Pemerdekaan

January 21, 2009
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 21 Januari 2009:

mawar-merah.jpg

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Ulangan 5:6)

Umat Israel mengaku pernah menjadi bangsa budak di Mesir. Namun TUHAN Allah membebaskan mereka dari rumah perbudakan itu dan menjadikan mereka bangsa yang merdeka dan kuat. Pembebasan atau eksodus dari tanah perbudakan itu menjadi ingatan kolektif dan bahkan pokok ibadah dan puji-pujiannya sepanjang jaman. Dan bila Israel “lupa”, terutama saat jaya atau malah ketika terpuruk, maka mereka selalu diingatkan akan peristiwa pembebasan yang dikerjakan oleh TUHAN Allah itu dan beroleh semangat baru.

Kemarin 20 Januari 2009 dunia menyaksikan seorang berkulit hitam yang dicap sebagai keturunan bangsa budak menjadi presiden di negara paling berkuasa di dunia. Mimpi atau visi seorang pendeta berkulit hitam Martin Luther King empat puluh tahun silam telah terwujud. TUHAN telah bertindak lagi sebagaimana Dia telah membebaskan umatNya dari perhambaan di Mesir dan juga di Babel. “Tanah yang berbukit-bukit telah diratakan dan jalan yang berlekuk-lekuk telah diluruskan”. Sungguh suatu peristiwa yang membangkitkan rasa syukur dan hormat kepada TUHAN Allah yang telah menciptakan manusia sama berharga dan derajadnya.

Lantas bagaimana dengan kita? TUHAN Allah yang pada masa lalu telah memerdekakan kita dari penjajahan kini pun memanggil kita untuk merdeka kembali. Ada banyak hal yang bisa memenjarakan dan bahkan memperbudak kita sekarang. Mungkin kita tidak sedang dipenjara atau diperbudak secara fisik dan politis. Namun boleh jadi kita sedang dipenjara dan bahkan diperbudak oleh kemiskinan, keterbelakangan, penyakit, atau malah kejahatan dan dosa. Kita bisa juga sedang diperbudak oleh nafsu ingin memakan sebanyak-banyaknya, nafsu ingin hidup senang dan nyaman, atau nafsu serakah dan rakus ingin memiliki segalanya.

TUHAN berjanji mau membebaskan kita juga sekarang. Sambutlah tanganNya dan berjuanglah membebaskan diri kita dengan kekuatanNya.

Doa:

Ya Allah, kami bersyukur sebab Engkau telah membebaskan kami dari belenggu dosa dan maut dalam Kristus AnakMu. Kini bebaskanlah juga kami dari berbagai belenggu, borgol dan pasung yang menyengsarakan, memperbudak atau bahkan mematikan kami. Berkatilah perjuangan, kerja keras dan usaha kami memerdekakan dan menyejahterakan hidup kami. Dalam Kristus kami sungguh-sungguh merdeka dan menjadi anak-anak Allah. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

15 Responses to Pemerdekaan

  1. mm Timbo on January 21, 2009 at 8:30 am

    aduuuuh.. susah juga jadi orang batak ya, kalau sudah baca naats alkitab hari ini:
    Sudah punya rumah sendiri, tapi budaya mengingnkan (=menuntut) rumah yang sebesar-besarnya supaya bisa dipakai untuk kumpulan keluarga.
    Sudah jadi pegawai rendahan di kota, tapi budaya menginginkan (=menuntut) jadi boss supaya bisa membawa anggota di kampung untuk urban ke ibukota.
    Sudah jadi orang batak, harus jadi orang batak yang sukses pulak.. weleh,weleh..

  2. Soparov on January 21, 2009 at 8:34 am

    Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak mampu,
    tetapi Allah memampukan.
    Ada banyak hal yang tidak mungkin,
    tetapi Allah memungkinkan.

    Dan oleh sebab itu justru dalam ketertindasan dan kelemahan kita,
    kuasa Allah menjadi nyata.

    Oleh karena itu, terpujilah Kristus Sang Pembebas kita.

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on January 21, 2009 at 8:35 am

    Sebagaimana bangsa Israel, bangsa Indonesia dan suku Batak khususnya juga telah dimerdekakan oleh Tuhan dari penjajahan Belanda dan kungkungan animisme, keterbelakangan, isolasi dengan datangnya para missionaris ke tanah Batak. Hal ini harus kita syukuri karena jika tidak maka kita akan terkurung dalam lingkungan animisme, keterbelakangan dan isolasi.

  4. richard hutahaean on January 21, 2009 at 9:30 am

    Pada alinea kedua, amang mensyukuri kesamaan derajat. Saya pun demikian. Di sisi lain, saya sih masih pesimistis Obama akan dapat membawa Amerika (bukan dunia) ke jalan yg lebih baik. Hal ini karena, Amerika itu negara Kapitalis. Konsekuensi yang dikandung dari sistem itu pun tidak akan pernah luput melingkupinya. Alasannya, di sistem itu, UANG adalah “tuhan”. Sungguh pun, sekiranya, ia nya baik, tetapi kekuatan uang sangat sulit ia lawan. Maksudnya, para kaum jet-set dan orang super kaya di AS.

    Artinya pula tentu adalah kepentingan. Selagi kepentingan AS, dan apapun akan dilakukan AS demi kepentingannya. Termasuk membunuhi rakyat Irak, Palestina, dan lain-lain. Sampai sekarang saya masih “membenci” AS. Terus terang aja. Saya sangat tidak suka dengan “sok jago”nya AS. Mohon maaf bila salah……

    Daniel Harahap:
    Jika Amerika kapitalis, Indonesia ini negara apa pulak (dalam prakteknya)? :-)

  5. todungrs on January 21, 2009 at 10:44 am

    richard:
    Selagi kepentingan AS, dan apapun akan dilakukan AS demi kepentingannya. Termasuk membunuhi rakyat Irak, Palestina, dan lain-lain. Sampai sekarang saya masih “membenci” AS. Terus terang aja. Saya sangat tidak suka dengan “sok jago”nya AS. Mohon maaf bila salah……

    todungrs:
    makanya lae, doakan saja Mr O menepati pidato pelantikannya dini hari tadi. Apa boleh buat, suka atau tak suka, kita masih dipengaruhi oleh AS. Mau hidup sendiri tanpa pengaruhya…kita harus pergi ke Mars (celakanya harus pake teknologi dia pula).

    Memang tidak usah berharap terlalu banyak thd Mr O, akan tetapi Tuhan saja memakai Bileam, sang nabi ‘palsu’ dari Moab untuk memberkati Israel (kotbah di HKBP hari Minggu :-) .

    Tapi kita percaya, kita bersama Tuhan harus memperjuangkan kemerdekaan kita sendiri dari segala bentuk penindasan. Seperti kulit hitam AS yang kini salah satu perjuangannya telah berhasil. Dalam perjuangannya mereka juga berdoa melalui lagu-lagu ‘soul’ yang dinyanyikan di gereja-gereja kulit hitam di AS. Lagu-lagu ini sangat mencerminkan kesulitan-kesulitan dan harapan-harapan, dan doa mereka kepada Tuhan. Seperti lagu “Soon ah will be done” (?) yang sangat saya sukai itu (dinyanyikan dalam acara pemakaman seorang aktivis hak asasi Amrik). Dalam hal ini juga tampaknya ketika kita pergi ke gereja, sambil memuji dan memuliakan Dia, hendaknyan kita minta pertolongan dari Dia untuk menguatkan kita dalam perjuangan hidup sehari-hari.

    Perlu juga mengutip kalimat pembukaan pidato Marthin Luther King yang dikutip Pdt DTA di postingan kemarin: ” walaupun kita mengalami kesulitan hari ini dan besok..saya masih punya mimpi…..” Mimpi yang akan diwujudkan dengan penyertaan Tuhan.

    Horas.

  6. t.m.sihombing on January 21, 2009 at 10:48 am

    Raja Moab dengan memanggil Bileam agar menghancurkan bangsa Israel, tetapi Tuhan tidak menghendaki dan menyatakan bangsa Israel adalah bangsa yang besar dan diberkati, yang artinya tidak ada satu pihakpun yang dapat menghancurkan suatu bangsa kecuali DIA.
    Kita baca dalam Kitab Bilangan 25 , Bileam pemimpin Dewa Berhala Baal dan bangsa Israel juga pernah memuja Dewa tersebut , padahal Tuhan akan membawa bangsa Israel ke Tanah perjanjian berarti akan merdeka atau sudah merdeka, namun bangsa ini tetap keras kepala karena pada saat senang mereka lupa atas pengasihan Tuhan. Begitu juga kita sering lupa mensyukuri pada saat kita berhasil memiliki jabatan yang tinggi,rumah, mobil dan angka Ondeng. Sebenarnya kita dapat mensyukurinya dengan cara memberikan bantuan ke Gereja yang susah, orang tua angkat bagi orang yang tidak mampu, memberikan tok-tok ripe/iuran bulanan ke gereja walaupun besarannya saat ini tidak lagi disebutkan, memberikan persembahan yang layak dan jumlah yang wajar.
    Raja-raja terdahulu saling membunuh, para politisi sekarang saling menjatuhkan, angka namarlae/mareda saling sirik / bersaing, apakah aku harus ikut dalam gelombang seperti ini ? apakah aku harus membenci mereka ? mari kita saling mendoakan dan saling melayani dan dilayani dan kebenarannya hanya Tuhan yang maha tau. Tuhan Yesus membasuh kaki murid-muridnya yang berkata Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani dan ada perkataan yang lain supaya saling membasuh kaki yang artinya : Masiburian patma hamu /saling membasuh yang artinya masing-masing kita sudah saling melayani dan dapat dilayani juga. Kita melakukan pelayanan dan dilayani ini harus dengan kasih sayang tanpa pamrih , yang artinya jangan kita melakukannya karena menghambakan uang (kepntingan pribadi)sehingga sering kita mencari pembenaran diri. horas

  7. hendry yunan pakpahan on January 21, 2009 at 11:03 am

    Berbahagialah bagi manusia yang sdh dimanusiakan , dan mari kita ambil bagian untuk memanusiakan manusia yang belum manusia , maksudnya yang belum dimerdekakan ……sekecil apapun itu bentuk memerdekakannya

    yang aku tau indonesia negara kepulauan ……apa pula ini………..

  8. Agus Karta Parulian Panggabean on January 21, 2009 at 11:10 am

    Buat lae/ito MM TIMBO,

    Jika kita turuti amanah dari budaya Batak sementara kemampuan kita (ekonomi, intelektualitas) terbatas, maka amanah tsb bisa membuat kita stress bahkan mengubah kita menjadi penjahat kelas kakap hanya karena ingin mencapai target yakni ingin memiliki rumah sebesar-sebesarnya buat silahturahmi keluarga. Kita harus mencuri/merampok/menipu orang terlebih dahulu agar bisa memiliki rumah yang besar dan mewah.

    Begitu juga halnya dengan amanah untuk boss (hasangapon). Jika kita telan mentah-mentah dan kita turuti amanah tsb sementara IQ kita rendah, hasil karya kita jelek, maka bukan tidak mungkin amanah tsb akan menghasut kita untuk memfitnah bahkan membunuh saingan kita agar kita dapat menjadi boss.

    Sebagai orang yang sudah mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. kita diminta untuk mensyukuri apa yang Tuhan berikan pada kita. Bukan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang dapat kita capai seperti yang diamanahkan oleh budaya Batak. Sebab jika kita turuti amanah tsb maka kita akan jadi stress lalu jatuh sakit atau sebaliknya sehat wal afiat namun mendekam di penjara karena kejahatan yang kita lakukan.

    Itulah kasih Allah pada kita, yakni Dia tidak ingin kita jatuh sakit atau terjerumus ke penjara hanya karena memikirkan hal-hal yang lebih tinggi.

  9. Robert Sibarani on January 21, 2009 at 12:35 pm

    To. Lae MM Timbo

    Saya fikir keinginan seperti ini wajar ya dan bukannya hanya orang batak yang seperti itu lae, semua orng di dunia ini pastilah ada keinginan seperti itu , cuma mungkin yang perlu kita antisipasi , jangan sampai keinginan2 daging ini membuat kita terjebak dalam obsesi kita tanpa ada batas.
    ketika kemampuan kita terbatas ya.. hendaknya kita mau menerima keterbatasan kita, lalu mencari solusi positif laninnya.
    Yah artinya disini kita hanya sebatas berusaha sepenuh hati dan fikran serta tenaga kita dan berharap atas kemurahan dan Restu Tuhan kita.

    Kita punya keinginan yang banyak wajar wajar saja. asal jangan sampai menghalalkan segala cara apa aja. apalagi cara cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan kita.
    Dan masalah kesuksesan bukan hanya idaman orang Batak saja Lae , semua orng di dunia ini selalu mendambakan itu , apalagi kita orang Kristen yang Nota bene adalah pengikut Kristus. Kita harus bisa jadi pemenang .

    Jadi ini bukan masalah reportnya jadi orang Batak, seharusnya kita bersyukur kalo ternyata Orang batak itu punya keinginan lebih.

    Masih ingat falsafah Orang Batak?
    Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon. (hal ini kita tdk bisa kita pungkiri), bahkan ini sudah berurat berakar dalam kehidupan kita sebagai orang Batak.

    Nah tergantung kita bagaimana kita mengaplikasikan ketiga unsur ini dalam kehidupan kita sebagai Orang Batak yang Kristiani.
    Berati dalam ketiga faktor ada yang sangat mempengaruhi yaitu keyakinan kita kepada Kuat Kuasa Tuhan kita.Sampai dimana kita bisa memegang penuh Kercayaan ini terhadap Tuhan kita.

    Ketika ketiga faktor tersebut di atas sudah kita miliki, kita kembalikan lagi kepada Tuhan kita, Dia yang memberikan semuanya itu, supaya Hamoraon yang kita milik adalah hamoraon yang dari Tuhan, Hagabeon yang dari Tuhan serta Hasangapon yang dari Tuhan.
    Tapi kita juga harus sadar bahwa hasangapon yang kita dambakan di portibion tdklah lebih sangap dari pada Sangap Ni JAHOWA DEBATA.

  10. Kimron Manik on January 21, 2009 at 12:42 pm

    Marilah kita juga bebaskan diri dari rasa curiga, rasa pesimis, rasa benci yang berlebihan kepada orang atau bangsa lain. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Lakukanlah ajaran Kasih dari Tuhan Jesus Kristus yang telah memerdekakan kita secara total.

  11. S P Sinambela on January 21, 2009 at 1:59 pm

    Saya senang Obama bisa merontokkan bayang2 rasialisme di AS. Tapi kini, bangsa besar itu terlihat makin tak tentu arahnya. Isu2 sekularisme sampai standar ganda, degradasi moral, homoseksual, dsb, dsb. Kalo buyut mereka yg puritan dr inggris itu tahu, entah kata apa yg mereka akan ucapkan.
    Semoga Obama bisa menawarkan perubahan yg dia janjikan. In God we trust!

  12. Friska Pardede on January 21, 2009 at 9:37 pm

    Untunglah blog amang DTA ini ada agar saya sedikit merdeka dr gaptek krn dgn mengenal Blog ini saya pasti baca tiap hari dan berinterksi dgn sesama pengunjung lalu tangan pasti gatal untuk mengetik walaupun masih 2 jari.
    Sebagai jemaat HKBP yg berdomisili dipinggiran jakarta, saya berusaha menjadi jemaat yg baik (walaupun sering marungut2 atas pelayanan yg kurang memuaskan). Agar tidak lupa kami pasti membayar iuran tok-tok ripe dan dana diakoni sosial yg jlhnya 120 ribu rupiah pertahun pd bln Januari setiap tahunnya, apakah anda sdh membayarnya? atau malah sdh 2 thn msh ada yg blm bayar!

    Daniel Harahap:
    Inang, setahu saya di HKBP tidak ada lagi istilah iuran atau gugu (gugu toktok ripe = iuran per keluarga). Yang ada hanyalah: pelean. Di HKBP Serpong bahkan kami tidak lagi mematok atau menentukan jumlah pelean taon (persembahan tahunan) itu. Masing2 warga bebas menentukan sendiri jumlah peleannya sesuai berkat Tuhan yang diterimanya dan kerelaan hatinya.

  13. R.Siburian on January 22, 2009 at 7:11 am

    Mari Kita selaku umat Tuhan yang telah dimerdekakan membangun bangsa dan negara kita yang sedang terpuruk sekarang ini khususnya iman kita masiang masing.

  14. O. Pasaribu on January 22, 2009 at 12:10 pm

    Amang DTA, di gereja kami iuran tahunan masih ada. Jumlahnya Rp. 110.000 / thn. (Iuran Rp. 60.000,- & Sumb Sosial Rp. 50.000,-) Bahkan tadinya pada thn 2009 ini iuran mau dinikkan menjadi Rp. 75.000 / thn. tapi tidak jadi. Menurut saya, ini baik2 saja. Kebanyakan orang batak agak susah mengenai uang. Sedangkan ditentukan sebesar itu saja banyak yang tidak bayar (apakah itu karena lupa, dll) apalagi cuma suka rela. Padahal kalau dihitung sebenarnya tidak terlalu besar. Per bulannya tidak sampai Rp. 10.000,- Lebih besar uang beli rokok. Di gereja kami, kalau ada ruas yang meninggal, keluarga dapat santunan Rp. 2 jt. mauliate

    Daniel Harahap:
    Amang, setahu saya istilah iuran (= guguan) tidak lagi dipakai di HKBP. Alasannya gereja bukan organisasi sosial. Yang kita gunakan adalah: pelean (persembahan). Karena itu namanya sekarang pelean taon. Saya kurang setuju jika dikatakan orang Batak susah dalam hal uang. Pengalaman di beberapa gereja HKBP setelah tidak lagi dipatok maka persembahan tahun justru meningkat signifikan. Kalau tidak percaya ujilah. :-)

  15. P.Ritonga on January 23, 2009 at 9:39 am

    Ada satu lagi Pak DTA, di gereja kami HKBP mengumpulkan kolektenya tiga kali dalam satu kali ibadah, kenapa tidak sekali saja ya biar tidak terlalu repot alias lebih praktis atau memang ada aturannya harus tiga kali kolekte setiap kali ibadah?

    Daniel Harahap:
    Saya juga secara pribadi setuju dalam ibadah cukup satu kali mengumpulkan persembahan dan cukup satu kantong. Sebab banyaknya kantong dan frekuensi menggeser makna persembahan. Namun berhubung itu sudah merupakan keputusan sinode godang maka untuk mengubahnya juga harus di tingkat sinode. Mari kita wacanakan: satu kebaktian satu persembahan. Agar makin banyak yang mendukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*