CERITA IBU:
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Gereja di kampung selalu punya menara. Bahasa Bataknya: palaspalas. Dan di menara ada lonceng yang berfungsi sebagai alat komunikasi bagi jemaat sekaligus penduduk yang tinggal di kampung-kampung sampai berkilometer jauhnya dari gereja. Bahasa Bataknya: giring-giring. Bila sekonyong-konyong tengah malam lonceng gereja berbunyi cepat tak putus-putus, itu artinya terjadi bencana, biasanya kebakaran (hagoran), dan seluruh warga pun langsung heboh mencari tahu permasalahan dan bergegas memberi pertolongan (dan yang menarik biasanya gereja di kampung lain yang mendengarnya tanda bahaya – walau belum tahu persis apa – akan ikut juga membunyikan loncengnya, tanda solidaritas?). Namun bila lonceng gereja tiba-tiba terdengar dipalu satu per satu dengan jeda atau jarak panjang, itu artinya malah kabar duka. Ada anggota jemaat yang meninggal (monding). Bila jumlah ketokannya sedikit berarti yang meninggal anak-anak namun bila jumlahnya banyak orangtualah yang meninggal. Pada malam pergantian tahun lonceng gereja dibunyikan oleh anak-anak muda pukul 12 pertanda tahun baru sudah tiba.
Namun fungsi utama lonceng adalah mengingatkan warga jemaat beribadah. Kesaksian Ibu saya yang sempat hidup di Laguboti Toba ketika pecah perang dunia ke-dua (sekitar tahun awal 1940-an) dan selalu beribadah di gereja HKBP Simaremare Jae maka saban Sabtu pukul enam sore lonceng gereja akan dipalu mengingatkan jemaat bahwa besok adalah hari Minggu atau Hari Tuhan. Hari beribadah dan membebaskan diri dari pekerjaan di sawah. Sebab itu jemaat diundang untuk mempersiapkan diri menghadapi Ibadah Minggu esok. Hebat sekali kata saya dalam hati. Siapa orang kota jaman sekarang yang masih bersiap menghadapi hari Minggu?
Hari Minggu pukul enam pagi lonceng gereja akan berbunyi untuk membangunkan jemaat. Bunyi lonceng itu diberi nama: mandungoi (membangunkan). Pukul delapan pagi lonceng berbunyi lagi untuk menyuruh warga sarapan (mandok mangan). Pukul sembilan lonceng berbunyi lagi untuk memanggil jemaat datang ke gereja (manjou). Wow serius sekali! Kita tahu pada masa itu warga datang ke gereja berjalan kaki dan ada yang memerlukan waktu sejam. Namun yang menarik kira-kira lima belas menit sebelum pukul setengah sebelas lonceng berbunyi lagi sesaat tiga kali dengan setengah suara atau tersangkut (nama bunyi lonceng itu: sallot). Ini adalah tanda agar jemaat bergegas. Para anggota jemaat yang masih berjalan di pematang sawah pun mempercepat langkahnya agar tidak terlambat. Bagi yang sudah hadir dan duduk di halaman gereja ini panggilan untuk masuk. Lantas tepat pukul 10.30 siang lonceng pun berbunyi lagi tanda ibadah minggu dimulai.
Sintua atau Guru Huria pun berdiri di altar. Semua jemaat sudah duduk tertib dan sama-sama mengucapkan:
Doshon hauma na dumenggan ma rohangku di joloM
Sai lopokkon ma na denggan tu bagasan rohangkon
Sai tumpahi hatamI asa marparbue i.
Ibadah Minggu pun dimulai kata Ibu saya.
Mungkin di daerah toba khususnya pedalaman masih bisa ditemukan hal yg seperti itu. Namun di kota, pastinya tidak akan ditemukan lagi. Lonceng gereja pun beberapa sudah berubah fungsinya, tak lagi hanya untuk mengingatkan hari minggu, pergantian tahun, ari hamamate, ada berita duka maupun yg lain. Tetapi sekarang banyak gereja malah menganggap gereja (palas-palas) sebagai suatu hal yg patut dibanggakan (klo bisa dipamerkan, gereja mana yg lebih bagus, cantik & tinggi besar). Menara gereja malah jadi ajang pameran gereja mana yg lebih bagus. Klo untuk memulai ibadah minggu, sudah biasa. Tetapi yg aneh skrg, justru lonceng gereja berbunyi jm 10.00 (klo kebaktian mulai jm 10.00) justru baru dianggap sebagai lonceng peringatan pertama (kayak surat PHK, ada 1,2,3 dst), baru mandi & bersiap di grj. Itupun masih pake ‘acara’ santai2 dulu di dpn gereja, pdhl sudah terlambat.
Mungkin beberapa kebiasaan buruk di atas perlu diingatkan kembali kepada kita, bahwa dulu hnya dengan lonceng gereja jemaat jarang datang terlambat ke gereja. Mengapa sekarang dengan adanya jam / alarm malah makin banyak yg datang terlambat, bangga pula terlambat sampai harus duduk di depan lewati orang yg tidak terlambat, aneh kan?
Buat parhalado, mungkin hal ini perlu lah sekali2 diingatkan kepada jemaat kita, karena hal ini sudah terjadi hampir di setiap gereja. Terimakasih.
Saya masih merasakan itu Amang. Di Siborong-borong HKBP Sabungan selalu membunyikan giring-giring setiap jam enam sore setiap hari. Sehingga sering kali menjadi patokan bagi kita mengenai waktu, misalnya ketika kita marsoban (cari kayu bakar) atau lagi mangula di kobun. “Mansai las do roha malo dung mangkuling giring-giring botari, ai tingkina ma mulak”.
Ah, gabe tarsingot bah di masa haetehon niba, mardalan di gadu-gadu manuhuk soban laho mulak tu jabu, manghunti gadong. Gabe taringot iba di songgak-songgak ni natua-tuai “eh ai nga dilehon hamu babinta mangan? Nga mangkuling giring2!”. “Nga sae na marmeam I eh..nga botari, nga mangkuling giring2″.
Jadi teringat masa kecil, waktu kerja di sawah , ibu saya almarhum selalu berkata : “dang makkuling dope giring-giring”, dikala kita pengen pulang cepat-cepat dari sawah. Wihhh indahnya zaman dulu di saat gereja berfungsi sebagai sentral. Zaman sekarang? sudah ada alarm lah, henponlah, sirene lah… ternyata teknologi tidak selalu memberi dampak positif kalau tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Douunggg…. Doungggg…..Doungggg…..Doungggggg….Dounggggg pengen dengar lagi tapi dimana?
Luar biasa cara gereja menggiring jemaat untuk datang beribadah di hari minggu…
Apakah hal itu masih relevan untuk dilakukan saat ini?
Daniel Harahap:
Berhubung yang tinggal di sekitar gereja tidak lagi hanya warga jemaat tetapi banyak orang beragama lain, tentu tidak relevan mengembalikan fungsi lonceng seperti di kampung jaman dahulu. Namun pertanyaan: apakah alat yang digunakan gereja untuk mempersiapkan warganya agar mempersiapkan diri mulai hari Sabtu, membangunkan pagi har, menyuruh berangkat ke gereja, mengingatkan sesaat lagi gereja masuki? Pake SMS group?
Yang aku ingat dari kata giring-giring adalah:
1. Lagu jadul Edi Silitonga yg berjudul, Andung-andung anak siampudan. Karena aku adalah siampudan dari 7 bersaudara, maka selalu tersentuh juga hati bila mendengar lagu ini. Lagu ini selalu ku putar bila istri menyuruhku mencuci pakaian. Saat kuputar, istriku pun melirik dan melempar senyum.
2. Saya tidak tahu apakah budaya yang sangat baik ini masih lestari hingga sekarang di kampung halaman ku di Laguboti dan sekitarnya. Terakhir kali kesana, yg kuingat adalah bunyi suara azan subuh di masjid mendahului suara lonceng gereja.
3. Cerita bapakku saat kami masih menjadi jemaat HKBP Sudirman Medan. Saat itu-sekitar tahun 1960 an- HKBP Sudirman Medan mendatangkan sebuah lonceng dari Jerman yg bila di bunyikan dari palas-palas akan terdengar sampai Kota Binjai (20-25 Km jauhnya). Sangkin nyaring suaranya, lonceng itu tak jadi di pasang dan hingga kini tak diketahui keberadaannya. Untuk poin 3 ini, saya tidak mengetahui kebenarannya. Mungkin juga ini hanya “kombur” bapak saja.
Daniel Harahap:
Katanya tiga lonceng yang konon bila dibunyikan akan sangat merdu itu dibawa ke Batam. Entahlah.
Saya saksi no 3. Itu bukan kombur kosong tetapi memang kisah nyata. Waktu saya marguru tahun 82 di HKBP Sudirman tiga lonceng itu masih ada di belakang gereja, tidak bisa dinaikkan ke menara karena ditakutkan menara akan runtuh. Rumor mengatakan bila lonceng dibunyikan maka kaca jendela akan pecah.
lonceng untuk menandakan ada yg meninggal pernah saya dengar di gereja katolik pekanbaru yang notabene mayoritas muslim, patut diacungi jempol . Sekarang ada HKBP yg loncengnya kejar2an ama parhalado yg mau masuk, jadi lucu ngeliat st terutama yang perempuan berkebaya lari2 ke langgatan
dan terkadang st atau koster yang menarik lonceng asal2an membunyikannya sehingga terkesan gak khusuk lagi panggilan beribadah tsb. Di jogja, lonceng pukul 6 sore kebanyakan hanya diamalkan oleh gereja katolik. Amang saya ingim bertanya ada gak pedoman dari HKBP berapa kali lonceng sblm ibadah dinyalakan? Karena ada yg hanya 3x sudah cukup dan langsung ibadah, ada yg dinyalakan 3x dulu sbg tanda saat teduh, lalu lonceng bertalu-talu dinyalakan.
FYI, di Jetun Silangit dulu adalah pusat pengembangan pembuatan giring-giring yang dilatih orang-orang jerman, itulah yang mendorng munculnya “panopa” giring-giring di Sitampurung Siborong-borong. Di HKBP Paledang Bogor juga pernah disediakan giring-giring, dan masih tergantung sampai sekarang. Tapi karena salah pasang bunyinya jadi ngak keluar. Akhirnya mati begitu saja.
Aku setuju dengan Amang mengenai konsep “sms group=sms broadcasting”. Dan ada seorang pendeta hkbp yang setiap minggu mengirimkan sms ke saya mengenai kotbah minggu besok. Hal ini perlu dipikirkan. Kuncinya adalah database jemaat.
Mari bermimpi…ada teman yg mau mengwujudkannya?
Amang Panditanami,
Aku lahir dan besar di Kampung-Balige Tahun 1957-1975. Suara Lonceng entah kenapa menurut saya sangat indah untuk di dengar, mungkin ditengah keheningan alam pada waktu itu jauh dari hingar bingar suara-suara kendaraan bermotor yang relatif jarang.
Saya pernah nonton film dengan lokasi di Switzerland, tampaknya kampung saya itu dengan bunyi lonceng seperti itu hampir tidak beda.
Saya yang hidup pada waktu itu dengan budaya yang kental Agriculture yang relatif agak jauh dengan budaya tipu-menipu merkantilis tampaknya sangat syahdu dengan lonceng tersebut yang bersahut-sahutan dari satu Gereja ke Gereja lain berbaur dengan semilirnya angin yang masih relatif bersih dipantulkan oleh ketinggian gunung/pegunungan membawa kita seperti makin dengan Tuhan.
Lonceng masih relevan???, tampaknya di kampung saya tersebut sekarang ini masih relevan dan saya pikir hal tersebut perlu dilestarikan sebagai Local Genuine yang perlu dikemas untuk menarik turis.
Long Live HKBP dan lonceng gerejanya, khususnya di Tanah Batak!!!.
Di gereja HKBP Menteng Jl. Jambu ada giring-giring dan bunyinya cukup nyaring tapi tentu tidak sampai ‘merusak’ seperti giring-giring yang raib dari HKBP Sudirman Medan itu. Lonceng itu dibunyikan hanya pada saat jam ibadah dimulai. pas giring-giring berbunyi para Pendeta dan para majelis yang bertugas berbaris masuk ke ruang ibadah. Pada hari Hamamate (Jumat Agung) giring-giring itu juga dibunyikan satu-satu kali dengan lambat untuk mengingat saat-saat Tuhan Jesus menghembuskan nafas terakhir lalu mati.Benar-benar bisa membuat kita menangis mendengar dan meresapinya!
Giring giring! Inilah satu pekerjaan saya yang rutin setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi, Benar seperti yang diungkapkan Amang Pendeta sabtu sore jam 6, minggu pagi jam 6 dan jam 9. (pernah kami bangun kesiangan giring giring juga kesiangan jadi jam 6.30, jemaat pada heran…. he he he) Bapak saya adalah guru huria di HKBP Kentara Sidikalang. Setelah SMP sampai SMA saya selalu mangattuk giring giring, ketika saya masih kerja di sawah tugas inipun tetap dilakukan, kadang terlambat waktunya lewat dari jam 6 sore. Ketika saya sedang bermain main pada Sabtu sore, teman teman pasti mengingatkan. Suatu kenangan yang sangat indah memang, Alai molo giring giring tu na monding adong do na nengel spesial mangantuk, alana ikkon ditiop do bandul na i, dang boi sian talina, gabe maranak anak annon (mallus). Ketika malam tahun baru, hanya kami sekeluarga yang membunyikan giring giring, kami bergantian mulai dari bapak, mamak, abang dan semua kami yang sudah bisa menjangkau tali nya. Ketika orang orang mulai acara malam tahun baru, kami masih asik mamalu giring giring sampai pegal setengah jam.
Tahun baru kemarin saya pulang ke kampung dan saya sempatkan untuk ikut mamalu giring giring.
Sekarang ditempat saya di kampung Sawah Pondok Gede saya masih bisa mendengar giring giring dari Gereja katolik, yang berbunyi setiap jam 6 pagi dan jam 6 sire. Gabe taringot tu huta bah……
Giring-giring !
Ai gabe mangarukkari “masa lalu” do tulisan ni Amang on. Gabe taringot iba tikki dihuta, mamalu giring-giring tanggal 31 Desember 1983. Molo mamalu giring-giring parsirangan ni taon, dang pola ikkon denggan soarana. Alai “kenangan na istimewa” tikki na mamalu giring-giring i ma “legal” naposo “marisap” dohot minum “vigour” ala diparade huria do tu angka sintua na martugas, laos dilehon mai tu iba.
Molo giring-giring nami tikki dihuta (HKBP Immanuel Ress Rurajulu Sihombing) buatan Jerman do inna. Bagak hian soarana, boi tarbege sampe 6 kilometer. Hape nuaeng (di Medan), vlag ni motor nama dibaen jala diattuk dohot batu. Masihol iba bah…
Umporlu do pangalahonta i si padengganon daripada garejanta i tapauliuli (kita lengkapi) dohot giring-giring. Ai molo nga denggan pangalahonta i, boi do i gabe giring-giring tu na di humaliangta (masyarakat sekitar kita).
Wacana yang sangat menyentuh…benar, saya kita semua yang pernah tinggal dan merasakan tinggal di kampung-kampungpasti rindu mendengar suara giring-giring. Sudah seharusnya tradisi itu dijaga dan dipertahankan.
jadi ingat lonceng gereja HKBP Lumban Rihit. kalu bunyi pas hari sabtu sore, oppung pasti ngomong, “marsogot hita tu gareja”…. dan adekku yang kecil nyletuk, “oppung dah tau belum lagu apa yg dinyanyiin parende ina besok?” hehehehehe
Daniel Harahap:
Manungkun Ito: didia do tahe Lumban Rihit (kampung pasir) on? Boi do berengon sian Google Map?
Cerita tentang giring-giring, jadi teringat pada saat sikkola minggu dulu di HKBP Sipinggol-pinggol, Siantar, saya sering disuruh untuk membunyikan giring-giring, sehabis acara sikkola minggu, saya lalu naik ke loteng gereja untuk menarik tali giring-giring, dengan tarikan yang teratur dan tidak terburu-buru, untuk memanggil jemaat datang beribadah ke gereja. Bangga sekali rasanya dipercaya Gereja untuk membunyikan giring-giring.
Menyentuh sekali… smangat kebersamaannya harus dicontoh itu, toleransi kepada “huta” yang kena musibah, dan saling mengingatkan untuk beribadah… Great article, Horas
“Giring-giring”/Lonceng gereja sangat khas bunyinya. Kalau dibunyikan, siapapun yang pernah mendengarnya pasti tahu bahwa itu bunyi lonceng gereja, walaupun dia tidak melihat gerejanya. Menurut saya, fungsi lonceng gereja adalah salah satu hal yang harus dilestarikan oleh semua gereja. Dimana ada gereja, disitu ada lonceng gereja.
Kalau di perkotaan, mungkin ini bisa kita lihat sebagai masalah dengan dalih tidak semua jemaat berada di sekitar gereja. Itu boleh saja pendapat sebahagian orang. Namun kalau kita katakan bahwa lonceng gereja itu adalah bahagian dari gereja itu sendiri, sebagaimana azan adalah bahagian dari masjid/mushola, inilah yang perlu kita pahami dan jelaskan kepada semua pihak.
Saya menghimbau kepada semua orang atau badan yang mempunyai akses atau wewenang kepada gereja dimanapun, untuk mengusahakan membunyikan lonceng gerejanya, minimal untuk:
a. Pukul 6 pagi dan pukul 6 sore.
b. Pada hari minggu, 5 menit sebelum setiap acara kebaktian dimulai
untuk memanggil orang masuk dan mempersiapkan diri.
c. Setiap ada warga gerejanya yang meninggal.
d. Setiap ada bencana yang perlu diketahui oleh warga sekitarnya,
seperti kebakaran (ha-gorgor-an) dll.
Sekarang ini ditempat tinggal saya, setiap pukul 6 sore (18.00 WIBB) sayup-sayup terdengar bunyi lonceng gereja. Yaaahhhh……damainya hati ini mendengarnya, walau lonceng itu bukan dari gereja tempat kami beribadah setiap minggunya. Lonceng itu berbunyi dari sebuah gereja Katholik yang sebahagian besar jemaatnya tidak tinggal di sekitar itu. Bagaimana, maukah kita bersama-sama mengupayakan? Amiiinnnn.
Hampir sarupa do disude luat molo pangkuling ni giring-giring dohot maksudna pabotohon (pengumuman berupa sandi),
alai di huta nami adong do muse paihut konsep ni giring-giring on, giring-giring mardalan-dalan, hira2 jam 7-8 borngin diantuki ina-ina cangkul sian julu sahat tu hilir ni huta i, paboahon na mago ugasanna (sadeba mamurai), untung ma tahe ndang adong be i saonari, ndang apala binoto didia par so na.
Suara Giring-giring akan semakin syahdu ketika di dentangkan di malam penghujung tahun, di gereja Hkbp Di kampung kami biasa di pukul selama 1 jam ( dari jam 00.00-01.00 wib). Bahkan saking lamanya.sang pemukul lonceng 2-3 orang bergantian.
Suara Giring-giring yang di palu satu-persatu ketika ada anggota jemaat meninggal dunia, sering kami sebut dengan ; “Mallus Giring-giring”.
@ Lumban Rihit ; seingat saya berada tak jauh dari Seminarium di Sipoholon (semoga kampung pasir itu belum pindah ya)
aku sempat merasakan lonceng gereja hari sabtu sore dan hari minggu pagi di laguboti setiap kali berlibur kesana waktu masih kecil. lonceng itu milik HKBP yang terletak dibelakang kompleks bibelvrow.
setiap natal, ada kebiasaan anak2 sekolah minggu dalam bentuk group bernyanyi dari rumah ke rumah. nanti si tuan rumah akan memberikan mereka balasan berupa permen, makanan atau uang.
setiap paskah, orang2 berkumpul di kuburan. pagi2 buta semua menggelar kebaktian di depan kuburan saudara masing2. sambil menikmati ombus2 dan tes manis hangat.
soal sms group=sms broadcasting untuk menghubungi jemaat, beberapa gereja karismatik sudah melakukannya. bahkan jemaat boleh register untuk mendapat ayat alkitab dan firman singkat dengan tarif premium
huta lumban rihit on, molo sian arah kota atau hotel diaji menuju sipoholon, huta lumban rihit on do huta na parjolo nijumpangan. di bariba aek sigeaon do huta on, jadi ingkon manaripari aek do iba tu hutaon.
@ ito Rudi : dao dope ito huta lumban rihit on sian semanarium sipoholon, sarupa ma daona molo sian silangkitang
Jadi ingat masa kecil di kampung…teong…tiong…teong…tiong…Tapi ada cerita neh sekitar akhir ’90 saat ada kebakaran rumah (hagoran) di kampung saya kira2 jam sebelas malam, abang saya lari ke gereja dan langsung membunyikan lonceng tanpa henti. Yang menarik adalah tentang Pak Pendeta keluar dari rumahnya disamping gereja dan marah2 kenapa lonceng dibunyikan tengah malam. Pendetanya mungkin belum tahu fungsi lonceng dikampung, selain untuk ibadah keberadaan lonceng sangat dibutuhkan untuk keadaan darurat.
Manungkun majo tu Bpk Pdt . adong do dari sisi aturan
mengenai jumlah ni pukulan ni Giring -giring on
contoh : molo pas kebaktian bunyi panjang
molo namonding di pukul putus-putus piga hali dll.
mauliate ma parjolo di hamu.
horas ma
Daniel Harahap:
Burjungku Amang, ndang apala tangkas huboto taringot tu ruhut giring-giring. Di aturan na tarsurat hira na so adong do.
Jadi teringat semasa masih tinggal di Medan, keluargaku berjemaat di HKBP Sidorame…lonceng gereja bunyi setiap pagi jam 06.00, ada 5 menit lamanya, biasanya kebaktian pagi sudah selesai yang selalu dimulai jam 05.00, 50 menit kurang lebih….orang yang mau berolahraga pagi atau mau ke pasar untuk jualan maupun belanja, banyak yang mampir untuk beribadah…bila malam tahun baru tiba, semua keluarga di lingkungan rumahku yang lokasinya kurang lebih 2 km dari gereja, tetap merasa lebih “sah” memulai kebaktian keluarga dengan mendengar lonceng gereja meskipun siaran di televisi sudah menyatakan tahun baru….pernah juga aku sakit dan diopname di RS. Pirngadi, merasa rindu mendengar lonceng gereja HKBP Sidorame yang jaraknya mungkin ada 2 km juga dari rumah sakit. Ternyata lonceng gereja bisa kudengar juga, hatiku merasa tentram dan diberanikan untuk mau dioperasi..sungguh kenangan tentang lonceng gereja yang membuat betah menjadi jemaat HKBP sampai sekarang, meskipun di Pulau Jawa, belum pernah aku mendengar suara lonceng…selayaknyalah HKBP di jabodetabek ini para sintuanya berani membunyikan lonceng yang indah…kalo tentang masalah lingkungan, mengapa tidak belajar dari gereja Katolik?
jadi ingat,dulu waktu bulan Pertama Bapak Saya jadi Guru ni Huria HKBP Kentara sidikalang,pnuh dngan rasa ingin tau…saya naik ke palaspalas (menara tempat giring-giring),pngen tau seperti apa dan terbuat dari apa giring-giring tsbt..
Dengan perjuangan memanjat sekuat tenaga,melawan rasa takut,karna memang saya takut dengan ketinggian,akhirnya saya sampai juga.
eh….. belum sempat meraih(sentuh) giring-giring tsb,.Hona doit Dal-dal(disengat binatang sejenis tawon)… hampir dah saya ter jatuh..
dengan menahan rasa sakit,saya turun dengan sangat hati2.
giring-giring ga sempat hu jama,eh..bibir mar buntul…