SERMON MINGGU INI:
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Bahan: Markus 8 : 31 – 38
Bagi Yesus penderitaan dan kematianNya itu adalah keharusan yang diterimanya dari Allah Sang Bapa. Melalui penderitaan dan kematian itu jugalah Dia memperoleh kemenangan total, yaitu kebangkitan. Dengan kata lain penderitaan dan kematian bukan kata akhir atau ujung dari segala-galanya, tetapi justru jalan menuju kebangkitan.
2. Penolakan Manusia akan Jalan Salib (ayat 32-33). Namun ajaran Yesus tentang jalan salib menuju kebangkitan ini telah menggoncangkan hati dan iman murid-muridNya. Mereka sangat sulit memahaminya. Bagi para murid dahulu (juga kita sekarang sebenarnya) adalah sangat tidak masuk akal jika seorang Mesias, Putra Allah, dan Tuhan harus menderita. Ketidakpahaman dan ketidaksetujuan para murid terhadap jalan salib itu diwakili oleh Petrus yang menegur Yesus. Namun kita baca respon Yesus sangat keras. Dia menganggap perkataan Petrus sebagai ucapan Iblis yang memperalat dirinya untuk menggoda Yesus agar menolak jalan penderitaan yang ditetapkan Allah. Apa yang dilakukan Petrus disini, sadar atau tak sadar, sama dengan godaan iblis di padang gurun saat Yesus berpuasa dahulu. Sebab itulah Yesus mengusir iblis yang hendak memperalat Petrus menggodanya menghindar dari salib.
3. Syarat-syarat mengikut Yesus (ayat 34). Selanjutnya Yesus memanggil orang banyak dan murid-muridNya lalu memberitahukan kepada mereka tentang syarat untuk menjadi pengikut atau muridNya, yaitu: menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Dia. Menyangkal diri artinya: memaksa hati dan pikiran mendengar dan tunduk kepada kehendak Allah, dan bukan keinginan sendiri. Memikul salib artinya: bersedia menanggung risiko atau harga (ongkos) kemuridan, yaitu penderitaan yang diakibatkan oleh kebenaran dan kasih. Dan mengikut Yesus artinya: mencontoh Dia, menjadikan penderitaan dan kematianNya sebagai sumber motivasi dan kerangka acuan hidup. Hanya dengan ketiga hal inilah seseorang atau sekelompok orang dapat menyebut dirinya “kristen” atau “pengikut Kristus”.
4. Nilai Tertinggi (ayat 35-38). Pada akhirnya Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya bahwa untuk mengikut Dia mereka harus rela melepas atau menomorduakan apa yang selama ini dianggap sebagai nilai tertinggi atau hal-hal yang paling berharga di dunia ini, yaitu: harta, keamanan, kenyamanan dan lain-lain. Yesuslah yang harus menjadi nilai tertinggi dalam hidup kita yang tidak akan rela kita pertukarkan dengan apa saja.