Hari Ini & Tujuh Tahun Yang Lalu
Oleh: Ingkan Tiara Simanjuntak.
28 April 2002. Mama ulang tahun hari ini. Hari libur pula. Senang hatiku, turun tangga ke kamar makan membawa kado untuk Mama. Mama sudah di bawah dengan secangkir kopi dan rokok kesukaannya. Setelah cium pipi kiri-kanan aku bertanya, “Kemana Bapak, Ma?”, jawab Mama, “Oh, lagi ganti plat mobil, kak. Nanti kita rencana mau ke lontong sayur Kemanggisan, untuk makan siang kita, dan keluarga Onkel No, mereka mau bawa cheesecake lho untuk ulang taun Mama”. Aku mengangguk senang, dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Kembali ke ruang makan, ngobrol dengan Mama, Ompung.
Kejadian selanjutnya berlangsung cepat sekali. Yang kuingat, waktu itu aku di ruang tamu, sedang menelepon, ketika tiba-tiba Pak Tatang, supir kami, berteriak-teriak, “Nyonya! Tuan kok tiduran pucat di garasi! Udah ngga bergerak! Nyonya cepat!”. Mama lalu panik dan ke garasi, aku ikut berlari sambil menggedor kamar Leon,..
What happened next was really a blur. Aku ingat Mama berteriak-teriak, Om Bambang dan Mas Sandy tetangga sebelah datang, lalu Ibu Sisworo, tetangga seberang yang juga dokter datang membantu menggotong Bapakku ke kursi ruang tamu. Aku lemas, selemas-lemasnya. Tolong Tuhan, pikirku waktu itu. Jangan hari ini, jangan. Hari ini ulang tahun Mama,..
Dia berkata lain. Di kursi ruang tamu yang panjang, Bu Sisworo dengan stetoskop, pegang tangan Bapak, bilang “Ngga ada lagi, massive heart attack perkiraan saya”. Tangis Mama pecah, Ompung Mamie menjerit jerit. Aku terduduk lemas.
Bapakku dipanggil Tuhan hari itu.
***
Pak, banyak yg mau aku bilang, aku kasih tau. Banyak yang Bapak musti liat di Jakarta. Pasti seneng deh sekarang banyak loh Pa tempat-tempat kopi, bukan cuma Oh La La langganan Bapak aja tuh yang dibawah tangga Sogo, yang sekarang juga udah ga ada lagi.. banyak toko buku baru Pak, bukan cuma Times aja. Puas deh Pak sekarang kalau mau cari-cari buku…
Sekarang, dikit-dikit pakai internet Pak. Kirim apa-apa pakai e-mail. Dulu Bapak juga udah sering juga kan ya kirim-kirim terjemahan via email. Ngobrol sama teman-teman Bapak lewat email. Apalagi sekarang Pak, wah dunia makin sempit. Oh ya, aku yakin kalau Bapak ada, pasti juga punya facebook deh sekarang
Dunia politik makin kisruh Pak.. Mereka yang mau kekuasaan, sekarang makin menjadi-jadi. Ramalanmu bener Pak, untuk beberapa tokoh politik yang Bapak ngga suka, walaupun dulu katanya ‘pahlawan’, sekarang mereka malah mau berkoalisi dengan orang yang dulu jadi musuh rakyat. Bapak bener banget deh Pak..
Yang terutama Pak, setelah Bapak pergi, ada malaikat-malaikat kecil yang Tuhan kirim Pak. Namanya Paco dan Belle. You’d go crazy over them, I’m sure. Bisa-bisa tiap minggu disuruh main ke Dempo deh, atau Bapak yang ke Serpong. Hehe.
Mama baik-baik Pak. Aktif pelayanan, dan masi suka rumpi dan jalan-jalan. Sama seperti dulu.
I miss you Dad, a lot. Kadang-kadang suka kemimpi Bapak, kadang-kadang Bapak ngomong, kadang-kadang kaya di film, lewat aja gitu..
Sampai nanti ya Pak.. Baik-baik disana..
Guess what Pak, it’s been 7 years and we miss you still……
If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love to dance with my father again
If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
Cause I’d love, love, love to dance with my father again
(catatan ruma metmet: dikutip dari notes di facebook dan diposting dengan ijin penulisnya)
Share on Facebook
April 29th, 2009 at 6:01 pm
Terima kasih Amang. Kehormatan bagi saya (dan alm Bapak) kisah ini bisa diposting di salah satu blog favorit saya
Tuhan memberkati Amang selalu.
- Ingkan -
Daniel Harahap:
Saya yang harus bilang terima kasih mengijinkan tulisannya dimuat di rumah sederhana ini.
April 29th, 2009 at 6:14 pm
Aduh…. aku jadi kangen sama Bapakku. Akhirnya, aku pun menekan tuts hp-ku untuk menegurnya di Tarutung. “Horas, Bapa! Ganjang ma umur mu ate jala mardongan hahipason”.
Thanks a lot, Ito Tiara. Juga kepada Amang DTA yang membagi cerita yang menghangatkan hati ini. Tuhan memberkati kita semua.
April 29th, 2009 at 7:38 pm
Dear Ingkan,
Ceritamu mengingatkan aku kepada alm Bapak & alm Mamakku…I feel blue every time I remember them…They never saw me in my very MOMENTS…ahh…seperti katamu, ada yang datang kemudian…anak-anak…Kehadiran mereka benar2 memberi warna lain bagi hidup kita…
Terima kasih utk kisahnya…
Terima kasih juga untuk Amang Pandita nami, yg membuat kita beralih sejenak dari hingar-bingar negeri ini..
April 29th, 2009 at 7:56 pm
Tks, untuk cerita ini aku jadi berubah fikiran sekarang…tadinya aku menolak u datang ke Medan reuni sama keluarga besar di usia bapak yg ke 75 Agustus nanti…ah lama sekali waktu itu tiba, aku ingin memeluknya belum terlambat kurasa kiranya Tuhan memberkati.
April 29th, 2009 at 10:17 pm
Ayah, dengarkanlah, aku ingin bertemu, walau hanya dalam mimpi.
Saya jadi terdorong berbagi cerita, tentang ayah yang bagi saya ’sangat super’. Beliau hanya sampai kelas 3 SR tidak selesai karena ibunya meninggal, tapi bekerja keras dan berjuang bersama ibuku menghantarkan sembilan anak-anaknya semua melewati universitas, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan. Saudara dekat dan jauh, yang sungguh-sungguh mau sekolah, didorong dan dibantu, walau tanggungannya sendiri sangat berat. Itu salah satu, ’super’-nya almarhum ayah saya, banyak lagi perilaku sehari-hari dan sikap hidupnya yang patut diteladani. Sayang, beliau cepat pergi dan begitu tiba-tiba. Sabtu malam, 22 Des 2001, saya masih berbicara dan bercanda dengan beliau melalui telepon. (saya di Jawa, beliau di Tapanuli). Minggu, 23 Des, kata ibuku, mereka mengikuti kebaktian di Gereja dan pulangnya ayahku latihan koor ama, sehat tidak ada apa-apa. Senin 24 Des 2001, seperti biasa kami di perantauan ini mempersiapkan segala sesuatunya untuk malam Natal. Kami bersaudara beserta keluarga, biasanya kumpul makan malam bersama di rumah salah satu anak, sehabis kebaktian Natal di gereja masing-masing. Siang hari Pukul 13:48, saya menerima telepon mengabarkan Ayahku sudah tiada.
Malam itu orang semua bersuka cita merayakan Natal, tapi kami berkumpul berurai air mata, mengurus segala sesuatu untuk bisa pergi ke Tapanuli besok paginya tgl. 25 Des 2001. Hatiku hampa, tidak mampu memahami arti kepergiannya yang tiba-tiba di hari Natal.
Sampai sekarang, saya masih sering merindukan kehangatan kehadiran ayah di sampingku, dengan segala obrolannya, perkataannya, tindakannya, nasehatnya, kerapiannya, ketelitiannya, kerja kerasnya, kesederhanaannya, keramahannya, dan… banyak lagi yang patut kami tiru dan teladani.
Jika rindu tiba-tiba menyusup ke dalam hati, saya memilih untuk menyanyikan lagu koor atau lagu gereja yang beliau sering nyanyikan, terkadang saya ajak anak-anak kami ikut menyanyikannya, atau mengingat kejadian yang mengesankan dengan beliau dan menceritakannya kepada anak-anak kami, atau saya bertelepon kepada salah seorang saudara saya, dan mengatakan, saya sedang rindu pada ayah kami lalu kami berbagi cerita. Apabila rindu itu menyusup terlalu dalam, membuat hati sampai bersedih, saya pilih menyendiri, membaca atau menulis.
Sdr. Ingkan, mari kita ‘hidupkan’ ayah kita di dalam memori kita, dengan mengingat apa-apa yang baik yang dilakukan pada masa hidupnya, dan mari kita coba melakukannya dalam hidup kita.
April 29th, 2009 at 11:44 pm
the words you wrote… so true..
the song you sang… so touching..
the emotion you bring across… so deep..
we miss you too onkel Pitt…!!
GBU all…
April 30th, 2009 at 8:36 am
Doa yg slalu ku panjatkan ,
sempatkan Bapa..kami membahagiakan kedua orangtua kami dimasa tuanya.
April 30th, 2009 at 11:19 am
it’s very touching…
so deep..
salah satu artikel terbaik yang menguraikan cerita tentang seorang Bapak,,, mengekspresikan kehangatan sekaligus mengundang haru yang amat sangat. I will dance with ma dad as soon as i see him
Thanks God for this great article!
April 30th, 2009 at 11:41 am
ya Tuhan Allahku, berkatilah bapak dan mamakku di Medan, berilah mereka kesehatan dan pikiran yang tetap jernih, sehingga mereka tetap mampu menyembah dan memujiMU, dan ijinkanlah rencana kami merayakan Jubileum bapak dan mamakku di bulan Juni nanti, kiranya kami semua anak-anak dan semua cucu-cucu mereka bisa hadir, terutama anak2ku Peter dan Andreas juga bisa hadir, sehingga kami bisa membahagiakan hati orangtua kami yang tercinta itu, dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, amin.
April 30th, 2009 at 12:16 pm
I Love You Dady… You are my Hero Always… in My dreams……
Kalau aku liat batik cantik pengen deh rasanya mo beliin satu for my dad.. sayang … ia pergi waktu aku masih kecil….
Thanks banget buat cerita ini…. jadi nagis juga neh… tapi biarlah… sudah lama tidak menangis….kesibukan seringkali melupakan kenangan2 indah itu….
April 30th, 2009 at 1:27 pm
Ikut bahagia untuk para pengunjung di atas krn bisa bercerita tentang ayahanda terskasih krn saya tidak pernah merasakannya (Bapak saya pergi memenuhi panggilan Bapa di sorga saat saya berusia 3 thn) moga2 para bapak yg sdh membaca kisah ini menjadi ayah yg lebih baik dari saat ini.
April 30th, 2009 at 1:30 pm
Sungguh saya tdk tahan tidak ikutan berkomentar amang sdh kecanduan benar nih
May 1st, 2009 at 3:36 pm
Terima kasih utk berbagi rasa…hal yg sama kurasakan ttg bapakku…miss him so…
May 23rd, 2009 at 11:16 pm
Ingkan…long time no see….
biasanya cuman jadi pembaca setia ruma metmet
n surprise i found u my best friend….
datang melayat waktu itu,,,mungkin krn terlalu ramai, jd tdk sempat merasakan (deeply) your feeling at that moment…
but, tonight when i read the story…
i know your father must be proud of you…
let your children listen…and
never stop the story…
miss u a lot
June 3rd, 2009 at 8:57 am
Duh.. speechless.. so touching..
Terharu..
Thanks sudah berbagi..
December 9th, 2009 at 4:47 pm
jadi inget kisah dulu…Aku yakin kita jadi semakin sayang pada orangtua kita.
January 19th, 2010 at 1:26 pm
Ayah
Oleh: Rinto Harahap
Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku….s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi
Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, daku ingin bernyanyi
Dengan air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…