Ibu Angsa Itu Telah Berpulang

April 24, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Daniel T.A. Harahap

Jelang hujan lebat di tengah siang, ibu angsa itu akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir tidak jauh dari tujuh telurnya yang sudah dieraminya selama dua minggu. Saya dan Hendro kehilangan kata-kata. Kami tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun luka di paha ibu angsa itu mengindikasikan ada sesuatu yang berat telah dihadapi si ibu angsa tadi malam. Apakah dia habis bertarung dengan seekor ular yang hendak memakan telur-telurnya dan kena pagut yang membawa kepada kematiannya? Saya tidak tahu. Saya belum pernah menemukan ular di tanah kosong di samping gereja. Namun mengingat halaman itulah satu-satunya lahan yang masih kosong dan belum dibangun boleh jadi disinilah ular-ular yang terdesak hidup bersarang. Atau boleh jadi musang. Saya sudah dua kali melihat musang malam-malam. Entahlah.

Angsa itu tidak bernama. Mungkin juga tidak punya sejarah sebagaimana dipahami manusia. Namun saya merasa kehilangan dan sangat terpukul atas cara kematiannya. Ibu angsa itu mati karena mempertahankan telur atau bakal anak-anaknya. Jika dia menghindar dan membiarkan saja ular atau musang itu mengambil telurnya, mungkin saja dia selamat dan masih bisa berkoar-koar. Namun naluri keibuannya mendorong dia mempertahankan dan membelanya. Dan kenyataan menunjukkan dia kalah. Dia berakhir. Ah. Saya kehilangan kata-kata dan sungguh tidak punya jawab atas pertanyaan kenapa.

Namun saya dan Hendro lebih bingung lagi: mau diapakan tujuh telur yang telah ditinggali ibu angsa ini? Telur itu masih membutuhkan kehangatan sayap ibunya beberapa minggu lagi sebelum pecah dan menjadi anak-anak angsa yang hidup. Namun kini Ibunya sudah tiada. Lantas haruskah telur-telur itu berakhir juga? Saya menyuruh Hendro memasukkan telur-telur itu ke kardus, meletakkannya di belakang dapur dan memasang lampu pijar untuk menghangatkannya. Saya tidak pernah belajar memelihara angsa. Saya tidak tahu apakah itu cara efektif. Namun dalam hidup ini kita harus selalu mencoba. Tuhan telah menyediakan dalam telur-telur itu daya kehidupan. Dan kini saya berharap semoga ada keajaiban: telur itu bisa menetas. Saya dan Hendro akan kembali merayakan kehidupan di belakang rumah.

Share on Facebook

12 Responses to Ibu Angsa Itu Telah Berpulang

  1. Siregar on April 24, 2009 at 7:48 am

    Begitu muncul di feizbuk, langsung buka rumametmet,,, ternyata saya salah baca,, kirain tadi ibu bangsa,,,eh ternyata ibu angsa….

  2. r.h. sibuea on April 24, 2009 at 8:03 am

    sementara itu….(Indopos hari ini), Aples Decuari Hutauruk 10 tahun terpaksa putus sekolah hanya untuk melayani dan menjagai adiknya di RS Pringadi Medan…sampai ajal adiknya (Ucok, 5 tahun) tiba, disamping itu Aples juga menjaga dan merawat dua adik perempuannya mereka diusir warga Dusun Hutabagasan, Aek Baringin, Sipohon Tarutung.
    Ironis disaat Ucok di vonis telah mengidap HIV-Aids sejak dalam kandungan yang akhirnya merenggut nyawa Ibunya…Ayahnya..meninggalkan keempat anak-anaknya hingga kini tak tau rimbanya…
    seandainya, ayahnya adalah seekor angsa…tidak mungkin setega itu meninggalkan anak-anaknya. Dan seandainya, toho do Kristen halak di dusun Hutabasan itu…tak mungkin tega mengusir anak-anak malang itu…malah mereka merawat dengan penuh kasih!
    Tidak mungkin secara fisik manusia mencintai Tuhan…(hukum terutama) sebagai gantinya yang sama dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia. Dukung dalam doa untuk Aples dan Adik-adiknya. GBU

  3. A.K.P. Panggabean on April 24, 2009 at 8:30 am

    1. Saya ingin mengoreksi: Ibu itu manusia, sedangkan induk untuk hewan.
    Laki-laki untuk manusia, jantan untuk binatang. Wanita untuk manusia,
    betina untuk binatang.

    2. Ternyata bukan hanya manusia saja berlaku “Kasih ibu kepada beta tak
    terkira sepanjang masa…”

  4. tanobato on April 24, 2009 at 9:01 am

    Luar biasa nasib sang angsa. Tidak bernama (karena tidak pernah dibaptis dan diregistrasi …), namun sebentar lagi akan menjadi bahan pembicaraan di seluruh dunia. Paling tidak, di kalangan terbatas … Hidup angsa!

  5. Friska pardede on April 24, 2009 at 9:18 am

    Kami juga masih merasakan kesedihan dan kehilangan seperti yg amang dan Hendro rasakan atas matinya kucing peliharaan boruku swelama 6 thn 3 minggu yl biasa dipanggil puzzz,orang mungkin akan mengatakan ah cuman kucing kampung jelek pulak, tetapi krn kami sekeluarga sangat menyayanginya dan menjaga kebersihannya dgn mengimunisasi anti toxo dan anti cacing jadilah dia kucing yg paling ganteng dimata kami.

    Itulah hebatnya jaman canggih ini bahkan puzz kami punya komunitas didunia maya (friendster) dan Face Book ,satu thn lalu dia terpilih menjadi kucing favorit krn fotonya yg lucu dan banyak sekali yg mengucapkan selamat he..he…dari para pecinta binatang( binatang apapun),.

    Bulan ini saya uring2an membayar tagihan speedy krn pemakain yg luar biasa boros dari putriku akibat kematian kucing ini, rupanya saat sekarat dia mengabarkan permintaan tolong kepenjuru pencinta binatang yg memang luar biasa banyaknya ,baru 5 menit di upload sdh ratusan yg memberikan saran ada yg menyuruh segera bw ke rs hewan (ada kok yg murah) rs hewan yg di psr Minggu agar segera dioperasi dan nanti pasti segera di infus begitu antara lain saran dari sipenulis dan pada akhirnya kucing itu mati ucapan duka juga tdk berhenti sampai kini,saat ini di FB anakku yg 3 org ini ada gambar si puzz yg dikelilingi karangan bunga dan bertuliska in memoriam, ada2 ada saja…

    Untuk telur angsa itu wartakan aja di dunia maya amang aku ga tau sih webnya kayaknya akan banyak saran deh.

    Naluri ibu yg dimiliki bahkan seekor binatang saja untuk melindungi anak2nya luar biasa ,jadi kalau ada ibu2 yg tega menjual anak perempuannya kepada lelaki hidung belang demi uang apa sebutan yg pantas untuknya ya..?? juga ibu2 yg menyuruh anaknya menjadi peminta2 dijalan tetapi dia duduk saja??

  6. Erpesim on April 24, 2009 at 10:44 am

    Saya percaya bahwa Tuhan juga bisa menyampaikan pesan atau isi hatiNya melalui kejadian disekitar hidup dan kehidupan ini. Belum lama Amang DTA sedih dgn Tanaman Pohon Kupu2nya, hari ini susah karena telor2 Angsa yg ditinggal tewas induknya. Dulu pohon kupu2 terselamatkan, maka saya yakin telor2 Angsa ini pun akan menjadi Happy Ending. Oknum yg membuat Induk Angsa tewas harus dicari tahu atau kalo perlu buat crash-program mengusirnya dgn pemanfaatan tanah kosong tsb.

  7. Falentina Panjaitan on April 24, 2009 at 2:32 pm

    Kasih ibu sepanjang masa…berlaku juga kepada angsakah? Moga2 aja telur2 angsa itu bisa menetas, shg bs meneruskan perjuangan induknya, paling tidak mematuk kembali ular atau musang yg membunuh induknya. Hidup telur angsa!!!

  8. richard hutahaean on April 24, 2009 at 3:10 pm

    Lho? Kapan amang lihat ada musang di halaman gereja? Jangan-jangan “musang berjanggut” ya… :)

  9. falentina panjaitan on April 24, 2009 at 4:24 pm

    “Kasih ibu sepanjang masa”………berlaku juga bagi angsakah? Semoga saja telur2 angsa itu bisa menetas, shg bisa meneruskan perjuangan induknya di halaman gereja, paling tidak mematuk kembali ular atau musang yang membunuh induknya. Hidup telur2 angsa!!!!

  10. Ruth siahaan on April 24, 2009 at 5:56 pm

    sore amang.
    haduuuh saya sedih banget bacanya.
    saya ikut ngerasaain apa yang amang rasain.
    karna seperti yg mama saya ceritakan (Ibu friska pardede) saya baru ajah kehilangan kucing yg sudah saya pelihara slama 6 tahun (9 july nanti)
    selama kucing saya sekarat saya selalu berkonsultasi di Dr hewan Online. amang bisa kunjungi http://www.indofamilypets.com/ saya berharap 7 telur itu bisa hidup.
    amang tanya aja sama Dr hewannya ..
    mungkin bisa.

  11. torang on April 24, 2009 at 8:17 pm

    Begitu besar pengorbanan sang ibu untuk anaknya, tidak memperdulikan kejadian apa yang akan terjadi kepadanya. demi anak ibu ataupun bapak mempertaruhkan segalagalanya agar anaknya dapat bahagia dan selamat.

    Begitu banyak dan sangat dalam makna dari tulisan amang ini, yang harus dipahami dan dipelajari bagi anak muda zaman sekarang.
    Banyak anak muda sekarang yang tidak mau tahu bagaimana perjuangan orang tuanya untuk membesarkan, mendidiknya hingga jadi seperti apa dia sampai saat ini. yang dia mau hanya senang, bahagia dan tidak mau hidup susah.

    Horas amang! sudah lama tak jumpa.

  12. Jansen H. Sinamo on April 25, 2009 at 10:05 am

    Senang bhw di kalangan Batak berkembang awareness kesemakhlukan menggapai angsa, ayam, kucing, dst.

    Saya pun teringat adik bungsu saya saat SMP, kematian anjing tercintanya diikuti dengan duka yang serius, lalu ia makamkan si blecky itu ala Kristen kanak-kanak: kuburan si panangga dia kasih salib.

    Hormat dan cinta pada sesama makhluk membuat kita harus ‘marsantabi dengan sakral’ saat harus memotong mereka. Semua kerusakan ekologis muncul karena ketelengasan manusia pada kehidupan.

    Dari Fisika kita belajar, cuma butuh 3 menit [sejak big bang] menciptakan atom tapi butuh 3 milyar tahun untuk menciptakan sel hidup yang pertama.

    Indeed, life is sacred. Hormat pada induk angsa amang DTA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*