Work With Words

March 2, 2009
By Daniel T.A. Harahap

laptop-dan-kopi.jpg

Oleh: Mula Harahap

Kemarin (Sabtu) saya menjadi fasilitator pelatihan menulis pemuda GKI (Sinode Wilayah Jateng) Klasis Jakarta II. Diluar sepengetahuan saya ternyata Pdt. Daniel Harahap juga mereka undang menjadi fasilitator. Karena itu jadilah kami berdua abang-beradik menjadi pemandu dalam pelatihan tersebut.

Pelatihan tersebut diselenggarakan di Yakoma-PGI (Pelayanan Komunikasi untuk Masyarakat dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Pengorganisasian penyelenggaraan dilakukan oleh pemuda-pemuda tersebut. Yakoma hanya menyediakan tempat, teh/kopi. Ada pun konsumsi makan siang, mereka beli sendiri secara urunan.

Dalam pelatihan tersebut peserta membacakan karyanya masing-masing — yang telah dipersiapkan dari rumah — dan temannya sesama peserta serta para fasilitator memberikan saran atau komentar. Ada sejumlah esai atau cerpen menarik yang lahir dari pertemuan kemarin. Dan kami sudah sepakat untuk memasukkannya dalam sebuah blog yang akan diberi judul “Work With Words”. Direncanakan bahwa di kemudian hari blog ini akan menjadi sebuah etalase tempat mempublikasikan karya penulis-penulis pemula (terutama para pemuda) dari berbagai gereja terutama anggota PGI.

Pada bulan November 2008 yang lalu, kelompok pemuda yang sama sebenarnya juga telah menyelenggarakan pelatihan menulis selama 2 hari di Yakoma. Sama seperti pelatihan yang diselenggarakan hari Sabtu itu, pelatihan bulan November itu pun diprakarsai dan dikelola oleh mereka.

Kepada pemuda GKI tersebut saya–sebagai pelaksana tugas direktur di Yakoma — menyatakan kegembiraan hati saya. Saya mengatakan bahwa inilah yang selama ini saya harapkan untuk bisa dilakukan di Yakoma, yaitu bahwa para pemuda mengambil prakarsa, mengorganisasi dirinya, membentuk komunitas dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan urusan komunikasi. Saya berharap di kemudian hari komunitas ini bisa lebih berkembang, mengajak pemuda dari gereja- gereja lain, dan melakukan pelatihan yang lebih intensif.

Lebih jauh lagi saya berharap bahwa di halaman Yakoma akan “bermain” pula komunitas-komunitas lain seperti filem, fotografi, teater dsb. Dan biarlah para pengurus komunitas itu yang mengambil prakarsa dan mengorganisir kegiatan. Yakoma cukuplah sampai ke tahap menyediakan fasilitas tempat dan tenaga “sekretaris” serta “moderator” bagi kegiatan tersebut.

Pada bulan Agustus dan September tahun 2008 lalu, untuk memancing tumbuhnya kegiatan seperti tersebut di atas, saya pernah menyelenggaakan acara nonton filem bersama. Tapi rupanya pancingan saya kurang berhasil. Lalu saya menyadari bahwa ternyata memadukan dan langsung membuat “on” pemuda dari berbagai gereja yang selama ini belum saling mengenal itu, bukanlah perkara yang mudah. Mereka saling menunggu dan menahan diri

Karena itu saya pikir bahwa cara yang paling baik ialah kalau cikal bakal komunitas filem, teater, fotografi dsb itu lebih baik diawali oleh sekelompok pemuda dari sebuah gereja, yang selama ini sudah saling mengenal satu sama lain. Di kemudian hari barulah komunitas atas minat yang sama itu (penulisan, teater, filem dsb) didorong untuk mengembangkan diri dan memperluas keanggotaannya.

Karena itu kalau pengunjung blog “Rumametmet” ini melihat bahwa di gerejanya ada sekelompok pemuda yang menaruh minat terhadap masalah teater, filem, penyiaran dsb. sudilah mendorong mereka agar datang ke Yakoma dan berbicara dengan saya. Saya ingin mengajak pemuda-pemuda dari satu gereja yang sama itu, dan yang menaruh minat terhadap satu aspek komunikasi tertentu itu, untuk menjadi pelopor dan motor bagi tumbuhnya suatu komunitas. Lebih jauh lagi saya membayangkan bahwa komunitas itu akan berkembang dan membangun jaringan sampai ke daerah- daerah, meniru model “Lingkar Pena” sebuah komunitas para penulis muda Islam yang sangat militan dan produktif, dan yang telah melahirkan karya seperti “Ayat-ayat Cinta” itu

Saya selalu sedih kalau melihat posisi gereja (orang-orang Kristen) dewasa ini dalam bidang komunikasi: Rak-rak buku agama di Gramedia semakin didominasi oleh buku agama Islam. Para penulis esai di Kompas semakin didominasi oleh para penulis muda tamatan IAIN. Yang membuat filem dokumenter “Korban” yang bercerita tentang kehidupan seorang pelacur di Tulungagung, dan kini sedang dipagelarkan di Festival Filem Berlin, adalah seorang perempuan muda berjilbab tamatan IAIN. Itu jugalah yang menyebabkan kemana-mana saya selalu berkata, “Kalau wacana tentang pembentukan bangsa ini semakin kental diwarnai dari perspektif iman saudara-saudara kita umat Islam, maka itu adalah salah kita sendiri….”

Membangun sebuah komunitas gereja yang mau belajar dan mengembangkan dirinya dalam urusan komunikaasi memang membutuhan dana. Tapi menurut hemat saya dana bukanlah segala-galanya. Yang lebih dibutuhkan lagi adalah semangat. Dan untuk itulah saya membutuhkan orang-orang muda.

Share on Facebook

23 Responses to Work With Words

  1. todungrs on March 2, 2009 at 8:47 am

    ayolah…nhkbp, khususnya nhkbp serpong, apa yang ditunggu? ikutan saja kegiatan yang sangat berguna ini.

    memang pemuda harus difasilitasi agar bisa mengorganisasikan dirinya sendiri, tanpa perlu didikte akan arah tujuan mereka.

    pengalaman menunjukkan selama ini, sangat banyak sebenarnya pemuda/i hkbp yang sangat ‘nyeni’ dalam berpikir, menulis, dan teater. cuma cenderung mengarah jadi eksentrik :-) (dan jadi agak ‘mengganggu’ karena dikomunikasikan dengan ‘salah’) , karena tidak ada wadah menampung ‘rasa seni’ tersebut.

    mudah-mudahan yakoma bisa melaksanakan kegiatan seperti ini dengan kontinu.

    dulu, waktu saya jadi ketua nhkbp di jkt, sepertinya yakoma itu tempat para partai oposisi hkbp menyelenggarakan rapat :-)

  2. rumanap on March 2, 2009 at 9:33 am

    Kutipan :
    1.pelatihan menulis pemuda GKI , diselenggarakan di Yakoma-PGI(Alinea 1-2)

    2. Pada bulan November 2008 yang lalu, kelompok pemuda yang sama sebenarnya juga telah menyelenggarakan pelatihan menulis selama 2 hari di Yakoma. Sama seperti pelatihan yang diselenggarakan hari Sabtu itu, pelatihan bulan November itu pun diprakarsai dan dikelola oleh mereka.(alinea 4 )

    3. “Dan untuk itulah saya membutuhkan orang-orang muda.” (alinea terahir)

    Saya kutip 3 point dan ingin mengomentarinya,

    1. Sebagai Anggota PGI, NHKBP juga perlu melakukan kegiatan positif seperti itu. Saya merasa bangga, ponakan saya :Vina R.Sihombing (anggota NHKBP Serpong) menerima honor atas tulisannya (artikel) di salah satu media massa nasional. Jumlahnya lumayanlah gaji UMR 1 bulan.

    2.Kok mereka nggak ngajak-ngajak ya ? ?

    3.Kalo umur 45 tahun itu masih muda gak Amang ?

    Saya sangat mendukung kegiatan ini Amang, seandainya ada yang bisa kuperbuat untuk kegiatan seperti ini saya ingin melakukannya dengan senang hati dan tanpa pamrih.

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on March 2, 2009 at 10:07 am

    Apakah pelatihan serupa juga akan diadakan di HKBP Kernolong? Sebab tadi pagi saya dengar iklannya (sekilas) di radio RPK FM.

  4. Mula Harahap on March 2, 2009 at 11:47 am

    Todung:
    Dulu, waktu saya jadi ketua nhkbp di jkt, sepertinya yakoma itu tempat para partai oposisi hkbp menyelenggarakan rapat

    Mula:
    Itu dulu. Sekarang Yakoma tidak lagi mencampuri urusan intern gereja-gereja. Dan tidak juga akan mencampuri teologi/ajaran gereja-gereja.

    Rumaap:
    Kalo umur 45 tahun itu masih muda gak Amang ?

    Mula:
    Muda itu adalah urusan “mind-set”. Bukan usia.

    Agus Karta Parulian Panggabean:
    Apakah pelatihan serupa juga akan diadakan di HKBP Kernolong? Sebab tadi pagi saya dengar iklannya (sekilas) di radio RPK FM

    Mula:
    Itu juga adalah program Yakoma tentang teknik penyuntingan. Dilakukan di HKBP Kernolong. Tapi seperti yang saya katakan di dalam tulisan saya, disamping pergi ke gereja-gereja, saya juga ingin kalau gereja-gerejalah (baca: warga gereja) yang beraktivitas di Yakoma. Apalagi, halamannya luas dan ada “wi-fi” gratis di sana. Kalau kami yang harus mengunjungi gereja satu-persatu; bisa “mati” kami :-)

  5. Joan on March 2, 2009 at 11:53 am

    Bang Daniel.. makasi dah di muat ceritanya.. wah senangnya .. :D jadi bersemangat lagi nih menulis.

    menanggapi dari acara WWW … sebenernya acara itu baru dibuat oleh dan untuk Komisi Pemuda Klasis Jakarta II saja .. masi hmm. apa ya? pilot project? … yah mudah2an next event mudah2an bisa ngundang2.

    Thanks …
    Regards,
    Joan @ old log and new log

  6. richard hutahaean on March 2, 2009 at 1:51 pm

    Pantes aja hari sabtu kemarin aku tak menemukan Pendeta kami di gereja. Melalak rupanya dia ke Yakoma PGI. Bravo…

  7. Slamat P Sinambela on March 2, 2009 at 2:05 pm

    Sy mau info sj kalau ada milis komunitas penjunan (komunitas penulis dan jurnalis kristiani, saat ini beranggotakan >100 orang) yg berguna sebagai wadah para penulis/jurnalìs kristiani utk saling berbagi dan menajamkan. Bila Anda berminat, silakan kirim email kosong ke: komunitas-penjunan-subscribe@yahoogroups.com dan ikuti petunjuk selanjutnya. Tak terkecuali undangan ini juga ditujukan bagi Amang DTA:-)

    Daniel Harahap:
    Bikin milis bagus-bagus saja. Namun yang terbaik para penulis itu rajin-rajin merawat blog-nya. Jangan dibiarkan “tarulang” atau terlantar. :-)

  8. Rudi Juan Carlos Sipahutar on March 2, 2009 at 2:42 pm

    Saya hanya mau memberi sedikit info : secara personal, Pemuda-pemudi HKBP telah banyak memproduksi karya tulis, drama panggung, bahkan Film Independent yang di perlombakan di berbagai festival. Bahkan banyak dari Alumni Univ Nomensen ..

    Jurnalist, pujangga dan Cinemas-cinemas muda itu tak harus menunggu atau berharap difasilitasi gereja ataupun komunitas gereja dengan satu alasan bahwa karya seni memiliki ruang sendiri dan bebas dari simbol-simbol partikular.

  9. Jansen H. Sinamo on March 2, 2009 at 5:28 pm

    Jadi teringat saya pada sebuah edisi majalah LIFE yang saya baca tak sengaja di awal 1990an. Topiknya: Apa Peninggalan Manusia Terbesar? Piramida, Taj Mahal, Tembok Besar, Borobudur, Patung Colossus?

    Ternyata tidak. Tetapi kata, kalimat, ayat, surat, atau buku.

    Kata majalah itu, kebudayaan Barat dibangun di atas 4 buku: Iliad, Odyssey [keduanya karangan Homerus], Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru.

    Bah, pikirku, payah kalilah kami orang Batak ini yang masih bercita-cita membangun tugu — yang notabene berkualitas sangat rendah bila dibandingkan dengan tugu Colossus, misalnya, padahal monumen itupun sudah lenyap juga — sementara terbuka kemungkinan meninggalkan warisan yang lebih abadi.

    Sekarang aku buka rahasia: bacaan itulah yang membulatkan tekadku untuk menjadi penulis.

    Tak terlalu jelek hasilnya, sudah 7 buku kutulis, hampir seratus artikel, sebagian masuk Kompas. Uang pun mengalir terus, baik sebagai royalti, penjualan langsung, maupun honorarium.

    Bikin tugu/tambak/simin? Sudah habis ratusan juta kalau tidak orde milyar, biasanya menuai bada dan tokkar pula di tengah keluarga besar.

    Sudah saatnya kita Batak maju ke jenjang peradaban yang lebih tinggi. Zaman batu, zaman megalitikum, sudah lama lewat…

  10. Mula Harahap on March 2, 2009 at 6:46 pm

    Rudi Juan Carlos Sipahutar:
    Jurnalist, pujangga dan Cinemas-cinemas muda itu tak harus menunggu atau berharap difasilitasi gereja ataupun komunitas gereja dengan satu alasan bahwa karya seni memiliki ruang sendiri dan bebas dari simbol-simbol partikular.

    Mula Harahap:
    Sebenarnya yang saya inginkan dengan program membangun berbagai komunitas itu adalah: Alangkah baiknya kalau sineas-sineas muda Kristen yang sudah berprestasi di luar itu itu mau membagi ilmunya sedikit kepada saudara-saudaranya sesama warga gereja yang masih haus untuk belajar. Gereja itu adalah kita-kita juga. Tapi kalau warga jemaat yang sudah mencapai keberhasilan di luar itu menarik garis batas, yah saya bisa bilang apa?

  11. todungrs on March 2, 2009 at 9:22 pm

    yang dilakukan yakoma sudah benar, sekarang tinggal kita atau gereja kita mau terlibat disana, baik sebagai peserta atau sebagai fasilitator.

    sangat jarang terjadi, program yang bermutu tinggi dengan biaya rendah yang dikeluarkan peserta.

    benar kata amang mula, kalau memang sudah banyak warga gereja yang sudah jago menulis, maka bersedialah untuk ikut berbagi ilmu.

  12. Jansen H. Sinamo on March 3, 2009 at 9:37 am

    www = work with words [bagus pulak singkatannya] adalah pekerjaan insan terpelajar, mulia hakikatnya, di tataran teratas peradaban tempatnya, yang membuat para pekerjanya dan pembacanya niscaya lebih beradab.

    Izinkan saya promo kegiatan seorang kawan, warga GKI juga, Andrias Harefa namanya, yang bertekun dalam www sejak lama, yang kini membuka pelatihan menulis profesional.

    Berita kegiatannya bisa dilihat di http://www.proaktif.biz.

    Dia pasti senang diajak berbagi, apalagi kalo yang ngajak itu seorang Mula Harahap, karena saya tahu pasti, dia penggemar tulisan-tulisan Pak Mula.

  13. Slamat P Sinambela on March 3, 2009 at 10:30 am

    Tak kusangka Jansen H Sinamo juga berkunjung ke rumametmet DTA. Aku bingung, siapa pengagum siapa nih? Hehe. Horas buat Bapatua Sinamo! Kalo tak salah, dulu satu sekolah dgn Bpk saya di Sidikalang.

    Daniel Harahap:
    Yang benar: saya pengagum Bapak Jansen Sinamo. :-)

  14. Slamat P Sinambela on March 3, 2009 at 10:37 am

    @ Amang DTA, tentang blog na tarulang i Amang, gabe pecut do i di ahu mangingot na so update be jabu jejaring jagat jembar hu i, hehe

  15. tanobato on March 3, 2009 at 12:48 pm

    Selamat datang, pak Jansen Sinamo! Tulisan bapak sangat menginspirasiku. Aku juga punya hobi menulis sejak lama, namun baru beberapa bulan ini punya “keberanian” ber-blog ria dengan http://www.tanobato.wordpress.com. Waktu aku masih kuliah di STTJ, pak Martin Sinaga pernah “mengajakku” untuk menulis tentang orang Batak di majalah, namun sayang TATAP terlanjur tutup (menurut istilah bapak: moratorium dulu untuk sementara waktu …). Padahal aku sudah sangat menggandrungi majalah itu (dan juga dengan coba mengenalkannya ke beberapa kawan di komunitas …), malah mendekati tahap fanatik (karena sampai sekarang pun belum mau pindah ke lain hati di belantara banyaknya media yang menyerupai TATAP kita itu). Tak tergantikan!

    Cepatlah kembali pulih, pak. Semakin tak tertahankan rinduku ini …
    Horas!

  16. George Sicillia on March 3, 2009 at 6:27 pm

    Wah wah.. sebagai peserta komunitas WWW, saya merasa beberapa informasi terlalu cepat di publish. So far, kami ingin WWW established dulu di tingkat Kompa Kajadu dengan filosofi: dari, untuk dan oleh pemuda Kajadu karena tujuannya adalah: membuat bernas bibit2 penulis muda dengan latar belakang nilai-nilai kristiani di lingkungan Kajadu. Soal lain-lain yang more than it… kayaknya entar-entar dulu deh hehe.

    Tapi satu hal yang pasti, bangga juga sih bila aktivitas Kompa Kajadu bisa menginspirasi teman-teman yang lain untuk mengeksplorasi dunia tulis-menulis.

    blessings,
    Sicillia

  17. rumanap on March 4, 2009 at 9:31 am

    Jujur,saya kagum dengan Jansen Sinamo, selain karena tulisannya enak dibaca, terutama adalah karena sudah mengalirkan duit dari tulisan ke pundi-pundi.
    Usulan saya untuk forum ini dilibatkan jugalah AJI (dulu PWI ya ?). Sehingga penulis idealis (contohnya banyak di Rumametmet), bisa belajar banyak hal dari mereka yang menulis demi honor/upah. .

    Ada kemungkinan banyak blog “natarulang” adalah karena blog tersebut belum bisa menghasilkan uang sebagai pemicu adrenalin.

  18. Benita Theda on March 4, 2009 at 9:52 am

    Ya, sejalan dengan kata Sicil diatas menurut saya ada hal yang perlu diluruskan.

    Saya sebagai salah satu pengurus komisi pemuda kajadu, bangga atas kerja keras Tim Panitia WWW yang sudah berhasil merealisasikan kegiatan ini. Tapi sesuai dengan pembicaraan dan kesepakatan pengurus kajadu dan panitia WWW, kami belum akan membuat blog WorkWithWords seperti yang Bang Mula katakan diatas karena kami akan memaksimalkan dulu blog kami yang ada sekarang mudamenulis.multiply.com.

    Mungkin bila saatnya diperlukan, blog tersebut akan kami publish.

    Kami bukannya tidak ingin mengajak teman-teman dari gereja lain tapi kami sadar bahwa tenaga, sumber daya, dan dana kami juga masih terbatas. Dan tidak baik rasanya bila memulai sesuatu langsung dalam skala besar. Bila kegiatan ini terus berkesinambungan dan pemuda kami juga sudah semakin matang tidak tertutup kemungkinan suatu saat kami juga berkolaborasi dengan teman-teman yang lain.

    Terima kasih atas berbagai saran, kritik, dan pujian yang diberikan. Semoga kita semua bisa melayani Tuhan dengan lebih baik lagi.

    Salam,
    Theda

  19. Jansen H. Sinamo on March 4, 2009 at 11:13 am

    Pro TANOBATO,

    Syukur, terimakasih. Marilah terus menulis.

    Aku bermimpi, minat baca bangsa ini naik terus, bersamaan dengan daya belinya yang juga naik. Maka, suatu saat para penulis akan bisa hidup sejahtera dari kerja tulisnya.

    Karir menulis harus kita kembangkan dan karir ini harus mampu menarik bagi talenta-talenta terbaik bangso/bangsa kita.

    Kepada kedua anakku, sudah kubilang: buku 1,2,3, 4 buat kamu boruku; buku 4,5,6,7,8 buat kamu anakku. Itulah warisan papa buat kalian selain pendidikan yang sedang tempuh ini.

  20. rumanap on March 4, 2009 at 11:46 am

    Terimakasih saya ucapkan kepada Amang DTA, karena melalui blog ini saya bisa lebih jauh mengenal Jansen Sinamo. Dan karena Jansen Sinamo ada kemungkinn nantinya saya akan bisa berkenalan dengan Andrias Harefa, Edy Zaqeus, Her Suharyanto dan lain-lain yang menurut saya mereka adalah orang-orang yang perlu dikenal dan ditiru para peminat dunia penulisan ( Istilah ni Suhunan Situmorang “angka dongan na marsahit positif )
    Karena terinspirasi dari mereka yang saya sebut diataslah maka dengan “maila-maila huting” saya memproklamasikan blog ecek-ecek saya :www.rumanapagency.blogspot.com. Dengan harapan mereka mau berkunjung dan mengajari saya serta memberi masukan.
    Ini hanya permohonan, pepatah batak mengatakan “ditoru tangan mangido ” maka saya menulis permohonan ini dengan segala kerendahan hati.

  21. Rudi Juan Sipahutar on March 4, 2009 at 3:10 pm

    Mula Harahap:
    Sebenarnya yang saya inginkan dengan program membangun berbagai komunitas itu adalah: Alangkah baiknya kalau sineas-sineas muda Kristen yang sudah berprestasi di luar itu itu mau membagi ilmunya sedikit kepada saudara-saudaranya sesama warga gereja yang masih haus untuk belajar. Gereja itu adalah kita-kita juga. Tapi kalau warga jemaat yang sudah mencapai keberhasilan di luar itu menarik garis batas, yah saya bisa bilang apa?

    Rudi Juan :
    Saya rasa rekan-rekan sineas pasti dengan senang hati membantu asal jangan di batasi hanya yang orang kristen saja. Karena seni memang tak memiliki atau di miliki agama-agama tertentu saja.

  22. Jansen H. Sinamo on March 4, 2009 at 8:56 pm

    Pro Slamat P Sinambela:

    Jansen Sinamo juga mengagumi DTA. Btw, mengagumi itu penting untuk menulis. Pengaruh Dale Carnegie begitu kuat padaku dalam cara/teknik menulis. Dan itu mulai dari kekaguman.

  23. efaproditus on August 14, 2009 at 3:25 pm

    makasih pak bersemangat lagi menulis… uda saat nya kita bangkit lewat media kristen GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*