Anak Yang Hilang atau Bapa Penyayang?

January 29, 2009
By Daniel T.A. Harahap

SERMON MINGGU INI

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

prodigal-son.jpg

Dasar : Lukas 15: 11-24

1. Perumpamaan Yesus dalam Lukas 15:11-24(32) ini sudah sangat kita kenal dan selalu diberi judul “Perumpamaan tentang anak yang hilang”. Perumpamaan ini melengkapi dua perumpamaan lain dalam Injil Lukas pasal 15, yaitu: perumpamaan tentang domba yang hilang (15:1-7) dan perumpamaan tentang dirham yang hilang (15:8-10). Namun bila kita baca seksama isi perumpamaan ini maka judulnya sebenarnya lebih tepat jika diganti dengan “Bapa Yang Pengasih atau Penyayang”, sebab yang menjadi fokus dalam perumpamaan itu sebenarnya bukanlah si anak yang hilang itu tetapi si bapa yang pengasih atau penyayang itu. Dua perumpamaan lain juga bernada sama. Yang lebih ditonjolkan juga bukanlah domba yang hilang tetapi gembala yang mencari domba yang hilang itu sendiri, dan bukan dirham yang hilang tetapi perempuan yang mencari dirham miliknya itu.

2. Perumpamaan tentang Bapa yang pengasih dalam Lukas 15:11-24 ini sebenarnya terdiri dari dua bagian, yaitu hubungan si bapa terhadap anak bungsunya dan hubungan si bapa dengan anak sulungnya (15:25-32). Pada kesempatan ini kita fokus kepada bagian yang pertama saja.

3. Menurut adat Yahudi pada waktu itu warisan seorang ayah dibagi kepada anak-anak lelakinya (catatan: hal ini tidak boleh lagi dijadikan pembenaran untuk kita masa kini). Dan pembagian terhadap anak laki-laki itu juga tidak sama. Dua-pertiga diwariskan kepada anak sulung dan sepertiga lagi diwariskan kepada anak-anak lelaki lainnya. Inilah yang dinamakan hak kesulungan (Ulangan 21:17). Berhubung dalam kisah ini si bapa hanya mempunyai dua orang anak laki-laki maka tentu si sulung mendapat 2/3 dan si bungsu otomatis mendapat 1/3 bagian. Sebagaimana adat di seluruh dunia tentu saja warisan itu baru diberikan setelah si ayah meninggal dunia. Namun dalam kisah ini disebutkan si bungsu meminta hak warisannya pada saat ayahnya masih hidup. Inilah kesalahannya yang pertama. Selanjutnya beberapa hari kemudian dia menjual (menggadaikan) seluruh bagiannya itu dan pergi ke negeri yang jauh. Inilah kesalahannya yang kedua. Selain bersikap sangat spekulatif, tidak berpikir panjang dan dalam, si bungsu sama sekali tidak menghargai ayahnya. Namun kesalahannya masih ada lagi: Di negeri asing itu dia hidup boros dan berfoya-foya. Menurut tuduhan abangnya: dia memboroskan hartanya dengan pelacur-pelacur. (Lukas 15:30). Inilah faktor penyebab dalam kisah ini.

4. Apakah akibat dari rangkaian kesalahan dan kebodohan ini? Si bungsu jatuh miskin pada saat negeri itu mengalami krisis. Ya dia menjadi orang melarat di negeri asing. Anak orang kaya Yahudi itu pun akhirnya melakukan pekerjaan yang menurut adat dan agama Yahudi sangat hina, menjadi penjaga babi. Bukan hanya itu dia harus mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi. Namun ampas atau makanan babi itu pun sangat sulit diperolehnya. Dengan bahasa lain si bungsu berada pada titik nadir atau kondisi paling rendah dalam hidupnya akibat salah dan dosanya sendiri. Pada saat inilah dia sadar. Sangat disayangkan, banyak orang memang sadar setelah terperosok ke lubang yang sangat dalam! Kondisi yang dialaminya sekarang sangat kontras atau bertentangan dengan kondisi yang dialaminya dahulu di rumah bapanya. Sikap yang diterimanya dari orang-orang sangat berbeda dengan sikap bapanya kepadanya. Lantas adakah solusi? Si bungsu ingin kembali kepada bapanya. Namun dia sadar bahwa dia tidak punya hak lagi tinggal di rumah bapanya sebagai anak (sebab seluruh warisan untuknya sudah diambil dan dihabiskannya). Dia hanya berharap sisa-sisa belas kasihan ayahnya untuk mempekerjakan dia sebagai orang upahan. Rupanya dia sadar bahwa orang upahan di rumah bapanya dulu masih lebih baik keadaannya dibandingkan dia sekarang. Penderitaan dan kehinaan yang dialaminya mendorong dia menyadari kesalahan dan mengaku dosa.

5. Namun kisah berbelok. Pusat perhatian perumpamaan bukan kepada si bungsu yang brengsek itu tetapi kepada si bapa yang pengasih. Dikatakan: dari jauh sang bapa telah melihatnya. Dimana hati berada ke sanalah mata tertuju juga. Berhubung hati si bapa masih tetap kepada anaknya yang hilang maka dia sudah bisa melihatnya dari kejauhan. Dan hatinya itu digerakkan oleh belas kasihan. Sungguh mengharukan: si ayah berlari mendapatkatkan anaknya yang jahat itu dan merangkulnya dan mencium dia. Si anak mengucapkan pengakuan dosanya, namun anehnya, si ayah seakan tidak memperdulikannya atau menganggapnya penting. Dia malah meminta hamba-hambanya mengambil jubah terbaik, cincin dan sepatu. Dia bahkan meminta agar seekor anak lembu tambun disembelih dan pesta digelar. Si bapa itu begitu bersukacita atas kepulangan anaknya. Dia memberi alasan sukacita itu: sebab anakku telah mati dan hidup kembali, anakku telah hilang dan telah ditemukan kembali. Disini kita disadarkan bahwa pengampunan Allah jauh lebih besar daripada pengakuan dan penyesalan dosa kita. Penebusan Allah melampaui pertobatan kita.

6. Apakah pesan utama perumpamaan bapa yang pengasih ini kepada kita? Sejauhmanakah perumpamaan ini dapat mengubah paradigma (pola pikir) dan sikap kita baik sebagai seorang anak maupun seorang ayah atau ibu? Lantas bagaimana perumpamaan ini mempengaruhi sikap kita kepada Allah dan sesama?

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

7 Responses to Anak Yang Hilang atau Bapa Penyayang?

  1. Ninggor Pardede on January 30, 2009 at 6:58 am

    Ende koor DI NA MULAK NATARBUANG cocok ma ra endehon ni parkoor di ari Minggu on.

    Daniel Harahap:
    Mungkin beda Amang. Teks berbicara tentang: anak yang membuang sendiri dirinya. Lagu bercerita tentang umat yang dibuang Tuhan karena dosanya. Lebih cocok lagu BE Sai mulak Sai mulak. :-)

  2. Robert Sibarani on January 30, 2009 at 11:41 am

    Setuju amang Pardede , cocok ma i tutu endehonon ni Par koor, na manggombarhon hamumulak ni bangso i sian parhatobanan ni Bangso Mesir , ai songon na marnipi nasida boi malua sian parhatobanan i ,sude nasida marlas ni roha , marolop olop jal sai di puji nasida Jahowa na puaohn nasida.

    songoni ma ra nang hita ra adong namalua sian angka parmaraan, holso ni roha nang arsak pe, mngkin adong naung malum sian parsahiton, gabe mambahen las roha ta. di las ni roha ta i unang lupa hita bahwa karya Agung ni Tuhan ta do namambahen i boi tarjadi.

    si tongtong ma hita mangido pangunsandean tu Tuhan ate sallelng ni ngolu ta asa diurupi hita dinamandalani ari ari ni ngolu ta jala tarpasu pasu ma angka ni ula ni tangan ta.

  3. Kimron Manik on January 30, 2009 at 12:05 pm

    Di dalam perjalanan hidup ini terkadang kita berbuat dosa dan kesalahan, namun segera lah sadar dan bertobat, jangan tunggu keadaan semakin parah. Walaupun renungan ini menunjukkan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita anak-anaknya, namun jangan disalahgunakan dengan beranggapan toh Tuhan pasti memaafkan aku jika aku berbuat dosa yang penting minta maaf, karena di saat kita berbuat dosa tersebut belum tentu ada kesempatan untuk meminta maaf.

  4. A.K.P Panggabean on January 30, 2009 at 1:18 pm

    Bagaimana orang Kristen yang ke gereja cuma pada saat Natal dan malam tahun baru? Apakah mereka itu bisa dikategorikan sebagai anak yang hilang? Di gereja kami mereka ini disebut kapal selam.

  5. Ninggor Pardede on January 30, 2009 at 2:55 pm

    Botul ma nian molo ende na Sai mulak sai mulak. Alai jolo ditopa lae AKP Panggabean majolo asa ture endehononton ni mannen ama.
    Ala soadong dope, inama tong ende patupaon, tarlumobi dung dipatangkas lae Robert Sibarani muse artina.

  6. nalom on January 30, 2009 at 4:23 pm

    Adong sada lagu nai na cocok boanon ni parkoor: hu usulhon do anon borngin edehonon lagu on tu ari minggu, tu angka dongan parkoor. Judulna : Mauliate. Boha sian baribai adong usul judul koor na asing..? Amang AKP..? atik boha adong usulan ni Amang na une dope, songoni amang parlapoon, baen damang ma..?

  7. elumban on February 1, 2009 at 10:59 am

    Ahu setuju do tu Amang DTA, hurang cocok do Dinamulak na tarbuang tu jamitaon.Koor lansia di Gereja nami menyanyikan “Jesus Parholong roha”…ref lagu itu sangat pas…”Balga ni asi-asim O Jesus…lobi do umbagas sian laut..”

    Laos taendehon ma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*