Berita Duka Remaja HKBP

March 9, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

salib-patah.jpg

Sampai saat ini kami di Serpong masih belum berhasil membentuk Pendamping Remaja. Sebagai seorang pendeta yang belasan tahun ditugaskan di tengah-tengah pemuda dan remaja saya sangat sadar bahwa tanpa Tim Pendamping atau Pembina yang benar-benar disengaja dan dipersiapkan khusus maka kegiatan pembinaan remaja gereja hanyalah ecek-ecek atau pura-pura belaka.

Saya mau cerita. Pada awalnya ada sebuah pertanyaan dalam benak saya: mengapa kegiatan pembinaan remaja di banyak jemaat HKBP tidak berjalan? Ataupun kalau berjalan sangat insidentil, asal-asalan dan acak-acakan? Sebaliknya: mengapa di hampir semua HKBP kegiatan anak-anak berjalan dan bahkan bagus? Melalui pengamatan dan pergumulan panjang akhirnya saya menemukan jawabnya: berhubung di HKBP tidak ada yang namanya Pembina, Guru atau Pendamping Remaja. Sebaliknya: untuk anak-anak ada Guru Sekolah Minggu. Akibatnya pembinaan remaja hanya dilakukan seadanya atau bahkan tak ada sama sekali sementara kegiatan pembinaan anak-anak berjalan bagus.

Yang paling parah Aturan HKBP justru tidak memiliki konsep sama sekali tentang pembinaan remaja. Jika kita cermati maka dalam Aturan HKBP yang bertanggungjawab atas pembinaan remaja adalah remaja itu sendiri! Sekali lagi: yang bertanggungjawab membina seluruh remaja adalah seksi remaja yang merupakan anak-anak umur belasan tahun itu. Ya Tuhan, ampunilah kami.

Sebagai seorang pendeta yang sejak awal bertugas di kalangan remaja dan pemuda, saya berpendapat keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun sebuah Aturan tidak ada yang sempurna, sebab itu Aturan memberi wewenang kepada Majelis untuk membentuk perangkat pelayanan yang dibutuhkannya. Maka saya pun mengusulkan agar dibentuk Pendamping Remaja yang fungsi dan kedudukannya persis sama seperti Guru Sekolah Minggu. Mereka adalah orang-orang dewasa yang direkrut dan diseleksi oleh parhalado menjadi perpanjangan tangan Majelis membina dan mendampingi remaja. Sementara remaja sendiri untuk melatih dan memperlengkapi dirinya diberi kesempatan mengorganisasi dirinya membentuk kepengurusan. Namun gagasan dasarnya: tanggungjawab membekali dan memperlengkapi para remaja tetap di tangan Majelis yang pelaksanaannya ditangani Pendamping Remaja tersebut.

Jujur hal ini tidak murni ide saya. Sebelumnya di HKBP Menteng, Jatinegara dan Kebun Jeruk telah ada Pembina/ Pendamping Remaja. Menurut saya itu sungguh baik walaupun dalam beberapa hal saya memiliki perbedaan dalam hal metode pendampingan remaja itu. Namun pokoknya: dimana tidak ada Pembina Remaja maka kegiatan remaja di gereja itu boleh dikatakan tidak ada atau minim. Terus terang saya tidak bisa bayangkan bagaimana seorang pendeta atau sintua berusia 50 tahun berkomunikasi dengan remaja belasan tahun! Saya sendiri dalam usia 45 sekarang mengaku sudah sangat sulit memahami dan dipahami oleh remaja. Sebab itu saya dan para majelis memerlukan orang-orang berdedikasi dan trampil menjadi perpanjangan tangan menjangkau remaja ini.

Sejak dibentuk pada tahun 2004 maka kegiatan remaja di HKBP Rawamangun berjalan dengan baik dan terarah. Saban Jumat Pendamping Remaja mengadakan sermon persis seperti guru Sekolah Minggu. Dan yang memimpin sermonnya adalah pendeta. Sebelumnya kegiatan remaja sangat terbatas atau minim sekali. Alasannya: tidak ada tenaga. Namun dengan adanya tenaga pendamping ini maka sesudah kebaktian minggu remaja dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan seperti penelaahan alkitab, permainan, sharing dan diskusi dan lain-lain. Selain itu dengan adanya pendamping remaja itu maka gereja pun dengan mudah mengadakan seminar, bible camp, dan retret remaja dll. (Menurut saya sehebat apapun pendeta tidak akan sanggup sendirian melakukan pembinaan warga).

Seingat saya seleksi untuk menjadi pendamping remaja juga sangat ketat sekali. Kita selalu mengusahakan agar yang menjadi pendamping remaja adalah orang-orang yang berkarakter, berhasil dalam studi dan pekerjaannya, dan jika sudah menikah maka rumah tangganya baik. Kita harapkan dengan begitu para pendamping itu benar-benar bisa menjadi model peran atau teladan bagi anak-anak remaja yang masih labil ini. Dan satu hal: masa jabatan pendamping remaja bersifat periodik dan bukan seumur hidup!

Namun malam ini saya mendapat kabar duka: Pendamping Remaja HKBP Rawamangun konon malam ini telah dibubarkan oleh pendetanya. Alasannya: tidak sesuai Aturan. Padahal jika jujur ada banyak sekali yang dilakukan HKBP yang tidak tercantum di Aturan. Logika sehat saya mengatakan: jika belum atau tidak diatur dalam konsitutusi tidak berarti jahat atau salah. Ah, saya tidak mau mencampuri lagi urusan jemaat yang telah saya tinggalkan beberapa tahun lalu, namun sebagai orang yang memperjuangkan agar Pendamping Remaja terbentuk di HKBP saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan, kegundahan dan ketidakmengertian saya. Maaf seribu maaf. Jika berita ini benar, saya mau mengatakan yang membubarkan Pendamping Remaja ini mungkin tidak tahu betapa pentingnya dan sekaligus betapa sulitnya membina remaja itu. Dan sebagai seorang pendeta yang pernah belasan tahun bergaul dengan remaja, dan sangat terbantu oleh orang-orang baik yang menyediakan dirinya sebagai pembina dan pendamping remaja HKBP tanpa bayaran, saya mau mengatakan : siap-siaplah menuai bencana. :-(

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

69 Responses to Berita Duka Remaja HKBP

  1. todungrs on March 7, 2009 at 1:32 am

    Remaja, sejak dahulu memang kurang jelas pengelolaanya. Serba tanggung, ke sekolah minggu tidak, ke nhkbp juga tidak.

    Dulu di Bandung, dibentuk Taruna sebagai identitas kelompok remaja tanggung ini. pembinaannya pernah diributkan, apakah guru sekolah minggu atau naposo. Dicari jalan tengah, sebagian dari guru sekolah minggu, sebagian dari naposo. Setelah terbentuk, tidak jalan, tapi tetap diperhatikan guru sekolah minggu.

    Anehnya, pola berpikir kebanyakan pendeta HKBP dan juga parhalado memang pantas dipertanyakan. Kebanyakan sibuk dengan rutinitas dan seremoni pesta yang banyak menghabiskan waktu dan dana. Sekolah Minggu, Remaja, dan Naposo sangat kurang pembinaanya, terutama ya tadi itu: remaja, karena posisinya yang serba tanggung.

    Kasus di Rawamangun, kalau benar, sangat menyedihkan. Di saat remaja tanggung ini butuh ‘teman’ pendamping dalam setiap kegiatannya, kekuasaan gereja merampas hak mereka. Saya juga tak tahu alasannya, tapi sekiranya ada tindakan pendamping remaja yang salah, maka personil tim pendamping yang harus diganti, dan buka dengan semena-mena membubarkan dengan alasan tidak ada dalam aturan.

    Kalau mengikuti logika : tidak ada di aturan: maka semua kepanitiaan yang tidak ada di peraturan harus dibubarkan atau tidak boleh ada, mis: panitia paskah, natal, dsb.

    Seperti foto ilustrasi di atas, siapa pun yang membubarkan tim pendamping remaja sama saja hendak merubuhkan pilar-pilar yang membangun kekuatan persekutuan dan pada akhirnya melemahkan pelayanan kita di gereja dan masyarakat.

    Dan saya setuju, bagaimana mungkin seorang pendeta bisa mulus dan berhasil bekerja apabila dia tidak bisa mengelola konflik dalam jemaat yang dipimpinnya, walau kecil. Untuk para pemimpin gereja seperti itu, mungkin ego pribadi lebih berbicara, tapi yang sering korban adalah jemaatnya, terutama pelayanan menjadi tidak maksimal.

  2. yosua sitorus on March 7, 2009 at 1:36 am

    Turut berduka amang jika kabar itu benar.
    Saya MJ walau bukan dr HKBP, kami memiliki pembina anak, guru sekolah minggu, pendamping kelas, yg jumlahnya sangat cukup utk jumlah anak sekolah minggu, tapi tidak satupun kami punya pembina remaja, kecuali MJ, kami menuntut mereka untuk mengurus dan membina dirinya sendiri. Ya Tuhan, ampunilah kami.
    Tulisan amang menyadarkan kami akan pentingnya pembina remaja, karena kita tau masalah yang remaja hadapi juga kompleks.

  3. mantan PdR HKBP rawamangun on March 7, 2009 at 1:39 am

    -turut berduka cita-

  4. sabar mangadu on March 7, 2009 at 1:51 am

    Syalloom Amang..
    Saya rasa ini hanyalah salah satu indikator kemunduran organisasi gereja HKBP secara subtantif… gereja dipandang hanya berupa heboh2 pembangunan gedung dengan segala kelengkapan organisasi dan manajemen. Juga berjalannya acara rutinitas… ibadah minggu, perayaan natal…ulang tahun gereja…Sinode godang, dll. Kalau ditanya apa yang telah dicapai secara subtantif…. egp..emang gue pikiran.

    Apa peran gereja terhadap semakin banyaknya anak remaja ? bahkan sekarang umur2 SD memakai narkoba ? Hah… itu tugas orangtuanya, bro ! Bapa ibunya saja yang ga becus…!

    Saya kagum dengan organisasi dan manajemen gereja katholik sejak dulu sampai sekarang….kenapa tidak kita contek saja cara2 mereka bekerja….??

    Atau tunggu saja ganti generasi, baru kita mulai dengan cara baru ? Tapi apa itu juga menjamin generasi muda mampu memperbaikinya… Saya pikir problemnya bukan hanya sekedar itu…. tapi lebih kepada enggannya menerima pemahaman baru dan spirit progresif dalam menghadapi perubahan jaman yang begitu cepat…

    Bayangkan… sekarang sudah masuk jaman ‘ Information and Communication ‘ (ICT) yang membawa peradaban baru dengan sangat cepat… apa dampaknya terhadap anak dan remaja serta anak muda kita.. sekarang sudah ada penyakit sosial baru yang jauh lebih berbahaya dari narkoba dan materialism yang muncul sejak selesainya perang dunia II. Yaitu Internet Addictive Disorder (IAD)… Apa institusi gereja kita sudah mengetahui dan menyadarinya?? dan Apa responnya ??

    Wahh..wah… lagi2 egp deh… lagi-lagi yang penting jumlah gedung gereja ‘kan makin bertambah… It’s enough, mate !! Don’t border us… It’s not your bussines…

    Sabar Tambunan

  5. DSB on March 7, 2009 at 3:54 am

    Sungguh memprihatinkan. Sementara AP disempurnakan (kapan?), orangtua yang punya anak remaja dapat berkumpul membicarakan apa yang perlu mereka lakukan bersama-sama supaya anak remaja mereka tumbuh baik dalam dunia yang sudah curat marut ini. Berilah perhatian yang sungguh pada anak remaja. Kita para orangtua yang punya anak remaja adalah stakeholder utama dalam pembinaan anak remaja.

    This is a serious business.

    Saya pikir untuk membina remaja kita tidak harus menunggu ada seksi remaja secara terstruktur di gereja (dari pada nanti dibubarkan, ntar sakit hati). Kalau misalnya utk melakukan kegiatan remaja tidak boleh menggunakan fasilitas gereja, ya lakukan di luar “gedung” gereja. Yang penting, adakah kemauan untuk itu? Atau kita lebih senang arisan dari satu marga ke marga lain? Apa yang kita perjuangkan?

    Ketabo ta paune remaja nta asa lehet.

  6. Mula Harahap on March 7, 2009 at 5:28 am

    Hati-hati kalian! Kalau kalian tidak mau membina anak-anak remaja itu, maka akan ada saja kelompok–atau bahkan gereja–lain yang dengan senang hati membina remaja kalian itu. Hasilnya tentu saja akan sesuai dengan kepentingan kelompok atau gereja itu, dan yang belum tentu sesuai dengan kepentingan kalian.

    Kalau itulah yang terjadi, maka yang rugi adalah kalian sendiri. Sudah capek-capek kalian membina anak-anak itu, eh di masa remaja mereka datang orang lain “membina….sakan” hasil pembinaan itu.

    Kalau remaja itu akhirnya pergi meninggalkan kalian dan bergabung dengan kelompok atau gereja yang telah membinanya, itu sih masih baik. Paling-paling kalian hanya kehilangan sejumlah calon anggota.

    Tapi yang lebih cilaka ialah kalau remaja yang telah “terbina” itu justeru kembali ke kalian dan mencoba “membina” adik-adiknya yang lain atau mulai menuntut hal yang aneh-aneh dari kalian. Kalau kalian, hajaplah kalian :-(

  7. Friska Pardede on March 7, 2009 at 5:33 am

    Entah kenapa sepagi ini ada keinginan yg kuat dihati saya untuk mengunjungi ruma metmet dan betapa senagnya hati ini amang mengangkat topik ini karena inilah keprihatinan terdalam saya terhadap HKBP, sepagi ini ketika saya menyiapkan dan menemani anak saya yg no 2 (usia 18 thn) sarapan pagi krn setengah jam lagi ia berangkat ke Depok untuk kuliah, ngobrol2 dengannya tentang tulisan amang ini.

    Turut berduka cita atas apa yg terjadi di HKBP Rawa Mangun krn anak pertama saya selalu dapat cerita dr teman2nya bw betapa bagusnya pembinaan naposo dan remaja nya ketika amang bertugas disana, bahkan dia sempat berpikiran untuk pindah dr greja kami kesana. Timbul pertanyaan dihati saya kenapa pdt R.Mangun membubarkannya hanya dgn alasan tdk sesuai dgn aturan??? memangnya aturan apa yg sdh dibuat pendeta itu agar remaja yg sangat labil ini bisa ditangani/disentuh

    Apakah beliau itu mempunyai anak remaja ,kalaupun anak2nya sdh besar tentu pernah dong dia mengalami bagaimana sulitnya menghadapi mrk.Saya masih memiliki anak remaja (usia 15) thn, saya tdk ijinkan dia ikut kebaktian khusus remaja digreja kami yg baru diadakan sejak bln lalu krn saya melihat kebaktian tsb tdk dipersiapkan dgn baik (asal2an) dan sy tau pendetanyapun tdk sesuai utk remaja, krn dlm obrokan sy dgn beliau mengapa tdk ada salah satu dari 3 pendeta yg ada deigreja ini tdk ada yg mau mengurusi remaja dia bilang di sk pengangkatan kami berdua tdk diperuntukkan utk itu tetapi sebagai pembantu pendeta resot .

    Sejak itu putuslah harapan saya terhadap greja kami tentang adanya pembinaan remaja ini pada hal di greja kami setiap thnnya 5-6 org meninggal krn narkoba rata2 usia 24-29 thn yg tentu ketika pertama kali memakinya diusia remaja, mengapa pendeta kami yg 3 org ini tdk berpikir ya!!, kalau ada respon dr para pendeta kami ini saya yakin akan banyak yb mau membatu terutama dr para org tua yg memiliki anak remaja dan kakak2 yg memiliki adik remaja.

    Andaikan komunikasi antara remaja dan orgtuanya tdk nyampung kemana para remaja ini mengadu tdkkah sebaiknya mrk datang kegreja?? untuk mencurahkan kegalauan hatinya krn bicara dgn orangtuanya sdh mentok?, saya memimpikan suatu saat ada tempat buat mrk digreja kami, mudah2an Tuhan mengirimkan gembala2nya yg sangag perduli dgn para remaja ini apabila tugas pr pendeta kami ini berakhir.

  8. Mula Harahap on March 7, 2009 at 6:12 am

    Berbicara tentang masalah pembinaan remaja di gereja, saya jadi teringat akan pengalaman saya sendiri, ketika anak-anak saya masih remaja:

    Suatu sore saya diminta oleh kedua anak saya untuk mengantarkan mereka ke gereja guna mengikuti sebuah acara mendadak. Malamnya, ketika menurut perhitungan saya acara itu telah berakhir, saya kembali ke gereja untuk menjemput.

    Ternyata acara yang berlangsung di Gedung Pertemuan Lantai 2 itu belum selesai. Tapi yang menarik perhatian saya ialah bahwa saya melihat anak lelaki saya sedang duduk seorang diri di lantai bawah dengan raut muka yang sangat “suntuk”.

    “Lha, mengapa kau tidak ikut bergabung di atas, Amang?” tanya saya.

    “Akh, kagak, deh. Kagak, deh….” katanya dengan ketus.

    “Lha, kenapa?”

    “Mereka pakai acara nangis-nangis sambil mengaku menerima Yesus. Kagak kena deh itu sama saya….”

    Kepada anak lelaki itu tentu saja saya tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi di dalam hati saya tersenyum sambil bekata, “That’s my boy…”

    Lalu saya bergegas naik ke lantai 2. Keterangan anak lelaki saya itu membuat saya “curious”. Belum pernah saya mendengar ada acara pembinaan yang model demikian di gereja kami.

    Ketika saya melongok ke atas saya melihat lampu di ruangan itu dimatikan. Semua remaja duduk di keremangan sambil memegang kertas dan bolpen mendengarkan seseorang yang berkata-kata di depan. Di antara anak-anak yang sedang duduk tekun mendengarkan itu ada anak perempuan saya.

    Saya buru-buru turun mencari Pak Pendeta. Kemudian saya ajak Pak Pendeta untuk melihat apa yang tejadi. Pak Pendeta terkejut. “Wuah, wuah kita kecolongan…,” katanya. Rupanya telah terjadi “miss-communication” dengan Seksi Remaja, sehingga mereka bisa mengundang pembicara dari luar tanpa sepengetahuan otoritas gereja. Namun karena acara tersebut sudah “kepalang” berjalan Pak Pendeta memutuskan untuk membiarkannya saja. Nantilah, setelah selesai acara, Seksi Remaja akan diajak bicara.

    Dalam perjalanan pulang saya dan kedua anak saya masih membicarakan acara tersebut di mobil. Rupanya anak-anak itu memang diminta untuk mengisi sebuah kertas yang berisi pernyataan bahwa dia menerima Yesus dan yang harus dilengkapi dengan nama dan alamat.

    “Lalu, apakah kau ikut mengisi kertas itu?” tanya saya kepada anak perempuan saya.

    “Ikut, dong,” sahut anak perempuan saya dengan mantap. “Soalnya, kata Kakak Pembina, siapa yang sudah mengisi formulir dia boleh mengambil bolpennya. Saya sih mau bolpen….”

    Saya tertawa dalam hati sambil berkata, “That’s my girl….” Berarti anak perempuan saya juga masih normal. Tak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan saya kalau saja anak perempuan yang masih ingusan itu mengatakan, “Saya sih mau Yesus….” :-)

  9. John Hutapea on March 7, 2009 at 7:11 am

    Semoga hal yang terjadi di HKBP Rawamangun tidak terjadi digereja lainnya, saya sebagai Orangtua yang punya anak Remaja sangat mendukung adanya Pendamping / Guru Remaja. Bagaimanapun Remaja adalah masa depan / generasi penerus di Gereja kita HKBP na bolon i.

  10. vera siagian on March 7, 2009 at 7:34 am

    SHALOM AMANG DANIEL…MASIH INGAT AKU? ADEKNYA SI OCI TEMAN AMANG DI IMMANUEL DULU?

    BENAR AMANG, DI GEREJA HKBP DI MANA SAYA TERDAFTAR, SAYA JUGA MELIHAT HAL YANG SAMA, ANAK REMAJA MEMBIMBING DIRI MEREKA SENDIRI…KALAUPUN MEREKA MERASA KURANG, MEREKA BISA MASUK NAPOSO, TAPI MEREKA AKAN MENJADI TIDAK MAKSIMAL KARENA PERBEDAAN USIA DENGAN NAPOSO YANG LAIN..

    AMANG BOLEH ENGGA, AKU DAN BEBERAPA TEMAN DI PADUAN SUARAKU MENGUNJUNGI REMAJA DI GEREJA AMANG…TAPI INI BARU BISA SAYA LAKUKAN SETELAH SAYA KEMBALI DARI AMERIKA AMANG…

    ATAU BOLEH ENGGA NATHANIA MINISTRY CHOIR DATANG MELAYANI DI GEREJA AMANG SEKITAR BULAN MAY TAHUN INI…

    VERA SIAGIAN

    Daniel Harahap:
    Silahkan datang kapan saja. Yang penting beritahu dulu. :-) Tapi kenapa sih semua harus pake huruf kapital, caps lock keyboard PC-nya tidak bisa dibuka? :-)

  11. Duma Nababan on March 7, 2009 at 8:34 am

    Dear amang,
    Kedua anak saya sekarang sedang memasuki masa-masa remaja. Jadi saya juga merasakan kekuatiran yang sama. Puji Tuhan sampai saat ini di gereja kami (HKBP Jatiwaringin) saya lihat mereka bersungguh-sungguh melayani anak-anak terutama sekolah minggu dan remaja. Semoga saja seterusnya, jangan sampai ketika nanti pendetanya ganti lagi pelayanan buat anak-anak ini akan menurun kualitasnya.

  12. abrianto Nababan on March 7, 2009 at 9:01 am

    Remaja dan Naposo bulung di hampir semua gereja HKBP ( maaf tdk semua ), walaupun ada pembinanya tp realisasi pekerjaannya ecek2 semua, sy setjuu dengan amang DTA….sy berani mengatakn begitu, krn sy mantan NHKBP, saya tanya skrg…, NHKBP punya yang namanya paniroi naposo, seberapa sering mereka ikut sewaktu ada sermon naposo ? sudah itu si paniroi punya anak naposo, tapi tidak aktif di punguan naposo, dengan alasan sibuk kerja….alasan yg plg tepat utk menjadi pembenaran, tapi begitu ada acara parheheon naposo, semua parhalado sibuk memberikan masukan/ide untuk memeriahkan acara, mau tau kenapa …????
    Amang, kalau amang mengatakan, siap2 menuai bencana…kalau sy mengatakan bencana itu sudah mulai datang….tanggung jawab siapa ?

    Daniel Harahap:
    Naposo HKBP karena sudah lebih dewasa dan mampu masih lumayan keadaanya. Namun remaja (tingkat SMP dan SMA) inilah yang paling parah keadaannya. Mereka seperti anak-anak ayam kehilangan induk. :-(

  13. Panca Bonar on March 7, 2009 at 9:37 am

    Serba susah memang, ibarat pepatah bagai buah simala kala, dilakukan salah tidak dilakukan salah. Jadi bagaimana kita mencermati permasalahan remaja di HKBP?

    Berbagai permasalahan yang harus diantisipasi saat ini ( walau kita sudah telat , tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali) adalah akibat minimnya penanganan remaja. Defenisi remaja saat ini tentu juga sudah bergeser kalau ditinjau dari umur dan adanya dampak perubahan/perbaikan gizi saat ini, dulu hingga kelas 6 SD masih digolongkan sekolah minggu( sewaktu saya volunteer guru sekolah minggu di Hang Lekieu ) , namun saat ini kelas 5 SD sudah malu ke sekolah minggu, dan situasi demikian sangat membutuhkan wadah pelayanan remaja.

    Merujuk pada pengalaman hidup yang sering dituliskan pada berbagai media massa perihal seluk-beluk permasalahan remaja ,dibutuhkan suatu penanganan yang ekstra dalam membentengi remaja dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi, budaya hidup dan terutama ancaman penyalah gunaan narkoba hingga permasalahan seksualitas remaja, maka penanganan khusus remaja di HKBP amat sangat dibutuhkan, dan kita semua mengerti akan fakta tersebut.

    Nah, apa sih Aturan HKBP saat ini, apa saja yang dibicarakan di Rapat Praeses di Tretes sana ( maaf saya agak emosi ) yang bisa sebagai suluh atau penerang dalam menyikapi permasalahan hidup yang menyerang remaja saat ini? Sadar nggak sih pimpinan HKBP akan tingginya prevalensi adiksi narkoba di kalangan remaja HKBP, apakah tidak merasa terpanggil untuk melakukan suatu strategi untuk mengurangi angka kematian remaja HKBP akibat overdosis narkoba, atau malah menyalahkan remaja itu sendiri dan bahkan tidak mau memberikan pemberkatan pada saat penguburan ( ini adalah fakta dan banyak terjadi , dimana pendeta tidak mau datang untuk memberikan kebaktian acara penguburan saat beberapa remaja HKBP meninggal akibat overdosis narkoba), tanpa menyadari bahwa mereka adalah korban dari ke-tidak becusan kita dalam mendampingi remaja.

    Sungguh ironis memang, di saat jemaat ( remaja) membutuhkan Kristus untuk melakukan kesembuhan remaja, namun tubuh Kristus itu seolah-olah sudah tidak bernyawa. Padahal berbagai resources telah tersedia di depan mata , memang kalau kita melihat hanya dengan mata kita tidak akan jelas melihat .

    Apakah kita harus melakukan suatu gerakan untuk hal yang emergenci ini? Saya siap.

  14. Tetty Sihombing on March 7, 2009 at 10:20 am

    Prihatin juga membaca posting Amang Pdt tentang remaja di HKBP. Di GPIB misalnya itu diperhatikan benar ada Badan Pekerja Kelompok Anak, Kelompok Teruna (remasa) dan Kelompok Pemuda yang tertata dan terbina di bawah kendali Ketua Majelis.

    Tapi kita mengucap syukur masih ada kok yang perhatian. Di HKBP Menteng Jl Jambu pembinaan Remaja baik sekali. Saya kebetulan cukup lama jadi salah satu dari Pengurus dan Pembina Remaja. Ada macam2 kegiatan seperti PA (interaktif), olahraga bahkan kegiatan yang tredy seperti ‘nge-band’ yang digandrungi remaja sekarang. Ada Dewan Remaja dan Naposobulung dan ada sermon pembina setiap Kamis malam dipimpin langsung oleh Pendeta. Jadi saya rasa tergantung apakah Majelis dan Jemaat dewasa gereja setempat ‘concerned’ atau tidak dengan urusan dan perkembangan remaja gerejanya.

    Daniel Harahap:
    Hanya satu kelemahan Pembina Remaja Menteng: tidak ada sistem periodesasi. :-)

  15. jonathan on March 7, 2009 at 10:59 am

    Remaja itu memang pangsa pasar yang sangat bagus dan potensial ………..untuk segala hal.Kalau HKBP tidak menyadari dan anggap remeh terhadap hal itu,saya teringat perumpamaan orang yang mendirikan rumah di atas pasir yang lemah.

  16. Maringan Pardede on March 7, 2009 at 11:43 am

    Saya sangat berterima kasih adanya rumah metmet ini. Semoga semangkin maju da jaya terus.
    Berita Duka remaja bukanlah hal yang baru, dan itu sudah biasa bagi HKBP. Karena kreteria untuk menjadi pendeta ressort terlampau mudah, sehingga dalam hal memimpin ressortpun bisa berjalan sendiri, seperti biasa rutinitas seremonial kegiatan ibadah, sehingga yang terjadi bukan melayani tapi dilayani. Dan ini bukan hanya masalah ada atau tidak pendamping atau pembina remaja, yang jelas kemauan dan kesadaran untuk berbuat tidak hidup dalam diri Pendeta Resort (Jiwa Marturia, Jiwa Diakoniada dan Jiwa Koinonia).

  17. Edolf Nainggolz on March 7, 2009 at 11:59 am

    Lucu sekali alasan pembubaran Pendamping Remaja hanya karena “Tidak Sesuai Aturan”. Kalau memang benar seperti itu, mengapa Justru hal yg Baik dan Positif justru dibubarkan?? Mengapa bukan “Aturan” itu yg diperbaiki. Itulah mengapa banyak orang bilang HKBP adalah Gereja yg “Kolot” dan sulit untuk maju. Bahkan tertinggal dengan Gereja lainnya.

    Pertanyaan saya Apakah adik2 Remaja tidak dianggap sbg Jemaat Gereja?? Apakah dalam Pelayanan HKBP membedakan umur?? Kalau seperti itu berarti ada Diskriminasi Pelayanan dalam tubuh HKBP :-(

    —–> TURUT BERDUKA

  18. Hodner L T on March 7, 2009 at 12:39 pm

    Sangat disayangkan kejadian pembubaran Pendamping Remaja di atas !
    Inikah salah satu isi dari “Tahun Diakonia” ? Mudah-mudahan yang membubarkan Pendamping Remaja itu segera menyadari kekeliruannya

  19. Saurdot on March 7, 2009 at 1:52 pm

    Membubarkan? Organisasi terlarang? Tidak ada ijin? Kekuasaan yang mengatur? Tidak boleh kreatif? Saya mengira bahwa jaman itu sudah berakhir, ternyata masih ada.
    Saya jg pernah mengalaminya, ketika majelis menggagalkan program pelayanan SM yg kami tawarkan. Waktu itu sih wajar, karena suasana orba. Apa2 ortu yg ngatur. Tapi, jaman sekarang adalah jaman dialog. Setiap person dihargai pendapatnya. Mari berdialog, siapa tahu memang kita lah yg salah.

  20. Soparov van Hotank on March 7, 2009 at 2:01 pm

    Topik ini tepat sekali dengan yang saya pergumulkan akhir-akhir ini, saya yang latar belakang HKBP mania (Bapak mantan guru huria HKPB selama 23 thn, ber-abang kini salah satu Praeses HKBP dan ber-abang ipar kini salah satu pendeta Resort HKBP), harus turut ajakan istri, sebagai orangtua untuk tidak egois dalam mar-huria.
    Demi anak2 yang akan beranjak remaja, istri menuntut untuk pindah ke GPIB yang lebih mewadahi dan focus dalam pembinaan iman remaja ini demi persiapan sidi mereka ke waktu depan.
    Saya pun menurut dan tentu tetap cinta HKPB yang telah melandasi pembentukan kerohanian saya di waktu2 yang berbeda situasi dan kondisi dengan anak2 saya.
    Saya yakin dan melihat bukan hanya saya, tapi banyak keluarga2 halak hita di sekitar saya yang sudah dan akan terus melakoni ini.
    Terutama dikarenakan kesibukan kerja di daerah industri yang sangat menuntut, tidak cukup banyak waktu tersita buat mereka, kami merasakan GPIB lebih memberikan ruang pemanfaatan waktu yang lebih systematic, efisien dan efective dalam pembinaan teruna dibanding HKPB.
    Maaf, ini mudah-mudahan diambil sebagai refleksi positive buat HKBP terutama yang di kota2, yang menurut saya kurang proaktive atau klo tidak keberatan boleh saya berpendapat, lebih konservatif bahkan ortodoks. (Kita bisa lihat dari desa2 terpencil hingga kota besar, dari dahulu hingga kini, selalu standard, lebih mendominankan punguan2 namatua Ina/Ama/Naposobulung(bukan remaja)/Sekolah Minggu(anak2 bukan remaja).
    Untuk preventive kasus yang amang DTA kemukakan, landasan pembentukan Dept. Remaja, sepertinya sangat urgent, sepadan dengan Dept. Sikola Minggu/NHKBP, Ina dan Ama.

    Dengan segala kerendahan hati, saya coba melihat permasalahan ini dan mengarahkan ke suatu solusi, mudah2han berkenan dan bisa dpeop dan dipahusor husor be.

    Why_1 Pendamping Remaja Dibubarkan
    Why_2 Status Pendamping Remaja tidak sesuai aturan HKPB
    Why_3 HKPB secara sentral tidak membuat aturan khusus buat pendamping remaja
    Why_4 HKPB tidak menyikapi/luput melihat perrlunya pendamping remaja
    Why_5 Kurang perhatian/kesadaran dari si perumus aturan HKPB tentang hal ini

    Syaloom dan Tuhan Memberkati

  21. Vanie Tampubolon on March 7, 2009 at 2:36 pm

    Dear amang,

    Akhirnya saya dapat satu bacaan yang sudah lama saya harap-harapkan. Waktu saya liat title artikel ini di fs, langsung saya cari tahu.
    Saya merasa sangat sedih sekali hal tsb terjadi di gereja HKBP Rawamangun. Saya adalah termasuk salah satu remaja yg sempat terdampar di dunia gereja-gereja lain, tidak aktif di gereja, lalu masuk sidi, dan setelah itu saya mulai aktif di remaja HKBP Kebon Jeruk. Selama saya aktif di Remaja, kurang lebih selama 2-3 tahun, saya sangat senang sekali. Begitu banyak kegiatan2 yang kita laksanakan, mulai dr kunjungan kasih, PA, ret-reat, majalah dinding, etc. Dari semua kegiatan2 itu, sedikit banyak telah membantu saya membentuk jati diri saya sekarang. Tapi apalah daya, saya harus stop dipelayanan remaja untuk sementara karena masalah studi. Tapi begitu lepas dari pelayanan di HKBP Bonjer, saya merasa kangen sekali.

    Setelah hampir 4 tahun saya jauh dr HKBP Bonjer. Saya tetap mendengar kalau remaja masih tetap ada digereja saya. Sangat senang dan bahagia sekali mendengar hal itu. Dulu saya pikir, remaja itu hanyalah satu bagian yg tidak begitu penting di HKBP. Hal itu saya dapatkan karena digereja saya sendiri, remaja dipandang sebelah mata. Sungguh saya tidak tahu mengapa seperti itu. Banyak orang tua, sintua2 di gereja, bahkan pendeta sendiri yang tidak benar2 mau membantu committee remaja kita. Jujur sekolah minggu, dan Naposo lebih banyak mendapatkan sorotan, dan bantuan either dari materi, fisik, dll. Padahal menurut saya, jenjang remaja itu sangat penting sekali. Karena dijenjang remaja tsb lah kita dicoba dan dipertanyakan basic kita dan iman kita terhadap Tuhan Yesus Kristus.

    Bukan hal yang aneh, kalau memang remaja selalu tidak dianggap serius oleh pengurus2 HKBP or jemaatnya sendiri. Tapi yang bikin saya kaget, sampe segitu bedanya kita, sampai2 program remaja di HKBP Rawamangun sampai2 ditiadakan. Sungguh saya merasa sedih sekali mendengar dan membayangkan nasib adik2 kita yang sedang di sidi atau sudah di sidi tanpa bantuan dan bimbingan dari pembina2 remaja.
    Selama saya disidi, dan aktif di ramaja, saya selalu menjadikan sosok pembina remaja saya dulu (seperti ka Novi, Ka Tio, and Ka Cat.. kalau ada yg kenal) sebagai role model saya. Dari mereka lah saya mendapatkan banyak pengajaran ttg Tuhan Yesus dan kehidupan.

    Mudah2an ada orang2 atau jemaat2 di HKBP Rawamangun yang mau memperjuangkan masalah ini. HKBP kiranya mulai berhati2 akan kurangnya remaja2 yang hadir untuk bergereja. Karena yang nantinya meneruskan gereja kita tsb yahh memang adik2 remaja kita tsb.

    Mudah2an sharingan saya bisa memberi berkat bagi semuanya..

    nb: slogan remaja saya dulu: “Remaja pasti lebih baik!”
    amieeenn..

  22. Saurdot on March 7, 2009 at 3:48 pm

    Pernah suatu masa, ada di HKBP namanya Tahun Anak-anak, seingatnya awal 90-an. Temanya: Yesus Sahabat Anak-anak. Bagi saya, program itu berhasil karena mampu membentuk opini baru bagi kami Guru SM bahwa anak-anak bukan objek pelayanan melainkan subjek, dan juga dimuliakan Tuhan dengan menerima mereka sebagai sahabat. Kalau Yesus sendiri melakukannya, kenapa kita tidak bisa menerima mereka setara dengan kita dalam hal pewaris kerajaan sorga? Saat itu, mengkristal bagi kami pendapat bahwa anak-anak tidak selamanya anak-anak. Mereka bertumbuh menjadi remaja, lalu naposo, lalu ama/ina bagi yang mau berkeluarga, dan menjadi sesepuh jika diberi Tuhan umur yang panjang. Bagaimana kalau mereka tidak dibekali sesuatu yang baik diawalnya, apakah kita dapat mengharapkan mereka menjadi generasi penerus gereja di kemudian hari? Ini yang menyemangati pelayanan kami untuk terus memperbaharui program dan mengajak anak sama seperti sahabat. Lalu memberi peran dalam pelayanan melalui Paduan Suara, Assemble Musik, dan berbagai kegiatan lain. Bukan berhenti disitu, kami membangun persekutuan dengan mengunjungi rumah-rumah mereka bergantian (bukan karena sakit) dan suasana kekeluargaan sangat terasa. Yang spektakuler saat itu, kami menyiapkan acara untuk menghidupkan persaudaraan di antara anak-anak, Kamp Anak. Menurut orang-orang saat itu ini tidak umum dan berbahaya, jadi kami menyebarkan kuisioner dulu ke orang-orang tua, dan jadilah Kamp Anak di Gunung Salak selama 3 hari di awal tahun 90-an. Wow, anak-anak dari kelas 5 SD (baru naik ke kelas lima) sampai kelas 3 SMP menginap di hutan Gunung Salak. Ini bukan retreat, tetapi melatih kemandirian, bermain, belajar saat teduh, belajar bagaimana hidup bersama, dan mengajar bahwa anak-anak itu mempunyai peranan penting juga dalam keluarga. Hingga kini saya merasakan bahwa mereka adalah adik-adik saya dan sebagian dari mereka sudah berkeluarga. Apa kesan mereka terhadap pelayanan kami dulu? Saya tak perlu menyampaikannya, karena kemuliaan hanya bagi TUHAN. :-)

    NB: Mereka bertumbuh, saat ini mereka anak-anak atau remaja, namun suatu saat mereka adalah penerus gereja. Mari perhatikan mereka!

  23. Pendamping Remaja Rawamangun (just ex) on March 7, 2009 at 3:53 pm

    terima kasih untuk berduka bersama kami
    :(

  24. Richard Siahaan on March 7, 2009 at 4:47 pm

    2 amang DTA..
    Saya anak dari Friska Pardede…
    Pas plg kuliah, sampai d rmh, saya di suruh duduk dpn komputer lalu d surh baca thread ini (pdhl msh cape,hbs naek2 kreta T_T)
    Saya sih udh sangat tidak terkejut dengan tingkah laku para pelayan HKBP..
    Apalagi yang seperti ini… Udah ga terkejut lg deh…
    Lebih mementingkan gereja dr pada masa depan gereja..
    Bo-nyok saya udh mendidik dr dulu untuk menempa ilmu keimanan saya di HKBP..
    Tapi beberapa thun ini,saya mulai aga sedih sama HKBP..
    Saya mulai berniat untuk pindah gereja…
    Memang c, bgmn pun jg tdk ada sesuatu yg smpurna…bgtu jg dgn greja…pasti mempunyai “kecacatan”
    Namun sepertinya tidak ada niat dari pihak gereja itu untuk berubah,tidak ada niat greja untuk bersikap lbih maju…
    Zaman sudah berubah, dan qt msh tetap statis seperti ini…mau di bawa kemana remaja HKBP???
    Saya hanya bs berdoa, smoga HKBP mulai sadar akan kekurangannya, sehingga bs menjadi lebih baik..

    Saya ada usul nih amang, bkin Fan Pages di Facebook donk…biar dpt update tiap hr, hehehe..

  25. seorang Remaja Rawamangun on March 7, 2009 at 5:49 pm

    dear amang ,
    belum 1 tahun saya ada di Remaja Rawamangun.
    dan belum 1 tahun juga saya mengenal para PdR.
    namun sebelum 1 tahun, saya bisa sayang dengan PdR. mereka mau membagi waktu buat kami, share, dan yang pasti membantu kami dalam menjalankan program kerja. banyak sekali hal – hal yang yang tercipta di remaja oleh karena PdR. bahkan menurut saya, remaja hidup dan berkembang tidak lepas dari campur tangan PdR. saat dibubarkan, remaja dalam kondisi tidak siap dilepas. saya pribadi sangat merasakan kehilangan PdR. saya hanya berharap ada keajaiban dari Tuhan Yesus. .

  26. tha on March 7, 2009 at 6:48 pm

    Terima kasih sudah menuliskan kejadian ini sebagai topik di blog Amang. Sudah saatnya pihak-pihak yang terlibat untuk peduli dan memikirkan (dengan serius) tentang Remaja2 tersebut.

    Semoga kejadian ini bukan sekedar kejadian menyedihkan belaka, tapi hendaknya jadi momentum untuk membahas hal-hal yang perlu dikerjakan HKBP bagi remajanya (baca penerus).

    Terima kasih atas keprihatinan Amang.
    -mantan PdR -

  27. Ingrid Napitupulu on March 8, 2009 at 12:08 am

    Amang, Aku, saat ini, hanya bisa kasi saran karena aku tidak beribadah di situ.

    Kalau memang katanya tidak sesuai aturan, mari “disesuaikan”. Bikin panitia yang akan mempersiapkan usulan pembentukan kembali PdR dalam bentuk proposal atau sejenisnya. Minta dukungan dari Tim Pembinaan Sekolah Minggu dan Naposo. Lalu ajukan kembali kepada siapapun beliau yang “berkuasa”.

    Aku pikir, kalau memang sesuatu itu baik dan membangun tanpa merusak siapapun dan apapun, maka sesuatu itu patut dan layak diperjuangkan kok.
    Kalau memang harus berkali-kali, ya mari dilakukan berkali-kali. Let us see this as a tool to learn to be a bigger person and a child of God’s with great quality.

    Daniel Harahap:
    Saya juga tidak lagi di situ. Jadinya ya hanya bisa doa saja dari jauh. :-)

  28. Jansen H. Sinamo on March 8, 2009 at 6:43 am

    Saat remajalah kita jatuh cinta pertama kali. Aku juga begitu, selepas SM, akupun mallabab pada seorang remaja putri, kata orang sih cinta monyet, tapi kataku itu cinta sejati.

    Pada saat bercinta itu, saat dilanda cinta, jiwa kita sangat lembut, sangat tender. Di situlah pembinaan, pengarahan, pembentukan dari seorang mentor yang mengerti jiwa muda sangat efektif.

    Kalau HKBP tak punya aturan ttg keremajaan, sudah saatnya dibikin.

  29. jeremy on March 8, 2009 at 12:56 pm

    Inilah ideologi yang terlalu introvert dari seorang pendeta… Zaman udah berubah tapi tetep aja katak dalam tempurung, lah ini untuk kebaikan generasi muda koq malah dilarang!!!

    Saya pernah melihat sendiri kesemrawutan remaja di salah satu gereja HKBP di sumatra, gereja besar, pendetanya pintar untuk ministry, tapi sayang tidak ada PdR, akhirnya statistik dalam setahun mereka pindah ke agama lain, narkoba dan hamil di luar nikah (padahal masih remaja!!!)

    Turut Berduka dan ex PdR tetap teguh saja dalam Tuhan…

    Saya usul sama exPdR, dibuat saja kegiatan pendampingan itu di luar gereja, gak usah lagi bawa nama Gereja HKBP Rawamangun.. Pasti lebih berhasil karena tidak hanya remaja di rawamangun mungkin juga di sekitar rawamangun bisa terbantu dengan lembaga apa namanya untuk PdR ini :)

  30. eric arac on March 8, 2009 at 3:09 pm

    Membaca postingan di atas, woalahhh….. ini lagi. Bicara tentang remaja gereja, di HKBP lagi, tidak akan habis-habisnya ‘uneg-uneg’ yang mau diutarakan. Setelah membaca semua tanggapan di atas, aneh, saya malah mundur sesaat, diam, lalu merenung semalaman.

    Sekitar pertengahan tahun tujuh puluhan saya adalah salah seorang remaja di HKBP, yang punya kegiatan setiap ada acara di gereja. Saya tahu berdeklamasi dan pernah belajar tari Gending Sriwijaya adalah ketika saya remaja di HKBP. Diajarkan oleh kakak NHKBP, diawasi seorang sintua dan guru huria, sesekali pendeta datang melihat. Selain itu ada koor remaja yang ber-koor setiap kebaktian minggu. Pada waktu itu kebaktian minggu hanya ada 2, yaitu Pukul 8-9 pagi untuk Sekolah Minggu dan pukul 10-12 untuk orang-orang selain Sekolah Minggu. Sesekali kami remaja ditugaskan untuk mengumpulkan persembahan. Waktu itu Aturan dan Peraturan belum ada. Nah, lho!

    Minggu lalu, secara kebetulan saya membaca susunan pengurus remaja di salah satu gereja di HKBP, dalam struktur-nya dituliskan:
    - Penasehat Ajaib : Tuhan Yesus.
    Nah, lho!

    Pikiran saya, remaja gereja itu, bukan hanya tanggung jawab Pendeta, tapi adalah tanggung jawab bersama dari para pendeta, majelis gereja dan orang tua secara keseluruhan. (bukan hanya orang tua si remaja itu sendiri, tapi semua orang yang lebih tua dari remaja itu termasuk muda-mudinya).

    Kalau ada berita: Pendamping Remaja HKBP Rawamangun dibubarkan, jangan terlalu sedih, apalagi berduka. Kita ingat, orang mati saja dapat dibangkitkan oleh Tuhan Yesus. Mari kita berpengharapan. Di gereja itu, selain pendetanya (menurut saya semua pendeta memikirkan semua jemaatnya) masih banyak para majelis yang kita yakini mampu memberi perhatian yang baik kepada para remaja. Mungkin ini adalah teguran kepada semua pihak supaya lebih baik dan bertanggung jawab. Kalau mau menangani remaja gereja, mari kita perhatikan apa yang disampaikan oleh amang Mula di atas. Harus melibatkan perhatian semua pihak. Jangan sampai remaja itu sendiri melakukan kegiatan di lingkungan gereja kita, tanpa ada yang memantau dan mengawasi, terutama dari pihak gereja, pendeta atau majelisnya.
    Mari kita berpengharapan, remaja HKBP, dari dulu, sekarang dan ke masa yang akan datang, tetap mendapat didikan yang lebih baik dari HKBP. Semoga.

  31. elumban on March 8, 2009 at 5:08 pm

    Dari semua komentar di atas, ada suatu hal yang sangat berbahaya saat ini di HKBP dalam kaitan dengan AP2002, dan itulah yang sedang dipertontonkan oleh pendeta rawamangun, apa itu? Pendeta resort atau Uluan Huria adalah satu-satunya dan hanya satu-satunya yang berhak menafsirkan mana yang sesuai dengan aturan dan mana yang tidak. Semua kita sepakat bahwa pelayanan sekolah minggu, remaja dan NHKBP adalah bagian yang sangat kritis saaat ini di HKBP. HKBP tidak punya pola pelayanan (kepedulian) akan segmen ini. Mari saya undang anda utk melihat dan menunjukkan bukti-bukti adanya keseriusan HKBP untuk memberikan perhatian pada segmen ini.

    Kembali kepada AP2002, kalau saja pendeta (uluan huria) cukup jeli dan mempunyai kepekaan thdp jemaatnya pembinaan remaja seperti ini sebenarnya difasilitasi dalam aturan tsb. Sampai saat ini belum ada juklak penerapan AP2002, artinya, sesuatu hal yang tidak termuat dalam aturan tersebut masih dimungkinkan utk dijalankan sebagai bagian atau content gereja sesetempat sesuai dgn kebutuhan. Di sisi lain penempatan pendamping remaja juga masih dimungkinkan melalui parhobas yang diangkat karena keahlian atau kebutuhan gereja setempat. Jadi sebenarnya kembali pada kepekaan dan kepedulian pendea-uluan huria setempat akan kebutuhan jemaatnya, alasan ketidaksesuai dengan AP2002, terlalu mengada-ada atau mau cari muka ke pusat sebagai pendeta paling konsisten thdp aturan.

    Hal yang sama akan terjadi di gereja kami. Punguan Lansia mau di bubarkan karena tidak ada dalam AP2002, padahal saat ini punguan lansia di gereja kami sudah sangat hidup…..

    Daniel Harahap:
    Banyak sekali dalam gereja apalagi dalam hidup ini yang belum atau tidak diatur dalam Aturan HKBP. Salah satunya: Panitia Pembangunan. Di AP HKBP sama sekali tidak ada disebut tentang Panitia Pembangunan. Namun siapa yang mengatakan Panitia Pembangunan tidak perlu atau bertentangan dengan Aturan?

  32. kenzobogor on March 8, 2009 at 7:48 pm

    amang pendeta doakan kenzo ya, kenzo kelas 2 sd.salam ama kakak esra, anggi, iyut. gbu

    Daniel Harahap:
    Oke Kenzo. Amang Pendeta selalu doakan Kenzo. Anak Amang yang paling kecil juga kelas dua, namanya Wili. Kirim salam kepada papa dan mama ya? :-)

  33. elumban on March 9, 2009 at 6:17 am

    Saya kirimkan sms ke beberapa teman dan pendeta HKBP ttg kasus ini. Tanggapannya beragam dari yang cuek sampai yang geram.
    Yang cuek bilang begini “Trmks bos, tapi pemakaman tdk ditemukan” Salah satu pimpinan HKBP mengatakan “knp tak ada, ada itu bah, itu perlu diperjugkan, sebab masalah remaja butuh penanganannya”. Nah loh…… Pertanyaan saya, apakah tidak ada jemaat HKBP Rawamangun yg mempunyai anak remaja yg sudi mampir dan ngasih komen di sini?

  34. R. Sijabat-NHKBP Jaksam on March 9, 2009 at 11:02 am

    ternyata keadaan ini mang sudah berlaku dari dulu. dulu waktu saya remaja,kita (saya dan teman2 remaja saya) sering kena tegur apabila ada pembinaan remaja (berupa PA kelompok). padahal pembinaan remaja itu dipimpin oleh guru skolah minggu kami sendiri. dia bilang (pendeta itu) “masa orang buta mimpin orang buta…” amang, tolonglah perjuangkan ini lebih lagi agar paling tidak mulai ada pembaharuan tentang pertumbuhan iman remaja-pemuda di HKBP! Terimakasih.

    Daniel Harahap:
    Seharusnya bilang kepada pendetanya, kalau begitu Amang pimpinlah kami. (tapi sehabat apapun sang pendeta saya tak yakin dia sanggup sendirian melakukannnya). Untuk itulah dibutukan Tim Pembina/Pengajar/ Pendamping. Tugas pendeta adalah mempersiapkan dan membekali (sekaligus mengarahkan tim pendamping) tersebut agar tetap di rel. Bukan dengan memborong semua pekerjaan.

  35. Richard Siahaan on March 9, 2009 at 4:01 pm

    5 thn yl ketika putri pertama kami mengetuai seksi remaja digreja kami ketika mrk mengajukan anggaran setahun kedepan untuk segala keperluan mrk hanya seperempat dr yg diajukan seksi ama, greja memutuskan mrk hanya mendapatkan setengahnya saja dan seksi ama mendapatkan seratur persen. Ketika partamiangan weyk saya suarakan: lebih penting ruapanya pembinaan terhadap ama ini ( apakah mrk termasuk ama2 nasotarpinsang) yg nota bene sdh punya penghasilan dan imannya seharusnya sdh baik dibandingkan dgn remaja yg amat sangat perlu dibina ini.

    Karena dana tdk cukup akhirnya remaja pada saat itu hanya kebaktian padang ditaman bunga cibubur dan pembinaan yg sdh dirancang 2x 1 bln mengambil pembicara yg berkualitas dr luar termasuk waktu itu mrk mau undang amang tdk jadi, akhirnya mrk hanya minta tolong kepd sintua yg mrk angap sedikit lebih cerdas (dan mau) dibanding sintua yg lain krn pendeta tdk mau tau.

    Ketika sy ceritakan tentang topik ini padanya dia bilang kok dihampir semua HKBP dari tahu8n ketahun seperti itu ya apa kita pindah ke gereja lain saja ya krn disana teman2 saya sangat dihargai dan sangat diperhatikan terutama sekali remaja dan pemudanya.

    Bukannya sombong atau sok pamer bw anakku yg 3 org ini les orgen klasik sangat lama demi mensapai hasil yg sangat maksimal tetapi sering kalli jadwal mrk diberikan pada saat ibadah rutin saja apabila pesta greja mis: Natal dan ari hamamate seringkali mrk tdk terpakai yg dipakai adalah organis yg asal2an (hanya krn ada hubungan keluarga), anak2 saya lama kelaman muak dgn ini, makanya maaf saja anak2 saya sdh mengajukan lamaran utk menjadi organis di salah satu gereja di menteng utk organ pipa.

    Sebagai orangtua yg memang sangat menyiapkan anak2 dgn serius saya merestuinya dan akan tetap menjadi warga HKBP dan jadwal orgennya yg didapat dari greja kami hanya 1×1 bln krn sayapun muak melihat tingkah laku para petinggi greja kami yg hanya mementingkan keakuan semata

  36. Frisca Pardede on March 9, 2009 at 4:24 pm

    Maaf amang harusnya Frisca Pardede

  37. kenzobogor on March 9, 2009 at 6:23 pm

    Syalom, memang kebijakan seseorang terkadang membuat kita gerah, tak suka dan merugikan. tapi kita mengharapkan keadaan Remaja-remaja HKBP tetap dalam aqidah2 HKBP, perlu saran pada Pihak pusat yang menaganinya agar lebih menimbang dari sisi baik dan buruknya. dirasakan memang keberadaan remaja ini sunggu mengambang demikian juga di gereja Kami, kami selalu perhatikan mereka bila latihan koor, VG atau yang lain sepertinya kurang perhatian. hal-hal demikianlah harus diperhayikan dan membuat aturan yang jelas. Jangan beri kesempatan bagi pihak lain atau mudamudi kelompok lain akibat adanya kejenuhan2 ini. alhasil si anak memcoba berkumpul pada kelompok lain dan biasanya saat awal mereka memberikan perhatian banget. Dan merekapun kompak alhasil datanglah omongan si remaja pada Bapak/mamanya bilang ” Pak/ma di sana itu saya sangat diperhatikan banget, kompak, ceria dan…………..Bla-bla……. Tq GBU

  38. rjh on March 9, 2009 at 7:47 pm

    Saya bergembira karena semua teman yang berkomentar merasakan dan mengharapkan betapa pentingnya pembinaan terhadap kategorial remaja ini. Di gerjeja tetangga kita ada yang begitu serius memberi perhatian atas pembinaan kategorial ini dan ada juga yang tidak. Di HKBP juga begitu. Khusus mengenai pdR yang di HKBP Rawamangun, menurut dugaan saya, tidak mungkin sebegitu mudah untuk membubarkannya (kalau sudah dibubarkan) tanpa ada suatu pembicaraan sebelumnya dalam rangka penyempurnaannya. Yang pasti tidak ada seorangpun di sana yang ingin menghentikan pembinaan remaja ini tapi, barangkali, para majelis (tentu bukan hanya pendeta-walaupun pendeta itu adalah uluan), seksi dan dewan terkait ingin memajukan pembinaan ini, umpamanya dengan menyesuaikan struktur para pembina itu sesuai Aturan yang ada. Saya tidak boleh menyangkal bahwa pembinaan pada tahun-tahun yang lalu sudah baik, tapi jika ada di sana usaha untuk penyempurnaan struktur dalam rangka pembinaan yang lebih baik tentu tidak ada salahnya sehingga kita tidak perlu “berduka” untuk itu. Pada AP 2002 ada pengaturan tentang kepengurusan Seksi Remaja (walaupun, barangkali, tidak sesempurna yang kita harapkan). Jika suatu jemaat mengimplementasikan pelaksanaan AP itu dengan membentuk para pembina, atau apapun namanya, tentu tidak ada salahnya. Namun, jika kemudian perlu disempurnakan, menyesuaikannya dengan Aturan yang berlaku umpamanya di mana tempat pembina itu dalam struktur yang ada, dan dia bertanggungjawab kepada siapa secara organisasi, tentu sangat baik juga. Alai sipata molo muruk hita sai pintor tadok do : “Martanggungjawab tu Tuhan i do hami !!” Kesulitan kita di gereja HKBP yang kita cintai ini ialah pada satu sisi kita ingin melaksanakan AP secara murni tapi pada sisi lain kita juga sering berkata : “ai godang do na so adong di AP i naung taulahon !”. Sintong do i, boi do ulahonhon nasa ulaon na so maralo tu aturan, alai saboiboina sai dumenggan ma molo pinahombar angka ulaon dohot angka pangula i tu aturan. Kadang-kadang ada orang yang mengatakan: “itu tidak ada dalam aturan”, hape adong do.
    “Ai ndang adong juklak ni AP i”, hape nunga adong. Adong do muse mandok : “ndang adong di aturan taringot tu Panitia Pembangunan” hape adong do i di juklak. Dung songon i… didok ma muse : “ai hamu pe antong angka parhalado i ai ndang hea disosialisasihon hamu i tu hami ruas on !”. Hape nunga. Akhirnya saya mau berkata : 1. Mari kita doakan pembinaan remaja di HKBP Rawamangun secara khusus, dan secara umum di seluruh gereja agar semakin baik. 2. Saya yakin dalam komentar ini kita sedang mengkritik diri kita sendiri. Horas ma amang, inang, sai dipargogoi Tuhanta ma hita sude.

  39. Agus Karta Parulian Panggabean on March 10, 2009 at 8:23 am

    Yang bertanggungjawab atas pembinaan remaja adalah remaja itu sendiri?
    Mana bisa…..Remaja itu kan anak-anak yang sedang beranjak menuju dewasa. Jadi mereka butuh panutan, tuntunan, dll. Jika orang yang bisa dijadikan panutan, penuntun, dll tidak, maka tidak heran jika mereka bisa terjerumus ke lembah dosa, seperti narkoba, sex bebas, minuman keras, tawuran, kriminalitas, dll.

  40. r.h. sibuea on March 10, 2009 at 8:26 am

    Belajarlah dari HKBP Teladan Medan.Dari banyak kota yang saya tinggali…mantan Gereja saya inilah yang mengakomodir semua jenjang umur.
    Pagi jam 06. Gereja umum Bahasa Indonesia Jam 07.00 Ibdah Sekolah Minggu, Jam 08.30 Ibadah Naposobulung Jam. 09.30 Ibadan Umum Bahasa Batak Jam. 14.00 Ibadah Remaja Dari SMP Kelas 1 s.d belum Sidi.

    Di Jakarta jika sudah naik sidi, karena masih remaja enggan gabung ke Naposobulung padahal di HKBP Teladan dia harus bergabung dengan Naposobulung. Jika ada anak SMA kelas III belum naik sidi, langsung Guru Huria mendatangi keluarga yang dimaksud agar anaknya marguru. Jika ada naposobulung di atas 33 tahun belum kawin dia disuruh bergabung ke natua-tua. Di HKBP Teladan, Naposobulung yang bertanggungjawab atas sekolah minggu..makanya struktur NHKBP ada seksi Sekolah Minggu dan seksi Remaja sementara Remaja dibawah kendali Guru Huria (sekarang) Pendeta, tapi pembinaan tetap di Naposobulung!

    Nah…kalau sudah begini kan gampang mengajarinya amang? terkadang kami naposobulungpun ikut mengajari Remaja melalui PA-PA kelompok…itu makanya Naposobulung Teladan tidak pernah kehabisan stok…Distrik Medan-Aceh..juaranya Padua Suara Naposobulung HKBP Teladan…mereka adalah generasi ke 3 setelah saya keluar (pergenerasi 5 tahun)!

    Daniel Harahap:
    Sebenarnya Rawamangun sejak tahun 2003 telah memiliki sistem pembinaan remaja yang baik dengan dibentuknya PDR (Pendamping Remaja) sebagai perpanjangan tangan Pendeta/ Parhalado membina remaja. Sebelumnya sesudah kebaktian remaja pukul 09.30 maka praktis tidak ada kegiatan remaja. Organisasi remaja memang ada namun tentu saja tidak mungkin dituntut (karena kebeliaan atau kemudaannya) untuk membina remaja. Kami sendiri waktu itu mencontoh HKBP Menteng, HKBP Jatinegara dan HKBP Kebon Jeruk yang telah lebih dulu maju dalam hal pembinaan remaja. Namun kami melakukan beberapa perbaikan, antara lain menetapkan umur remaja SMP dan SMA dan tidak mengijinkan yang sudah mahasiswa masih duduk di remaja (di beberapa gereja kadang karena keenakan anak-anak itu tidak mau pindah ke naposo walaupun sudah semester enam!) :-)

    Sebagai seorang bekas pendeta pemuda saya kurang setuju memberikan tanggungjawab pembinaan remaja kepada naposo. Alasan saya sederhana saja: wong membina dirinya saja belum beres kok malah mau membina adik-adiknya. :-) Dahulu itu bisa dimaklumi sebab dahulu tidak ada kategori remaja di HKBP. Sebab itu remaja ditumpangkan ke Naposo. Dari segi pendidikan itu sangat sulit, sebab umurnya, minat, kebutuhan dan kepentingan remaja dan pemuda berbeda. Musik dan filemnya juga berbeda. Contoh lain: Yang satu masih belajar pacaran yang satu lagi sudah mau menikah.

  41. r.h. sibuea on March 10, 2009 at 8:33 am

    Tambahan:
    Tak Perlu AP utuk membina remaja..tak perlu pendeta pendamping…tak perlu ada anggaran besar, cukup buat kebaktian sendiri! Dengan sendirinya akan terbentuk kelompok mereka!

    Daniel Harahap:
    Kurang sependapat Amang. Remaja tetap butuh pendampingan. Di satu sisi mereka harus diberi keleluasaan berkumpul dan berinteraksi serta belajar berorganisasi namun disisi lain mereka butuh pendampingan agar benar2 efektif. Kalau hanya untuk membentuk “kelompok” remaja gampang. Dorong saja mereka bikin vokal group atau bikin kebaktian remaja (namun itupun perlu penanganan khusus agar sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan remaja dan sejalan dengan ajaran gereja). Jika hanya diserahkan kepada remaja, biasanya mereka langsung membawa apa yang mereka dapat di luar. Kita tahu anak2 kita di luar sudah dijejali dengan bermacam2 gaya kekristenan mulai dari yang sehat sampai yang sakit jiwa. Jika tidak ditemani dan dibimbing khusus dengan mudahnya macam2 ajaran masuk. Syukur kalau yang sehat. Bagaimana kalau ajaran yang sakit? :-)

  42. Rico on March 10, 2009 at 9:39 am

    Mungkinkah rjh adalah Pdt. Rambio J. Hutagaol?
    Songon na lambok do pondapot ni nasida.

    Daniel Harahap:
    Ya saya bersaksi: benar. :-)

  43. Ruas-Bandung on March 10, 2009 at 11:32 am

    Itulah payahnya kalau ada suatu kegiatan di HKBP yang tidak tercatat di AP. Akhirnya kembali kepada kebijakan pimpinan di gereja HKBP tersebut (Pdt Ressort) apakah tetap mempertahankan kebijakan yang lama (tentu dalam contoh kasus ini adalah pendamping remaja HKBP Rawamangun) atau merubah kebijakan tersebut dengan wacana yang telah dimiliki Pdt. Ressort yang baru….atau jangan-jangan Pimpinan yang baru hanya mau menunjukkan ‘style’ nya saja.
    Mudah-mudahan pimpinan ressort yang baru di RW meyakinkan jemaatnya bahwa kebijakannya menghapuskan pendamping remaja adalah langkah yang ‘baik’ atau sekalian aja nanti minta maaf apabila kebijakan baru tersebut keliru. Persoalannya…saya jarang melihat pimpinan/pdt. ressort meminta maaf dan merubah kebijakannya bila terbukti keliru (bahkan bila sampai jemaatnya pun sudah resah).

  44. Meb on March 10, 2009 at 12:02 pm

    Kompleks ya permasalahan bina-membina ini. mungkin kita jangan membabi buta juga menyalahkan keputusan yang telah diambil,,
    disatu sisi aturan sangat diperlukan untuk bisa mengantisipasi masalah2 yang timbul dalam pelaksanaannya, siapa yang bertanggung jawab atas akibat yang timbul dan sejauhmana sanksi yang harus diterapkan, dan parameter lainnya yang mungkin akan timbul, jadi pembinaan tadi ga jadi bola liar, dgn kata lain dimanfaatkan oleh orang2 tertentu untuk kepentingan pribadinya.
    Disisi yang laen remaja itu sangat rentan dengan hal-hal yang negatif, karena kecenderungan ingin mencoba-coba hal2 yang baru, jadi pembinaan itu tentunya langkah yang perlu untuk dilakukan.
    amang rjh memberikan ulasan yang saya kira cukup objektif terhadap masalah ini, dan menurut aku para pemuka di hkbp tentunya sudah memiliki langkah2 penyelesaian yang komprehensif atas masalah ini. semoga! :)

    Daniel Harahap:
    dan menurut aku para pemuka di hkbp tentunya sudah memiliki langkah2 penyelesaian yang komprehensif atas masalah ini. semoga!
    Menanggapi kalimat terakhir di atas, jawabnya: belum.

  45. Meb on March 10, 2009 at 1:46 pm

    @dta
    harus sudah punya, kalau belum punya jangan dipilih lagi pas ‘pemilu’ nanti :)

  46. joefrant on March 10, 2009 at 1:56 pm

    saya seorang pemuda dari gereja GKPS memang untuk pemerataan seperti pengadaan Pembina pemuda tersebut tergantung dari Pendeta atau Penatua setempat. dan untuk keputusan dari pusat saya melihat tidak ada keputusan yang kongkrit yang harus di patuhi setiap Resort dan itu timbul dari inisiatif Pdtnya dan para penatuanya sehingga dari Gereja yang lain kadang merasa iri dengan kepemudaan Gereja yang satu, jika dibandingkan memang dari jumlah Pemuda-pemudinya tidak berbeda jumlah, jadi harapan kepada Bapak agar mencari solusi yang tepat untuk Pemuda Kristen Karena Pemuda/Kami adalah Penerus Gereja kita.

  47. Erpesim on March 10, 2009 at 1:57 pm

    Buat Amang rjh,terimakasih atas penjelasannya.Semoga Remaja HKBP Rawamangun boleh tetap eksis dan lebih baik lagi.Namun tetap menjadi catatan kita bahwa memutuskan dan menghentikan sesuatu yg “baik” secara mendadak adalah spekulatif.Di era informasi yg semakin transparan ini,baiklah kita saling mawas diri.Terimaksih untuk Amang DTA yg begitu yakin dan elegan menyuarakan isi hati dan pikirannya.Saya berharap,paska “Berita duka Remaja HKBP” akan terbit “Berita suka Remaja HKBP”.Remaja sangat memerlukan pendampingan dari orang “dewasa” atau Pendeta,itu adalah suatu kepastiaan.Selanjutnya kita perlu introspeksi diri dan saya menghimbau dapat dilakukan 1. Koordinasi antar Pendeta Resort perlu diintensifkan untuk Benchmark Organisasi dan metoda/variasi/kreasi Pelayanan.Sewajarnyalah,Aturan dan Peraturan HKBP harus disikapi lebih bijaksana.Memang kedepannya tantangan maupun kendala para pendeta HKBP akan semakin berat,ttp kami jemaat akan tetap mendukung dan berdoa.2.Orang tua jemaat (khusus remaja) agar lebih peduli thd pelayanan gerejanya melalui tindakan dan langkah2 supportif.HKBP tu lam maju na.

  48. Tony Fernando Gultom on March 10, 2009 at 2:02 pm

    Selamat berjuang Amang…. buatlah HKBP menjadi lebih baik, Amang dilingkaran pengurus HKBP masih merasa kurang, apalagi kami jemaat bisa berbuat apa? selain mendidik anak kami melewati masa remaja dengan baik, mungkin Amang kecewa karena apa yang telah dilakukan atau dibuat lebih baik dibubarkan, semoga ini bukan jadi panutan bagi Pdt yang lain untuk membubarkan sesuatu yang baik yang peraturannya belum ada.

    Daniel Harahap:
    Sama-sama berjuang. :-)

  49. Pro Remaja on March 10, 2009 at 2:05 pm

    Sangat perlu ada pendamping remaja, karena mereka meliki hak yang sama sebagai warga gereja.

    Koq Saya semakin yach utk mengatakan:
    Kenakalan Remaja (khususnya di HKBP) berasal dari Kenakalan “Orang Tua” nya ( orang-orang yang lebih tua dan di tua kan di gereja HKBP)

  50. Zekson P on March 10, 2009 at 2:09 pm

    Perkembangan terakhir mengenai pembubaran PdR HKBP Rawamangun yang aku dapat dari Parhalado (Sekretaris Huria dan Ketua Dewan Koinania) “tidak jadi” dibubarkan. Mau ditinjau ulang dan ditempatkan ke Seksi Remaja dengan alasan AP 2002 tidak mengenal Pendamping Remaja tetapi Seksi Remaja. Informasi ini saya dapat Senen tgl 9 Maret 2009.

    Daniel Harahap:
    Seksi Remaja dalam Aturan Peraturan 2002 adalah anak-anak remaja. Pertanyaan saya: siapa yang membina mereka? Pertanyaan lebih penting: siapa yang bertanggungjawab atas dan siapa yang melaksanakan pembinaan ratusan remaja yang ada di gereja? Seksi remaja yang terdiri dari anak2 remaja itu? Bertanggungjawabkah gereja menyerahkan pembinaan rohani ratusan remaja kepada beberapa anak berusia belasan tahun yang bernama Seksi Remaja? Jika diserahkan langsung ke Dewan Koinonia, mampukah? Bukankah Dewan Koinonia mengkoordinir bukan hanya remaja tetapi mulai SM sampai ama/ina (catatan: lansia tidak ada di Aturan Peraturan HKBP.)?

    AP HKBP memang tidak memiliki konsep sama sekali menyangkut pembinaan remaja. Lupa? Sangat berbeda dengan Sekolah Minggu. Pembinaan remaja dibiarkan begitu saja atau dianggap sudah beres dengan menyuruh mereka membentuk kepengurusan yang bernama Seksi Remaja.

    Tapi syukurlah, bagaimana pun ada kabar baik dari Rawamangun tercinta. :-)