BELAS KASIH SEJATI

RENUNGAN MINGGU 04 JANUARI 2009:

Matius 6:1-4

Ada bermacam motif seseorang untuk menolong orang lain khususnya yang sedang dalam kesusahan. Salah satunya adalah memenuhi hukum saling berbalas. Jika dia susah di kemudian hari maka orang yang ditolongnya akan balik menolongnya. Atau sebaliknya karena yang ditolong sudah pernah menolongnya di masa lalu. Semua ini wajar-wajar dan sah-sah saja dalam kehidupan bersama.

Namun ada juga motif lain, yaitu: untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah orang baik dan berjiwa sosial. Pertolongan diberikan pertama-tama bukan demi yang ditolong tetapi demi prestise atau nama baik yang menolong. Inilah yang terjadi dengan orang-orang Farisi atau tokoh-tokoh masyarakat dan agama Yahudi pada waktu jaman Yesus. Mereka suka memberi derma, persembahan dan belas kasih tetapi sesungguhnya bukan demi orang-orang miskin dan lemah itu melainkan demi mengumpulkan hormat dan pujian bagi dirinya sendiri. Tindakan ini sebenarnya tidak salah atau jahat, sebab orang-orang miskin dan kecil itu pada dasarnya sudah “terbantu atau tertolong” dengan motif apapun juga. Sebab itu jangan juga cepat-cepat menghakimi orang Farisi sebab mereka jauh lebih baik dibanding dengan orang-orang yang “ hanya banyak cakap tetapi tidak pernah berbuat apa-apa”.

Ada lagi motif lain berbelas kasih, yaitu: pengguguran kewajiban. Orang ini sebenarnya menolong atau memberi hanya asal saja atau tanpa perasaan sama sekali. Yang penting kewajibannya dipenuhi. Apa dan bagaimana hidup dan perasaan yang sakit, lemah atau miskin dia tidak perduli. Lantas bagaimana?

Yesus mengajak kita membangun belas kasihan sejati. Yaitu: belas kasih yang berakar kepada kasih dan kemurahan Allah sendiri. Yesus mengajak kita memberi dan berbagi kepada sesama justru sebagai respons kita terhadap kebaikan Allah. Berhubung Allah itu baik, berbelas kasih dan murah hati maka kita juga harus baik, berbelas kasih dan bermurah hati. Itulah yang membuat kita tidak lagi mengharap balasan apalagi pujian atas tindakan yang kita lakukan. Dan tidak merasa memberi pinjaman. Juga tidak perlu berteriak-teriak melakukannya.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Halaman Depan:

Share on Facebook

11 Responses to “BELAS KASIH SEJATI”

  1. uli Says:

    Sebab itu jangan juga cepat-cepat menghakimi orang Farisi sebab mereka jauh lebih baik dibanding dengan orang-orang yang “ hanya banyak cakap tetapi tidak pernah berbuat apa-apa”.

    He..he..he… bener nih kalimat nya amang? Kog auranya “emosi banget”?

    Daniel Harahap:
    Siapa yang emosi? :-)

  2. Agus Karta Parulian Panggabean Says:

    Pertama-tama saya ingin kasih tahu bahwa nats untuk hari ini yang tertulis di Almanak HKBP tahun 2009 bukan Lukas 6:1-4, melainkan Matius 6:1-4.

    Kedua, di Gereja kami (HKBP Depok II) sudah mulai dilaksanakan ajaran Tuhan Yesus yang satu ini yakni jika ada seorang anggota jemaat atau parhalado yang ingin menyampaikan perpuluhan atau sumbangan buat huria/pembangunan maka yang bersangkutan tidak mau kalau namanya ditulis di warta jemaat atau dijahaon di tingting.

    Kiranya gereja HKBP yang lainnya juga melakukan hal yang sama.

  3. Tampubolon Says:

    Nats yg benar Matius 6:1-4

    Daniel Harahap:
    Thx atas koreksinya.

  4. richard hutahaean Says:

    Bravo Pdt Taruli Asi…….Anda mau dikoreksi. Berarti, sudah makin banyak nih yg baca Almanak HKBP tiap hari. Ayo… kita baca Alamanak HKBP tiap hari.

  5. huta Says:

    Selamat Tahun Baru..

    Pro HKBP…
    Kedua, di Gereja kami (HKBP Depok II) sudah mulai dilaksanakan ajaran Tuhan…

    Saya hanya dapat menghimbau mungkin lebih enak didengar apabila Gereja kami diganti dengan Gereja kita …..
    bravo HKBP…
    mohon tanggapan Amang Pendeta DTA….

  6. Tiarma Hutagalung Says:

    saya merasa bersyukur karena di gereja kami HKBP Kapuk (Cengkareng Indah) Jakarta Barat sudah semakin banyak yang memberi perpuluhan dan hamauliateon tanpa menulis nama (NN). artinya ini salah satu barometer bahwa jemaat sdh mulai menyadari kalau berbuat baik itu gak perlu teriak-teriak. kan Tuhan melihat dr tpt tersembunyi, dan Dia akan memberi upah dengan caraNya sendiri…jd jgn pernah bosan berbuat baik (walau manusia tak memberimu pujian).

  7. rumanap Says:

    DTA : “Mereka suka memberi derma, persembahan dan belas kasih tetapi sesungguhnya bukan demi orang-orang miskin dan lemah itu melainkan demi mengumpulkan hormat dan pujian bagi dirinya sendiri. Tindakan ini sebenarnya tidak salah atau jahat, sebab orang-orang miskin dan kecil itu pada dasarnya sudah “terbantu atau tertolong” dengan motif apapun juga ”
    Saya : kurang yakin…….

    Daniel Harahap:
    Kurang yakin apanya? Yang saya maksudkan memberi (dengan motif memperhebat diri) seperti orang Farisi lebih baik daripada tidak memberi sama sekali.

  8. silo Says:

    Tentang persembahan si NN
    Memang awalnya sih berniat untuk tidak ditahu orang, tapi ternyata si NN ketahuan juga dari orang yang terima atau yang mendatakan persembahan itu ketika selesai kebaktian dan menghitung persembahan itu. Dan rasanya saya ingin seperti itu……
    Si NN seperti mengatakan : sst jagan kasitau sapasapa ya ini rahasia ! Padahal si NN menunggu rahasia itu dibeberkan.. Cape dehh

  9. silo Says:

    Lupa lagi.
    Amang Panditanami, songon dia do antong lapatanni ; Biarlah orang-orang mengetahui perbuatanmu yang baik itu. Manang na so soksok doi taringot tu si NN siapala ipe i Amang ?
    Mauliate.

  10. rumanap Says:

    Saya : kurang yakin memberi dgn motif memperhebat diri lebih baik daripada tidak memberi.
    Misalnya BLT, mungkin bermotif kurang baik dan mungkin akan membodohin. Hasilnya adalah MINUS.
    Kalau tidak memberi hasilnya NOL. NOL > MINUS

    Daniel Harahap:
    Menerima BLT dapat Rp 100.000
    Tidak menerima: dapat Rp 0
    Rp 100.000 > Rp 0 :-)

  11. fe Says:

    salam pandita nami baru muncul, maklum saya udah ganti usaha PC tidak internat lagi (….kurang pelanggan kami) . jadi minta dukungan doa untuk usaha kami yang baru (kecil-kecil aza yang penting bisa asap dapur).

Leave a Reply