Oleh: Daniel T.A. Harahap
Membaca koran atau situs berita tentang Pemilu mendatang, baik pemilihan calon anggota parlemen maupun presiden, bagi saya sama saja membosankannya. Maaf. Menurut saya hampir tidak ada kabar yang bisa membangkitkan harapan yang sudah lama merana layu di hati ini. Dan jujur saja hampir-hampir tak ada alasan kuat bagi saya untuk menggunakan hak pilih saya baik kepada calon anggota parlemen maupun kepada calon presiden.
Pertama saya tidak percaya sistem banyak (= terlalu banyak) partai seperti sekarang berguna bagi Rakyat. Saya bukan ahli politik atau tata negara. Namun pikiran saya yang sederhana saya dapat menangkap bahwa yang terjadi sekarang adalah pemborosan luar biasa keuangan dan enerji seluruh negara. Membaca puluhan nama partai peserta pemilu saja kepala sudah pusing, apalagi mau mengingat program dan ideologinya (kalau ada) dan memeriksa agenda-agenda tersembunyinya. Sebab itu walaupun secara pribadi calon anggota-anggota parlemen itu adalah orang-orang baik atau orang baik-baik, namun saya tidak percaya mereka mampu melakukan perubahan. Mengapa? Karena partai politik dimana mereka menempel (tiba-tiba) atau tertanam sejak lama tidak menghendaki perubahan yang signifikan itu. Terutama tidak menghendaki pemberantasan korupsi secara sistematik. Bagi saya tanpa organisasi yang benar-benar kuat tidak akan ada perubahan. Dan saya, silahkan koreksi jika salah, tidak melihat ada partai (apalagi yang nasionalis sekuler) serius membangun organisasinya. Sementara saya tidak juga percaya kepada partai berbasis agama apapun juga. Bukti keseriusan membangun organisasi itu antara lain adalah: menetapkan nomor anggota, sistem iuran, mekanisme pemilihan lewat rapat dan konferensi, dan pelaporan keuangan yang akuntabel dan transparan. Memangnya negara ini bisa diperbaiki hanya lewat brosur, poster dan spanduk di pohon, janji lisan di panggung joget, dan komentar atau celoteh di koran atau televisi? Sebab itu saya menganjurkan kepada para caleg: silahkan perbaiki dulu partai masing-masing! Tanpa partai yang benar-benar memiliki ideologi Pancasila dan komitmen memberantas korupsi, organisasi dan sistem yang teruji, sebaik apapun pribadi Anda takkan mampu menertibkan negeri ini. Bahasa pasarnya: boro-boro mengelola negara, mengurus partai sendiri saja tidak sanggup.
Kedua: saya tidak melihat ada calon presiden yang menjanjikan. Baiklah kita sadar negara ini adalah Indonesia (bukan Amerika Serikat bukan juga Arab Saudi), yang sangat majemuk, mayoritas Islam dan Jawa serta miskin, dan dililit hutang luar negeri serta banyak trauma masa lalu. Dengan segala hormat kepada Bapak/Ibu, Mas/Mbak, Bang/Kak, yang sudah berperan atau dikasih jabatan di masa lalu, saya mau mengatakan bahwa negara semacam Indonesia ini harus dipimpin oleh orang-orang yang sungguh-sungguh visioner, berani dan cerdas, serta Indonesianis atau nasionalis sejati. Dan saya melihat itu hanya ada di orang-orang muda. Namun Undang-undang mensyaratkan umur Presiden minimal 35 tahun. Sebab itu kita cari atau undang saja orang-orang muda pemberani berusia maksimal 40 atau 45 tahun, untuk maju berjuang menjadi presiden untuk menyelamatkan negeri ini.
Namun jangan langsung bangga atau banyak cakap. Ingatlah tanpa organisasi yang benar-benar rapih jalin Anda tak mungkin membereskan dan membangun negeri ini. Sebab itu yang pertama-tama Anda harus lakukan adalah membangun tim dan organisasi Anda sekuat-kuatnya. Sebelumnya: merumuskan ideologi, visi dan misi, tekad dan prinsip Anda. Dan setelahnya melakukan apa yang dirumuskan itu. Dan selamanya: menjaga kejujuran dan kepercayaan. Mulailah sekarang juga. Negara ini memanggil Anda menjadi calon presiden mendatang.
Horas Indonesia!
Daniel T.A. Harahap
(yang sedang bermimpi Indonesia dipimpin Presiden berusia 40 tahun) ![]()
Daniel T.A. Harahap:
(yang sedang bermimpi Indonesia dipimpin Presiden berusia 40 tahun)
Ferry:
Gak apa2 Amang, segala sesuatu memang dimulai dr mimpi. Dulu manusia bermimpi bisa terbang tinggi spt burung. Skrg manusia sudah bisa terbang jauh melampaui burung, bahkan sampai ke bulan. Karena itu saya juga sedang bermimpi suatu saat kelak republik ini dipimpin oleh seorang presiden Kristen, Batak, HKBP, & pendeta pula. Mari kita bermimpi bersama.
Daniel Harahap:
Jadi pendeta tidak usah bermimpi jadi presiden, bahkan jadi gubernur dan bupati. Cukuplah dia memimpikan dan mendoakan ada orang muda, berani dan visioner mengambil kepemimpinan. Namun kalau dia merasa terpanggil untuk maju, maka yang pertama dilakukannya adalah: melepaskan kependetaannya.
Pendeta kalau mau berpolitik harus melepaskan dulu kependetaannya. Sebaliknya politikus kalau mau jadi pendeta harus melepaskan kepolitikannya.
Ungkapan para visionaris yang paling sering kita dengar adalah : your wish is my command. Saya sependapat dengan tulisan hari ini, maaf kata mual melihat gambar-gambar partai dan gambar para caleg serta iklan-iklan di televisi yang kekanak-kanakan dari para narsis politik. Hayooo mari kita galang dan doakan untuk tahun 2014
Kalo menurut saya: Indonesia butuh presiden yang benar-benar memperhatikan rakyatnya, bukan partainya apalagi dirinya. Umur tidak masalah, yang penting dia peduli terhadap rakyatnya yang majemuk. Capres tsb harus bersih, tidak koruptif, tidak berat sebelah (memihak pada kelompok masyarakat tertentu), dll.
Daniel Harahap:
Pokoknya saya mau Presiden mendatang usianya maksimal 45 tahun. Lebih baik lagi 40 tahun. Paling baik dibawah 35-40 tahun. Titik.
Kalo dari segi umur, berarti saya memenuhi syarat. Namun dari segi SARA, saya harus meninggalkan Tuhan Yesus terlebih dahulu baru maju ke kancah persaingan calon presiden.
Daniel Harahap:
Kalau Anda masih berpikir seperti itu, mundur saja, urus saja keluarga dan bisnis bagus-bagus.
Daniel Harahap:
Jadi pendeta tidak usah bermimpi jadi presiden, bahkan jadi gubernur dan bupati…
Ferry:
Setuju Amang! Pendeta tdk usah bermimpi jadi presiden, krn saya yg akan bermimpi dan mendoakan hal itu terwujud. Boleh kan?
Saya jadi ingat Fukuda-san (cucu Pendiri Toyota) yang baru2 ini diangkat menjadi CEO Toyata Motor,walau sudah berumur 53 tahun masih diragukan dan dianggap muda atau anak bawang. Saya tanya teman2 Jepang, mereka bilang memang pimpinan2 Perusahaan di Asia umumnya dan Jepang khususnya berumur 70 tahun (60 s/d 80 tahun). Itu syarat sebuah perusahaan apalagi Negara RI.Jadi kriteria pemimpin selain “sungguh-sungguh visioner, berani dan cerdas, serta Indonesianis atau nasionalis sejati” perlu ditambahkan, “Dewasa/Mature/Matang”. Contoh:Presiden Italia Sarkozy berumur belum 50 tahun cukup terkenal dan menjadi berita bukan karena memang dia cerdas tapi krn kawin sama artis/model(?). Pimpinan muda bangsa kita sebenarnya sudah ada dan tampil di panggung politik kita,seperti Menteri,DPR dan DPD. Saya sependapat dengan amang DTA, Parpol sekarang dan produk2nya masih terlalu berpikir Instan dan susah diharapkan.
Daniel Harahap:
Memimpin negara majemuk miskin amburadul seperti Indonesia berbeda dengan memimpin perusahaan Jepang yang sangat homogen dan teratur. Memimpin Indonesia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang muda yang gagah berani. Jika memang tak ada orang muda yang berani tampil, benarlah bangsa ini bangsa sontoloyo!
Suatu mimpi yang indah, yang menginginkan negeri ini dipimpin oleh orang muda yang punya visi untuk memajukan bangsa Indonesia, bukan memajukan dirinya sendiri dan kelompoknya. Mari kita sama-sama doakan. Namun alangkah baiknya juga, mimpi ini kita bangun di HKBP, mari kita doakan agar muncul pemimpin-pemimpin gereja yang mudah dan punya visi untuk memajukan jemaat yang dipimpinnya, bukan memikirkan dirinya sendiri, jabatannya dan kelompoknya.
Saya setuju dgn amang negri ini dipimpin oleh yg muda2 krn aku heran yg tua2 pemimpin republik ini dimasa lalu masih nafsu untuk maju kok ya tidak merasa apa sih yg sudah mrk lakukan untuk kemajuan bangsa ini, mbok ya kasi kesempatan untuk yg lain saja terutama untuk yg muda2 dan cerdas2 .
Bumi Nusantara kita ini Dianugrahi luar biasa kekayaan alam yg sangat melimpah yg tdk dimiliki negara lain tetapi dinegara ini pula banyak dijumpai bayi2 busung lapar krn kurang gizi ,anak2 jalanan,pengemis dan sejuta tanda kemiskinan seperti tikus mati dilumbung padi, betapa tragisnya.
Stuju….. Perubahan yang Total cuma bisa dibuat ama yang muda, skarang ini yang lebih dibutuhkan keberanian, kecerdasan dan kecepatan dalam bertindak, yang bijak (tua) sebaiknya menjadi penasehat, biar langkah si Muda tetap di jalur yang dituju..
Horas Pemuda Indonesia
Sangat setuju dengan “Presiden Muda”. Namun, jika capres muda tidak ada, haruskah kita “golput” ? Apakah “golput” halal dalam huria kita Amang ?
Daniel Harahap:
Golput idak dianjurkan tidak dilarang juga. Alias: amat sangat halal sekali.
kenapa kita jd begitu apatis dan pesimis dengan kondisi sekarang ,toh bangsa ini jg dipenuhi oleh orang-2 yg seperti amang yg siap mengkritisi bangsa ini, presiden akan sukses jika memiliki pembantu-2 visioner seperti amang ……apa perlu kita yg promote ……tp gmn dgn jubah pendetanya yahh…
Daniel Harahap:
Pendeta tidak boleh terlalu dekat dengan kekuasaan. Kalau seorang pendeta mau ikut bermain kekuasaan maka yang pertama-tama harus dilakukannya adalah melepaskan dengan ikhlas jabatan dan segala atribut kependetaannya. Masalahnya: saya tidak mau melepaskan kependetaan saya. Jadinya saya tidak usah ikut-ikut bermain kekuasaan.
tunggu aja 8 tahun lagi bang, ntar aku yang jadi presiden pertama di
indonesia umur 40 tahun, batak, kristen. hmmm.., setelah nulis baru sadar gak mungkin yah?
Daniel Harahap:
Salah satu PR terberat bangsa ini adalah menghapus kata “tidak mungkin” dari dalam benaknya.
hmm, iya sih. kalo ada uang, apa sih yang gak mungkin di negara ini? hehehe.
artinya ,saingan kurang satu..hehehe… tp 2014 sdh tdk 40 thn lg ….apa msh mungkin …..?
Pemimpin NKRI usia 40 tahun (an)? Setuju sekali…. tetapi untuk pemilu kali ini barangkali masih pada tingkat wacana dulu amang. Moga-moga untuk pemilu yang akan datang bisa diwujudkan. Tetapi sebelum “bermimpi/bercita-cita” memimpin negara yang “cukup amburadul” ini, tentunya seorang pemimpin tersebut harus punya visi yang jelas, yang diikuti dengan rekam jajak yang baik (terutama dalam integritas)! Dan ada baiknya pula dia sudah “cukup” terasah dalam hal memimpin organisasi-organisasi sebelumnya, supaya dia tidak menjadi orang yang diturunkan dari “dunia lain”
. Misalnya, diberi kesempatan memimpin dari remaja, muda-mudi dan selanjutnya.
JP Manalu
Yang hingga kini belum berani bermimpi jadi presiden, karena usianya baru nyaris 40
Maaf sekedar konfirmasi:
Sejak tadi malam saya tidak bisa mengakses rumametmet dari Blackberry, setiap saya akses selalu lari ke blog ricard eliston. Sampai saat ini. Untuk teman-teman yang menggunakan Blackberry untuk mengkakses rumametmet apakah mengalami hal yang sama?. Mohon konfirmasi. Saya sudah cek source pagenya ternyata larinya ke eliston.com.
Mengenai topi di atas…..saya sih sebenarnya pengen mencalonkan diri jadi Presiden, siapa tahu jadi Orang batak toba pertama jadi presiden…tapi amang DTA sudah menutup kesempatan itu bagi saya….
horas
elumban
Saya jadi teringat dengan dialog partai tempo hari..kalau tidak salah partai PPI VS Partai hanura. yg saya kagum dengan sekjen PPI (partai pemuda indonesia) niko silitonga yg msh umur 32 tahun. setelah saya selidiki ternyata dia salah seorang sintua di greja kalau tidak salah di hkbp taman mini juga dosen di salah satu perguruan tinggi di jakarta. Dia siap jadi presiden kalau itu kehendak masyarakat. saya kurang pintar menjelaskan hasil debat itu. tapi kalau mau lihat cuplikanya saya sudah punya. kalau amang DTA mau lihat saya kirim ke email amang. Mau amang?
Daniel Harahap:
Mmmmmhhh kapan-kapanlah. Saya masih harus bikin sermon. Tapi kalau ada hasil keputusan PPI atau Hanura tentang strategi pemberantasan korupsi secara sistematik bolehlah kirim ke saya. Kalau nggak ada lupakanlah.
Mempunyai pemimpin di Indonesia (Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati) berusia disekitar 40 mempunyai nilai yang positif. Contoh, saat Suharto jadi presiden beliau berusia disekitar 40 tahun dan anak-anaknya juga masih ‘anak-anak’. Artinya anak-anaknya belum tahu yang namanya BMW, baby Ben dll. Memanjakan anak-anak yang sudah berabjak dewasa akan sangat mempengaruhi kepemimpinan seseoran DI INDONESIA. Jadi saat Suharto mulai memanjakan anak-anaknya yang sudah dewasa maka amburadullah negara kita.
Dan juga contoh-contoh pemimpin yang lain yang mirip.
Tapi memimpikan orang Indonesia menjadi pemimpin saat usia disekitar 40 agak mustahil, mari kita wujudkan impian tersebut menjadi kenyataan di HKBP dulu. Misalnya Ephorus yang muda, Praeses yang Muda, Kep. Departemen yang muda, Sekjen yang muda. Dan satu lagi…sintua/parhobas yang muda.
Saya sangat setuju apa yang di sebut amang, sebagian kecil orang Indonesia telah digerogoti telah termakan ideologi ekstrim. Ini yang membuat bangsa kita susah maju. Sebenarnya kata kunci adalah penegakan hukum yang tanpa diskriminasi. Hukum yang ditegakkan pada kebenaran material oleh orang-orang yang bersih, akan membawa dampak sangat besar secara psychologis, misalnya timbul rasa kepercayaan, rasa aman, sportivitas, kejujuran dan menerima kekalahan dan kelemahan diri pribadi. Disini sebenarnya fundasi dari pengolahan negara yang benar, bersih dan berwibawa. Setelah timbul aspek psykhologis tadi, atau rasa percaya tadi, maka kinerja perorangan dan organisasi menjadi sehat, produktivitas meningkat. Kemudian tinggal masalah manajemen distribusi sesuai kontribusi kinerja masing-masing individu. Kalau semua sudah berjalan di atas relnya, kita tinggal mengawasi.
Sebenarnya nggak sulit mengurus negara ini, yang sulit adalah melawan nafsu dari dalam diri sendiri untuk jujur, integritif, dan mau mengambil resiko apapun untuk menegakkan kebenaran.
Percayalah, besi yang ditempah oleh pandai besi dan menjadi suatu alat apapun (positif) akan lebih berguna dari pada besi yang tidak ditempah yang hanya merupakan sebuah benda tanpa makna.
Saya melihat pokok dari pembicaraan ini adalah kebangkitan barisan muda, yang berarti bukan harus masih berusia muda dengan patokan umur daging tapi adalah barisan orang-orang Indonesianis yang punya jiwa dan semangat muda untuk peremejaan Indonesia yang sudah tua dan hampir usang dan tak menunjukkan keberhargaan lagi.
Yang harus kita lakukan adalah bangkit dan mulai berkarya dari lingkungan paling kecil, bukan sekedar ngomong dan berdebat …
Mari Bangkit hai kaum muda, bentuk barisan pembaharuan dan lanjutkan perjuangan Revolusi dan Reformasi …
Astaga, kayaknya racun caleg yang menghalalkan segala cara sudah memasuki gereja kita. Aku baru saja membacanya di http://www.tanobato.wordpress.com yang menemukan indikasi petinggi (atau pelayan?) di gerejanya yang menerima amplop dari caleg. Cuman tak tau gereja mana yang dimaksud, tapi pastinya HKBP?
Saya siap jadi presiden di kemudian hari amang …..
doakan saja ……