CERITA IBU:
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Bahasa Batak mangan berarti makan. Sipanganon artinya: makanan. Pamangan adalah kata halus untuk mulut. Namun papangan adalah: cara makan. Atau: adat-istiadat makan! Ya adat Batak kata Ibu bukan hanya soal ulos dan jambar tetapi juga sopan-santun makan. Rupanya bagi orang Batak jaman dahulu yang penting bukan saja apa yang hendak dimakan itu tetapi juga bagaimana cara memakannya. Sebab itulah orangtua jaman dahulu memiliki nasihat: pinarpitu papangan molo di huta ni halak. Terjemahannya: cara makan kita di kampung orang harus sepertujuh dari cara makan kita di rumah sendiri. Bahasa kerennya: etiket makan. Petuah ini sangat mirip dengan amsal Salomo: jika makan bersama raja-raja letakkanlah ujung pisau di leher. Maksudnya selain sopan santun adalah menahan diri. (Bahasa Bataknya: mangorom).
Kesaksian Ibu saya yang kini berusia 80 tahun pada jaman dahulu orang Batak sangat tertib kalau makan. “Tidak seperti kalian jaman sekarang” ejeknya. Pada saat itu orang Batak biasanya makan di sapa atau pinggan kayu. Bagi keluarga kecil tentu saja sapa atau pingganya berukuran kecil. Namun bagi keluarga besar pinggannya bisa sebesar tampah atau anduri. Nasi diletakkan di tengah-tengah. Kuah dipisahkan di tempat tersendiri. Bagaimana menyantapnya? Beginilah kata Ibu (saya sendiri jujur tidak pernah makan di sapa kecuali saat retret untuk menyimbolkan persekutuan). Nasi dijumput (dipohul) dan ditekan dan dikepal dengan ujung jari sehingga menyatu, lantas dicelupkan sedikit dan sebentar (jangan lama-lama) ke kuah, baru dimakan separuh. Sisanya yang di tangan dipakai lagi untuk menjumput nasi baru. Peraturan: makan nasi tidak boleh langsung ditelan seluruhnya atau dipongkuk (konon katanya supaya tidak bisa dihitung datu berapa banyak yang kita makan, entahlah kebenarannya.)
Apakah makan bersama di satu piring tidak terkesan jorok? Kata Ibu orang Batak dahulu kalau makan sangat bersih. Tidak ada nasi yang berceceran ke sapa baik dari tangan apalagi dari mulut (!) . Juga tak ada yang jatuh ke kuah. Sebab itulah anak-anak (karena belum bisa makan dengan bersih) tidak diijinkan makan di sapa bersama orang dewasa. Selain itu orang Batak (dahulu) juga kalau makan tidak bersuara. Mulut selalu tertutup saat mengunyah. Malajap-lajap atau makan berbunyi seperti babi sangatlah dianggap tidak sopan. Tapi kalau sendawa sesudah makan saking kenyangnya dianggap biasa. Satu lagi kalau lagi makan ada anjing (panangga) datang melihat-lihat mesti dikasih sedikit. Jika tidak nanti amandel kita akan sakit (panghailhailon)
Kerakusan (hamongkusan) adalah sikap yang sangat tercela. Sebab itu Ibu sangat heran melihat pesta Batak jaman kini dimana kadang orang-orang berpakaian bagus dan mahal berteriak-teriak dan berebutan makanan. Pada jaman dahulu semua menunggu bagian dengan tertib katanya. Istilah untuk orang yang sangat rakus makan ini: papangan mago.
Selain hening, rapih dan bersih (hohom, renta, ias) dalam hal makan orang Batak dahulu pun sangat hemat. Sebab itulah ada istilah “dipangan ibana na di balian ni hurumna” (orang itu memakan yang di luar pipinya) , untuk mengejek orang yang karena rakusnya akan makanan enak rela berhutang. Begitulah kata Ibu orang-orang mengejek kawan sekampung mereka yang miskin tetapi selalu membeli ikan gabus (haruting) dari pekan (onan) untuk lauk (lompan). Rupanya masa itu ikan gabus termasuk makanan mahal.
Kembali ke peribahasa di atas “pinarpitu papangan molo di huta ni halak” (cara makan di kampung orang lain haruslah sepertujuh cara makan di kampung sendiri) rupanya orang Batak dahulu sangat tahu menahan diri (mangorom). Sebab itu Ibu sangat pusing dan geleng-geleng kepala jika melihat di pesta Batak di kota ada orang mengambil nasi dan lauk dari meja frasmanan menggunung di piringnya namun dengan seenaknya menyisakannya di piringnya. Tapi untuk orang-orang yang semacam itu pun orang tua Batak jaman dahulu punya peribahasa: Ndang tarorom babi so manganhon halto. Artinya: babi tidak bisa menahan diri agar tak memakan buah aren (yang bergetah dan bikin gatal-gatal itu). ![]()
Kembali ke halaman depan:
Hehehe… dan sekarang umat Katolik juga sudah memasuki masa mangorom dalam menyambut masa pra paskah
Membaca artikel ini, saya jadi teringat satu cerita.
Konon di satu pesta ada org tua makan dgn cara ini, jadi org tua tsb mengambil satu tanggo-tanggo yg mgkn kebanyakan tulangnya (holi-holi), setelah dia mengunyah bbrp kali tidak kunjung halus, secara diam-diam dia mengembalikan lagi tanggo-tanggo tsb ke tengah sapa. Tdk berapa lama ada temannya yg ambil tanggo2 itu, dan mencoba memakannya, karena tidak kunjung halus juga ( merasa tdk bisa di telan) sambil ngomong org tua kedua tsb berkata ” ai karas ma jo jagal on, so boi hil hilon ” umpatnya. Dengan spontan dan merasa tdk bersalah si org tua pertama langsung menyambutnya dgn berkata ” ai ima dah nakkin pe nunga hu suba mangallang i alai so tolap hu be, ala nunga piga piga tanggal iponhu”
Sorry ya amang, ini cuma anekdot biar gk terlalu serius. He…he…he…
Jotjot dope ra nuaengon tabereng di pesta di jakarta-bekasi-depok, so dipungka dope tangiang sipanganon nungnga suda. Holan uram-uram nama natinggal.
artikel yg bagus amang..mudah2n org batak kembali ke fitrahnya sebagai
manusia yg berbudaya (menurut artikel amang). Sebaiknya di dalam jamuan makan (kecil maupun besar), makanlah secukupnya dan mengucap syukurlah utk segala sesuatu yg disediakan…karna seringkali
saya melihat tamu2 yg sudah makan lebih dari cukup tapi masih juga membawa pulang makanan yg disajikan (kalau tamu2 sdh makan semua sih gpp ya)..dan saya juga mendengar, makanan yg dihidangkan secara sederhana (karna itu kemampuan yg punya pesta) masih dikomentari negatif.
Kadangkala yg membuat sy heran jika pergi ke pesta batak adalah budaya membungkus makanan dan teriak2 seakan akan tdk akan kebagian makanan. Walaupun memakai kebaya brokat prancis dan tas yg harganya selangit, tetap aja isi tasnya plastik. Tanpa peduli yg lain sdh makan atau blm, dgn cueknya mengeluarkan plastik dan membungkusnya. Mudah2 dgn tulisan Amang,kita sbg org batak kembali ke ‘fitrahnya’
Saya jadi ingat himbauan dari restoran Jepang, Ambil secukupnya dan habiskan semuanya….. kalau saya lihat di Jakarta ini, biar gimana juga keberadaannya pasti membungkus makanan yan di mejanya, mungkin daging, kue atau lappet….
Ndada holan halak Batak nampunasa ni hata “mangan”. Halak Jawa pe dohot do nampunasa hata i: Mangan ora mangan asal ngumpul (makan nggak makan yang penting ngumpul). Adong dope hata na asing na dipangke 2 suku on ima asu, opat, pitu, dalan, rengit manang rongit.
Piga ma sian hita on na di haetekonna “si Papangan mago”. Unang-unang nuaeng pe tong dope si papangan mago.
Mauliate Amang…Tulisan yang menggelitik…dan unik. Jarang sekali saya dapatkan tulisan-tulisan seperti ini. Banyak dari kita yang menganggap bahwa Budaya Batak itu hanya adat perkawinan, kematian dan lain-lain yg terkait dengan ulos dan mandok hata. Kita tidak pernah menggali atau membicarakan bagian lain dari budaya atau kebiasaan2 seperti ini,
Saya jadi teringat pada Injil saat Tuhan Jesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan cukup dan malah lebih dua belas bakul. Jadi saya berpikir kalau seandainya yang berbondong-bondong itu adalah orang batak semua, apa yang akan terjadi pasti roti dan ikan itu tidak akan cukup.
Daniel Harahap:
Orang Batak jaman dahulu sangat tertib dan sopan. Sebab itu ketidaksopanan bukan sifat asli batak. Tidak tahu mulai kapan terjadi pergeseran.
Ra ndang boi tagabusi rohanta ianggo taringot tu sipanganon halak batak ma na gabe juarana. Sian tabo ni lompa-lompa ni halak batak, sahat tu papangannta. Molo marlumba taringot tu mangan, ra tong do halak batak gumodang. Alai molo boi unang gabe holan angka na roa mz na boi ingoton ni halak na asing taringot tu parmanganon ni halak batak. Ingkon boi do tapatudu nang pe godang dipangan, ingkon boi do halak batak gabe sitiruon taringot tu hal-hal na positif taringot tu parmanganon. Songon dia, pas do i amang? Mauliate.
Mauliate amang artikel on, jala nungnga godang bergeser adat i, sian sasittongna,
andaikata etiket makan orang batak zaman dulu diikuti oleh orang batak masa kini..secara orang batak masa kini harusnya lebih tahu bagaimana bersopan santun baik dalam hal makan, berkata-kata dan bersikap
Bagaimana kalau begini, setiap kita melihat inang – inang ( atau amang amang ?) pakai kebaya dan tas impor seperti di atas masih teriak minta sipanganon, kita tertawain keras – keras biar dia merasa malu. Karena hukum bagi yang melanggar adat adalah rasa malu dan hukuman ini yang sudah kurang jelas penerapannya.
Bagus kali artikelnya amang, mungkin bisa di share kebiasaan2 batak yang laennya, jujur aku banyak ga tau kebiasaan2 batak kaya apa dulunya, kayanya bisa dijadikan semacam inspirasi dan pandangan hidup, gagasan belajar bahasa batak “on line” nya ok banget, walaupun jadi agak susah ngertinya
Molo ahu daba, mulai huboto marroha, adong do prinsiphu taringot tu nam mangan, ima sonduk ma sipanganon i intap ni na tolap panganonmu. Jadi, molo mangan, hampir ndang hea lobi indahan/sipanganon di piringhu. Alai adong do tong prinsip na paduahon (+/-) ima siubeonku termasuk na ‘elastis sempurna’ do. artina molo godang sipanganon, tolaphu do mamangan agia sadia godang sipanganon, alai molo so adong (apalagi masa wereng najolo) so mangan pe tolap do. Alai najolo do i, jala dijolo ni natua2 i. Dung di pangarantoan jotjotan dang mangan nama. horas ma na mangan.
Di Jakarta on godang dope halak hita na so sabar antri laho membuat si panganon mabiar ndang dapotan, jala muse 10 macam jenis ikan ingkon sude do dibuat ibana, hape ndang habis ate, jala ingkon jolo sahat do tu aru-aru asa stop na mangani, molo songonon na mongkus ma ate goarna. Molo di pesta adat batak di Jakarta sai mamillit inganan na kosong ma jolmana asa gumodang dibungkus) masuk plastik kresek, memang nungnga porlu be di pesta adat adong panitia penertiban tas plastik kresek on, manang tabaen ma prasmanan ? alai on susah do ate ala halak hita ndang boi do pe tertib, ala na saling rebutan olo ma use hua ni jagali ate tu baju nabontari. hehe…
Adong do pe cerita molo pesta di Medan, hea do adong pesta ndang ro do pe penganten/suhut sian Gereja nungnga habis sipanganon, jadi ingkon jagaon do pe pintu gedung asa unang masuk jolo angka undangan, mabiar habi makanan i masuk tu plastik kresek. horas
Mulailah dari diri sendiri. Belajarlah dari yang ada. Bersikaplah untuk mengerti dan melakukan apa yang semestinya.
lucu juga,amang!
waktu masih tinggal di tarutung tahun 1980an, aku selalu mengunjungi atau dikunjungi ompung2ku yang waktu itu masih hidup, juga nantulangku (ompung borunya mama) yang sudah sepuh banget.
dari nantulang ini banyak kudengar cerita hidupnya di masa muda dari jaman penjajahan belanda dan jepang. paling sering dia bercerita tentang kebudayaan batak seperti yang diceritakan ibundanya bang DTA disini. rumahnya berbentuk sopo, didalamnya banyak barang2 jaman dahulu. sambil bercerita (dalam bahasa batak) dia selalu mengunyah nampurannya.
di soponya sudah tidak ada sapa, yang ada pinggan dari beling katanya dia sering pakai itu itu makan beramai2 dengan 10 anaknya (!). kadang juga pakai tampa (anduri). nah supaya seru, dia mengajak kami makan di anduri bersama2. lauknya ikan mas arsik dan susu ni horbo. diajari juga cara mamohul. kami dimarahi karena tidak bisa makan dengan rapi pakai tangan apalagi mamohul. darisitulah kami (kakak beradik) menemukan kenikmatan makan pakai tangan, apalagi kalo makan saksang, arsik dan rendang.
banyak sekali larangan2 yang berbau mitos dari nantulang ini. misalnya anak boru gak boleh makan sambil duduk di depan pintu, ntar gak ada jodohnya. padahal maksudnya kali jangan makan diluar dari meja makan.
bersyukur juga aku sempat mendapat cerita2 seperti ini dan sempat merasakan tinggal di tanah batak. nilai2 budaya dan moral itu tertanam dan menjadikan aku pribadi yang seperti sekarang. mudah2an aku bisa menurunkan nilai2 itu kepada anakku.
oh ternyata yg ada itu papangan mago ya amang,
sy pernah dan kirain dengarnya pamangan mago buat yg agak rakus gitu..
Na toho do na hudok on: Au pe olo do marsigulut asa dapot di jolo molo pas marsipanganon prasmanan. Mabiar au ndang dapotan.
Ai hera na lao so dapotan do sude berengon angka dongan i, suang songon i iba. Alai molo pinamanat, ndang holan di pesta ni halak Batak hudapot sisongon i. Hea do hujumpang sisongon i di sopo godang na so biasa dipangke halak hita marpesta. Nirimang-rimangan ma muse, ala ni hamokkushon do hape bonsir ni i. Ndang boi dohonon holan halak hita nampunasa pangalaho sisongon on.
Catatan:
Tung na malo ma Amang DTA on na marhata batak i. Hape par-Medan do nasida jala sikkola di parsikkolaan ni halak sina (hujaha sian pustaha nasida). Hea do au mamolus sian Medan, otik do na margoar Batak na mangantusi hata Batak. Ummalo do marhata Batak ninna, angka halak hita na sorang jala magodang di Jakarta martimbangkan na magodang di Medan.
Bukan cuma cara makannya saja,dalam hal mencari makan pun orang batak sudah tak punya aturan main lagi nampaknya.Begitulah perilaku orang batak di jaman kapitalisme ini.Mengejar modernisasi,takut kali dibilang kampungan.Akibatnya menghalalkan segala cara.Padahal sangat mengenal Tuhan Yesus,tiap minggu ke gereja.Parmalim itu juga yang betul,mereka tertib,santun,dan menghargai lingkungan.
Topik yang sangat manarik.
Uee tahee,angka dongan..!!! Unang gabe sude di dok hamu halak hita i si pamangan mago puang !!, Asi roha tu sada amatta na di jabuan ( ai dang dohot ibana di pesta i)…
Etiket makan yang menyimpang itu tentu erat kaitannya dengan minimnya persediaan pangan/makanan di rumah. Terlalu banyak orang batak di masa lalu ( bisa jadi masa kini juga), yang hanya makan seadanya saja, tidak memenuhi standard kadar gizi karena sulitnya ekonomi. Maka ketika ada event pesta (makan prasmanan) di mamfaatkan jadi ajang pertukaran Gizi. Gabe humalaput ma sude margulut tu sipanganon i..
Di masa kecil,Saya masih sempat menikmati makan bersama di pesta batak di daerah tapanuli selatan. Makan ber 4 dan beralas daun pisang karena kehabisan piring. Sungguh, itu menjadi makanan yang paling nikmat dan tak terlupakan.
Amang DTA termasuk do ra ibaon jotjot mongkus, mauliate di hata nauli nasinurathon ni amang, anggiat gabe sipeopon i di ngoluon, horas…
Ternyata kita harus belajar ulang ya mengenai tata krama makan dari natua-tua…Sekarang serba mongkus memang orang!
Tips cara hidup sehat ( Baca: cara makan yang baik )
Makan lah sebelum lapar,
berhentilah makan sebelum kenyang . .
resep yg cocok untuk kita, segala sesuatu yang baik marilah kita mulai dari diri kita sendiri.
Andul marasing do halak Batak mangharinghothon sipanganon sian houm si leban,
Ai diondolhon do sipanganon di sude gulmot ni parngoluonna, isarana sipanganon pe martudu tudu do, jala olo do sega parsorion ala ni jambar, adong diondolhon marsipanganon na tabo (huroha tung godang do sipanagnan na so pola tabo ale tong ingkon dipangan.
Nang tu nalaho tos pe hosa ni sada natua tua, sai diondolhon dope marsipanaganon solomonna di ngolu na daripada marsipanganon partondion manang marulaon na badia rupani.
Nunga porlu tahe hita on mangganti sipanganon i ndang be nian gabe sada ondolan ni ulaon na marsihalolongan (alana jolo marsipangannon do tahe mula ni ulaonna jala asa boi marhata huhuasi).
Mauliate godang Amang, usul….. tulisan ini harus diprint besar-besar dalam bentuk poster digital lalu ditempel di gedung-gedung pesta pernikahan batak.
Tulisan yang sangat bagus mengingatkan saya tentang table manner atau sapa manner orang Batak yang sesungguhnya. sangat elegan, sederhana, higmat dan penuh makna. di rumahku (Samosir) kami masih punya sapa walaupun tidak pernah dipake lagi sekarang. Waktu kecil sesekali Bapak mengajak kami makan malam pake sapa itu, peraturannya persis seperti yang bapak jabarkan. duduk manguppellet mengelilingi sapa yang bulat terbuat dari kayu berbentuk piala ada pinggangnya tapi atasnya rata dan lebar seperti talam dan tengahnya ada tempat lauk yang dibuat sedikit cekung, nasi ditaruh didepan masing-masing dipinggir sapa lalu makan dimuali dari orang paling tua mengambil lauk lebih dulu dan tidak boleh berebut. selesai makan talam akan diangkat tetapi posisi duduk tetap, disitulah orang tua kami menanyakan apa yang kami kerjakan seharian, mengenai bibirbogas di hauma dan kenyang tidaknya kerbau yang digembalakan abang, di jampalan mana? dimarahi, lalu diberikan nasehat dan beberapa perintah untuk besok harinya. acara makan pun selesai. “marsiajar be hamu! mangapil! unang pittor modom” kata mama sebelum rapat dibubarkan.
Benar-benar jauh dari apa yang dipertontonkan dalam lapo-lapo batak dengan gaya kaki kiri diangkat ke atas kursi (ala Naga Bonar) dan pesta-pesta batak ala film kartun (makanan baru ditaruh diatas meja satu menit hilang, habis, teriak2 minta tambah, semenit lagi hilang lagi.. semua masuk tas… walah…walah….luar biasa rakus dan serakahnya saudaraku ini….)
Molo halak batak marulaon, godang ni sipanganon ido mandok nadenggan ulaon manang pesta ni sada halak. Molo boi do akka natorop mamboan indahan dohot lompan sian ulaon, ba termasuk denggan ma ulaon manang pesta i.
Daniel Harahap:
Halak Batak nuaeng do i. Anggo najolo ndang songon i ninna.
Memang ndang tarsalahon cara parmanaganon ni halak hita, alai porlu ma antong perobahan papangan na sian huta dirobaha alana nungnga di kota hita. Alana hea do pesta adat dihuta nami Lintong ni Huta toho tingki mulai mangan siang, indahan dohot jagal nungnga diusehon/digomak be tu talam, ndung rade sipanganon langsung ma martangiang , dung amen pintor ro ma alogo halisungsung(angin berputar-putar) masuk ma tu arena alaman parmanganan, pintor hatop do ahu tingkii manutup sipanganon na di talami dohot badanku asa unang hona pasir. Anggo angka na toropi dipasombu do paula so diboto jala mangan pe berlanjut do dengan nikmat nang pe naung hona debu/pasir. Jadi molo hupamant ba sehat-sehat do nasida, alai anggo ahu tingkii ndang boi be mangan. Jadi molo di huta jagal na di talami deba dibaen ma tu plastik asa adong ikan bodari, pangalaho na sian hutaon do ra diboan angka halak hita tu pangarantoan.
Daniel Harahap:
Molo ahu mandok balik do Amang: angka parsikola timbo na di kota on do na mangajari angka parhuta-huta mambahen songon i.
Di tahun 90-an ketika Pangeran Charles dan Lady Diana datang berkunjung ke Indonesia ada sebuah acara dimana masing-masing mereka (secara terpisah) akan bersantap (lunch atau dinner, saya lupa) dan bercakap-cakap dengan 10 lelaki dan 10 perempuan Indonesia.
Orang-orang Indonesia itu sebenarnya adalah tokoh dalam berbagai bidang, dan yang sebenarnya juga telah memahami etiket internasional. Tapi khusus untuk peristiwa tersebut–yaitu bersantap sambil bercakap-cakap dengan pewaris tahta kerajaan Britania Raya–mereka masih harus menjalani sebuah “kursus” singkat yang diselenggarakan oleh Kedutaan Inggeris.
Saya jadi terpikir: seandainya kesepuluh perempuan dan lelaki itu adalah orang Batak, dengan cara makan sebagaimana yang dikeluhkan dalam tulisan di atas, berapa lama pula “kursus” yang harus digelar oleh Kedutaan Inggeris?
Tulisan amang kali ini lucu tapi informatif.
Saya juga heran melihat saudara2ku sesama halak kita di pesta pernikahan adat Batak, tidak sabar menunggu berdoa bersama kalau mau makan. Doa baru dimulai banyak yang sudah selesai bersantap. Apa iya kita langsung sakit atau pingsan jika menunggu 15-30 menit lagi untuk berdoa bersama lalu makan. Fakta membuktikan, orang Batak masa kini sudah tidak bisa mangorom pamangan na dan mangorom ‘pangalaho gak mau rugi’ makanya plastik disiapkan dari rumah untuk membungkus makanan dari pesta.
Kalau yang membungkus itu saudara2 kita yang kurang mampu sih saya setuju, apalagi kalau dibungkus setelah semua yang di meja itu sudah selesai makan. Itu malah bagus, jadi tidak menyia-nyiakan makanan. Jadi kata kuncinya tetap mangorom
Menanggapi Pak Mula Harahap:
Dubes Inggris Richard Gozney (200 – 2004) dikenal sebagai orang yang punya segudang teman orang batak. Ktika beliau baru datang saya beruntung diundang oleh beliau ke suatu acara di rumah beliau yang dihadiri sekitar 50an orang semua Batak (eh ada juga deng yang ‘babon’ – Batak Ambon –> saya) termasuk alm kak Annie Bertha Simamora. Semua ‘well behaved’ kok menyantap hidangan yang disediakan…
Yang memalukan justru bukan table mannernya. Sang Dubes beberapa minggu kemudian bercerita kepada saya bahwa beberapa hari setelah acara itu seseorang yang hadir meneleponnya untuk minta beliau menolong “memastikan” agar anak orang tersebut bisa mendapatkan beasiswa Chevening Award yang waktu itu sedang diiklankan kepada publik yang berminat melamar!!! Wah, wah urat malu orang itu mungkin sudah mati!
Molo undangan pesta ni halak hita,molo adong tarlambat naro tu pestai
anung pe adong hubungan tu hula-hulani par pestai,sering do dang dapotan lompan/jagal,holan indahan ni ma diallangi,sai tumabo do mangadopi undangan ni pesta halak jawa,stok selalu ada anung pe tarlambat iba,disambut denggan,ba dang sungkan mangalean isi amplop
agak balga.On fakta na sering diparpestaan ni HITA BATAK.