Santabi, Serba-serbi Babi

March 2, 2009
By

babi-berkalung.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Mungkin sudah “nasib” babi menjadi tokoh eh hewan kontroversial. Sangat dijunjung tinggi dalam peradatan Batak (juga Papua) namun selalu saja jadi bahan cemooh, olok-olok dan hinaan. Babi minus dan babi plus tanda seru (!) adalah dua hal yang berbeda sekali. Yang pertama menunjuk kepada hewan berkuku genap pemakan segala-gala-galanya (omnivora) termasuk, santabi, melahap bekas makanan manusia. Yang kedua adalah jenis umpatan atau makian anak manusia yang tidak bisa mengontrol kemarahannya. Orang Batak (kristen) sendiri walau pun sangat doyan memakan daging babi, dalam percakapan mempunyai sebutan yang lebih santun menyebut hewan yang buntutnya berpilin ini: pinahan lobu. Bahkan setelah dimasak namanya pun tetap dihaluskan : na marmiokmiok (yang berminyak). Kasian deh si babi. :-)

Sebenarnya babi pada dasarnya hewan baik-baik. Berbeda dengan saudaranya “celeng” (aili) yang masih hidup liar di hutan, babi sudah lama dimuliakan oleh manusia dan dijadikan hewan piaraan (kecuali bagi mereka yang beragama Islam atau Yahudi yang mengharamkan memakan daging hewan tersebut). Di Tanah Batak, khususnya di belahan Utara, dahulu bahkan babi dibebaskan berkeliaran seenaknya di kampung dan tidak dikandangkan seperti sekarang. Namun supaya babi tidak merusak tanaman padi di sawah maka babi terutama pada masa musim tanam hingga panen harus diberi kalung (halung-halung) dari kayu sehingga tidak bisa menerobos pagar sawah atau kebun. Cerita Ibu saya: babi yang tidak berkalung dan kedapatan di sawah boleh dibunuh oleh pemilik sawah tanpa seijin pemilik babi. Dari sinilah muncul istilah: tardapot songon babi di eme (tertangkap basah sedang berzinah). Namun jika babi sudah berkalung dan bisa masuk sawah dia tidak boleh lagi dibunuh. Itu bukan kesalahannya eh kesalahan si pemilik babi lagi, melainkan kesalahan si pemilik sawah mengapa tidak memagar tanahnya rapat-rapat.

Sebenarnya babi bukan hewan pemalas (seperti sebagian manusia) walaupun kadang dia suka tidur-tiduran di kolong rumah atau bahkan bermain lumpur. Ada pameo: parnasib ni babi na manogot-nogot (keberuntungan babi yang keluar pagi sekali!) Maaf, saya tidak berminat menjelaskan makna hurufiah peribahasa ini. :-) Pokoknya babi rajin bangun pagi. Sejak pagi hingga petang babi tidak pernah jemu mencari makan di sekitar kampung. Apa saja yang ketemu dimakannya. Mulai dari dedaunan, buah sentul yang jatuh, buah aren (yang gatal), akar-akar kayu apalagi rebung bambu, cacing dan bahkan ular. (Jangan heran di kampung-kampung di Toba kita jarang ketemu ular karena habis dilahap sang babi). Namun dua kali sehari babi akan datang ke rumah meminta makanan dari pemiliknya. Dan baiknya si babi dia tidak pernah memilih-milih menu. Apa pun yang dihidangkan si pemilik (dedak campur ampas makanan, nasi basi, daun genjer atau daun ubi jalar atau daun talas) dihabiskannya. Namun berbeda dengan anjing jika sedang lapar babi akan sangat berisik atau ribut meminta makan. Mungkin itulah salah satu mengapa orang yang kurang sopan dianggap mirip atau suman, santabi, dengan babi.

Hampir semua orang di kampung Batak sana memelihara babi. Mungkin karena sangat gampang memeliharanya. Satu lagi: karena memelihara babi sangat menuntungkan atau menambah penghasilan. Babi memang benar-benar celengan hidup. Dipelihara untuk kelak dijual menambah biaya hidup. Ya, banyak sebenarnya orang Batak yang sekarang sukses uang sekolahnya dulu diperoleh dari penjualan babi piaraan orangtuanya. (Melantur, saya jadi ingat, guru besar saya dahulu di STT Prof Boehlke menulis surat dari Amerika: “klep jantung saya baru saja dioperasi dan diganti dengan klep jantung babi. Seekor babi harus dikorbankan untuk menolong saya. Sekarang saya mesti lebih hormat kepada babi”).

Konon, babi bisa melahirkan sampai dua belas anak (kebetulan atau tidak jumlah, santabi, puting susu babi adalah dua belas, jadi pas). Cerita Ibu saya, dulu Ompung kami selalu segera menjual anak-anak babi yang lucu dan gemuk itu dan tidak menunggunya besar dulu. Alasannya simpel sekali. Kejam? Supaya induk si babi segera melahirkan kembali. Sebab selama dia masih menyusui maka si induk babi akan tetap kurus. Sebab itu sapih saja secepatnya. Maksudnya: jual saja anak-anaknya penambah uang belanja.

Bagaimana dengan babi jantan? Maaf kepada para laki-laki, dahulu dalam nilai si babi jantan (dalu) lebih rendah dibanding si betina. (Jaman dahulu belum dikenal istilah babi pejantan, sebab semua babi bebas berkeliaran di kampung kawin-mawin dimana, kapan dan dengan siapa saja menurut keinginannya). Namun supaya babi jantan itu bernilai tinggi maka dia harus dikasim. Bahasa Bataknya: dipangkias. Oh seramnya. Ya ampun, kata saya dalam hati sambil menggigil. :-) Cara mengkasimnya juga sangat “primitif”. Babi diikat di tangga rumah lantas, santabi, testis babi dipotong tanpa basa-basi cukup diberi antiseptik tradisional tembakau. agar tidak infeksi. Dan katanya babi yang sudah dikasim cepat sekali gemuk dan tentu saja harga jualnya menjadi tinggi. (Saya penasaran ingin tahu: apakah di jaman moderen ini mengkasim hewan diperbolehkan undang-undang).

Babi sama seperti domba dan kerbau mengenal pemiliknya. Jika petang hari dipanggil “hurjeeeee…. hurjeeeee…..” maka si babi akan segera datang dari balik semak-semak mendapatkan si pemiliknya. Saya sendiri tidak tahu darimana asal kata “hurje” atau panggilan khas kepada babi itu. Namun yang jelas jika orang lain yang meneriakkan hurjeee itu babi yang bukan miliknya tak akan mendekat. Namun ada yang aneh memang dalam diri babi. Jika ekornya kita tarik, maka si babi akan maju ke depan. Namun jika kita pantatnya kita dorong ke depan, anehnya malah si babi mundur ke belakang. Dasar ba… :-)

Ah, hatangku nama i. Unang pola pamasuk hamu tu roha. Itu cuma karangan saya, janganlah disimpan dalam hati.

Hidup Batak! Hidup Indonesia!

Daniel T.A. Harahap
(seorang pendeta yang sebelum kena serang penyakit asam urat termasuk kaum pemangsa babi )

Catatan:
santabi = permisi, mohon ijin, suatu sebutan khas batak sebelum mengucapkan suatu kata yang dianggap kurang sopan.

Tambahan teka-teki kurang kerjaan:
Tanya: kenapa anak babi kalau jalan merunduk-runduk? Jawab: karena malu induknya babi. :-)

Share on Facebook

40 Responses to Santabi, Serba-serbi Babi

  1. Jansen H. Sinamo on March 2, 2009 at 7:13 pm

    Kapan babi mulai jadi piaraan orang Batak? Kenapa babi jadi makanan namargoar di Batak? Kenapa babi jadi ‘persembahan’ buat hula-hula?

    Kalau saya saksikan acara menyerahkan ‘tudu-tudu ni sipanganon’ saya kadang berpikir, andaikan Yesus itu orang Batak, inilah dia acara marulaon nabadia.

    Soalnya, hata marsintuhu saat penyerahan sipanganon ‘pinahan lobu’ itu buat saya terasa sama sakralnya dengan ucapan pendeta yang menahbiskan roti dan anggur pada perjamuan kudus.

    Apakah feeling saya saja yang demikian?

    Jansen Sinamo
    Sarjana pinaborhat ni pinlo [pinahan lobu]

  2. Friska Pardede on March 2, 2009 at 9:21 pm

    Saya jadi teringat masa lalu, kami bersaudara 3 org juga dibesarkan oleh babi eh …salah memelihara babi agar bisa sekolah dan sampailah seperti saat ini boi mananda ruma metmeton marsaor dohot angka dongan, seperti kebanyakan masyarakat dikampung kami semua memelihara babi seperi yg amang ceritakan itu, babi kami memang paling banyak 3 ekor 1 betina 2 jantan tapi babi kami besar2 dan yg betina beranak melulu krn kalau sudah pas untuk lomok2 selalu dijual.

    Setelah anak2 saya agak besar mrk suka tertawa2 kalau mendengar cerita saya tentang babi yg walaupun tampangnya sangat mirip tetap saja kita bisa mengenal babi kita dan mrk pun hapal dgn suara tuannya walau sekampung sekaligus memangilnya dgn panggilan yg sama huurjeeee!!!

    Coba kita perhatikan para pemenang olimpiade IPTEK rata2 cina dan pasti jago makan babi, krn itu berikanlah anak anda sup kacang merah babi saran saya kepada ibu2 ketika menunggu anak disekolah saat anak2 saya masih SD he…he… saran ini juga buat pasangan muda yg baru punya anak kecil

  3. Garonggal on March 2, 2009 at 11:08 pm

    Makan babi? No
    Makan daging babi? Yes

    Mangallang babi? No
    Mangallang jagal babi? Yoi

    Dagingnya bisa dimakan tapi jangan pangalahonya… (sifat-sifatnya)

  4. Tetty Sihombing on March 3, 2009 at 5:45 am

    Dulu di kalangan keluarga Sihombing Lumbantoruan dikenal seorang Professor (saya beramangtua kepadanya) dan para kerabatnya mengacu kepadanya dengan julukan “Doktor Babi”. Wah saya agak syok juga mendengar sebutan itu…Rupanya beliau adalah seorang PhD ahli peternakan dari IPB Bogor dan beliau banyak membantu memajukan peternakan Babi (karena itu memang bidangnya) di Tapanuli Utara dan tempat2 lain di negeri kita ini. Inisial nama beliau sebetulnya DTW sama sekali tidak ada huruf B… :-)

    Mauliate Pandita nami, saya selalu senang sekali membaca cultural notes bapak.
    Horas!

  5. Siregar on March 3, 2009 at 7:42 am

    Huingot di huta, molo nunga botari, disukkun natua-tua i, nunga mangan babi? ninna do fuang…… hape angka pasukanna dang disukkun manang naung mangan,, he he he…. Ima alani rikkot ni BABI (pinahan lobu) asa adong uang kuliah. Sai na adong do topik sibahason ate amang. Horas

  6. RM Napitupulu. on March 3, 2009 at 7:44 am

    Amang Pendeta!
    Babi siapa itu amang fhoto? atau apakah itu fhoto babi yg akan dikorbakan dalam pesta gondang tgl 14 & 15 nanti ?

  7. Hodner L on March 3, 2009 at 8:12 am

    Amang, boasa halak Batak ingkon “marsantabi” molo mandok hata: namate, babi (umumnya ternak) ? Molo dang sala bahasa Indonesianya santabi “Maaf cakap” do ra, dang permisi.

  8. Kimron Manik on March 3, 2009 at 8:30 am

    Ngank tahulah rasanya jika dalam seminggu belum makan jagal B2…..
    Apalagi kalau lihat gambar-gambar daging panggang yang diposting amang di rumametmet ini….ehm lezat……(tapi jaga kolesterol……)

  9. yusuf on March 3, 2009 at 8:34 am

    Babi memang ciptaan Tuhan yang bagi banyak orang sangat bermamfaat dan selain dari kegunaan yang rekan-rekan sebutkan di atas, ternyata dari dalam diri babi bisa bermamfaat sebagai obat penyakit jantung, kebetulan pernah ada keluarga lagi ada serangan jantung sehingga opname dan ketika dikasih obat jantung dokter menjelaskan obat jantung berasal dari babi ( dan di kemasan juga di tulis berasal dari babi). Bagi rekan-rekan yang tahu khususnya orang kedokteran mungkin bisa menjelaskan yang bisa mengobati jantung dari unsur mananya nya?

    Kalo di kampung dulu orang-orang tua sering bilang biar pintar ngomong makanlah lidah babi, dan biar pendengaran “tinggil”makanlah pinggol ni babi .

    Daniel Harahap:
    Yang saya tahu malah kalau terlalu banyak makan daging babi bisa kolesterol dan menyerang jantung. Lidah babi bikin pintar ngomong? Kuping babi bikin peka? Bagaimana pulak kalau buntutnya? :-)

  10. abrianto Nababan on March 3, 2009 at 8:53 am

    ada yang unik pada perilaku pinlo( pinahan lobu ), contohnya, biasanya babi itu kalau melahirkan bisa sampai 12 ekor, kalau babi itu mau menyusui anaknya harus lengkap dulu ke 12 anaknya baru dia mau menyusui , selama masih belum lengkap dia tdk akan mau….bukan begitu amang pendeta Harahap ?

    Daniel Harahap:
    Manalah kutahu. :-)

  11. yusuf on March 3, 2009 at 9:01 am

    memang kalo terlalu banyak ya pasti tidak bagus , maksud saya benar amang dta ada obat jantung tablet,kapsul berasal dari babi , cobalah tanyakan sama inang dulu di rumah atau sama inang prof.atau kalo ada dr.ahli jantung . kalo makan dagingnya apalagi tabo-tabonya ya hati-hati kolesterol.
    untuk makan lidah bagi dan kupingnya..ya namanya juga orang kampung..orang-oarang tua dulu kan tau lidah,kuping terdiri dari kartilago jadi keras yang sudah ompong dak bisa makan maka itu keluar lagi kata-kata kalo otak babi dak boleh dimakan yang muda nanti cepat tumbuh uban, padahal karena itu yang lembut serta enak di makan para oppung-oppung.

  12. Mula Harahap on March 3, 2009 at 9:10 am

    Waktu masih kecil dan tinggal di Medan saya sering mendengar orang memaki dengan mengatakan, “Babianjing!” (Dengan aksen Batak yang kental). Bagi saya makian itu adalah makian yang paling “klop” sedunia :-)

  13. elumban on March 3, 2009 at 9:18 am

    Pintar kali memang amang ini mengorek-ngorek masa lalu dan membungkusnya menjadi “jualan” yang menarik.

    Daniel Harahap:
    Orang yang kerjanya mengorek-orek barang2 masa lalu namanya pemulung. Di Medan dulu istilahnya: tukang goni botot. :-)
    ( terjemahan hurufiah: karung butut)

  14. Mula Harahap on March 3, 2009 at 11:27 am

    Dalam beberapa hari terakhir ini saya sering melihat nama Jansen H. Sinamo berkunjung ke gubuk ini. Apakah dia adalah orang yang sama dengan Jansen H. Sinamo yang sering menulis dan memberi ceramah tentang etos kerja itu, dan yang karenanya juga sering dijuluki sebagai “Mr. Etos” ?

    Kalau Jansen H. Sinamo itu adalah orang yang sama, maka izinkan saya mengatakan, “Horas, Lae!” Dan kepada pemilik gubuk ini izinkan pula saya mengatakan, “Suguhi dia kopi dan ubi rebus yang enak, agar dia betah berlama-lama dan marnonang di sini.” :-)

  15. Mula Harahap on March 3, 2009 at 11:33 am

    Saya sering sekali mendengar orang berkata tentang diri saya, “Ai Karisten do ibana. Dipangan ibana do saksang….” Dan itu membuat saya jadi tersenyum dan suka bertanya-tanya dalam hati, “Saya ini menjadi Kristen, karena darah babi itu, atau karena darah yang Satu itu….?” :-)

  16. marbun LB on March 3, 2009 at 11:41 am

    Rindu akan pinahan, ditangerang sangat banyak peternak babi. Termasuk lah babi yang ada dilapo lapo seperti tondongta dan marpadot. Flash back kalau liat peternakan ini, ala ni pinahan on ma, gabe boi naik busway di jakarta on. minggu lalu PULKAM, ada ulaon adat na gok saur matua, tewas do 4 pinahan lobu, tu adat i. bisnis menggiurkan. Pengen pulang lagi… pindahkan lobu yang di tangerang ke huta tapanuli sana. Pilih pulang kampung mending caleg atau juragan pinahan? etong be ma disi. he he he

  17. Obrin B Lumbantoruan on March 3, 2009 at 11:58 am

    Dohot do ahu menikmati hasil ni babi i daba, ai marbabi do hami najolo laho manambai uang sekolah.

    Daniel Harahap:
    Santabi.
    :-)

  18. ruly on March 3, 2009 at 1:50 pm

    setelah membaca dan merenungkan ini amang.. saya sadar ternyata babi itu pada dasarnya hewan baik-baik, apalagi babi yg difoto itu, langsung ketawa awak ngeliatnya :D

  19. Mula Harahap on March 3, 2009 at 2:13 pm

    Tanggapan untuk Ruly:

    Miss Piggy yang menjadi “pacar” Kermit “The Frog” itu babi. Charlotte yang menjadi tokoh utama dalam novel–dan yang kemudian difilemkan dengan judul yang sama–”Charlotte’s Web” itu babi. Banyak sekali karakter babi yang terkenal dalam filem-filem Hollywood. Cantik-cantik, ganteng-ganteng dan baik-baik :-)

    Dan babi-babi di sana jauh lebih beruntung dari babi-babi yang pernah saya lihat dalam perjalanan dari Medan ke Berastagi: Digantung “himpal-himpal” di depan hampir setiap kedai BPK (Babi Panggang Karo) :-)

  20. Barita MP Hutabarat on March 3, 2009 at 2:13 pm

    Untuk memanggil pinlo disebut hurje! Hurje itu diteriakkan kalau babinya jauh dan tidak terlihat supaya terlihat dan mendekat. Selidik punya selidik ternyata hurje adalah singkatan dari “hurang jenek”.

    Hea do hami mamiaro babi sampe marpulupulu, ala memungkinkan do inganan i (tingki mangula di HKBP Parapat). Gabe adong do pekerjaan sampingan ima “mangkasim” babi ni ruas dohot pasewahon babi pejantan. Umpos do roha di halak molo pangula ni huria na”mangkasim” dohot pakawinhon pinahanna.

  21. Rudi Juan Carlos Sipahutar on March 3, 2009 at 2:26 pm

    Babi adalah hewan yang membawa gejala kepahitan di masa kecilku. Saya sangat membenci hewan yang satu ini, karena segerombolan babi yang di pelihara sering kali menarik perhatian/kasih sayang oppung boruku di bandingkan harus memperhatikan kami cucu -cucunya.

    Ini kisah nyata kawan,
    Bayangkan saja, setiap oppung boruku pulang dari kebun atau sawah di sore hari yang pertama dia tanyakan ke seluruh penghuni ; ‘Ai na lehon hamu babi mangan?’..( sementara perut awak yang keroncongan tak pernah oppung pedulikan). Ketika suatu hari babi lupa di kasih makan, oppung boruku akan mengomel sampai larut malam seperti radio yang kehabisan siaran.
    Bahkan Pernah juga 1 ekor babi yang dipelihara kabur dari kandang (manunda) dan semalaman tak pulang kandang.Wah, angkara murka oppung boru ku tak kepalang dasyatnya. Sampai Abangku di usir dari rumahdan tak boleh pulang sebelum babi itu ketemu.Beruntunglah babi itu akhirnya balik sendiri ke kandang karena kelaparan, kalo tidak maka kami sekeluarga pasti di usir juga dari rumah oppungku.

    AKhh dasar Hurjee…
    Betapa mahalnya dirimu..!!!
    Saya hanya berharap dan berdoa ; Kiranya Babi-babi yang sudah merantau (babi eksport/import) yang sudah merantau dan sekolah di negeri orang kelak ketika pulang ke negeri sendiri dapat lebih santun,sopan dan berkarakter baik (tak lagi mencerminkan karakter babi)

    (seorang pemudayang iri kepada babi peliharaan oppungku)

  22. O. Pasaribu on March 3, 2009 at 3:11 pm

    Sebenarnya dna babi sangat dekat dengan dna manusia. itulah sebabnya kalau melakukan operasi, benang yang dipakai untuk menjahit pada bagian usus atau lainnya (benang yang tidak bisa dicabut lagi) benangnya terbuat dari daging babi. para dokter/ahli dari muslim juga mengakui hal ini, tapi karena alasan kesehatan, itu diperbolehkan agama mereka. sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikannya. jadi hati2 makan daging babi.

  23. Panca Bonar on March 3, 2009 at 3:23 pm

    Saya tambahin lagi cerita mengenai babi, dulu ada istilah ” dipahan” yakni babi betina di berikan pada seseorang untuk dipelihara, nah setelah tiba saatnya beranak, maka anak babi tersebut dibagi secara merata, misalnya kalau anak babi yang dilahirkan ada 6 maka dibagi menjadi 3-3 antara yang punya babi dan yang memelihara, dan kalau bilangan ganjil maka yang memelihara akan mendapat lebih banyak, yang menjadi masalah adalah kalau anak babi yang keluar hanya satu apalagi kalau babi tersebut tergolong “sining” alias tidak beranaaaaakk beranaaaak.

    Kemudian pengalaman saya di Papua, saya sungguh terkejut ketika menyaksikan seorang ibu yang berjenis manusia dengan santai menyusui anak babinya setelah memberikan atau menyusui anaknya sendiri secara bergantian, dan pengalaman yang sungguh tidak bisa dilupakan saat dijamu makan papeda yang disajikan pada tempat makan babi, sungguh hari itu saya harus makan demi untuk menghargai kepala suku.

    Walau bagaimana pun, secara pribadi saya sangat berterima kasih juga pada hewan yang satu ini, wenak sih, dan untunglah sebagian besar warga negara kita tidak mengkonsumsi daging babi, kalau nggak berapa devisa yang akan keluar untuk impor babi.

    Namun saya sering merasa kasihan liat babi setiap berjalan pastiiii dia selalu menunduk , mengapa yaaa?

  24. Gerda Silalahi on March 3, 2009 at 5:19 pm

    wah, topiknya ‘enak’ nih :)
    kalo soal babi, aku sempat menyaksikan binatang ini menjadi penghuni kolong rumah opungku dari bapak di pagar silalahi, laguboti. malahan ada lobang berbentuk kotak kecil di lantai dapur yang dipakai oleh penghuni rumah untuk membuang hajat jika malam2 kebelet dan takut keluar rumah menuju kamar mandi yang letaknya diluar. biarpun begitu, tetap aja aku menikmati saksang dan panggang tanpa rasa jijik :)

    kalo opungku dari mama lain lagi ceritanya. saking sayangnya sama babi2 peliharaanya, opung boruku ini sering dimarahi anak2nya yang sudah sukses di jakarta. anak2nya ingin menyenangkan opung dengan mengajaknya mengunjungi negara2 yang belum pernah dia kunjungi. tapi alm lebih memilih marmahan babi di porlaknya.

    satu kali tulangku yang -ehem- pengacara terkenal itu menghadiahkan jam tangan rolex asli sebagai hadiah ultah ke 70 kepada mamaknya. di kampung, seperti biasa, opung kembali mengurus babinya. saat mencampur dedak kedalam tempat makan babi (ada namanya, aku lupa), tak sengaja jam tangannya terjatuh kedalam. setelah sadar dan mencari2, ternyata sudah keduluan sama babi yang udah melahap jam tangan itu.

    karena takut dimarahi tulang, opung melarang kami menceritakan soal jam itu kepada siapapun, dia berencana menunggu babinya besar untuk ditimbang baru dipotong di pasar. ternyata si tulang sudah keburu tahu, lalu ultimatum opung agar segera memotong babinya, jika tidak selamanya opung tidak boleh memelihara babi. akhirnya dengan berat hati dipotonglah babi itu di tukang jagal, dan benar jam tangan mahal itu ada di perutnya. opungku mana mau tahu harga rolex itu setara dengan peternakan babi besar. yang dia ingin hanya agar babinya mencapai 50 kg ketika akan dijual, sekarang hanya 40 kg sudah dijual. “dang adong untungna, alani si ….. on ma i” katanya :)

  25. Ninggor Pardede on March 3, 2009 at 5:23 pm

    Huahahahaha.
    Mauliate dihatorangan ni amang Barita MP Hutabarat. Gabe lam tu singkopna sarita ni amang DTA on. Horas HKBP.

    Daniel Harahap:
    Amang, sarita di hata batak lapatanna hansit ni roha do: keluhan, komplain, sakit hati.
    Hape ndada na manarita iba on. Na marturi-turian do. Manang marbarita pageok-geok pinggol huhut marisi poda. :-)

  26. Ninggor Pardede on March 3, 2009 at 5:32 pm

    Huahahaha. Nungnga gabe diparengkeli dongan nahundul di motor ahu ala mengkel sandiri. Mabaor maon turi turian on ate (dang boi hubahen sian hepponhu gombar namengkel nahunik i). Huahahaha.
    Horas HKBP
    Horas Rumametmet

  27. Jansen H. Sinamo on March 4, 2009 at 10:16 am

    Kalau Jansen H. Sinamo itu adalah orang yang sama, maka izinkan saya mengatakan, “Horas, Lae!” Dan kepada pemilik gubuk ini izinkan pula saya mengatakan, “Suguhi dia kopi dan ubi rebus yang enak, agar dia betah berlama-lama dan marnonang di sini.” :-)
    ————————————————

    SINTONG DOI LAE, ahu doi si Mister Ethos inon. Ai na tarlambat do huboto ruma on. Tuani ma dipaboa sada dongan hira 2 minggu nasalpu.

    Pintor hutingkir antong, jala memang tingkos do promo ni donganhi. Mansai las rohangku, olo do tolu opat hali sadari ahu ro, jala muse, sai hapaboa do tu dongan-dongan asa ribur marroan.

    Horas ma.

  28. Bang Tampu dari Legok. on March 4, 2009 at 11:50 am

    hahahahahahahahahhahhahah, tambah panjang umur bah, boi iba mengkel.
    Mauliate Amang Pandita di turi-turian muna on.

  29. jon robet sidabutar on March 7, 2009 at 3:01 am

    hahhahahahahahahhaahhahahahahhah

    aha be si dokkononhu tu par-babi-on on…nga loja ahu mekkel…

  30. Salngam on March 7, 2009 at 8:52 am

    Huuuurjeeeee!!!!!
    Ndang tagamon so mandok mauliate dohonon ni angka dongan naung gabe Sarjana jala godang na hasea alani pinahan lobu on. Molo najolo jaman niba SMP-SMA di Huta pekerjaan mamiaro babi bukanlah pekerjaan orang pengangguran tetapi merupakan Jabatan Fungsional. biaya produksina ndang apala arga. Jenis ternak ini juga paling dicari dan banyak diperlukan, mulai sian tambul molo minum tuak, jagal siallangon molo di pesta unjuk sahat ro di makanan sehari-hari ni angka na mora di huta.
    Puji Tuhan, kebanyakan orang Batak tidak seperti masyarakat Negara Sedang Berkembang (Developing Countries) lainnya yang konon katanya mengalami malnutrisi, malnutrisi yang berakibat kepada kebodohan dan kebodohan yang berakibat kepada kemiskinan.
    Sayangnya, para scholar orang Batak tadi lupa akan pahlawannya ini. Seharusnya merekalah yang lebih banyak meriset bagaimana membuat teknologi yang boleh menghasilkan pinahan lobu yang lebih banyak, enak dimakan dan menyehatkan yang selanjutnya menjadi sumber penghasilan yang optimal sebagaimana orang Australia dengan lombunya.
    Semoga Jansen A Sinamo lebih banyak menyuarakan Etos Kerja cara memlihara Babi yang paling Effektif dan menguntungkan khususnya untuk daerah Batak.
    Babi juga mengenal suara pemiliknya..huuuurjeeee!!!!, artina “eating time and time to go home”. Mauliate ma tu ompung ni dongan yang telah memberikan kesan mendalam ke cucunya, yang walaupun itu menyakitkan tapi hasil akhirnya pahompu tersebut telah merasakan lapatan ni na mardeka i. Horas

  31. Ramlan Sihombing on March 9, 2009 at 9:46 am

    saya jd ingat banget, sy berangkat tu tano parserahani nadi pabohatni pinahan lobu, hahaha. kadang-2 lebih berharga Pinlo dari pada Anak nya? Knapa: karna klau ibu atau bapak kita pulang dari ladang, ng pernah bertanya apa kau udah makan atau belum, tp ortu selalu menayakan pinlo dulu ” Nungga Mangan BABI” ? hahahahahaha.. kasihan deh,,

  32. Sampe Sitorus on March 16, 2009 at 12:31 pm

    Gabe taringot iba tu almarhum Dainang Pangintubu dohot Amanta Parsinuan.
    Alana nasida ni ingot di tikki haetehon niba tokke babi do.
    Jadi manogot nia ri nunga laho tu angka huta naasing marnida babi ni parbabi jala manaksir argana.
    Dung hira-hira cocok, di timbang ma jala di boan amanta ma mar”kareta” ASTUTI.
    E… tahe… iba pe hape pinagodangni hasil ni pinahan lobu ido.
    Hidup peternak babi…, hidup tokke babi.

  33. Tiarma Hutagalung on March 19, 2009 at 4:58 pm

    wakakakak….geok ni turi-turian on tahe bah….

  34. Efrael T. Sitohang on July 21, 2009 at 3:24 pm

    “Bahkan setelah dimasak namanya pun tetap dihaluskan : na marmiokmiok (yang berminyak).”

    He… He… membaca sebutan “namarmiokmiok” ini,
    Jadi teringat awak sama cerita temannya abang. Kawannya abang ini agak reman dan kurang chare sama ulaon2 adat. Tapi suatu saat dia harus pasahathon tudu2 sipanganon sama hula2nya. Saat mandok hata laho pasahahon tudu2 sipanganan i, dia tidak tau sebutan untuk daging babi yang mau dipasahatnya ini. Dia cuma ingat sebutan untuk tudu2 sipanganon daging sapi/kerbau yaitu “Sigagat duhut”. “Ai aha do naeng molo tudu2 sipanganan jagal babi” sebutnya dalam hatinya waktu itu. “O… ido hape”…(tiba2 dia dapat ide) terus dengan pedenya dia mengucapkan “Tu Hamu hula2 nami, dison ro do hami pamoruon muna laho pasahathon tudu2 sipanganon “Si Gagat Te” (santabi hata)…. Langsusng dipasingot hula2nya dia… ” E..ee.. tahe naso maradat on”.

  35. j.sianturi on September 29, 2009 at 7:02 pm

    Mandapothon: Ramlan Sihombing
    Horas lae Ramlan. manungkun ateh. Lae Parsidingkalang do tahe?
    Nungnga tung leleng iba dang pajumpang dohot laeon. Marsirangma hami tahun 1989 di Medan najolo. Rap sasikkola hami di SGO Medan. Molo lae do Tolong Hubungi aku 0811871505 ( Jamodden Sianturi )

  36. agus p on October 30, 2009 at 8:52 pm

    babi ya .menurut hukumnya haram.

  37. Torang Panjaitan on November 14, 2010 at 6:42 pm

    Maaf pa pdt…
    Saya berusaha membaca keseluruhan Alkitab dari kejadian sampai Wahyu. Yah… pelan-pelanlah. Terus saya menemukan ayat di bawah ini.

    Yesaya 66:17, “Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN”.

    Mohon penjelasannya amang pendeta

    1. Apakah Tuhan memang benar Firman Tuhan dalam PL sudah tidak berlaku untuk orang Kristen. Sehingga firman ini hanya berlaku untuk orang Yahudi. Karena ayat ini katakan, “Demikianlah firman Tuhan”

    2. Apakah Tuhan itu membeda-bedakan manusia, yang ini tidak boleh untuk bangsa tertentu sedangkan untuk orang lain boleh.

    Terimakasih atas penjelasannya, saya ingin tetap makan daging babi tanpa rasa bersalah terhadap yang Firman Tuhan ini.

  38. suprama on December 17, 2010 at 9:38 am

    Torang Panjaitan@
    di baca 1 TIM 4:4-5
    Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram,jika diterima dengan ucapan syukur.5 > sebab semuanya itu di kuduskan oleh firman Allah dan oleh doa

  39. suprama on December 17, 2010 at 9:44 am

    Perjanjian lama penuh dengan Hukum Taurat sedangkan perjajian baru
    adalah Hukum Kasih yant tertulis di Mat 22: 37-40
    itulah Hukum yang pertama dan yang terutama

  40. iwan on March 13, 2013 at 4:58 pm

    dasar babi kau, dasar celeng kau, dasar anjing kau, dasar bangkai hidup kau…jelas kata-kata umpatan yang menunjukkan hina sehina-hinanya subyek yang disebutkan.
    Tidak ada yang mengumpat dasar ayam kau, dasar bebek kau, dasar belalang kau, dasar ikan kau.
    Semoga bisa menjadi bahan renungan, mengapa bisa demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*