Ulang Tahun Nina Ditunda

February 20, 2009
By Daniel T.A. Harahap

nina-sayang.jpg

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Ini bukan kisah nasional bahkan juga bukan berita lokal kota yang menggemparkan, tetapi hanya sebuah cerita remah sebuah keluarga biasa. Keluarga kami yang sederhana. Hari ini 20 Februari putri kami Nina berulang tahun ke-9. Ya Nina lahir tanggal 20 bulan 02 tahun 2000. Kata orang di tahun naga emas. Kata kami di tahun penuh cinta.

Seminggu lalu siang-siang Nina menelpon saya dari Palembang menanyakan apakah Bapak datang di hari ulang tahunnya. Saya gelagapan. Akhir pekan pekerjaan menumpuk di gereja dan saya sudah terikat jadwal pelayanan. Gelagapan saya menjawab lirih: “Bapak minta maaf Inang, Bapak tidak bisa datang karena ada pekerjaan”. Nina membujuk dan menawar. Suaranya pelan lirih. “Kenapa pekerjaan Bapak tidak ditunda saja atau suruh pendeta lain mengganti Bapak?” Kerongkongan saya tercekat. Sesaat saya terdiam. Pusing. Saya tidak sanggup menjawab gadis kecil ini. Akhirnya saya berhasil mengumpulkan semua enerji mengatakan terus terang, “Bapak tidak bisa datang hari Jumat, Nina, Bapak ada pekerjaan, Bapak minta maaf. Namun Bapak akan mengusahakan datang hari Minggu.” Nina diam. Saya tidak mendengar dia menangis atau merengek. Namun air mata saya malah menetes. Setelah itu Nina tidak lagi menyinggung-nyinggung soal ulang tahunnya. Dan karena merasa bersalah saya tidak berani menanyakannya lagi.

Hari berganti hari. Namun suara Nina yang memohon lembut agar saya datang di hari ulang tahunnya tidak kunjung bisa hilang dari ingatan saya. Suara bening itu selalu muncul kembali di tengah-tengah kerja dan bahkan saat saya memikirkan masalah gereja yang rumit. Saya lelah berjuang mengingatkan diri akan panggilan kependetaan yang saya terima: agar mendahulukan Tuhan daripada keluarga (dengan iman kepada Tuhan yang sangat mencintai orang-orang yang mencintai dan dicintai saya). Ya begitulah.

Kemarin sore tanggal 19 Martha menelpon dari Palembang. Katanya Nina tiba-tiba meminta agar pesta ulang tahunnya (sebenarnya tidak mengundang siapa-siapa, hanya tiup lilin dan potong kue di keluarga!) ditunda sampai hari Minggu. Ya, ditunda! Juga kado ultahnya. Alasan Nina: menunggu Bapak datang. Hati saya teriris. Sedih campur bahagia. Haru berpadu bangga. Sedemikian pentingnya kah seorang Bapak bagi gadis sembilan tahun ini? Siapakah saya ini sehingga sebuah pesta ulang tahun harus ditunda? Oh Tuhan, siapakah saya ini?

Saya sungguh tidak sabar lagi menunggu Minggu sore datang. Saya janji akan menyelesaikan pekerjaan saya Jumat dan Sabtu, berkotbah Minggu pagi dua kali berturut di Serpong dan lantas siang pukul satu di Cisauk. Sesudahnya saya minta ijin kepada Tuhan untuk menjenguk dan mencium putri saya Nina di Palembang yang rindu merayakan usia ke sembilan bersama ayahnya.

Happy birthday Nina!

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

15 Responses to Ulang Tahun Nina Ditunda

  1. Friska Pardede on February 20, 2009 at 9:53 am

    Ungkapan hati dari seorang ayah yang sangat perduli dan sangat mengasihi keluarganya , andaikan semua bapak2 didunia ini paling tidak org Batak seperduli amang terhadap keluarganya jamin!! tidak ada anak2 yg mati sia2 krn narkoba dan tdk ada perempuan2 yg hamil diluar nikah saya berandai2 betapa hebatnya anak2 kita andaikan memiliki ayah seperti amang ini dan yg memiliki seorang ibu seperti inang Martha yg sanggup meyakinkan putra putrinya tentang keterpisahan kedua orang tuanya.

    Selamat ulang tahun Nina sayang…kelak kau dewasa pasti banyak bercerita tentang kedua orangtuamu yg luar biasa ini, salam sayang dari kami sekeluarga

  2. Efrael T.H. Sitohang on February 20, 2009 at 10:12 am

    Hatiku.. bergetar membaca tulisan ini… berarti nilai2 kemanusiaan dalam batinku tersentuh… sama seperti membaca kisah2 dalam chicken sopu for the soul.

    Selamat Ulang Tahun buat Adik Nina.. Cintamu kepada Bapak.. menggetarkan hati…
    Bahagianya Amang DTA mempunyai anak2 yang mencintai Amang… Puji Tuhan..

  3. JP Manalu on February 20, 2009 at 10:12 am

    Selamat ulang Tahun kepada “maen” itu amang, semoga berkat Tuhan senantiasa tercurah untuknya, salam kami sekeluarga dari Solo untuknya. Horas.

  4. Andy Harahap on February 20, 2009 at 10:34 am

    Koreksi amang, hari ini Tgl 20.

    Daniel Harahap:
    Thx Andy, sudah diperbaiki.

  5. Veronica Napitupulu on February 20, 2009 at 11:59 am

    ‘The great couple’ untuk amang dan inang. Banyak pasangan yang belum bisa bekerjasama dalam segala hal. Bahkan banyak diantaranya yang sangat egois. Mungkin aku termasuk didalamnya. Semua tergantung bagaimana pasangan itu menyikapi masalah yang dihadapi. Selamat ulang tahun Nina… I’m standing applause fou your age. Umur 9 tahun bisa mengajarkan dirimu tentang perlunya ‘mengalah’.

  6. junita simandjuntak on February 20, 2009 at 12:04 pm

    Sebelumnya: Selamat Ulang Tahun buat Nina, kiranya TUHAN memberkati, umur panjang ada ditangan kananmu, ditangan kirimu kekayaan dan kehormatan..dan kiranya Amang dan Inang di beri kekuatan membesarkan dan mendidik adik adik yang manis manis ini. Amin.

    Saya bisa merasakan dan mengerti perasaan seorang anak yang berusia 9 thn yang meminta Bapaknya bisa hadir di sampingnya di hari spesialnya.

    Sayapun pernah mengalami hal yang sama waktu seusia bahkan lebih kecil dari Nina, umur saya waktu itu 7 thn, Bapak saya seorang PNS Perkebunan yang sering dipindah tugas ke lain daerah bahkan lain pulau hingga bertahun-tahun.

    Suatu saat Bapak saya di pindah tugas ke satu pulau yang jauh dari pulau kami tinggal, transport sangat sulit bila akan mencapai pulau tersebut.
    Kami tinggal berlima (saya bersaudara 4 orang) plus satu namboru yang menjaga kami, saya telah piatu sejak umur 5 thn akibat kecelakaan Kapal Tampomas II thn ’80.

    Waktu itu saya berharap Bapak saya bisa pulang untuk mengucapkan selamat ulang tahun, memeluk dan mencium saya (sewaktu menulis ini saya sempat menitikkan airmata mengenang masa itu), saya tidak mengharapkan tiup lilin, kue ulangtahun ataupun perayaan, saat itu saya pikir hal demikian hanya untuk orang kaya saja:(.

    Bapak saya memang tidak pulang, saya mengerti, yang membuat saya berbesar hati Bapak saya tidak pernah lupa mengucapkan selamat Ulang Tahun bahkan dalam kondisi masih sulitnya media komunikasi saat itu, hanya menggunakan SSB, sebuah surat yang di tulis mirip telegram lewat kantor (sampai saat ini saya tidak tau kepanjangan dari SSB tsb)
    Bapak saya mengusahakan SSB tsb sampai ditangan saya pagi-pagi sekali tepat dihari ulangtahun saya!!
    Dan hebatnya Bapak saya melakukan hal itu kesemua anak-anaknya setiap tahun, tidak pernah terlewat seharipun.

    Hingga saat ini Bapak saya telah berumur 73 thn, saya telah menikah dan mempunyai anak, dia selalu orang pertama yang mengucapkan: “Selamat Ulang Tahun Inang, Papi selalu memikirkan kamu dan tidak pernah lupa mendoakan kamu”

  7. Gerda Silalahi on February 20, 2009 at 12:52 pm

    selamat ulang tahun nina cantik.
    tante doakan sehat selalu, tambah pintar, tambah cantik. jadi kebanggaan bapak dan mama selalu. amin.
    semoga acara tiup lilinnya nanti menyenangkan nina yah.

  8. the Sianipar's on February 20, 2009 at 2:39 pm

    Happy Belated Birthday NINA…
    wish all your dreams comes true..
    Love:
    Jannus,Linda,Jojo.. duri-riau

  9. Beben Sihombing (YBSS) on February 20, 2009 at 5:13 pm

    Selamat Ulang tahun Nina, adik kecil yang baik, kiranya Tuhan selalu menjagamu. amin. salam dari kami sekeluarga.

    ps: saya punya anak yang umurnya lebih tua 1 tahun dari Nina, semoga sikap yang ditunjukkan Nina, juga menjadi tauladan bagi anak saya, sungguh beruntung amang DTA :-)

  10. Panca Bonar on February 20, 2009 at 5:44 pm

    Nina yang manis….wuuih sekarang udah 9 tahun ya… tambah umur, tabah pintar, tambah bandel..eh nggak ya…tambah baek aja dech ya. Om nggak bisa ngasih kado tapi Om cuma mau kasih tau sesuatu, mau nggak ? ini nech ntar kalau udah ketemu papa dan udah ngumpul udah pasti dong ada tiup lilin khan? nach sebelumnya pasti berdoa dan ada make a wish yaa khan? naah yang Om pengen kasih tau adalah ………penasaran yaaaa nggak ach nggak mau kasih tau karena taon depan Nina pasti merasakannya…he… he…..he….. ntar deh tahun depan aku kasih tahu sekalian Om kasih kado …. ce ilee sok janji . Masalahnya foto mu sama dengan foto Yuut ( ponakan Om) yang sama-sama merayakan ulang tahun ke-9 yang : orang nya pemalu, tapi kalo sekali ngomong gileee galaknya minta ampun dan yang penting nilainya 9 ke atas terussss, Om yakin Nina pasti nilai 9 terus . Nah rajin belajar ya siapa tau tahun depan kita bisa rayain bersama di Jakarta ce ilee … eh berdoa aja mungkin lebih meriah? so pasti.

  11. goklas on February 20, 2009 at 9:03 pm

    sering aku gak suka kalo amang udah cerita soal keluarga di Palembang. karena sering terharu membacanya :-(
    tapi begitupun, sampaikan salam kami kepada Nina amang, kepada boru Harahap satunya, jagoan kecilmu serta mamanya. Tuhan Memberkati kita semua

  12. Jimmy Simanjuntak on February 21, 2009 at 8:02 am

    Mantap kli amang. Belum pernah aku mendengar hal kyk gini. Berbahagialah anak yg punya bapak seperti amang dan berbahagialah bapak yg punya anak seperti Nina. Saya yakin Tuhan akan memberikan yg terbaik kepada orang yg mau memberikan yg terbaik juga bagiNya. Sekali lagi aku salut amang. Selamat ulang tahun Nina (belum terlambat kan? baru besok acara tiup lilinnya….) Semoga Nina tetap bisa menjadi kebanggaan orang tua & kebanggaan Tuhan juga.

  13. eric arac on February 21, 2009 at 8:30 am

    Selamat Ulang Tahun buat Nina. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, waktu itu Nina berumur sekitar 3-4 tahun, Nina sekeluarga sedang mengikuti kebaktian di satu Gereja. Nina dan Kika membawa alat tulis dan kertas, duduk di antara papa dan mamanya. Ketika khotbah, Nina dan Kika asyik menulis dan menggambar, kalau kalian sedikit berisik, mama menoleh dengan sedikit senyum. Kelihatannya kalian mengerti apa maksudnya. Waktu itu, kebetulan saya duduk persis dibelakang kalian berdua.
    Sekarang, yang namanya Nina itu ternyata sudah tumbuh menjelang remaja. Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Nina, selamat bertumbuh di dalam Tuhan, banyak doa menyertai langkahmu.

  14. P Ritonga on February 21, 2009 at 11:41 pm

    Membaca kisah di atas, saya ikut-ikutan terharu. Saya pikir selama ini saya adalah seorang bapak yang cengeng sebab sering menangis jika berhadapan dengan masalah anak-anak, ternyata ada juga teman yang bisa menangis yang sepengetahuan saya sangat pantang bagi seorang lelaki Batak. Tuk Nina, mat ultah ya bere…Tuhan Yesus memberkati

  15. SN on February 23, 2009 at 2:36 pm

    Wah, …………. selamat ultah ya Nin, tapi Nina bahagia banget loh punya papa yang selalu ingat ultah anaknya. Kalau anak2 tante mah nggak pernah tuh diselamitin sama papanya walaupun satu rumah.

    Yah,………. berbahagialah anak, istri yang mempunyai bapak sepeti amang, kalau di keluarga saya sudah 19 tahun menikah tradisi itu nggak pernah mampir, apa itu hari ulang tahun, hari perkawinan terlewatkan saja. Kalau pun saya merayakan ultah anak2 waktu kecil bapaknya nggak pernah ikutan. Pernah saya protes kok nggak pernah ngucapin selamat ultah sih ?? Tau nggak jawabnya, hari ulang tahun itu bukan hari istimewa karena tiap tahun orang pasti ulang tahun. Jadi hari istimewa buat pendamping saya hanya saat lahir, saat menikah dan saat kematian, karena cuman sekali dalam seumur hidup. Oh….. ala tahe, bohama bahenon molo ngasongoni alusna. Alai dimakluman ma sude sae horas2ma………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*