Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Apakah yang paling berkesan bagi saya di Qatar? Gurun pasir yang tiba-tiba berubah jadi belantara gedung pencakar langit berbentuk aneh-nyeleneh, melengkung melenggang? Tidak. Mobil-mobil super mewah (Bentley, Maserati, Jaguar, Roll Royce dll) yang bersileweran dan Toyota Land Cruiser yang seakan kacangan? Tidak sama sekali. Saya bukan orang gila mobil. Lantas apa? Bunga-bunga dan tanaman hijau segar di gurun? Ya bolehlah sedikit. Naik unta berlatar gurun pasir? Ya lumayanlah apalagi jika dibandingkan dengan naik unta di cisarua dengan setting hutan tropik dan penjaga bermuka sunda. Kalau begitu apa yang paling berkesan?
Jujur saya katakan: banyaknya orang Batak di negeri Qatar. Apa? Ya banyaknya bilangan orang Batak muda dan terpelajar di negeri Timur Tengah itu. Sebagian mereka sudah berkeluarga dan tentu hidup di sana bersama istri/suami dan anak-anaknya. Sebagian lagi sedang merencanakan menikah dan sebagian lagi masih muda dan baru tiba di sana. Dan yang paling hebat: sebagian adalah gadis. Sekali lagi: gadis. Bahasa bataknya: namarbaju. Jika para namarbaju saja berani bekerja ribuan mil dari rumah ayahnya, apakah ada lagi doli-doli yang berani mengatakan takut?
Bagi saya kawan-kawan ini adalah pewaris semangat Batak sejati: manombang. Artinya: membuka lahan baru. Dahulu nenek moyang mereka manombang ke Sumatera Timur menyulap rawa-rawa menjadi sawah. Lantas manombang ke Aceh, Sumatera Selatan dan Jawa. Generasi berikutnya manombang ke Riau dan Kalimantan dan Papua. Generasi baru Batak manombang ke Timur Tengah: menyulap pasir gurun menjadi uang. Pokoknya ini baru Batak yang hebat. Jagoan.
Kenapa saya katakan hebat? Sebab manombang atau membuka lahan baru membutuhkan keberanian luar biasa. Tak ada manusia pengecut yang berani masuk ke daerah asing apalagi gurun pasir yang kalau musim panas bisa mencapai suhu 50 derajad celcius: jauh dari sanak saudara, jauh dari gereja dan jauh dari rasa aman. Para panombang berani membayar mahal masa depannya, yaitu “kehilangan” keamanan dan kenyamanan, keluarga dan teman, serta banyak kebiasaan lama. Sementara para penakut hanya mampu berkubang di comfort zone dan berkaok-kaok di kolong rumah atau seperti kodok yang merasa jagoan di dalam tempurung.
Mungkin pada awalnya motif kedatangan kawan-kawan Batak (juga suku-suku lain Indonesia) ke Qatar ini hanyalah sederhana, yaitu: mendapatkan uang lebih. Sangat wajar dan manusiawi. Seorang kawan mengatakan jujur: motifnya pertama kali hanyalah untuk mencari uang cukup untuk sinamot atau mahar. Dan dia mendapatkannya. Apakah dia kembali ke kampung? Tidak. Dia malah membawa istrinya ke gurun ini dan membangun rumah bahagia. Bagi saya motif pergi merantau jauh untuk mencari uang yang banyak tidaklah salah namun sebaliknya sah. Saya percaya pada waktunya – dalam proses – si panombang akan sadar juga bahwa uang bukanlah segala-galanya. Dan pada tahap itu manusia mulai membuka diri dan mencari alasan-alasan lain untuk meneruskan kehidupan dan berkarya di negeri yang jauh dari kampung halaman.
Sebab itu pulang dari Qatar saya semakin yakin mengkotbahkan kepada kaum muda Batak dan juga suku-suku Indonesia lainnya: berangkatlah manombang. Pergilah merantau. Jangan takut. Bahasa Medan: jangan cuak. Semangat manombang atau merantau yang mengalir di darah Batak bila ditambah dengan iman kepada Allah yang hidup merupakan modal dan bekal yang lebih dari cukup. Apalagi ditambah pengetahuan dan ketrampilan yang sudah didapat dari sekolah. Bahasa Inggris penting, tapi ingatlah tidak ada orang yang tamat belajar bahasa asing sebelum mencobanya di dunia nyata. Nekad saja. Nanti sesudah sampai di sana bahasa Inggris bisa terus diperbaiki dan bahkan ditambah dengan bahasa Arab, Jerman atau Prancis agar lebih eksis. Namun jangan pernah beranggapan orang lain akan membereskan dan menyediakan segalanya bagi Anda. Sebaliknya: berjuanglah dan retaslah jalan sendiri ke masa depan.
Bagaimana dengan kehidupan bergereja atau bertuhan? Tuhan Allah ada dimana-mana. Kristus sudah bangkit. Dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya Yesus ada di sana. Saya adalah salah satu saksi bahwa di Qatar persekutuan orang-orang Kristen Indonesia (yang sebagian besar Batak) itu eksis dan menjadi penopang spiritualitas dan semangat para panombang ini. Salah satu buktinya: mereka sanggup mendatangkan saya ke sana untuk merayakan Paskah. Namun saya juga berpendapat bahwa persekutuan ini kuat karena memang pada dasarnya anggota-anggotanya adalah orang yang kuat dan tangguh dan bukan warga yang cengeng dan hanya tahu menuntut dilayani.
Namun ada yang paling menarik dari tanah panombangan ini. Kesaksian banyak kawan-kawan Batak orang Indonesia pertama dulu hadir di Qatar dan membantu mereka survive tanpa pamrih justru bukan Batak. Tetapi keluarga Mbouw, asal Gorontalo, yang pernah lama di Pematang Siantar dan Medan. Maknanya sangat dalam: Ketika nanti kawan-kawan muda Batak ini semakin sukses di tanah panombangan baik di Qatar atau di negeri-negeri Arab lain, atau bahkan di negara-negara eks Sovyet atau Amerika Latin, mereka harus tetap rendah hati dan bersyukur atas jalan-jalan Tuhan yang ajaib memelihara hidupnya. Si Batak sebab itu tidak boleh mengasingkan diri dan bersikap arogan.
Horas. Molo Debata donganta ise be alonta? Ala ni unang mabiar. Borhat ma, Amang. Borhat ma, Inang!
Pdr Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Salut untuk pemuda dan gadis Batak yang merantau sampai jauh.
Banyak mantan mahasiswa/i saya dari AKPER St Elisabeth Medan yang umumnya dari Tano Batak juga bekerja di Qatar sebagai perawat di rumah sakit di sana, juga di beberapa negara lain seperti Belanda dan Amerika.
Secara umum, manombang dilakukan oleh angkatan muda atau keluarga muda. Tidak sedikit mereka yang tidak cuak. Masalahnya, ndang pos roha ni natorasna (natua-tuana) paborhathon nasida, apalagi molo anak sasada. Baiklah tulisan Kakanda ini juga menyentak para orangtua, sehingga mampu mengucapkan :”Borhat ma Amang. Borhat ma Inang. Hutangianghon pe hamu asa tongtong didongani jala diramoti Tuhan i”. Horas ma!
SALUT buat rekan2 saya panombang. Pilihanmu yang sulit menjadi pelita bagi orang lain.
Mauliate diguratton hamu amang kesaksian muna on.
nice…
Itu sebabnya ada ungkapan: Jika saja di bulan sudah ada lowongan, maka orang batakpun bisa dipastikan ada di sana.
Thanks buat liputannya Amang,
Salut buat mereka…
Jujur aku sagat merinding membaca artikel ini.. Sebegitu besarnya harapan yang mereka tanamkan hingga mencapai semua tujuan mereka…..
Sejujurnya saya juga merasa malu dengan membaca artikel ini..! Tapi ini akan menjadi motivasiku dan kesadaranku sebagai pemuda batak. Sukses selalu untuk kawan2 yang berada di panombangan.
Wah..salut bangat sama Orang Batak di tano panombangan itu amang..lain kali klo ada kesempatan ketemu mereka kirim salam lah dari Pahala Manalu, dan klo ada salah satu email atau contact yang bisa dihubungi di Qatar,..? saya mau dong amang.. saya ingin share juga dengan mereka.
haras jala mauliate.
dr.PM
Ke Dairi orang Batak Toba manombang hingga berhasil mendominasi: kuantitas mapun kualitas. Sebelum ke Sumatra Timur, etc., ke Dairi dulu mereka merambah.
Lupa saya baca di mana, panombang itu lebih unggul dari pribumi yang ditinggalkannya, dan mengungguli pribumi yang dijumpainya. Begirulah Dairi, Siantar, Medan, Betawi, Singapura, Amerika — semuanya dikuasai para panombang.
Dari Yerusalem mereka merambah ke seluruh Yudea, Samaria, Roma, sampai ke ujung-ujung dunia: dan tiba pula di Tanah Batak.
Sekarang prosesnya diulangi lagi, kesekian kalinya…
Selamat hari kartini….salut buat amang.
Jaman sekarang para kartini meninggalkan kampung halaman untuk manombang. sedangkan para kartono berdiam di kampung halaman. (sebagian menunggu kiriman dari kartini) Dari seluruh desa (daerah sumut) yg saya jalani penghuninya kebanyakan laki laki. tapi anehnya giliran marminggu yg datang kebanyakan permpuan. Ada apa sebenarnya amang?
Terimakasih Amang Pendeta atas tulisannya yang sangat bagus ini. Kiranya tulisan ini memberikan motivasi bagi banyak orang yang ingin lebih maju dalam menjalani kehidupannya. Saya merasa malu dan sadar terlalu sering mengeluh dan cengeng pada hal belum merasa melakukan perjuangan yang keras dalam hidup ini. Saya juga mohon dukungan doanya Amang Pendeta, karena saat ini seringkali saya kebingungan dan diam tanpa berbuat apa-apa karena tidak mampu dan tidak mengerti tentang apa yang harus dilakukan. Kiranya Tuhan menunjukkan jalan yang harus saya tempuh.
Daniel Harahap:
Pergilah ke Kuwait atau Dubai! Tuhan sudah lebih dulu ada di sana.
Kalau McClelland mengatakan n-ach (motif berprestasi) orang Indonesia termasuk kategori terendah di dunia, maka saya termasuk yang protes dan ingin menunjukkan bahwa ‘manusia-manusia pegunungan’ di Indonesia banyak yang memiliki n-ach tinggi. Bang Jansen Sinamo itu, dari Sidikalang ke Bandung ‘manombang’, hingga jadi Guru Ethos, beberapa keluarga bermarga Hutahean yang ‘terpaksa’ manombang ke Eropah Timur tahun 50 – 60 an. Kini, dari sharing Amang DTA, Qatar! Hanya persoalannya, semakin jauh jelok (labu) atau gadong (ubi) manginsir (menjulur) maka semakin prihatin kita dengan tempat batangnya bertumbuh, bona pasogit. Saya baru dapat info dari adek saya, bahwa di Bona Pasogit -kafe yang ‘mendagangkan’ tubuh boru-boru Batak. Semarga dengan ‘pelanggan’? Tidak lagi jadi masalah. Bah maup ma!
Harapan saya, bangunlah tanah ‘panombangon’ hingga ke ujung dunia, tapi bagaimana dengan Bona Pasogit
Daniel Harahap:
Orang yang siap mau membajak tidak boleh menoleh ke belakang.
Bravo buat teman-teman (Batak) yang sedang manombang di Qatar. Kalau selama ini orang Batak yang merantau dari bona pasogit mampu membawa gerejaNya ke tempat ia merantau (meskipun masyarakat sekitar adalah non Kristen), sekarang apakah teman-teman kita itu yang pada umumnya lahir dan besar di luar bona pasogit juga mampu membawa gerejaNya seperti orang tuanya ke tanah Arab tsb?
My Good Lord! Terus terang rush adrenaline di tubuh saya tak terkendali membaca artikel ini. Kita tunggu saja kehadiran hkbp qatar!! Kenapa tak dimulai saja dari singapura, malaysia, australia, dll. I’m proud to be Batak! Horas 3x!
Daniel Harahap:
Saya batak dan hkbp pulak. Namun saya belum setuju mendirikan hkbp di qatar, dubai atau kuwait sekarang atau dalam waktu dekat. Sepuluh tahun atau lima belas tahun lagi mungkin okelah. Orang2 Kristen-Batak disana sebaiknya bergabung dengan saudara-saudara se-Indonesia lain. Itu akan membuat kita jauh lebih kuat dan bermakna.
Wah..terimakasih utk oleh2nya amg..sdh 2 tulisan amg kisah nyata yang yang membuat pembaca mendapat pencerahan dan pembelajaran. Banyak hal yg diperoleh dari bacaan tersebut sebagai kaum muda dan orangtua, memotivasi anak2 muda batak untuk terus berjuang menigkatkan kehidupannya, jgn mdh cengeng, dan kpd ortu jg blh memotivasi anak2nya utk bs mandiri dan senantiasa menyerahkan anaknya dlm genggaman tangan Tuhan. Bravo utk keluarga dan anak muda yg ada jauh diperantauan Indo..tingkatkan terus daya juang dan adaptasi dgn lingkungan..serta pegang teguh iman percaya pd Yesus Kristus.
Terimakasih Amang atas informasinya, semoga warga Kristus dimanapun berada tetap dijaga Tuhan.
Kalau saya lebih senang berkumpul dengan saudara dikota yang sama, karena keakraban akan terjalin, akan tetapi untuk meningkatkan ketaraf hidup yang lebih baik kadang kala harus pergi jauh sekolah ke luar negeri, saat ini eda dan dua keponakanku sedang menuntut ilmu di Amerika ,semoga mereka dapat menjalani kehidupan disana dengan penuh rasa syukur.
Terima-kasih Tuhan atas berkatMU kepada kami .
wah….perlu dibukakan juga bagaimana nih biar bisa manombang disana amang…..asa banyak dongan ta na borhat manombang……
Daniel Harahap:
Manombang itu artinya membuka lahan baru (yang tadinya hutan, rawa, atau malah sekarang gurun). Kalau semua sudah dibukakan, ya bukan manombang lagi namanya. Tapi mengail di kolam orang.
Tidak terbayang olehku sebelumnya bahwa di Qatar ada panombangan yg berisi halak hita apalagi seperti cerita amang diatas banyakan namarbajunya dari pada doli2nya (sepertinya dunia terbalik ya) oleh2 ini memperkaya penggetahuan kita tentang dunia yg masih sangat luas yg bisa dijangkau oleh anak2 muda untuk pengembangan diri apalagi amang juga merekomendasikan Kwait dan Dubai wah…beruntung sekali kita para pengunjung Ruma metmet ini ya!
Untukku pribadi sebagai orang tua meginginkan anak2ku harus manombang kenegri jauh walau aku hanya memiliki anak lelaki satu org .Akan kusuruh tulisan ini dibaca oleh anak2ku nanti, kalau anak gadisku mungkin belajar yg banyak dulu dikantor pengacara tempat dia kini bekerja(baru 1 bln lebih) ,dinegara2 tersebut pasti halak hita sangat membutuhkan perlindungan hukum ya kan amang? dan untuk anak lelakiku ada tidak ya lowongan untuk lulusan Fisika (dia baru smester dua sih)
Benar-benar tamparan keras bagi saya setelah membaca tulisan ini, Amang. Dimana saya merasa menjadi bagian dari “para penakut”, jagoan kodok kecil di dalam kandang tempurung comfort zone-nya. Mengapa pemuda-pemudi Batak yang tidak Manombang dianggap kurang memiliki, atau bahkan mungkin, tidak punya keberanian dalam menjalani hidup?
Saya percaya bahwa segala sesuatu tidak ada yang terjadi secara “kebetulan”. Jalan kehidupan kita semuanya dirancang oleh tangan TUHAN. Ada campur tangan-Nya pada saat kita mulai memilih jalur sekolah/ universitas. Ada tujuan TUHAN pada saat kita harus menunggu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menganggur tidak mendapatkan pekerjaan. Ada campur tangan TUHAN pula pada saat kita akhirnya dapat bekerja dan ditempatkan di suatu daerah atau kantor.
Saya percaya bahwa di dalam tawaran dan peluang yang muncul di hadapan kita ada campur tangan TUHAN di dalamnya. Lalu bagaimana jika tawaran atau peluang tersebut benar-benar tidak ada? Bagaimana jika memang TUHAN menghendaki kita tetap “diam” bekerja di dalam tempurung nyaman yang saat ini kita ditempatkan? Apakah kemudian kita bisa dikategorikan menjadi seorang pengecut?
Bagi orang-orang yang manombang dikarenakan tanah tempat dia dilahirkan dianggap tidak memiliki masa depan, atau yang manombang karena gaji yang dirasa kecil, tidak cocok dgn atasan, persaingan rekan kerja yang tidak sehat; merekalah yang penakut! Mereka tidak memiliki keberanian untuk membuat subur ladang tersebut.
Dua tahun yang lalu, saya sempat pulang kampung ke Pahae Jae dan mendapati tempat kelahiran bapak saya sungguh tak terpelihara. Kondisi jalan, perumahan, sanitasi cukup mengenaskan. Dimana kah para Panombang yang hebat itu? Kapan mereka akan pulang? Tanggung jawab siapakah ini? Saya? Mungkin.
Dua tahun yang lalu, saya sempat pulang kampung ke Pahae Jae dan mendapati tempat kelahiran bapak saya sungguh tak terpelihara. Kondisi jalan, perumahan, sanitasi cukup mengenaskan. Dimana kah para Panombang yang hebat itu? Kapan mereka akan pulang? Tanggung jawab siapakah ini? Saya? Mungkin.
Daniel Harahap:
Jawaban saya bukan mungkin tetapi ya. Menjaga kampung kelahiran adalah tugas yang tinggal. Siapa suruh tinggal? Makanya: berangkatlah.
Mungkin arti dari Manombang untuk jaman sekarang bisa diperluas kali amang, dimana lahan tidak harus berarti tanah/daerah, tp bisa juga pikiran, jalan, jabatan, dll. Kalau dari sifatnya adalah sesuatu original, sesuatu yg belum pernah disentuh orang batak yg lain.
Justru yg perlu diperjelas dan dipersempit adalah tujuannya. Tujuan manombang dikaitkan dengan tanggung jawab kita sebagai orang yg mengaku batak. Tanggung jawab sebagai PANOMBANG. Dan yg terutama tanggung jawab kita sebagai anak2 Tuhan. Memang yg mampu menjadi Panombang adalah orang pilihan.
Bravo Panombang!
Daniel Harahap:
Setuju saja jika juga boleh diartikan kepada membuka bidang2 baru yang belum pernah disentuh. Namun saya kurang setuju jika dikatakan itu hanya bisa dilakukan orang2 pilihan. Menurut saya semua orang dapat dan harus memilih jalan hidupnya.
Amang… di Dubai, kebanyakan anggota persekutuan kami juga kebanyakan Batak!!:)
Akhir bulan Mei ini akan ada acara International Night di gereja kami (UCCD – United Christian Church of Dubai), yang jemaatnya berasal dari 40+ bangsa. I’m happy to ‘report’ that we will perform to present Indonesia!;) Kami akan menyanyikan lagu ‘Kasih Yesus’ dalam bahasa Indonesia, Inggris & Batak!
Mengenai menjadi anak rantau di negeri orang, apalagi tanah Arab, ada ayat Alkitab yang selalu kami pegang teguh: “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (Josua 1:9)
Sejak lama aku sering baca(dengar) kalau orang batak itu memang tangguh(kuat) nyalinya utk merantau. Kalau dulu, awal thn 30-an tujuan migrasi orang batak ialah ke penjuru nusantara, sekarang di jaman millenium ini orang batak sudah merantau antar negara-antar benua, ada kemajuan. Betul apa yg tulang Daniel bilang, jangan takut..siapkan diri utk skill bahasa dan berani mencoba..coba..coba.
Horas!
Horas………………… buat semua bangso batak di seluruh belahan dunia.
Tetapi yang penting juga bagi kita adalah bagaimana kita memajukan dan merubah paradigma pola pikir daripada bangso batak yang ada di bona pasogit, agar trend mark peta kemiskinan bisa berubah menjadi peta kemakmuran.
disini sangat dibutuhkan kemauan kita semuanya yang berada di tano panombangan untuk mau care dan perduli untuk mengubahkan pola pikir dan prinsip hidup halak na tinggal di bonapasogit sehingga status tanah batak sebagai tempat istana bagi orang yang sudah meninggal ( tugux2 marga yang sangat megah dan mewah pakai porselin, marmar dan dilengkapi dengan furniture banyak berdiri dan menjulang tinggi ke langit, dan sangat kontradiksi dengan keberadaan banyak gubuk reot, sopo-sopo jabu na naeng tumbang disebelah tugu mewah tsb, terkadang saat saya melintas saat liburan pulkam dengan keluarga ada perasaan sangat sedih tentang prilaku bangso batak) akankah sikap yang demikian tsb akan bisa kita ubah menjadi daerah dan masyarakat yang produktif, dan mampu berkopetensi secara ekonomi dan membawa pengaruh yang besar didalam konteks kesatuan negara RI
jawabannya ada di saya anda dan kita semua………………….
Daniel Harahap:
Kalau mau bangun kampung halaman ya pulang kampung. Mana ada cerita bangun kampung halaman dari starbuck plaza senayan.
Saya sangat setuju sekali Amang, kalau pada akhirnya ada banyak orang batak yang pergi ‘tuk merantau ato dalam bahasa alkitab boleh dikatakan bermisi. Akan tetapi apakah mereka yang merantau mengerti maksud dari “panombangon” mereka. Jadi bukan hanya sekedar pergi, akan tetapi juga mengerjakan Amanat Agung, Namun tidak lebih mulia yg goer daripada yg sender ato donatur. Semuanya sama saja…
Daniel Harahap:
Pokoknya: pergilah. Borhat ma. Yang jelas yang pergi lebih berani daripada yang tinggal melamun-lamun.
Dasar Alkitabiah buat para panombang dan yang berniat manombang.
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu (Kejadian 12:1)
Dengan IPTEK yang masih sangat minim tetapi dengan penyertaan Tuhan, bapak yang imani ini sukses manombang lintas negara dan benua; It’s a miracle, amazing!
Tahun 1975 Waktu pertama masuk Kelas I esempe Pangururan di Samosir, Oppung Doliku pernah memberi jimat padaku, karena saya adalah Pahompunya yang kelak sebagai Penggantinya (ahliwaris) (Carrier Flag) -sebagai Tunggani Huta {Raja Huta} Oppung berusaha agar hidupku berkwalitas kelak . Jimat itu berupa “poda”. Kau harus bisa seperti “Hauni Attirha” (Batang Ubikayu). Dilempar kemanapun batang itu pasti berakar dan bertunas. Menurut Oppung Doliku (Alm) Akar dan Tunas itu adalah “Hidup dan Kehidupan”. Sampai detik ini “poda” itu tak pernah lupa. Setiap hari poda itu kusambungkan dengan pengalaman2 Hidup, dan tugasku adalah bagaimana menjadikan hidup dan kehidupan ini berbuah agar lengkap apa yang dipesankan Oppung. Berakar, Bertunas, dan Berbuah yang semuanya itu terbungkus dalam semangat ” Ora Et Labora”. Motivasi para Panombang yang di Qatar itu juga ada yang berdasar falsafah Hauni Attirha itu. Saya yakin itu karena dah lama Paramangtuaonku dan Keluarganya ada disana ( di Qatar). Semangat ni Halakkita bagaikan “api nan Tak Kunjung Padam”. Bersinar karena bersyukur dalam segala hal. Horas jala gabe ma hita sude.
Para Panombang itu memang kelihatan lebih gigih (dan tentu berkatnya juga terlihat bagus).
Saya sendiri sudah menyaksikannya di Sao Paulo, Brasil (saya pernah bermukim selama 14 bulan di sana). Tapi para panombangnya mayoritas halak hita Sina-ga. Tapi akhirnya saya pernah ketemu juga halak hita satu orang saat perayaan 17-an. Tapi kawan kita ini bukan Panombang, dia hanya kerja di kedutaan Indonesia di Brasil.
Memang halak hita perlu memoles pepatah Jawa. Bila pepatah jawa mengatakan “Mangan ora mangan pokoe ngumpul” maka pepatah ini sedikit diramu untuk halak hita “Ngumpul ora ngumpul pokoe mangan”.
Saya setuju dengan anjuran amang…agar yang masih potensial manombang sajalah. Tuhan Yesus akan memberkati para panombang. Unang mabiar ate.
Buat Lae Pahala Manalu: kalau mau diskusi sedikit tentang Qatar: silahkan kalau contact2 saya: natal.hutabarat@gmail.com
Cerita amang ini, jadi membuat saya semakin mantaps untuk berangkat merantau bulan juli ini. Semoga Tuhan menyertai langkah saya dan mencurahkan berkatNya. Agar tidak sia-sia keberangkatan saya dan tercapailah apa yang dicitacitakan hati ini. Mengangkat harkat dan martabat orang tua. Hanya masalahnya, orang tua saya belum 100 % mengijinkan. Kejauhan katanya ke Kalimantan. Berhubung saya boru panggoaran dan boru sasada orang tua. Padahal dari cerita amang ini, Perempuan2 batak yang masih gadis sudah pergi ke Quatar. Dan itu ga dekat… Salut saya amang. Tapi tekat saya sudah bulat amang. Klo ditempat tujuan pertama saya, pekerjaan belum saya dapatkan, saya akan berangkat ke tempat tujuan saya yang kedua. Kalimantan. Seperti yang amang katakan, Tuhan sudah lebih dahulu ada di sana. Horas..
Daniel Harahap:
Borhat ma Inang. Nunga dijoloani Tuhan i ho mandapothon huta na imbaru i.
Setuju dgn Amang DTA,ini ide Inspiring abisss.Tu hita sude angka donagn:Mari kita kobarkan semangat Panombangan ini di lingkungan terdekat kita masing2.Mungkin kawan panombang yang sekarang kondisinya lebih bersifat “as it goes” atau nasib2anlah mengikuti situasi dan kondisi yang ada.Tapi sekarang ini mungkin lebih dipersiapkan shg secara moril dan materil pasti lebih baik lagi.Lebih mantap lagi jika dimanapun mereka manombang atau apapun karya panombangan mereka,mereka dan kita ada dalam satu jaringan/media komunikasi yang terpelihara.Contohnya: Rumah metmet ini.For the Unity of Batakness and the Glory of God.
Menurut pendapat saya: Manombang atau tidak itu adalah pilihan hidup masing-masing… sukses atau tidaknya sangat ditentukan oleh ketekunan dan disiplin hidup ditempat kita manombang atau tidak manombang (bukan ditentukan oleh tempat kita berada)… memang hidup di suatu lahan asing umumnya harus melalui perjuangan ekstra dibanding orang yang tidak manombang tapi bukan berarti orang yang manombang itu superior dari orang yang tidak manombang…-) sukses selalu buat rekans baik yang manombang maupun tidak manombang….
Daniel Harahap:
Para panombang jelas para pemberani. Yang memilih menganggur (baca: menganggur) di rumah ayahnya atau melamun di ketiak ibunya atau hanya berkokok di kolong rumah adalah: parbiar. bahasa lain: parmudar manuk.
Wah…tulisan yang sangan menginspirasi, menguatkan, sekaligus membuat malu bagi yang ‘mabiar manombang’. Selamat bagi orang BATAK yang berserak di jagad raya ini..Tuhan Yesus pastimenyertai kita semua. Baiknya orang muda Batak yang ada di Bona pasogit (Sumut) baca tulisan ini, baca, baca, dan baca.
HORAS.
horas…..mauliate godang amang DTA atas cerita yang sungguh sangat meng-”encourage” para generasi muda untuk mempunyai keberanian pergi “manombang” entah kemanapun itu, karena memang Tuhan sudah ada lebih dahulu di tempat-tempat tujuan tersebut, jangan takut, Tuhan pasti melindungi dan memegang tangan kita.
Saya sudah pergi merantau sejak lulus SMP, walaupun merantau untuk sekolah ke Bandung, akan tetapi terus terang, pada saat hendak berangkat, saya merasa takut pergi dari Medan, pergi dari daerah “comfort zone”, karena saat itu saya sudah diberitahu kalau nanti di Bandung, saya harus melakukan segala sesuatu sendiri, termasuk mencuci baju
dan harus hidup hemat sesuai dengan uang yang sengaja dikirim pas2an oleh bapak saya, akan tetapi perasaan takut tersebut hilang setelah ibu saya mengajak berdoa dan mengatakan bahwa Tuhan pasti akan menemani dan memelihara saya.
Jadi, memang benar saran amang DTA, mari saudara2 yang masih muda (termasuk yang sudah tua), kalau memang perlu pergi ke suatu tempat yang bisa menjanjikan, kenapa takut, cobalah pergi daripada “menganggur” di tempat “comfort zone”mu. Kiranya Tuhan Allah akan selalu menyertaimu.
Holan sada do pangidoaan tu akka na manombang i asa di patudu ma nean dalan/jaringan tu akka na di huta dohot na so dapotan karejo dope. Mansai godang do dongan na tetap di huta ala so adong kesempatan. Apalagi molo manombang tu Timur Tengah na paling maol aloon ima jaringan ni Philippine, India dohot Pakistan.Salut do rahaniba mamereng kekompakan ni nasida terutama di akka informasi lowongan2 kerja. Unang ma nean pittor adong rasa HOTEL di roha ni nasida.
Horas sian Ruwais-UAE.
Kudengar ada kisah pemuda Siregar dari Angkola manombang ke California secara buang badan [tak resmi] lalu jadi supir truk. Karena etos kerja yang bagus akhirnya punya truk satu, dua, tiga, dst; lalu memanggil Siregar-Siregar ke sana. Sang pionir berpesta [anaknya kawin] suatu kali, hotel bintang lima itu pun penuh, dan cuma dua bahasa: Batak dan Inggris. Kisah di atas diceritakan oleh wartawan/penyiar BBC Liston Siregar.
Semoga Amang DTA diundang juga suatu kali melayani ke sana, atau ke Colorado, atau ke New York. Kata kawan SMA saya yang kini di NY, lapo pun sudah ada di sana.
Leluhur perdana Homo sapiens Out of Africa, leluhur iman kita Out of Ur Kasdim, leluhur HKBP juga Out of Germany. Masa depan orang Batak tampaknya memang ada di luar tanah Batak.
Daniel Harahap:
Pak Sinamo, saya lebih senang lagi jika ada dan diundang komunitas batak di cina atau bekas negara2 sovyet.
menambahkan, mungkin beberapa link dibawah ini bisa teman2 buka untuk melihat contoh2 perusahaan di Qatar yang banyak orang Indonesia dan juga ada beberapa lowongan disana:
http://www.gulftalent.com/home/recruitment-and-jobs-in-qatar-1.html
http://www.rasgas.com/rg/rgr/
http://www.qp.com.qa/qp.nsf/jobs?openview
http://www.qafco.com/qafcowproj/careers/userallcareershome.jsp
http://www1.sniperhire.net/sniperhire/careers/qtel/VacancyList.aspx?CompanyID=18&BusinessUnitID=0&DivisionID=0&Keyword=
http://www.gunamandiri.com/Vacancy
http://www.qatargas.com/Vacancy.aspx
sekali lagi ini hanya contoh ajah, banyak bidang2 lain dan perusahaan2 lain, ini sebagai info awal aja agar semakin penasaran dan persiapan pindah ke Qatar…ha..ha..ha.. yang penting dari sekarang kalau ada yang punya niat, pasti ada ajah nanti jalannya, yang pasti jangan lupa berdoa ya, benar ga Amang Pendeta?
Daniel Harahap:
Terima kasih Lae Natal atas info linknya. Sai marpanangi ma angka na marpinggol. Sai marpanatap ma angka na marmata. Sai mangula ma angka na marrroha.:-)
@parjalang.
Tikki dakdanak au molo huendehon BE 173. Hurimpu do lao tu ho i bah. Hape tu angka pardosa do.
Anggo tu ho, sotung mulak ho bah.
Sangat setuju do au di kegigihan ni Amang DTA on.. pokokna “berangkat”
Molo di sepakbola, ido umbahen na lebih populer Liga Inggris daripada Liga Itali.
Liga Inggris sepak bola menyerang.. penyerangan adalah pertahanan terbaik.
Aut sura boi ma nian mulak poso, laho do au saonnari mangurus surat-surat na hombar tu keberangkatan.. ulinai ate.. BERANGKAT !!
Anggo bangsonta (bangso Batak do na hudok) tung sihalashonon do habaranionna manombang. Sian hita an dompak habinsaran, tu Batavia dohot tu angka luat na di pulo Jawa ro di angka pulopulo na metmet dohot angka na balga sahat tu huta sileban. Ahu pe on dope huboto naung adong halak hita di Qatar adu i. Mauliate ma di donganta dta naung tolhas tusi huhut marnida na masa disi dohot paboahon tu hita taringot tu hadirion ni bangsonta i di luat i. Pos do roha di pangebationmuna tu luat i nunga dipaingot hamu angka donganta i asa sai tongtong sada jala masiurupan jala lumobi sian i unang ditadinghon hakristenonna dohot habtahonna. Anggo taringot tu na pajongjong huria HKBP di inganan i unang pola jolo sai pahatophatophu so jolo matoras pangantusionna be unang songon parhatopna na jongjong i laos hatop nang marumpak. Nunga tartorop halak hita di Amerika, jala jongjong do HKBP di New York, California, Colorado, dohot Seattle jala na parpudi on di Philadelphia. Alai tarhirim do iba mamereng na masa disi, ai hurang di hasadaon jala na deba mabola gabe hira so adong imbarna dohot na di hita an i. Denggan be do nasida anggo di ulaonna be, pansarianna pe denggan do. Alai hasadaon i ma na hurang denggan. Nian hirimon dope tu joloan on lam denggan angka parsaoran i. Alani i, tu hamu angka donganhu naung tolhas tu Qatar, horas ma hamu di luat on, dipasupasu Tuhanta ma hamu sude, ingot hamu Tuhanta i, ingot hamu bangsonta i, ingot hamu hutanta i. Songon na nidok ni na tuatua ma dohonon:”Tangkas ma uju Purba,tangkas ma uju Angkola. Tangkas ma hamu maduma, laos tangkas ma hamu mamora !!”
Bravo…
artikel yang sangat inspiratif!
just do it!!
horas
membacanya saya pusing amg, org kita ke timur tengah buat bekerja, org sana beli saham perusahaan2 disini.. globalisasi..
senang melihat bhw teman2 yg disana sukses dan tdk bekerja hanya sekedar menjadi prt seperti derita yg sering diekspos media. saya pernah membaca ada yg jd arsitek bangunan2 modern disana, chef hotel n dst.. horas2 ma hamu sude di na dao..
Amang RJH…..numpang tanya….apa bedanya Panombang, Pangarimba, dan Pangaranto…..
Makanya jangan bikin itu Propinsi Tapanuli (atau Propinsi Sumatera Tenggara dsb). Karena “batak” itu adalah roh: roh persaudaraan, solidaritas, kepeloporan, keterusterangan, keberanian, dan kesetiaan.
Jangan kurung roh itu dalam sangkar kepentingan politik jangka pendek yang bernama Propinsi Tapanuli, sangkar pamer materi yang bernama pesta-pesta pernikahan di Mulia Raja (atau Mangaraja, Kolpatarin dsb), atau sangkar (entah apalah namanya) dalam gosip tentang Hotman Paris Hutapea dengan Meriam Bellina.
Biarkanlah roh itu bebas mencari rumah yang disukainya di muka bumi ini.
Teringat lagu / koor yang bersyair sbb :
Molo saut ho lao, borhat tu na dao,
holan Jesus ma baen dongan mi
Togu on Na ho, jakkon on Na ho,
sai tiur sudena lakkami
.
.
dst
http://www.oilgrads.com/StudentJobs.asp
Horas !
@ elumban
panombang ialah orang yang pergi ke luar daerahnya untuk membuka lahan pertanian yang baru.
pangarimba adalah orang yang membuka lahan pertanian yang baru dengan cara membabat hutan/ belukar. ini dapat dilakukan di daerah sendiri atau di luar daerah.
pangaranto adalah orang yang keluar dari daerahnya mengadu untung, dan, pada umumnya, tidak ada hubungannya dengan bertani/pertanian.
tombang, rimba, dan ranto adalah bahasa batak asli.
kata manombang yang dipakai oleh DTA bagi saudara kita di Qatar sebenarnya, lebih tepat, mangaranto. namun, tidak ada salahnya untuk memberi kesan yang lebih sederhana seperti kata “marhaismartuduk” bagi orang yang bekerja walaupun penghasilannya jauh dari penegrtian kata itu sebab marhaismartuduk sebenarnya seekor ayam yang, setelah keluar kandang, “marhais” (mengais) sampah lalu “manuduk” (memakan dengan cara mematuk) makanan yang ditemukan dan tidak ada yang dibawa pulang ke kandang. songon i ma jolo, mauliate.
@rjh:
mauliate amang atas penjelasannya, pertanyaan saya tersebut didorong oleh keragu-raguan saya atas pengertian “manombang” dengan mengacu pada pengalaman yang saya saksikan di masa kecil saya terhadap orang-orang yg katanya pegi “manombang” ke sumatera timur.
Dari pengalaman tersebut saya melihat bahwa manombang dilakukan pada saat itu sifatnya temporer. Beberapa sanak saudara dari desa-desa kecil sekitar Siborong-borong pada suatu bulan tertentu akan rame datang ke kota Siborong-borong utk pergi Manombang, dan beberapa bulan kemudian akan menjadi rame kembali ketika para “panombang” tersebut pulang kampung.
Dari kondisi tersebut saya mencoba menafsirkan bahwa dorongan manombang adalah ketika hasil panen dari lahan yang tersedia (ala ni tungil ni tano humbang), tidak mencukupi utk keluarga tersebut, sementara kondisi lahan tidak bisa dipaksakan lagi utk produktive, sehingga pada periode menunggu pengolahan lahan tersebut, atau masa panen yg akan datang, orang-orang pergi manombang dan akan pulang kembali ketika masa “mangula” di kampung halaman sudah akan mulai. Jadi mereka tidak membuka lahan baru – “mambuka huta”, di lahan yang belum pernah disentuh sama sekali. Dalam konteks saat ini menurut saya panombang adalah “pekerja migran”, yang tujuan utamanya hanya mendapatkan pekerjaan untuk saat tertentu saja. Menurut saya “Pangaranto” atau dikampung kami sering disebut sebagai “Parjalang”, adalah orang-orang yang secara sengaja pergi keluar dari daerahnya kesuatu tempat untuk tujuan memulai hidup baru menetap di daerah baru tersebut.
Maaf ini hanya intermesso saja…..saya tetap salut dan hormat kepada teman-teman yang bisa dan mampu bekerja di luar negeri – terutama angka pinaribot, namarbaju boru Batak na “koji”. Keberhasilan mereka bisa bekerja di luar negeri pasti didukung oleh keberanian yang luar bisa dan kemampuan intelektual dan skill yang jauh lebih baik dari teman-teman seperti saya ini yang hanya bisa laku kerja di pasar domestik.
@ elumban
“pekerja musiman” seperti dari Siborongborong, dulu, ke Tarutung seingat saya disebut sebagai “pangombo” yaitu membantu pemilik sawah pada musim panen atau musim turun ke sawah dan menerima upah sesuai kesepakatan, kemudian pulang ke kampung. para “panombang” disamping membuka lahan, mengelola, selalu mendirikan tempat tinggal, dan akan menetap di sana jika panombangan mereka berhasil. Hanya para panombang yang gagallah yang pulang ke kampung atau mencari lahan panombangan ke daerah yang lain.
boleh-boleh saja “pangaranto” disebut parjalang, atau pangaranto adalah kata lain dari parjalang. namun karena kata “jalang” dalam bahasa Batak ada konotasi positip dan negatipnya maka pada umumnya orang Batak lebih suka memakai kata pangaranto walaupun kata parjalang bisa juga dipakai. Horas ma. Songon na manambai do i laho pamorahon pangantusionta.
Salut buat saudara-saudara (baca:batak)yang ada di qatar
Semoga Tuhan menyertai saudara2 semua
Permisi, numpang lewat….
( Just Info , siapatau sedang di tunggu-tunggu )
Saat ini sebagian sudah mulai dan sebagian akan mulai penerimaan prajurit (Bintara, Akpol, Perwira Karir, dll ) di POLRI, TNI AD, TNI AU.
Silahkan klik “Info penerimaan” di atas dan lihat di Page Info Penerimaan.
Suku Batak adalah salah satu suku bangsa yang sangat diberkati!
Terimakasih untuk catatannya Amang.
Horas.