Jangan Atur Tangan Rakyat Bertepuk!

April 27, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh : Daniel T.A. Harahap

copy-of-pesan-demokrasi-1.JPG

Saya baru selesai baca koran. Koalisi tanpa platform: bosan. Komentar Pemilu: basi. Virus flu babi asal Mexico: bingung. Pelepasan kembali burung elang Jawa di Gunung Slamet: ah, melegakan. Selebihnya hanya kumpulan huruf hampir tidak bermakna sebab itu tidak melekat di mata dan jiwa saya. Oh saya salah. Ternyata ada satu berita aneh rupanya pagi ini di Kompas halaman 2 pojok kiri bawah. Apa itu?

Partai Demokrat mengatur peserta Rapat Pimpinan Nasional-nya bertepuk tangan. Dibawah komando Angelina Sondakh tepuk tangan diatur agar seragam, teratur dan terkendali. Selama pidato Yudhoyono, sang ketua partai, catatan Kompas tepuk tangan diberikan 21 kali. Selama seluruh acara pembukaan Rapimnas jumlah tepuk tangan 45 kali.

Komentar saya pendek: norak! Benar-benar norak! Hari gini kok masih mengatur tepuk tangan? Tahukah Angelina Sondakh dan para petinggi serta fans partai Demokrat bahwa pengaturan dan pengendalian tepuk tangan adalah kebiasaan rejim komunis yang diwarisi oleh Orde Baru? (Di negara-negara demokrasi, modern dan beradab: tepuk tangan selalu spontan dan tidak pernah dikomando)

Saya jadi teringat dua puluh lima tahun lalu saat mengikuti Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) di Cibubur kami dilatih khusus bertepuk tangan, termasuk lamanya. Bila Menteri yang datang berceramah maka tepuk tangan diberikan mulai dari beliau masuk hingga sampai ke panggung. Dan bila Menteri pulang, maka tepuk tangan diberikan mulai dari beliau bergerak dari panggung hingga menghilang dibalik pintu dibawah kawalan para penjaganya. Tentu saja semua sambil berdiri. Bahasa Inggrisnya: standing applause. Namun semua harus terkendali dan seragam.

Pendek saya mau mengatakan kepada Angelina Sondakh dan petinggi partai (manapun juga) dan pejabat pemerintah: kita sudah hidup di era reformasi dan demokrasi. Harga yang kita bayar tahun 1998 sudah sangat mahal. Jangan atur dan kendalikan rakyat bertepuk. Fokuslah kepada tugas Anda: bereskan ekonomi dan tegakkan hukum. Berantas korupsi.

Horas Indonesia. Hidup reformasi dan demokrasi!

Share on Facebook

Tags: , ,

27 Responses to Jangan Atur Tangan Rakyat Bertepuk!

  1. Salmon Sihite.SH.,MKn on April 27, 2009 at 9:14 am

    Saya salut atas kritikan yang sepele tapi bermakna tentang standing applause, mungkin di PD hal ini masih ter eforia dengan kemenangan yang melampaui 300 % dari pemilihan 2004, dan biasanya percaya diri atau bahasa gaulnya narcis, akan bermunculan dari pemimpin-pemimpin PD bahkan akan muncul dari kino-kino yang sedang tumbuh ibarat jamur di musim hujan. Namun hal ini berpulang kepada Alam, alias Situmpak na monang ( mendukung yang kuat dan yang menang ), dan pak SBY jangan lupa naiknya menjadi Prediden karena hujatan dari Partai lain baik personal maupun rame-rame.

  2. RM Napitupulu. on April 27, 2009 at 9:20 am

    Sangat Setuju Amang Pendeta!

  3. Friska pardede on April 27, 2009 at 9:48 am

    Apel tadi pagi pun di kantor kami tepuk tangannya masih diatur2 saat bigbos mengumumkan salah satu stafnya mendapat satu perhargaan yg menurutku ga penting disanjung2 ( lha penghargaan itupun sdh diatur2 biar dapat)

  4. Rudi Juan Carlos Sipahutar on April 27, 2009 at 11:43 am

    Setiap Institusi memiliki otoritas untuk mengatur rumah tangganya sendiri, termasuk Parpol yang mengatur irama tepuk tangan peserta kongres di kalangan sendiri.
    Bukan kah di era reformasi ini, justru membuka kebebasan bersikap, bahkan untuk faham komunis sekalipun ?? akhhh memang negeri ini sudah semakin norak saja…

    Daniel Harahap:
    Separuh benar. Sebab partai politik adalah organisasi publik yang harus dikritisi dan diawasi. Dan menurut saya partai yang suka mengatur-atur, mengendalikan dan menyeragamkan irama tepuk tangan anggotanya janganlah ngaku demokrat. Norak. Hare gini kok masih suka ngatur tepuk tangan? Besok jangan-jangan seluruh rumah dan gerbang disuruh cat biru seperti dulu jaman Orde Baru (disuruh cat kuning).

  5. Go thie on April 27, 2009 at 12:24 pm

    yah saya juga agak terkejut juga bacanya karena sebelumnya marzuki ali sebagai sekjend sudah membriefing seluruh peserta untuk tepuk tangan dan yel-yel di atur sesuai komando dari peserta yang di depan..saya pikir kok kembali ke orde baru yah..

    memang ada kalanya segala sesuatu itu perlu di atur supaya tertib dan teratur tapi kalo tepuk tangan dan ungkapan perayaan di atur yah itu namanya main sandiwara, jadi mungkin terulang lagi masa-masa kemunafikan masa-masa lalu dibilang setuju padahal tidak setuju.dunia memang panggung sandiwara tapi sandiwara saja tidak kelihatan sutradaranya.

  6. Erpesim on April 27, 2009 at 12:32 pm

    Setuju Amang! Kita sebel dan gondok walaupun tidak punya “intrest” politik melihat euforia politik akhir2 ini.Yang menang,yang kalah atau jalan ditempat sama aja. Semua mengekspresikan perasaannya ketimbang rasionalitasnya. Namun di jaman reformasi ini juga semua orang/ kelompok sah2 aja mengemukakan pendapat dan keinginannya (karena dilindungi Undang-Undang). Sama halnya kita-kita di RM ini sah2 aja mau kritisi apa dan sapa aja. Bola Reformasi sdh bergulir, wacana debat mendebat pastinya dirancang untuk kepentingan pribadi atau kelompok.Jangan sedih dan duka jika hal-hal ini menjadi keseharian bangsa ini.Politik mlulu,dah.Nasib rakyat sapa peduli. Ekonomi, pembangunan dan Penegakan Hukum kerjaan siapa dan milik siapa?. Makanya ada teman berkata: Sapa suruh jadi Rakyat. Oih.. dangol nai bangso on!!!.

  7. halak-hita on April 27, 2009 at 12:41 pm

    Dang pala pingkiran munai da lae……… Unang sai tasampuri urusan ni halak, sampuranta ma tasampuri….. hehehehe
    Maju ma bangsonta Indonesia.

    Daniel Harahap:
    Sekadar informasi: dalam bahasa Batak “sampur” itu artinya berhubungan seks. Mencampuri urusan dalam bahasa Batak: “antoi”.

  8. A.K.P. Panggabean on April 27, 2009 at 1:22 pm

    Ya…begitulah kalau artis yg ngasih komando. Segala sesuatu dibuatnya memiliki nilai seni (dalam hal ini seni bertepuk tangan). Namanya juga artis alias seniman atau seniwati.

  9. Sahat_GRD on April 27, 2009 at 3:08 pm

    Menurut saya Amang, “Kadang” ada juga gunanya Tepuk tangan diatur. Ini pengalaman saya (serius). Waktu itu seorang Bapak Dosen saya lagi berpidato, pertama kami tepuk tangan karena beliau memang layak diberi tepuk tangan. Tapi Lama-lama, kok Dosen ini pidatonya lama sekali (bosan). Akhirnya kita sebagai mahasiswa “Mengatur Tepukan”. Pokoknya setiap selesai mengucapkan satu kalimat, kami tepuk tangan semua. Kayaknya si Dosen mengerti tuh, baru kami tepukin berapa kali, “Terimakasih”. Mantaaff ninna rohakku. Jadi Cemmanalah itu amang Pendeta ???

  10. Riris Hutapea on April 27, 2009 at 5:39 pm

    Setuju!!!! Klo memang materi yang dipidatokan ga menarik atau pembicaranya ga asik, ngapain juga tepuk tangan.. Tapi amang, kadang itu ga hanya ada diacara2 yang seperti itu aja. kadang di Gereja tertentu, saya sering aneh melihat orang2 yang bertepuk tangan ketika seorang Pendeta ber Khotbah.. dan itu juga ada yang mengatur..
    oh ya Amang, saya sudah beli buku yang berjudul “anak penyu menggapai laut’.. Benar-benar asik… walaupun masih setengah.. dan saya benar-benar ingin mencari makna dari hidup ini, menertawakan hal-hal konyol yang pernah saya lakukan serta tetap merayakan hidup.. Eeemm.. buat lagi dong amang, cerita selanjutnya..

  11. Parbatamsenter on April 27, 2009 at 8:36 pm

    Selain SBY masih adakah kandidat presiden yang lebih baik?

    Daniel Harahap:
    Sebaik apapun SBY (atau calon lain) sekarang dia tetap harus dikritisi, diingatkan dan dijaga agar tidak mengulang menjadi diktator.

  12. Tiarma Hutagalung on April 27, 2009 at 9:20 pm

    saya juga kaget baca beritanya di koran….
    langsung hati ini tergelitik, hare gene masih ada pengaturan tepuk tangan, gak penting banget kan? gimana ya tanggapan pak SBY seandainya beliau tau kalo tepuk tangan yang diberikan padanya bukan sikap spontan rakyatnya….tp karena diatur?

    Daniel Harahap:
    Mungkin tahu dan mungkin senang juga. Makin lama seseorang berkuasa biasanya makin tidak peka membedakan mana ketulusan dan mana penjilatan. :-)

  13. S. Marihot Hutahayan on April 27, 2009 at 9:52 pm

    Saat orang seperti saya, sebagai “Simatupang” memberi pelatihan di berbagai perusahaan maka kami-kami harus menerima tradisi pembukaan dan penutupan yang berbeda di masing-masing peusahaan. Ada perusahaan yang pakai ‘lagu kebangsaan’ mereka, ada yel-yel dengan tepukan penyemangat versi mereka, ada yang sepenuhnya diserahkan sang konsultan yang memfasilitasi. Semuanya harus kami hargai. ‘Tradisi’ semua perusahaan ternyata berbeda dan, ‘tradisi’ MC juga bisa memberi warna lain lagi. Ada yang “kaku’ atau ‘hidup’ dalam memfasilitasi acara pembukaan atau penutupan itu.

    Jadi, kalau Angelina Sondakh (AS) punya versi yang berbeda, kaku dan kayak pramuka, pasti akan berbeda dengan Komar sebagai MC… ya kita terima sajalah. Toh mereka sedang melakukan acara ‘tradisi’ mereka sebagai para pengurus Partai Demokrat. Itulah cara mereka menunjukkan budaya mereka. Kalau di partai-partai atau perusahaan-perusahaan Jepang malah akan lebih diatur dan teratur sekali, sangat kaku bahkan.

    Tapi kalau AS melakukan itu pada upacara kebangsaan atau acara berbau nasional, maka marilah kita ‘labrak’ dia. Kalau acara internal partai atau ‘arisan’ marga lain, nggak punya kerjaan nyampurin? Apa kata marga Sinaga kalau seorang pengamat dari marga Hutahaean ‘nyampurin’ kebiasaan atau cara ‘tepuk tangan’ marga Sinaga. Gitu aja kok repot.

    Daniel Harahap:
    Partai politik bukan arisan marga dan bukan juga pramuka. Partai politik adalah organisasi yang bertarung lewat Pemilu untuk menjadi penguasa atau pemerintah negara ini. Sebab itu budaya, adat dan kebiasan partai politik (bukan hanya PD-nya SBY) harus tetap dikritisi dan dipelototi. Ketika sebuah partai kembali sibuk mengatur tepuk tangan dan atau memakai simbol-simbol yang sangat sering dengan rejim totaliter maka kita harus berteriak memberikan peringatan dini. Jangan sampai partai yang lahir di era reformasi (dengan cucuran darah mahasiswa) melakukan kesalahan yang sama seperti Golkar jaman Orde Baru. Itu saja kok. Kalau memang tidak mau repot, kok ikut repot? :-)

  14. rumanap on April 27, 2009 at 11:41 pm

    @halak hita
    ai lae pe, sampur sai ninna lae, ai on dope huboto sampur artina berhubungan seks.. kursus nama au muse hata batak bah…..

    Daniel Harahap:
    Hape sai digoari dirina “halak hita”. Dasar Batak! :-)

  15. slamat p sinambela on April 28, 2009 at 6:53 am

    Boi do ra niusulhon tu Amang asa mambahen kamus bahasa Batak. ai so niantusan be saonari bahasa batak. Gegar budaya do nihilala na tinggal di pangaranton on. Manang adong angka dongan na boi manggagas kursus batak? (molo di jawatengah, adong do kursus pranatacara, raja parhata ma mungkin di hita an. Pakke bahasa krama hinggil do i, ima bahasa na paling halus di jawa). Di jawa pe ‘campur’ do di dok.

    Daniel Harahap:
    Adong do kamus batak-indonesia na denggan, ima na sinurathon ni DR J Warneck, mantan eforus ni hkbp. Alai ndang huboto atik adong dope ginadis di angka toko buku.

  16. St. Henry Irawan Sianturi on April 28, 2009 at 8:26 am

    Na ‘mangatur parhundulan”, angka pande hata ma tu si. Mangatur parbagian…katua ma tu si. Mangatur tepuk tangan? ndang dapot ahu dope ise ma tu son goaran, ai loak hurasa, dohot do tepuk tangan diatur-atur. Angka hal na spontan pe nga diatur, apalagi ma na asing. Pede yang terlalu tinggi sehingga menjadi sensasi. So…biarlah yang alami, tetap alami, mengalir seperti air sungai.

    Bapak, Ibu, sodara/i warga RumaMetmet, Adong do kamus Bahasa batak Toba di “portibi halongangan” on. Boi do i diunduh (download) hamu sian http://bataktoba.com

    Selamat pagi, terus semangat Amang menyuarakan hati nurani!

  17. rumanap on April 28, 2009 at 10:07 am

    @riris hutapea
    hojoti jaha ito, sotung padaohu ito tarlambat. ai nga adong bogas ni pat ni penyu i di gurun pasir

  18. Salngam on April 28, 2009 at 1:16 pm

    Ai so adong Menteri “Halak hita” di kabinet ni SBY-JK alai sai naeng dope pilliton si songon i. Tapillit ma Ibu Mega paling tidak track recordna adong dope Bungaran Saragih gabe Menteri di tingki i. Mungkin molo monang ibana muse boi do adong halak hita jadi Menteri. Sipata nang pe sahalak halak hita molo tingki marrapot/sidang kabinet sai adong do kreatifitasni halak hita , jadi Presidenna pe boi do terpengaruh. Sifat ni halak hita lumayan kritis do ndang ngge..ngge. For your information, for time being inner circle ni Ibu Mega lumayan torop do halak hita. Jadi tapingkiri ma i.

    Daniel Harahap:
    Tadinya saya tidak setuju Ruma Metmet dijadikan tempat kampanye malu-malu atau terang-terangan. Namun saya pikir-pikir lagi: ah, sudahlah. Lantaklah. Siapa mau kampanye Mega, SBY, atau JK, atau malah kampanye diri sendiri di sini bolehlah. Yang jelas saya tidak akan memilih jika syarat yang saya ajukan belum dipenuhi. Manang aha pe didok hamu. :-)

    Komen kepada Salngam: emangnya Sudi Silalahi bukan Batak? Tapi lepas dari itu: emangnya apa pengaruhnya bagi bangsa ini dan juga bagi kita semua kalau batak jadi menteri? :-)

  19. florasilaban on April 28, 2009 at 2:35 pm

    Tepuk tangan yang seperti Amang sebutkan diatas juga dilakukan oleh umat kristen yang mengikuti KKR atau mengikuti kebaktian di Gereja lain dan saya tidak merasa risih, apalagi kalau dilaksanakan oleh Partai Politik saya rasa tidak ada masalah, mungkin dengan pengaturan tsb mereka merasa lebih akrab.

  20. Relawan on April 28, 2009 at 6:45 pm

    WASPADAI Kebangkitan “ORDE BARU JILID 2″.

  21. jeremy on April 28, 2009 at 11:30 pm

    koq ya masih norak gitu ya… tu mantan putri indonesia koq ya mau2 aja toh (katanya masuk Putri Indonesia ada 3B, Brain, Beauty, Behaviour)….
    SBY, JK, MEGA…. mau milih sapa yah??? gak tau juga lah…

    tapi yang jelas amang… aku golput (jangan difatwa haram ya amang) :)
    Lha wong undi postnya gak beres, katanya ngirim ke alamat rumah, eh gak ada, datang ke kedutaan malah diusir… apalagi nanti PilPres… gak tau deh undi postnya nyasar kemana… he he he he… amang, saya boleh minta pendapat secara pribadi mengenai gereja HKBP? saya japri e-mail amang saja ya???

    Daniel Harahap:
    Kok kita bisa sama? :-)

  22. Yohanes E. Nababan on April 28, 2009 at 11:40 pm

    tanpa bermaksud utk menyudtkan calon presiden yang didukung dan pendukungnya. utk menjadi seorang pemimpin,ia harus tau yang terjadi pada tingkat bawahannya. jika pada tingkat partai saja, dia kurang mampu untuk mengatasi kemelut yang terjadi, meski hanya masalah sepele seperti tepuk tangan, akan berakibat pada pola kepemimpinannya..mari bersama-sama sebagai umat-Nya berdoa untuk kondisi negara dengan pemimpin yang Tuhan pilihkan bagi negara kita. tinggalkan budaya lama untuk saling menjatuhkan setiap pasangan calon pemimpin negara kita (gak perlu pandang kenyamanan suku bangsa tertentu dalam memilih).pakai hati dan logika.
    Jbu

  23. elumban on April 29, 2009 at 6:51 am

    Itulah politik Amang. Politik butuh iklan utk pencitraan. Mereka sadar betul muncul di televisi/media. Jadi mereka harus memanfaatkan “kerumunan” seperti itu. Mengkel suping ma hita pabereng-bereng haotoon ni Bangso on.

  24. halak-hita on April 29, 2009 at 8:58 am

    @halak hita
    ai lae pe, sampur sai ninna lae, ai on dope huboto sampur artina berhubungan seks.. kursus nama au muse hata batak bah…..

    Daniel Harahap:
    Hape sai digoari dirina “halak hita”. Dasar Batak! :-)

    eh… hamuna…. bedahononta do na lg ‘joke’ manang na lagi serius……..
    dang sai sampuranta sude… (eh… ni ulahan muse..) ta antoi sude.

    Dasar pangula ni huria! :)

  25. Pulo Aruan on April 29, 2009 at 7:17 pm

    Di jaman orde baru juga ada partai yang ketua dewan pembina menjadi penentu dalam segala hal.. kira-kira itu organisasi model apa ya amang DTA?
    emang susah bedain Demokrat sekarang dengan GOLKAR jaman dulu..
    sesuam serba sistematis n seragam.

  26. Salngam on May 1, 2009 at 1:12 am

    ….emangnya Sudi Silalahi bukan Batak? Tapi lepas dari itu: emangnya apa pengaruhnya bagi bangsa ini dan juga bagi kita semua kalau batak jadi menteri?

    Saya kira ndang Batak be ra beliau i, halak bamban manang Halak Pardagangan nama ra nasida. Ibanna so dialllang i be na margota, manang B1.
    Saya mungkin kurang bisa memprediksi apa yang akan terjadi kalau ada “Halak Hita” jadi Menteri. Alai paling tidak ra, molo anggota HKBP, manang GKPS manang HKBP-Angkola gumodang ma ra durung-durungna, adong ma siboan goar ni ompu i, boi ma ra paboan tu Ibana adong ijin IMB HKBP Depok dicabut asa i pasahat tu Presiden humatop. Analisa dakdanak pe ra paling tidak antar songon i ma.

    Daniel Harahap:
    Ala ndang dipangan B1 & B2 gabe ndang Batak be goaron? Ah. Na boha do.

  27. S. Marihot Hutahayan on May 3, 2009 at 1:21 am

    Artinya, kalau Amang bukan anggota PD karena tidak ikut milih (atau terdaftar, manang simpatisan rupani) ngapain maccampuri urusan tradisi di PD? Biarlah setiap partai punya warna dan tradisi sendiri. Hargailah tradisi mereka. Tetapi saya pribadi tidak terlalu yakin kalau tepuktangan ala ‘shooting kuis di tv, atau ‘tepuk pramuka’ itu bakal jadi budaya PD. Holan asa rame doi. Hut ni, holan sian tulisan ni wartawan kompas (yang umumnya ‘anti’ PD) diboto Amang kan, manang parsidohot do Amang tohoi…

    Daniel Harahap:
    PD calon penguasa negeri ini bukan sekadar club penggemar tahu. Seluruh kebiasaan, aturan, kultur, sistem dan struktur partai apalagi yang bakal jadi penguasa negeri ini perlu kita kritisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*