Almanak Sabtu 3 Januari 2009:
Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yakobus 1:27)
Hari ini Rasul Yakobus mengingatkan kita agar memperhatikan orang-orang miskin, kecil dan lemah apalagi jika mereka anak-anak dan perempuan. Itu adalah kewajiban dan tanggungjawab kita sebagai orang-orang beriman atau sebagai gereja Tuhan. Bahkan ibadah atau pengabdian kita kepada Allah. Ibadah yang sesungguhnya, yang murni dan tak bercacad. Itu berarti jika kita melakukannya maka kita melakukannya untuk Allah sendiri. Sebaliknya jika kita tidak melakukannya maka kita pertama-tama dan terutama berurusan dengan Allah, bukan dengan orang-orang kecil dan lemah itu.
Alangkah radikalnya. Ini sama dengan yang dikatakan Yesus “segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45). Tuhan memposisikan diri dan mengidentifikasi dirinya dengan orang-orang yang paling hina. Apa yang dilakukan untuk saudaraNya yang kecil berarti telah dilakukan untukNya. Sebaliknya: apa yang tidak dilakukan kepada mereka yang kecil sama saja dengan tidak melakukannya kepada Tuhan sendiri.
Lantas apa yang harus kita lakukan? Mari kita mendengarkan seksama dan mewujudkan pesan Tuhan ini: menjadikan seluruh karya kasih, kemurahan hati, belas kasihan, dan perjuangan keadilan sosial sebagai ibadah dan pengabdian kepada Tuhan Allah kita.
Doa:
Ya Allah, kami bersyukur sebab Engkau selalu memperhatikan yang kecil dan lemah yang acap diabaikan dunia ini. Ketika kami merasa diri kami sangat kecil dan lemah, itu adalah kabar baik dan penghiburan bagi kami. Namun ketika kami merasa diri kami besar dan kuat, sabdaMu menjadi peringatan bagi kami. Ya Tuhan, murnikanlah ibadah-ibadah kami kepadaMu. Dalam Kristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Share on Facebook
Terima kasih amang atas renungannya, semoga dpat mengingatkan dan menguatkan kita semua, untuk saling mengasihi dalam wujud saling menolong dan saling menguatkan di antara kita. Semoga di tahun Diakonia (taon parasinirohaon) tahun 2009 dan selanjutnya kita semakin peduli dengan sesama.
Hanya untuk reminder saja amang : Perekembangan Sarikat Gadong Manginsir ke depan bagaimana amang, adakah program dalam waktu dekat?.
Horas.
Selamat taon baru ma di kel. amang DTA songoni nang di Jemat ni huria ruma metmet on.
Digreja kami dibona pasogit yg baru berjubeleum 100 thn, ketika dibacakan sejarah berdirinya yg dimuali dgn jemat 25 org tentulah dlm keadaan yg memprihatinkan dimana jarak keluarga yg satu dgn yg lainnya bisa2 1km tapi saya membayamgkan dgn keadaan tsb mrk bisa sangat kompak membangun grejanya tahap demi tahap pastinya secara gotong royong sampai akhirnya 100 thn kemudian memiliki jemaat 250 kk dan jlh jemaatnya kurang lebih 1600 org dan sdh memiliki bangunan greja yg tetap masih sederhana.
Pesta yg diadakan selama 2 hari yg sayangnya hanya diiringi keyboard modern bukan yg seperti sy harapkan margondang sabangunan seperti ketika sy masih kecil kalau pesta greja semua jemaat manortor, tetap sih ada manortornya tetapi kurang pas diiringi musik seperti itu, hari pertama adalah pesta jemaat manortorma masing2 huta dan membawa silua masing2 bentuknya adalah uang, kata mamak saya masa kecilnya dulu siluanya adalah masing2 hasil panen dari kampung masing2, ppada saat itu pastilah ibadahnya murni memuja Bapa disorga tanpa embel2 lain.
Ketika wakil2 kampung memberikan pesan2 rata2 meminta dgn sangat agar pendetanya mrk( pdt Harahap juga ) tidak dipindahkan krn prestasi yg sangat baik/pelayanan yg luar biasa dari beliau utk jemaatnya, pendetanya masih sangat muda(31 th) Mth pula dan pandai mengarang lagu untuk koor.
Tiga thn yl jemaat digreja ini beribadah setiap Minggunya hanya 100 org tetapi dgn dihidupkannya paduan2 suara antar kampung jadilah org beribadah mencapai 600-700 org memang sih mungkin mereka datang bukan ibadah penuh tetapi ingin tampil saja mulanya tetapi krn kepiawiannya sang pendeta dan guru huria jadilah ibadah tiap minggunya sangat bergairah (org malas beribadah krn selalu gagal panen), cerita ini sy dapatkan dari para jemaat yg tdk sy kenal .
Lalu pada acara puncak yg dihadiri oleh Ompui Ephorus Pdt.Bonar Napitupulu dan didampingi para pendeta 7 org ibadah berjalan dgn sangat hening krn kotbahnya ompui antara lain menceritakan fungsi greja kini sdh sangat beda dibandingkan dulu dimana dulu ketika jemaat hendak menanam padi maka bibitnyai dan bibit tanaman lainnya dibawa kegreja dulu untuk didoaka, lalu kotbah deteruskan kanapa jemaat HKBP sejak tgl 1 Desember sdh boleh merayakan Natal ( krn sdh menjadi tradisi sejak dulu dan pd tgl2 tsb org2 didesa sudah melakukan pesta marbinda dan setelah tgl 25 Desember tidak ada lagi yg merayakan Natal).
Ada yg mengganjal dihati ini ketika acara tsb ditunggangi kampanye terang2an dari calon2 contestan partai2 politik yg fotonya memenuhi jln2 menuju greja (dgn cara menyumbangkan makanan dan sdh beberapa bulan yl sdh membagikan bibit pohon dan bibit tanaman lainnya) jadi tidak lagi murni ibadah walaupun memang acara2 itu dilakukan setelah ibadah selesai.
Begitulah pesta yg meriah untuk ukuran kampung. Jemaat ibu2 tampil dgn kebaya sederhana tanpa make up dan sasak tetapi rambut diikat rapi bapak2nya jarang yg berjas hanya batik murahan (tetapi itulah pakaian terbaiknya) , dan kami para perantaupun tampil sederhana juga tdk ada yg bersongket dan bersasak tinggi dan tanpa perhiasan (kan malu sama jemaat ruma metmet) .
Semua kejadian yg saya alami dikampung saya ceritakan ke anak2 sy agar mrk tetap mencintai HKBP sampai kapanpun begitu harapanku.
Saya sudah hampir semua aliran di dalam gereja mulai dari Katolik hingga Karismatik melakukan ibadah murni dan tak bercacat di hadapan Allah, namun baru dua saja yang dilakukan oleh gereja-gereja tersebut yakni mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. Sedangkan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia tidak semua gereja mampu melakukannya. Contohnya: dalam ibadah karismatik banyak hal-hal yang duniawi dibawa masuk ke gereja. Salah satu hal yang amat jelas sekali terlihat dalam “tepuk tangan buat Tuhan Yesus….” Seolah-olah Tuhan Yesus itu seorang superstar yang patut diberikan pujian hanya dengan berupa tepuk tangan.
Namun jangan disangka HKBP tidak melakukan hal yang sama. Beberapa waktu lalu sudah saya ungkapkan bahwa HKBP ADALAH GEREJA, bukan lembaga ilmu pengetahuan indonesia, bukan pula partai politik, bukan lembaga pelestarian adat batak dan juga bukan pula panggung kehormatan orang batak. Hal tsb merupakan bukti bahwa HKBP sudah tercemar oleh dunia ini, karena orang Batak Kristen yang menjadi warga HKBP agak berat rasanya meninggalkan habatahonna sehingga tidak heran adat batak menjadi nomor 1 sedangkan Tuhan menjadi nomor 2 atau 3. Demikian pula halnya dengan kemelut atau perpecahan di dalam tubuh HKBP yang konon sudah terjadi +/- 3 kali sejak perpecahan zaman HKI, GKPI dan terakhir di era 1990-an.
Hal tsb dikarenakan orang Batak sulit (berat hati) meninggalkan habatahonna i, sehingga sifat parbada (tukang berantem) yang diwarisi oleh ompunta i tidak bisa hilang dari dalam diri orang Batak. Alhasil, muncullah keributan di dalam gereja, banyak orang Batak yang menjadi pengacara, petinju, preman, dll.
Semoga dengan renungan amang pdt. diatas orang Batak dapat mengubah perilaku orang Batak Kristen (khususnya).
sebagai warga Batak Kristen, saya tidak merasa sulit utk menomorsatukan Tuhan walaupun saya menjalankan adat Batak. karena yang saya lihat di acara adat, hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Kristen sdh tidak dijalankan lagi kok. kalo masalah menjaga diri agar tak tercemar oleh dunia, bukan hanya org batak yang sulit melakukannya, mungkin semua org Kristen dan gereja di dunia ini. jgnlah terlalu apriori menilai sifat2 Batak. banyak kok sifat baik yang dipunyai org Batak. justru suku/bangsa lain banyak yg kagum melihat kita krn kita pada umumnya berani, pekerja keras dan setia. knp gak kita kembangkan aja hal2 baik itu utk kemuliaan nama Tuhan. saya bangga jadi orang Batak yang masih ttp setia jd jemaat HKBP…
Pro : Ito Tiarma Hutagalung dan rekans,
Sejak awal saya juga sudah melihat “sikap” dari lae AKP Panggabean mengenai Batak dan adat Batak, yang mencerminkan seolah tidak ada lagi yang positif dari adat Batak. Saya sudah ajak ybs untuk berdiskusi baik terbuka maupun via japri untuk sama-sama belajar mengenai Batak dan kebatakan, tetapi kelihatannya lae itu belum menanggapi.
Tapi ya sudahlah, dalam era keterbukaan saat ini, perbedaan pendapat/sikap untuk menanggapi sesuatu hal adalah hal yang sangat lazim.
Bagi saya, setelah semakin banyak belajar “teori” dan “praktek” di lapangan mengenai Batak, hingga saat ini masih banyak “local wisdom” Batak yang perlu kita gali dan kembangkan dari nilai-nilai kebatakan, apalagi diikuti dengan penyelarasan dengan terang firman Tuhan.
Di samping hal-hal yang positif dari kebatakan, sebagaimana suku bangsa lainnya di dunia ini, pasti ada nilai-nilai yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, jika terdapat ketidaksesuaian dengan firman Tuhan dan atau kekinian, hemat saya bukan berarti keseluruhan Batak dan kebatakan menjadi tidak baik.
Hemat saya, jika ada yang baik kita pertahankan/malah jika memungkinkan kita perbaiki, demikian juga sebaliknya jika ada yang tidak baik, ya jangan diikuti/dilakukan.
Bagaimana lae AKP Panggabean, bersedia “belajar bersama” mengenai kebatakan? Kalau bisa janganlah lae hanya “melontarkan” secara sporadis di berbagai postingan di bagas ni amang Pdt. DTA ini, tanpa mau mencoba memberikan alternatif solusi, apalagi diikuti dengan jargon “pokoknya” he he he.