Penjaga Ruma Metmet ke Bangkok :-)
Oleh Pdt Daniel T.A. Harahap
Saya baru kembali dari Bangkok. Mohon maaf selama beberapa hari saya meninggalkan Ruma Metmet untuk “retret” sejenak, mengambil jarak dari kenyataan hidup untuk menyegarkan hati. Sebagai oleh-oleh saya memposting beberapa foto Bangkok dari sudut mata seorang pendeta metmet. Silahkan dinikmati.
April 1st, 2009 at 7:55 am
Tapi saya juga menunggu oleh2 tulisan “retret di bangkok” amang
April 1st, 2009 at 8:13 am
Puji Tuhan, amang DTA sudah sampai dengan selamat, semoga pengalaman “retret” di tempat yang sangat indah dan menawan memberi kesegaran dan semangat baru dalam melakukan segala aktifitas dan terutama dalam melayani umat Tuhan.
Foto2nya bagus sekali amang, bolehkah amang memberikan tips bagaimana cara mengambil foto2 yang baik dan kriteria yang bagaimana yang bias dijadikan objek foto, tampaknya kegiatan ini bisa mengasyikkan dan menghilangkan stress :-), nuhun pisan, Horas.
April 1st, 2009 at 8:13 am
Na manungkun do hami tu pandita i: Ai ise do na mangajak hamu tusi?
Daniel Harahap:
Inanta.
April 1st, 2009 at 8:15 am
Bah…bah…bah… Ai tu Bangkok do hamu hape Pandita nami mar’retreat”. Horas ma ate ala nungnga sahat hamu tu habitat muna si Serpong. Ai adong do foto ni pantai Pattaya? Molo ndang adong, berarti ndang laho hamu tu pangunjunan.
April 1st, 2009 at 8:50 am
Weleh…weleh..weleh… “retreat bangkok ni yee…. uuuaneekk tenaaan….
Emang pendeta yg satu ini.. ndak pernah ketinggalan berfoto ria. Lumayan tuh hasil jepretannya !!
April 1st, 2009 at 10:04 am
Foto yang bagus, cuma sayang victory monument nya tidak kelihatan, dan yang jualan makanan mungkin tidak sempat melihat sikke dan jenis serangga lainnya yang digoreng and gurih ditaburi garam dan jeruk nipis. Biasanya di daerah Makasan ( daerah populasi orang Makasar di Bangkok) dekat Pratunam. He..he..he.. Nggak ada foto Phat Phong yaa hik..hik…hik
April 1st, 2009 at 10:13 am
Adong diboan amang durian Bangkok ?
April 1st, 2009 at 12:27 pm
Selamat datang kembali ke Indonesia Bang..
Oeleh-oleh Foto Bangkok membawa dampak positif juga di Rumametmet.
April 1st, 2009 at 12:48 pm
weleh…..weleh ……Bapak Pandita nami….. Bapak betul-betul pandita masa kini…biarlah segala sesuatu itu untuk hormat dan kemuliaan nma Tuhan saja.matur nuwun.
April 1st, 2009 at 3:53 pm
He..he… aku pikir amang retreatnya di Puncak seperti biasanya dikunjungi oleh penduduk jakarta ga taunya retreat yg pakai paspor, selamat!! buat amang dan inang.
April 1st, 2009 at 4:23 pm
Amang, dimana tempat retreat Kristen di Thailand? Soale, waktu saya ke Thailand Desember lalu, kebanyakan parsombaon ni Budha do. Memang di pinggir jalan mau ke Pattaya, saya ada lihat gereja katolik. Buat Ampara Richard Hutahaean,ketika saya pergi ke Pattaya, di sana nggak ada saya temui pangunjunan! Justru pangunjunan saya temui di hotel tempatku menginap. Kalau di kota Bangkok pemandangan sih buat saya menjemukan (angka bangunan do siberengon), tapi kalau di pulau2nya, uih..pasir putihnya, alamak…menawan sekali. Sayang, mayoritas orang Thai, tak bisa berbhs Inggris. Beberapa Cafe dan barnya juga agak vulgar, karena menempelkan gambar gadis telanjang di dinding depan barnya. Kalo tak kuat iman, saya sarankan jgn ke Bangkoklah…….
Daniel Harahap:
Saya retret di tengah keramaian Bangkok. Kalau soal pangunjunan eh godaan kurasa lebih banyak pun di Jakarta.
April 1st, 2009 at 7:09 pm
Syalom, Amang. Adungdo HKBP Di bangkok? manang holan ruas hkbp do nanadong di bangkok nasian hutatta on? GBU
April 1st, 2009 at 8:26 pm
photo-photonya bagus sekali.
(tapi supaya tidak penasaran saya pake nikon D50, katanya tipe itu tidak keluar lagi)
jadi pengen tahu amang merek cameranya apa dan spec-nya gimana. Baca rumametmet jadi pengen photography nih…
Daniel Harahap:
Ampara, yang penting bukan merek kameranya tapi yang memotretnya. Seperti kata pameo: kamera boleh sama tetapi yang menentukan mata yang membidiknya.
April 2nd, 2009 at 11:21 am
Wah amang kesananya tgl berapa? Aku disana dari tgl 21-25 Maret kemarin. Klo aku sih ngerasanya enggak enak bgt tuh negara, panas abessss … belum lagi byknya wanita dan pria jadi2an … he.he.he.
April 2nd, 2009 at 2:20 pm
Hati-hati sama godaan wanita bangkok ya amang
Daniel Harahap:
juga godaan prianya.
April 2nd, 2009 at 4:18 pm
Olo tahe……… tabo nai hamu na retreat to Bangkok i…….
Alai ingot hamu angka donganmuna na sahuria di angka huta-hutaan bah..
Asa unang sihata an hamu dohot HKBP na bolon i
April 2nd, 2009 at 6:15 pm
jadi adong do guna ni npwp i ate amang, gabe dang mambayar fiskal
April 2nd, 2009 at 8:39 pm
Hahahaha…Amang ada-ada ajah, retreat atau travelling ke Bangkok?? anyway, Glad to have u back in this blog. Great experiences, Great Photos too!
April 3rd, 2009 at 9:14 am
@halak hita dan Lae Agus K Panggabean
Komentar teman kita “halak hita” dan lae Agus K Panggabean seperti di atas, sejujurnya mewakili hati kecil kita yang merasa risih melihat seorang pendeta HKBP menyempatkan diri atau MAMPU (maaf) untuk me-retret dirinya sendiri ke tempat-tempat seperti Bangkok atau Bali. Bagi kita pekerjaan seperti Dokter, Professor dan lain professi lainnya adalah sangat wajar untuk menikmati hal-hal seperti itu, tapi bukan untuk seorang pendeta HKBP.
Saya ingin mengatakan bahwa typical keluarga seperti keluarga amang Pdt DTA Harahap ini harus menjadi raw model keluarga bagi pendeta-pendeta yang lainnya. Kita telah melihat dalam kondisi berjauhan keluarga ini bisa me-”manage” kehidupan mereka tanpa kehilangan kehangatan di antara keluarga - dan itu bukan suatu biaya yang murah. Saya yakin keluarga ini sangat berkorban untuk itu. Kita telah menyaksikan melalui rumametmet ini, apapun yang dirasakan, disaksikan oleh Amang ini setiap hari dalam hidupnya, bisa menjadi suatu kotbah/perenungan yang indah bagi kita/jemaatnya.
Saya tidak akan pernah meragukan “hapanditaon” ni amang panditanta on kemana pun dia pergi. Kemana pun beliau pergi, selalu membawa oleh-oleh yang menjadi kotbah/renungan bagi kita. Inilah yang harus dilakukan oleh pendeta-pendeta lainnya untuk semakin mengasah kepekaan “hapanditaon”nya.
April 3rd, 2009 at 6:14 pm
iya sih, yg biasapun klu amang yg foto jd luar biasa..
kok jd ada yg nanya2 kyk orang pajak ini hehehe bangkok kan dekat, di medan saja yg jualan ikan rebus bisa kok traveling ke negara tetangga
April 11th, 2009 at 5:21 am
@ ruly
Bangkok memang dekat karena jarak Jakarta-Bangkok hanya separo jarak Jakarta-Jayapura.
Namun banyak yang gak tahu peta Indonesia, lalu menggerutu kenapa Indonesia tidak semaju Singapura. Bahkan temanku yang pernah ke Korea dan Perancis, tidak tahu kalo jarak Jakarta-Singapura hanya separo jarak Jakarta-Medan!
April 11th, 2009 at 5:29 am
@ elumban
amang, Tuhan ada di mana-mana, termasuk di Bangkok, Bali, bahkan Dolly sekalipun. Semuanya kembali pada niat kita.
August 16th, 2009 at 4:40 pm
Selamat Amang memang perklu retreat menjauhi rutinitas , sambil mempersiapkan kotbah . . He .. he. . melihat objek fotonya ternyata Amang punya selera yang tinggi juga ya.. . Gambar itu Sungai Chaoprayo ya Amang , masih bersih ngak Amng . . . aku kesana Tahun 1990 kursus di AIT sambil jalan di Kota Bangkok . . .
January 6th, 2010 at 8:58 pm
Shallom…
Pak Daniel, saya dan suami mo ngerayain 10th Anniversary ke Bangkok-Pattaya, tapi saya baca banyak referensi di Pattaya banyak yang “serem2″. Boleh ga sih pak, kalo kita sekedar jalan2 di sana? Mohon penjelasannya ya pak. Terima kasih. Tuhan Memberkati…
Daniel Harahap:
Saya belum pernah ke Pattaya.