Berita Duka Remaja HKBP

March 9, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

salib-patah.jpg

Sampai saat ini kami di Serpong masih belum berhasil membentuk Pendamping Remaja. Sebagai seorang pendeta yang belasan tahun ditugaskan di tengah-tengah pemuda dan remaja saya sangat sadar bahwa tanpa Tim Pendamping atau Pembina yang benar-benar disengaja dan dipersiapkan khusus maka kegiatan pembinaan remaja gereja hanyalah ecek-ecek atau pura-pura belaka.

Saya mau cerita. Pada awalnya ada sebuah pertanyaan dalam benak saya: mengapa kegiatan pembinaan remaja di banyak jemaat HKBP tidak berjalan? Ataupun kalau berjalan sangat insidentil, asal-asalan dan acak-acakan? Sebaliknya: mengapa di hampir semua HKBP kegiatan anak-anak berjalan dan bahkan bagus? Melalui pengamatan dan pergumulan panjang akhirnya saya menemukan jawabnya: berhubung di HKBP tidak ada yang namanya Pembina, Guru atau Pendamping Remaja. Sebaliknya: untuk anak-anak ada Guru Sekolah Minggu. Akibatnya pembinaan remaja hanya dilakukan seadanya atau bahkan tak ada sama sekali sementara kegiatan pembinaan anak-anak berjalan bagus.

Yang paling parah Aturan HKBP justru tidak memiliki konsep sama sekali tentang pembinaan remaja. Jika kita cermati maka dalam Aturan HKBP yang bertanggungjawab atas pembinaan remaja adalah remaja itu sendiri! Sekali lagi: yang bertanggungjawab membina seluruh remaja adalah seksi remaja yang merupakan anak-anak umur belasan tahun itu. Ya Tuhan, ampunilah kami.

Sebagai seorang pendeta yang sejak awal bertugas di kalangan remaja dan pemuda, saya berpendapat keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun sebuah Aturan tidak ada yang sempurna, sebab itu Aturan memberi wewenang kepada Majelis untuk membentuk perangkat pelayanan yang dibutuhkannya. Maka saya pun mengusulkan agar dibentuk Pendamping Remaja yang fungsi dan kedudukannya persis sama seperti Guru Sekolah Minggu. Mereka adalah orang-orang dewasa yang direkrut dan diseleksi oleh parhalado menjadi perpanjangan tangan Majelis membina dan mendampingi remaja. Sementara remaja sendiri untuk melatih dan memperlengkapi dirinya diberi kesempatan mengorganisasi dirinya membentuk kepengurusan. Namun gagasan dasarnya: tanggungjawab membekali dan memperlengkapi para remaja tetap di tangan Majelis yang pelaksanaannya ditangani Pendamping Remaja tersebut.

Jujur hal ini tidak murni ide saya. Sebelumnya di HKBP Menteng, Jatinegara dan Kebun Jeruk telah ada Pembina/ Pendamping Remaja. Menurut saya itu sungguh baik walaupun dalam beberapa hal saya memiliki perbedaan dalam hal metode pendampingan remaja itu. Namun pokoknya: dimana tidak ada Pembina Remaja maka kegiatan remaja di gereja itu boleh dikatakan tidak ada atau minim. Terus terang saya tidak bisa bayangkan bagaimana seorang pendeta atau sintua berusia 50 tahun berkomunikasi dengan remaja belasan tahun! Saya sendiri dalam usia 45 sekarang mengaku sudah sangat sulit memahami dan dipahami oleh remaja. Sebab itu saya dan para majelis memerlukan orang-orang berdedikasi dan trampil menjadi perpanjangan tangan menjangkau remaja ini.

Sejak dibentuk pada tahun 2004 maka kegiatan remaja di HKBP Rawamangun berjalan dengan baik dan terarah. Saban Jumat Pendamping Remaja mengadakan sermon persis seperti guru Sekolah Minggu. Dan yang memimpin sermonnya adalah pendeta. Sebelumnya kegiatan remaja sangat terbatas atau minim sekali. Alasannya: tidak ada tenaga. Namun dengan adanya tenaga pendamping ini maka sesudah kebaktian minggu remaja dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan seperti penelaahan alkitab, permainan, sharing dan diskusi dan lain-lain. Selain itu dengan adanya pendamping remaja itu maka gereja pun dengan mudah mengadakan seminar, bible camp, dan retret remaja dll. (Menurut saya sehebat apapun pendeta tidak akan sanggup sendirian melakukan pembinaan warga).

Seingat saya seleksi untuk menjadi pendamping remaja juga sangat ketat sekali. Kita selalu mengusahakan agar yang menjadi pendamping remaja adalah orang-orang yang berkarakter, berhasil dalam studi dan pekerjaannya, dan jika sudah menikah maka rumah tangganya baik. Kita harapkan dengan begitu para pendamping itu benar-benar bisa menjadi model peran atau teladan bagi anak-anak remaja yang masih labil ini. Dan satu hal: masa jabatan pendamping remaja bersifat periodik dan bukan seumur hidup!

Namun malam ini saya mendapat kabar duka: Pendamping Remaja HKBP Rawamangun konon malam ini telah dibubarkan oleh pendetanya. Alasannya: tidak sesuai Aturan. Padahal jika jujur ada banyak sekali yang dilakukan HKBP yang tidak tercantum di Aturan. Logika sehat saya mengatakan: jika belum atau tidak diatur dalam konsitutusi tidak berarti jahat atau salah. Ah, saya tidak mau mencampuri lagi urusan jemaat yang telah saya tinggalkan beberapa tahun lalu, namun sebagai orang yang memperjuangkan agar Pendamping Remaja terbentuk di HKBP saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan, kegundahan dan ketidakmengertian saya. Maaf seribu maaf. Jika berita ini benar, saya mau mengatakan yang membubarkan Pendamping Remaja ini mungkin tidak tahu betapa pentingnya dan sekaligus betapa sulitnya membina remaja itu. Dan sebagai seorang pendeta yang pernah belasan tahun bergaul dengan remaja, dan sangat terbantu oleh orang-orang baik yang menyediakan dirinya sebagai pembina dan pendamping remaja HKBP tanpa bayaran, saya mau mengatakan : siap-siaplah menuai bencana. :-(

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

69 Responses to Berita Duka Remaja HKBP

  1. Agus Karta Parulian Panggabean on March 10, 2009 at 2:31 pm

    Jika AP HKBP tidak memiliki konsep sama sekali tentang pembinaan remaja, maka jemaat maupun pelayan di HKBP jangan teriak-teriak jika ada remaja anggota jemaat HKBP yang terjerumus ke dalam lembah narkoba, sex bebas, alkohol, tawuran, kriminalitas, dll.

    Daniel Harahap:
    Ya pasti teriaklah Lae. Namanya juga anak sendiri. AP soal sendiri. Pembinaan apalagi keselamatan remaja soal lain lagi.

  2. Maria Netta on March 10, 2009 at 2:44 pm

    hehe, amang dah tau dunk kalo aku pasti bagian dari remaja, bahkan email address ku pun kunamai rhkbp..
    dulu jadi anak binaan di remaja dan sekarang jadi pembina. tapi keadaannya tetap ga berubah! bahkan memburuk!

    miris rasanya melihat perkembangan remaja di gereja HKBP terutama. ada satu hal yang para petinggi gereja itu nggak ketahui tentang HKBP, bahwa yang disebut HKBP itu ya sekolah minngu, remaja dan naposo HKBP, sebab kami-kami inilah yang akan hidup di dalam, untuk dan meneruskan HKBP!
    kalau skm dan naposo sudah mendapat perhatian yang cukup, KENAPA REMAJA TIDAK????? huh, maaf amang, saya emosi kalo udah ngomongin perhatian gereja sama remaja. :-) karna ga sedikitpun kami rasakan perhatian itu. gereja cuma keliatan waktu protes sama proker kita, waktu remaja mau bikin event tapi susahnya minta ampun untuk minta uang dari gereja. nah, di hal-hal begini aja, gereja paling jago mengkritik, terlalu banyak pengeluaranlah, ga ada uanglah. macem2.
    giliran PA, ga pernah ada majelis atau pendeta yang nanya gimana perkembangan remaja. jangankan hadir di sermon, bertanya kita punya sermon atau nggak aja, nggak pernah.
    kadang aku suka mikir, untunglah kami ini orang-orang baik yang mau membagikan hal yang baik buat remaja di dalam kegiatan kami, hehehe…. :-) gimana enggak, gereja ga pernah tau apa yang kami lakukan di kegiatan remaja, terutama PA Remaja, lha kalo kami orang jahat yang ngajarin ajaran sesat, gimana coba???? bisa aja khan, kalo kami jahat, wong gereja ga tau ini!!

    kalau udah begini, baiklah kita berharap sama orang-orang yang bisa diharapkan saja, ga usah berharap sama sesuatu yang ga bisa diharapkan.(bisa mungkin, tapi nanti, pada waktu yang belum ditentukan, hehehe). salut buat teman-teman yang masih mau berjuang untuk perkembangan remaja di HKBP, walaupun kita ga dibayar sepeser pun (jangankan dibayar, jangan2 gereja ga tau siapa aja yang melayani di remaja, atau bahkan mereka ga tau kalo di gereja itu ada persekutuan remajanya, cpd!
    :-( ).
    tapi, aku ingat perkataan seorang pembina remajaku dulu waktu aku masih jadi anak binaan, bahwa Tuhan menghitung semuanya itu koq, meskipun gereja ga menghitungnya!. so, keep spirit ya..

    dan turut berkabung dengan pembubaran pendamping remaja di Rawamangun.. :-(

    Daniel Harahap:
    Saya hanya tidak setuju dengan istilah “anak binaan”. Itu istilah yang sangat disukai PKI. :-) Karena itulah kami dulu memakai istilah pendamping dan bukan pembina remaja.

  3. toga sigalingging on March 10, 2009 at 2:47 pm

    Banyak sudah tanggapan yang sudah disampaikan para pembaca, rata rata memprihatinkan pembubaran pdr, saya sebagai anggota jemaat hkbp rawamangun dan anak saya juga sekarang ini ada yang sudah remaja. Saya berterimakasih kepada Amang DTA yang mengangkat topik ini, kami mohon didoakan agar topik yg disampaikan tadi jangan sampai terjadi, atau mungkin sudah dipikirkan oleh Pdt resort dan parhalado hkbp rawamangun sebagai penggantinya yang lebih bagus. Perasaan saya juga agak gusar belakangan ini melihat perkembangan yang terjadi di HKBP yang kita cintai ini :
    1. Setiap ada pergantian uluan di HKBP cenderung selalu ada perobahan yang dibawakan oleh uluan tersebut sesuai seleranaya yang belum tentu lebih baik dari yang sebelumnya, hampir sama dengan pengelolaan pendidikan di negara ini (setiap ganti menteri pendidikan selalu ganti kurikulum ) saya tidak tau apa memang pembaharuan itu mutlak dilaksanakan tanpa ada uji kelayakan.
    2. Dalam hal perobahan ini, parhalado (baik tingkat pusat sampai ketingkat parhalado huria apa tidak terlebih dahulu melakukan uji materi (rapat program) terhadap materi perobahan yang dibawakan oleh uluan baru tersebut.
    3. Parhalado, menurut hemat saya merupakan penyambung lidah dari ruas ke uluan (tingkat huria sampai tingkat pusat) atau dari uluan sampai keruas terkesan selalu cuci tangan atau seakan akan tidak mengetahui progaram yang sudah terlaksana dan begitu mudahnya menyetujui perubahanya sesuai selera uluan baru yang belum tentu hal baru tersebut akan berteima dikalangan ruas (universal diterima).
    4. Menurut hemat saya, sekarang ini semakin sering terjadi (prgram-program baru) yang disampaikan keruas yang notabene program tersebut tidak menyentuh atau meningkatkan keimanan ruas, oleh karena itu saya jadi bertanya sebetulnya tujuan prgram-progaram tersebut untuk siapa.
    5. Saya tidak alergi terhadap perobahan atau pembaharuan, apa tidak sebaiknya setiap perobahan atau pembaharuan sebelum disampaikan keruas terlebih dahulu ada pembahasan dikalangan parhalado baru di sosialisasikan diruas setelah itu baru diputuskan untuk dilaksanakan.
    5. Amang DTA, Saya mau bertanya waktu misionaris datang ketanah batak mereka terlebih dulu berbuat apa (menyampaikan progaram progaram yang bagus bagus, terus berkotbah menyampaikan kabar gembira selanjutnya meletakkan batu pertama pendirian gereja hkbp).

    maaf Amang DTA, saya meminjam web sitenya amang untuk menyampaikan uneg-uneg saya.

  4. Maria Netta on March 10, 2009 at 2:52 pm

    masukan baru, makasih amang..:-)

  5. Maria Netta on March 10, 2009 at 2:57 pm

    oh ya, maaf amang di luar pembahasan,. btw, aku kuliah di STT Jakarta amang. hmmm, mau tanya, kata p’Stephen Suleeman, (amang kenal??
    :-) ) dulu amang dan teman2 motong anjingnya p’Aritonang, trus dimasak untuk dimakan ya??? hehehe… penasaran amang, koq bisa?? :-)
    sungguh luar biasa, hehehe.. :-)

    Daniel Harahap:
    Saya kenal baik Stephen. Tapi urusan potong-memotong “sigagat solop” itu saya tidak ikut-ikutan. Haram. :-)

  6. t.m.sihombing on March 10, 2009 at 3:01 pm

    Setahu saya pembubaran pendamping remaja di HKBP Rawamangun dilakukan karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pra-remaja , remaja dan akan dilakukan pembaharuan yaitu melakukan pemilihan pendamping remaja yang tepat dan pendamping remaja ini harus dapat melihat keinginan remajanya sehingga dapat mengarahkannya kearah pertumbuhan iman.

    Kita sangat mendukung adanya pembina remaja yang dikoordinir oleh Pendeta Remaja dengan syarat bahwa segala bentuk acara/tata ibadah, cara pelayanannya harus sesuai dengan aturan peribadahan, tidak diperkenankan pelaksanaan suatu acara apabila tidak diperkenankan/ disetujui oleh pembina/ parhalado/ pendeta.
    Karakter setiap pendeta Remaja untuk masing-masing HKBP tentu akan berbeda dan pemilihan Pembina Remajanyapun bisah mengarah subjektif , padahal kita menginginkan pembina remaja baik itu dari parhalado, naposo bulung harus dapat mengerti tentang keremajaan dan harus mempunyai waktu untuk kegiatan remaja.

    Daniel Harahap:
    Pertama: jika memakai Aturan maka istilah pra-remaja itu juga tidak ada di Aturan HKBP. :-)
    Kedua: pendeta remaja? HKBP sepanjang ingatan saya belum pernah mengenal pendeta remaja. Yang ada baru pendeta pemuda dan pendeta SM. Itupun jumlahnya sangat sedikit. Di Jabodetabek setahu saya saat ini tidak ada pendeta khusus pemuda apalagi pendeta remaja. Bahkan pada tahun 1994-1996 saya pernah menjadi satu2nya pendeta pemuda HKBP di dunia. Dan Rawamangun juga belum pernah memiliki pendeta pemuda atau yang biasa disebut pendeta NHKBP, apalagi pendeta remaja. Tolong koreksi saya jika salah.
    Ketiga:pendapat amang yang terakhir cenderung “pendeta sentris”. Seharusnya berbunyi: “segala bentuk kegiatan pembinaan remaja harus sesuai dengan ajaran gereja dan aturan HKBP dan dikoordinasikan dengan parhalado”.

  7. St.T.Manullang on March 10, 2009 at 3:10 pm

    Kami ikut prihatin, berikut informasi keberadaan Seksi Remaja di HKBP Manyar Surabaya:
    1.Periode pengurus untuk masa waktu 1 tahun( dan dapat dipilih lagi satu kali), dan diutamakan yang masih duduk di kelas 1 atau 2 SMA.
    2.Sebagai penanggung jawab adalah anggota Koinonia bidang remaja.
    3.Ditunjuk 3 orang pendamping remaja dan dilantik bersama2 pengurus remaja di kebaktian minggu.
    4.Kegiatan remaja antar lain: kebaktian setiap minggu jam 09.00, menggunakan liturgi penuh dan pengkotbah adalah Pendeta, latihan musik dan paduan suara, sharing pemahaman Alkitab se kali sebulan, retreat, bimbingan belajar, aksi sosial ke panti asuhan, perayaan natal bersama sama dg nhkbp, kegiatan olah raga.
    Dasar membangkitkan seksi remaja sekitar 3 tahun yang lalu adalah melihat tidak adanya wadah bagi anak kita setelah mereka selesai dari S.Minggu, dan manfaat yang dirasakan adalah mereka menjadi cikal bakal anggota nhkbp, dan mereka tidak lagi bergereja ditempat lain.
    Mengenai pendamping remaja, mutlak harus ada untuk membimbing mereka baik dibidang kerohanian maupun organisasi dan sekaligus sebagai tempat curhat.
    Setiap kegiatan remaja adalah atas sepengetahuan dewan Koinonia dan Uluan Huria.
    Jadi yang harus dilihat adalah kebutuhan dan manfaatnya bukan soal ada atau tidak di AP 2002.
    Horas.

  8. Nita Hutajulu on March 10, 2009 at 3:37 pm

    Bagaimana kalau sekali-kali diadakan penyuluhan di HKBP tentang pentingnya generasi remaja & bahaya yg sedang mengintai masa depan mereka, kalau tidak diawasi dr skrg, kan bisa bahaya & sgt merugikan, mungkin dgn cara seperti itu akan membuka pikiran kita orang tua & pejabat yg ada di gereja ini, jd lebih bisa memberikan waktu & perhatian yg lebih serius. Krn biar bagaimanapun mereka hrs dibekali mulai dr skrg ttg hal2 positif. dlm hal ini semua kita harus berperan, terlebih orgtua & organisasi gereja dimana kita berjemaat.

    Daniel Harahap:
    Yang paling penting disuluh adalah parhalado HKBP. :-)

  9. O. Pasaribu on March 10, 2009 at 4:35 pm

    Repot juga ya, kalau hanya berpegangan pada Aturan dan Peraturan, bukan pada kebutuhan. Kenapa bukan AP itu yang disesuaikan?
    Sbg orang tua dari seorang anak yang menginjak remaja, saya melihat pembinaan remaja itu sangat penting. Di gereja kami, sampai saat ini blm ada yang pembinaan spt itu. Anak kls 2 smp. Digereja kami anak smp itu msh msk sekolah minggu. Tapi karena badannya sudah besar, dia dan beberapa temannya tidak mau lagi sekolah minggu, menurut mereka, malu kalo bergabung dengan anak2 kecil, sehingga dia sama2 dgn kami gereja pagi. saya melihat dengan ikut gereja pagi belum cukup, anak remaja belum bisa mendapat pengetahuan ttg “kristen sesungguhnya” hanya dengan mendengar khotbah. harus ada pendampingan yang intensif. Di sekolah dia dapat pelajaran agama hanya sebatas kurikulum. Beda sekali halnya sebelum kami pindah ke HKBP . Anak smp itu msk taruna, pembinaannya jelas dan terprogram dengan baik. Mengusulkan utk dibentuk pembinaan remaja? Boro2. Pembinaan utk yg sdh ada saja tersendat-sendat. Internal gereja kami msh banyak konflik kepentingan. Kalau sdh begini mau kemana nantinya HKBP kita ini?

  10. eric arac on March 10, 2009 at 6:41 pm

    @ Daniel Harahap
    Yang paling penting disuluh adalah parhalado HKBP.
    Parhalado mana amang? Di Huria, Resort, Distrik, Pusat? atau semuanya? Siapakah yang berwenang untuk menyuluh mereka? (saya tidak tahu apakah harus tersenyum atau sebaliknya. ho…ho…ho… ajalah, seperti sinterklas, supaya terus berpengharapan).

    Kepada semua pengunjung rumametmet, adakah yang bisa kita lakukan (selain berdoa tentunya) supaya mendorong Gereja HKBP untuk lebih memperhatikan pembinaan iman remajanya? Dari pada hanya menumpahkan ‘uneg-uneg’ yang makin menambah ‘daftar dosa’, lebih baik kita memikirkan bagaimana mencari solusi.

  11. jeremy on March 10, 2009 at 7:31 pm

    Amang RJH, wah ngomong2 amang DTA ada emailnya amang RJH gak???? japri by email saya aja… nuhun……

    Daniel Harahap:
    Gak apa-apa dibuka ke publik: rj.hutagaol@gmail.com :-)

  12. Hengki Tampubolon on March 10, 2009 at 8:06 pm

    Aku sudah dapat kronologis peristiwa pembubaran Pendamping Remaja yang terjadi hari Jumat, 6 Maret 2009 lalu, boleh aku ungkapkan disini? Jadi memang benar2 dibubarkan. Inilah petikan percakapan pendeta dan PdR tersebut (ada rekamannya):

    Pdt : “Mulai hari ini PdR dibubarkan dengan alasan:1. PdR tidak ada dalam struktur. 2. Seksi Remaja tidak kelihatan peranannya”.
    PdR : “PdR dibubarkan?”
    Pdt : Mulai detik ini (saat ini) PdR dibubarkan, dan kalian tidak ada lagi. Program pembinaan dwimingguan serta segala Seksi Remaja diserahkan kepada Pendeta dan Dewan Koinonia”.
    PdR: “Amang Pdt, apakah Amang sdh meninjau atau survey atau mengobservasi secara langsung keberadaan seksi remaja? Dan apakah Amang Pdt sudah menyiapkan format kegiatan untuk seksi remaja? Apakah statement Amang sdh resmi? Karena sampai saat ini yang menyiapkan program pembinaan adalah PdR. Gereja belum punya kurikulum buat remaja. Dan yg tahu perkembangannya dari sejak berdirinya seksi remaja adalah PdR yh telah mengawali pelayanan ini 5 sd 7 thn lalu”.
    Pdt : “Iya, PdR sdh resmi dibubarkan hari ini, karena itu, terima kasihlah atas pelayanan kalian. Kita sdh menyiapkan ke depan mngkn akan ada orang lain yg khusus menangani seksi remaja. Nanti Koinonia yang atur”.
    PdR : “Amang, trs terang saya shock mendengar statement Amang ini. Kenapa tdk ada konfirmasi sblmnya? Slm ini kami selalu berkoordinasi dengan seksi Remaja, Amang dan Seksi Remaja sangat dekat dengan kami”.
    Pdt : “Iya, kita ingin seksi remajalah yang lebih terlihat. Dan kita ingin mengembalikan sesuai dengan strukturnya”.
    PdR : “Amang, kami tahu ada ikatan dari gereja kepada PdR, makanya kami melayani disini, kalau tidak ada ikatan lagi jadinya seperti di “Lapo”, Amang. Kami pergi, pergi begitu aja”.
    Pdt : “Iya, ini sudah menjadi keputusan, dan saya sudah membicarakannya kepada Dewan2″.
    PdR : “Kita kan dilantik di hadapan Jemaat dan dihadapan Tuhan?”.
    Pdt : “Pelayanan ini kan punya Tuhan Yesus. Tanpa kalian, tetap bisa berjalan kok”.
    PdR : “Amang, kalau memang ini sudah menjadi keputusan, sebenarnya tidak masalah. Kami percaya semua ini milik Tuhan. Kalau keputusan ini sudah resmi, janganlah nanti di tengah perjalanan kami dipanggil lagi untuk suatu kebutuhan remaja, jadi lucu dan kocak, Amang. Karena kami ada sebagai PdR melalui proses. Gereja meninterview kami. Gereja memberikan SK dan melantik kami di depan jemaat (resmi)”.
    Pdt : “Iya, tunggu kalianlah SK pembubarannya dan kegiatan PdR dibekukan (tidak ada lagi) mulai saat ini. Saya rasa kalian semua sudah mengerti dan sudah cukup jelas. Nanti Koinonia yang mengurus segala sesuatunya. Jelas ya!”.

    Sebenarnya, masih banyak kronologis cerita yang saya dapatkan tentang kejadian itu dan itu disampaikan tertulis (ada rekamannya) perwakilan PdR ke saya sore ini karena minta dukungan untuk dibawakan ke sermon malam ini, walaupun saya bukan parhalado di situ.

    Daniel Harahap:
    Saya pikir semua pihak harus menarik nafas dulu dan berdoa serta merenung. Komentar2 sudah cukup dan kita disini bukan untuk mengambil keputusan. Walaupun kasusnya terjadi di salah satu gereja, namun ini pembelajaran yang baik bagi semua jemaat. Saya menganjurkan agar Distrik HKBP mengadakan studi khusus mengenai pendampingan dan pembinaan remaja, termasuk memikirkan bahan-bahan ajarnya dan pelatihan tenaganya (training for trainer).

  13. t.m.sihombing on March 11, 2009 at 7:42 am

    Sehubungan atas pembubaran Tim pendamping remaja di HKBP Rawamangun, tentu kita boleh mengklarifikasi kebenarannya ke Pendeta Resort yang ada di HKBP Rawamangun. Setahu saya dulu Tim Pendamping Remaja itu dibentuk berdasarkan SK Pendeta Resort sehingga keberadaannya bertanggung jawab langsung ke Pendeta Resort (tidak bernaung di dalam salah satu departemen), padahal organisasi di HKBP a.l: Dept. Koinonia, Marturia, Diakonia dan sebaiknya kegiatan PdR harus berada di bawah Dept.Koinonia.

    Jemaat dari HKBP Rawamangun khususnya yang masuk anggota PdR harus bertanya dulu latar belakangnya ke Pendeta Resortnya, kurang etis juga bila pembicaraan ini di rekam itu disebarkan tanpa sepengetahuan pendeta, saya telah bertanya ke pendeta yang ditugaskan ke naposo bahwa tidak ada maksud untuk membubarkan PdR tetapi SKnya dicabut dulu karena kegiatan PdR akan kembali ke dalam program yang ada di Dept.Koinonia. Tidak mungkin kegiatan PdR dikoordinir langsung oleh Pendeta Resort, maka untuk memudahkannya dicabut dulu Sknya dan percepatan pelaksanaan program PdR perlu masuk dalam progran Koinonia (mungkin seksinya akan berobah nama), tetapi yang jelas HKBP Rawamangun tidak akan pernah menyepelekan remaja karena mereka adalah Tunas pengganti di HKBP dan saya tau betul mulai tahun 2002 (kalau tidak salah) amang Pdt.DTA aktif di Naposo HKBP Rawamangun dan kegiatan itu diteruskan juga oleh Pdt Naposo yang sekarang (Ibu Pendeta), tentu gayanya akan berbeda dengan amang yang penuh dengan kreatifitas dan innovatif dan sangat dekat dengan Naposo. Pada saat Inang Pendeta Golkaria (sekarang di Jerman) di Naposo bulung maupun remaja juga aktif menyumbangkan pikirannya dan sangat dekat dengan naposo.

    Maaf ya amang memang ada kegiatan pra-remaja dan remaja karena pra-remaja adalah menampung anak yang tidak mau lagi masuk sekolah minggu dan remaja adalah menampung anak yang mau lepas sidi atau sudah lepas sidi.

    Salahkah Pendeta Resort HKBP Rawamangun berbuat seperti ini ? mari kita buat ide dan diteruskan ke Dept.Koinonia sehingga istilah PdR dapat berfungsi dengan baik dan seksinya masuk dalam departemennya yaiu Koinonia. Sekali lagi Pendeta Resort HKBP Rawamangun hanya mau meluruskan agar kegiatan PdR , yang nantinya merupakan suatu seksi dan dibawah naungan Dept.Koinonia.

    Daniel Harahap:
    Berhubung saya bukan lagi pendeta di rawamangun, saya pikir komentar saya nanti akan saya tuang dalam bentuk suatu tulisan bersifat umum tentang problematika pembinaan remaja di HKBP.

  14. wilman tambunan on March 11, 2009 at 11:22 am

    waduh, dapur HKBP Rawamangun kok jadi konsumsi publik ya? padahal masalah belum lagi jelas. mohon kebijaksanaan teman2. Ora et labora aja. Sesuatu yang baik pasti tidak akan di”hancurkan” Tuhan. Tuhan Memberkati

  15. Agus Karta Parulian Panggabean on March 11, 2009 at 11:42 am

    Keselamatan serta kesuksesan seseorang, selain dari campur tangan Tuhan, juga tidak lepas dari terbina/tidaknya seseorang.

  16. Hedmon Tampubolon on March 11, 2009 at 2:09 pm

    Walau agak terlambat saya membaca hal ini, ada perasaan sedih pada diri saya. Saran saya, orang2 yang memang berkompeten dalam membahas dan merundingkan hal ini agar bisa mengambil peran dalam membicarakannya dalam rapat-rapat gereja. Ingat sebuah lagu ” layu sebelum berkembang” bisa dan akan terjadi pada generasi muda kita HKBP akibat keputusan yg kurang bijaksana.Save our generation!

  17. Terdy Panggabean on March 11, 2009 at 3:43 pm

    Sebagai orang yang banyak dibentuk di HKBP Rawamangun, saya sangat berduka cita. Menurut saya pembubaran PDR wajar-wajar saja dilakukan apabila memang peran mereka dirasa kurang. Namun apabila pembubaran tersebut dilakukan secara sepihak, hal tersebut merupakan bukti penerapan kebijakan gereja (parhalado) yang otoriter. Saya dan lae Hengky Tampubolon sudah kenyang dengan pengalaman seperti itu.

    Saya tidak habis pikir, kenapa HKBP (Rawamangun) sangat membatasi peran jemaat non-parhalado dalam pelaksanaan program-program di gereja. Bukankah dalam rangka meningkatkan pelayanan dan pengembangan jemaat, justru peran serta secara langsung dari jemaat harus ditingkatkan? Tapi sudahlah, saya ini bukan parhalado, manalah mungkin suaraku didengar. Amang DTA juga bukan lagi pendeta di HKBP Rawamangun kami itu. Janganlah kita minta dia lagi untuk pusing-pusing mikiri PdR HKBP Rawamangun, sudah terlalu banyak “musuh”nya disana :)

    Baidewei, lae hengky, berapa rupanya anggaran pembinaan remaja di Rawamangun????

    Daniel Harahap:
    Sedikit koreksi: aku tidak punya “musuh” di Rawamangun. Tahun 2006 aku diberangkatkan baik-baik dan penuh kehormatan dari sana. :-)

  18. Erpesim on March 11, 2009 at 4:49 pm

    Info sdr Hengki Tampubolon cukup menggelitk dan bisa memicu interpretasi “liar” para “pakar”.Namun saya kira Rumametmet bukanlah forum pengadilan. Dan yang lebih penting ini bisa menciderai privelege teman2 HKBP Rawamangun. Saya sangat setuju dengan amang DTA untuk “nahan nafas” lah atau kita stop pembahasan ini krn sdh sangat optimal dan sangat kaya informasi. Mdh2an rencana ToT di distrik HKBP dapat segera diselenggarakan.Tuhan memberkati. HKBP lam tu maju na.

    Daniel Harahap:
    Setuju. Ruma Metmet bukan forum pengambilan keputusan. Banyak orang sudah menyampaikan pikiran dan perasaan. Saya pikir sudah waktunya komen ditutup. Kita tarik nafas dan berdoa dululah mendinginkan hati dan pikiran, mencari yang terbaik bagi seluruh jemaat. Dengan hati ikhlas, berani dan damai.

  19. Daniel T.A. Harahap on March 12, 2009 at 8:15 am

    Kami pikir komen sudah bisa ditutup. Kita disini bukan untuk mengambil keputusan. Bagi yang ingin membahas problematika pembinaan atau pendampingan remaja gereja secara umum dapat pindah ke topik: Problematika Pendampingan Remaja Terima kasih.