Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Paska demonstrasi anarkis yang memakan korban ketua DPRD Sumut, saya bisa menduga Propinsi Tapanuli tidak akan jadi diwujudkan. Bahasa halusnya: ditunda atau diambangkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan lamanya. Sebagai seorang yang sejak awal tidak setuju dengan pembentukan propinsi Tapanuli seharusnya saya senang. Namun kenyataannya tidak. Saya malah sangat gundah dan gelisah. Dan merasa kalah. Aneh. Apa yang terjadi dengan saya? Tidak ada apa-apa. Saya cukup sehat. Namun saya merasa kayaknya ada masalah sangat serius yang sedang terjadi di dalam kita, khususnya kebatakan dan keindonesiaan kita.
Saya ingin mencari waktu lebih banyak untuk merenung dan merumuskan apa yang membuat saya sangat gundah hari-hari terakhir ini. Mungkin saya harus membaca kembali buku dan literatur. Atau mencari orang-orang yang bisa saya ajak berdiskusi. Atau mencoret-coretkan peta hati dan pikiran saya di atas kertas atau layar monitor, melakukan proses katarsis, dan membiarkan permenungan mengalami proses pematangan. Entahlah. Biarlah saya menuliskan kegelisahan atau kerinduan atau apalah namanya yang ada di hati dan pikiran saya saat ini.
Kemajemukan dan permusuhan antar puak. Batak sejak awal majemuk namun parahnya tidak mau belajar bekerjasama dan bersatu. Kita (mungkin orang di luar Batak tidak) tahu bahwa Batak terdiri dari banyak sub-etnis, yaitu: Toba, Samosir, Silindung, Humbang, Angkola, Sibolga, Mandailing, Pakantan, Pakkat, Dairi, Pakpak, Simalungun dan Karo. Ternyata sesudah lebih 60 tahun Indonesia merdeka dan 10 tahun reformasi, sub-sub etnis Batak itu bukannya makin memudar dan melemah melainkan justru semakin mengeras dan mengkristal. Bukannya kian saling memahami dan kerjasama, tetapi malah kian saling mencurigai dan menegasi. Orang-orang Batak Toba semakin tidak suka kepada orang Mandailing (juga Angkola?), begitu juga sebaliknya. Apalagi agama yang dianut kedua puak ini berbeda. Mandailing di Selatan menganut Islam sementara Toba di Utara beragama Kristen. Komplit sudah alasan untuk bermusuhan atau berpisah setengah baik-baik.
Namun persoalan bukan hanya itu. Di bawah permukaan juga sudah lama ada ketegangan antara orang Batak Toba dengan Batak Simalungun dan Karo yang sungguh-sungguh mirip api dalam sekam. Beberapa tahun terakhir ini sub etnis Simalungun tampak sangat gencar ingin menunjukkan identitas dirinya yang khas dan berbeda dari Batak Toba. Orang-orang Karo sudah lebih dulu melakukannya dan sebagian malah sudah enggan menyebut dirinya sebagai Batak Karo namun cukup Karo saja. Sementara itu di dekat perbatasan Aceh, ada orang-orang Batak Pakpak (asal ketua DPRDA Azis Angkat yang tewas itu) yang juga ingin bangkit dan menunjukkan identitasnya.
Terus terang, saya mendapat kesan bahwa masalah kemajemukan dan ketegangan antar sub-etnis Batak ini, sengaja atau tak sengaja, diabaikan atau dianggap tidak ada dalam wacana pembentukan propinsi baru ini. Saya sama sekali tidak menangkap adanya usaha membuka dialog untuk mengeratkan puak-puak Batak yang terpecah sejak jaman purba itu. Yang ada justru ketakutan membicarakannya secara terbuka dan menganggapnya seolah-olah tidak ada. Saya garis bawahi: banyak orang takut membicarakan bahwa Batak sebenarnya sangat beragam dan tegang satu sama lain. Salah satu buktinya: lama sekali ide propinsi ini berkembang tanpa kejelasan dimana ibukotanya. Mengapa? Karena penentuan lokasi ibukota dianggap sangat sensitif dan mudah sekali membuat “pekong” (pecah kongsi). Namun akibat ketidakberanian mengakui perbedaan bara dalam sekam itu tetap ada. Hasilnya apa? Alih-alih membentuk satu propinsi baru maka yang muncul justru ide membentuk tiga atau malah empat-lima propinsi baru: Tapanuli Barat, Tapanuli (Utara) dan Sumatera Tenggara (Mandailing Natal), dan Sumatera Timur (?) serta Nias (?).
Saya tidak bermimpi dalam waktu sekejap orang-orang Batak yang sejak jaman Belanda (atau bahkan sebelumnya) terpecah-belah itu bisa bersatu, apalagi dengan melenyapkan semua keragaman dan kepentingan masing-masing. Pesatuan demi kesatuan itu jargon Orde Baru. Di era reformasi kita telah kembali ke semangat awal Bhineka Tunggal Ika: keragaman dalam persatuan! Namun yang saya harapkan kaum intelektual (semoga masih ada dan cukup banyak) puak-puak Batak yang beragam itu mau duduk bersama dan membicarakan masa depan bersama kebatakan-indonesia kita. Apakah yang sesungguhnya didambakan oleh orang-orang Toba? Apakah kerinduan tersembunyi dari orang Simalungun? Apakah yang dicita-citakan oleh orang Pakpak, Angkola dan Karo? Apa pula mimpi orang Mandailing? Apakah kesamaan kita dan apa pula perbedaan kita? Apa masalah bersama kita dan siapa musuh bersama kita?
Negara-negara Eropah saja harus bersatu dan mengalahkan gengsi sejarah mereka yang sangat panjang! Negara-negara Arab tidak pernah bisa menekan Israel karena tetap bertujuh dan bukan bersatu. Nenek moyang kita mengatakan: bersatu kita mungkin teguh, bercerai kita sudah pasti runtuh! Saya berani bertaruh, tanpa keberanian dan kemauan duduk bersama, membicarakan masalah, mengakui perbedaan dan terutama masa depan bersama, orang Batak (apakah itu Toba, Simalungun, Angkola, Pakpak atau Karo, atau Mandailing) hanya akan menuai kekalahan. Dan kekalahan yang sangat menyakitkan. Juga memalukan.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Pesan moral: Jangan mau menang sendiri. Jangan menyangkal saudara sendiri. Jangan hanya bicara kepada diri sendiri.
(bersambung)
Share on Facebook
amang DTA, apakah saat ini Batak memang sangat sulit untuk bersatu?. saya masih ingat di awal2 saya datang ke Bandung, mau masuk SMA, saat itu saya merasa sangat beruntung menjadi orang Batak, karena kemanapun saya pergi (di Bandung, Jakarta), saya merasa aman karena hampir di semua tempat ada orang Batak (khususnya terminal2 bus, pasar senen, cililitan
) dan saat itu tidak saya tidak pernah ditanya oleh mereka, apakah saya dari Humbang atau Sipirok, atau apakah saya Kristen atau Islam, saat itu kata kuncinya cukup “BATAK”, semua langsung merasa seperti saudara dan saling membantu, baik itu oleh Batak yang Kristen maupun Batak yang muslim (saya sering naik angkot gratis karena saya orang batak, dan sering diantar ke tempat tujuan walaupun rutenya berbeda dengan trayek si angkot karena saya tidak tau tempat itu).
Menurut saya, keadaan itu dapat terjadi karena dahulu perasaan “senasib & sepenanggungan” merantau di negeri orang masih sangat kental sehingga sesama Batak pasti saling bantu, namun sekarang seiring dengan kemajuan zaman, perasaan itu sudah hilang dan semua orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri tanpa perduli dengan orang lain, bahkan yang timbul adalah ego yang berlebihan, mungkin ini yang membuat keadaan menjadi “Batak mau menang sendiri”, karena semua merasa hebat.
Maaf kalau saya salah, kalau boleh usul, mari kita perbanyak berdoa untuk kita bangso batak, agar semakin banyak orang batak yang bertobat, dalam arti menjadi orang Kristen yang sungguh2 BUKAN hanya di KTP
hahaha.. ini saya kutip dari tulisan amang sendiri: Batak bercatur
“Sesudah saya amat-amati agaknya permainan catur ini mungkin memang bentuk permainan yang paling cocok dengan darah dan jiwa batak yang suka berkelahi (marbada) atau berperang (marmusu) sekaligus suka mempertontonkan kehebatannya dan dipuji-puji (sipanggaron). Ya, kita dan semua orang sudah lama tahu orang batak (saya batak juga lho) suka sekali berkonflik dengan orang lain maupun sesama sendiri, di mana saja tentang masalah apa saja. Permainan catur yang membagi pemain dalam dua kubu yang saling menyerang dan saling bertahan, persis seperti perang, karena itu wajar saja sangat cocok dengan jiwa batak yang hobi marbadai (berkelahi) itu.”
Pesan moral: Jadi karena sudah ada benih2 tsb di DNA orang batak, baiklah kita dapat mengolah dan menyalurkan untuk yang positif, seperti main catur itulah.
setuju sich dengan B’ Andy Harahap. Aku sering berangan2 “Akan sangat berguna sekali jika orang batak bersatu, akan HEBAT sekali jika aura positif aja yg kita tonjolkan”. Tapi saya sering juga berfikir gimana ya memulainya ?
Itulah realitas amang Pdt, belakangan ini semangat subtribalisme semakin kuat di Sumatera Utara, terutama di jajaran elit pemprov dan komposisi jajaran pimpinan di DPRDSU, kepentingan subetnik sering dikedepankan dalam proses pengambilan keputusan, bukan kualitas. Sangat disayangkan memang, pilosofi Dalihan Natolu, terutama “manat mardongan tubu” (asumsi sesama sub-etnik dianggap sebagai Saudara segaris keturunan) sudah semakin meranggas dari cara berpikir dan cara mengambil keputusan di Sumatera Utara. Terutama dalam hal agama, padahal setahu saya, orang Batak dididik untuk tetap egaliter, sehingga menerima segala perbedaan termasuk dalam hal agama, namun tetap saling menghargai. Namun yang saya amati belakangan ini, bagi sebagian kelompok elite, agama di Sumatera Utara bukan lagi sebagai sarana untuk saling menghargai tetapi justru sebagai alat pembenaran untuk tidak menghargai seseorang. Untuk Sum Ut, sekalipun seseorang memiliki kompetensi yang cukup memadai untuk memangku suatu jabatan, tapi kalau dia tidak sealiran (sub-etnik, agama dan sogokan (?) ) maka akan sulit seseorang menjadi pejabat di sana. (Ini pengamatan saya tahun 1985 sd 1992; mudah-mudahan sekarang sudah tidak seperti itu). Sebenarnya, jika perilaku tersebut hanya berlaku di sekelompok elit saja, maka kebersamaan Batak masih relatif tidak seprihatin saat ini, kelihatannya di tingkat “grass-root”pun perebutan elit tersebut sudah cukup mengakar.
Sehingga keprihatinan kita terhadap kondisi tidak bersatunya Batak harus diawali dengan dialog secara terbuka dan tulus, apa sih yang diinginkan? Untuk sementara, kita lepaskan dulu kepentingan “sempit” seperti agama dan sub etnik, untuk kepentingan yang lebih besar! Tapi masih mungkinkah? Mari kita jawab dalam hati dan tindakan kita.
Daniel Harahap:
Kalau orang-orang Batak (Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Pakpak, Karo dll) tidak mau saling mengakui dan saling menerima (namun malah saling ingin menegasi dan memarjinalkan) siap-siaplah kita menuai bencana yang lebih besar.
Membaca tulisan amang diatas membuat saya mengajukan pertanyaan kepada amang sebagai seorang pendeta: Pernahkah para pemimpin gereja dari berbagai aliran (denominasi) mulai dari Katolik hingga Karismatik duduk bersama untuk membahas penyatuan kembali gereja-gereja yang sudah sekian lama tercabik-cabik? Karena secara global ada kemiripan permasalahan antar sub-etnik batak dengan permasalahan interdenominasi gereja.
Karena jujur saja bahwa semua umat Kristen yang ada di dunia ini telah melakukan satu kesalahan yang cukup fatal, yakni terpecah-pecah dalam berbagai aliran (denominasi) sementara Tuhan Yesus dalam doaNya menginginkan agar kita ini tetap bersatu. Masak orang Kristen sedunia kalah dengan orang Eropa yang katanya saat ini sudah tidak lagi Kristen semuanya alias sekuler.
Batak sulit bersatu?
Menarik untuk menyimak tulisan Usman Pelly di bukunya “strategi dan adaptasi budaya Mandailing dan Minangkabau”. Disitu ditulis disetiap iindividu batak ada konsep “sahala harajoan”. jadi setiap tindak tanduk orang Batak selalu untuk memiliki kerajaan2 pribadi (sahala harajaon). dimulai dari dari sisi mikro :ingin memiliki tanah sendiri,keluarga, dan penghasilan sendiri dan sisi makro: ingin menonjolkan punguannya, keluarga besarnya,hutanya dsb.
Bisa dilihat (kususnya TOBA) sahala harajaon ini kental sekali, setiap marga pingin punya gereja sendiri, tempat berkubur sendiri, sekolah sendiri dan pasar sendiri…jadi memang unik orang Batak ini, sampai tulang saya pernah berkata partai susah masuk ke tanah batak karena Marga itu nomor satu (clan nomor sada),gereja nomor dua, jadi partai itu nomor sepuluh.
Untuk “tingkat nasional Batak TOBA”, terlihat masing2 menerjemahkan sendiri sahala harajaon tersebut, yang SILINDUNG bersaing keras dengan TOBA (maksudnya balige,sekitarnya) ;di samosir marga PARNA bersaing dengan yang LONTUNG dst…dst…intinya semua ingin menonjolkan marganya, bisa dilihat kalo satu orang Toba duduk jadi bupati ato camat, pegawai2nya ga jauh2 dari marga orang tersebut
Untuk tingkat nasional Batak raya (maksudnya seluruh sub-etnis) tradisi sahala harajaon pun diterjemahkan untuk membedakan diri dari TOBA, dan pake identitas2 agama pula, yg mandailing merekaysa dirinya turunan iskandar zulkarnain dan turunan bugis agar tampak jelas perbedaan dengan sodara2nya yg lain…jadi sahala harajaonlah yang membuat sub-etnis batak sulit bersatu, soalnya dari pribadinya sudah ada keinginan menonjolkan dirinya masing-masing
Jadi buat ku harus dimulai dari mengikis sahala harajon masing2 individu Batak, kalo mo bersatu hehehehe sedikit saran.
Daniel Harahap:
Saya setuju. Politik etnis semacam itulah yang sedang dikembangkan dengan pemekaran-pemekaran kecamatan, kabupaten dan propinsi. Sebab itulah saya menganggapnya sangat berbahaya.
Ada satu pelajaran penting yg saya ambil ketika mengunjungi perancis beberapa bulan lalu. Waktu itu ada pertanyaan di benak saya: kenapa perancis mau bersatu hampir dalam semua hal dengan negara2 seperti siprus, turki dan negara eropa kecil lainnya?
Hingga ketika saya mengunjungi fakultas hukum univ. paris 2 saya menemukan jawabannya. di depan gedung itu tertulis sebuah kata-kata yg membangun perancis sejak jaman revolusi. Liberte, Freternite, Egalite.
Saya sadar, semaju dan sebesar apapun perancis saat ini dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa prinsip “egalite” adalah prinsip yg menjadi tiang penyangga negara tersebut sehingga mereka bisa melihat orang dari negara lain sebagai teman yg setara bukan bawahan/ atasan.
Kapan kita orang batak bisa melihat orang lain dari sudut pandang yg sama?
ya.sudah dua kali hasil dari saling mau menonjolkan diri akhirnya terbuang, pertama waktu PILKADA GUBSU, kita kalah karena masing masing mau maju, sekarang dengan kematian Ketua DPR akan lebih banyak lagi nanti orang Batak Kristen yang terbuang melalui di penjara,di pecat, termasuk pernyataan dari Pimpinan Kopertis akan menutup Universitas sisingamangaraja XII yang di medan dan di siborong-borong.. hati-hati jangan jadi kesempatan orang lain untuk menyerang kita..waspadalah dan bersatulah..
Daniel Harahap:
Ada pameo Batak yang dilupakan:
sada so sada, dua so dua, sude malua.
Artinya satu tak mau, dua tak mau, akhirnya semua diambil orang.
Ada lagi pameo primitif politik bunuh diri batak:
ndang di ho, ndang di ahu tagonan disintak begu.
Artinya: bukan untukmu, bukan buntukku juga, lebih baik diambil hantu.
Oh kacian.
Begitulah faktanya tentang kita, sebagai orang Batak.
Hampir semua orang Batak mengetahui bahwa akar dari semua permasalah itu (ego antar etnis) karena tidak ada persatuan dan tidak ada semangat melupakan.
Mari kita lupakan semua perbedaan itu, bersatulah kalau memang ingin maju.
Jangan cari siapa yang salah, karena tidak akan ada jawabannya…tetapi kita selesaikan persoalan yang ada.
Dari jaman kemerdekaan sampai tahun 1970-an puak Batak yang jumlahnya hanya menempati urutan ketiga atau keempat dari segi kuantitas suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki ‘nama’ dan karakter yang cukup baik, dan saat itu perbedaan etnis demikian ngambang sehingga tidak kelihatan dipermukaan. Tetapi sekarang kok semua ingin menjadi yang terdahulu dan terdepan???
Bersatulah.
imho amang,
adalah sesuatu yang baik, kalo orang simalungun bangga dengan ke-simalungun-annya…asal dilandasi dengan niat yang baik, bukan karna sekedar alasan cemburu yang tidak jelas dengan puak lain, atau sentimentil api dalam sekam yang amang sebutkan di atas..
tentang api dalam sekam itulah amang, cemana? apa perlu kita buat rekonsiliasi puak dulu?:)
Mau orang Batak bersatu? Gampang itu. Saya usul: Panggil aja Ponari, dukun cilik karena kena petir, dari Jombang untuk buka praktek di daerah Tapanuli. Niscaya orang batak berkumpul puluhan ribu orang per hari dan merasa senasib, yaitu sama-sama “sakit”. Hihihihi…
Saya sangat yakin SELURUH PUTRA-PUTRI SUMATAERA UTARA (khususnya orang batak) tak ada yang menginginkan perpecahan kongsi ataupun perpecahan kekerabatan. Semua kita CINTA DAMAI. Hanya saja penduduk Sumatera Utara dalam kondisi kemiskinan hidup yang stagnan dari tahun ke tahun telah berada dalam kondisi labil akan janji palsu PEMERATAAN PEMBANGUNAN, maka sangat wajar jika banyak tergoda oleh hembusan angin surga dari ELIT_ELIT POLITIK TAPANULI dengan satu ide PEMEKARAN DAERAH ( MEMBENTUK PROTAP)
Sebaiknya jangan lah memberi komentar yang bertujuan mempertajam masalah dengan menyebut ide PROTAP ini adalah PERPECAHAN. Lihat saja, sudah banyak daerah di negeri ini yang memekarkan diri dari propinsi induknya, apa kita akan menyebutnya perpecahan juga..!! PEMEKARAN PROTAP sangat berbeda dgn GERAKAN SAPARATIS SUKU/AGAMA. Secara motto BHINEKA TUNGGAL IKA itu tetap berlaku, PROTAP TETAP BAGIAN DARI INDONESIA RAYA. Warga Protap adalah saudara warga ACEH,PADANG hingga PAPUA.
Dalam Wilayah memang BATAK TAK HARUS SATU , tetapi dalam KEKERABATAN dan KEWARGA NEGARAAN tak Akan TERPISAHKAN.
Akhirnya SELURUH Provinsi di Indonesia ini bukanlah milik Kesukuan tertentu, tetapi Menjadi hak setiap warga INDONESIA. Di wilayah PROTAP bukan di huni oleh suku batak saja, tapi ada orang aceh,padang dan tionghoa. MEREKA SEMUA SATU KOQ, layakknya KITA satu jua Di negeri BETAWI ini.
Daniel Harahap:
Beda pendapat bagus-bagus saja. Tapi tolong kurangi huruf kapitalnya Ampara. Penggunaan huruf kapital yang terlalu banyak di dunia maya bisa dianggap kurang sopan, ngotot dan arogan.
Baiklah..baiklah… semua sudah jelas kalau di mata saya , daripada terlalu banyak diskusi, saya pikir pengunjung rumametmet punya potensi untuk menjawab ini semua. Hayooo kita lakukan sesuatu berupa simposium mini yang sederhana dengan latar belakang keahlian kita masing-masing berkumpul di dunia nyata kalau bisa di HKBP Serpong dipimpin Pdt.DTA lalu kita buat rekomendasi untuk ini semua dan masyarakat tapanuli terhindar dari objek tapi diposisikan sebagai subjek dalam proses pembangunan dan terhindar dari jebakan politik para capres yang mau maju tahun ini.
Stuju, usul : gimana kalo mulai saat ini pameonya diganti aja jadi to be or not to be
Batak…
Membicarakan batak memang selalu menarik sebab mungkin semua yang tergabung di maling list ini semua orang batak.
menurut saya : Sebuah konsep kewilayahan berdasarkan sub etnis, etnis, agama dan ciri homogenitas lainnya hanya akan memunculkan pertikaian yang tidak akan selesai. Beberapa contoh dahulu di daerah kita adalah banyaknya pertikaian antar kampung yang berbeda marga. di maluku pertikaian anatar kampung berbeda agama dan jika kita melihat sejarah adalah tentang Yugoslavia.
dengan kejadian tersebut hendaknya kita yang bisa melihat secara jernih peristiwa demo di medan, apakah murni pembentukan wilayah ( provinsi ) akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat di daerah tersebut atau sebaliknya.
semoga bermanfaat bagi kita…..
Mauliate
Setuju dengan bapak Agus Kartika Panggabean. Seharusnya ini juga menjadi agenda Gereja. Alih2 “orang dunia” mau duduk bersama, bagaimana dengan “orang gereja”??
Kenapa pak pendeta merasa gelisah….?
Seharusnya senang karena Pembentukan Protap ditunda.
Saya mencoba menjawab : “ya karena mudar itu masih mangkuling”
Bagaimanapun dalam keadaan sekarang ini yang seolah-olah memecah belah orang-orang Batak, keadaan tercipta seolah-olah menyuruh sebagian dari saudara-saudara kita Batak menghadang sebagian lagi saudaranya. Seperti perang saudara. Bagaimana mungkin kita bisa tenang dalam keadaan yang demikian?
Belum lagi pemberitaan di media massa yang menyudutkan orang Batak yang mendukung Protap. Batak Mandailing pun saya rasa tidak setuju kalau pemberitaan di media massa yang terlalu menyudutkan Batak Toba. Biar bagaimanapun kita masih sama-sama Batak. Tentang Bapak Abdul Azis Angkat, saya mau bertanya pada kita semua, tanpa mengurangi rasa hormat, adakah yang tahu bahwa kemungkinan besar bapak mantan ketua DPRD tersebut mendukung Protap secara pribadi? kita tak pernah bisa tahu jawabannya…
Supaya Indonesia tidak terpecah belah oleh perang saudara Soekarno pernah mengusulkan perkawinan antar etnis sebanyak-banyaknya dalam hal jumlah dan keragaman. Sepengetahuan saya banyak orang batak mencibir dan tersinggung karenanya.Saya setuju gagasan ini diterapkan di antara sub etnis batak,supaya anak-anak batak menjadi beragam darah dan gennya dan tidak lagi menjadi fanatik terhadap sesamanya.
Mangikuti berita TV hari ini,hati ini miris krn semakin banyak saja tersangkanya diantaranya masasiswa, saya membayangkan para ortunya anak2 itu yg menguliahkan anak2nya pastilah dgn banyak impian agar nasib anaknya lebih baik dari para ortunya walaupun dgn jungkir balik menyediakan dananya, andaikan nantinya anak2 itu masuk penjara puaskah anda2 ygada dibelakang kejadian itu? alangkah berdosanya anda semua.
Amang tolong jawab dong pertanyaan saya tentang learning calon sintua ,mauliate.
Amang DTA ini ngomong Batak, kan ya? kenapa ada yg bawa-bawa gereja? hihihi…ada-ada aja.
aku masih tetap sama pendapatnya dengan status fesbuk Amang kemarin, kalau Orang Batak bisa melepas stigma dia sebagai anak dohot boru ni Raja, saat itulah kemajuan Batak dimulai. Tapi kalo masih ada anggapan seperti itu, ya tetap lupa diri lah.
Ah, tapi nanti awak dibilang sok pintar lagi. Trus disuruh ngurusin keluarga aja dulu baru ngurus Batak…wahahahahahaha
Amang,
Ada satu hal yang menurut saya membuat gerah. BATAK tidak sama dengan KRISTEN. Kalau BATAK mau bersatu, mau duduk satu meja dan membuat rencana bersama, tolonglah agama jangan dibawa-bawa.
Kasihan saya yg nenek moyangnya Islam sedari dulu, ketika masuk ke persatuan marga saya, BATAK diidentikkan dengan kristen sehingga saya tak punya ruang dan tak mampu berkontribusi.
Bagaimana kalau kita semua orang Batak memulai dialog tanpa menyangkutpautkan dengan agama, bagaimana kalau nilai-nilai persamaan atau equality yang kita kemukakan?
Waktu saya masih kecil bangga sekali saya jadi orang batak karena pas natal bersama-sama merayakan dengan keluarga besar dan pas lebaran mereka juga ikut merayakan, sekarang setelah saya tumbuh besar, ketika bertemu sesama batak pertanyaan selalu dimana gerejamu?
Ini hanya curhat saja dari orang Batak yang bingung dengan arti Batak.
Daniel Harahap:
Setuju Dina. Keluarga besar saya sebaliknya banyak sekali yang beragama Islam. Sementara saya Kristen dan pendeta. Saya setuju bahwa Batak (Utara) tidak identik dengan Kristen. Atau sebaliknya Batak (Selatan) identik dengan Islam. Mari kita saling menerima keberadaan kita masing-masing.
sejak topik protap diangkat, menarik memang, perdebatan yang tidak ada ujungnya dan aku kira tidak diperlukan untuk ketemu darat.
mungkin inilah topik yang paling banyak argument, komentar, sanggahan. yang membuat rumametmet ini, semakin hidup, dan mungkin karena banyaknya koment, tidak bisa lagi dibilang metmet, tapi sudah bolon.
Daniel Harahap:
Pengunjung Ruma Metmet sekarang di atas 1000 orang per hari Amang. Bahasa Bataknya: ribur songon onan. Ramai, hiruk-pikuk seperti pasar tradisional. Namun tetap saja metmet. Apalagi penjaganya.
saya setuju dengan istilah atau peribahasa yang di sampaikan DTA, andaikan itu semua bisa kita buang jauh2 dari diri kita masing2 sebagai orang batak, saya yakin kita orang batak pasti bisa bersatu dengan damai dan untuk kedamaian. jadi marilah kita mulai dari diri kita masing2, banyak mendengar, sedikit bicara, dan rendah hati. mungkin agak susah untuk memulainya, apalagi dari sejak kecil banyak orang tua yg menanamkan ke anak2nya ai boru/anak ni raja do hita. tapi sekali lagi kita generasi muda marilah kita lebih bijak . saya juga setuju dengan dina, ibu saya juga asalnya islam, dan keluarga saya banyak yang islam jangan lah membawa2 agama. kita bisa menunjukkan siapa kita, dari sikap dan tutur kita., tentunya kita minta Tuhan yg memampukan kita. Horas.
Setelah melihat dan memperhatikan dan merasakan saya yakin sekitar 10 ,15 tahun ke depan orang-orang batak generasi kedua di kota akan jauh lebih maju dan tahan uji serta akan bisa jadi pemimpin yang sebenarnya dan saya yakin juga orang batak generasi kedua perantauan akan bisa jadi penguasa,pengusaha yang dapat mempengaruhi tempat tingganya juga negara ini kenapa demikian?
1. Orang batak yang di kota sekarang ,yang punya anak TK,SD,dan SMP tidak terlalu menginginkan dan mengharuskan anaknya lagi menjadi Pegawai Negeri, karena Orang batak yang PNS di luar Sumetera utara dan DKI Jakarta ,sudah susah untuk menjadi Pejabat di era otonomi sekarang ini, sementara jabatan mempengaruhi power,mempengaruhi finansial, jadi belajar dari itu para oarang tua muda kebanyakan sudah benar-benar menyekolahkan anaknya untuk bisa mampu bersaing sesuai talenta,bakat .
2.sehubungan dengan itu orang yang tinggal di Sumatera utara ,Tapanuli kedepan akan lalap di parang-anganan karena selalu mengharapkan PNS, karena sudah terpikir dan terdoktrin dalam hatinya nanti kalo sudah PNS jadi pejabat sekali tanda tangan dapat sekian, mimpi korupsi…..akhirnya keterbatasan tempat dan keahlian akhirnya tetap pengangguran, dak nikah-nikah karena tidak ada uang,tidak ada pekerjaan, orang tuanya struk karena sudah disekolahkan tinggi tinggi tapi masih nganggur,berharap jadi DPRD,modal kampanye tidak ada,berharap jadi PNS penerimaan terbatas,berharap jadi Gubernur ………? mau kerja di swasta sudah keburu tua kalah bersaing dengan yang muda, mau buka usaha tidak berani dan tidak mau mulai dari yang kecil akhirnya keluar lagu” mate ma ho amang doli…mate dipar alang alangan ..mate di parlaung-laungan” lagu nahum situmorang
3. Orang batak yang diluar Sumut dan DKI, kebanyakan belajar dari situasi sehingga membenahi anaknya dengan belajar juga dari Orang Tionghoa kenapa orang Tiongho jadi penguasa yang sebenarnya di Indonesia ini “buktikan seluruh kota besar mayoritas pemilik Mal,Ruko,Toko Mas,pemilik bank,Hypermarket,Depts.Store adalah orang tiong Hoa” demikian juga di daerah Perkebunan sekarang pengusaha Perkebunan sudah mayoritas dikelola oleh orang tiong hoa ,transportasi udara laut,darat dipegang dan di kuasai oleh tionghoa, kenapa seperti itu?
- Di Indonesia dari dulu orang tionghoa dipersempit geraknya susah masuk PNS,susah masuk TNI POLRI,susah masuk ke instansi Negara, akhirnya timbul kemandirian yang bisa hanya dagang dan informal lainnya, sadar tidak sadar karena bisanya di dagang akhirnya anak-anaknya ketika sekolah sudah dilatih jiwa dagang,jiwa entrepreneur, dan karena mereka sudah di doktrin jadi pedagang jadi pengusaha maka generasi mereka akhirnya menguasai semua lini perdagangan baik keci,menengah dan besar.
-Orang Tionghoa selalu melekat dengan tirai bambu…bambu kalo ditanam akarnya kokoh dan tidak bisa di cabut, ekonomi Tinghoa juga seperti itu sudah diturunkan dan mengakar sampai anak cucunya.
4.Belajar dari situ saya yakin orang batak perantauan juga akan mendidik mengarahkan anaknya untuk bisa menjadi lebih ,dan tidak mengarahkan anaknya harus PNS lagi, tapi kelak berharap bagaimana anaknya bisa jadi pengusaha,konglomerat sehingga bisa jadi saluran berkat bagi banyak orang dengan membuka lapangan kerja.
5.jadi bagi rekan-rekan batak yang tinggal di bona pasogit apalagi yang masih muda,mari ubah mindset kita ,coba keluar dari comfordzone ,kita akan melihat indahnya dunia ini.
6.Jika orang Tionghoa bisa berkuasa melalui bidang ekonomi perdagangan kenapa kita tidak bisa?
Seringsekali kita(Batak) sulit untuk bisa memahami orang lain, karena sedari kecil kita diajarkan untuk “memandang rendah” yang lain.
Jujur saja, sebagian -mungkin sebagian besar malah seluruhnya- dari kita pernah mendapatkan wejangan “aneh” dari orangtua2 kita semisal… “….. do i dang jolma i”
Sadar atau tidak sub-suku yang terkena wejangan “aneh” tersebut pasti mengetahuinya(langsung atau tidak-cepat atau lambat) lalu proses yang sama terjadi lagi sebaliknya….
Nah… disini saya mau mengingatkan agar kita sebagai generasi muda Batak bisa merubah ini semua.Dan juga para tetua2 Batak untuk tidak lagi menjadikan ini sebagai pengajaran kepada anak2nya. Jangan ada lagi keluar pendapat2 yang mendiskreditkan salah satu dari sub suku…. karena kita semua sama.
Kalau mengenai ProTap.. sebenarnya ini adalah salah satu langkah yang dapat kita pergunakan untuk memajukan kita. Jadi saya sarankan hendaknya apalagi mengenai polemik penetapan ibukota, biar saja kita ikuti letak ibukota seperti kita sewaktu menjadi keresidenan dahulu. Jadi kita tidak berputar2 di masalah seperti ini.
Dengan kemajuan masyarakat Batak, kita harapkan “kesan” sebagai suku yang mudah “disuap” bisa kita kikis habis.
Karena ada hal yang aneh mengenai hal ini….
saya pernah temukan sebuah tulisan kampanye salah satu partai menuliskan.. “Dang toho halak Batak seharga sada galas tuak dohot satapak jagal”
Semoga Batak semakin maju dan jaya
Saya coba untuk “doing my homework”, banyak baca dan fokus dgn tulisan2 mengenai ide ProTap dan pemahaman2 yang variatif.
Beberapa kesimpulan yg saya dapat adalah:
1.Propinsi dimaksud sdh bukan wadah untuk Batak dalam arti sebenarnya.Tapi sdh terdistorsi dgn istilah sub-suku Batak dan Agama.Marjinalisasi rakyat diakar rumput siap utk di”bentur”kan.
2.Aspek politis dan ekonomisnya sdh merata/mengeras di semua sub-suku Batak yg ada.Minyak dan oknum untuk bakar-bakarin konflik banyak dan bisa bertahan lama.
3.Potensi SDM Batak (Intlektual dan Kaya) enggan masuk dan berdiam di Tapanuli.Jadinya cuma panik dan teriak2 aja,buang energi.
Mempertimbangkan ini saya berpendapat,pembahasan ide pembentukan Propinsi ini kita sepakati dihentikan. Mari kita ambil momen “Rame2″ ini,dimanfaaatkan untuk mengisi pembangunan di seluruh wilayah Batak yang ada.Seperti pembangunan infrastruktur taransportasi,Sekolah Tinggi/Universitas dan Sekolah2 kejuruan dll. Saya pribadi mendukung ide Amang DTA dan mari kita amini lalu renungkan untuk diperkaya.Selanjutnya pada momen yang tepat kita akan tindak lanjuti bersama.
Marilah kita dukung peningkatan kualitas pendidikan di Tapanuli juga tano Batak keseluruhan, misalnya melalui pendirian sekolah-sekolah unggulan seperti yang sudah ada di Balige dan Sibolga, juga Perguruan Tinggi yang spesifik, misalnya khusus bidang IT, Hukum, Ekonomi, dll. Yang jelas melalui pengetahuan yang baik, orang Batak akan tetap eksis dan tidak gampang untuk dipecah belah oleh orang lain.
Mari kita duduk satu meja seluruh warga Batak, untuk membicarakan ini.
Daniel Harahap:
Bahasa Bataknya: manghatai ma hita.
Saya sendiri di dalam keluarga besar sudah terdiri dari 2 agama. Jauh lebih mudah mengadakan dialog antar agama di Jakarta drpd di Sumut. boa ma i ?
Sebenarnya menurut saya, jarang sekali orang Batak Toba (kristen) yang berfikiran fanatik tentang agama, tapi karena lama-kelamaan merasa terpinggirkan akhirnya meledak juga.. saya kok yakin betul persinggungan negatif tentang agama diantara puak-puak Batak tidak dimulai oleh yang beragama kristen… haqqul yaqin saya!
Memang agak sulit menyatukan BATAK terlebih oleh karena kesombongan ke-suku-an, kesombongan marga, keluarga dll, makanya istilah Elat-Late-Teal itu benar-benar nyata. ini pekerjaan besar!! Mungkin HKBP (menurut saya hkbp sudah lebih besar dari daerah Tapanuli), GKPS(Simalungun), GBKP(Karo), GKPA (Angkola) sebaiknya lebih mengambil peran di depan, menjadi promotor untuk memulai Rekonsiliasi Puak-Puak BATAK.
BATAK BERSATU! wuihhh….mantap kali !!!! jangan-jangan ini yang ditakutkan oleh orang bukan batak hehehehehheeh
Tu hamu pandita nami, hamu mungkin dang setuju dohot protap, dohot berbagai alasanna. Alai adong do piga-piga pandita ni HKBP na setuju malah mandukung protap i. Molo so salah amang bekas Sekjen WTPS. Boha do pendapat ni HKBP on. Santabi molo adong na salah, ai sering hu ikuti angka nonang muna on, gabe naeng dohot iba mangalehon komentar…… majuma bangsonta Indonesia.
Daniel Harahap:
Toho do na nidokmuna i. Alai di HKBP bebas do sude jolma marpandapot. Ndang gabe sala molo asing pandapothu asa sian pandapot ni Pandita WTP manang piga dongan na asing. Anggo sikap resmi ni HKBP ndang adong taringot tu protap, siala ndang urusan HKBP manjujui manang manulak propinsi. Ulaon ni HKBP: mamaritahon barita na uli do.
@Erpesim
Jgn dulu terlalu cepat ambil kesimpulan. Kenapa ? Karena kita masing-masing punya alasan & pengalaman mengenai ini. Saya sendiri menginginkan Protap sejak tahun 2000 yg lalu. Keinginan ini berawal dari ketika saya (dari Jakarta) ditugaskan perusahaan untuk mensuplai mesin pertanian ke Dolok Sanggul sehubungan dengan adanya Pesta Martabe. Pada puncak acara yang dihadiri Gubsu Raja Inal Siregar, hadir juga rombongan dari Jakarta bersama Ir.Humuntar L.Gaol (saat itu Irjenbang).
Saat itulah saya dengar Gubsu Raja Inal menyindir Irjenbang (par Onan Ganjang). ” Salah sendiri kenapa, kampung mu tertinggal.. Yah.. memang saat itu Tapanuli Selatan sudah lebih maju selama Raja Inal jadi Gubernur. Dan saya berpikir.. Oh begitukah arti dari (Martabe) marsipature hutana be ?. Saya berpikir kalau Tapanuli ini punya Gubernur bagus juga ya. Semua urusan tidak musti uang tunai.. eh tidak lagi harus ke Medan. Kesulitan transportasi adalah salah satu kendala bila kita ada urusan ke Medan..(dang boi ulaon sadari) .. dan masih banyak lagi.. jadi jgn langsung kesimpulan cess.
Daniel Harahap:
Nanti kalau propinsi Tapanuli jadi maka bus Makmur, Bintang Utara, Sampagul, PMH, dll jurusan Tarutung-Medan mesti ditempeli stiker Bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi). Berapa harga stiker dan ijin trayeknya dan di berapa propinsi harus diurus? Lebih celaka lagi kalau Sidempuan jadi propinsi baru. Maka bus Medan-Sidempuan harus mengurus ijin tiga propinsi.
@JP Mamora:
Dari arikel sebelumnya: “Diskusi Pembentukan…” oleh BASYRAL HAMIDY HARAHAP — “…Pernyataan senada dikemukakan oleh tokoh masyarakat Pakpak Sumut yang juga Sekretaris DPD Partai Golkar dan anggota Komisi D DPRD Sumut, Drs. H. Abdul Aziz Angkat. Pendiriannya disiarkan dalam Web Site Suku Pakpak tanggal 13 Agustus 2006 di bawah judul Mari Ikut Berpikir yang dikirim oleh Sakti. Drs. H. Abdul Aziz Angkat menegaskan, bahwa tidak satu pun pemegang hak ulayat di Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat yang mau bergabung dengan Provinsi Tapanuli. Selanjutnya ia mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis 10 Agustus 2006 sebagai berikut:
Karenanya, jika dipaksa untuk bergabung akan mengundang perpecahan dan konflik horizontal. Apa pun alasan dan dasar pertimbangannya, masyarakat Pakpak Dairi dan Pakpak Bharat menolak dilibatkan dalam rencana pembentukan Provinsi Tapanuli. Jika Provinsi Tapanuli jadi diwujudkan, Kecamatan Tigalingga, Tanah Pinem dan Gunung Sitember Kabupaten Dairi akan lebih memilih bergabung dengan Kabupaten Karo. Sedang Kecamatan Sitellu Tali Urang Jahe Kabupaten Pakpak Bharat lebih memilih bergabung dengan Aceh Selatan (Subulussalam).
Menurut Drs. H. Abdul Aziz Angkat, sikap menolak bergabung dengan Provinsi Tapanuli bukan karena alasan sentimen etnis, melainkan karena merasa sudah lebih mantap selama ini berada di bawah wilayah Sumatera Utara.”
Saurdot:
a. Tahun 2008, almarhum menjadi Ketua DPRD Sumatera Utara menggantikan H. Abdul Wahab Dalimunthe, SH yang dipecat Partai Golkar karena mencalonkan diri jadi caleg Gubsu dengan partai pengusung di luar Golkar.
b. Sebelum kerusuhan dan sampai saat ini, ProTap tinggal menunggu keputusan DPRD Sumut. Presiden, DPR RI, dan Gubernur Sumut secara prinsip sudah memberi lampu hijau. Sekarang berwarna “kuning berkedip-kedip”. mei dei… mei dei… (may day)
@Yusuf: Coba tanya orang Tionghoa, apa mereka senang diperlakukan demikian? Saya kira tidak. Cukup lama mereka berjuang hanya untuk mendapatkan hak-hak kewarganegaraannya dan itu baru terbuka pada masa Gus Dur. Hidup Gus Dur.
Bagaimana senangnya mereka ketika itu menjadi kenyataan. Bagaimana senangnya mereka ketika Imlek menjadi libur Nasional dan kebudayaan mereka (salah satunya barongsai) diterima sebagai bagian dari budaya keindonesiaan dan belakangan ini kita terbiasa menontonnya di TV Nasional. Mereka pada prinsipnya tidak mau hidup terjepit. Apa kita mau Batak itu mau dikucilkan atau di-anaktirikan dengan alasan supaya semakin berkembang? He…3x Saya tidak setuju, malah itu aneh. Keberhasilan tidak harus muncul dari kondisi terjepit dulu. Boleh saja kita mengakui kegigihan muncul ketika situasi menjadi sulit, tapi kita jangan meminta “Beri hidupku sulit supaya aku semakin tangguh.”
Peace!
Pembentukan Portap kok menjadi pembentukan etnis-etinisa baru ?
Kenapa arusnya belok –belok gak karuan ? ( jangan mau !!!! )
Pembentukan portap kukira hanyalah memotong jarak, percepatan pemerataan, kesejahteraan dan iptek. Itu saja..,,Selanjutnya minta persetujuan pemerintah, penuhisyarat perundangundangan. Selesai, jadilah portap
dulu….waktu naposo aku di Jawa,kerna aku lahir ampe nikah di Jawa….mungkin aku bilang buat apa siii Protap,emang gue pikirin….. namun semenjak th 1998 aku tinggal di Toba dan kerja di pemerintahan, tau seluk beluk penganggaran dan pengalokasiaannya, aku makin yakin pemekaran itu emang perlu, bahkan harus. aduh…mau kukemukakan alasannya, ada klien datang,….cancel dulu ya
Saya pernah menyampaikan kritik dan saran lewat blog Silaban brotherhood, situs pemkab humbahas, mengenai study kelayakan Pembentukan Protap.
beberapa faktor penting yang mempengaruhi layak atau tidaknya rencana pemekaran (Protap) perlu di analisa, diantaranya Sumber Daya Manusia meliputi Mind Set.
Saya bangga orang kita (batak) terkenal dengan julukan Pemikir (intelektual) tetapi yang saya ragukan disamping Intelektualitas nya ada kesombongan Intelektual yang menimbulkan kesenjangan (Disparitas) yang tinggi bagi sesama suku batak, yang pintar ingin berkuasa, yang pintar selalu merasa dirinya yang paling hebat. menurut saya hal inilah yang membuat kita sulit untuk bersatu
@ Lintong Nababan
itulah dari kemarin2 yang ingin aku katakan tapi aku ragu.. anno las gabe muruk akka dongan..
sering sekali ketika orang BATAK ber diskusi, terlihat betul jarak antara yang berpendidikan dan yang bukan, yang berpendidikan berbicara di awang2 dan tak mau sebentar melirik ke bawah.. dan yang kurang berpendidikan berbicara di dasar otaknya tanpa mau belajar ke atas.
dari sekian banyak diskusi di ruma metmet ini aku lihat tidak kunjung ada titik temu.. harusnya diskusi itu bertujuan untuk “mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat dan menyatukan yang rapat” seperti kata tukang-tukang obat di terminal parluasan Siantar hahahahhaha
intinya dalam berdiskusi itu hampir sama dengan negosiasi dalam dagang, kadang disatu masalah kita ikut yang lain-mengalah, di satu masalah, orang lain ikut kita sepanjang alasannya bisa dipertahankan.
khusus untuk diskusi protap .. aku melihat sodara-sodara kita yang menolak… sebagian besar bukan mereka yang lahir/ besar dan tinggal di Tapanuli sana, setidak mereka tidak punya suatu kurun waktu yang cukup berinteraksi langsung di Tapanuli. maaf ini cuma pendapat pribadi lohhh
seandainya mereka bisa ber”empati” sedikiiiit saja, terus mampu menyelami “jiwa-jiwa yang sedang berkecamuk dan terguncang” di Tapanuli sana. aku pikir pendapat mereka akan berbeda…
Baru kali aku melihat secara jelas… NEGARA INDONESIA menangkapi pendukung Propinsi Tapanuli seperti menangkap teroris atau menangkapi Pemberontak…TOLONG HENTIKAN SEMUA INI !! Wahai negara !!! Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan???
saya selaku orang batak merasa dipermalukan dengan tindakan negara yang seperti itu. walau pun aku tetap tidak membenarkan tindakan anarkisme. akan tetapi jauh lebih anarkis tindakan negara yang seolah-olah sedang melakukan “pembunuhan karakter” kepada orang batak.
Daniel Harahap:
Pesan saya kepada para pendukung Protap: berundinglah lagi dan berusahalah membujuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Dairi dan Pakpak tentang ide proptap (baca: bukan sekadar empat kabupaten pemekaran tapanuli utara). Berunding juga baik-baik dengan Simalungun dan Karo serta daerah2 Melayu.
Saya sangat setuju Protap, asal tidak dengan kekerasan. Orang batak itu banyak yang pintar dan bijaksana kok ! Mengapa selalu mengkerdilkan orang Batak ? Jangan-jangan mereka itu Batak palsu deh…. Tidak mau Orang Batak maju, atau takut kali kalau orang Batak jadi maju. Makmur atau–atau apa ya ?. Maju terus pantang mundur.

Daniel Harahap:
Menuduh orang lain Batak palsu? Saya yakin dengan gaya model di atas semakin banyak orang yang tidak mendukung pembentukan propinsi Tapanuli.
Saran saya kepada para pendukung Protap: belajarlah lebih serius teknik berkomunikasi dan negosiasi. Serius.
Jonro:
.. aku melihat sodara-sodara kita yang menolak… sebagian besar bukan mereka yang lahir/ besar dan tinggal di Tapanuli sana, setidak mereka tidak punya suatu kurun waktu yang cukup berinteraksi langsung di Tapanuli. maaf ini cuma pendapat pribadi lohhh
________
Aku lahir di Kabanjahe, Ibukota Tanah Karo. Mulai kelas empat SD sampe selesai kuliah, aku tinggal di Medan. Mungkin aku tidak pernah tinggal lama di Tapanuli. Tapi, saat ini aku tidak mendukung pembentukan ProTapUt bukan karena itu. Karena aku melihat, orang Batak susah sekali bersatu. Jangankan membentuk Protap yang akhirnya hanya ProTapUt. Lha urusan Pilkada aja maen bakar-bakaran? Siapa yg ga curiga dengan ide dibalik ProTapUt itu : -p
Jadi Buatku, lebih baik kasih yang kongkrit daripada kasih mimpi buat Taput. Taput yang dulu lo. Bukan yang sekrang. Aku gak tau apakah Samosir menjadi maju setelah di jadi Kabupaten sendiri.
aku pribadi, aku berusaha menjadi orang batak yang disenangi di lingkungan sekitar. mungkin gak ada artinya dengan cita-cita besar ProTapUt. Tapi aku percaya, itu bisa merubah stigma ‘batak kasar’.
JonRo:
Baru kali aku melihat secara jelas… NEGARA INDONESIA menangkapi pendukung Propinsi Tapanuli seperti menangkap teroris atau menangkapi Pemberontak…TOLONG HENTIKAN SEMUA INI !! Wahai negara !!! Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan???
__________
Lae, yang ditangkap adalah pembuat keonaran. Menurut Lae, pembuat keonaran harus ditangkap se elegan apa? Masuk inpotemen?
@ goklas
iya lae.. jadi atas jawaban lae diatas, benar lah asumsi saya bahwa kebanyakan yang tidak mendukung propinsi Tapanuli adalah seperti yang saya sebutkan diatas, karena ide dasar pembentukan provinsi Tapanuli saat ini tidak sesedarhana itu, jauh, jauh dan jauhh lebih komprehensif dari sekedar bakar-bakaran krn pilkada (diluar Tapanuli jauh lebih sadis lae), ex keresidenan tapanuli (walaupun ini merupakan pembuka wacana awal dulunya), menambah beban pemerintah, ketakutan adanya pungli arus barang ke SUMUT, eksodus PNS dari pantai Timur, membuat “tembok berlin” di SUMUT dll… untuk bisa lebih memahani ide ini, lae harusnya tahu keadaan riil di Tapanuli sana, harus mengerti keinginan mayoritas masyarakat yang tinggal di Tapanuli sana (khususnya di utara) karena kita yang tinggal di luar Tapanuli bukan Subjek tapi objek dari ide ini.
Petinggi2 Batak di Jakarta ada yang mendukung dan ada juga yang tidak mendukung, tapi coba perhatikan, sebagian besar mereka yang mendukung provinsi Tapanuli adalah mereka-mereka yang sudah banyak berbuat banyak bagi Tapanuli, khususnya di bagian utara, sebaliknya yang menolak.. apa yang sudah mereka perbuat? pertanda apa ini?
Sumut Utara juga tidak lebih dan tidak kurang begitu.. sebagai contoh amang GM Panggabean : terlepas dari kesalahan terakhir yang dilakukannya akibat sering bias-nya pemberitaan koran SIB di SUMUT, harus jujur kita akui bahwa beliau adalah salah satu tokoh Besar SUMUT dan sudah cukup banyak berbuat bagi Tapanuli juga. Saya bukan saudara beliau dan tidak ada kepentingan sama sekali atas ide propinsi Tapanuli ini, tapi jangan juga lantas kita melupakan sejarah orang2 yang berbuat banyak bagi “kampung halaman/bona pasogit” kita.
Pembuat Keonaran harus ditangkap se elegan apa? saya tanya balik, apakah lae percaya seorang pembantu dekan SUMUT pembuat keonaran? apakah direktur PDAM pembuat keonaran? dan masih banyak lagi orang Batak terhormat yang dikejar-kejar, ditangkap seperti pemberontak, dan media massa di ibukota berkali-kali dalam 1 hari memberitakan seolah-olah mengucapkan selamat atas penangkapan itu, apakah itu tidak berlebihan? saya juga kok tidak yakin bahwa ide awal demonstrasi itu direncanakan untuk membunuh. Berapa banyak petinggi negeri ini yang jelas-jelas dalang di balik pembunuhan ribuan orang di negara ini diperlakukan seperti itu? apakah musti kita ceritakan satu per satu? Apakah lae tahu siapa yang membunuhi mahasiswa pada saat reformasi yang sampai saat ini masih berpesta di negara ini?
Pendukung provinsi Tapanuli.. ratusan orang sudah ditangkap, 60-an orang dijadikan tersangka. GM Panggabean jadi DPO, who is the next Most Wanted?? … bahhhh keterlaluan itu!!!
kita semua menolak anarkisme tetapi provinsi Tapanuli berhak untuk menjadi provinsi, terserah mau didakan simposium besar, referendum atau apa pun, ini harus dikerjakan dengan baik oleh pemerintah tidak bisa disederhanakan dengan menghentikan prosesnya begitu saja, karena terlanjur sudah berjalan begitu lama.
Pro Lae JR Sidabutar
Saya juga semakin terhenyak dengan pernyataan Kabareskrim Mabes Polri minggu lalu yang menyatakan bahwa para tersangka bisa didakwa pasal “pembunuhan berencana” bla bla bla. Bah, maccam mana pula ini bisa langsung sejauh itu dugaannya. Begitu mudahnya sekarang pihak-pihak tertentu untuk semakin mendiskreditkan penggagas protap. Dan begitu sistematisnya “jaringan” media nasional untuk melakukan serangan bertubi-tubi kepada pendukung protap dan bahkan menjadi semakin tidak bisa diduga arah akhir dari perjuangan tersebut.
Ada tambahan yang saya amati dari perkembangan berita mengenai aksi anarkis (yang sangat disayangkan tersebut) yakni : Kalau akibat kematian ketua DPRD diduga sebagai pembunuhan berencana, maka mestinya seluruh demo, pembagian zakat, konser artis yang rusuh dan atau kegiatan lain yang menimbulkan adanya pengumpulan massa termasuk kampanye, jika menimbulkan korban, maka panitianya bisa dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Kabar terkini, jika logika Kabareskrim ini diikuti, maka kematian 4 orang (pada hari yang berbeda, dan pemkab serta Polres Jombang sudah menutup praktek tersebut!) masyarakat akibat praktek dukun cilik Ponari di Jombang, bisa juga dikenakan pembunuhan berencana.
Daniel Harahap:
Terlepas dari sengaja atau tak sengaja, laporan Tempo (jika tak benar supaya disomasi oleh pendukung protap) mengatakan para demonstran berteriak: bunuh, bunuh! Juga membawa-bawa peti mayat. Tentu saja polisi boleh2 saja menghubung-hubungkan teriakan, poster dan simbol peti mati ini dengan kematian Azis Angkat. Namun semuanya akan dibuktikan di pengadilan. Saran saya kepada para pendukung Protap: tenang-tenang sajalah. Ini kan negara hukum. Jika ada kesalahan polisi dalam prosedur penangkapan ya pra peradilankan saja. Orang Batak kan banyak ahli hukum. Namun ini suatu pelajaran berharga: lain kali kalau mau demonstrasi lebih santun dan eleganlah. Tidak usah teriak2 terlalu kuat apalagi pake mengancam-ancam.
Catatan: dalam konser artis dan pembagian zakat tidak pernah terdengar teriakan: bunuh. bunuh!
berani berbuat, harus berani bertanggung jawab, yang salah tentunya kita dukung untuk mempetanggungjawabkan kesalahannya. Kapolda sumut juga uda diganti karena dianggap ga mampu mengamankan demo yang katanya harusnya bisa diantisipasi, tapi okela, yg salah tetap harus bertanggung jawab, tapi dengan hukuman yang seimbang dengan perbuatan tentunya, jgn malah di besar2kan dan aneh2 kaya teriakan bunu..bunu itu.. namanya juga lagi emosi/marah masak teriaknya ‘cium…cium…cium’
aku pribadi stuju protap, dan tentunya diharapkan dapat dilakukan secara elegan, dan kalau kedua pihak (pihak yang memberikan persetujuan dan pihak yang menuntut) bisa bersikap elegan, tentunya “demo maut” itu bisa dihindari, intinya masing-masing introspeksi la..
Pdt. DTA
Catatan: dalam konser artis dan pembagian zakat tidak pernah terdengar teriakan: bunuh. bunuh!
JP Manalu,
Ah amang pendeta ini kayak nggak ngerti aja “gertak sambal” orang Batak aja…
Memang benar amang, menurut hemat saya masukan yang cukup baik yang amang berikan bagi sebagian orang Batak; agar memperbaiki cara berdemo dan berkomunikasi dengan polesan yang lebih “halus”-lah.
Tapi satu hal, menurut hemat saya adalah kurang baik juga jika kita hanya “melulu” menyalahkan diri kita sendiri, tanpa melihat ada juga peran pihak “seberang” untuk memprovokasi sebagian dari massa agar semakin galak dan anarkis! Dan juga harus dievaluasi mengapa reaksi yang diberikan sebagian pendukung Protap sampai begitu anarkisnya. Adakah emosi mereka sudah sampai pada titik kulminasi? Apa yang mengakibatkan tingkat emosi mereka begitu tinggi? Reaksi itu pada umumnya diawali dari aksi. Seharusnya, kalau memang mau melakukan perbaikan dan membahas secara terbuka plus minusnya aksi massa pendukung protap kemarin, jangan sepihak seperti itu dong evaluasinya.
Tanpa bermaksud membela demo anarkis di DPRD SU (karena dari dulu saya juga sangat anti dengan kekerasan), demo anarkis tidak hanya dimonopoli orang Batak, saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri, 2 kali kerusuhan yang cukup besar di Solo, Jawa Tengah, yang pertama Mei 1998, yang kedua ketika Megawati sebagai ketua partai pemenang pemilu 1999 tidak jadi Presiden.
Dalam strategi pencitraan yang dilakukan media dan melalui tampilan fisik dan tutur kata sehari-hari, gambaran secara umum, sebagai salah satu pusat budaya Jawa, orang-orang Solo digambarkan sebagi orang-orang lemah lembut. Setelah saya mencoba “belajar” lebih banyak tentang mereka, saya menyimpulkan sementara : “mereka cenderung ‘menyimpan’ dan ‘mengakumulasikan’ kemarahannya, sehingga jika sakit hatinya sudah “keterlaluan” maka tinggal ‘menunggu waktu’ saja untuk balas dendam! Sehingga saya amati mereka tidak akan pernah berteriak : “bakar-bakar”, atau “bunuh-bunuh” sebelumnya dalam menjalankan aksinya, tetapi kenyataannya 2 kali peristiwa bakar2an yang cukup besar di Solo.
Di sisi lain, sebagian orang Batak dalam mengekspresikan kemarahannya, sebenarnya belum ada apa-apa, tapi dari ekspresi wajah dan perkataan seolah-olah sudah mau melakukan kekerasan (misal membunuh), padahal dalam kenyataan alatnya saja-pun belum punya…. matte ma…
. Untuk “kecenderungan” seperti ini kelihatannya orang-orang yang berlatar belakang psikologi seperti Lae Marihot Hutahaean lebih kompeten memberikan pencerahan.
Daniel Harahap:
Makanya ada pepatah: mulutmu adalah harimaumu. Berhati-hatilah dengan perkataan.
Horas Amang DTA, ngeri kali judul pembahasan kita ini, sian najolo kalau orang batak masih sedikit dan jauh dari bona pasogit nakompakan , pengalaman aku dan yg lain mungkin, so mangaranto lah kita ke semua liat portibion , dan ingat Martabe…..orang batak itu kata kawanku tampang Van damme, tapi hati Ebiet ,hehehhe,….godang dope batak na burju…..setuju do hamu disi??????
Agar netral, saya anjurkan batak adalah batak, agama dalah agama. Karena Saya tak punya agama. agar saya ikut dalam perdebatan kalian.
Daniel Harahap:
Bagaimana ya? Sebagian besar pengunjung blog ini batak dan beragama, lebih spesifik beragama kristen. Dan kami menghayati kebatakan kami dalam terang iman kristiani. Sebaliknya juga mau menghayati kekristenan kami sebagai orang yang berdarah Batak.
“Api dalam sekam” adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan secuil ketakutan yang menjalar di hati sebagian orang, termasuk sebagian Orang Batak, melihat arah perkembangan NKRI ini setelah ‘Reformasi 1998′. Apapun alasannya, yang tampak terlihat adalah :
1. Good bye Timur Leste
2. Otonomi Aceh dengan kekhususan yang luar biasa
3. Beberapa kabupaten kota membuat aturan sendiri, termasuk menerapkan syariat agama tertentu
4. Di setiap Pilkada maka syarat tak tertulis ‘putra daerah’ mengemuka, begitu pula dalam mengisi formasi di pemerintahan daerah
Dengan perkataan lain, warga setiap daerah mulai melihat bahwa kesempatan untuk berkarir / eksis di daerah lain semakin dibatasi. Warga pendatang akan menjadi warga kelas dua. Artinya : mencari penghidupan di perantauan pun semakin sulit.
Sementara itu, di kampung sendiri pun seringkali tak cukup lapangan pekerjaan. Maka, menjadi PNS dan anggota DPRD sangat diidolakan.
Jadi, taklah mengherankan jika banyak orang-orang daerah menginginkan percepatan kemajuan di daerahnya. Termasuk orang Tapanuli. Begitulah yang kutangkap dari sebagian orang-orang di Toba, setiap kali aku pulang kampung.
Yang ingin aku tanggapi adalah ‘api dalam sekam’ itu, yaitu : ketakutan itu. Pertanyaan yang beberapa kali kudengar : Tudia nama halak hita laho molo kacco negara on ? Molo saut do monang ….. i ? (menyebut organisasi yang mau membawa NKRI ke azas baru).
Aku rasa suku-suku bangsa lain juga punya trauma dan phobianya sendiri. Maka, masing-masing berusaha membangun ‘benteng-benteng pertahanan’ berupa eksklusivitas dan penganaktirian ‘pendatang’ (btw, bukankah kasus izin gereja Amang DTA juga karena hal ini ?).
Something is totally wrong here!
Benar sekali Amang DTA katakan bahwa kita orang Kristen tak boleh ikut-ikutan menjadi sektarian. Karena itu, daripada menghabiskan waktu memperdebatkan ProTap, lebih baik semua putra-putri Tapanuli (yang pro dan kotra ProTap) ikut bersama komponen bangsa lainnya mengupayakan cara menghindarkan api dalam sekam itu menjadi marak dan membakar negeri ini.
Menurut hemat saya tidaklah relevan membandingkan Uni Eropa dengan Indonesia yang dikaitkan dengan pembentukan ProTap. Yang saya tahu pembentukan Uni Eropa tidak terlepas dari sejarah masa lalu Kerajaan Romawi Kuno dimana hampir sebagian mereka bersatu dibawah kerajaan Romawi Kuno. Dan juga pembentukan Uni Eropa salah tujuannya adalah untuk melawan kekuatan ekonomi dan kekuasaan USA yuang terlalu menguasai dunia. Yang patut kita perhatikan adalah Uni Eropa bisa cepat bersatu karena mereka adalah bangsa kulit putih yang tidak begitu banyak memiliki perbedaan suku/ras. Tidak seperti di Indonesia yang terdiri dari ribuan suku. Dan yang paling dominan memegang kekuasaan adalah suku Jawa. Apakah kita mau berkata bahwa suku yang lain harus sabar menunggu sementara suku yang lain sudah sangat maju. Bangsa Indonesia cara berpikirnya sangat jauh terbelakang, tidak lagi seperti founding father republik kita terdahulu.
Lagian apakah kita tahu tujuan Uni Eropa selanjutnya, apakah mereka akhirnya akan mencoba menguasai dunia setelah mereka kuat secara ekonomi dan pertahanan?. Who knows?.
Saya rasa sebenarnya bangsa Indonesia jauh lebih maju pemikirannya pada saat sebelum merdeka karena bersatu untuk merdeka. Tetapi setelah merdeka, pemikirannya jadi orang primitif yang hanya mementingkan suku dan agama terlebih di jaman reformasi ini. Atas nama suku atau agama, maka sebagian besar orang memiliki cara berpikir kamilah yang paling benar, yang paling…, yang paling…Dan akhirnya mungkin saja Indonesia akan terpecah belah seperti Eropa Timur.
Adalah sangat manusiawi kalau bangso Batak membentuk Propinsi tersendiri. Kalau propinsi lain bisa berdiri kenapa Tapanuli tidak?. Ini adalah persoalan sederhana dari cara berpikir orang yang sederhana. Kalau ada kekuatirana dari sebagian orang yang menentang, apakah hal serupa tidak akan terjadi juga dengan propinsi lain? Atau adakah sebagian yang menentang karena takut kedudukannya terancam?. Atau jangan-jangan mereka yang menentang belum pernah melakukan sesuatu buat Tapanuli.
Yang saya tentang adalah membentuk daerah Tapanuli hanya untuk kepentingan/ kekuasaan sesaat.
Yang salah adalah Indonesia sendiri. Kenapa terlalu gampang terjadi pemekaran daerah buat daerah lain tidak untuk daerah Tapanuli. Bahkan sampai ada daerah khusus tersendiri bahkan memiliki hukum tersendiri. Lihat Aceh adalah negara di dalam negara. Bahkan sampai Papua sendiri mau membentuk syariat Kristen karena mau meniru Aceh. Negara ini memang sudah kacau: kepala letaknya di kaki, hidung ada di pantat, dll.
Kalau memang Propinsi Tapanuli tidak jadi terbentuk ataupun memang terbentu mari kita bangun daerah kita dengan cara kita sendiri. Misalnya dari hal yang terkecil membantu sanak saudara kita yang tidak bisa sekolah membuat mereka bisa sekolah dengan cara mengirim uang ke mereka atau tinggal bersama-sama di rumah kita untuk mereka bisa sekolah.
Daniel Harahap:
Saran saya pendek: orang Batak dari berbagai puak (Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Dairi Pakpak, Karo) duduklah dulu bersama-sama, saling mengakui perbedaan dan persamaan dengan ikhlas dan hormat, dan lantas membangun skenario bersama menyejahterakan rakyat dan membangun masa depan Indonesia.
Saya bukan orang yang melek akan politik, tapi kalau menurut fikiran haotoon saya, peristiwa anarkis di medan teralalu dibesar-besarkan, almarhum kan memang punya riwayat penyakit jantung, dan meninggalnya bukan karena kekerasan fisik, hanya karena beliau dari golkar dan wapres kita adalah ketua umum golkar, jadilah peristiwa ini besar seperti ini…. (sorry, bahasanya amburadul, maklum), padahal rencana pembentukan protap bukan sekarang ini lagi (seingat saya waktu saya SMP sekitar tahun 1985-1988, sudah ada lagu batak yang mensosialisakan rencana PROtap) mau baca liriknya: ini dia…
Tapanuli, dainang, tarpaima do dainang, diharoroni dainang sada gubernur
bohal nauli dainang, tano nabidang dainang, nunga tung godang dainang naung marisuang….
O hamu amang, ulu bangso, begejo amang pangidoanon
uli ni tapanuli, molo saut tapanuli, propinsi tapanuli, horasma…
Daniel Harahap:
Jolo mardos ni roha ma hamu bangso batak par-utara dohot par-dangsina, pahabinsaran dohot pahasundutan, parhuta julu dohot parhuta tonga-tonga, parbibir ni aek dohot parbariba ni tao, par-dolok dohot par-toruan. Dung satahi hamu ipe asa pasahat hamu pangidoanmuna gabe propinsi.
@Amang Daniel Harahap,
Ijinkan saya membuka komentar saya soal topik ini dengan petikan pengalaman pribadi saya.
Ketika saya datang pertama kali ke P. Bintan ini di tahun 1995 saya tidak melihat satu papan nama dokter yang bermarga. Yang ada adalah Dr. Tunggul P.S., Dr. Parlin S. Belakangn saya tahu bahwa Dr. Tunggul P.S. ternyata marga Sihombing tulen asal Doloksanggul. Dr. Parlin S. adalah marga Sibarani tulen dari Toba. Saya tidak pernah mendapat kesempatan bertanya langsung kepada kedua dokter itu alasan tidak memakai marganya. Tetapi saya mendengar dari orang batak yang lain bahwa alasan mereka tidak menggunakan marganya kemungkinan adalah untuk menghilangkan kemungkinan calon pasien enggan datang karena kebatakannya.
Saya dan dan beberapa teman batak lainnya adalah kebalikan dari kedua contoh di atas. Disetiap kesempatan saya memperkenalkan diri kepada publik dengan memperkenalkan marga saya dulu baru diikuti dengan nama kecil saya. Dan saya melakukannya dengan bangga. Bahkan dalam setiap acara kumpul-kumpul staff persh (staff party), saya selalu berusaha membawakan beberapa lagu batak.
Amang tahu reaksi mereka ketika saya menyanyikan lagu Situmorang atau lagu Pulo Samosir? Tanpa saya ajak atau komando, kolega-kolega saya entah itu orang Indoensia atau expatriate, mereka biasanya akan dengan antusias bangkit dari duduknya dan ikut menirukan gerakan tortors.
Ini semua saya lakukan dengan bangga, dan sengaja untuk memajukan kebatakan saya tanpa rasa takut bahwa kalau kebatakan saya akan menghambat karir saya atau menghambat rezeki saya. Puji Tuhan pengalaman saya kemudian selama 13 tahun merantau di Bintan ini dengan tidak menghilangkan kebatakan saya ternyata tidak pernah saya rasakan menjadi masalah.
Kembali topik api dalam sekam yang amang tuliskan dalam posting ini, saya tidak melihat persaingan antara Toba dengan Mandailing, Angkola, Karo, Pakpak dan Simalungun sebagai sesuatu yang mengkawatirkan. Saya tidak pernah bermusuhan dengan orang Karo karena dia orang Karo. Atau memusuhi orang Mandailing karena dia tidak bangga mengidentifikasikan dirinya sebagai Batak. Saya biasanya bertengkar kalau hak-hak saya yang dijamin hukum diganggu. Saya juga perhatikan bahwa di Jakarta, saya tinggal selama 15 tahun di Jakarta, orang tidak bertengkar karena alasan suku atau puak. Mereka berkelahi karena alasan ekonomi atau pelanggaran hak-hak pribadi.
Saya juga tidak merasa ada yang salah dengan fenomena sebagian orang Karo, Simalungun, Mandailing atau Pakpak tidak secara konsisten mengidentifikasikan diri mereka sebagai Batak. Itu adalah urusan puak-puak itu.
Saya hanya heran, ketika sebagian besar orang Batak Toba mengambil inisiatif mengumpulkan atau ingin mengartikulasikan aspirasi kebatakannya, biasanya baru orang-orang Mandaliling, Karo, Pakpak atau Simalungun biasanya berebut untuk didengarkan juga haknya untuk bersuara.
Kalau orang karo, Simalungun, Pakpak atau Mandailing ingin memajukan kekaroannya, kesimalungunannya, kepakpakannya, atau kemandailingannya, sebenarnya itu adalah sesuatu yang alami dan sah. Kita tidak perlu mempertanyakan motivasi mereka melakukan itu. Orang Toba tidak bisa melarang itu.
Saya percaya persaingan entis atau sub etnis tidak perlu dikawatirkan. Bagi saya iklim kompetitif baik untuk memacu kemajuan bagi yang berkompetisi. Kalaupun ada kejadian ribut-ribut karena satu atau dua pertandingan sepakbola, menurut saya kita tidak perlu melarang pertandingan liga sepakbola. Melarang semua pertandingan sepakbola hanya karena satu atau dua kasus adalah keputusan yang tidak bertanggungjawab.
Tugas pemerintah yang baik adalah membuat iklim kompetisi antara etnik itu menjadi sehat yaitu dengan menciptakan sistim dimana orang yang berkualitaslah yang diangkat menduduki jabatan pimpinan atau dipromosikan (merit system). Akar persoalan2 yang terjadi di negara kita ini saat ini adalah tidak adanya sistim meritokrasi. Sehingga banyak keputusan yang diambil pemegang kekuasaan adalah keputusan subyektif, bias dan tidak jujur. Ini terlihat dari kasus usulan propinsi Tapanuli. Kenapa proses pembentuikan propinsi Gorontalo terpisah dari Sulut, Banten terpisah dari Jabar, Bangka Belitung terpisah dari Sumsel, Maluku Utara terpisah dari Maluku, Sulbar terpisah dari Sulsel dan Kepri terpisah dari Riau dapat diakomodir pusat, giliran ProTap dihambat dengan berbagai dalih.
Jadi jangan kawatirkan kompetisi diantara sub etnis Batak. Saya hanya kawatir dengan pemerintah di Jakarta yang tidak kompeten mengurus negara yang besar sumber daya alam ini tetapi kini menjadi negara miskin.
Daniel Harahap:
Ayah saya Angkola, ibu saya Silindung yang besar di Toba, dan mertua saya dari Muara dan Humbang. Kakak ipar saya pertama boru Tahapary dari Ambon dan satu lagi boru Sembiring. Saya sendiri lahir dan besar di Medan. Sahabat saya sewaktu di STT Jadasri Saragih anak Simalungun, Albatros Palilu dari Toraja dan Tony Tanos si Menado. Bagi saya semua baik-baik saja.
Tapi pertanyaan saya: kenapa orang Batak Angkola dan Sibolga menolak bergabung dengan Protap, atau mengundurkan diri dari sana? Kenapa sekarang orang Batak Pakpak tidak mau bergabung? Kenapa Taput tidak mengajak Simalungun dan Dairi saja menjadi satu propinsi dengan ibukotanya Pematang Siantar seperti usul jaman dulu? Kenapa orang Taput menuntut ibukota harus Siborong-borong dan bukan Sibolga atau sekalian pelabuhan purbakala Barus?
Untuk menyatukan orang batak???? Kayaknya susah…
Aku hanya punya sedikit saran. Mungkin kita harus melihat pada perjalanan hidup orang Jahudi. Sebelumnya mereka menyebar di seluruh pelosok bumi, hingga ada yang dikejar2 Kaisar Nero ada pula yang dimusnahkan Tulang Hitler…..Kembali ke wacana menyatukan orang batak, mungkin harus dibantai dulu orang-orang batak yang ada di dunia ini agar timbul kembali holong masihaholongan tanpa memandang Toba, Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak, Dairi dan yang lainnya. Karena tabiat kita yang keras harus dipecahkan dengan kekerasan kayaknya.
Jangankan pertentangan antara batak kristen dan batak islam…
di punguan Ikatan Mahasiswa Batak Semarang, memang pada umumnya kristen semua..
menjelang natal pasti selalu timbul permasalahan gereja mana yang akan dipakai. Biasanya memang gereja HKBP Semarang Barat, tapi tahun 2008 kemarin anggota yang dari batak karo dan Simalungun merekomendasikan di GKPS atau GBKP dan anggota yang sebagian besar batak toba kurang setuju. Mereka memberikan argumen bermacam-macam entah itu benar aku tidak tahu.
Dari kami yang kecil dan anak muda ini bibit2 perpecahan itu sudah ada, apalagi bagi orang tua yang sudah begitu lama terjebak di dalam lingkaran setan tentang perpecahan di antara sesama orang batak.
Jadi usulkan tunggu dibantai dulu kita orang batak ini agar bisa bersatu.
Suamiku dulu di IPB, dia bilang mahasiswa asal Sumut-lah yang paling banyak ikatan mahasiswanya. Ada Himatob, Himatapsel, tapi juga ada himpunan mahasiswa asal Medan. Lalu mahasiswa mana yang paling kompak? Mahasiswa Sulsel. Mereka rukun tinggal dalam satu asrama, meski berbeda etnis dan agama.
Karenanya ketika kami mendengar kabar dari teman-teman di Sulsel, bahwa ketidaksetujuan etnis Toraja berkenaan dgn penerapan syariat Islam di Sulsel, bisa diselesaikan baik-baik di meja perundingan, hal itu tidak mengherankan. Setidaknya terlihat dari kompaknya mahasiswa mereka di perantauan.
Sementara mahasiswa asal Sumut? Yah, mungkin sudah dari sononya mereka lebih suka mengusung perbedaan ketimbang persamaan, dan hal itu terbawa terus hingga sekarang