Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Dengan atau tanpa demonstrasi yang memakan korban nyawa kemarin, maaf seribu maaf, saya tetap tidak setuju pembentukan propinsi Tapanuli. Ya saya ulangi: saya tidak setuju Sumatera Utara, propinsi kelahiran dan kebanggaan saya dicabik-cabik untuk sebuah alasan yang menurut hemat saya benar-benar tidak rasional.
Emangnya siapa saya?
Ya saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang warga negara Indonesia, seorang pendeta kecil di HKBP pulak, dulu lahir dan besar di Medan Sumatera Utara, dan kini tinggal di Serpong Banten. Saya bukan calon apalagi anggota legislatif terhormat, bukan juga pengusaha atau pejabat yang punya uang dan kuasa, bukan juga tokoh masyarakat yang bisa menguasai umat. Saya orang biasa-biasa saja dari kalangan kebanyakan. Namun menurut saya, sebagai seorang yang lahir dan besar di Sumatera Utara, Batak, saya juga berhak mengomentari tentang ide memecah Sumatera Utara menjadi beberapa propinsi yang salah satunya hendak dinamakan Propinsi Tapanuli. Pertanyaan: mengapa saya tidak setuju Sumatera Utara dipecah?
Pertama: Sumatera Utara adalah cermin Indonesia. Ya menurut saya propinsi Sumatera Utara adalah miniatur proyek besar yang belum selesai yang bernama Indonesia. Kita tahu Indonesia adalah kumpulan suku, ras dan agama yang telah dan sedang berproses menjadi negara dan bangsa. Dalam hal keragaman Sumatera Utara sungguh sangat mirip Indonesia. Mungkin selain DKI Jakarta, Sumatera Utaralah propinsi yang paling majemuk di Indonesia: multietnis, multi ras dan multi kultural. Namun sebagaimana Indonesia bisa rukun damai maka penduduk Sumatera Utara juga hidup damai dalam kepelbagaiannya itu.
Di Medan, dan di berbagai kota di Sumatera Utara, saya tidak pernah merasa sebagai orang asing. Di Sumatera Utara sepanjang pengetahuan saya tidak ada kerusuhan berdasarkan agama. Di Sumatera Utara juga, terutama di Medan dan kota-kota lain propinsi hebat ini, hampir tidak ada penyekatan wilayah berdasarkan suku atau agama. Bagi saya yang mempunyai ayah berasal dari puak Batak Angkola namun beragama Kristen dan ibu campuran bermarga Silindung namun besar di Toba, maka pluralisme Sumatera Utara sangat klop dengan jiwa. Apalagi sekarang saya mempunyai kakak ipar dari Ambon dan Jawa serta Karo juga. Ditambah lagi istri saya Siregar asal Muara namun memiliki kota kelahiran Palembang, Sumatera Selatan.
Sebab itulah memecah-mecah Sumatera Utara berdasarkan pembagian suku (Batak Toba, Karo dan Simelungun, Angkola dan Mandailing, serta Melayu) maaf, adalah langkah mundur jauh ke belakang. Dahulu itu adalah permainan politik pecah-belah atau divide et impera penjajah Belanda. Namun kini digunakan oleh para elit politik untuk agenda-agendanya sendiri. Sama saja celakanya.
Kedua: alasan saya menolak pemekaran Sumatera Utara adalah karena ide ini tidak melalui studi kelayakan dan pertimbangan jangka panjang namun cenderung emosional. Silahkan koreksi saya jika salah. Di perguruan tinggi sajakah pernah diadakan seminar dan simposium mengkaji secara mendalam pemekaran propinsi Sumatera Utara dari berbagai disiplin (ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, sejarah dll)? Siapa sajakah ahli yang terlibat dan apa kata mereka?
Alasan yang sering dikemukakan oleh pendukung pembentukan propinsi Tapanuli (sekaligus pendukung pemecahan Sumatera Utara) adalah kesejahteraan. Namun saya tidak pernah membaca hasil pengkajian para ahli bahwa pendapatan masyarakat akan meningkat signifikan bila Sumatera Utara dipecah ke dalam beberapa propinsi. Yang saya tahu hanyalah propinsi-propinsi baru ini mengharapkan kucuran DAU (Dana Alokasi Umum) dari APBN Pusat. Itu saja.
Alasan lain yang sering dikemukakan adalah ketertinggalan Tapanuli (walaupun tak jelas bandingannya dan apa sebenarnya yang menyebabkannya). Alasan yang diucapkan diam-diam di kalangan terbatas: agar orang Batak-Kristen bisa menjadi Gubernur. Oala. Saya bukan ahli politik atau ekonomi. Sebagai awam saran saya hanya satu: lakukanlah simposium di beberapa perguruan tinggi di Medan dan Jakarta membahas nafsu pemekaran propinsi dan kabupaten yang sudah tidak terkendali ini. Jika memang dua atau tiga simposium para ahli (yang cool dan non partisan) itu mengatakan dengan jernih Rakyat akan jauh lebih sejahtera jika Sumatera Utara dibagi-bagi maka saya dengan senang hati mengaminkannya. Namun jika itu hanya reka-rekaan belaka dari para elit yang ingin berambisi menjadi pejabat daerah, berdagang tanah, atau mendulang suara di Pemilu 2009 walaupun suara saya sangat lirih dan tenggelam di dalam sorak-sorai massa pendemo maka saya akan tetap mengatakan: TIDAK. Saya tidak setuju pemekaran propinsi tanpa studi kelayakan yang melibatkan begitu banyak pihak. Apalagi tanpa menempatkannya dalam konteks Indonesia dan globalisasi.
Pikiran saya sederhana. Menurut saya Tapanuli (Utara, Selatan, Tengah) bisa makmur tanpa harus menjadi propinsi. (1) dirikanlah sebanyak-banyaknya perguruan tinggi dengan mutu terbaik di Siborong-borong, Sipoholon atau Pangururan atau sekalian di Sipirok. Lebih banyak lebih baik. Hal ini bukan saja membuat perputaran uang di Tapanuli tetapi juga membuat semakin banyak orang berpendidikan tinggal di sana. (2) Buatlah jalan yang lebar mulus (kalau jago lurus) menghubungkan pelabuhan Belawan dan Sibolga. Doronglah agar sebagian ekspor dilakukan dari pelabuhan Sibolga. Sekarang kita tahu jalan darat Medan-Tarutung bisa sampai tujuh atau delapan jam! (3) Seriuslah membangun Tapanuli menjadi sentra peternakan. Doronglah dan bantulah masyarakat mengembangkan sebaik-baiknya peternakan babi, sapi dan kerbau. (4) Masukkanlah sebanyak-banyaknya buku dan komputer ke Tapanuli dan doronglah agar masyarakat mengenal internet. Masyarakat di kampung pasti dengan cepat akan benar-benar sadar bahwa dunia sudah berubah sedemikian hebat dan mereka pun terpacu ikut maju. Beres. Lupakan sajalah propinsi Tapanuli Utara, Tenggara atau Selatan atau Timur itu.
Ketiga: pemecahan Sumatera Utara merugikan orang-orang Batak Kristen. Sudah seabad orang Batak Kristen migrasi ke SumateraTimur dan bahkan ke luar Sumatera. Saya sendiri lahir di Medan tahun 1963. Pembentukan propinsi Tapanuli Utara yang dianggap identik Kristen ini akan sangat berdampak merugikan bagi orang-orang Barak Kristen di luar propinsi itu. Dengan berdirinya propinsi Tapanuli yang “kristen batak” maka orang-orang Batak Kristen di Medan, Tebing Tinggi, Binjai, Sibolga, dan Tanjung Balai akan dianggap warga propinsi kelas dua, penumpang atau pendatang. Padahal selama ini orang-orang Batak Kristen dianggap sesama tuan rumah, pewaris dan pemilik Sumatera Utara. Selama ini tak ada kesulitan bagi HKBP membangun gerejanya di seluruh kawasan Sumatera Utara. Jika nanti propinsi Tapanuli yang “kristen” terbentuk dugaan saya keadaan akan lain. Menurut saya hal inilah yang tidak dipikirkan (tak mau dipikirkan) oleh para penggiat propinsi Tapanuli itu.
Keempat: pembentukan propinsi Tapanuli, hanya membuat orang Batak jaman sekarang semakin introvert atau berorientasi ke dalam. Maaf, kesan saya pembentukan propinsi Tapanuli ini tak ubah pembangunan tugu yang sangat marak di Tapanuli. Maksud saya menghabiskan begitu banyak enerji, waktu dan dana namun sebenarnya tidak fungsional. Yang lebih parah: kebanggaan yang artifisial atau semu. Saya ingin menantang orang Batak terutama yang muda-muda agar kembali mewarisi semangat manombang, mangaranto, manosor yang pernah dimiliki leluhurnya. Jika dahulu TB Simatupang, Cornell Simanjuntak, Amir Syarifuddin Harahap, dan lain-lain berani keluar dari comfort zone atau “wilayah aman”-nya di Tanah Batak, kok generasi sekarang malah, memakai bahasa Medan begitu cuak atau penakut. Apakah orang Batak benar-benar sudah kalah dan tersingkir di berbagai lini nasional dan internasional, sehingga untuk menunjukkan dirinya eksis harus membangun tugu yang bernama Propinsi Tapanuli? Apa hebatnya jika orang Batak hanya bisa jadi Gubernur, Kapolda, Ketua DPRD, atau kontraktor rekanan Pemda di kampungnya sendiri? Maaf, menurut saya inilah masanya generasi muda Batak bangkit kembali. Kuatkan hati. Bangunlah karakter. Lengkapilahj diri dengan berbagai ilmu dan ketrampilan (terutama kemampuan berdagang dan berkomunikasi) lantas bertarunglah di negeri bernama Indonesia ini. Jangan hanya menunggu namun ambillah peran untuk mengisi dan memaknai negara Indonesia berdasar Pancasila ini. Banyak sekali peran yang bisa diambil oleh orang Batak Kristen di negeri ini. Kalau tak bisa jadi Kapolda ya jadi tukang jahit baju Kapolda saja. Kalau tak mampu jadi Bupati ya jadi konsultan Bupati saja. Kalau sulit naik pangkat bikin usaha sendiri saja. Kalau sulit bikin usaha sendiri ya bikin usaha sama-sama saja.
Kalau punya mental yang lebih pergilah ke Malaysia, Hongkong, Arab atau sekalian ke Amerika. Berdaptasilah dengan masyarakat setempat dan kembangkanlah kultur Batak kosmopolitan yang sesuai dengan jaman. Takut? Cuak? Jangan ngaku Batak Kristen pulak lagi.
Horas Indonesia!
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Tak ada salahnya mencoba, kan lagi musimnya. Horas….
Tapi coba-coba sesuatu dengan taruhan hidup puluhan ribu atau ratusan ribu hidup orang ya janganlah.
Daniel Harahap:
Mencoba sesuatu yang hanya beresiko bagi diri sendiri ya tidak apa-apa, silahkan saja.
Mengikuti diskusi di atas, Amang DTA dengan jelas sekali memamparkan alasan-alasannya untuk menolak pemekaran Provinsi Sumatera Utara dan berdirinya PROTAP, dalam prespektive yang luas yakni Kebangsaan dan Kebinekaan. Saya tidak melihat hal yang sama dari teman-teman yang pro pada gagasan untuk pendirian PROTAP, bahkan cenderung dengan prespektif yang sangat sempit. Secara tidak sadar sebenarnya para pendukung PROTAP menyampaikan bahwa yang sedang diperjuangkan bukanlah Provinsi Tapanuli, akan tetapi Provinsi TOBA. Yang secara jelas semakin membenarkan opini Amang DTA yang menyatakan bahwa hal ini adalah kemunduran bagi kita Batak Toba – (Baca – Batak Kristen).
Ada beberapa teman yang mengatakan bahwa dasar pemikiran pendirian Provinsi Tapanui mengacu pada Kresidenan Tapanuli yang terbentuk di Zaman Belanda, akan tetapi berusaha untuk menutup-nutupi bahwa bagian terbesar dari Kresidenan Tapanuli Tersebut menolak “BERGABUNG” dengan Provinsi Tapanuli. Cukup memprihatinkan sebenarnya, kalau alasan perpecahan tersebut hanya karena “PEREBUTAN IBU KOTA PROVINSI”. Artinya di level ex-kresidenan Tapanuli pun tidak ada suatu pertalian kepentingan bersama dalam konteks kesejahteraan -atau yang disebutkan sebagai “basic needs” bersama antara sesama ex-Afdeling2 yang membentuk Keresidenan Tapanuli tersebut. Hal ini semakin membenarkan sinyalemen amang DTA bahwa ambisi pendirian ProTap hanya menunjukkan sikap INTROVERT orang-orang Batak. Kalau tidak, Dan semakin dapat dipahami kenapa DPRD SUMUT menolak berdirinya PROTAP tersebut, karena TOBA tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya untuk mendirikan PROPINSI TAPANULI tanpa persetujuan Ex-Afdeling-afdeling (Padang Sidempuan -yang sekarang menjadi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kota Padang Sidempuan, Nias – yang sekarang menjadi Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan, Sibolga dan Ommenlanden – yang sekarang menjadi Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga-, serta Bataklanden – yang sekarang menjadi Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Samosir, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Pakpak Barat).
Saya berasumsi (boleh dong) para penggagas ini memahami betul bahwa mereka merasa gagal untuk meyakinkan saudara-saudaranya ex-afdeling kresidenan Tapanuli untuk bersatu padu dalam menyuarakan pembentukan Provinsi Tapanuli, dan akan merasa sia-sia untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Toba, sehingga mereka memaksakan kehendak kepada DPRD SUMUT untuk mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli dan berharap bahwa ex-afdeling Kresidenan Tapanuli terpaksa akan mengikuti keputusan tersebut. Komposisi keanggotaan DPRD SUMUT tentunya dapat dipahami dibentuk oleh berbagai etnis yang terkait langsung dengan ex-afdeling kresidenan tapanuli yang membuat mereka sangat mudah untuk menolak rencana pemekaran tersebut dibandingkan dengan DPR Pusat atau pemerintah pusat dan Sumut.
Saya mencoba menerima pemikiran pendirian provinsi Tapanuli dalam konteks pengembalian sejarah kresidenan Tapanuli yang dibentuk oleh Afdeling-Afdeling tersebut, akan tetapi MENOLAK PENDIRIAN PROVINSI TOBA………….
Horas Amang…
saya pribadi bukan orang yang mendukung atau menolak pembentukan Provinsi Tapanuli. terlebih karena saya lahir dan besar di Simalungun.. tapi saat ini cenderung untuk mendukung, mengingat :
1. kelihatannya ada unsur kesengajaan dalam menjegal terbentuknya Provinsi Tapanuli oleh almarhum Ketua DPRD..dan memang sinyalemen itu sangat kuat sekali..Gubernur sekarang berani mendukung Provinsi Tapanuli tentu punya perhitungan juga… masih punya kartu As.. yaitu almarhum Ketua DPRD… ini logika konspirasi sederhana saja. oleh karena ada unsur penjegalan ini , sedikit banyak menjadikan saya bersimpati atas perjuangan pembentukan Provinsi TAPANULI
2. Apakah ada unsur primordialisme disini.. jelas ada.. dan tentu primordialisme tidak selamanya salah tohhh… Setahu saya dari dulu orang tau-nya SUMUT itu Kandangnya orang BATAK.. dan BATAK hampir identik dengan KRISTEN. ternyata fakta politik menceritakan lain di SUMUT.. malah sekarang ini .. di medan sana.. orang KRISTEN jadi MINDER… ini yang saya lihat dan alami sendiri. What wrong with that???
3.soal Kesiapan Tapanuli dan juga analisia akademis, study kelayakan dan segala macamnya.. aku pikir ga usah susah2 untuk itu.. liat aja pembandingnya di daerah lain. maksud saya Provinsi2 baru yang di bentuk pemerintah..menurut saya MALAH MASIH BANYAK SEKALI YANG POTENSI-nya JAUH dibawah KELAYAKAN dibanding PROVINSI TAPANULI nantinya.. terlebih TAPANULI punya SDM yang merupakan salah satu penghasil SDM terbaik di Indonesia… contoh Gorontalo. IRJABAR. MALUKU UTARA.. Mosok mereka lebih layak dari TAPANULI??? yang bener aja…….
4. Soal ribuan gereja HKBP dan ribuan Jemaat di SUMUT di luar TAPANULI nantinya bagaimana?? ga udah takut.. jangan kan di SUMUT di SUMSEL/ atau Palembang aja.. gereja HKBP YAPON bisa berdiri dengan MEGAH dengan jemaat yang Ribuan pulak..dengan ganguan yang relatif TIDAK ADA selama ini. kebetulan saya 8 tahun ada di Palembang dan ber-gereja di HKBP YAPON Palembang. begitu juga di daerah lain yang mayoritas bukan Kisten.
5. soal dari dahulu BATAK sudah migrasi dan banyak yang berhasil di luar TAPANULI… justru disitu keunggulan BATAK.. menurut saya Kurang Relevan antara Migrasi dengan ide pembentukan Pembentukan Provinsi TAPANULI… Bahkan Orang YAHUDI pun ingin kembali punya Negara sendiri
kalau ada provinsi TAPANULI tidak lantas disimpulkan dan dikhawatirkan merugikan BATAK yang di luar TAPANULI.. selama ber kualitas.. ga ada masalah .menurut saya.
6. jadi sebelum ide Provinsi TAPANULI berkembang menjadi ide BANGSO BATAK sebaiknya ide provinsi TAPANULI mungkin sebaiknya disetujui aja…
Kita lebih bangga kalau punya Provinsi Sendiri.. ketimbang “seolah-olah sudah jadi penumpang” di SUMUT
Daniel Harahap:

1. Saya tidak suka teori konspirasi.
2. Ya Sumatera Utara memang bukan hanya “kandang” orang Batak tetapi juga “rumah” bagi orang Melayu, Jawa, Cina, Keling dan juga Karo dan Simalungun yang enggan lagi disebut Batak. Penduduk Sumut juga mempunyai banyak agama termasuk agama suku. Sebab itulah saya dan banyak orang mengatakan sifat multietnis bahkan kosmopolit Sumut sangat mencerminkan keberadaan Indonesia.
3. Lho bagaimana sih menentukan hidup dan masa depan orang banyak tidak mau susah-susah dan tidak mau meminta pendapat banyak ahli. Hajablah awak.
4. Gereja HKBP Palembang yang megah itu dibangun ketika daerah-daerah masih memiliki semangat nasional dan keindonesiaan. Jangan harap sekarang semudah itu lagi.
5. Kalau memang generasi Batak sekarang masih pemberani seperti leluhurnya ngapain ribut-ribut membentuk propinsi? Kenapa tidak bertarung saja menjadi Gubernur di DKI atau Walikota Batam atau Direktur Pertamina? Apa hebatnya berkokok eh menepuk dada di kampung sendiri?
6. Orang Batak memang suka menyebut dirinya bangso atau bangsa Batak. Boleh-boleh saja sebagai istilah. Namun ingat, Batak memiliki banyak sekali puak dan tidak semua setuju membentuk propinsi Tapanuli.
Amang, menurut saya layak2 saja Protap ini terbentuk… Saya lihat ini keinginan untuk menunjukkan indentitas sebagai warga batak kristen.. dan tegas.. dan ini jg untuk membuka mata bagi para batak kristen yang sudah merantau dan berhasil untuk membangun kampung halamannya.. Kenapa HKBP dan masyarakat batak khawatir akan di nomor dua kan di luar tapanuli? klao mmg merasa begitu berarti sekat itu mmg ada.. jgn menganggap tidak ada..!!!! kita harus berani menghadapinya… Mmg kejadian di DPRD SU membuat perjuangan para pro taput jd hina..!!! perjuangan itu seakan haram.. tp saya yakin Taput akan bisa mandiri kalo berhasil dibentuk!!!
Kalo kita tidak diakui di tanah kelahiran kita sendiri bagaimana kita memandang dunia?
saya berharap kalo terbentuk Taput ini, orang batak kristen darimana pun bersatu dan sama membangun kampung kita sejahtera…!!! kalo bukan orang batak kristen siapa lg?
Daniel Harahap:
Kita berbeda. Pemekaran dengan alasan sentimen keagamaan seperti di atas hanya membuat negara ini semakin pengap dan menyesakkan. Memang kampung asal saya di Sipirok, namun saya lahir dan besar di Medan, sekarang saya tinggal di Banten. Tanah air saya Indonesia moderen.
horas amang…kalau boleh sedikit saya tambahkan, beberapa fakta maupun asumsi yang berkembang, yang saya rasakan dan saya lihat saat ini di SUMUT….. ini hanya pendapat pribadi saya…….
1. Memang ada gejala dan beberapa ide untuk meminggirkan peran orang BATAK KRISTEN di SUMUT. Bahkan, banyak sekali saya mendengar cerita para CALON Pejabat orang BATAK KRISTEN di SUMUT di janjikan akan mendapat JABATAN BAGUS asalkan mau mengganti AGAMA-nya khususnya ini didaerah2 yang “Mayoritas” muslim, semisal : Binjai, langkat, Asahan, Labuhan Batu, Deli serdang, dan beberapa daerah lainnya. dan, sama-sama kita ketahui bahwa Orang BATAK KRISTEN yang sudah pindah AGAMA biasanya/cenderung tidak mau mengakui identitasnya sebagai BATAK. entahlah ini fakta atau bukan.. tapi melihat banyaknya pengakuan tentang hal ini. kelihatannya bisa saya sebut ini “Gejala Umum”. bahkan menurut saya ini juga sudah “menggejala” diseluruh Indonesia.
2. oke saya setuju, Sumut bukan hanya “Kandang” BATAK KRISTEN tapi “Rumah” bagi banyak suku dan agama spt yang disebutkan diatas. tapi patut kita catat, dari dahulu seluruh Indonesia mungkin mengakui, begitu mendengar kata SUMUT atau MEDAN pasti orang mengira itu BATAK yang KRISTEN pulak…fakta yang ada saat ini di SUMUT secara Umum, Medan Khususnya, sudah tidak seperti itu! Jangankan berkokok atau menepuk dada, bahkan Gubernur SUMUT sudah berani mengatakan Orang KRISTEN SUMUT saat ini berada di “Kandang Singa”.. kalimat ini dapat kita baca di Kata Sambutan Gubernur pada NATAL di SUMUT yang dilansir di harian “Sinar Indonesia Baru”. Apakah ini istilah biasa saja atau istilah “Politis” silahkan kita pahami sendiri-sendiri.
3. “sifat multietnis bahkan kosmopolit Sumut sangat mencerminkan keberadaan Indonesia” setuju sekali untuk Kutipan ini. Apakah multi-etnis, multi-agama SUMUT akan tercederai jika ada Provinsi TAPANULI??? saya kira Tidak. Kan masih Banyak Gereja dan orang BATAK KRISTEN disana!
4. saya juga tidak bermaksud mengatakan, tidak perlu analisa akademis maupun study kelayakan untuk pembentukan Provinsi TAPANULI. cuma saya menuliskan Kenyataan yang sudah diputuskan oleh Pemerintah, bahwa ada beberapa Provinsi Baru terbentuk dengan kemampuan SDA, SDM dan pra-syarat lainnya, yang nyata-nyata standar-nya DIBAWAH calon Provinsi TAPANULI (sekalipun itu hanya 4-6 Kabupaten terakhir yang masih turut dalam rencana ini) Nantinya, jadi kenapa untuk Provinsi TAPANULI seolah-olah di “DISAIN” sebuah Opini bahwa TAPANULI belum layak jadi sebuah Provinsi??? Adilkah ini???? soal rasa keadilan ini-lah menurut saya yang menjadi “Keresahan utama” masyarakat yang menuntut pembentukan Provinsi TAPANULI,
5.Memang ada beberapa daerah yang menarik diri dari ide pembentukan Provinsi TAPANULI, entah kenapa daerah-daerah yang menarik diri tersebut-lah yang saat ini “sedang melakukan Penyangkalan” terus-menerus bahwa mereka bukan Batak. so, ga ada masalah dong. maka mereka memang “tidak harus ikut” dalam provinsi TAPANULI. Malah mungkin ide provinsi TAPANULI diganti aja dengan Provinsi BATAK, seperti Provinsi BAnten, Provinsi JAWA—-, Provinsi Papua, yang jelas-jelas memakai nama etnis/suku. kenapa kita harus dihalang-halangi bikin Provinsi atas nama suku kita?.
6. contohlah bangsa CINA atau YAHUDI, mereka ada hampir di seluruh dunia tapi tetap saja mereka membutuhkan dan mempunyai sebuah territory yang menjadi milik mereka sendiri (kalau di Indonesia mungkin cocok untuk mencontoh SUKU JAWA-bahkan Suku JAWA punya banyak Provinsi).
MAULIATE
Daniel Harahap:
1. Kalau ada sebagian kawan-kawan Islam yang ingin menyekat-nyekat negara ini berdasarkan agama untuk apa kita ikut-ikutan? Bukankah seharusnya kita yang paling kuat dan mengambil posisi di front terdepan mempertahankan Pancasila atau negara yang tidak berlandaskan agama? Saya tidak suka ada “daerah khusus islam” maka saya juga tidak akan pernah membuat “daerah khusus kristen”. Bagi saya agama harus dipisahkan dari negara.
2. Bahwa orang luar suka mengidentikkan Sumut dengan Batak Kristen ya tugas kita orang-orang asal Sumut lah menjelaskan yang sebenarnya. Hal itu sangat menyakitkan bagi kawan-kawan Melayu. Sumatera Utara milik orang Melayu, Batak (dengan berbagai puaknya), Karo, Jawa, Cina dan Keling.
3. Saya menafsirkan ucapan gubernur itu bahwa orang kristen (dan semua kita) sedang dikelilingi masalah dan tantangan yang berat. Jadi jangan anggap enteng. Jangan mabuk. Jangan hanya sibuk bikin tugu dan pesta!
4 dan 5. Tapanuli itu kan bukan hanya Utara. Batak itu kan bukan hanya Toba. Propinsi Tapanuli tapi minus teluk tapian na uli di Sibolga? Propinsi Batak kristen? Ah, lupakanlah propinsi itu. Mending kita konsentrasi membangun peternakan babi dan kerbau, membangun sekolah dan perpustakaan, dan memaksa pemerintah membuat jalan-jalan baru menghubungkan pantai barat dan timur.
6. Anda mau bikin negara? Kalau memang jagoan bikin saja.
Saya pengen lihat.
Horas Amang..
Setelah membaca tulisan amang, dan mengikuti perkembangan berita yang ada, saya boleh bilang setuju dengan analisis amang..
Pertama: Memang adalah kemunduran untuk membentuk propinsi baru di Tapanuli tanpa adanya studi terlebih dahulu, apakah memang Tap-Ut layak untuk jadi Propinisi sperti layaknya Gorontalo atau Banten.
Kedua: Dengan menambahnya jumlah propinisi, memang disatu sisi orang batak di Tapanuli bisa lebih diperhatikan, tapi apakah memang itu yang yang menjadi concern dari para pencetus ide pemekaran? ato apakah ini hanya menjadi sarana untuk mencapai kekuasaan belaka?
Ketiga: keterbukaan untuk menyampaikan aspirasi adalah hal yang mutlak di sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, namun INGAT, Be Responsible!! Jangan urakan, terlalu memaksakan kehendak..
Semakin pengap kalo gak ada yg peduli Kampung halaman..!!! Saya yakin bukan kapasitas saya dan amang untuk membicarakan politik negeri ini karena kita bukan politisi!!! Tapi kita sama2 tahu bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia … dan secara politik, kebudayaan, agama, posisi mereka ingin merasa harus selalu lbh diatas.. Dan bukannya tdk mungkin mereka ingin menghijaukan seluruh indonesia.. Kita tahu program transmigrasi… Sekarang kampung halaman kita tidak berkembang, anak2 muda batak keluar tapanuli untuk mencari nafkah, kemiskinan melilit Tapanuli.. Menurut amang salah orang tapanuli ato mmg disengaja supaya anak mudanya keluar dan orang suku lain masuk dan mulai merubah yang asli dari tapanuli utara?
Saya heran orang batak kristen beraninya berdebat dengan sesama batak kristen.. Ini saatnya batak kristen berdebat dengan suku dan agama lain..!!! Dan satu lagi amang, keadilan bukan datang dengan sendirinya tp dengan perjuangan.. !!!!
Daniel Harahap:
(walaupun faktor yang membuat anak-anak Tapanuli itu pergi ya juga kemiskinan itu). Namun jalan keluarnya menurut saya bukan propinsi. Dirikan saja perguruan tinggi berkualitas di Tarutung, Huta Ginjang, Balige dan Dolok Sanggul. Anak-anak muda Batak tidak perlu pergi meninggalkan kampungnya untuk sekolah. Uang tidak perlu keluar dari Tapanuli hanya untuk membiayai pendidikan.
Salah satu faktor yang membuat Tapanuli tetap miskin itu adalah karena ditinggalkan oleh anak-anaknya sendiri.
Masalah kemiskinan tidak selesai dengan berdebat apalagi dengan membentuk propinsi. Saya semakin menangkap kesan bahwa ide pembentukan propinsi ini hanya untuk kebanggaan semu: supaya ada orang Batak Kristen jadi Kapolda, Gubernur atau Ketua DPRD. Apa hebatnya kalau hanya jadi Kapolda di Sipirok eh kampung sendiri? Di era demokrasi (apalagi di jaman KPK sekarang) sebaiknya tidak usah terlalu kepingin jadi pejabat. Mending orang Batak Kristen jadi pedagang saja. Atau tenaga ahli. Atau jadi pengacara. Atau kontraktor. Kita berbakat dan telah teruji di sana.
Maaf, amang salah…
saya yakin orang2 batak yg ingin membuat protap tidak berpikiran seperti itu.. Itu kayaknya tradisional bgt ya, atau mmg amang yg berpikiran seperti itu..? hehehe.. saya heran kenapa pembentukan protap ini selalu di pertanyakan apa untung nya? kalo saya balik apa ruginya ya?
Amang buat perguruan tinggi itu mmg penting, tp harus seimbang dengan sektor ekonominya… Dan saya sependapat dengan rekan yg disini yg mengatakan bahwa sekarang ada gejala meminggirkan peran orang BATAK KRISTEN di SUMUT. Sebenarnya ini sudah ada sejak dulu dan bukannya hanya batak tp seluruh warga kristen.
kita tdk ikut2an mensekat sekat, tp setidaknya kita bertindak smart lah.. karena mereka pun smart dan mereka pun sekuat tenaga mencegah protap ini… lihat saja!!! Intinya jgn selalu negatif!!! Oh ya satu lagi = modern bukan berarti meninggalkan tanah leluhur dan mengharamkan membanggakan suku, tetapi menjaganya dan mengembangkan dengan kemampuan kita yg modern..
Daniel Harahap:
Bacalah baik-baik sekali lagi tulisan saya. Membangun kultur Batak tidak harus berpikir sempit dan sektarian. Saya menantang orang-orang muda Batak agar menempatkan kebatakannya dalam konteks Indonesia moderen dan global. Takut?
Horas Amang,
Saya sangat prihatin atas kejadian demo anarkis di Medan, saya bahkan malu, orang batak bisa bertindak seperti itu, dan mungkin mereka itu 90% jemaat HKBP. Hanya demi protap dan “Raja Baru”. Yang menggagas protap gak sanggup lagi bersaing di Indonesia, sehingga mereka mau berkuasa di kampung nya saja,, kasian….
Hehehe.. kacau nih.. Emang kalo buat protap pikirannya sempit dan sekterian…
wah ngawur nih… Emang Indonesia modern dan global kayak apa ya? Amang terlalu berpikir jauh padahal kampungnya aja jalan di tempat… gimana sih ?
Baca baik2 tulisan saya amang : modern bukan berarti meninggalkan tanah leluhur dan mengharamkan membanggakan suku, tetapi menjaganya dan mengembangkan dengan kemampuan kita yg modern..
Trus ada lg yg bilang jemaat HKBP lagi yg nyerang… Hmm, saya dah duga emang ini kerjaannya provokator…
Daniel Harahap:
Siapa yang mau melupakan tanah leluhurnya (kalau meninggalkan ya, sebab saya saja sudah di Serpong)? Siapa yang mengharamkan membanggakan budaya Batak? Saya tidak. Namun mengingat tanah leluhur dan mengembangkan budaya warisan leluhur tidak ada hubungannya dengan membentuk propinsi baru. Tanpa propinsi tape eh tapanuli itu pun kita bisa tetap Batak dan eksis di Indonesia dan dunia moderen.
Cappe de.
Di rumah metmet ini lagi hangat rame tapi kadang sempit, sesempit yg nulis (saya). Tapi jangan marbadai ntar harta perhiasan antik berharga yg ada di ruma metmet marputtaran. Saya takut padahal saya kuat, ketika saya terpojok terperangkap baru sadar ternyata saya sangat kuat. taingot ma.. Uju digonggomi si kerenus tanah siria……ikkon ikkon jala ikkon mulak halak tu bona ni pinasana be dang boi dang (sengaja dibahasa negarakan eeh bangso batak) Unang jolo diusir asa mulak. boi do mulak holan na naeng padengganhon. Buat kita semua tamu ruma metmet horas.
Namun mengingat tanah leluhur dan mengembangkan budaya warisan leluhur tidak ada hubungannya dengan membentuk propinsi baru. Tanpa propinsi tape eh tapanuli itu pun kita bisa tetap Batak dan eksis di Indonesia dan dunia moderen
Hehehe tape eh cape dehhh… kenapa gak ada hubungannya? ada donk …. hehehe.. (geleng2 mode : on)
amang saya pikir kritis, ternyata udah gak ngerti dari awal toh..
Horas semua,
Marilah kita mendoakan agar Protap terwujud, tidak sekarang ya besok.
Perbedaan pendapat boleh saja, cuman mari kita tanya pada diri kita sendiri (khususnya orang yang tinggal diluar area pemekaran protap), siapakah kita sehingga berhak mengatakan saya setuju, saya tidak setuju, biarlah masayarakat sana yang menentukan nasibnya sendiri, kita hanya bagian dari emosional mereka, dan tidak berhak mengatakan saya setuju dan tidak setuju, karena ini akan mengiring opini publik tanpa tahu apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang ada didaerah sana.
Mengenai sejarah dan analisis sumber daya, dan segala macamnya itu sudah dilakukan, itu sebabnya dikalangan DPR-RI sudah mengagendakan dan sudah ada team dari pusat dan jelas kesimpulan mereka semua meyakini akan ide protap, tinggal menunggu recomendasi dari DPRD-SUMUT, jelas disini bahwa semuanya sudah berjalan dengan baik. Sekedar informasi bahwa hanya satu keresidenan didaerah Sumatera yang tidak menjadi provinsi ya itu keresidenan Tapanuli, selain itu sudah menjadi provinsi, kenapa Belanda dulu membuat wilayah ini menjadi keresidenan?, lihat sejarah.
Saya tidak ada kepentingan dengan Protap.
Amang, saya minta maaf kalo ada kata2 saya tidak pantas.. minta doa Amang dan kita semua supaya masalah ini berlalu dengan baik. Bagaimana pun yang terkena dampaknya adalah masyarakat batak itu sendiri, berdiri atau tidak berdirinya Taput ttp bersatu dalam Tuhan
Horas…
Daniel Harahap:
Semua baik-baik saja Ruben.
Barangkali kita buang dulu prasangka buruk tentang bangso sendiri, dan coba liat apa yang ada di bona pasogit, terus bandingkan dengan daerah lain (khususnya di daerah jawa), ga ada yang bisa dibanggakan disitu. usaha untuk mengubah keadaan untuk menjadi lebih baik perlu diberikan apresiasi, salah satunya ya memekarkan wilayah Sumatera Utara dengan Protap-nya, siapa tau dengan begitu nanti yang amang DTA idamkan kayak Perguruan tinggi yang berkualitas, peternakan besar yang tertata d.l.l akan terwujud ato lebih mudah untuk mewujudkannya.
Aku kira amang DTA dan dongan disini semua ingin melihat Tapanuli yang ‘minimal’ lebih baik dari sekarang, jangan lah perubahan-perubahan untuk kebaikan itu diserang dengan menyampaikan hal-hal yang terlalu absurd, yang sebenarnya ga ada, justru harus dijaga smangatnya agar tidak dicampuri ama segelintir orang2 yang cuma cari2 jabatannya, seperti yang di khawatirkan amang DTA
Jika Sibolga yang memiliki Tapian Na Uli mengundurkan diri dari rencana pendirian propinsi Tapanuli, nama yang bisa dipakai sebagai propinsi yang baru itu adalah Bona Pinasa.
Protap.. provinsi apa nih?? ha ha ha
Amang, kalau kita minta Universitas melakukan kajian sangat bagus sih, tapi bukan ingin menyepelekan suku kita. Ada baiknya kajian itu dilakukan oleh orang bukan suku kita, sehingga penilaian lebih objektif. Pengacara2 yang hampir mahakaya itu mahhh kayaknya mau menggapai bintang2, (mohon maaf kalau ada yang terasa) lha wong malah saling berantem di depan tv, dengan bangga pake marganya lagi….
Provinsi Tapanuli???? Airportnya nanti di gunung paling atas di P. Samosir kah??
Geleng geleng geleng…..
Saudara-saudaraku yang terkasih, mari kita serahkan dan doakan bersama, jangan berprasangka jelek terhadap saudara kita yang telah susah payah memperjuangkannya,sebab hanya Tuhanlah yang tau betul motivasi mereka, dan kalau benar niat mereka adalah untuk memajukan, bukankah kita sudah salah menilai?kita doakan saja supaya cara mereka senantiasa sesuai dengan cara yang disetujui Tuhan, yaitu senantiasa dengan damai,karena Tuhan tidak menginginkan kekacauan. Dan kalau saja provinsi Tapanuli jadi, bukan berarti itu hanya milik orang batak, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia dan siapapun warga negara Indonesia boleh tinggal dan berkarya di sana. Kalau saya memandang kalau provinsi tapanuli dibentuk maka bisa diumpamakan seperti orang tua dekat dengan anaknya yaitu Pusat pemerintahan yang lebih tinggi dekat dengan rakyatnya.Sudah pastilahlah akan bermanfaat bagi rakyat di sana, saya sudah katakan banyak kegiatan pembangunan dialihkan ke kabupaten yang lebih dekat dengan provinsi.Suvervisi pembangunan juga jarang dilakukan karena jauhnya. Sebenarnya banyak realita bahwa kabupaten tersebut seolah terlupakan dalam setiap kegiatan pembangunan tetapi bukan karena ras tetapi karena jauhnya, yang seharusnya itu tidak boleh menjadi alasan dan hal ini juga sering terjadi di daerah lain yang jauh, yang sulit dijangkau . Tidak usah saya ungkapkan di sini dan saya rasa juga itu tidak perlu karena dalam hidup saya dengan seyakinyakinnya saya percaya bahwa Allah Yang Maha Kuasa melihat semuanya itu,namun intinya banyak hal – hal yang bisa diraih kabupaten tersebut kalau dekat dengan provinsi.Bayangkan saja kalau dari pusat pemerintahan provinsi ke kabupaten tersebut harus memakan waktu paling sedikit 6 jam sekali jalan, padahal semua kebijakan pembangunan adalah dari provinsi. Kalau buat kita – kita yang merantau sih tidak begitu ngaruh. Nah, kalau jadi Protap tidak perlu 6 jam karena sudah di sana langsung provinsinya. Jadi pembentukan Protap tidak ada hubungannya dengan agama suku dan ras. Di kampung halaman saya di Sukkean Samosir ada saudara kita yang beragama Islam dan ada mesjid di sana, itu berarti di kabupaten yang diajukan menjadi protap itu masyarakatnya tidak hanya batak dan kristen. Maaf amang ….yang mereka inginkan hanyalah Pusat pemerintahan di sana menjadi tingkat satu,bukan pengelompokan batak dan kristen. Himbauan saya adalah mari kita doakan bersama kalau memang itu untuk kemajuan masyarakat di sana biarlah itu dikabulkan Tuhan supaya jadi, dan kalau itu tidak memajukan masyarakat di sana kiranya Tuhan tidak mengabulkannya.Tuhan Yesus sudah memberikan teladan kepada kita bagaimana kita terhadap orang lain yakni hidup senatiasa dalam kasih dan menjadi garam dan terang di manapun kita berada.
Daniel Harahap:
Mau bikin propinsi kok bawa-bawa nama Tuhan?
Sudahlah jangan berhayal yang muluk muluk, tape….eh cape dehhh.
Bravo Tapanuli ….Bravo Orang Batak, bersatu mempertahankan tatanan yang sudah ada , Jadi Propinsi?????, No .Tetap jadi bagian dari Prop SUMUT.Peracayalah…itu hanyalah mimpi, dan belum saatnya Tapanuli jadi Propinsi…masih panjang jalan yang harus dipersiapkan….., Lagian tanpa jadi Propinsi pun Orang Tapanuli (orang batak ) tetap eksis di Negara ini bahkan di luar nagari sana, Saya lebih setuju kalau kita harus lebih berhati hati lagi menyikapi situasi Politik sekarang yang mencoba untuk mencegal /memecah kesatuan etnis orang batak supaya tidak lagi eksis lg di Negara ini…..(Dengan pemekaran Tapanuli jadi Propinsi).
Ini mungkin hanya keinginan segelintir orang orang Batak yang merasa gagal di pertarungan Nasional, dan sudah merasa tidak mampu lagi mengotak atik daerah orang lain sehingga menimbulkan ide ide ini. Jangan lah hanya karena kepentingan segelintir orang maka kepentingan dan kenyamanan seluruh warga Batak jadi terganggu. Sekali lagi perlu saya ingatkan…… Hati – hati terhadapan hasupan ide 2x yg tak jelas. Ini perlu diwaspadai….
Apakah hanya dengan cara ini upaya yang kita lakukan untuk memajukan Daerah Tapanuli, Saya fikir tidak , masih banyak cara yang lebih baik, Tidak usah ngotot untuk menjadikan Tapanuli ini jadi Propinsi Tapanuli.
Hal ini hanyalah menjadikan ruang gerak Orang Batak akan semakin sempit di kancah pemrintahan Nasional yang nota bene sampai sekarang ini Orang Batak cukup banyak yang eksis didalamnya. dengan begini secara tidak langsung akan terjadi pengkotakan orang batak itu sendiri. Dan dengan begitu maka pergerakan orang Batak akan semakin gampang utk dideteksi dan lama kelamaan , habis lah kita.
Waspada terhadap politik si sega sega ate. HORAS …. TAPANULI, HORAS MEDAN, HORAS SUMUT…..HORAS INDONESIA.
Sudah kubilang mari kita baca tulisan amang DTA in berulang2 dan ajaklah saudara2 penggagas Protap ini ikut mermbaca juga.
Horas jala gabe ma di hita saluhutna!!
Saya senang atas dinamika yang terjadi di topik ini, sperti gelombang samudra yang kadang tinggi kadang pendek malah kadang tenang dan diam.
Aku juga hampir terpancing dengan provokasi Amang DTA hahaha..susah, ilmu Amang DTA sudah jauh diatas saya. begitu juga kearifan dan kebijaksanaannya dalam ‘mengatur’ berbagai emosi yang berkembang di topik ini.
ide Provinsi Tapanuli, provinsi Batak. provinsi Bona ni Pinasa. BANGSO BATAK, atau apapun itu tentu sudah sangat dimengerti oleh Amang DTA, Siapa yang bermain. apa kepentingannya?? dan lain sebagainya. Sebagaimana dulu amang DTA mengerti dan memahami persoalan HKBP. jadi mungkin sebaiknya kita-kita yang diluar ini, ‘ditano parserakan on’ mengambil peran menjadi pengawal agar ide itu menjadi NYATA tanpa adanya kepentingan sempit (vested interest) seseorang, sekeluarga atau sekelompok orang BATAK
kok saya percaya sekali… provinsi yang akan dibentuk itu AKAN INDAH SEKALI NANTINYA.
Mari kita doakan bersama dan bersungguh agar provinsi TAPANULI menjadi nyata. semoga Tuhan berkehendak. Amin!
Mauliate
Horas jala gabe ma dihita saluhutna.
NOTE : KOK AMANG TIDAK MEMASUKKAN KARO SEBAGAI PUAK BATAK????
Daniel Harahap:
Komentar terhadap note: sebab orang Karo tidak suka disebut Batak. Ya sudah.
Bagaimanapun, aspirasi PROPINSI TAPANULI ada DITANGAN warga Tapanuli (ber KTP di daerah tersebut), warga di daerah lain tidak boleh intervensi apalagi mengancam atau memprovokasi secara halus justru bisa mengacaukan suasana.
Sedangkan Keputusan FINAL dari PROPINSI TAPANULI ada di tangan DPRD II,DPR I, DPR ,MENDAGRI Ndan PRESIDEN. Lembaga di luar itu, silahkan berwacana saja, karena tak akan ada hasil nya..
Kiranya Tragedi ini membuka mata kita semua khususnya bagi pemerintah daerah sumatera Utara agar memperhatikan dan mempercepat pembangunan secara merata di masing -masing kabupaten tanpa diskriminasi dan menghindari pembangunan dengan pola anak emas terhadap kabupaten tertentu.Dengan Demikian Masyarakat merasa nyaman
Saya juga menolak Tegas Propinsi Tapanuli…
Tapi siapa Saya ????????????????????????????
wong Provinsi saya DKI Jakarta koq..
Daniel Harahap:
Pemekaran propinsi Sumatera Utara bukan hanya urusan penduduk ber-KTP Tapanuli Utara, tetapi juga Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Dairi, Simalungun, Karo, Langkat, Serdang Bedagai dll. Juga urusan pemerintah.
Diingot abang dope kan, Irvan Hutasoit…. mantan aktivis Forkot 98, STT Jakarta….
Boha do kabar ni abang…. adong dope jenggot iiii ??????
Di Labuhan Batu do nuaeng ahu melayani…. Mansai jorbut do dison abang pengaruh perbedaan i, tarlumobi ma i perbedaan agama. Molo nihataan dison taringot tu Pluralisme, gabe disangka do i bentuk baru ni Penginjilan, sampe hea do ahu di incar BRMI (Badan Remaja Mesjid Indonesia) Kualuh Hulu, ala hea huangkat sada makalah taringot tu Pluralisme agama di sada pertemuan tokoh agama. Memang, perjuangan na borat do i, jala ndang na gabe so iba ala ni boratna.
Taringot tu ProTap. Hubereng abang, pahatophu do huhilala pandangan ni abang i na mandok, ndang porlu do pe pemekaran wilayah ProTap.
Secara prinsipil hubereng, mansai porlu do Protap i molo marnida hita tu situasi daerah Tapanuli di tingki on. Mauliate ma tadok masa krisis ekonomi tahun 98 na salpu i asa boi langku digadis angka bangsonta i kopi di pasaran. Anggo ndang alani, ndang binoto be nuaeng hansit ni ngolu ni bangsonta i.
Alai mansai godang do pe hubereng abang angka daerah terisolir di daerah Tapanuli na ingkon porlu disentuh pembangunan di zaman nuaeng. Hea do hugagasi hami dohot angka muda/i ni GKPI mambuka sada dalan tu daerah terisolir di Siantar Naipospos, di dolok ni Adian Hoting. Ndang holan i abang daerah terisolir. Molo tabereng nuaeng, mansai godang do pe huta na adong di perbatasan ni Kabupaten Tobasa dohot Asahan, Tobasa dohot Labuhan Batu, Tapanuli Utara dohot Asahan, Tapanuli Utara dohot Labuhan Batu, na so boi dalanan pangke roda dua. Nunga hea ahu mandalani sada huta disi saleleng sadari holon manangkohi sada dolok-dolok.
Ndang binoto abang ise do nasala disi. Alai, molo binereng do sistem pemerintahan daerah naung adong nuaeng, mengacu do pemekaran wilayah tu kepentingan nasional, tarlumboi ma i tu kesejahteraan rakyat. Salah satu unsur kesejahteraan rakyat i, ima ketersediaan sarana transportasi. Ala adong do pe daerah terpencil nuaeng na so boi disentuh transportasi di pedalaman tapanuli, boha molo tapajonok daerah i tu pusat pengambilan kebijakan politik ima ibukota propinsi. Alani, terlepas ma jolo abang molo adong perbedaan strategi perjuangan pemekaran wilayah Propinsi Tapanuli, alai molo secara prinsipil, sada kebutuhan do nuaeng pembentukan Propinsi Tapanuli.
Molo sian segi kemandirian daerah, porlu hita belajar tu Propinsi Gorontalo nuaeng na mengembangkan agro-industri marhitehite tanaman jagung. Boi do signifikan penerimaan kas Propinsi Gorontalo sian agro industri jagung. Sementara, kekayaan alam Propinsi Tapanuli gumodang do pe sian Propinsi Gorontalo. Alani, pemekaran Propinsi Tapanuli secara prinsipil na denggan do i. Holan on, mari kita duduk bersama laho menentukan langkah strategis dohot taktis laho mewujudkan propinsi i.
Daniel Harahap:
Alai sungkun-sungkunhu: nunga hea dijou hame angka parhapistaran sian singkola timbo manigati dohot manulingkiti pingkiran pajongjong propinsi tape eh tapanuli i?
Ndang mungkin lupa ahu di aktifis ni forkot na umganteng ujui.
Sependapat dengan Sdr/i Rumonang.Orang Batak di perantauan (tanpa SARA) hanya “melihat dan mendengar”,tapi Orang Batak di area ProTap (tanpa terkecuali) merasakan suka-duka pembangunannya.Pemerintah memberi cap wilayah “Peta kemiskinan”, kita diperantauan (hidup dlm kenikmatan dan kenyamanan relatif makmur) hanya miris dan geleng-geleng kepala.Seringkali kita malah terprovokasi dan jadi aktif menyuarakan hal-hal miring tentang sikon Tapanuli.
Saya sering menegur,teman2 Batak yg kalo cerita sama suku lain bilang bhw Tapanuli sekarang payah tidak seperti dulu. Ujung-2 nya,adalah bahwa Orang Batak itu kasar, sok jago dan tak bisa diatur. Ini mau dibilang Character Assasination atau Mass-Suicide. Saya ingatkan teman2 itu kalo belum bisa membantu,s etidaknya nggak perlulah menjelek-jelekkan. Demikian juga hal pro atau Kontra ProTap disini adlah wacana untuk memperkaya cakrawala pengetahuan dan menggali informasi serta meningkatkan kepedulian kita bersama terhadap Bangso Batak. Mungkin bonusnya adalah mengasa kapabilitas teknis dan emosional kita semua. Horas Tondi Mandingin, Pir Tondi Matogu.
amang DTA, bagaimana kalau kita undang abang2 dan kakak2 pengacara2 yang hampir mahakaya itu untuk langsung merealisasikan ide amang DTA, yaitu dengan membicarakan mendirikan sekolah Tinggi Hukum bertaraf nasional di hitaan?
, karena saat ini beberapa diantara mereka juga “mengajar” di sekolah-sekolah hukum maupun kursus2 hukum (so, kenapa ga bikin Sekolah Tinggi Hukum di bona pasogit?
), dan kebetulan banyak diantara mereka yang juga jemaat HKBP dan sering menjadi donatur di gerejanya masing2. So, mungkin amang DTA sebagai pendeta HKBP akan lebih mudah mengajak mereka, peace & Jesus Christ bless our nation.
ps: mengenai protap, saya setuju untuk diadakan lebih dahulu pengkajian yang mendalam dan menyeluruh serta hati-hati, mengingat pembentukan protap menyangkut kehidupan orang banyak, tetapi satu hal yang pasti, apapun yang terjadi kelak, jangan sampai bangso batak menjadi “marbadai” sesama saudara seperti yang terjadi pada masa kericuhan HKBP dulu, karena yang rugi adalah kita sendiri
Terlepas dari sikap anarkis yang terjadi kemaren, saya melihat ide pembentukan protap sangat logis. Saya orang Tapanuli asal Tarutung dan sedang kuliah di Bandung, saya menyaksikan sendiri bagaimana daerah- daerah di Tapanuli, Humbanghas jauh tertinggal dari daerah lain seperti Medan,Siantar dan daerah di sekitar Ibukota Sumut. Kalau mau jujur di daerah – daerah terpencil di Tapanuli sungguh memprihatinkan kondisinya, mulai dari tidak terjangkaunya listrik, kondisi jalan yang buruk, infrastruktur seperti sekolah dan rumah sakit yang tidak memadai. Contoh konkrit yang terlihat adalah kota Tarutung dari sejak saya kecil sampai ketika saya pulang terakhir ke tarutung kondisinya tetap tidak ada pembangunan yang berarti.
Kondisi ini masuk akal karena Sumut yang mencakup wilayah geografis yang cukup luas, sehingga wajar banyak daerah di Tapanuli yang tidak terjangkau pembangunan. Kalau ada perkataan yang mengatakan bahwa daerah yang dimekarkan belum tentu bisa lebih sejahtera dibandingkan saat berada dalam provinsi induknya, saya bisa memberi kesaksian, saya bisa melihat bagaimana hasil dari pemekaran Humbanghas dari Tapanuli, hanya beberapa tahun setelah pemekaran yang dilakukan, hasil yang signifikan terlihat di Kabupaten Humbanghas. Dahulu Dolok Sanggul yang kini merupakan ibukota Kabupaten Humbanghas adalah sebuah kota kecil yang tidak bisa disebut kota karena sungguh tertinggal dengan infrastruktur yang minim. Sekarang Dolok Sanggul sudah jauh mengalami perkembangan dari segi infrastruktur dan kesejahteraan masyarakatnya, saya bisa berbicara seperti ini, karena kedua orangtua saya berasal dari kabupaten Humbanghas dan saya cukup tahu beberapa daerah disana.
Sekarang jika ada tantangan pemekaran Protap, seharusnya kita melihatnya sebagai suatu kesempatan yang besar untuk pertumbuhan daerah – daerah Tapanuli, Tapteng, Humbanghas, Tobasa, Nias Selatan karena akses untuk pertumbuhan akan fokus pada daerah – daerah ini. orang – orang yang takut untuk terbentuknya Protap adalah orang – orang yang tidak yakin pada potensi yang dimiliki tapanuli, padahal jelas bahwa sumberdaya yang yang menyokong Sumut berasal dari daerah – daerah Tapanuli, sekarang pertanyaannya mengapa orang – orang masih ragu jika Tapanuli bisa berdiri sendiri. Untuk itu kita butuh orang – orang yang mampu mengelola dengan arif agar potensi – potensi yang dimiliki oleh Tapanuli dikelola dengan maksimal bagi kesejahteraan masyarakt Tapanuli. Pray for it!!
Kalau masalah bagaimana dengan orang batak yang berada di daerah mayoritas bukan batak seperti angkola, saya mau berkomentar. apakah isu pembentukan Protap menyebut – nyebut Protap adalah daerah dengan status daerah istimewa Kristen seperti yang terjadi pada prov DI Aceh??? Jelas tidak, lalu apa alasan untuk menolak karena takut diperlakukan tidak adil oleh orang – orang yang didaerah mayoritas bukan Batak?? apakah orang – orang yang berasal dari DI Aceh diperlakukan tidak adil di daerah yang bukan mayoritas Aceh? apakah orang Aceh tidak diperbolehkan tinggal di Papua contohnya?apakah orang Aceh harus di Aceh?
setiap tulisan dan tanggapan yang saya tuturkan dalam blog amang pendeta hanya sebagai ungkapan hati saya sebagai orang tapanuli, maaf jika dalam tulisan ini terdapat kata – kata yang tidak berkenan.
best regards-junisihotang
Saya setuju pemekaran menjadi Provinsi Tapanuli. mulak ma hamu tu huta, bereng ma dari tahun ke tahun begitu terus, pemerintah tidak perduli.
Protap adlh salah satu langkah yg baik, hanya saja mari kita harus mempersiapkan diri, bukan malah menjegal.
Saya pikir, beberapa argumen2 dan comment saudara2 diatas sangat bagus. mari kita renungkan sama2, bukan bersikeras dengan pendapat sendiri.
Daniel Harahap:
Suruh dululah para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengadakan simposium. Apa memang benar propinsi tapanuli merupakan solusi terhadap ketertinggalan atau malah merupakan masalah baru.
Daniel Harahap:
Suruh dululah para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengadakan simposium. Apa memang benar propinsi tapanuli merupakan solusi terhadap ketertinggalan atau malah merupakan masalah baru.
–> Pernyataan yg menyesakkan. Seandainya saya punya wewenang & kapasitas saat ini, well akan saya lakukan. Orang yang baca n buka hati comment2 sblmnya akan mengerti, studi komparatif aja dg wilayah lain sdh sangat mencerminkan, tidak usahlah menutup mata dg keadaan ini.
Daniel Harahap:
Saya akan tidak bosan-bosan mengatakan: lakukanlah dulu simposium minimal di dua perguruan tinggi. Panggillah ahli dari berbagai disiplin ilmu non partisan (bukan hanya ekonomi, tetapi juga antropologi dan sosiologi, ilmu politik, ilmu sejarah, ilmu komunikasi) untuk mengkaji dan memperdebatkan manfaat dan mudarat, untung dan rugi, pendirian propinsi Tapanuli. Tanpa itu saya mau mengatakan: ini hanya akal-akalan elit politisi haus kekuasaan saja namun mengatasnamakan Rakyat miskin, ketertinggalan, dan lain-lain.
Buat Yang Mendukung protap :
Pulanglah kalian semua, bangun tapanuli ….
Ini bukannya pulang, tapi tergiur bekerja di tempat lain ….
Percuma kalian tamat dari ITB, UI, UGM, ato apapun itu namanya …..
Dimana Ilmu kalian, tunjukkanlah dulu ……
Jangan ngomong aja …..
Buat yang tidak mendukung Protap :
Untuk saat ini protap memang blm layak, butuh proses panjang untuk membentuknya …..
Tidak mendukung, mgkn karena cara dan tujuannya yang sekarang sudah lari dari prosedur yang berlaku …..
Yth Amang DTA,……terima kasih telah memfasilitasi orang-orang Batak untuk mengemukanan pendapat dan kepeduliannya terhadap polemik Pembentukan Propinsi Tapanuli. Sebagai sebuah diskusi, adalah wajar untuk berbeda pendapat satu dengan yang lainnya. Diskusi ini mungkin menjadi salah satu rekor dari jumlah komentar terhadap sebuah object tulisan Amang. Akan sangat sia-sia apabila kita tidak mendapatkan bagaimana hasil dari diskusi kita ini.
Kalau boleh mengusulkan, agar Amang menyempatkan diri untuk membuat kesimpulan dari diskusi ini dalam sebuah tulisan baru…..mungkin judulnya….”Kami sangat mencintai Tapanuli Utara – Kampungnya Batak Toba, yang terletak di Sumatera Utara salah satu Propinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia….
bagus tulisan ini amang, secara pribadi saya juga tidak mendukung terbentuknya PROTAP hanya karena “kepentingan” dan “emosional”, tp yang saya perhatikan dari rumah memet ini adalah milik amang pendeta. Menurut saya yang mungkin orang cari di blog ini adalah bagaimana seorang kristen mengambil sikap dalam perkembangan yang dinamis ini, mungkin kita butuh refrensi untuk memandang pemekaran propinsi dan bagaimana bertindak sebagai orang batak yang kristen dari segi Alkitab. alasan saya kalo tulisan pro dan kontra di internet sudah banyak, tapi bedasarkan alkitab untuk memandang situasi ini belum ada ato blom saya temukan, kalo ada minta refrensinya.
Daniel Harahap:
Kita menganut azas pemisahan gereja dan negara. Sebab itu untuk mendukung atau menolak pembentukan propinsi Tapanuli tidak boleh pake dalil-dalil agama atau ayat-ayat Kitab Suci. Bahwa sikap kita dipengaruhi oleh pendirian-pendirian etis dan moral yang berdasar iman kita lain hal.
Karena belum ada yang menjawab pertanyaan amang DTA dia atas, saya cobalah untuk menjawab, inipun dari hasil searching karena saya bukan aktivis Protap.
* Seminar Pembentukan Propinsi Tapanuli , Kampus USU Medan, 23 Sept 2004.
* Diskusi Panel Pembentukan Propinsi Tapanuli , Hotel Danau Toba Medan 10 Nopember 2006.
* Audiensi ke DPR RI oleh Panitia Pembentukan Protap 27 Nopember 2006 . Termasuk oleh dua orang putera Batak yang bergelar Prof. DR. dan satu orang putera Batak anggota DPR RI.
Tambahan :
* Gagasan Propinsi Tapanuli sudah ada 15 tahun lalu jauh sebelum munculnya gagasan pembentukan propinsi-propinsi muda yang ada sekarang. Hal ini dibuktikan denga adanya lagu pop batak ” Propinsi Tapanuli sada Gubernur ”
* Kongres Masyarakat Tapanuli, Tarutung 6 April 2002 .
* Unjuk rasa massal ( lebih 10.000 orang ) di kantor DPRD Sumut, 24 April 2006 .
Catatan :
Gagasan adalah Pembentukan Propinsi Tapanuli, BUKAN NEGARA TAPANULI.jadi kenapa harus takut ?
Sebelum di bentuknya Propinsi Riau Kepulauan, masyarakat melayu telah mendengungkan pepatah ” Takkan hilang Melayu di bumi ” Haruskah ketakutan kita mengakibatkan kita menuding para pejuang Protap tersebut punya kepentingan sesaat ? atau sara ? atau gila kekuasaan ? dll ?
Jangan-jangan kita yang Negatip thinking .
Daniel Harahap:
Okelah, saya memang tahu pernah ada satu seminar propinsi tapanuli di kampus USU tahun 2004. Namun Anda tidak menyebutkan hasilnya, sengaja tak sengaja. Setahu saya ahli antropologi justu tidak merekomendasi pembentukan propinsi tersebut karena dianggap membahayakan bagi kehidupan sosial di sumatera utara.
Selanjutnya tidak relevan. Yang sangat saya perlukan sebagai pertimbangan adalah simposium para ahli, bukan audiensi panitia protap ke DPR, unjuk rasa, apalagi “kongres rakyat tapanuli plus para artis ibukota”
Pro Ritool:
Tolong dijelaskan seminar-seminar itu membahas Tapanuli yang mana? Apakah sama konsep propinsi tapanuli yang diperbincangkan dalam seminar dan kongres masyarakat tapanuli dengan yang diperjuangkan sekarang? Itu yg dipertanyakan amang DTA dan juga kami. Jangan berhenti hanya kepada judul saja. Sama dengan kondisi sekarang mengatasnamakan Tapanuli tapi mayoritas masyarakat tapanuli menolak bergabung dgn Protap itu. Lagian, kalau hanya memperjuangkan ex-Kab Tapanuli Utara menjadi propinsi Tapanuli, malu kali pun. Berapalah penduduknya? Apa pantas?
Saya Turut Prihatin atas terjadinya Musibah di Medan. Semoga Tidak terulang Kembali dan Kiranya Kel Bpk Ketua DPRD SUMUT Tabah.
Sebagai Orang Batak Asli tapi Kelahiran ASAHAN /sekarang Batu bara SUMUT dan Saat ini Tinggal di BSD Tangerang ,saya Setuju dengan Tulisan Amang DTA diatas, Saya Bangga dengan Sebutan Sumatra Utara.
Kalau jadi Propinsi Tapanuli ,Kenyataanya Tidak Semua Mendukung,justru menurut saya langkah Mundur dan Kenyataan yang ada Orang Batak jauh lebih banyak tinggal diluar Tapanuli apalagi kalau hanya diTaput (bandingkan dengan Jemaat HKBP kira kira 3 Jutaan,berapa penduduk Taput?? Orang Batak kan bukan hanya HKBP banyak juga Sekte lain bahkan Muslim).
Saya lebih setuju empat kabupaten hasil pemekaran Taput lebih Konsentrasi membangun masing-masing wilayahnya seperti tujuan saat Kabupaten itu dibentuk. Saya melihat pembentukan Protap hanya untuk Kepentingan elit biar bisa jadi Gubernur, Ketua DPRD dll atau bagi-bagi Proyek. Biarlah Orang Batak Bisa Hidup dengan baik diseluruh Indonesia dan Bahkan Dunia dan tidak harus Di Tapanuli. Kita harus bangga dengan orang Batak/Tapanuli Tidak Jago Kandang, kemanapun kita pergi pasti jumpa dengan Bangso ta dan Banyak jadi Pejabat, Top Management Perusahaan Nasional dan Internasional, Pengusaha Hebat hebat lagi. Untuk apa kita mempersempit Wawasan?
Kita Doronglah Pemerintah SUMUT dan Pusat Serius membangun Tapanuli dan tidak harus jadi Propinsi.
saya balik sedikit.. apa yang menjadi kerisauan?? semua data ada kok, kemampuan keuangan Provinsi TAPANULI nantinya bisa dilihat dari data keuangan kabupaten2 yang ada sekarang, kondisi sosiology masyarakat tentu kita tau persis karena kita lahir, besar dan berinteraksi disanan, soal antropology?? sebanyak apa yang perlu kita jelaskan tentang orang batak, ekonomi, politik budaya hankam, semua bisa kita jelaskan. bahkan masing2 kita mungkin bisa menjelaskan dan juga kita punya literatur2, referensi2 otentik, baik berupa buku, tulisan di media cetak, pernyataan2 di media elektronik.. tinggal kita saring, kita “rimang-rimangi dengan seksama…
kalau amang DTA bilang beliau punya provinsi SUMUT, sudah jelas BENAR SEKALI, karena memang beliau lahir MEDAN, tentu orang tuanya di MEdan bukan di TAPANULI.. jadi jangan terlalu mudah menafsirkan JUDUL “Topik Perang” yang dilontarkan amang DTA. apalagi sekarang beliau punya KTP Banten hahaha…. sama seperti saya, orang tua di SImalungun (SUmatera Timur) dan sekarang saya punya rumah dan KTP di CIbubur..
Cuma, memang karena latar belakang Historis yang mau tidak mau membuat saya tergerak untuk ikut mencampuri urusan ini dari “kejauhan”. Ahhh.. mimpi itu terasa makin Nyata.. Selamat Datang Provinsi TAPANULI. Nanti aku lanjutkan.. berhubung aktifitas kantor udah mulai rame heheheh
Horas Jala Gabe ma dihita saluhutna.
Daniel Harahap:
Sekali lagi: tanpa simposium para ahli (sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, pemerintahan, komunikasi dll) jangan bikin keputusan pemekaran propinsi. Nasib jutaan rakyat tidak bisa ditentukan hanya pake emosi apalagi sentimen sempit keagamaan dan kesukuan. Biarkanlah para ahli mengkaji dan meneliti dari semua aspek. Namun pesan saya kalau para ahli sedang simposium jangan didemo ya?!
Sering saya lihat orang yang tidak ikut berpartisipasi yang lebih banyak komentar, orang yang tidak banyak berjuang lebih banyak kritik, orang yang tidak pernah menyumbang lebih banyak protes, ini lah yang sering terjadi termasuk di HKBP. Untuk Protap bagi yang tidak berkepentingan janganlah banyak komentar , sebab panas telinga mendengar komentar bapak-bapak sekalian…,saya asli dari Baringin Pusuk Parlilitan saya berharap Protap jadi, karena saya berkepentingan.. biar pun saya tinggal sekarang di malang saya ingin jika kelak jadi Propinsi tentu bisa saya satu hari dari malang sampai ke Parlilitan apabila ada bandara silangit sudah di perbesar ada langsung dari jakarta silangit itu yang pertama, yang kedua jika sudah propinsi investor akan lebih banyak masuk mungkin dolok pinapan, simonggo menjadi wisata yang luar biasa, dan di dolok sanggul akan bisa saya dirikan mall.
Untuk itu kepada rekan-rekan yang sudah berjuang trimakasih maju terus pantang mundur jangan dengarkan kritik yang destruktif apalagi mereka yang tidak berkepentingan.
Daniel Harahap:
Hehehehe. Saran saya: tolonglah dulu dibeli mobil pemadam kebakaran untuk bandara Silangit. Kemarin waktu mendarat di Silangit saya lihat mobil pemadam bandara tersebut pinjaman dari PT TPL. Ndang boi mangurus negara mamangke erosi eh emosi Lae. Kalam hamu.
Horas amang…
Ini hari sabtu tanggal 7 Feb, 2009 ada ulasan tentang orang batak yang menurut aku cukup baik buat kita dibaca…dan penulisnya juga membahas soal kejadian yg di gedung DPRD SUMUT.
Peace semua…butima sian saya…
Daniel Harahap:
Thx. Namun saya masih mengharap ada yang mensponsori simposium para ahli. Kalau boleh diadakan di tempat aman dan dingin dan jauh dari kompor supaya para ahlinya tidak didemo dan ditekan memberi pendapat sesuai keinginan orang tertentu.
TAPANULI
Tapa Uli Ma
Singkat saja dari saya :
Mari kita evaluasi apakah pembangunan harus memakai baju “provinsi”
sejenak kita harus mengerti nilai-nilai kebatakan kita sudah memud
Mari kita lihat pergerakan anggaran pemerintah (APBN) melalui DAU sejak tahun 2000. Silakan lihat di situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Departemen Keuangan RI. Apa yang akan kita peroleh. Apakah sekedar bagi2 kue? Tidak, ini menyangkut pengembangan wilayah (ekonomi) Indonesia. Berapa proporsi anggaran untuk Sumatera Utara sebelum dan sesudah pemekaran2 kabupten/kota dari 2000 hingga 2008? Masalah ada penyalahgunaan (suatu saat akan tertib administrasi keuangan, kita jgn kawatir), itu hy sementara. Pembangunan mau dilakukan dgn uang dari kantong sendiri orang batak perantauan? Jgn kita bandingkan dgn daerah lain (contoh Sumbar atau Jawa), ketahuilah sebagian besar dana pemerintah yg diarahkan kesana. Mau berdebat, kita buka realisasi anggaran pemerintah dari tahun ke tahun. Mslh sara dipakai hy untuk mengalihkan keinginan2 itu. Kalau semua org hebat dr tapanuli hrs merantau untuk mendapatkan kesejahteraannya, kayaknya itu yg terjadi saat ini. Jkt dan kota2 lain yg maju akan overload, dan daerah tertinggal akan tetap tertinggal (bukan hy Tapanuli). Menunggu tapanuli maju dgn sendiri, mari berdoa sj kalau begitu. Dana mengalir krn digerakkan. Siapa yg menggerakkan? PENGUASA. Mimpi sdh mau jd kenyataan, Mari kita dukung!
silahkan panggil saya sebagai seorang apatis dan materialistis,
tapi apa kita akan jadi kaya dengan adanya propinsi Tapanuli?
cuma orang2 berjas dia atas yang akan menikmati dana dari negara.
Aku setuju dengan pendapat amang. Terlebih untuk Point 2 (Ph.3). Kalau boleh usul, pendapat-pendapat yang positif, disebarluaskan sejak saat ini. Saya yakin, saudara-saudara kita yang di Sumatera Utara dan sekitarnya masih butuh pengertian untuk memahami apa yang terjadi. Sayang sekali jika kita, yang berasal dari ‘kampung’ dan hidup dikota besar yang kabarnya sudah lebih maju tidak bisa memikirkan yang terbaik dengan hati dingin.
Arga do bona ni pinasa – Vicky Sianipar, kayaknya bisa kita dengerin lagi nih…:) Peace..
Seharusnya rakyat menuntut hal yang konkrit-konkrit saja: pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, jalan raya, pasar dsb. Lalu bila dalam menjawab tuntutan itu dirasa perlu untuk memekarkan sebuah wilayah maka biarlah itu menjadi urusan Pemerintah Propinsi (dalam hal kabupaten) dan urusan Pemerintah Pusat (dalam hal propinsi). Tapi cara berpikir rakyat di negara ini memang aneh. Alih-alih menuntut hal-hal yang konkrit, mereka menuntut hal-hal yang abstak. (Entah bagaimana pula teorinya bahwa pemekaran sebuah daerah adalah jawaban bagi peningkatan kesejahteraan).
Tuntutan pemekaran (kabupaten/kota atau propinsi) adalah permainan para elit daerah dalam mengejar kekuasaan dengan mengatas-namakan rakyat yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa dan mengobar-ngobarkan sentimen etnis dan agama.
Tuntutan pembentukan Propinsi Tapanuli, Propnsi Nias, Propinsi Sumatera Timur dan Propinsi Sumatera Utara Tenggara haruslah dihentikan. Dia hanyalah sebuah proyek mengkapling-kapling kekuasaan di Sumatera Utara yang dilakukan oleh orang-orang berpikiran picik, yang merasa tak mampu bertarung untuk menjadi pemimpin di luar kampung halamannya.
Para bupati/walikota dan DPRD Kabupaten/Kota itu sudah diberi wewenang dan anggaran untuk membangun daerahnya. Seyogianya tanpa harus berkelompok dalam sebuah propinsi mereka sudah bisa membangun. Mereka sudah bisa membangun prasarana fisik di tingkat kabupaten, mereka sudah bisa mengambil prakarsa mengundang investasi swasta, mereka sudah bisa memperbaiki pendidikan, mereka sudah bisa memperbaiki kesehatan masyarakat dsb.
Kalau mereka membutuhkan pembangunan prasarana fisik dalam level propinsi (baca: antar kabupaten) tokh tersedia anggaran di tingkat propinsi. Bahkan kalau mereka membutuhkan prasarana fisik dalam level nasional tokh sudah tersedia anggaran pusat.
Kalau pemerintah propinsi atau pemerintah pusat terkesan menganak-tirikan mereka, maka mereka tokh bisa menyuarakan aspirasi mereka melalui anggota DPRD Propinsi atau DPR/DPD Pusat yang mewakili wilayah mereka. Apa gunanya para sontoloyo itu digaji dengan uang rakyat?
Kemudian jangan kita lupa bahwa faktor yang paling penting dalam menggerakkan perekonomian di suatu daerah adalah investasi swasta. Bukan RAPBD atau RAPBN. Dan investasi swasta tak ada urusannya dengan apakah suatu daerah berbentuk kabupaten atau propinsi. Kalau bupati/walikota memang bisa “menjual” daerahnya, investasi swasta pasti akan masuk. Dan urusan pembangunan lapangan terbang–walau pun itu didanai oleh Pusat–itu adalah urusan untung-rugi. Kalau Bandara Silangit– misalnya –memang memperlihatkan prospek ramai, maka Pusat pasti akan membangunnya. Tapi kalau memang tak ada orang yang
menggunakan bandara itu, sampai “kucing bertanduk” pun dia tak akan dibangun.
Tentang pembangunan turisme juga sama saja. Kalau para bupati yang kabupatennya memiliki pantai Danau Toba memang cerdik, yah mengapa tidak mengundang saja para investor untuk mulai membangun hotel secara kecil-kecilan sementara mereka mendidik rakyat untuk menjadi tuan rumah yang baik? (Sampai akhir tahun 60-an-an Kuta masih merupakan sebuah pantai tempat “jin buang anak”. Tapi karena orang Bali ramah, maka orang-orang Australia senang membangun gubuknya di sana. Lalu setelah makin banyak orang Australia berdatangan, barulah para investor besar meliriknya).
Tentang pembangunan sumber daya manusia juga sama saja: Mengapa para putra daerah itu harus menunggu Samosir menjadi Propinsi Tapanuli atau Sipirok menjadi Propinsi Sumatera Utara Tenggara? Mengapa tidak pulang saja ketika daerah itu masih berstatus kabupaten?
Horas…
Masih teringat dulu waktu kecil (20 thn yang lalu ) lawakan Pakter Tuak Sayur balati ( Jack Marpaung Cs ) : Lagu Tapanuli Propinsi . ada lawakan pendirian APDT ( Akademi pelayaran Danau Toba) , ada lawakan molo boi ibukota di sibisa itu yang saya ingat …….tapi itu cuma lawakan ato ada pesan khusus hanya Bang Jack Cs yang tahu.
Rencana pemekaran Protap sudah cukup panjang dan melelahkan
Terlepas akan terwujud apa tidak yang pasti kejadian kemarin menjadi pukulan anti klimaks dari semuanya…kita turut prihatin
sebagai kelahiran dan besar di Bona pasogit saya mendukung supaya pembangunan bisa dipacu lebih cepat dan tentunya juga mendorong pendirian Sekolah Tinggi dan Penanaman modal investor yang mendukung kemahiran dan kemampuan halak hita dalam segala hal….
( Note: Korea tanahnya Tungil bisa eksis di dunia ini… ..tanya kenapa …. )
Mudah mudahan tidak keduluan Propinsi Sumatera Tenggara ( Tapsel CS ) yang nota bene sudah mulai digagas dan sudah demo ke DPRD SU.
Maju teruss Provinsi Tapanuli…!!!
Aku SANGAT SETUJU dengan pendapat amang!!
Sering saya lihat orang yang tidak ikut berpartisipasi yang lebih banyak komentar, orang yang tidak banyak berjuang lebih banyak kritik, orang yang tidak pernah menyumbang lebih banyak protes, ini lah yang sering terjadi termasuk di HKBP, seperti yang dituturkan dalam comment sebelumnya.
menurut saya, sangat tidak berpikir panjang, kesanna sebagai sebuah kebanggan,,tapi nyata2nya masyarakat indonesia n luar menilai demo anarkis yg berlangsung itu sangat tidak masuk akal, teralu mengada-ada jika dilakukan pemekaran.
yg menjadi pertanyaan:
apakah bisa dijamin dengan pemekaran taput menjadi propinsi adalah sebuah solusi dalam penyelesaian masalah perekonomian, sosial, dan politik di SUMUT?? terutama bagi pihak2 yg menjadi motor demo yg mengiming2i sebuah kejayaan?
menurut saya, pembangunan daerah tidak harus terjadi pemekaran..
bangun dan belajar dari hal2 yang kecil dulu..,
seperti kata amang,
bangun sistem perekonomian sumut terutama di daerah2, explore usaha2 yg dapat menjanjikan u diekspor (seperti dulu, bawang batak, koq dah hilang??) u meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah, membangun perpustakaan daerah, laboratrium sekolah2, fokus di sektor pertanian, perbaiki infrastruktur yg dapat memudahkan mobilitas perekonmian daerah, tingkatkan sektor pariwisata (ex danau toba) u menarik turis2 asing di SUMUT..dan masih banyak lagi potensi yg dapat dikembangkan (hanya jika pemerintah dan masyarakat bener berkomitmen n serius)
batak di kenal sebagai orang yg berprinsip, keras dalam mencapai cita2..
so, buktikan itu tidak hanya dengan banyak omong tp nol perbuatan.. hanya bisa berkoak2 di gedung sana..
ya, 1, 2, 3 orang yg memulai,, saya rasa lebih baik daripada 1000 yang berkoak2 tp ga jelas tujuan n asal usulnya.
samosir hatubuanku..
mansai las rohaku mangida..
dang hupaloas ise pe namanegai ho..
(seperti lagu batak tu)..
BUAT YANG DUKUNG PROTAP :
PULANG DULU KALIAN, TUNJUKAN KALO KALIAN BISA MEMBANGUN TAPANULI …….
JANGAN HANYA BISA BERKOAR-KOAR AJA DILUAR SANA ……
TUNJUKAN TAJI KALIAN ….. BARU SALUUUTTT BUAT KALIAN ……..
INI UDAH MAKAN SULIT, SOK JAGO-JAGOAN LAGI ….
KALO DIBILANG PEMBANGUNAN TAPANULI TERSENDAT, GAK MAJU ….
ITU YANG SALAH SIAPA …..??????????
PEMPROVSU, DPRD SUMUT, ATO PEMERINTAH PUSAT …..????
INI UDAH JAMAN OTONOMI DAERAH ….
ITU YANG SALAH BUPATI-BUPATINYA …….
BUPATI-BUPATINYA PUN ORANG KITANYA , O R A N G – B A T A K ….
ORANG BATAK JUGA …..
KEMANA DANA APBD SELAMA INI ……
APA MASUK KANTONG SENDIRI …….
MAKANYA TUNTUTLAH, BUPATI2XNYA ……
KEMANA ANGGARAN ITU SELAMA INI …..
JANGAN HANYA ALASAN APBD KAMI KECIL …..
ITU BUKAN ALASAN …….
MASIH ADA CARA LAIN ….
TARIKLAH INVESTOR, BUKALAH JARINGAN-JARINGAN KE DUNIA LUAR …
KREATIF LAH DIKIT …….
JANGAN DI KANTOR AJA ……
MARI KITA BUKA MATA KITA ……..
Daniel Harahap:
Kalau boleh lain kali jangan terlalu banyak memakai huruf kapital. Di dunia nyata itu sama dengan berteriak-teriak pake mik.
Berhubung komen yang masuk sedemikian banyak, agar posting ini dapat dengan mudah diakses maka kami telah memindahkan ruang komen isu propinsi tapanuli (utara atau tenggara atau apa saja) ke ruang sebelah, dengan judul: Debat Lapo eh Lanjutan Prospek Sumatera Utara.