Allah Kita Pemilik Langit dan Bumi

January 22, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Kamis 22 Januari 2009:

mawar-jingga.jpg

Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi langit, dan bumi dengan segala isinya. (Ulangan 10:14)

Sesungguhnya posisi kita dengan Allah sama sekali tidak setara atau selevel. Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Kita hanyalah salah satu ciptaanNya. Dialah yang empunya langit dan bumi ini bahkan termasuk diri kita. Dia adalah Allah yang mahakuasa, agung dan mulia serta kekal. Sementara kita adalah manusia yang lemah, dari debu dan fana. Namun Alkitab menyaksikan TUHAN Allah memanggil kita menjadi umatNya dan mengangkat kita menjadi anak-anakNya yang dikasihiNya.

Kesaksian Alkitab ini sungguh membuat kita merendahkan diri dan bersyukur. TUHAN Allah sangat agung dan mulia, namun Dia rela mengikatkan diriNya kepada kita manusia yang lemah dan berdosa ini. Dia mau menjadi Bapa kita sekalipun kita kadang jahat. Dia memberikan seluruh hatiNya dan bahkan merelakan anakNya menderita dan mati hanya agar kita hidup bahagia kekal bersamaNya. Semua ini benar-benar mendorong kita bersyukur dan taat kepada TUHAN.

Selanjutnya iman kita bahwa TUHAN Allah kitalah yang empunya langit dan bumi juga memberi kita kekuatan dan ketenangan hidup di dunia ini. Kita tidak perlu kuatir akan kelangsungan hidup kita. TUHAN Allah pasti akan melengkapi dan mencukupkan segala yang kita perlukan. Namun bukan hanya itu. Pemahaman bahwa Tuhanlah yang empunya langit dan bumi, dan dari Dialah kita menerima segalanya, membuat kita berhati-hati memperlakukan segala yang ada pada kita. Juga membuat kita jauh dari keserakahan.

Doa:

Ya Allah kami mengaku Engkaulah yang empunya langit dan bumi serta segala isinya. Engkaulah yang empunya segala kerajaan, kuasa dan kemuliaan. Engkaulah TUHAN dan Allah kami. Kami merebah menyembahMu dan mengucap syukur sebab Engkau mau menjadi Bapa kami, Pelindung dan sahabat kami. Penuhilah hati kami dengan rasa terima kasih dan ajarlah kami taat kepadaMu. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

11 Responses to Allah Kita Pemilik Langit dan Bumi

  1. t.m.sihombing on January 22, 2009 at 9:40 am

    Pada saat kita punya jabatan tinggi,kaya,punya pengawal,banyak uang, rumah mewah, dalam kehidupan sehari-harinya pingin disanjung dipuji sehingga perilakunya menjadi tinggi hati atau level pergaulannya high class atau sering kita dengar kalau bergaul dengan yg lebih rendah/ miskin dibilang tidak selevel. Padahal semua itu tidak ada artinya bila berhadapan dengan Tuhan kalau kita melakukan kesalahan dapat hilang seketika itu juga. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan menciptakan manusia dari debu dan kembali manjadi tanah/debu maka semua yang kita dapatkan di duniawi ini harus kita tinggalkan , oleh karena itu harus dapat memanfaatkannya dengan kerendahan hati, bergaul dengan semua level, dermawan untuk orang yang susah. Hamoraon itu adalah berkat bila itu bersumber dari pekerjaan yang baik dan harus mampu menyalurkan berkat ini berupa kerendahan hati, tidak sombong, membantu orang yang lemah, dsb. Kalau kita kaitkan dengan Joh 13,14 : Bila Aku telah membasuh kakimu maka kamu harus saling membasuh kaki, yang berarti dalam berkat yang kita terima sudah melakukan tindakan melayani dan dilayani. Unang ma holan tabo di iba ate . Dari komentar teman kita sebelumnya memang benar Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon (Angka ondeng) adalah merupakan berkat dari Tuhan , kalau semuanya itu bersumber dari perbuatan yang baik atau merupakan hasil dari buah-buah Roh Kudus yang kita lakukan terhadap sesama kita dan tidak bersumber dari keserakahan. Jadi denggan , manat, serep ma hita mamangkesa. Horas

  2. A.K.P Panggabean on January 22, 2009 at 9:50 am

    Karena itu sudah sepantasnya kita bergantung hanya pada DIA saja. Sebab DIA adalah Allah yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Kekal, dll sedangkan kita ini hanyalah debu tanah yang hidup sementara di bumi ini lalu kembali padaNYA. DIAlah sumber dari segala berkat (mual ni nasa pasupasu), bukan manusia. Dialah yang menciptakan nasi, lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buah yang kita makan sehari-hari. Begitu juga dengan air tanah yang kita minum sehari-hari. Dari tanah kita diciptakanNya, ke tanah pula jasad kita akan kembali setelah kita meninggalkan dunia ini.

  3. Kimron Manik on January 22, 2009 at 11:27 am

    Kalau direnung kembali ayat hari ini yaitu “Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi langit, dan bumi dengan segala isinya”.
    Berarti kita ini hanya punya hak untuk memakai fasilitas yang kita miliki saat ini, bukan untuk memiliki selama-lamanya.
    Marilah kita gunakan apa yang kita miliki saat ini, apapun itu untuk memuliakan Tuhan, Sang Pemilik langit dan bumi.

  4. Friska Pardede on January 22, 2009 at 1:29 pm

    Sejak kapan ya amang HKBP tdk mengadakan lagi iuran? soalnya digreja kami masih ditentukan 5000 rb untuk tok tok ripe dan 5000 untuk diaksos dan itu ada bukunya. Kalau digreja lain sudah tidak ada alangkah malu-maluinnya gereja kami. Saya jadi tidak bisa berkata2, jadi bagaimana caranya jemaat memberikan kewajibannya? dan apakah jemaat itu tertib membayarnya, lalu apakah hal ini perlu sy sampaikan kegreja kami dan bagaimana caranya . Saya tunggu jawaban amang dan mauliate.

    Daniel Harahap:
    Saya lupa Sinode Godang tahun berapa persisnya, namun yang pasti sudah cukup lama. Yang saya maksudkan adalah perubahan istilah iuran menjadi persembahan. Sebab gereja bukanlah organisasi sosial. Tuhan tidak membutuhkan iuran dari umatNya. Namun umat pantas memberikan persembahan kepadaNya sebab Dia baik dan selalu melimpahi kita dengan berkat. Apakah jemaat tertib menyampaikan persembahan tahunannya? Ya jika dijemaatkan dan disadarkan, dan terutama jika pelayanan gereja berjalan dengan baik dan benar. Tidak perlu kuatir. Bahwa ada satu-dua yang alpa tidak mengganggu pelayanan gereja.

  5. Robert Sibarani on January 22, 2009 at 4:17 pm

    Dia yang memberi kita segalanya, Dari seonggok debu kita diciptakannya, dan hembusan nafasnya kita menjadi hidup,serta Firmannya yang menyejukan hati dan fikiran kita jadi tuntunan hidup kita. Harta benda yang kita miliki saat ini tidak lain adalah hanya titipan sementara bahkan tubuh ini hanya sementara , Bumi yang kita pijak ini adalah ciptaanya yang disediakan untuk tempat kita sementara, semuanya apapun yang ada di dunia disekeliling kita adalah milikNya semata.
    sampai saat ini kita masih bisa bernafas menghirup udara yang segar adalah atas seijin Dia yang Maha Kuasa.
    Hanya karena KasihNya terhadap kita , kita bisa begini, apapun dan bagaimanapun Status ekonomi dan status sosial kita saat ini. Bahkan perbedaan yang ada saat inipun adalah atas seijin Dia. RancangannNya yang begitu Indah buat semua umat tak tekecuali, dijanjikannNya kepada kita.
    Dia yang Maha Adil dan Maha Sempurna, diciptakanNya kita segambar dengan Dia.

    Meskipun terkadang dijinkannNya cobaa mendera kita , tapi Dia tetap ada dan hadir di sisi kita. Dia hanya sejau Doa kita.
    Didalam doa kepadanNya kita berpengharapan, meminta dan memohon pertolonganNya supaya kita yang ada di dunia ini selalu dilindungiNYa.

    Betapa besarpun Badai , gelombang melanda kehidupan kita, kalau kita berseru dan berserah diri kepadaNya saya yakin hanya dengan satu perkataan saja , maka segala cobaan itu akan lenyap dari sisi kita.

    Sebab Allah kita adalah Allah yang Maha Dahsyat KuasaNya atas bumi dan segala isinya.
    Untuk itu mari kita teguhkan Keyakinan kita hanya kepadaNya saja.

  6. R.Siburian on January 22, 2009 at 5:29 pm

    Ya Tuhan bimbinglah kami agar dapat menjadi anak anakMu yang di hadapanMu. Amin

  7. UPtampu on January 22, 2009 at 10:04 pm

    Satu dan lain saling berbagi dan menguatkan walaupun tdk bertemu muka
    dan hanya lewat tulisan atau Kommentar tapi dpt memperkaya kita
    semuanya.

    Untuk Bpk Robert Sibarani:
    Apakah Bapak satu angkatan dulu di SMP Labuhan Deli ? Medan.

    Untuk Bpk Pdt Harahap:
    setiap saya menulis ada perasaan risih, karna rencana saya mau bayar
    Iuran Tahunan belum terlaksana, tapi sekarang baru awal Tahun.
    Iuran Langganan Renungan Harian, paling sedikit Rp 30.000/ Bln.
    Pak Pendeta kita tidak pasang Tarif tetap, mudah mudahan secepatnya
    saya dapat bayar utang.

    Daniel Harahap:
    Pak Tampu tidak pernah berhutang kepada saya. :-)

  8. Pahala on January 22, 2009 at 11:17 pm

    Halo bang, khabar baik bukan?
    khabar dari huta seminarium baik-baik juga nih, hanya diiiingggginnn kali.
    Maklum hujan terus…

    hutaseminarium.co.nr

    Daniel Harahap:
    Secara umum baik. Secara khusus mesti dibicarakan langsung. :-)

  9. t.m.sihombing on January 23, 2009 at 8:10 am

    Utk ito friska p, sebagai tambahan info bahwa latar belakang tok2 ripe adalah jemaat Gereja di kampung memberikan iurannya berupa padi secara tahunan dan jemaat dikota memberikan iurannya berdasarkan adanya gaji bulanan. Kemudian sekarang dirobah menjadi persembahan yang jumlah besarannya tidak ditentukan. Perobahan ini sebenarnya sudah lama (4-5 tahun yang lalu) dan HKBP merealisasikannya waktunya macam-macam. Misalnya HKBP Rawamangun melaksanakannya secara gencar untuk merobahnya baru tahun 2008/2009 ini, Gereja kita/pendeta tidak salah dalam hal ini karena selalu melihat kondisi jemaatnya/kondisi keuangannya,dsb. Alai nang pe songoni godang-godang ma talean ate. horas

  10. Robert Sibarani on January 23, 2009 at 2:02 pm

    Special to Lae UP. Tampu.
    Sattabi Lae hupabotohon ma jolo ate: Ia ahu sian Laguboti do lae , sikkola mulai SD s/d Tammat SMA sian Laguboti do andorang so tinggal di Jakarta on.
    Songoni ma jolo atae pinabotohon ate lae.

  11. UPtampu on January 24, 2009 at 1:00 am

    Mauliate ma tu Lae Robert Sibarani,

    Alana adong do dongan na joloi, namargoar songon halak Lae.
    alai nang pe songoni Lae, melalui Iangka Tulisan manang
    Kommentar ni Lae di rumamemet on gabe boi marsitandaan hita.
    Jala boi hami belajar sian Halak Lae nang songoni sian Iangka
    Dongan sahaporseaon na sering mangalean Pemasukan manang
    Pendapat dison.

    Mauliate ma di hita saluhutna, terlebih Amang Pandita nami Harahap
    na sai manarihon hita Biru Biru naon, sai anggiat ma marhite Ulaon
    ni Amang Harahap on boi hita setiap hari di pargogoi Tuhan tai
    lao mangula di angkan si ulaon ta be, tarlumobi tu Amang Harahap
    ingkon dohot do hita manangiang hon ibana di angka ulaon ni
    Amangon setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*