Gereja Tua Dolok Sanggul

December 19, 2008
By

hkbp-dolok-sanggul.JPG

Maaf kepada par-Dolok Sanggul. Menurut saya gereja tua kalian eh kita (HKBP Dolok Sanggul) jauh lebih artistik dan manis dibandingkan gereja baru. Sebab itu ijinkan saya hanya menampilkan gereja tua dari kayu ini. Bagi kawan-kawan par-Dolok Sanggul pastilah gereja tua ini membangkitkan kenangan indah. Bagi yang lain cukuplah membayangkannya saja. Kemarin saat “liburan rapat MPS” saya menyempatkan mengambil fotonya. Sayang, karena mengejar ke Tele, saya tidak sempat mampir minum kopi di rumah orangtua St Todung Siagian, teman kami di Serpong sekarang.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

hkbp-dolok-sanggul-2.JPGhkbp-dolok-sanggul-3.JPGhkbp-dolok-sanggul-4.JPG

gereja-baru-hkbp-dolok-sanggul.JPG

Halaman Depan:

Share on Facebook

45 Responses to Gereja Tua Dolok Sanggul

  1. Hermin on December 19, 2008 at 1:22 pm

    Wah..wah terima kasih Amang sudah memposting gambar gereja (ku) di blog ini. Gereja tua (ku) ini memang jauh lebih artistik dan nyaman dibanding gereja baru sekarang, dan saya jg tidak habis pikir kenapa harus membangun gereja baru ,sementara gereja lama masih layak (sangat) untuk dipakai beribadah.

    Wah jadi tidak sabar ini untuk segera pulang kampung..:-)

  2. JP Manalu on December 19, 2008 at 1:35 pm

    Terima kasih amang atas liputannya, bisa mengobati rasa kerinduan saya pada bona pasogit saya, rumah ortu saya kira2 3,5 km dari situ. Seingat saya, 3 kali saya masuk ke sana dlm acara natal SMP. Sy msh ingat ‘lotengnya’ yg terbuat dr kayu, sangat artistik dan ramah lingkungan. Sayang amang tdk sempat mencicipi daging khas Doloksanggul itu, semoga dilain waktu ada kesempatan, ngomong2 foto d.toba dr Tele blm kelar ya amang? Horas.

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on December 19, 2008 at 1:39 pm

    Di tahun 1974 setelah adik saya di baptis dan partangiangannya di rumah ompung kami di Pansurnapitu, kami sekeluarga langsung menuju Doloksanggul karena tulang kami (Pdt. VRN Hutabarat) pada saat itu adalah pendeta jemaat di gereja ini (HKBP Doloksanggul).

    Pada saat itu karena lapisan ozon masih sangat tebal sehingga daerah ini (Doloksanggul) masih sangat dingin. Saking dinginnya, mandi pun tidak bisa. Kalau berbicara keluar asap layak orang Eropa. Hehehehe

  4. t.m.sihombing on December 19, 2008 at 3:03 pm

    Saya pernah masuk ke Gereja ini, tentu umurnyapun sudah sangat tua. Saat ini iklim di doloksanggul sudah panas dan dapat merusak bahan dari kayu. Melihat kondisinya sudah sebaiknya para perantau doloksanggul melirik untuk melakukan perbaikannya sehingga para saudara kita yang lagi ibadah tidak terganggu.

  5. todungrs on December 19, 2008 at 3:28 pm

    Saking senangnya aku melihat foto ini, maka ijinkanlah saya membuat tulisan pribadi yang panjang dan mungkin membosankan di blog ini.

    Betul sekali, gereja kayu ini sebenarnya sangat artistik. Apalagi kalau kita masuk ke dalam gereja. Sayangnya sudah tidak terawat lagi, mungkin karena disampingnya sudah ada gereja baru, dan gereja lama terlupakan perawatannya.

    Bagunan gereja ini, seperti gereja HKBP yang sudah berumur dan umum di Tapanuli mempunyai struktur kayu yang sangat kuat. Gereja ini memiliki balkon di samping kiri dan kanan, dan juga punya balkon yang menghadap altar. Plafon gereja dibuat melengkung dengan arah lengkung yang berbeda di tempat tertentu. Pada daerah yang tidak ada balkon ketinggian plafon bisa mencapai 10 hingga 12 m dari lantai. Hingga saat ini, kalau pulang saya masih sering terkagum-kagum bagaimana gereja ini dahulu dibangun. Dan dapatlah dibayangkan dengan kombinasi daerah dingin dan plafon tinggi, maka hawa di dalam gereja akan sangat ‘sejuk’, dan akan membuat orang sering ingin ke toilet.

    Sesuai dengan gaya Lutheran, altar gereja mengikuti altar Lutheran dengan mimbar berkotbah di sebelah kiri meja altar dan mimbar epistle di sebelah kanan. Dan mimbar kotbah yang dibuat menggantung dan dicantolkan ke dinding (system overhang) sering membuat aku juga harus mengakui dan memberi salut sama tukang yang membuatnya di masa lalu.

    Warna cat plafon kayu dan dinding kayu dahulunya di cat plitur/furnished. Dan itu adalah warna yang sangat bagus yang memperlihatkan rekaman serat-serat kayu. Pada saat saya kelas 4 SD beberapa bagian dinding dicat dengan variasi putih dan hijau, dan hal ini menghancurkan keindahan warna kayu dari gereja ini.

    Waktu kecil (masih sekolah minggu), kami sering main petak umpet, dan kadang-kadang sampai bersembunyi di plafon gereja kayu. Kalau mengingat hal ini, maka sadarlah aku sekarang betapa kuatnya plafon gereja tersebut menahan kami berlari-lari kecil disana. Atau betapa beruntungnya kami tidak terjatuh dari plafon yang tinggi.

    Gereja ini punya sejarah musik tiup yang luar biasa. Grup musik tiup trompet yang dahulu beranggotakan 10-15 orang lengkap dengan trumpet, bugle, coronet, flugernhorn, French horn, trombone, baritone dan tuba itu akan mengiringi setiap kebaktian. Semua alat musik itu adalah asli buatan Eropa dan dikirim dan disumbangkan oleh Pendeta Kaiser dari Jerman. Hingga saat ini masih ada musik tiup yang mengiringi ibadah, akan tetapi anggotanya berkurang menjadi 3-5 orang saja.

    Gereja juga punya 2 ‘poti marede’ (orgel) versi Eropa. Orgel ini memang sudah tidak berfungsi lagi, tapi bentuknya yang sangat artistic membuat kedua orgel ini tetap dipajang di bagian depan, hingga kemudian digudangkan pada akhir tahun 80an.

    Satu yang masih sering membuat aku teringat gereja ini adalah 2 bell (lonceng) yang gede, dan buatan Eropa (Jerman?). Ini bukan jenis lonceng buatan negeri yang bunyinya terlalu treble itu. Bunyi lonceng ini sangat berwibawa, mirim Big Ben  . Waktu kami masih SM , kebaktian sekolah minggu dimulai di dalam gereja, dan ibadah dimulai dengan berbunyinya 2 lonceng yang dibunyikan oleh 2 (dua) guru sekolah minggu. Kegiatan membunyikan lonceng ini sangat menarik perhatianku. Lonceng dibunyikan dengan menarik turun naik secara bergantian dua tali yang berhubungan dengan lonceng. Karena lonceng berada di puncak menara, maka tali lonceng keluar melalui lubang plafon dan pembunyi lonceng akan naik ke lantai balkon bagian belakang yang menghadap altar gereja untuk membunyikan lonceng.

    Apabila guru SM membunyikan lonceng, maka tubuhnya kelihatan sekali bergoyang-goyang untuk menahan beban tarikan lonceng yang besar itu dan kadang-kadang kalau gerakan turun naik tidak seirama, maka tubuhnya akan limbung. Suatu hari pernah guru SM perempuan yang bertubuh kecil hampir terangkat dan terjatuh ketika membunyikan lonceng.

    Dahulu, di Dolok Sanggul lonceng gereja ini mempunyai beberapa fungsi: pertama, memanggil jemaat untuk ibadah minggu atau ibadah tertentu yang dilakukan di dalam gereja. Kedua, digunakan untuk pengumuman kematian warga gereja atau kejadian bencana. Apabila ada warga jemaat meninggal, maka bunyi lonceng terdengar dengan tiap bunyi lonceng yang berurutan diberi jeda beberapa detik. Kalau bencana kebakaran maka bunyi lonceng akan terdengar terus menerus tanpa jeda. Ketiga, untuk penanda waktu. Dahulu jam 06.00 pagi dan jam 18.00 sore bunyi lonceng akan bergema. Sekarang, sepertinya sudah jarang dilakukan, kecuali oleh gereja katolik. Setiap jam 00.00 pas pergantian tahun, bunyi lonceng pun akan bergema.

    Pada masa-masa sekolah minggu, kami sering naik ke menara lonceng, dengan menaiki tangga kayu yang ada di menara. Kami naik hingga mencapai lonceng itu digantung. Ukuran lonceng itu lebih besar dari ukuran tubuh kami itu. Sering akmi lakukan tanpa memahami bahaya yang mungkin timbul, karena kayunya sudah ada yang lapuk termakan usia. Dan seorang kawan pernah membunyikan lonceng yang kebetulan berbunyi dengan interval tertentu. Hal ini membuat voorhanger dan pendeta terkaget-kaget, mengira ada orang meninggal. Dan biasanya sapu lidi dipakai untuk melibas betis kami akibat perbuatan yang mengagetkan itu.

    Terakhir, di samping gereja, tepatnya di samping gereja yang baru, masih ada makam istri pendeta Jerman yang pernah melayani di HKBP Dolok Sanggul, Pdt Herling. Istrinya, Maria, dan dua (?) putrinya meninggal di Dolok Sanggul dan dimakamkan di kompleks Pargodungan HKBP Dolok Sanggul ini. Beberapa waktu yang lalu keluarga pendeta Herling dari Jerman berkunjung dan berziarah dengan memugar kembali makam leluhur mereka tersebut.

    Songon i ma jolo.

  6. Ramouthy on December 19, 2008 at 3:45 pm

    Wuah,

    benar tentang sejarah musik tiup di gereja ini sering sekali diceritakan uda dan papa dulu. Uda katanya salah satu pemain terompet gereja.
    Setiap aq pulang kampung sering sekali aqu melihat gereja HKBP ini dari belakang rumah Opung di jalan Letkol Dolok sanggul.

    Kapan yah saya bisa pulang kampung lagi…

  7. Johannes Sidabutar on December 19, 2008 at 4:15 pm

    Benar benar gereja yg artistik indah dan bagus sekali utk dikenang. Terima kasih amang pendeta krn telah memposting photo gereja ini. walaupun aku tidak berasal dari dolok sanggul tapi aku sangat meyukai cerita tentang gereja ini. Horas mauliate.

  8. hendry L G on December 19, 2008 at 4:38 pm

    ini gereja dekat lapangan bola…..kemaren waktu Porkap humbang, hujan deras, saya juga mampir ke laponya amang siagian itu….

    Daniel Harahap:
    Songon na so adong do niida lapangan bola disi. :-)

  9. Hengki Tampubolon on December 19, 2008 at 7:19 pm

    Amang, aku juga Pardosa (Par Dolok Sanggul) loh! Mamaku S. br. Simanjuntak adalah borunya “Par Sanggul Mas 24″. Keluarga Besar Mamaku masih tinggal di Jl. Merdeka dan sekitarnya. Inangtuaku Ny. Manulang br. Simanjuntak membuka warung kopi, teh dan menjual pohul-pohul di Jl. Merdeka, sedangkan Inangudaku Sihombing br. Simanjuntak membuka lapo menjual daging kuda di situ (aku lupa nama jalannya, yang aku ingat, setelah perempatan Jl Merdeka, laponya ke sebelah kanan).Tapi jujur aku katakan, seumur hidupku, baru 2 x aku mengunjungi Dolok Sanggul, pertama waktu aku berumur 6 tahun dan yang ke 2 dan terakhir pada saat aku masih kuliah di Surabaya pada tahun 1992.

    Kalau tidak salahku, apa gereja HKBP Dolok Sanggul itu letaknya di sebelah kiri setelah perempatan Jl. Merdeka itu Amang? Kalau benar, berarti di depan gereja ini dulu aku bermain dorongan gerobak dengan Lae-Laeku waktu masih umur 6 tahun. Waktu itu, aku sempat terjatuh, dan sampai sekarang bekas lukanya masih ada di tangan kananku.

    Waktu aku pulang tahun 1992, aku diajak makan Keluarga Inangudaku di laponya. Aku tidak tahu kalau yang dijualnya daging kuda, aku kira daging B1 atau B2. Pada waktu aku makan, memang terasa agak keras dan badan agak terasa hangat, itu kukatakan ke Inangudaku dan adik-adik disitu. Mereka semua pada senyum-senyum. Setelah aku selesai makan, barulah mereka memberitahukannya ke aku kalau yang aku makan itu daging kuda. Wah pantasan dagingnya agak alot!!! Kalau aku tahu itu daging kuda, mungkin tidak mau aku makan, takut ntar ikut “meringkik”. Ah, ah,ah.

    Terima kasih Amang atas foto-fotonya. Itu jadi mengingatkanku akan kampung halamanku yang sudah lama tidak aku kunjungi. Sekarang aku jadi pingin kembali pulang kesana. Moga-moga tahun depan aku dan keluarga punya waktu untuk berlibur ke Dolok Sanggul.

    Tuhan memberkati kita semua.

  10. John Hutapea on December 19, 2008 at 7:35 pm

    berbahagialah angka dongan par Dolok Sanggul yang gerejanya diulas serta Fotonya masuk ruma metmet ( bisalah sekalian bernyanyi seperti Lagu Panbers “Gereja Tua ” :) ) yang penuh Kenangan.
    .

  11. St.B.Manullang on December 19, 2008 at 7:56 pm

    Kerinduan atas bentuk gereja yang sangat bersahaja dan dentingan suara lonceng gereja. Tepat setiap hari sabtu pukul 18.00 sore lonceng gereja akan berbunyi pertanda kita akan menyambut datangnya hari Minggu. Tepat pukul 06.00 pagi hari Minggu locneg juga akan berbunyi untuk memanggil kita semua untuk mempersiapkan diri untuk memasuki gereja manang marminggu. Saya sangat rindu akan hal itu di tano parserahanon. Andigan pe boi sisongoni Tuhan?

  12. P.Ritonga on December 19, 2008 at 8:55 pm

    Saya juga jadi ingat kampung halaman di Marancar , ingat masa kecil, seluruh jemaat “setelah kebaktian singkat dan marsijalangan Taon Baru tengah malam jam 00:00di gereja” , lonceng gereja kami akan terus menerus berdenting siang malam selama dua atau tiga hari. Secara seperti kejar kejaran kedua lonceng tersebut akan mengeluarkan irama yang enak didengar dan memberi sukacita Tahun Baru telah tiba. Ada lagi yang rada “ganjil” di gereja kami sampai sekarang yang belum pernah kutemukan di gereja manapun yaitu setiap Taon Baru tgl.01 Januari, kebaktian akan dimulai setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya , kenapa yaa ?

  13. S. Marihot Hutahayan on December 19, 2008 at 11:58 pm

    Gereja tua, yang berjarak 200 meteran di belakang rumah tempat saya, dulu, tinggal di jalan Sisingamangaraja Dolok Sanggul adalah bagian dari masa kecil penuh kenangan ‘kehadalan’.

    Dinding gerejanya, teramat sering kami para anak-anak kecil sikkola minggu segmen ‘hadal’ bermain ‘kekok’. Duit logam yang dipantulkan ke dinding gereja, hingga duitnya bergulir dan adu jauh. Sementara di saat yang sama, teman-teman anak sikkola minggu segmen ‘burju’ melantunkan lagu-lagu sikkola minggu, kami marjuji, menghabiskan durung-durung yang diberikan orang tua.

    Saat pulang sekolah, maka plafon atas gereja dan tempat ‘giring-giring’ adalah tempat bermain yang sangat menantang, karena di ketinggian, gelap dan pengap, tapi enak tempat sembunyi dari kejaran teman-teman. Bahkan pernah kami, saking nakalnya, membunyikan giring-giringnya. Kejadian yang mengagetkan dan membuat orang sahuta bertanya-tanya, “apa gerangan yang terjadi?”. Juga asik dan menantang berlari-lari di atas sandaran kursi dari belakang hingga ke depan, bolak-balik berkali-kali. Sekali waktu pernah saya terjatuh, tapi nggak jera-jera juga.

    Sungguh, gereja tua ini membawa teramat banyak kenang-kenangan indah ‘pardosa’. Dan dulu, ketika ada berita bahwa gereja itu akan ‘diganti’ dengan bangunan gereja baru, hati sedih, campur risau. Sedih, karena menyimpan banyak sekali kenangan. Risau, karena gereja yang tambah tua itu memang sudah banyak ‘reotnya’, dan relatif sulit direnovasi. Tetapi keindahan dan luarbiasanya konstruksi kayunya, membuat hati miris. Hingga kini, entah kenapa, saya belum pernah mengikuti kebaktian di gereja yang baru. Gereja yan lama, terlalu lekat dengan masa kanak-kanakku yang memang ‘hadal’, dan berkontribusi ngerusak dinding gereja karena sering ‘markekok’.

    Mauliate godang Amang DTA, telah membidikkan kameranya ke gereja tua di tano hatubuan.

  14. JP Manalu on December 20, 2008 at 8:21 am

    H. Lumban Gaol
    ini gereja dekat lapangan bola…..kemaren waktu Porkap humbang, hujan deras, saya juga mampir ke laponya amang siagian itu….

    Daniel Harahap:
    Songon na so adong do niida lapangan bola disi.

    JP Manalu:
    Mungkin yang dimaksud lae L. Gaol, adalah gereja HKBP yang baru hasil “pemekaran” yang antara lain disebabkan “hamaolon” yang pernah melanda HKBP jadul. Lokasinya persis di pinggir lapangan Merdeka, di sebelah gereja GKPI Dolok Sanggul ; dimana saya dibaptis, sidi dan menerima pemberkatan nikah. Persis di sebelah gereja HKBP yang baru sekarang adalah gedung Sekolah Dasar Negeri 1 Doloksanggul, saya menyelesaikan sekolah di sana. Tapi saat ini gedung sekolah tersebut sudah dikembalikan ke HKBP setelah dipergunakan pemerintah selama bertahun-tahun. Belakangan saya ketahui, ternyata sejak dulu HKBP juga telah membantu pemerintah dalam melakukan pendidikan dasar, contohnya di setahu saya, di Doloksanggul ada 3 gedung SD Negeri yang merupakan gedung pinjaman pemerintah dari HKBP, yakni SDN, 1,2 dan 4.
    Horas.

  15. ny siahaan on December 20, 2008 at 12:42 pm

    Membaca kisah2 yg ada pada greja diatas sayapun ikut merasakan dan seolah2 sy pernah ibadah disana tetapi memang hampir semua greja yg ada di bona pasogit hampir mirip ya.

    Tuhan berbaik hati sama saya bahwa tgl 26 nanti sy akan mudik yg dibiayai oleh tulang sy krn greja kami akan merayakan pesta syukuran 100 thn yang rencananya akan dihadiri oleh ompu i eforus tgl 27 dan tgl 28 ini krn dikampung tinggal ibu sy dan pendeta Harahap meminta rupanya sm tulang tempat transitnya ompu i adalah rmh oppung sy, jadi butuh bantuan paling tidak menyiapkan kopi, ini memang tidak aneh krn oppung doli sy dulunya menyumbangkan /membuat gambar greja tsbt ketika ada renovasi, terakhir sy ke gereja ini ketika oppong boruku meninggal 10 thn yl mudah2an arsitekturnya masih tetap seperti ketika masa remajaku digreja ini,walaupun greja ibu sy sekitar 2km dr greja ini tp krn sejak kls 1 smp sy ikut oppung sy jadi digrejanyalah sy lepas sidi, rasa2nya sdh tdk sabar ingin pulang kampung

  16. Janpieter Siahaan on December 20, 2008 at 5:56 pm

    Kita boleh mengagumi gereja yang penuh sejarah dan kenangan ini. Namun yang lebih penting, bagaimana kita dapat membangun rumah Tuhan dengan kebersamaan dan persaudaraan di Internal kita terlebih kalangan saudara di sekitar kita (eksternal kita).

  17. Hitler P. Sigalingging on December 24, 2008 at 10:40 am

    bangga dan terharu mendengar penuturan rekan2 milis ini…
    terima kasih atas info2nya, walaupun saya bukan ‘asli’ pardosa (par D. Sanggul) tapi sy merasakan bahwa berdirinya gereja ini minimal menyembuhkan sihol atau kerinduan bagi kita angka paranto.. dan yang paling penting adalah gereja menjadi simbol kesatuan di antara kita!

    terlebih ucapan terima kasih khususnya kepada tulang kami A. Simatupang selaku ketua panitia pembangunan HKBP D. Sanggul yang hingga waktu peresmiannya senantiasa memberikan dirinya untuk memikirkan dan menyelesaikan tugas pembangunan yang dipercayakan kepadanya. seingat saya 3 Agustus 2007 sy menikah, dan beliau masih menyempatkan diri datang (dari D. Sanggul ke Jkt) ke pernikahan kami padahal di tengah kesibukan pelayanannya. lalu keesokan paginya harus kembali untuk menyambut rombongan ephorus yang melakukan peresmian tanggal 5 Agustus 2007.
    Tulang…., akan kuingat apa yang telah Tulang perbuat dlm sisi kehidupan kami. memberi diri yang terbaik untuk Tuhan dan sesama.
    Pesan :
    tiada yang sulit berjalan bersamaNya
    tiada yang lebih indah saat melayaniNya
    tiada yang lebih bahagia saat orang lain berbahagia

    teruntuk salam, cinta, dan hormat (tabe) pada tulang sekeluarga

  18. Sinambela on December 31, 2008 at 7:31 pm

    Jadi teringat waktu masih sekolah di SD Neg 2 yang hanya 100 meter sebelah kanan gereja ini. Kami sering bermain di depan gereja itu. Dulu saya sangat mengagumi arsitektur gereja ini. Kalau ngak dipakai lagi karena keberadaan gereja baru, mestinya gereja tua ini harus tetap dirawat.

    Salam buat semua teman-teman yang dulunya bersekolah di SD Neg 2 Doloksanggul.

    Syaloom

  19. JP Simamora on January 2, 2009 at 1:55 am

    Bah… mari kita bentuk punguan PARNADOS disini… di rumametmet.
    PARNADOS (Parsahutaon Nahumaliang Doloksanggul)
    Las roha, jumpang dongan sahuta: ale binsan so marganjang dope hata, ba, Selamat Taon baru 2009 ma jo di hita sude. Horas.
    Ale disamping ni gareja i najolo, dingkan pudi na tahe, inganan parcabutan ni parsikkola hian do i, adong dope marningot, Kode ni Pak Duyung? Lumban Tobing? ha ha ha…
    Mauliate ma di amanta Todung Siagian, pemaparanmunai amang mambahen meluap emosi, masihol tu tikki naujui, tingki tapangke dope gareja i. Ambal ni hata amanta Siagian, ai na dijolo ni tugu Raja Marbulang i do tahe jabumuna? jabunami pas ma disamping ni tugu i, nadijolo ni jabunami i do hamu? (bah Ngarepot! sahuta ndang masibotoan) Mauliate godang ma di amang Pdt.DTA Harahap.

  20. PARTUNGKOAN on January 16, 2009 at 7:18 pm

    Saya juga kagum melihat Gereja tsbt dan bisa merasakan kenangan yang indah seperti yang dirasakan angka dongan ianakkon ni ruas HKBP Pargodungan Doloksanggul, tetapi saya lebih prihatin mendengar bahwa Fungsi Gereja tsbt telah berobah menjadi tempat main Bulu tangkis(marrekket) dengan taruhan duit dan entah dari mana-mana pemainnya berdatangan mayoritas dari luar warga jemaat Gereja tsbt bahkan dari parugamo tetangga pun turut andil dalam permainan tanpa peduli bahwa Gereja tsbt masih berfungsi sebagai tempat kebaktian khususnya anak sekolah minggu setiap hari Minggunya ataupun hari besar Kristen.Sejak kapan Gereja tersebut berobah fungsi jadi multi fungsi (JOKER).Menurut informasi sampai saat ini fungsi Gereja belum berobah dan belum diresmikan menjadi tempat marrekket (bulu tangkis) dengan taruhan uang bebas dengan sampah sampahnya (puntung rokok dengan bungkusnya,bungkus makanan,dan sampah -sampah lain) yang berserakan di dalam Gereja.Mungkin jasa dari Gereja tua tsbt telah habis masa kerjanya dan terlupakan/tidak diindahkan lagi dengan kedatangan berkat yang besar yaitu Gereja baru?Lihat kaca jendelanya yang pecah-pecah,catnya yang sudah kusam,dindingnya yang keropos apalagi atap sengnya yg dekat Salib di atas sudah bolong(persis dibawah seng yang sudah bolong ada 2 buah lonceng besar gereja_+ 700 kg),yang selalu kemasukan air bila turun hujan yang dapat merusak konstruksi Gereja tsbt apalagi tiang loncengnya yang bisa berdampak negatif bagi orang yang ada di dalam Gereja apalagi ANAK SEKOLAH MINGGU YANG MASIH SETIA menghuni Gereja tsbt setiap minggunnya.Barangkali PARHALADO temasuk RUAS ni huria di sana kurang peduli lagi atau tidak pernah melihat/manaili lagi dompak Gereja tua yg jaraknya hanya sktr 3meter dari Gereja baru karena sudah mendapat berkat yang besar yaitu Gereja baru?.Mungkin bagi anak sekolah minggu saat ini tidak akan mendapatkan kenangan SE INDAH yang diceritakan kawan-kawan di atas lagi karna suasana di Gereja tua tsbt sangat jauh berbeda dari pada masa lalu bersih dan nyaman sementara saat ini sangat kotor,susunan kursi-kursi tidak teratur/marserakan(maklum kursi yang biasa di[pakai anak sekolah minggu untuk kebaktian memuji Tuhan harus disingkirkan spy bisa tempat lapangan bulu tangkis dengan taruhan uangnya).Yang menjadi pertanyaan mengapa dibiarkan Gereja tua yang sangat megah tsbt seperti itu keadaannya?Seolah-olah tidak tidak bisa kita rasakan betapa pahitnnya/susahnya bagi tua-tua kita dahulu untuk membangun Gereja tsbt.Bagi yang pernah masuk ke dalam Gereja tsbt pasti terkagum -kagum melihat konstruksinya,arsitekturnya dan hikmatnyadi dalam Gereja tsbt.Memang tida ada yang abadi di Dunia ini termasuk bangunan Gereja tsbt pasti akan punah dimakan usia tetapi sewajarnnya maaf warga Jemaat di sana terutama Parhalado seharusnya menjaga kelestarian /perawatan dari bangunan Gereja tersebut apalagi perhatian yang cukup serius spy FUNGSI GEREJA TUA tsbt dikembalikan sebagaimana fungsinya SEBAGAI GEREJA yang telah banyak menghasilkan buah-buah yang sangat manis(banyak yg sdh berhasil anak dari warga Gereja tsbt kalau bolehjangan hanya mengenang namun turut andil memperhatikan dan melestarikan).Saya yakin apabila Gereja Tua tsbt diperhatikan kembali /dirawat dgn baik dan dikembalikan sebagaimana fungsinya, kenangan-kenangan indah yg dapat MENUMBUH KEMBANGKAN IMAN dan rasa Rindu untuk kembali berdoa di dalamnya pasti akan tumbuh kembali, bahkan burung Gereja yang biasanya bersarang di sana akan kembali menghuni dan….(masih ingat ?)suara burung walet (leang-leang)yang riuh gemuruh beterbangan menghiasi suanana pagi hari lalu menggelantung di sudut menara bawah salib yang selalu ditengadah anak sekolah minggu ke atas sblm masuk Gereja mungkin akan terdengar lagi.Maaf komentar saya ini jadi menyinggung banyak perasaan orang.Maaf majolo ate angka amang,inang, lae dohot pinaribot tarlumobi amanami parhalado.

  21. pardosa on January 21, 2009 at 1:34 am

    agak lucu emang kalau kita lihat pengaluhan fungsi gereja tua ini… sungguh sangat disayangkan kalau rumah Tuhan yang indah ini di telantar kan hanya karna sudah tua dan ada penggantinya…

    jadi teringat, dulu sebelum gereja baru dipakai (bangunannya sudah jadi, tapi belum dipakai), gedung baru itu digunakan untuk gedung pesta pernikahan… dan kini, setelah gedung baru diaktifkan, gedung lama dialihfungsikan lagi… pengalihan yang aneh… hehehe.. :D

    Mauliate tu Amg Uda Pdt. DTA Harahap

    Harry P. Pasaribu
    http://www.pardosa.co.cc
    http://www.gerbanghumbang.com

  22. riris on February 20, 2009 at 12:19 am

    H. Lumban Gaol:
    ini gereja dekat lapangan bola…..kemaren waktu Porkap humbang, hujan deras, saya juga mampir ke laponya amang siagian itu….

    Daniel Harahap:
    Songon na so adong do niida lapangan bola disi.

    Riris:
    Rasanya ga ada lapo siagian di doloksanggul

    Daniel Harahap:
    Yang bisa saya pastikan ada di Jalan Pramuka dan Senayan Jakarta. :-)

  23. Marlina Panggabean on February 20, 2009 at 9:05 am

    Saya sering sekali pulang ke Dolok Sanggul, tahun baru 2009 saya disana tapi sayang saya belum pernah kebaktian di gereja HKBP Dolok Sanggul. Karena suami dan anak2 saya umat Katolik hanya saya saja yang umat HKBP. Jadi saya ikut dengan mereka kebaktian di Gereja Katolik Dolok Sanggul.

  24. MULIADY SILABAN on February 26, 2009 at 11:08 pm

    Horas ma dihita sude pardolok sanggul, mauliate ma amang parjolo….nga dibahen hamu be gambar ni gareja i,gabe sombu siholhu amang. mauliate ma dihamu.

  25. Cengkok nainggolan on February 27, 2009 at 12:54 pm

    Uli nai gambar ni gareja i,gabe sombu sihol tu dolok sanggul,mauliate madihamu amang ala nga disangahon hamu tikkimuna na mambaen gombar ni gareja on.s ai dilehon tuhanta ma ganjang ni umur dihamu, horas jala gabe. cengkot nainggolan p baru,sp_niba jl riau ujung

    daniel harahap:
    mauliate ma di tangiangmuna. :-)

  26. dhanie on May 12, 2009 at 1:40 am

    makasih ya amang….!!maksihhhhhhhhhhhhhhh………………….!!

  27. Norman Sihite on July 11, 2009 at 10:22 am

    air mata saya menetes sewaktu melihat poto gereja tersebut.
    bnyak kenangan yang tinggal dalam pikiran dan hati saya baik pada saya sendiri, orang tua, saudara, teman dan masyarakat dolok sanggul.
    Yaaaa,……… saya sudah sangat akrab dengan namanya Pargodungan. Mulai dari kecil saya sering bermaiin disana, bahkan sampai sudut2 Gereja tersbut sudah hampir semua saya jalani, ya namanya juga anak2 sering Mar Prancis/ petak umpet, tempat sembunyi paling aman ada disana.
    Kalau marliturgi, acara mangan2 dilakukan di halaman iGereja.
    MAin bola juga, nangkap ikan di kolam HKBP, yahh masih byak lagi.
    Karena saya anak Dlok Sanggul dan Umat Kristen,
    PESAN SAYA, TOLONG GEREJA TERSEBUT TETAP DIPELIHARA, KALAU KITA LIHAT DI BALIGE, GEREJA TUA BUATAN BELANDA TETAP DIPERTAHANKAN SEBAGAI GEREJA.
    Sekarang warga Dolok sanggul sudah majemuk dengan datangnya para pendatang, mudah mudahan saudara2 ku tetap bersatu dalam kasih TUhan Yesus Kristus, dan jangan sempat menjadi warga pribumi yang terpinggir.
    HORAS………! TUHAN MEMBERKATI KITA
    Semarang, 11 07 09

  28. jabaranes samosir on July 18, 2009 at 1:35 pm

    Horas semuanya,wah masih ada berdiri gerja yang terbuat dari kayu,buat semua warga dolok sanggul yang masih tinggal di sana jaga dan rawatla peninggalan nenek moyang kita itu,saya sebagai orang tipang bangga juga bahwa di daerah humbas masih ada berdiri gereja kayu.

  29. SARTUA PASARIBU on August 18, 2009 at 10:21 am

    DOLOKSANGGUL……….HUTA HATUBUAN……..HUTA HASONANGAN…..
    SAI TUHO DO ROHANGKU………..HUTAMAS

  30. SARTUA PASARIBU on August 18, 2009 at 10:31 am

    mauliate ma di hamu sude angka namarningot hutta doloksanggul nauli…….sai anggiatma adong waktuta marsada lao paturehon doloksanggul……..

  31. pinta tobing on October 11, 2009 at 11:19 am

    memang grj qt sdh tua, bkn b’arti hrs diabaikan. yg saya tau. gereja qt tdk terawat lg. saya mohon kpd huria yg msh di huta utk merawat dan menjaga gereja qt dgn baik . tidak baik gereja sbgai sarana olah raga. di mohon utk huria , jgn lah main bulu tangkis di gereje, jgn menyimpan barang2 lama di gereja. maaf tp memang hrs saya ungkap kan , kalo gereja qt skrg sdh seperti gudang. jd rawat lah gereja qt, gereja qt seperti harta dolok sanggul yg sgt beharga. GBU

  32. J. Munthe on October 29, 2009 at 3:06 pm

    Terimakasih atas semua tanggapan yg ada. Tetapi yg paling penting adalah bagaimana kita anak par dolok sanggul bisa mewujudkan apa yg akan kita kehendaki ttg gereja itu. Misalnya apabila gereja itu pengen di perbaiki atau di renovasi supaya tetap berdiri megah akan lebih bagus dan mulia kalau pangaranto dari dolok sanggul ikut urunan utk membiaya i………

  33. Resmawati Simamora on March 2, 2010 at 4:08 pm

    maaf saya saya baru bisa baca rumah metmet karena ada kesibukan sedikit, saya ucapkan terimakasih kepada Amang Pendeta Harahap telah meluang waktunya untuk mendokumentasikan gereja ini, tapi kenapa aman tidak ambil 1 x dari bagian dalamnya dan mudahanx amang bisa mampir lagi ke dosa dan bisa ke pagarannya di saitnihuta/Aeklung disitulah gereja kami. dan semua yang memberikan tanggapan tentang gereja tua yang ada di dosa ini, kalaupun saya cuman 2 x natal waktu sekolah kelas 5, 6 sd, memang kalaupun bukan disitu saya gereja tapi yang menyentuh hati dan teringat masih dulu, jadi pingin pulang ke dosa/Aeklung. terimakasih kepada semua baca mailis ini. Tuha Berkati. Amin

  34. Ir. Jonny MS on March 31, 2010 at 6:44 pm

    Horas,

    Molo tabereng do gedung gareja na lama on, sihol do roha naeng marminggu tusi. Alai nuaeng dang dipangke be sebagai tempat kebaktian, jala palas-palas na di jolo i nunga asing be bentukna. Hape songon gareja lama on do nian sitiruon sian luar biasa-biasa do (sederhana) hape dung dibagasan iba luar biasa bentukna dohot artistikna, laos ido harapan tu hita parDOSA on, ingkon ummuli dibagasan unang diluar.

  35. Manullang on May 24, 2010 at 9:24 pm

    Tarsonggot au dung huida gombar ni gareja i adong di blog on. Tung mansai godang najolo kenangan naso tarlupahon sian gareja on. Hu ingot tikki dakdanak Sikkola Minggu …… ah tahe boha ma dakdanak, marlojong sian jolo jolo lao tu pudi holan unang mardurung-durung, dung tu pudi Guru SM lao muse iba tu jolo, molo tardapot iba, jolo ni jalo ulakna asa ni lean durung-durung… Hee…Hee…. Marbola disapping ni gareja, ni sampathon logam tu dinding batu dungi margiling-giling logam i binereng burung manang angka, gabe tarsunggul sude angka na masa najolo, molo haluar gareja marlojong manuhor possal dohot godok-godok…… ah tahe dang tarlupahon i sude.
    Mauliate godang amang di tikki muna, jonok tu si do jabutta, sai ni lewatan do lao sikkola SD 2 (najolo) dohot lao tu SMA Doloksanggal.
    Horas …………..

  36. dirjon pultra simanullang on July 11, 2010 at 3:46 pm

    Mauliate ma amang pandita, naung mengabadikan gambar gareja hkbp Doloksanggul i. Sai Tuhanta ma na mamasu-masu na niulamuna i, anggiat tarjou hami par-doloksanggul na di parserahan laho padengganhon gareja/materialitas i tarlumobi jolmana/spritualitas.
    Songon ahu sandiri gareja i dang tarlupahon apalagi masa sikola minggu, nangpe salpu gedung i alai angka gareja na di parserahan tamba do angka na baru. Mauliatema sai lam tamba ma angka holong ni roha di portibi on.

  37. john b.purba says on August 26, 2010 at 10:58 am

    Horas ma dihamu amang pandita,namasangahon tingkimu lao mamotret gareja HKBP Dolok sanggul natung mansai uli,gabe tamba sihol nami naeng mulak tu Bona pasogit laho mamereng hutai,ahu sandiri tubu balga singkola sampe tamat ,baru pe asa ro tutano parserahanon jadi dang tarlupahan yanggo bona posogitdo,apalagi nungaeng nungnga gabe Kabupaten mauliate ma di TUHANTA YESUS KRISTUS naung mangalean hamajuon di doloksanggul sai anggiat ma lam sada roha dohot pingkiran sude masyarakat laho pamajuhon daerah HUMBAHAS.

  38. angel aza on September 6, 2010 at 4:15 pm

    cantikx gereja HKBP di kampung,,,, tempat martangiang bpna pasogit!!! aq n sekeluarga bareng blm pernah nengok u ruma met-met. :) .

  39. angel aza on September 9, 2010 at 3:08 am

    Kangen sekeluarga pulang kampung liat grja tua HKBP dolok sanggul…

  40. jones silitonga on October 3, 2010 at 9:36 pm

    syalom.

    luarbiasa,Gerejatua kita berbicara karena begitu aku melihat gereja itu aku termenung dan tanpa sadar air mata pun menetes dan gereja itu berkata engkau masih ingat aku bukan ?
    Medio Agustus 1969 aku dan keluarga hijrah dari kampung kita Doloksanggul ke Jakarta…. karena situasi dan kondisi aku baru bisa pulang kampung pada tahun 1986 dan ber gereja di gereja ini.
    Benar sungguh indah dan sangat terkesan kala itu dimana musik tiup masih digunakan untuk mengiringi kebaktian yang mana alat seperti itu tidak pernah ku temukan di ibukota ini. Saat aku anak2 masih ku ingat dikmpung kita belum ada aliran listrik seperti sekarang, jadi setiap hari Natal yang jadi sumber penerangan digereja adalah Mesin Las milik bengkel amang Sihombing ( maaf saya sebutkan namanya kalau tak salah Bersan Sihombing yang alamatnya di jln. Merdeka depan gereja katolik yang membawa mesin itu ke gereja ). Terimakasih buat amang yang telah berbuat sesuatu untuk gerejkita dan masih ada orang yang mengingat itu dan sampai saat ini aku selalu ingat itu amang. Kini tahun 2010, kulihat gambar gereja ku itu dan mengajak aku untuk datang melihatnya. Jujur aku katakan saudara memang masih ada disana, namun kerinduan ini untuk ingin pulang adalah karena aku melihat gambar gereja tadi. Akankah itu bisa kuwujudkan , mohon sahabat2 doakan .Karena disatu sisi aku rasanya jadi seperti pendatang disana karena tak ada lagi kurasa yang mengenal aku disana, bahkan sudaraku pun mungkin merasa asing melihatku. Teman sekolah dulupun mungkin sudah lupa atau entah dimana. yang pasti aku ingat temanku sekelas dulu, kelas tiga SD 01 di Dolaksanggul ima Sigaharum Samasir (almarhum), Donna Hutahayan yang punya toko, Lasmi Samosir yang anak Toke, Robert Harianja. Hanya itu yang masih kuingat. Mudah2an mereka ada ingat ingat aku.

  41. fernando nainggolan on November 17, 2010 at 7:20 pm

    Oh My God !!!!!!!
    Hari Gene masih ada Gerja Kayu….
    Cape Dech…??!!?

  42. manullang on August 28, 2011 at 9:00 pm

    GEREJA TUA ,jadi ingat waktu kecil gereja ini dibangun sewaktu kami masih tinggal disebelah gereja ini dan beberapa tahun kemudian pernah kami ambil burung layang layang dipalas palas dekat lonceng gereja lonceng dibunyikan untuk memanggil parari kamis kami ketakutan sambil menutup kuping kuat kuat dll sudah lupa

  43. brinton on January 16, 2012 at 4:41 pm

    Gereja yang indah..
    Pengen aku pulang ke Doloksanggul gereja ke situ
    Rindu berat

  44. noin on August 17, 2012 at 1:22 am

    DIMANAKAH SAYA BISA MEMBELI TUBA DARI GERMAN ITU ?

    SAYA BISA MEMAINKAN TUBA.

  45. Herlina Sitompul on December 10, 2012 at 6:47 am

    Tanggal 18 Oktober sd 21 oktober 2012, saya rencana menemani Bos dan Istrinya jalan jalan ke Medan. (maklumlah saya orang Medan, dikira bos ku saya bisa jadi guide, boro boro jadi guide, lah saya ini walau orang medan, lahir besar di kalimantan,gimana mau jadi Guide? ha ha ha). Berhubung istri bos pulang ke kampungnya di vietnam, dia digantikan oleh salah satu staf kantor. Jadi kami berangkat bertiga ke Medan. Bingung juga mau kemana? saya ingat ada ito di medan saya telp, tapi gak bisa nyambung. Ssya hub teman yang di pakkat (dolok sanggul?), dia welcome kedatangan saya dan 2 orang lainnya. Terimakasih untuk teman tsb. di tgl 18 Oktober itu Dia masak yang “tabo tabo” tapi sayangnya kami gak jadi kesana. Karena mnenurut temanku yang ikut bersama kami, yang rumahnya di Makati (dolok Sanggul), Pakkat itu jauh sekali dna itu lewat kampungnya yang di makati. Jadi Bos ku gak mau. sayang ya , saya baru baca tentang gereja tua di dolok sanggul, kalau tidak tentu saya pastikan kami kesana. Saya ingat di tahun 1983, saya ke gereja di pahae julu, ya gereja sederhana,m tapi khidmat sekali rasanya, damai sekali. Apakah karena suasana kampung yang penuh dengan padi menghijau? Lain kali saya pastikan mau mengunjungi temanku yang di Pakkat dan mampir ke dolok sanggul untuk melihat gereja tsb dna ikut beribadah bersama “saudaranta” yang ada disana.
    Perjalanan kmai ke Medan cukup menyenangkan juga. Kami akhirnya puutskan ke parapat dengan mnenumpang taksi paradep, dan kami sempat lewat siantar , kenalan dengan “Roti Ganda” yang terkenal itu, (konon kabarnya Roti Ganda ini masuk berita di TV), akhirnya kami nyebrang ke Tomok dan mmenginap disana. keesokan harinya kami nyebrang lagi ke parapat dan menginap semalam, melihat lihat pemandangan danau toba dan keliling kota Parapat. Besok paginya kami berangkat lagi ke tomok, melanjutkan perjalanan ke Hot Spring di Pangururan. Dari sama kami pulang ke Medan, melewati tele, dan menginap di medan 1 malam. Besok paginya, kami jalan jalan ke pasar Sambu untuk beli ulos buat mnama tercinta. dan puji Tuhan, ito yang tinggal di medan dan susah dihub telpnya, akhirnya nyambung juga, dan siang harinya sepulang gereja, si ito menyempatkan jemput kami dan membawa kami makan di Rumah makan Natabo di jalan Kol Sugiono. memang makanan nya benar Tabo sesuai nama Rumah Makan nya. Setelah makan, ito masih menemani untuk ke pasar Petisa untuk membeli buah markisah(karena saya tidak kenal buah markisa yang untuk di jus) dan selanjutnya kami masih sempatkan makan durian, barulah kami diantar ke Bandara polonia, untuk balik ke Jakarta. Terimakasih juga buat Ito yang sudah menyempatkan mengantar kami ke beberapa tempat. Pengalaman perjalanan ke Medan kali ini cukup menyenangkan, karena saya jadi tahu , walau hanya sedikit saja, Sumatera Utara (paaling ngak paham sedikit tentang pulo samosir), dan saya kenalan satu bapak Marga Sinaga yang tinggal di “Tio Bulan”. katanya kampungnya jauh sekali, dari pangururan harus nyebrang dan naik mobil lagi. mudah mudahan ada waktu saya akan kunjungi keluarga Bapak tsb.

    Salam

    Lina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*