Berkat Bagi Yang Punya & Tak Punya Anak

April 28, 2009
By

Almanak Selasa 28 April 2009:

miserikordias-domini-2.JPG

Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. (1 Samuel 1:27)

Walaupun pengetahuan biologi dan teknologi kedokteran serta kebidanan telah sangat berkembang, iman saya yang terdalam mengatakan kelahiran anak sebagian tetap merupakan misteri. Hanya Tuhanlah yang mengetahuinya secara persis. Ada beberapa pertanyaan yang sangat sulit dijawab (karena itu sebaiknya kita hati-hati, tidak asal bunyi, apalagi menganggap diri terlalu tinggi): Mengapa sebagian orang begitu mudah mendapatkan anak dan sebagian lagi begitu sulit dan kadang menunggu bertahun-tahun? Dan sebagian lagi tidak mendapatkannya seumur hidupnya, dan kalau tetap ingin memilikinya harus mengadopsinya? Bagi saya pertanyaan-pertanyaan itu tetap sebuah misteri Allah. Sebab itu saya acap lebih banyak diam, merenung dan merunduk hormat kepada Tuhan Allah dan kepada sahabat yang menanyakannya dengan penuh harapan.

Dalam Alkitab ada kisah pasangan yang lama tidak memiliki anak dan berdoa memohon kepada Tuhan agar dikaruniakan anak. Yaitu: Elkana dan Hana. Doanya dijawab oleh Tuhan. Abraham dan Sara juga lama tidak mempunyai anak namun kemudian memiliki turunan yang besar. Yesus dan Paulus tidak menikah sebab itu tentu tidak memiliki anak. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga menyaksikan banyak orang yang sungguh-sungguh berdoa agar dikaruniakan anak dan lantas doanya dikabulkan oleh Tuhan. Mereka sangat berbahagia dijawab Tuhan dan kita pun ikut bahagia menyaksikannya. Namun sebagian lagi doanya memohon anak tidak dikabulkan. Lantas bagaimana dengan yang terakhir ini? Apakah mereka tidak diberkati Tuhan dan karena itu tidak berhak bahagia?

Kembali ke pokok: iman saya mengatakan kelahiran anak tetaplah sebuah misteri yang hanya Allah yang tahu. Kita boleh dan memang harus berusaha (termasuk berobat memeriksa kesehatan badan dan jiwa) agar cinta kita membuahkan anak. Kita juga harus berdoa tekun dan penuh harap agar Tuhan berbelas kasih dan memberi kita anak. Namun soal kelahiran anak ini sebagian tetap misteri. Yang pasti adalah: Tuhan baik kepada kita semua. BerkatNya melimpah atas mereka yang menikah atau tak menikah, punya anak atau tak punya anak, memiliki anak laki-laki atau hanya perempuan atau dua-duanya. Dan Tuhan menginginkan kita semua tanpa kecuali hidup penuh bahagia dan bermakna. Sebab itu baiklah kita semua kembali ke hakikat panggilan kemanusiaan kita, yaitu: mengasihi dan berkarya. Sebab hanya dengan demikianlah kita bahagia dan merasa hidup kita melimpah dengan makna. Sekali lagi: tetaplah mengasihi dan berkarya.

Doa:

Tuhan Allah, tidak semua dalam hidup ini kami pahami dan ketahui. Namun ajarlah kami tetap taat dan setia kepadaMu. Ketika ada pertanyaan yang tak terjawab oleh kami dan ketika kami diliputi oleh misteri dan rahasia Ilahi, penuhilah hati kami dengan keikhlasan. Berkatilah kami berlimpah-limpah dengan kasih dan damaiMu. Kami ingin hidup senantiasa bergembira dan bersemangat serta berbahagia. Sebab itu ajarlah kami tetap mengasihi dan berkarya dalam hidup ini. Demi Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Tags: , , ,

32 Responses to Berkat Bagi Yang Punya & Tak Punya Anak

  1. Siregar on April 28, 2009 at 8:02 am

    Mohon doa nya amang, keluarga kami merindukan anak kedua.

  2. Butet Aruan on April 28, 2009 at 8:34 am

    Bener banget Bang….
    Malah ada juga yang telah diberikesempatan hamil, tapi kemudian keguguran.

    Bantu dalam doa ya Bang, buat adikku yang saat ini sedang hamil untuk yang kedua kalinya(setelah lebih dari tujuh tahun menikah). Kehamilan yang pertama dia mengalami keguguran. Doakan semoga kehamilannya yang sekarang lancar sampai melahirkan.

  3. Merry on April 28, 2009 at 8:36 am

    Sungguh indah renungan hari ini.. Abang saya sudah berkeluarga 8 thn tapi belum punya anak.. Engkau tau Tuhan mereka sangat berharap punya anak, dan kami tau Tuhan baik kepada semua orang, kabulkanlah permohonan mereka Tuhan. Amin

  4. sara rossa on April 28, 2009 at 8:56 am

    Pagi ini kembali iman sy dibangkitkan membaca tulisan diatas yg pantas u/.direnungkan lebih dlm. Benar kelahiran anak adlh misteri hanya Tuhanlah yang tau, kami telah dipersatukan Tuhan dlm mahligai rumah tangga yg penuh sukacita dan kebahagiaan, meskipun saat ini hampir 10 thn kami menikah Tuhan blm mengabulkan permohonan doa pergumulan kami yaituL keturunan (anak yg takut Tuhan). Kami tetap bersyukur dan berterima kasih padaNya, Dialah Allah yg perkasa, yg besar agung dan mulia mengasihi kami dan penuh belas kasihan senantiasa memperhatikan dan memelihara kami selamanya.Tuhan melihat segala kerinduan anak2Nya, Kami yakin Kuasa Tuhan ajaib dan pertolonganNya tepat pd waktuNya.

    FirmanNya: diberkatilah org yg mengandalkan Tuhan yg menaruh harapan dan pengharapannya kpd Tuhan ia tdk akan dipermalukan dan di kecewakan. Itulah iman kami, Tuhan punya kuasa, tdk putus2nya kami berharap dlm d’a dan pengharapan. Tuhan melihat sgl usaha dan upaya, tolonglah kasihanilah kami keluarga yg merindukan keturunan anak yg didlm pengharapan pd Tuhan….kabulkanlah do’a km ya…Tuhan! Terpujilah namaMu yg Agung itu ya Tuhan Raja s’gala Raja.

    Amang Pdt. dohot sude namanjaha tulisan on, dgn sgl kerendahan hati km mhn dukungan doa. mauliate mardongan tangiang tu hamu sude.

    Daniel Harahap:
    Saya ikut doa. Tetaplah berharap sambil berusaha. Yang paling penting: tetap gembira dan semangat. Tetap mengasihi dan berkarya sebab di situlah terletak makna kehidupan dan kebahagiaan sesungguhnya.

  5. linda belle on April 28, 2009 at 8:58 am

    terimakasih amang atas almanak hari ini
    soalnya it happen to me also, udh 3thn menikah tp blum dikaruniai anak. benar kata amang, bahwa ada atau tidak adanya anak, Tuhan tetap memberkati kita selalu, semoga saya & suami tetap sabar dan tetap tekun berdoa dan berusaha ya amang..

    Daniel Harahap:
    Saya garis bawahi: ada atau tidak ada anak (juga menikah atau tidak menikah) kita harus bahagia dan membuat hidup kita penuh makna, sebab Tuhan memberkati kita dan menganggap kita sungguh mulia.

  6. leonard on April 28, 2009 at 9:05 am

    kami juga merindukan anak kedua, anak pertama sudah umur 9 tahun
    penantian berkatNYA kami selalu nantikan
    hanya padaNYA kami berharap.

    Daniel Harahap:
    Harapan membuat kita tetap gembira hidup di dunia. (Roma 12:12)

  7. Ismail Napitupulu on April 28, 2009 at 9:16 am

    Doa yg sederhana ketika istriku ulang tahun setahun yg lalu, aku meminta kpd Tuhan bahwa aku ingin sekali memberi hadiah yg terindah dlm hidupnya yaitu buah cinta kami setelah 4 thn pernikahan kami. Puji Tuhan tgl 31 Mar 2009 yg lalu kami sudah dikaruniai seorang bayi perempuan yg mungil & sehat. Allah begitu baik karena sudah mengabulkan permohonan kami. Doa kami untuk teman yg blm punya anak, semoga dalam waktu tidak lama lagi kerinduan kalian akan di jawab Tuhan.

    Daniel Harahap:
    Kami ikut bahagia. Selamat menjadi ayah. Jangan berhenti menjadi suami dan kekasih yang baik. :-)

  8. Manna on April 28, 2009 at 9:25 am

    Saya sangat sepakat dengan adanya MISTERI dalam hal ingin memiliki anak, atau lebih tepatnya penciptaan Tuhan dalam hal manusia. Harus diingat dan diakui, menurut kedokteran banyak sekali tahapan yang terjadi atau proses dalam hal pembentukan janin/fetus. Dan, dalam setiap tahapan itu ternyata tidak sepenuhnya tergantung pada teknologi atau teori ilmu semata. Tuhan bekerja pada tiap langkah, tiap tahapan, tiap prosedure yang harus dijalani. Itu berarti bila kita lupa bahwa dalam salah satu prosedure kita tidak membiarkan Tuhan bekerja, sama halNya kita hanya mengandalkan teknologi, kekuatan atau kehebatan ilmu saja. Sangat setuju kita harus tunduk, diam, merenung dalam konteks memiliki anak, juga bila kita memohon anak ke padaNya. Dan, akhirnya apapun, bagaimanapun kita masing-masing sekarang; imanku, iman kita harus mengatakan Tuhan Yesus baik.

  9. abrianto nababan on April 28, 2009 at 9:30 am

    Tuhan kuatkan kami dalam menghadapi semua permasalahan dalam hidup kami, jangan biarkan kami bersandar kepada pemikiran kami sendiri, karena hanya Engkau yang tahu apa yang terbaik buat kami, kehendakMU lah yang jadi, Amin

  10. benny manurung on April 28, 2009 at 9:35 am

    Jarang sekali terdengar renungan ini di kumpulan Batak Kristen… bahkan dari pendeta HKBP sekalipun… renungan ini sungguh menyejukan hati umat yang tercabik-cabik pegangan hidup umumnya orang batak “harus punya keturunan, bahkan harus keturunan laki-laki, kalau tidak….”

  11. Netty Sihombing Nababan on April 28, 2009 at 10:17 am

    Sebuah renungan yang menguatkan iman saya. Kekuatan untuk tetap berpengharapan kepadaNya dan tetap setia kepadaNya. Sekalipun apa yang diharapkan belum terjawab, tapi yang kami yakini : TUHAN LEBIH TAHU YANG TERBAIK BUAT KAMI. Mohon doanya Amang, kalau TUHAN BERKENAN , kami diberikan berkat untuk memiliki & merawat anak. Tapi kalaupun TIDAK, kami dikasih kekuatan untuk mengaminkan semua rencana TUHAN untuk KELUARGA bahwa itu adalah yang TERBAIK dari TUHAN.

    Daniel Harahap:
    Proses kelahiran atau penciptaan manusia tetap misteri Ilahi. Artinya: kita tidak pernah bisa tahu persis. Merespon misteri semacam ini kita harus tetap terbuka, ikhlas dan penuh hormat dan harap. Sebab itu tidak perlu buru2 juga mengatakan Tuhan menghendaki kami tidak memiliki anak. Namanya juga misteri, dari mana tahu? Atau sebaliknya berkata: kami mutlak memiliki anak. Artinya: terus saja berupaya dan berdoa. (Mengupayakan apa yang sedang didoakan, dan mendoakan apa yang sedang diupayakan). Namun dalam semua itu tetap gembira dan rileks serta membuat hidup bahagia dan bermakna, dengan mengasihi dan terus berkarya.

  12. Netty Sihombing Nababan on April 28, 2009 at 10:50 am

    Amin. Kiranya Tuhan memampukan kami untuk bisa melakukan itu semua Amang.

  13. Marlina on April 28, 2009 at 11:32 am

    Wah..membaca renungan ini dan komentar rekan-rekan..saya merasakan semangat baru. Saya memang baru menikah, namun usia saya yang tidak muda lagi untuk hamil pertama membuat keinginan memiliki anak selalu ada dalam doa permohonan saya kepada Tuhan. Apalagi semua nasehat-nasehat yang diberikan pada pesta adat pernikahan kami selalu diselipkan kata “marurat tu toru, mardakka tu ginjang ma hamu” (maaf kalau saya salah tulis..) rasanya masih selalu terdengar ditelinga. Semoga bukan hanya yang ingin memiliki anak saja yang boleh diberi kesempatan membaca renungan ini, namun anggota-anggota keluarga yang memiliki saudara yang belum memiliki keturunan hingga saat ini,sehingga mereka lebih bijak bersikap.Saya masih simpan dalam dompet saya, tulisan doa Amang untuk keluarga yang merindukan keturunan (yang saya perkecil) sejak saya menikah..Doakan kami semua Amang yang merindukan keturunan…

  14. ana on April 28, 2009 at 11:47 am

    Begitu membaca renungan hr ini…airmataku lgs jatuh.
    Tuhan, dengar doa dan permohoan kami yg sangat merindukan hadirnya seorang anak ditengah-tengah keluarga kecilku stlh 6th berumah tangga, jgn kehendakku tp kehendakMu lah yg jadi…Amin…

  15. Jansen H. Sinamo on April 28, 2009 at 12:16 pm

    Ya, kami adalah keajaiban terbesar kosmos, anugerah terdahsyat Tuhan, maka kami mensyukuri kejadian, kelahiran, dan pertumbuhan diri kami. Dan biarlah kami boleh Engkau pakai sesuai maksud-Mu yang terbaik.

  16. hendry yunan Pakpahan on April 28, 2009 at 12:22 pm

    Syaloom Amang, Sungguh besar dan mulia Tuhan Yesus, hari ini ketika kami menghadapi proses operasi penyakit ibu mertua, dan hari ini kami juga mendapat berkah , istri tercinta mengandung anak kami yang ke-4, biarlah karunia yang kami terima semakin menguatkan iman percaya kami ., dan kehendakMu lah yang jadi Tuhan.

  17. Panca Bonar on April 28, 2009 at 12:40 pm

    Arogansi manusia sering mengatakan , mengapa disebut misteri , kan sudah ada teknologi bayi tabung, kloning, bahkan manusia bisa mengatur waktu yang diinginkan dalam melahirkan anak menurut keinginan nya demi mendapatkan keberuntungan dsb.dsb.

    Namun memang tetap sebuah misteri, karena proses pembentukan manusia itu diawali dari terjadinya pembuahan telah terjadi perjuangan sang sperma siapa yang unggul dari jutaan sel sperma yang dikeluarkan hingga menempel pada sel telur , zygote, morula, blastula dan proses proliferasi selanjutnya menjadi foetus dan setelah 8-9 bulan bisa hidup di dunia luar sebagai bayi, kemudian digolongkan balita, anak-anak,remaja, dewasa hingga menjadi tua lalu PASTI akan mati .

    Tuhan itu maha mengetahui dan maha perencana, Tuhan itu adalah Maha Maha Maha Guru dalam bidang Epidemiologi atau Ilmu Kependudukan, sehingga jauh -jauh hari telah diciptakan manusia yang berperan dalam ber-reproduksi sekaligus diciptakan juga manusia yang menekan peningkatan jumlah manusia , yang tujuannya agar SEIMBANG.

    Jadi apakah kita punya anak, atau tidak diberi kesempatan untuk punya keturunan langsung , itulah yang dikatakan Nassim Talib dalam bukunya yang berjudul The Black Swan atau kalau saya terjemahkan dalam bahasa batak : Hahomion ni Debata. Tetaplah berkarya dan bersuka cita dan cintailah anak-anak dimanapun anda berada karena diantara merekalah terletak kerajaan surga.

  18. Hotlas Manroe on April 28, 2009 at 12:40 pm

    Pak Pdt.. papa ku berdarah AB dan mamak O (gol darah tidak masuk akal akan bisa melahirkan anak ) dan saya sadar kelas 3 smp bahwa kedua gol darah tidak akan bisa melahirkan anak. Mamak telah 5 kali abortus , akhirnya lahirlah aku anak pertama. bahkan ditambahkan lagi adik perempuan dan laki2.
    Tetap sebuah misteri karena orang tua ku pun tetap bilang itu semua berkat Tuhan. Tidak lupa tolng Doakan Tulangku yang belum mendapat berkat keturunan (sempat dulu ada namun meninggal karena ulah oknum).

  19. A.K.P. Panggabean on April 28, 2009 at 1:55 pm

    Doa Hanna tsb diatas terjadi ribuan tahun yang lalu, namun masih ada aja keluarga yang belum dikaruniai seorang anakpun meskipun teknologi kedokteran sudah sangat canggih seperti: bayi tabung, inkubator, dll.

  20. Diana jemima SP on April 28, 2009 at 2:29 pm

    Saya sangat setuju dgn perkataan ” ANAK” adalah RAHASIA TUHAN ALLAh”, yang siapa pun tidak ada yang tahu kapan dan bilamana kita mempunyai anak. Jadi buat saudaraku yang masih tetap merindukan sibuah hati, TETAP lah berharap pada Tuhan, hilangkan sikap bersungut2, dan tunjukkan sikap hidup mengucap syukur karena dengan demikian kita menjadi semangat dalam pekerjaaan, pelayanan, dan pengharapan. Hidup ini berasal dari Tuhan Allah, JADI biarlah Tuhan melakukan kehendakNya atas hidup kita. Jadi ingat lagu ” Suka – suka Mu Tuhan “, mudah2 an kawan2 tau lagu nya.

  21. Kimron Manik on April 28, 2009 at 2:54 pm

    Buat ibu-ibu yang lagi menantikan kehadiran anak dalam keluarganya (Merry, Sara Rossa, Linda Belle, Netty, Marlina dan Ana), saya turut mendoakan supaya Tuhan memampukan anda mengandung dan melahirkan anak di tengah-tengah keluarga. Jangan pernah putus harapan, ciptakan selalu damai dalam keluarga, jangan saling menyalahkan, terus berdoa kepada Tuhan, jangan pergi ke orang pintar(dukun), tapi pergilah ke dokter dan selalulah berdoa sebelum pergi ke dokter, agar ditunjukkan dokter yang tepat. Saya dan isteri juga menunggu sampai 3 tahun pernikahan kami baru dikaruniakan anak, dan sekarang kami sudah memiliki 2 orang anak (laki dan Perempuan). Yang pasti Tuhan itu ada dan selalu mendengar doa kita.

  22. Efrael T.H. Sitohang on April 28, 2009 at 3:09 pm

    Harus kuat. Banyak2 bergaul dalam komunitas pelayanan. Agar lebih dikuatkan dan saling menguatkan. Karena sebaik dan sesaleh apapun, jika sendiri… probabilitas utk jatuh lebih besar.

    Karena Kami pun masih dalam pengaharapan dan penantian memiliki “si buah hati”. Mohon didoakan juga! Trims!

  23. JP Manalu on April 28, 2009 at 5:52 pm

    Renungan yang sangat meneguhkan amang, saya juga sangat yakin bahwa diberi atau tidak diberi anak adalah misteri Tuhan. Saya jadi teringat akan ‘masa sulit’ yang pernah kami alami ketika persalinan anak kami yang pertama. Pada saat itu, kuasa tangan Tuhan sangat saya rasakan untuk menolong isteri saya, akibat kesalahan prosedur pasca persalinan yang dilakukan oleh seorang dokter senior (dan katanya terbaik saat itu di kota kami), ‘itonya’ amang di rumah nyaris……. Saya benar-benar tidak bisa berbuat banyak, ketika jam 02.00 subuh saya diminta untuk mencari minimal 3 kantong darah, dan saya belum begitu banyak kenal orang di Solo saat itu, dan telepon seluler saat itu belum semarak sekarang. Di tengah kekalutan (karena sudah menghubungi beberapa teman untuk mendonorkan darahnya, tapi tidak ada yang cocok golongan darahnya), saya hanya berdoa. Dan, Tuhan mahabaik, di saat-saat yang mencekam itu, Tuhan memberikan penolong, seorang tukang taksi yang tidak saya kenal hingga saat ini; dengan sukarela mendonorkan darahnya. Puji Tuhan, Terimakasih Tuhan.

  24. Saurdot on April 28, 2009 at 6:07 pm

    Dalam penantian panjang seperti ini, kemungkinan terbesar yang muncul adalah keputusasaan dan amarah. Beruntung lah saya dan kita memiliki pengharapan, iman, dan kasih sebagai kaum tebusan-Nya.

    Saya berdoa, tambahkan kekuatan bagi kami yang menantikan buah kasih titipan sorga agar mampu memandang kepada-Mu saja, lalu memuji dan menyembah-Mu walau kami masih harus menanti lagi. Haleluya!

    Daniel Harahap:
    Dan dalam masa penantian itu kita juga berhak melimpah dengan bahagia dan sukacita.

  25. Joice Butarbutar on April 28, 2009 at 8:18 pm

    Saya turut merasakan apa yang teman teman rasakan, karena kami pun mengalami hal yang sama masa penantian bertahun tahun, adalah proses yang tidak mudah untuk dijalani sebuah keluarga yang belum dikarunia keturunan. Kadang kita mengeluh, menyalahkan satu sama lain dan banyak lagi..memang sangat berat..
    Namun renungan hari ini sungguh indah, beruntunglah teman teman membaca renungan ini, karena Tuhan mempunyai rencana yang indah kepada setiap kita masing masing..dan semua rencanaNya adalah Indah pada waktunya..teruslah berdoa dan berusaha, berkarya dan mengasihi seperti apa kata Pak Pendeta, karena tiada yang mustahil bagiNya.

  26. FE on April 28, 2009 at 10:00 pm

    Pada prinsipnya, pertanyaan yang terpenting mengenai kelahiran anak bukanlah “apakah direncanakan?” melainkan “apakah dinanti-nantikan?” Sudah tentu perencanaan adalah tindakan yang baik sebab perencanaan menandakan persiapan yang matang. Namun pada akhirnya, saya melihat bahwa perencanaan manusia acap kali meleset. Ada yang sudah merencanakan untuk mempunyai anak, namun tidak memperolehnya; sebaliknya, ada yang belum merencanakan, namun mendapatkannya. Waktu Tuhan bukanlah waktu manusia. Oleh sebab itu, apa pun kondisinya, yang lebih penting adalah sewaktu Tuhan memberikan anak kepada kita, apakah kita bersikap menyambut atau menolaknya?

    Salah satu alasan yang paling sering disebut oleh banyak orang mengenai mengapa seseorang harus (atau sebaiknya) menikah adalah untuk meneruskan keturunan mereka. Merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seorang suami bila ia dapat memiliki seorang anak. Demikian pula dengan seorang isteri jika dia dapat memberikan seorang anak kepada suaminya. Tetapi, jika hal itu masih belum juga terwujud di dalam pernikahan, bagaimana sikap para suami isteri dalam menghadapi realita itu?

    Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan-Nya dari awalsampai akhir (Pengkhotbah 3:11). Kesadaran ini memberikan satu pemahaman penting bahwa belum (atau tidak) punya anak bukan berarti pertanda buruk bagi pernikahan kita.

  27. P.Ritonga on April 28, 2009 at 11:43 pm

    Semoga para ibu yang mengharapkan kehadiran anak diberi sukacita seperti Hanna dan Elisabet…berharap dalam sukacita

  28. Br. Naibaho on May 1, 2009 at 7:49 am

    Renungan yg begitu indah,,,,Bulan ini genaplah sepuluh tahun pernikahan kami dan belum dikaruniai anak, tetapi kami tetap bersyukur kepada Tuhan dengan apa yg sudah kami dapat dari Tuhan.

  29. sitindaon on May 2, 2009 at 11:26 am

    wahai para orang tua batak…kalau tidak siap untuk tidak punya cucu jangan pernah nikahkan anak-anakmu. jangan pernah kau tunjuk-tunjuk hela atau parumaen-mu kalau salah 1 dari mereka punya masalah untuk memiliki anak. setialah DOAKAN anak-anakmu..!!

  30. Ratna Suryanti on April 25, 2013 at 12:06 pm

    Renungan diatas menyadarkan saya akan Besar kasih Tuhan dalam hidup saya. Saya menikah sendiri tanpa didampingi orang Tua karena orang tua kami masih percaya adat jawa yg mengatakan jika saya menikah akan tidak beruntung dll. tapi saya tetap berpegang pada Yesus. Yesus mampu mengatasi segala perkara. dan akhirnya saya menikah tanpa orang tua kami. setelah kami menikah kami berbahagia sekali karena setelah itu kami diberkati Rumah yang indah untuk kami. kami bisa membuktikan bahwa kami baik-baik saja dan mampu mengatasi segala hal dalam jaminan Yesus. hampir 2th pernikahan kami ini kami belum memiliki anak dan hubungan kami dengan orang Tua juga sudah baik-baik saja… kami mohon dukungan doanya bagi kami semoga Tuhan segera mengaruniakan kepercayaan kepada kami untuk memiliki anak-anak…. Saya Yakin Tuhan mendengar dan menjawab doa -doa kami. Amin

  31. agungwijaya on March 22, 2014 at 4:09 am

    melalui renungan ini saya merasa dikuatkan, setelah sekian lama berharap kadang kita merasa lelah menanti jawaban Tuhan, tapi kembali saya sadar dan bersyukur kepada Tuhan serta menikmati kebersamaan saya dengan istri saya, semoga setiap doa dan upaya kami kiranya Tuhan ijin kan kami memilii buah hati tahun ini..Amin

  32. Maria on April 23, 2014 at 11:16 pm

    trimakasih buat renungan ini, saya juga sudah menikah 8 bulan, blom dikarunia anak, tetapi pengharapanku tdk akan jemu2 meminta kepada Tuhan, karna saya yakin kita adalah keturunan Abraham, maka kita akan mendapatkan hal yang sama, beranak cuculah dan bertambah banyak seperti tertulis di dalam Kej1:28, melalui firman ini saya Aminkan, mohon doanya buat saudara/i semua smoga di dalam rumah tangga kami cepat dikarunia anak, Jesus bless us, Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*