angan ni Marpuli Hodong…Sibulus-bulus Sirumbuk-Rumbuk
A.K.P. Panggabean May 11th, 2009 at 1:33 pm:
Saranhu tu pandita i: UNANG HOLAN HAMI NA MANJAHA SURATMUNA ON. INGKON DOHOT DO NAMPUSA GEDUNG I MANJAHAHONSA. SONGONI NANG PARMUSIK DOHOT SOUND SYSTEM. Asa boi nasida manjaha tulisanmuna on, cetak hamu ma i dungi fax hamu ma tu nasida. Santabi ndang na mangajari
Daniel Harahap:
Alai diboto hamu do ruhut di dunia virtual molo pagodangho mamangke huruf na balga (kapital) sarupa do i dohot na marsoara gogo manang “berteriak”?
Hamu ma manongos manang mem-fax!
A.K.P. Panggabean May 11th, 2009 at 4:04 pm:
Anggo iba kebetulan ndang hea dope iba manghilalahon na nialamanmuna na sailaon dung haruar iba sian gedung pesta batak. Tingki naposo bulung dope iba, ndang hea hansit ulu ni iba dung mulak sian konser musik rock. Gumogo do amplifier ni konser musik rock i sian amplifier ni parende Batak.
Jadi hamu ma na manongos manang memfax tulisanmuna i.
Daniel Harahap:
Pokokna hamu ma mem-fax. Molo ndang olo hamu ndang pola boha.
Gabe mengkel do ahu mamereng jala manjaha tulisanmu bah…….. Hehehehehe……
Tu hamu na dua, unang sai marbadai hamu bah…. hehehehe…
Ai na dibahen amanta Panggabean do komentarna, hape pintor songoni dialusi laenta pandita on. Sabar ma hamu amang Panggabean, mungkin na lagi suntuk do amanta pandita i ……… hehehehehe……. peace
Daniel Harahap:
Ndang na marbadai hami. Jala ndang na suntuk iba. Holan na masialusan do dibagasan holong dohot engkel.
jadi mekkel -ekkel au manjaha tulisan ni amang DTA on. molo boi marangan-angan muse amang taringot tu “Geraja Bolon Sedunia” ate amang! alana mancai maol do ahu marangan-angan. Horas 3 x ma, paganjanghu 7 x
Setuju amang…….. aku juga tiap kali ikut pesta pening kali ku rasa.
Oh iyah amang, mau nitip saran buat gedung yang amang angan-angankan itu. Kemaren aku berbincang-bincang dengan teman dari suku jawa. Dia bilang “Suku batak ini aneh. Moso yang punya hajatan nari-nari, tamu cuman mandang gitu doang dari lantai dua ke lantai satu (tempat acara) ga ikut nari. Udah itu moso makanannya beda, yang punya hajatan dan keluarga prasmanan gitu tamu yang lain dipiringin..”
Amang boha ma mamanage on amang, asa ris sude dapotan kegembiraan ni pesta i???
jadi taringot tu angan-angan on mansai denggan doi amang jala molo adong puna ni amang dua , sada gratis ma baen amang jala sada pe namarsewa,..setuju do amang?
Hea do songoni husukkun tu dongan molo adong artamu sekian olo do ho mangalen na sekian persen tu napogos..bah pittor dijawab ibada dohot tegas “daong” ninna jadi hu dokkon muse bah pantas ma attong dang dapot ho arta si songoni sedangkan marangan-angan pe ho nungnga holit apalagi jadi kenyataan..
jadi taringot tu gedung parpestaon on ..boha do molo marpesta di si nahurang sinamotna boi do amang discount? asa unang gabe sundat halak mangoli,muli ala soadong sinamot..alana nungnga lam godang hu bereng angka doli-doli jerman halak hita apalagi namarbajuna..
Ala ni angan2 ni amang pandita on, gabe taringot iba adong sahalak ama na mar angan2, songon on. “Marmanuk na ma au. molo dung godang anak ni manuk i, gadis on hu ma, tuhor on hu ma muse anak ni babi. dung maranak babi i, gadis on hu ma, tuhor on hu ma muse anak ni horbo, asa adong pangkeonhu mangula, jala dung maranak muse boi dalinai gadison. Tuhoronhu ma muse anak ni hoda, asa adong pangkeon hoda boban (mamboan tiga-tiga tu onan). Ala ni semangat ni amanta on, pola do tarbege angan2nai (dang holan dibasan rohana). Jadi dibege anak do aha diangan-anganhon amantai, jadi didokma : Bapa, molo dung balga anak ni hodantai, enjakonhu do jala baenonku marpacu. Dialusi amanta ima, daong marboban do baenon. dialuasi anakna i muse ah daong bapa enjakonhu do, baenanon do marpacu. Dialusi amanta i muse huhut dibuat antuk2, daong nunga hudok marboban do baenonhu huhut dipungkuli anak na i. Ala ni hansitna, tangisma anak nai, tung mansai gogo, jadi roma inantana sian dapur. Disungkun inanta i ma aha namambahen songoni, jala dipaboa anak na i ma namasa. Dung diboto songoni, didok inanta i ma, amange ilangki, hamamagongki, sambor ni nipingki. soaha sodia dope, nunga hansitan anakku”.
Jadi alani angka dongan, unang ma mar angan2 hita, tarlobi tingki mardalan, sotung tartuktuk hita songon amanta nadiginjang i. Marnipi ma hita. Dua minggu nasalpu dohot do hami sada pelatihan. Disuru do hami marnipi (mimpi). katanya kita harus berani untuk mimpi yang besar….. Molo madabu pe hita tingki marnipi, paling madabu tu kasur….
Daniel Harahap:
Boi do marangan-angan huhut mamboan mobil asal ma tongtong jamot, manat jala dungo!
Saya kira untuk sekelas Amang DTA hal itu bukan Wishful thinking-building castle in the air-or angan-angan ni parsendor???!!!.
Kutak-katik soal kesejahteraan , memang pada umumnya napogos dope hita amang DTA (Means statistically). HKBP nabolon i, mengumpulkan dana abadi untuk membayar gaji bulanan bagi parhalado full timer saja hingga kini tinggal kenangan saja!!!.
Menjadi sejahtera secara sosial memang butuh perjuangan amang. Untuk mendengarkan suara yang sound quality di Gedung Mulia Raja dengan akustik seperti itu butuh sound 20.000 watt incl.periphera devicesnya , berapa puluh juta itu harganya amang (is not free!!!)
Apabila gedung tersebut sudah terwujud, berapa sewanya …semakin representative ,maka biaya yang akan dikeluarkan semakin besar, dengan dana yang minim mustahil kita mendapat fasilitas yang nyaman dan enak .
Amang DTA melamun (berangan-angan?) untuk punya gedung yang dapat mengakomodir sebagian besar kepentingan Pesta Batak? Bravo buat amang pendeta yang berani meluangkan waktu untuk melamunkan itu. saya dengan malu-malu dan setengah terpaksa mengaku, saya termasuk dalam kelompok orang yang sering berpikir dan banyak melamun/berangan-angan tentang Pesta Batak. Salah satu lamunan saya yang hampir matang adalah: Pesta Batak dilaksanakan tidak lebih dari 500 orang/250 kk. Sudah termasuk dari semua unsur paranak, parboru, hula-hula/tulang, boru, dongan sahuta. Im’possible? Sekarang masih tahap penelitian dan pembahasan supaya mungkin dan masuk akal bagi para pemangku Adat. Salah satu pemikiran, bagi yang banyak teman/aleale dan relasi/hubungan kerja, silahkan membuat acara resepsi tersendiri, tidak perlu membebani Adat jadi tambah berat.
Yang pasti saya tahu dan harus kita sadari bahwa itu tidak mudah. Harus ada yang berani memulai, dan yang memulai sebaiknya orang yang ‘dianggap’ mengerti adat Batak. Inilah yang sedang dicari, adakah yang mau?
pahatop hamu amang angan-angan munai. andingan tenderna, asa dohot ahu, asa huarahon sude doli-doli namanganggur di jabodetabek on. karejo. jala hasilnape jago, goar pe tarbarita ateeee. HALAK BATAKKK
e ee tahe … pulang pesta batak pasti mingran dan pulang malam.sudah dari sononya
Amang DTA lupa: Harus ada di sudut ruangan jual tuak dan bir. (tapi maralo tu amang pendeta ate?) Tiap orang hanya boleh minum sebotol sajjja. Ruangannya disekat pakai kaca tembus pandang.
hahaha..mantaff amang!!
Aku nomor urut satu make gedungnya ya amang hahaha…
Horas amang pandita, molo amang marangan angan sambil meyetir mobil anngo au marangan angan jonjong sambil mangoppa dakdanak dimetro mini.
Toho mai attong molo angan angan do, alai jolo nametmet do asa balga, jolo marangan angando asa kenyataan.
Molo kenyataan do angan angan muna on, au khawatir gabe dang lakku annon gedung munai ditikki on, ala pakke HU peraturannai, sai adongma juppa tikkina boi songonon haduan, alana akka jolma naro tupesta dang dos warna na, jadi ikkon boido diakomodir selera ni akka undangan natorop, ai akka rajado naro i, botima
Soal membawa makanan pulang menurut saya baik. Kalau sisa mungkin akan dibuang parkatering, ataupun kalau dibawa pulang suhut (?) ujung-ujungnya nanti ada yang terbuang. TAPI …. JANGANLAH DIBUNGKUSI KALAU TEMAN SAPANGANAN BELUM SELESAI MAKAN.