Apakah Sebenarnya Yang Kau Minta?
Almanak Rabu 29 April 2009:
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7)
Tuhan sangat mengasihi kita. Dia pasti menjawab dan mengabulkan doa kita. Itu sudah kita tahu dan sering kita dengar diucapkan. Persoalan: apakah sebenarnya yang ingin kita minta? Apakah sesungguhnya yang kita cari dalam hidup ini? Dan untuk apakah sebetulnya kita mengetok pintu?
Jujur, sebenarnya kita sering tidak tahu apa yang sangat kita butuhkan dan inginkan dalam hidup ini. Sebab itu dalam doa kita kadang meminta apa yang justru tidak kita perlukan dan sebaliknya lupa meminta apa yang kita paling butuhkan. Atau kita meminta segalanya tanpa berpikir panjang apakah yang kita minta itu memang kita perlukan atau tidak.
Doa memang adalah permohonan atau permintaan. Tuhan mengijinkan dan bahkan menyuruh kita memohon kepadaNya dan Dia berjanji mengabulkannya. Pertanyaan: apakah sesungguhnya yang kita pohonkan? Apa yang kita cari? Disini kita diingatkan bahwa doa bisa merosot dan berubah menjadi sekadar rangkaian kata-kata nyaring namun kosong, asal bunyi sebab itu tidak bermakna. Yaitu ketika doa tidak lagi dipikirkan dan dirasakan baik-baik namun hanya asal diucapkan.
Tuhan sangat mengasihi kita. Dia mau menjawab dan mengabulkan doa kita. Sebab itu marilah kita berdoa sungguh-sungguh. Marilah kita menjadikan doa kita suatu kesungguhan. Kalau perlu latihlah diri berdoa: ambillah secarik kertas. Tuliskanlah sebanyak-banyaknya yang Saudara butuhkan dan inginkan diberi oleh Tuhan. Lantas pilihlah tiga dari antara daftar permintaan itu. Anggaplah (baca: anggaplah) Tuhan hanya mau memberi tiga saja, yang lain tidak. Sebab itu pikirkanlah dan renungkanlah tiga hal yang paling penting atau mendesak, bernilai dan berguna bagi Saudara. Dan bawalah tiga hal itu dalam doa Saudara.
Doa:
Bapa kami yang di sorga. Dikuduskanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya…….. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
April 29th, 2009 at 8:33 am
Namun adakalanya doa kita itu tidak langsung atau bahkan tidak sama sekali dikabulkan oleh Tuhan. Hal tsb dikarenakan dosa yang kita perbuat, isi doa kita itu mengandung unsur perintah, dll. Hal ini menuntut perbaikan dari diri kita sendiri.
April 29th, 2009 at 8:44 am
Sering kita berdoa pada pagi hari maupun sebelum tidur, jenis doanya setiap hari sama dan akan keluar dari mulut kita secara otomatis dan kata-katanya pun tidak berobah dan masih berkisar pada anak, suami, isteri, orang tua. Walaupun doa itu kelihatan seperti rutinitas tetapi segi positipnya masih mengingat Tuhan dan menyadari kelemahan diri sendiri sehingga perlu minta perlindungan. Memang benar kalau mau berdoa harus dipikirkan dulu apa yang mau dimintakan kepada Tuhan dan perlu penyusunan kalimat. Bila seseorang berdoa syafaat ada yang pendek dan ada pula yang sangat panjang/ lama sehingga orang dapat tertidur pulas atau renges, bohado kriteria doa syafaat seperti ini amang panditanami.
Daniel Harahap:
Sesuatu yang otomatis dan mekanis bukan lagi doa namanya.
April 29th, 2009 at 8:48 am
Tuhan terimakasih atas berkat anugrah yang Tuhan Anugrahkan kepada kami melalui istri,anak-anak dan pekerjaan saya . namun setiap malam ketika berdoa saya selalu minta ampun banyak-banyak atas uang masuk yang saya dapatkan pada hampir setiap hari yang kadang hasil rekayasa atas kemudahan dengan menggunakan jabatan saya.
Saya menyadari itu salah dan saya berdoa kiranya Tuhan membukaka sumber rejeki baru untuk saya dan keluarga, masalahnya di perusahaan tempat kerja saya sudah punya standart penggajian yang tetap,sementara saya juga punya standart sendiri sesuai dengan pola pikir saya maka untuk mengantisipasi ini setiap hari ide kreatif akan muncul mulai dari menggunkana jam kantor untuk keperluan pribadi, selalu membuat fee tidak resmi dalam beberapa pekerjaan yang tentunya dari segi ekonomi lancar tapi hati saya berpikir tetap merasa bersalah. Doa saya kiranya Tuhan menambahkan saluran berkat kepada kami membukakan saluran berkat baru yang halal baik melalui istri maupun saya agar tetap bisa menjaga kekudusan seluruh rezeki yang boleh kami terima. Kadar seperti Doa Bapa kami “berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya” kata secukupnya ini kadang setiap orang beda “tergantung latar belakang orangnya,latar belakang pendidikannya,status sosialnya dll, apakah kita boleh berusaha memperbaiki standart hidup kita sedikit lebih kreatif, memamfaatkan situasi jabatan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan standart kita (bukan foya-foya)? apakah harus kita tinggalkan sumber penghasilan kita yang sekarang dengan berspekulasi mencari yang baru…bingung saya jujur.
April 29th, 2009 at 8:54 am
kadang kita ga tau apa yang kita minta itu kita butuhkan atau tidak
semua harus diselaraskan antara Pemberi dan yang diberi
kita Meminta sesuai dengan apa yang akan kita terima
April 29th, 2009 at 9:04 am
Saat meminta, yakinlah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita dan percayakan seluruhnya hidup kita dalam tangan kuasaNya yang mampu mencurahkan berkat berkelimpahan
April 29th, 2009 at 9:43 am
Disini kita diingatkan bahwa doa bisa merosot dan berubah menjadi sekadar rangkaian kata-kata nyaring namun kosong, asal bunyi sebab itu tidak bermakna. Yaitu ketika doa tidak lagi dipikirkan dan dirasakan baik-baik namun hanya asal diucapkan.
Berdoalah meminta dengan sadar tidak dalam keadaan mabuk, marah, dan memohonlah bagai anak kecil yang tidak berdaya, tutup mata, lipat tangan dan carilah tempat yang hening dan menghadaplah pada muka Jesus yang penuh belas kasihan dan soadahon dirim
April 29th, 2009 at 10:43 am
Pengalaman saya, doa yang benar-benar dikabulkan adalah doa yang berisi hal yang memang benar2 kita butuhkan dan kita doakan (serukan) dengan tulus. Mungkin ini cocok dengan ayat Sidi saya, “Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku” (Mzm 138:3).
April 29th, 2009 at 11:07 am
Semakin senior saya dalam pandangan masyarakat semakin banyak masalah keluarga yang dibentangkan di depan saya, padahal saya sama sekali tidak merasa ahli dalam bidang ini. Saya maunya fokus pada soal etos kerja, manajemen, dan organisasi saja, tapi kok soal-soal familial semakin sering diajukaan.
Jadi, ini satu dari yang tiga tersebut: Ya, Tuhan karuniakanlah hikmat dan pengertian bagi saya untuk mampu bahkan cakap memberi solusi bila masalah-masalah keluarga diperhadapkan pada saya: menggunakan baik mindset, skillset, maupun toolset yang benar dan efektif.
Terlebih, keluarga kecil kami pertama-tama kiranya bisa berhasil dalam berkeluarga oleh berkat-Mu. Amin.
Btw, amang DTA, family center atau family empowerment service [apalah namanya terserah] sudah sangat perlu dibikin sebagai salah satu bentuk diakonia metropolitan gereja kita.
Daniel Harahap:
Setuju sekali Amang. Gereja memang harus menjadi salah satu pusat penyembuhan dan pemulihan keluarga. Namun jujur saya tidak tahu mau memulainya dari mana dan kapan.
April 29th, 2009 at 12:20 pm
Apapun yang kita inginkan saat ini, fokuslah lah pada Tuhan bukan pada usaha/cara mencapai keinginan itu…Kuasa Tuhan diatas segalanya. Amin.
April 29th, 2009 at 1:10 pm
Ada 3 jawaban untuk Doa :
1. Ya
2. Tidak
3. ” Tunggu ”
Daniel Harahap:
4. Ya dan lebih banyak (Ef 3:20)
April 29th, 2009 at 3:18 pm
Ya Tuhan..
Turunkanlah kepada kami kutuk, jika itu akan membuat kami sadar akan kesalahan kami..
Berikanlah kepada kami bencana jika itu akan menyucikan moral bangsa kami. Amin
April 29th, 2009 at 3:20 pm
Menarik sekali renungan hari ini, tentang meminta kepadaNYA.
Kita sering salah kaprah tentang meminta melalui doa, kita berdoa terus-menerus akhirnya karena tidak dikabulkan menjadi mandele bahkan malah “mengecam ALLAH”, padahal kuncinya hanya ada pada diri kita. Meminta kepadaNYA berlaku hukum BAPAK-ANAK. Kita meminta sebagai anak, meminta kepada bapak, oleh karenanya usahakan kita dikenal oleh bapak. Agar kita anak dikenal BAPA disurga itu hanya melalui iman percaya kita.
Coba bayangkan : kita orang tua lagi duduk-duduk di teras sambil baca koran, datang anak tetangga lalu berkata: “pak, minta uang beli mainan dong!” Boa ma roham? Olo do hita manonggakhi apalagi hita boto do anak ni tetangga i na jugul ” he…anak nise do ho, malo-malo ho mengido epeng tu au?” Bukankah begitu kira-kira Bapa di surga terhadap doa kita.
Hiduplah sebagai berikut:
I Yohanes 3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
dan jika kita seperti ini:
Yohanes 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Bukankah DIA berkata:
Matius 17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
GBU
April 29th, 2009 at 3:39 pm
” Tuhan berilah aku kebijaksanaan untuk membedakan apa yang sebenarnya ku inginkan dan apa yang benar-benar aku butuhkan.. dan ajarlah aku untuk memahami semua rencana dan kehendak Mu. dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan juru slmat ku, aku berdoa.. amin ”
oya Amang. Ayat Renungan hari ini, ayat malua saya… terimakasih amang untuk penjelasannya. Tuhan memberkati
April 29th, 2009 at 7:02 pm
Doa memang sarana untuk kita bercengkerama dengan Tuhan (krn Dia Bapa kita) namun acapkali kita membutuhkan juga orang-orang mendukung kita (salahkah ?…… ) . Memang Tuhan penjawab doa hanya saja waktunya DIA sahaja yang tahu, kapan….. nah menunggu waktu kapan itulah terkadang orang jenuh , bosan, jadi gak doa lagi…. alangkah baiknya seseorang yang mengalami suatu tekanan, masalah, mau membagikan kepada orang lain yang dapat dipercaya….(Hamba Tuhan/pelayan TUhan). supaya tetap kuat dan tetap bertahan dan tetap percaya ….
Bila kita bisa menguatkan orang yang lemah kenapa tidak kita lakukan…hitung-hitung jadi berkat.