Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Dengan atau tanpa demonstrasi yang memakan korban nyawa kemarin, maaf seribu maaf, saya tetap tidak setuju pembentukan propinsi Tapanuli. Ya saya ulangi: saya tidak setuju Sumatera Utara, propinsi kelahiran dan kebanggaan saya dicabik-cabik untuk sebuah alasan yang menurut hemat saya benar-benar tidak rasional.
Emangnya siapa saya?
Ya saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang warga negara Indonesia, seorang pendeta kecil di HKBP pulak, dulu lahir dan besar di Medan Sumatera Utara, dan kini tinggal di Serpong Banten. Saya bukan calon apalagi anggota legislatif terhormat, bukan juga pengusaha atau pejabat yang punya uang dan kuasa, bukan juga tokoh masyarakat yang bisa menguasai umat. Saya orang biasa-biasa saja dari kalangan kebanyakan. Namun menurut saya, sebagai seorang yang lahir dan besar di Sumatera Utara, Batak, saya juga berhak mengomentari tentang ide memecah Sumatera Utara menjadi beberapa propinsi yang salah satunya hendak dinamakan Propinsi Tapanuli. Pertanyaan: mengapa saya tidak setuju Sumatera Utara dipecah?
Pertama: Sumatera Utara adalah cermin Indonesia. Ya menurut saya propinsi Sumatera Utara adalah miniatur proyek besar yang belum selesai yang bernama Indonesia. Kita tahu Indonesia adalah kumpulan suku, ras dan agama yang telah dan sedang berproses menjadi negara dan bangsa. Dalam hal keragaman Sumatera Utara sungguh sangat mirip Indonesia. Mungkin selain DKI Jakarta, Sumatera Utaralah propinsi yang paling majemuk di Indonesia: multietnis, multi ras dan multi kultural. Namun sebagaimana Indonesia bisa rukun damai maka penduduk Sumatera Utara juga hidup damai dalam kepelbagaiannya itu.
Di Medan, dan di berbagai kota di Sumatera Utara, saya tidak pernah merasa sebagai orang asing. Di Sumatera Utara sepanjang pengetahuan saya tidak ada kerusuhan berdasarkan agama. Di Sumatera Utara juga, terutama di Medan dan kota-kota lain propinsi hebat ini, hampir tidak ada penyekatan wilayah berdasarkan suku atau agama. Bagi saya yang mempunyai ayah berasal dari puak Batak Angkola namun beragama Kristen dan ibu campuran bermarga Silindung namun besar di Toba, maka pluralisme Sumatera Utara sangat klop dengan jiwa. Apalagi sekarang saya mempunyai kakak ipar dari Ambon dan Jawa serta Karo juga. Ditambah lagi istri saya Siregar asal Muara namun memiliki kota kelahiran Palembang, Sumatera Selatan.
Sebab itulah memecah-mecah Sumatera Utara berdasarkan pembagian suku (Batak Toba, Karo dan Simelungun, Angkola dan Mandailing, serta Melayu) maaf, adalah langkah mundur jauh ke belakang. Dahulu itu adalah permainan politik pecah-belah atau divide et impera penjajah Belanda. Namun kini digunakan oleh para elit politik untuk agenda-agendanya sendiri. Sama saja celakanya.
Kedua: alasan saya menolak pemekaran Sumatera Utara adalah karena ide ini tidak melalui studi kelayakan dan pertimbangan jangka panjang namun cenderung emosional. Silahkan koreksi saya jika salah. Di perguruan tinggi sajakah pernah diadakan seminar dan simposium mengkaji secara mendalam pemekaran propinsi Sumatera Utara dari berbagai disiplin (ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, sejarah dll)? Siapa sajakah ahli yang terlibat dan apa kata mereka?
Alasan yang sering dikemukakan oleh pendukung pembentukan propinsi Tapanuli (sekaligus pendukung pemecahan Sumatera Utara) adalah kesejahteraan. Namun saya tidak pernah membaca hasil pengkajian para ahli bahwa pendapatan masyarakat akan meningkat signifikan bila Sumatera Utara dipecah ke dalam beberapa propinsi. Yang saya tahu hanyalah propinsi-propinsi baru ini mengharapkan kucuran DAU (Dana Alokasi Umum) dari APBN Pusat. Itu saja.
Alasan lain yang sering dikemukakan adalah ketertinggalan Tapanuli (walaupun tak jelas bandingannya dan apa sebenarnya yang menyebabkannya). Alasan yang diucapkan diam-diam di kalangan terbatas: agar orang Batak-Kristen bisa menjadi Gubernur. Oala. Saya bukan ahli politik atau ekonomi. Sebagai awam saran saya hanya satu: lakukanlah simposium di beberapa perguruan tinggi di Medan dan Jakarta membahas nafsu pemekaran propinsi dan kabupaten yang sudah tidak terkendali ini. Jika memang dua atau tiga simposium para ahli (yang cool dan non partisan) itu mengatakan dengan jernih Rakyat akan jauh lebih sejahtera jika Sumatera Utara dibagi-bagi maka saya dengan senang hati mengaminkannya. Namun jika itu hanya reka-rekaan belaka dari para elit yang ingin berambisi menjadi pejabat daerah, berdagang tanah, atau mendulang suara di Pemilu 2009 walaupun suara saya sangat lirih dan tenggelam di dalam sorak-sorai massa pendemo maka saya akan tetap mengatakan: TIDAK. Saya tidak setuju pemekaran propinsi tanpa studi kelayakan yang melibatkan begitu banyak pihak. Apalagi tanpa menempatkannya dalam konteks Indonesia dan globalisasi.
Pikiran saya sederhana. Menurut saya Tapanuli (Utara, Selatan, Tengah) bisa makmur tanpa harus menjadi propinsi. (1) dirikanlah sebanyak-banyaknya perguruan tinggi dengan mutu terbaik di Siborong-borong, Sipoholon atau Pangururan atau sekalian di Sipirok. Lebih banyak lebih baik. Hal ini bukan saja membuat perputaran uang di Tapanuli tetapi juga membuat semakin banyak orang berpendidikan tinggal di sana. (2) Buatlah jalan yang lebar mulus (kalau jago lurus) menghubungkan pelabuhan Belawan dan Sibolga. Doronglah agar sebagian ekspor dilakukan dari pelabuhan Sibolga. Sekarang kita tahu jalan darat Medan-Tarutung bisa sampai tujuh atau delapan jam! (3) Seriuslah membangun Tapanuli menjadi sentra peternakan. Doronglah dan bantulah masyarakat mengembangkan sebaik-baiknya peternakan babi, sapi dan kerbau. (4) Masukkanlah sebanyak-banyaknya buku dan komputer ke Tapanuli dan doronglah agar masyarakat mengenal internet. Masyarakat di kampung pasti dengan cepat akan benar-benar sadar bahwa dunia sudah berubah sedemikian hebat dan mereka pun terpacu ikut maju. Beres. Lupakan sajalah propinsi Tapanuli Utara, Tenggara atau Selatan atau Timur itu.
Ketiga: pemecahan Sumatera Utara merugikan orang-orang Batak Kristen. Sudah seabad orang Batak Kristen migrasi ke SumateraTimur dan bahkan ke luar Sumatera. Saya sendiri lahir di Medan tahun 1963. Pembentukan propinsi Tapanuli Utara yang dianggap identik Kristen ini akan sangat berdampak merugikan bagi orang-orang Barak Kristen di luar propinsi itu. Dengan berdirinya propinsi Tapanuli yang “kristen batak” maka orang-orang Batak Kristen di Medan, Tebing Tinggi, Binjai, Sibolga, dan Tanjung Balai akan dianggap warga propinsi kelas dua, penumpang atau pendatang. Padahal selama ini orang-orang Batak Kristen dianggap sesama tuan rumah, pewaris dan pemilik Sumatera Utara. Selama ini tak ada kesulitan bagi HKBP membangun gerejanya di seluruh kawasan Sumatera Utara. Jika nanti propinsi Tapanuli yang “kristen” terbentuk dugaan saya keadaan akan lain. Menurut saya hal inilah yang tidak dipikirkan (tak mau dipikirkan) oleh para penggiat propinsi Tapanuli itu.
Keempat: pembentukan propinsi Tapanuli, hanya membuat orang Batak jaman sekarang semakin introvert atau berorientasi ke dalam. Maaf, kesan saya pembentukan propinsi Tapanuli ini tak ubah pembangunan tugu yang sangat marak di Tapanuli. Maksud saya menghabiskan begitu banyak enerji, waktu dan dana namun sebenarnya tidak fungsional. Yang lebih parah: kebanggaan yang artifisial atau semu. Saya ingin menantang orang Batak terutama yang muda-muda agar kembali mewarisi semangat manombang, mangaranto, manosor yang pernah dimiliki leluhurnya. Jika dahulu TB Simatupang, Cornell Simanjuntak, Amir Syarifuddin Harahap, dan lain-lain berani keluar dari comfort zone atau “wilayah aman”-nya di Tanah Batak, kok generasi sekarang malah, memakai bahasa Medan begitu cuak atau penakut. Apakah orang Batak benar-benar sudah kalah dan tersingkir di berbagai lini nasional dan internasional, sehingga untuk menunjukkan dirinya eksis harus membangun tugu yang bernama Propinsi Tapanuli? Apa hebatnya jika orang Batak hanya bisa jadi Gubernur, Kapolda, Ketua DPRD, atau kontraktor rekanan Pemda di kampungnya sendiri? Maaf, menurut saya inilah masanya generasi muda Batak bangkit kembali. Kuatkan hati. Bangunlah karakter. Lengkapilahj diri dengan berbagai ilmu dan ketrampilan (terutama kemampuan berdagang dan berkomunikasi) lantas bertarunglah di negeri bernama Indonesia ini. Jangan hanya menunggu namun ambillah peran untuk mengisi dan memaknai negara Indonesia berdasar Pancasila ini. Banyak sekali peran yang bisa diambil oleh orang Batak Kristen di negeri ini. Kalau tak bisa jadi Kapolda ya jadi tukang jahit baju Kapolda saja. Kalau tak mampu jadi Bupati ya jadi konsultan Bupati saja. Kalau sulit naik pangkat bikin usaha sendiri saja. Kalau sulit bikin usaha sendiri ya bikin usaha sama-sama saja.
Kalau punya mental yang lebih pergilah ke Malaysia, Hongkong, Arab atau sekalian ke Amerika. Berdaptasilah dengan masyarakat setempat dan kembangkanlah kultur Batak kosmopolitan yang sesuai dengan jaman. Takut? Cuak? Jangan ngaku Batak Kristen pulak lagi.
Horas Indonesia!
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Mengatasnamakan Prop Tapanuli demi kepentingan pribadi,
mudah mudahan tidak terkabuli, dengan malapetaka ini ada bukti
nyata bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, terhindar dari malapetaka
Kutipan salah satu Koran Sumatra:
Setelah pemekaran itu, ada 10 kabupaten/kota yang bergabung ke Protap, yakni Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir, Dairi, Phakphak Barat, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Nias, dan Nias Selatan.
Namun, kini tersisa tinggal empat kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, dan Samosir. Enam kabupaten lain, menyatakan pisah dan malah menggagas pembentukan provinsi Tapanuli Barat. Sementara itu, lima kabupaten eks Tapanuli Selatan mengajukan pembentukan provinsi Sumatera Tengggara, yaitu Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, dan Kota Padang Sidempuan.
Bukti nyata hanya suara segelitintir orang saja.
Terpikir menulis tema serupa namun data yang aku miliki belum selengkap Amang punya. Namun aku setuju penutupnya. Propinsiku Sumatera Utara, kampung halaman orangtuaku di Kabupaten Tapanuli Utara.Meski ada kejadian meninggalnya Ketua DPRD kemarin, aku bangga jadi orang Batak Kristen pulak.
Tulisan yang menggigit Amang, semogalah bapak2 elite politik batak itu membaca tulisan ini. Dan Sadar!!
Setuju atas semua point2 yang amang DTA di atas. Ada kelebihan Multi etnis yang ada di Sumut yang tidak ada di Provinsi lain, yaitu “tidak ada minoritas”. Etnis2 yang ada di Sumut terdistribusi dalam persentase yang berimbang. Betul Sumut adalah miniatur Indonesia yang sesungguhnya.
Pemekaran wilayah harus dilakukan secara konprehensip didasarkan pada semua aspek, seperti keamanan, Ekonomi, Sospol dll dalam konteks Negara Rep Indonesia, bukan berdasarkan basic needs sekelompok etnis atau agama saja.
Saya sangat prihatin dan sedih menonton televisi tadi malam, dan menjadi khawatir bahwa peristiwa demo Medan yang menyebabkan meninggalnya ketua DPRD SUMUT akan memunculkan pertengkaran antara Pakpak-Dairi dengan Toba. Saya berdoa agar pihak kepolisian segera mengusut tuntas peristiwa tersebut. Dan berharap bahwa kebersamaan semua puak Batak tidak terganggu oleh peristiwa yang sangat memalukan itu.
Prihatin sekali.
Mari kita lihat pengalaman beberapa penduduk di kabupaten produk pemekaran dari Tapanuli Utara. Mereka yang akan menjual pinahan di pajak (baca pasar) harus menjual pinahan mereka sembunyi-sembunyi di luar pasar bahkan pinahan tersebut harus ‘di-ompa alias digendong demi menghindari pajak/tax. Hal ini hanya merupakan salah satu contoh bagaimana aparat pemkab di hitaan mencari pemasukan daerah.
Mari kita lihat para pejabat HKBP…apa peran mereka dalam pembentukan PROTAP. Menurut pikiran saya, para pejabat HKBP tidak melakukan atau mencampuri politik bila mereka memberikan masukan yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian dengan adanya PROTAP ini (dan khususnya menyangkut status warga HKBP di luar PROTAP yang kemungkinan akan menjadi warga klas 2 seperti yang dituliskan amang DTA). Tapi yang jelas beberapa oknum pendeta HKBP pro-aktif menyuarakan pembentukan PTOTAP ini.
Mudah-mudahan apa yang terjadi dalam proses pembentukan PROTAP ini pada demonstrasi kemarin merupakan indikasi (na pinatudu ni Tuhan) agar PROTAP ini tidak perlu diwujudkan).
4 point Amang Pendeta yang bisa membuat Tapanuli makmur sebenarnya sudah benar. Persoalannya adalah bagaimana merealisasikannya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada birokrasi “ribet’ di dalamnya. Birokrasi itu akan tetap panjang manakala Tapanuli masih bagian dari SUMUT. Saya asli Tapanuli, saat ini saya menetap di Kalimantan Barat. Saya tidak ada kepentingan kalau ada kucuran DAU dari APBN, andai Tapanuli jadi propinsi. Saya hanya berharap Tapanuli lebih maju. Di kampung saya Desa Sibuntuon, sebuah desa kecil di Kecamatan Balige memang nyaris tidak tersentuh pembangunan. Jika berkenan mohon Amang berkunjung ke blog saya ada tulisan tentang desa kecil saya (http://asaborneo.blogspot.com/2008/12/sibuntuon-balige-nyaris-tak-tersentuh.html). Horas.
Daniel Harahap:
Saran saya: mari mendorong pembangunan perguruan tinggi sebanyak-banyaknya di Tapanuli. Kita panggar-panggarlah pengacara Batak yang kaya-kaya itu membangun Sekolah Tinggi Hukum di Laguboti dan atau di Tarutung. Par-Humbang kan sekarang sudah hebat-hebat. Kita tantanglah mereka bikin Institut Pertanian Siborongborong yang kualitasnya lebih hebat dari IPB. Desak HKBP agar bikin Universitas Munson-Lyman di Lobu Pining, pakai momentum Jubileum 150 Tahun 2011 nanti. Punguan2 marga bantulah SD dan SMP di kampungnya masing2. Jangan cuma pesta dan banyak cakap saja.
Amang, bagaimana caranya tulisan ini bisa sampai kepada mereka (penggagas protap), sebagai respons negatif terhadap pandangan yang mengatakan bahwa dengan “berdirinya Protap akan membawa kesejahteraan”.
Daniel Harahap:
Manalah kutahu caranya Amang. Bapak-bapak penggagas Protap itu kan di langit, aku ada di bumi yang becek.
Saya setuju Sumatra Utara itu merupakan salah satu miniatur Indonesia, karena Sumatra Utara itu terdiri dari multi etnis, agama tapi suasana begitu kondusif.
Kembali ke soal pembentukan provinsi Tapanuli, saya yakin bahwa ini adalah mayoritas aspirasi masyarakat Tapanuli yg tidak bisa dibendung. Buktinya, Gubrnur sdh setuju, Depdagri, DPD sdh melakukan studi kelayakan dan peninjauan ke Tapanuli dan akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa tuntutan pembentukan provinsi Tapanuli murni merupakan aspirasi masyarakat sehingga President memberikan rekomendasi pembentukan provinsi Tapanuli. Kemudian yg menjadi masalah adalah DPRD Sumut tdk pernah mau memparipurnakan hal tersebut dalam sidang dewan dgn berbagai macam alasan. Jadi ibarat kata DPRD Sumut itu seperti banci sikapnya tdk jelas. Kalau mereka menghargai aspirasi masyarakat Tapanuli, silahkan lakukan sidang, sampaikan hasilnya setuju atau tdk setuju, titik.
Terlepas setuju atau tidak setuju pembentukan provinsi Tapanuli, saya lebih yakin pemekaran wilayah itu bertujuan untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Tapanuli. Ibarat mengurus keluarga, apapun alasannya lebih mudah mengurus rumah tangga kecil daripada rumah tangga ug besar. Memang benar, dalam hal pembentukan provinsi Tapanuli harus diakui pasti ada ambisi/kepentingan golongan atau kelompok tertentu baik dalam hal ekonomi maupun politik. Sudah hal biasa kalau ada madu atau gula pasti datang semut.
Saya juga tdk setuju dalam hal pembentukan provinsi Tapanuli masalah SARA dibawa2. Kalau provinsi Tapanuli terbentuk tdk ada larangan bagi suku, etnis, agama lain untuk tinggal dan menjadi penduduk tapanuli. Bukankah mayarakat Tapanuli itu merupakan masyarakat yg demokratis dgn adat Dalihan Natolunya? Lagi pula selama ini agama, suku maupun etnis lain sdh banyak yg menjadi penduduk Tapanuli toh tdk ada yg menggangu dan mereka bebas mencari nafkah di Tapanuli. Adakah pengrusakan maupun pelarangan terhadap rumah ibadah agama lain di Tapanuli ? Inilah salah satu contoh demokratinya masrakat Tapanuli.
Yg terpenting, kalau provinsi Tapanuli terbentuk harus benar2 pintar menetapkan system dan memilih pemimpinnya. Kita harus belajar dari Negara kita sendiri dimana sistymnya kacau dan pemimpinnya bla… bla, sehingga negeri ini salah urus dan akhirnya kita lihat sendiri apa yg terjadi. Kemerosotan sosial ekonomi, politik, pertahanan. Saya pribadi sangat yakin cepat atau lambat suatu saat di negeri ini akan terjadi Balkanisasi.
Daniel Harahap:
Numpang tanya: apakah Universitas Sumatera Utara, Universitas HKBP Nommensen, atau Universitas St Thomas sudah pernah melakukan pengkajian mengenai gagasan Propinsi Tapanuli? Apakah para ahli (sosiologi, antropologi, sejarah, ekonomi, politik, teologi) sudah pernah melakukan simposium tentang untung-rugi pemekaran Propinsi ini? Jika belum, kita tunda sajalah ide ini sepuluh tahun agar semua berpikir jernih lagi.
Amang Pendeta yg sangat saya hormati!
Tentang perguruan tinggi, ya kalau HKBP tak mau kita dorong saja orang2 HKBP yang berduit melakukannya. Bukankah sudah ada contohnya Politeknik Del binaan Pak Luhut Panjaitan di Laguboti. Kita panggarlah agar pengacara2 Batak yang hampir mahakaya itu mau membangun Sekolah Tinggi Hukum di kampungnya.
Bagaimana caranya mendorong HKBP mendirikan Universitas Munson Lyman, mengurus Universitas Nommensen saja tdk becus, makanya mahasiswanya berantam melulu. Bagaimana caranya mendorong HKBP mendirikan Universitas Munson Lyman sedangkan untuk membuat laporan transparansi ke jemaatnya saja tdk sanggup (tdk mau) ?
Daniel Harahap:
Itulah tugas kita Amang. Tentang sistem keuangan HKBP Pusat yang rapih dan akuntabel saya dengar dan lihat sedang disusun. Kita doakan dan dukunglah.
Ketiga: pemecahan Sumatera Utara merugikan orang-orang Batak Kristen.
Saya, kristen angkola di tanah angkola padangsidimpuan, darah asli saya angkola di Saipar Dolok Hole perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan, dan kebetulan kerja di instansi pemerintah daerah.
Apakah mereka-mereka para penggagas protap tahu bahwa ketika provinsi itu belum terbentuk, kami-kami disini sudah harus berjuang dua kali lipat dibanding teman-teman kita yang lain untuk dapat setara. Konon lagi kalau protap sudah ada, dan menyusul prosumteng, alhasil kami seolah-olah menjadi orang-orang yang seharusnya tidak disini. Apakah mereka tahu sinisme yang disampaikan ke kami-kami ini dalam berbagai kesempatan dengan mengatakan siap-siaplah untuk mutasi kesana?
Bahwa kepentingan pembentukan provinsi tapanuli janganlah dianggap semata-mata kepentingan kawan-kawan disana. Perhatikan dampak sosiografi dengan kami-kami di tapanuli selatan itu. Mari kita tolak segala-sesuatu yang namanya pemekaran atas dasar primordialisme, kesukuan, dan pandangan sempit lain-lainnya itu. Tak betul semua itu……….
Tidak ada yang salah dengan ide pembentukan provinsi Tapanuli, seperti juga tidak ada yang salah dengan ide pembentukan negara federal. Yang salah adalah jika ide itu dipaksakan perwujudannya sebelum melalui sebuah proses pengkajian yang mendalam dan melibatkan partisipasi publik. Dan, menjadi sangat salah jika ide itu dipaksakan perwujudannya dengan cara kekerasan, kecuali jika kebebasan mendiskursuskan ide itu dimatikan dengan kekerasan. Kita harus ke luar dari “comfort zone”. Itu berarti berani menggagas sesuatu yang baru yang, tentu saja, tidak asal baru supaya tidak jadi ngawur. Silakan tiap orang mengemukakan gagasan dan mempersilakan orang lain menanggapinya. Inilah demokrasi!
Saya lahir dan besar di Sumatera Timur. Nenek moyang saya berasal dari Tapanuli. Sebagian saudara-saudara saya seompung masih tinggal di Tapanuli. Saya hormat pada mereka yang mau memikirkan bagaimana menyejahterakan saudara-suadaranya yang miskin di Tapanuli. Tidak melakukan apa-apa terhadap sebuah fakta di depan mata, yakni kemiskinan orang-orang yang tinggal di Tapanuli, saya kira perbuatan tidak bermoral. Masalahnya, apakah pembentukan provinsi adalah jalan yang tepat dan satu-satunya untuk menghapus kemiskinan itu?
Pak pendeta sudah mengemukakan pendapatnya. Saya ingin membaca pemikiran pihak yang setuju pembentukan provinsi Tapanuli. Biarkan proses pertukaran-pikiran ini berjalan meski pada akhirnya tak berujung. Setidaknya kesadaran kita dibangkitkan atas problem yang dialami daerah-daerah di Tapanuli.Tapi, janganlah sekali-sekali membawa parang, main pukul, apalagi sampai membuat sesama kehilangan nyawa, ketika pertukaran-pikiran itu berjalan. Tabik!
setuju amang…..
propinsi saya juga sumatera Utara.
ga ada propinsi lain…
Daniel Harahap:
Sebenarnya maksudnya propinsi kelahiran saya.
Propinsi tempat saya berdomisili sekarang: Banten na uli.
Ternyata Euforia reformasi kebabalasan masih hadir di tengah-tengah masyarakat kita, banyak orang ingin memisahkan diri dari komunitas yang sudah eksis lama, banyak orang tidak sabar dengan proses. Marilah kita renungkan kembali keinginan membentuk PROTAP, pikirkan matang-matang keuntungan dan kerugiannya, jangan rakyat jadi makin sengsara nantinya.
Daniel Harahap:
Mari kita dorong para ahli dari berbagai ilmu melakukan simposium. Kalau perlu simposiumnya dilakukan di propinsi kedua orang Batak di Jerman sana. Asa ngali jala godang bir. Sori bercanda.
well done, amang pendeta!
kita harus tiru kerja keras dan ketahanan cina dan jahudi dalam mewujudkan cita-citanya. diam-diam dan berbaur dengan dunia, tapi sudah menguasai dunia.
kalau saya tak bisa, saya akan mendidik anak saya untuk lebih bisa bersaing dan bergaul, dan mempelajari kegagalan bapaknya mewujudkan impiannya
lupakan saja wacana itu,
kalau memang mau membela rakyat tapanuli, mendingan dana buat protap itu dijadikan kredit mikro buat petani, buat mega proyek menanam bawang, cabe, jagung, padi besar2n n ekspor ke luar negri udh sejahtera negara kita..
Menurut saya amang PROTAP sangat baik, tapi kurang baik karena sudah makan korban. Tuhan memanggil umatnya kesisiNYA Bermacam cara mungkin dah itu azalnya. Menurut saya Propinsi tidak ubahnya dengan api unggun di musim dingin siapa yg paling dekat itu yg mendapat kehangatan. Mudah mudahan saya salah tafsir, tapi kenyataan dan fakta di indonesiaku masih seperti itu.
Ah… pembentukan Protap kan hanya keinginan segelintir orang yang punya ambisi besar menjadi raja kecil alias jago kandang, tetapi dengan gampangnya mengatasnamakan rakyat. Rakyat mana yang dimaksud? Yang jelas bukan saya.
Saya setuju dengan “solusi” yang diberikan amang agar bisa makmur tanpa harus menjadi propinsi, terutama point 4
“Masukkanlah sebanyak-banyaknya buku dan komputer ke Tapanuli dan doronglah agar masyarakat mengenal internet. Masyarakat di kampung pasti dengan cepat akan benar-benar sadar bahwa dunia sudah berubah..”
Kalau pemerintah belum sanggup melakukannya mari galakkan dan wujudkan nyatakan program “gadong manginsir” nya amang DTA
Btw, uda berapa orang amang anggota “gadong mangsinsir”? untuk saat ini aku baru bisa dukung dalam doa.
Daniel Harahap:
Untuk yang terakhir, saya mohon maaf, ada penjadwalan ulang. Ini hutang yang belum saya bayar.
Menurut saya ada dua hal yang memiliki pengaruh cukup besar dalam diri orang Batak Kristen yang ingin memekarkan propinsi sumatera, yakni Reformasi di pemerintahan Republik Indonesia dan di tubuh HKBP. Di pemerintahan, dengan dikeluarkannya Otonomi Daerah maka beberapa propinsi memekarkan diri seperti propinsi Riau, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dll. Di tubuh HKBP juga banyak bermunculan ressort baru pasca rekonsiliasi.
Rencana pemekaran propinsi Sumatera Utara merupakan bukti bahwa orang Batak berhak dan mampu mengatur rumah tangganya sendiri. Meskipun sedikit tertinggal dari propinsi lainnya dalam hal pemekaran propinsi. Sebab jika dibandingkan suku-suku lainnya yang dari luar P. Jawa, suku Batak adalah suku yang paling sering duduk di setiap kabinet pemerintahan mulai dari pemerintahan orde lama hingga ke pemerintahan saat ini.
Jadi jika melihat kenyataan tsb, maka sudah seharusnya orang Bataklah yang menjadi perintis dari pemekaran sebuah propinsi.
Cuma sangat disayangkan karena sudah sejak zaman hasipelebeguon(penyembahan berhala / animisme) orang Batak itu suka berantem, maka tidak heran jika keributan terjadi di gedung DPRD Sumut meskipun orang Batak sekarang sudah beragama Kristen atau Islam. Sampai ada nyawa yang melayang lagi ! Penyebabnya adalah orang Batak sangat berat sekali meninggalkan habatahonna meskipun sudah beragama.
setuju kalau ada perkembangan di SUMUT. tapi lebih tidak setuju lagi jika Tapanuli menjadi suatu propinsi baru. adanya hal ini dapat mengakibatkan perpecahan dan kita akan menjadi semakin mundur lagi ke belakang.. adanya wacana ini hanya akan membahagiakan kepentingan sepihak, yaitu para kaum elite politik saja…dengan apa yang diungkapkan amang DTA, saya sangat setuju.. SUMUT adalah bagaikan Indonesia mini, dan jauh dari konflik…oleh karena itu daripada membuat propinsi baru, lebih baik memikirkan bagaimana SUMUT semakin aman dan kondusif, dan banyak orang dari dalam dan luar negeri mau datang ke SUMUT yang kita cintai…
HORAS!!!!!!!
Menteri Dalam Negeri Mardiyanto: “Pada 2025, mungkin ada 40 propinsi di Indonesia”. (Harian Tempo tanggal 5 Februari 2009, Halaman A2). Diungkapkan menanggapi maraknya keinginan pemekaran wilayah di Indonesia, khususnya mencuat setelah kasus kematian Ketua DPRD Sumut akibat demo pembentukan ProTap. Ditambahkan lagi, saat ini mereka sedang merumuskan grand design pemekaran wilayah. Walaupun ada beberapa daerah sudah jadi propinsi dari semula 27 propinsi saja di masa ORBA (seolah-olah tanpa desain), namun ada sisi positif yaitu dengan pemekaran wilayah yaitu stimulus fiskal bergerak lebih baik.
Mari berkeinginan seperti A atau B, tapi fakta yang terjadi di lapangan harus kita terima dengan lapang dada. Untuk ini saya berbeda pendapat Amang, saya setuju dengan pembentukan Propinsi Tapanuli. Hidup Tapanuli! Kalau belum siap, mari kita siapkan. Reformasi memang membutuhkan waktu dan pengorbanan (saya kutip dari para reformator terdahulu.) Dalam reformasi pun, tidak dapat dipungkiri akan ada orang-orang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan pribadi (dengan mengaku-ngaku reformis). Tapi, perubahan harus dilakukan. Ada satu hal penting, kita jangan sekedar melihat ada kue-kue dari Jakarta sedang dibagi-bagi, kalau tidak diambil maka kita tidak akan kebagian.
Marilah kita doakan setiap orang yang telah mengambil peran. Berdoa kepada setiap orang yang sudah ditempatkan diposisinya masing-masing, ada yang mengurusi pemerintahan, ada di bisnis, ada di kerohanian, dan seterusnya, agar diberi TUHAN hati bijaksana. Saya yakin, kekawatiran kita dapat berkurang apabila kita yakin dan mempercayai orang-orang yang berada di posisinya (di tempatkan TUHAN) berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Terakhir, saya juga salah satu dari kelompok yang ingin Indonesia menjadi lebih baik. Peace.
Betul sekali semua yang lae ungkapkan itu. Saya sendiri kurang setuju dengan berdirinya Provinsi Tapanuli, yang konon lagi sekarang hanya di isi oleh 4 Kabupaten [Kabupaten kecil-kecil pulak itu...]
Mereka yang ingin memaksakan kehendak, para buratlisme itu, selalu mengatas-namakan ‘pengentasan kemiskinan Tapanuli’ – Kemiskinan yang mana? Bukankah orang Batak kaya-kaya & pintar-pintar semua? Kenapa gak rame-rame saja membangun bonapasogit biar namboru, nantulang, inanguda dsb, bisa terentaskan kemiskinan mereka, kalo ini yang menjadi alasan.
Yang konyol buat saya; mereka mau mengentaskan kemiskinan. Lho, ketika mereka duduk sebagai anggota dewan di DPR atau DPRD provinsi, kenapa tidak berjuang untuk pembangunan di Tapanuli? Suarakan dong aspirasi rakyat huta kita itu.
Maka jelaslah terlihat, bahwa ngototnya pemekaran adanya ProTap hanyalah demi keuntungan segelintir orang yang serakah.
Coba kita berpikir; Yang disebut TAPANULI itu yang mana sih? Apakah cuma ke-4 Kabupaten itu? Kenapa dulu ada Kab. Tapsel, Tapteng? Maka, semakin nyata bahwa propaganda pembentukan Protap tidak murni aspirasi seluruh rakyat Tapanuli.
Wacana pembentukan provinsi baru, sah-sah saja digulirkan. Namun tetap harus mengkaji efek detail-detailnya demi kesejahteraan rakyat. Jangan cuma memikirkan DAU untuk keuntungan segelintir orang. Nungnga lam DAO be tahu holong masi haholongan i sian bangsoku, Batak i… Ai nga gabe gok preman… Horas ma di hita sude.
Amang… lagi – lagi tulisan yang membuatku kagum
Walau kelahiran Jakarta, tapi darah Batak masih 100% mengalir di dalamku. Setuju! Tidak boleh ada perpecahan di Sumatera Utara dengan tujuan dan dalih apapun.
Ide yang sangat cemerlang, Amang Pdt. Saya tidak lahir dan dibesarkan di Tapanuli. Banyaknya pro dan kontra yang membuat Protap tidak terwujud sampai saat ini. Sesuai dengan berita yang saya baca dan lihat di media tidak ada satupun daerah pemekaran berjalan sesuai dengan prosedur dan aturan, semuanya dilakukan dengan pengeraan Massa besar-besaran – demonstrasi serta pemaksaan kehendak. Kalau tidak demo tidak didengar oleh para penguasa-penguasa negeri ini. Lalu setelah demo, terjadi kekacaun pendemo pasti yang selalu disalahkan dan menjadi kambing hitam. Ada Provokatornya lah, penanggung jawabnyalah, ketuanyalah macam-macam.
Setelah Demo yang menelan korban Ketua DPRD Sumut yang terhormat itu, banyak sekali omongan–omongan yang menyudutkan Protap terutama orang –orang batak yang duduk di partai-partai politik. Disini sangat kelihatan sekali tidak adanya kekompakan orang batak itu. Marilah kita beri dukungan moral bagi mereka yang memperkarsai protap yang sedang ditahan dan dijadikan Tersangka saat ini. Panggar-panggar lah pengacara-pengacara batak ( pinjam kata pdt) yang beken –beken itu agar mau memberi dukungan moral kepada pengurus-pengurus protap. Bagaimanapun mereka teman kita juga. Belum ada kedengaran statement dari yang katanya batak punya system Dalihan Na Tolu dan punya banyak sekali punguan-punguan marga untuk memberi dukungan moral kepada mereka.
Dibalik semua Cita-cita protap itu saya pikir bukan untuk kepentingan mereka pengurus-pengurus protap saja. Mereka rela berkorban materi dan moral untuk protap. Ini mungkin hanya untuk Jati Diri saja.
Daniel Harahap:
Ah, jangan disalahtafsirkan dong. Saya bukan pendukung Propinsi Tapanuli. Yang saya maksud panggar-panggarlah pengacara kaya itu membangun Sekolah Tinggi Hukum di Laguboti, Tarutung atau Parapat. Bukan untuk bikin propinsi!
Turut berduka cita yg dalam kepada keluarga yg ditinggalkan, semoga alm diterima deisisiNya.
Kepada kawan2 yg sdh memberikan komentar diatas, barangkali memiliki saudara penggagas Protap agar menganjurkan membaca secara mendalam tulisan amang ini bila perlu berulang-ulang
Biarkan ide itu lahir dan jangan pernah dibunuh, tetapi biarkan proses waktu yang menentukan. PROTAP adalah cita-cita, tapi kita juga harus memandang secara jernih sampai sejauh mana kemampuannya untuk berdikar , jgn hanya eforia kekuasaan semata, dan HKBP bagian dari integral dari SUMUT, tlg ambil bagian untuk membuat masy agar lebih santun dan legowo, krn HKBP berdiri disana……..
Daniel Harahap:
Kalau propinsi Sumut sudah berhasil dipecah apakah HKBP hanya bagian dari Protap?
Waduh.. kita juga belum satu suara rupanya disini, pasti adalah baik buruknya, positif negatif dari pembentukan protap, menurut aku sih, banyak positifnya disitu, Tapanuli bisa lebih fokus ke pembangunan daerahnya, bukan berarti orang batak ga bisa besaing di luar, ga lah! ga ada itu..
setuju kalau dibuatkan kajian dulu, terus hasil kajiannya bisa disebarkan kepada masyarakat, khususnya yg batak, biar yang diluar bona pasogit juga bisa memahami lebih jernih pokok masalahnya.
Daniel Harahap:
Ya mari kita kaji dengan jernih. Mari kita dorong para ahli (sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dll) mengkajinya secara ilmiah. Dan mari kita desak elit itu agar duduk tenang mendengar pendapat para ahli.
saya setuju dengan tulisan Amang di atas. Menurut saya, tidak perlu ada pemekaran dengan lahirnya Provinsi Tapanuli apalagi kalau untuk memperjuangkannya harus melakukan hal anarkis begitu..
sebagai orang batak yg dinilai sangar, bukankah seharusnya kita membangun citra yg lebih baik walau [tetap] dibilang sangar..?
bukannya membentuk kekuatan yg membabi-buta dengan menghilangkan nyawa orang lain, terlepas dia Ketua DPRD atau hanya rakyat biasa.
sungguh sangat memalukan kalau terbentuk sebuah provinsi yg dikepalai oleh petinggi2 yg dipilih dengan proses seperti itu..
akan sangat lebih baik, sebagai Provinsi Sumatera Utara yg satu, kita berusaha memajukan daerah kita dengan kesatuan yg utuh..
Setuju amang, cuma Sumatera Utara yang harus eksis!
Memang ini hanya kepentingan para elit sendiri, malu kita sebagai orang batak. Kenapa nggak Tobasa, Humbang dan pemekaran kabupaten itu yang dikembangkan dan memiliki daya saing sehingga Tapanuli menjadi bisa mandiri secara perekonomian. Kalo katanya kesejaterahaan rakyat tapanuli, BOHONG besar gagasan ini cuma kesejaterahaan Mereka aja para elit, saya rasa semua sudah pada tahu siapa dibalik semua ini. Sumatera Utara Kebanggaanku…
point 3 & 4 itu harusnya menjadi concern utama bagi yang mendukung proptap ini. karena imbasnya jangka panjang akan membentuk generasi batak yang semakin introvert. itu bahaya. setback total.
Jesus blessed North Sumatera, no others province in North Sumatera. Membangun daerah ga harus memecah belah daerah nya, itu hanya obsesi orang yang tidak pernah BERSYUKUR atas apa yang telah Tuhan Berikan atasnya. Setuju banget amang….MY PROVINCE IS NORTH SUMATERA!!!!!!
YANG UDAH PADA BERHASIL, hayo LIHAT bona pasogit….AYO KITA BANGUN TANPA HARUS MEMECAH BELAH DAERAHNYA……….
Semuanya adalah kekuasaan karena dengan kekuasaan mengandung kenikmatan yang tak ternilai. Kalo jualannya.. aku ingin ada pemekaran supaya bisa berkuasa ya ndak laku. Tapi bilamana membonceng atas nama demi meningkatkan taraf hidup masy dan unsur ketidakadilan membagi kue ya laku donk jualannya.
Memang benar perlu pengkajian lebih dalam apakah sudah laik ndak dibentuk protap tahun ini atau tahun depan atau bbrp tahun lagi. Bagaimana PAD, SDM, sarana-prasarana dll ??
Memang… elit politik lokal ini aja-aja ada. Eforia reformasi dan eforia Otonomi Daerah (Otda) membuat tidak jelas apa sebenarnya yang harus dilakukan.
Itulah… Indonesia …………
Sebenarnya dalam rangka mewujudkan keempat pemikiran pak pendetalah para tim pembentukan Protap ini bekerja yang menurut mereka selama ini pemerintah SUMUT tidak mau membangun Tapanuli itu dengan maksimal. Jika ditunggu orang Batak untuk membangun Tapanuli, maka impian itu baru nyata mungkin tahun 3000-an pak pendeta. Karena orang Batak suka menjadi “Raja” di negeri orang dan tidak mau “Raja” di kampungnya sebab sudah banyak “Raja-raja” di sana yang tidak mau diatur. Tetapi jika Protap terbentuk mungkin menurut saya maka bukan lagi raja yang mau membangun kampung Tapanuli itu tapi atas nama pemerintah begitu mungkin.
Yang jelas di depan mata kita perjuangan mereka telah membawa korban nyawa. Pertanyaannya, apakah pemerintah akan memberikan ijin atas pemekaran ini? Kedua, apakah semangat mereka yang pro pada Protap ini akan semakin bringas jika tidak disetejui atau semakin melemah karena pemimpin mereka sudah ditangkap oleh pihak yang berwajib.
Tapi jangan lupa sudah banyak orang yang berjanji-janji akan memberikan rekomendasi Protap ini pada saat mereka kampanye pemilihan kepala daerah termasuk Gubsu sekarang. Apakah massa Protap mau menagih janji-janji itu?
Horas Tapanuli
Protap itu saya sangat setuju di sahkan karna kita harus melihat kondisi daerah tapanuli dari jaman kejaman masih terbelakang.masih banyak daerah yang terisolir bahkan sepeda aja ga bisa lewat.kita jadi warga batak jangan munafik lah kita lihat.daerah2 lain semua udah pada maju2 jadi tidak ada alasan kita untuk tidak menyetujui protap di sahkan kalau bukan sekarang kapan lagi tapanuli maju.
Tulisan di atas persis seperti pendapat Sabam Sirait dan Akbar Tanjung pada tahun 1998, ketika kami menggagas semacam simposium pembentukan provinsi Tapanuli Utara di Hotel Indonesia. Saat itu Sabam Sirait kesannya menentang namun dengan halus mengatakan belum saatnya dan akhirnya simposium tidak terlaksana. Kalau saya melihat memang ada benarnya apa yang dipaparkan di atas, namun mungkin lebih baik kalau tujuan pembentukan provinsi tapanuli utara bukan karena alasan primordial sempit .Sebagai suatu bekas keresidenan Tapanuli memang ada benarnya pembentukan provinsi dengan tujuan yang lebih holistik dalam mengejar ketertinggalan daerah tapanuli utara.
Sekali lagi saya sependapat dengan tulisan ini namun tuntutan masyarakat Tapanuli sebagai ex keresidenan tapanuli juga berhak menjadi suatu provinsi tapanuli dan tidak ada salahnya. Mengapa provinsi banten bisa berdiri dan papua telah dibagi tiga provinsi dan mengapa tapanuli tidak bisa? Perlu kita ingat latar belakang mengapa dulu pada zaman mbah Harto dibuat 27 provinsi adalah agar mudah untuk kontrol politik, nah sekarang sebagai hasil reformasi masyarakat sudah melek hak dan kewajibannya, dan mengerti hak-hak sebagai suatu keresidenan, itu juga harus kita cermati dengan rendah hati, arif dan bijaksana. Secara pribadi dengan melihat fakta sejarah saya mendukung pembentukan provinsi tapanuli utara asalkan tujuannya untuk percepatan mencapai 8 tujuan pembangunan millenium pada tahun 2015. Saya yakin cepat atau lambat hal itu akan terwujud, mari kita cermati dengan mata iman. Horas Tapanuli.
Daniel Harahap:
Masalahnya tidak semua yang masuk keresidenan Tapanuli jaman dahulu setuju membentuk propinsi Tapanuli. Sibolga dan Tapanuli Tengah saja yang mempunyai Teluk Tapian na Uli (dasar dari nama Tapanuli) sudah mencabut dukungannya. Apalagi Tapanuli Selatan. Ah sudahlah. Saran saya bikinlah dulu simposium di Jakarta, Bandung, dan kalau perlu di Bonn Jerman membahas Propinsi Tapanuli ini. Undanglah para ahli dari berbagai disiplin ilmu melakukan pengkajian dan memperdebatkannya. Jangan hanya percaya kepada bualan para elit politik apalagi makelar tanah.
Amang DTA,
pertama, saya koreksi dulu poin ketiga pendapat Amang “tak ada kesulitan mendirikan HKBP di SUMUT”. Statement itu TAK BENAR (mohon koreksi). Masih ingatkah Amang DTA tentang kasus di HKBP Binjai baru? (kebetulan saya pernah tinggal di Binjai bertahun2).Gereja HKBP yang hampir rampung, mau dirobohkan ‘agama lain’ dan aparat pemkot Binjai. Tolong peristiwa ini dicatat baik2.
Pendapat pro dan kontra tak salah dalam alam demokrasi ini. Di Koran Kompas hari ini, tgl 22/08/06 dibuat seminar untuk membahas protap (saya juga sedang mencari apa konklusi Seminar itu).Tapi saya yakin Seminar itu sukses, maka Gubsu mau tanda tangan rekomendasi Protap. di Kompas hari ini juga dimuat ALASAN UTAMA pendirian Protap yang dikemukakan Prof.DR.Robert Sibarani, salah satu anggota komite penggagas Protap. Beliau cendekiawan, bukan penjilat atau butuh proyek.
Kalau tujuan para pemrakarsa protap itu mulia untuk mensejahterakan rakyat Tapanuli, mengapa kita tidak dukung? Sama dengan modus operandi HKBP, kalau di Jabodetabek saja Distrik harus dimekarkan demi peningkatan pelayanan, mengapa kita begitu alergi bila SUMUT dimekarkan. Kalau ada pendapat yang mengatakan, distrik diperbanyak di Jabodetabek agar pendeta2 HKBP bagi-bagi rezeki, bagaimana? Tapi kita perlu positif thinking. Bila untuk memajukan, pantaslah kita dukung (Distrik di jabodetabek untuk meningkatkan pelayanan, Protap untuk memajukan Tapanuli). Pdt.W.T.P.Simarmata dan Ephorus HKBP Pdt.DR.Bonar Napitupulu, saya baca di hariansib.com mendukung Protap, bahkan di acara tertentu mendoakannya agar segera terwujud.Apakah Ephorus kita dan mantan sekjen itu begitu bodoh untuk mendukung Protap? Info yg saya dengar dari seorang pegawai di kantor GUBSU, yg notabene ruas HKBP, banyak anggota DPRD Sumut yang muslim tak mendukung Protap karena mereka sangat khawatir perkembangan pesat kekristenan di Protap nantinya. Sumber itu juga berkata, pemerintah Jerman dan USA akan memberikan bantuan bermilyar dollar untuk memajukan Protap dalam segala bidang, jika Protap terwujud. Gubernur SUMUT udah tandatangan setuju/rekomendasi Protap, DPR udah beri lampu hijau (baca Kompas kemarin), tinggal DPRD Sumut saja yang jadi ganjalan (pinjam istilah koran “sikap DPRD SUMUT abu-abu”). Arogan banget tuh DPRD Sumut !
Saya menyesalkan jatuhnya korban jiwa, sang Ketua DPRD.
(mengapa dia tdk kabur seperti anggota dewan lain, ketika dilihatnya massa beringas masuk ke ruang sidang? Apakah dia mau dianggap pahlawan menemui massa anarkis? Kok mau mati konyol berhadapan dgn massa, apalagi dia sadar dia punya penyakit jantung.Kalau punya penyakit jantung, jangan dekati ‘pemicu’nya).
Tapi saya juga tak habis pikir, memang kadang di negara kita ini, sudah ‘ngamuk’ dulu baru semua sadar. Pengusaha baru mau berunding setelah buruhnya merusak pabrik. Pimpinan HKBP baru mau membuat Pokja untuk menyelesaikan kasus2 di HKBP, sesudah jemaat HKBP di Bdg yg merasa dipinggirkan demo di Sinode.(itupun belum ada progres repotnya). Gubernur DKI marah besar dulu baru walikota Jakpus serius membenahi Monas. Di gereja kami, ketika Rapot Huria akhir Desember lalu; sesudah tokoh ruas marah barulah pendeta resort agak transparan tentang keuangan. Masih itu Indonesia kita….
Daniel Harahap:
Di Sumatera Utara ada ratusan HKBP namun hanya satu yang bermasalah dengan lingkungan, yaitu HKBP Binjai. Itupun sudah beres. Kita boleh saja berbeda pendapat. Memang dahulu ada seminar tentang propinsi Tapanuli tapi apa hasilnya? Setahu saya para ahli termasuk antropolog tidak merekomendasi pembentukan propinsi Tapanuli. Tolong koreksi saya jika salah. Jika Prof Robert Sibarani menjadi penggiat propinsi Tapanuli boleh-boleh saja, tetapi dalam kapasitas apa?
HKBP melakukan pemekaran distrik justru ikut-ikutan pemekaran kabupaten dan propinsi. Apa akibatnya? Salah satu kesulitan uang Pusat sekarang adalah karena terlalu banyak distrik yang harus dibiayai. Jadi jangan dibuat contoh.
Pemerintah Jerman dan AS mau membantu Propinsi Tapanuli? Emangnya Obama itu Batak, kalau ya marga apa?
Salam hangat untuk kita semua, terutama untuk tuan rumah yg merupakan Owner rumah kecil ini.
Beberapa waktu yg lalu, rumah metmet ini membuka lowongan untuk pemimpin Indonesia masa depan. Untuk posisi itu saya sangat tdk berminat dan tidak tertarik sama sekali, karena bagi saya hampir mustahil untuk memakmurkan negeri ini karena sdh sempat menderita penyakit yg super kronis, bukannya saya pesimis tapi rasional.
Tapi Kalau Provinsi Tapanuli jadi terbentuk, dan dicari seorang pemimpin yg bisa memajukan Provinsi Tapanuli, saya sangat siap maju menjadi seorang pemimpin muda yg berani, lugas, visioner. Dan kelak jika Provinsi Tapanuli tdk lebih baik daripada ketika bergabung dgn Provinsi Sumatra Utara, saya siap mundur.
Kenapa saya katakan seperti itu? karena saya sdh menghitung, mengamati, dan menyimpulkan orang Batak itu mayoritas Baik, Pintar, mudah diatur yg penting kita tau resepnya. Sadar atau tidak sadar, justru kita sering membuat kita jelek dgn membuka aib kita sendiri.
Mengajukan Provinsi Tapanuli sih boleh boleh saja tetapi tidak dengan cara seperti itu, Kasihlah yang melandasi dan yang menjadi napas kehidupan kita tetapi kalau kejadiannya seperti itu, di mana kasih kita itu? kalau kita sudah kehilangan kasih itu berarti sama halnya dengan kita sudah mati. Memang selama ini mungkin karena jauhnya Ibu kota propinsi Sumut ke kabupaten yang dituntut menjadi Protap tersebut sehingga banyak kegiatan yang seharusnya dilakukan di kabupaten tersebut malah dialihkan ke kabupaten yang dekat dengan ibu kota provinsi, sehingga jika pemangunan itu harus memilih maka kabupaten yang dekat dengan provinsilah yang akan dipilih untuk dibangun, wajar saja karena kabupaten yang dekat dengan provinsi tersebut bagaikan wajah dari provinsi tersebut. Secara teori memang hal itu tidak benar tetapi realita, itulah yang terjadi. Ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak realita yang tidak dapat dilihat dengan mata tetapi dengan hati nurani.
Saya bukan termasuk orang yang menggagas protap tetapi sewaktu saya bertugas di Tapteng pernah terbersit di hati saya, alangkah jauhnya saya mengambil gaji saya yang sedikit di provinsi, gaji yang pada tahun 1993, sebesar 110.000 ; dengan ketentuan gaji tersebut harus diambil di ibu kota propinsi karena saya adalah pegawai negeri yang ditempatkan di provinsi tetapi dipekerjakan di Kabupaten sementara untuk mengambil gaji tersebut saya harus memakai waktu satu hari dua malam. Berangkat malam dari Sibolga dan kembali malam berikutnya, sangat tidak efektip dan efisien membuat saya tidak bisa bekerja produktif. Pada akhirnya saya pasrah di dalam Tuhan, Syukurlah permohonan saya dikabulkan Tuhan untuk pindah ke Jakarta, karena apapun keberatan dan permohonan saya tentang pengambilan gaji saya tidak ada artinya. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang orang yang mengasihi Dia.
Satu hal yang mungkin harus kita ingat adalah yang menjadi penguasa adalah Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga kepada kita semua pihak, baik yang memohon Protap ataupun yang berhak menyetujuinya ataupun yang kontra apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat mari kita uji dan tanyakan “ Apakah itu sudah sesuai dengan kehendak Tuhan? Sebab hanya dengan takut kepada Tuhanlah kita bisa sejahtera, dan biarlah Allah Yang Maha Kasih yang meluruskan semuanya di dalam Damai Sejahtera Tuhan, sehingga hal tersebut tidak terulang lagi di manapun.
Sibolga pada akhirnya mencabut dukungannya karena mereka tidak setuju jika ibukota calon propinsi Tapanuli berada di Siborongborong. Karena Sibolga berada di tepi pantai, maka lebih tepat memang jika Sibolga yang menjadi ibukota calon propinsi Tapanuli. Sebab hal itu merupakan pintu utama bagi arus perdagangan domestik maupun internasional. Itu sebabnya sebagian besar ibukota dari sebuah propinsi atau negara pada umumnya berada di tepi pantai.
Alai nang pe songon i ndang adong masalah di hami par Silindung didia do peakhon ibukota ni propinsi Tapanuli na naeng ro. Baik di Siborongborong manang di Sibolga ndang adong masalah di hami par Silindung. Alana kedua inganan i nga jumonok tu hutanami molo pinabandinghon sian Medan.
Daniel Harahap:
Jangan pakai kata “hami” tetapi “saya”.
Horas …..Tapanuli , Horas Sumatra Utara, Mari tetap bersatu.
Hati hati dengan propaganda propaganda yang tidak bertanggung jawab yang mengatassnamakan demi kemakmuran Tapanuli.
Berbicara masalah kemamkmuran ini kembali kepada pribadi , pola fikir, motivasi dan Tujuan Akhir kita apa sebagai Orang Tapanuli.
Mau maju?, mau Menjadi orang orang Modern?, Tidak harus menjadikan kita terkotak kotak, Biarlah Tapanuli punya nama kesatuan hanya Tapanuli saja, yang tetap dibawah Teritorial Prop. Sumut.
Melihat karakter kita sebagai orang Batak yang mempunyai reaksi emosional yang cepat dan relatif tinggi, kita mestinya hati hati dalam menyikapi sekaligus dalam mengambil keputusan untuk mengambil tindakan dalam pemekaran ini. Rasa was was harus tetap kita pertimbangkan, menurut saya dengan kita paksakan Tapanuli menjadi Propinsi, apakah memang sudah siap?, hati hati, …alangkah sayangnya apabila kita melihat kemajuan orang orang kita (Batak ) saat ini, Jangan jangan ini adalah propaganda /strategi yang lain untuk mencoba melahirkan perpecahan diantara orang Batak karena ada orang orang yang sirik terhadap kemajuan orang batak. Karena kalau kita perhatikan bahwa orang Batak sekarang ini sudah banyak yang maju dan termasuk pemegang kebijakan dalam menjalankan pemerintahan di Negara kita yang kita cintai ini.
Yang kedua mungkin perlu dipertimbangkan juga, bahwasanya kita ini adalah kaum minoritas di negara kita ini, tapi mempunyai pengaruh yang bisa dipertimbangkan, maka orang /suku lain akan senang apabila ada perpecahan diantara kita, terlebih kita harus mengeluarkan diri dari Propinsi SUMUT, yang Nota bene bahwa orang Batak sangat diperhitungkan di Propinsi ini.maka akan dengan mudah untuk membatasi pergerakan Orang Batak itu sendiri.
Baiklah kita merenung sejenak apakah kita sudah siap menjadi Prop Tap, baik dari sisi , Mari kit kalkulasikan dan perbandingkan dari segala sefi, Keuangannya , human Resourcesnya, Apakah yang selam ini , selam kita menjadi warag Prop Sumut tidak merasa nyaman?
Memngnya kalo TAput sudah menjadi Propinsi, sdh bisa menjamin kemakmuran seperti yang didengung-dengungkan selama ini, Apa sih yang bisa kita andalkan. Kalo kita perhatikan kondisi alam yang ada sekarang ini, sudah sampai dimana , banyak lahan lahan yang tandus , kosong melompong , tidak terjamah sehingga tidak menghasilkan apapun bagi warganya. Sudahlah lebih baik kita bekerja dengan giat, gak usah peprduli sama yang namanya politik politik gadungan itu, Makanya jangan terlalu banyak nongkrong marpollung di lapo itu, perhatikanlah sawah , tobat, dan ladang ladang kita itu. Itu lebih penting dari pada nimbrung manggulut “NA SO ADONG”. Hati hati….waspada,……banyak yang tidak suka dengan kemajuan orang Batak. Pastilah saudara saudara kita yang kantoran merasakan . ” Sudah Orang Batak Kristen pula ” Masih ingat perkataan ini Kan? Hati – hati…… Jangan sampai kita terpecah tetaplah satu, bahwa Orang Batak adalah orang Sumatra Utara, Horas Medan.
Kalau Propinsi Tapanuli ini disetujui oleh Pemerintah , jangan berbangga dulu justru kita harus siap menhadapi permasalahan yang sangat besar, dan akan menjdi PR yang mungkin tidak akan pernah terselesaikan. Ingat kajadian Perpecahan HKBP dulu? Banyak yang dikorbankan. Itu baru baru dari sisi gerejanya, dari sisi yang lain siapa yang tau? Oleh karena itu Berhatihatilah. Mari Cooling Down dulu, Serahkan kepada Tuhan kita biarlah Dia yangg berperkara dalam hal ini.
Sekali lagi Horas Tapanuli…Horas Sumut.
Trimakasih Amang DTA atas diangkatnya Topik ini, semoga Orang orang Batak dimanapun berada terbuka fikiranya dan mampu memahami ini semua.
Turut prihatin atas jatuhnya korban ( meninggalnya Ketua DPRD Sumut ).
Gagasan dan persiapan pembentukan Propinsi Tapanuli sudah lama ada , sudah lebih sepuluh tahun. Sudah melalui seminar-seminar, forum diskusi, rapat kecil, sosialisasi, maupun rapat raksasa ( rapat massal ). Gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli di dasari rasa / keinginan memajukan daerah Tapanuli , karena kekecewaan terhadap lambatnya pembangunan daerah di segala bidang, kesulitan ekonomi masyarakat tapanuli, tidak didengarnya tuntutan masyarakat Tapanuli mengenai Indorayon / Toba Pulp Lestari, dll. Ingin Bukti ? : Berkunjunglah ke daerah-daerah di Tapanuli , lihatlah , kemajuan pembangunan apa yang anda temukan dibanding dua puluh tahun lalu ?
Usulan Propinsi Tapanuli tidak ada hubungannya dengan HKBP, tidak ada hubungannya dengan isu agama. Masyarakat di Tapanuli tidak mengenal issu SARA.
Semua itu didasari kekecewaan terhadap sangat lambatnya pembangunan. Kita para perantau hendaknyalah lebih berhati-hati memberi komentar, karena disana suasana sedang panas dan mulai memuncak.
Saran saya : jangan di halang-halangi terbentuknya Propinsi Tapanuli.
Daniel Harahap:
Beritahukanlah kepada saya dan pembaca Ruma Metmet yang lain dimana saja pernah diadakan seminar mengkaji gagasan propinsi Tapanuli! Dan siapa saja ahli yang terlibat di dalamnya dan apa hasilnya. Setahu saya hanya ada satu seminar dan itupun para ahli TIDAK merekomendasi gagasan pembentukan propinsi Tapanuli karena akan menimbulkan perpecahan di daerah-daerah luar Tapanuli namun banyak orang Batak Kristen menetap dan berkarya.
Propinsi Tapanuli tidak ada hubungannya dengan agama? Ah yang benar.
Lantas mengapa menolak Sibolga dijadikan Ibukota. Jika ibukotanya di Padang Sidempuan apakah yang Batak-Kristen mau? Sebaliknya apabila di Siborong-borong apakah yang Batak-Islam mau? Menurut saya lmotif-motif tersembunyi dibalik gagasan propinsi Tapanuli harus dibuka kepada publik. Membuat suatu propinsi “batak kristen” (otomatis menghasilkan propinsi lain “batak-islam” atau “melayu-islam” sangat berbahaya. Taruhannya luar biasa besar. Masyarakat Sumatera Utara yang selama ini tidak mengenal penyekatan wilayah berdasarkan suku dan agama akan mulai mencobanya. Dan akan ada saja orang gila yang bisa memanfaatkannya untuk membuat kerusuhan ala Ambon. Siapa mau? Saya jelas tidak mau.
Siapa bilang pemecahan Sumut tidak berhubungan dengan HKBP? Langsung tidak langsung pasti berhubungan dengan HKBP. Ada ratusan gereja HKBP di luar Tapanuli (mulai dari Medan, Lubuk Pakam, Tanjung Balai, Langkat, Labuhan Batu) dan puluhan ribu jemaat HKBP menetap di sana sejak puluhan tahun lalu. Dengan terbentuknya propinsi Tapanuli yang “kristen” otomatis mereka akan dianggap pendatang. HKBP akan mengalami kesulitan luar biasa melampaui konflik beberapa tahun lalu. Dan sebagai seorang pendeta saya tidak menghendaki hal itu terjadi. HKBP telah hadir di Sumatera Timur hampir seratus tahun dan menjadi bagian integral masyarakat Melayu, Karo, Simalungun dll. Sebab itu saya menghimbau kepada semua pendeta HKBP agar berhati-hati dan jangan bermain api. HKBP yang tiga tahun lagi berjubileum 150 tahun harus menunjukkan bahwa skalanya bukan lagi sekadar Tapanuli Utara, tetapi Sumatera Utara bahkan Indonesia.
Saran saya: jangan pecah Sumatera Utara demi ambisi sempit dan emosional.
Menarik membaca tulisan amang…sbg anak yg dilahirkan di perantauan saya sendiri kurang setuju pembentukan Protap. Ini memang hanya kepentingan segelintir orang yang ingin merebut kedudukan dan kekuasaan. Mudah mudahan ini tidak akan pernah terjadi.
setuju amang…sebagai seorang yang lahir,besar dan mengalami banyak hal di Tapanuli – Sumatra utara, saya melihat bahwa pemekaran ini hanyalah bagian dari rencana tanpa tujuan…secera ekonomi, Tapanuli bukanlah daehah yang cukup mapan untuk berkembang sendiri dan membangun diri sendiri.
Saya setuju bahwa tidak penting sama sekali pembangunan tugu “Provinsi Tapanuli”.
Daniel Harahap:
Oh, pembangunan tugu kematian Tapanuli? Oh janganlah. Hehe ma ho ale tondingku, borhat ma ho mandiori hangoluanmu!
hanya dengan pendidikan yang layak lah kemajuan dalam segala bidang, Sumatera Utara dapat tercapai …. Porsea Do Ahu Disi … Horas Jala Gabe ….
Tapanuli berasal dari kata Tapian Na Uli (Pantai yang Indah), yaitu nama Teluk di pantai Sibolga. Sementara Sibolga sendiri telah mencabut dukungan kepada pembentukan Propinsi Tapanuli. Lantas nama propinsi baru yang hendak dibentuk ini apa dong? Propinsi Tape?
Saya tertarik mengikuti polemik di atas, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Mengapa setelah kejadian kemarin “Anda-Anda” baru bicara, padahal prosesnya sudah lama. Apakah Amang Pdt DTA tidak setuju PROTAP setelah kejadian kemarin? Apa bedanya Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan dengan Propinsi Sumatera Utara dimekarkan? Tidak ada yang kekal yang selalu ada adalah “PERUBAHAN”. Sekarang atau nanti (entah kapan) PROPINSI SUMATERA UTARA akan dimekarkan. Untung/rugi yang dibicarakan diatas (yang berhubungan dengan BATAK KRISTEN dan HKBP) adalah perkiraan manusia. Kejadian kemarin itu adalah salah satu proses yang tentunya ada yang memicunya (root cause), saya pikir, sekarang waktunya bagi kita untuk mendoakan saudara-saudara kita yang bertikai kemarin (DEWAN dan RAKYAT), supaya mereka saling menyadari apa yang mereka perbuat. Kalau yang menghendaki adanya ProTap tetapi tujuannya adalah untuk sesaat, ya segerah sadar dan bertobat. Begitu juga dari DEWAN (DPRD) yang tidak menghendaki ProTap tetapi tujuannya juga untuk sesaat ya segera juga sadar dan bertobat. Kita doakan juga saudara-saudara kita yang ditahan sekarang, saya yakin ada juga diantara mereka yang memang menyadari pentingnya ProTap dan dengan gigih memperjuangkannya dan selanjutnya melanjutkan dialog dan pengkajian yang sangat mendalam dari segala aspek tentang pemekaran Propinsi Sumatera Utara (terserah mau berapa propinsi).
Daniel Harahap:
Maunya saya sudah saya tuliskan. Saya sih hanya mau satu propinsi Sumatera Utara saja. Bagi saya propinsi Tapanuli termasuk kabupaten-kabupaten pemekaran itu sebenarnya mirip Tugu. Atau “tambak” dalam bahasa Batak. Menghabiskan terlalu banyak enerji juga waktu, daya dan dana, namun tidak banyak gunanya. Tidak fungsional.
Sejak awal saya tidak setuju Protap. Cuman dulu saya belum punya blog, jadinya hanya bisa menulis di milis saja. Bisa dilihat di arsip milis hkbp. hkbp@yahoogroups.com Namun tahun 2007 awal saya sudah mengingatkan Konsultasi Nasional Naposo HKBP agar tidak ikut2an mendukung ide pembentukan propinsi Tapanuli. Boleh dibaca di: http://rumametmet.com/?p=82
betul amang pdt
Daniel Harahap:
Maunya saya sudah saya tuliskan. Saya sih hanya mau satu propinsi Sumatera Utara saja. Bagi saya propinsi Tapanuli termasuk kabupaten-kabupaten pemekaran itu sebenarnya mirip Tugu. Atau “tambak” dalam bahasa Batak. Menghabiskan terlalu banyak enerji juga waktu, daya dan dana, namun tidak banyak gunanya. Tidak fungsional.
Itu Hak Amang, tetapi saya juga menghargai dan salut atas usaha mereka karena saya tidak memandangnya sebagai “tambak”, memang sekarang saya belum bisa membedakannya seperti “EME” atau “SIMAREME” karena kedua hal itu menjadi kabur sekarang, doa saya adalah dengan peristiwa kemarin para pelakunya dan aktornya termasuk objeknya (masyarakat Tapanuli) menjadi sadar dan mencek ulang, kemudian menata kembali, memungut kembali, dan bersatu untuk sama-sama maju. Kalau mau mendukung ya dukung dengan bijak bukan ikut-ikutan termasuk juga kalau menolak.
Alkisah ada sebuah cerita,suatu hari Prof Silaban sedang asyik bermain catur dgn Presiden Soekarno.Mumpung suasana sedang santai Pak Silaban menyampaikan proposalnya: Bpk Presiden saya seorang Arsitek yg sdh berkarya banyak dan diakui di dalam negri dan dunia Internasional dan sekarang sdh tua.Saya punya kerinduan dan mohon Bpk Presiden memberikan saya proyek di kampung saya Tapanuli supaya saya bisa membangun kampung saya.Dengan enteng dan sedikit gusar Bapak Presiden menjawab: Pak Silaban Orang Batak bisa hidup dan makan dimana saja.Lalu seketika bubarlah permainan catur tanpa jelas siapa yg kalah atau menang.Membahas Untung rugi berdirinya ProTap pasti ribet dan berlarut-larut.Hasilnya mungkin hanya dokumentasi buku yang tebal dan tersimpan di perpustakaan di Bonn atau Hawaii.Tapi ide Residen-residen bentukan Belanda di Pulau Sumatra menjadi Propinsi (di era RI),bukanlah cerita baru.Ide ProTap sdh ada sejak Bengkulu,Lampung jadi propinsi.Menarik adalah sinyalemen bahwa dukungan Luar negri akan luar biasa jika ProTap berdiri.Bisa jadi itu mengingat potensi Intelektual dan piawainya Orang Batak dalam berkolaborasi diberbagai bidang kehidupan.Lebih menarik lagi jika dikaitkan dgn sinyalemen bahwa potensi alam seperti Semen,Emas,dll cukup melimpah di kawasan ProTap.Rumor lainnya,Jika ProTap berdiri maka Sumatra Timur yang kaya raya (Perkebunan Karet dan Tembakau Deli) bisa terlepas dari dominasi Orang Batak ke Orang Melayu-Deli.Jadi ada yang terusik rasa nyamannya.Ingatkah kita bhw sdh sekian lama berdiri,Gubernur Propinsi Sumatra Utara selalu yg punya marga. Orang melayunya gigit jari terus,kecuali Alm Rusli Nurdin(?).Jadi pendapat saya, pro-kontra ProTap bukan masalah teknis semata-mata. Sebagai Orang Batak dgn pertimbangan 50 tahun kedepan,maka sebaik-baiknya adalah Orang Batak punya Propinsi sendiri.