“BORHAT MA DAINANG” & REALITA PERKAWINAN BATAK MASA SEKARANG

December 11, 2008
By

copy-of-dsc_0190.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap 

Borhat ma dainang! Pergilah kau, hai putriku! Momen itu terasa sangat sedih, berisak dan berair mata, dan mungkin karena itu jugalah selalu diam-diam dinanti-nantikan di setiap pesta perkawinan batak. Yaitu saat-saat orangtua pengantin perempuan akan menyelimutkan ulos membungkus tubuh menantu dan putrinya, dan seorang penyanyi batak dengan lengkingan suaranya mengiris-iris hati hadirin:

Borhat ma dainang
Tubuan laklak ho inang tubuan sikkoru
Borhat ma dainang
Tubuan anak ho inang tubuan boru
Horas ma dainang
Rongkapmu, helanghi, donganmu sari matua
Horas ma dainang
Di tongan dalan nang dung sahat ho di huta


Reff:
Unang pola tangis ho, ai tibu do ahu ro
Sirang pe ahu sian ho, tondingki gumonggom ho

Mengkel ma dainang
Sai unang tangis ho inang martutungkian
Ingot martangiang
Asa horas hamu na laho nang hami na tinggal

Terjemahan bebas:

Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan kulit kayu melahirkan jali-jali
Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan anak laki-laki melahirkan anak perempuan
Selamat sejahteralah, kau hai putriku
Jodohmu, menantuku, temanmu bahagia lengkap
Selamatlah, kau putriku
Di tengah jalan dan nanti setelah sampai di kampungmu


Reff:
Tidak usahlah kau menangis, sebab aku akan cepat tiba
Walaupun aku berpisah denganmu, rohku memelukmu.

Tertawalah kau putriku
Janganlah kau menangis sampai merunduk
Ingatlah berdoa
Supaya selamat kalian yang pergi dan kami yang tinggal.

Mungkin dalam komunitas Batak, kesedihan yang berhasil ditimbulkan saat penyampaian ulos (selimut tradisional batak) kepada sang pengantin hanya bisa dikalahkan oleh ritus penyampaian ulos tujung atau kain tudung di peristiwa kematian. Yaitu ulos bernama sibolang dan berwarna biru gelap yang ditudungkan ke kepala seorang yang kematian suami atau istri sebagai tanda resmi menjadi janda/ dua. (Catatan: jaman dahulu di beberapa daerah raja-raja yang selalu punya istri lebih dari satu menolak menerima ulos tujung). Namun jika ulos pengantin diiringi lengkingan menyayat lagu Borhat ma Dainang, maka penyampaian ulos tujung disambut spontan lolongan tangis si janda dan kerabatnya. Tingkat kesedihannya mirip juga dengan ritus perpisahan di pelabuhan Belawan atau Tanjung Priuk saat KM Koan Maru atau Tampomas hendak berlayar. Sebab itu di pesta perkawinan, bukan hanya si ayah atau si ibu pengantin saja berlinangan air mata, tetapi juga semua kerabat dan undangan, bahkan raja-raja parhata yang dua kali seminggu menghadiri peristiwa serupa dengan suguhan menu khusus bir, acapkali juga tidak bisa menahan matanya agar tidak berkaca-kaca. Mengapa bisa?

Menurut penulis mungkin lagu Borhat ma Dainang ini di bawah sadar mengingatkan komunitas Batak kepada masa lalu kaum atau puak-nya dimana pesta perkawinan, terutama dari perspektif perempuan, seringkali sulit dibedakan sebagai puncak kebahagiaan atau justru awal kesengsaraan. Di masa lalu perkawinan bukanlah pilihan tetapi kewajiban. Pasangan hidup juga bukan pilihan pribadi yang bebas, diseleksi lewat masa berpacaran yang indah, tetapi seringkali ketetapan orangtua atau “nasib” yang tidak terelakkan. Jaman itu seorang perempuan yang kawin atau menikah biasanya harus pergi meninggalkan rumah dan kampung marga orangtuanya untuk selanjutnya tinggal di kampung marga suaminya yang jauh dibalik gunung-gunung, dimana sering tak seorang pun dikenal-mengenalnya di sana. Sementara itu penghargaan kepada perempuan sangatlah rendah. Perempuan masih dianggap sebagai objek, manusia kelas dua, alat dan mesin serba guna (pengelola rumah tangga, penerus keturunan, pekerja ladang dan pemuas nafsu seks). Dia mudah sekali menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri dan oleh suaminya sendiri dan dengan alasan tertentu bisa diceraikan atau dikembalikan (dipaulak) ke rumah orangtuanya sebagai janda. Sebab itu perkawinan logis sekali jika dihayati sebagai
kehilangan rasa aman dan nyaman. (Perlu perjuangan berat kelak untuk
mendapatkan kembali rasa aman itu.) Dalam konteks di atas tentu saja pesta perkawinan (bagi perempuan) adalah momen kesedihan atau “takdir” (bagian, jambar, turpuk) yang tidak bisa ditolak.

Adat Batak dari dulu-dulu sampai sekarang menganggap perkawinan adalah perundingan dua marga sehubungan dengan serah-terima seorang perempuan dari marga ayahnya kepada marga suaminya. Sentrum atau pusat pesta adat pernikahan sebab itu bukanlah pengantin tetapi para laki-laki mewakili dua marga yang duduk berhadap-hadapan melakukan perundingan itu, merekalah yang sekarang kerap disebut raja parhata. (Jaman dahulu pengantin disembunyikan dalam rumah ditemani kawan-kawannya jauh dari orang banyak, sementara sekarang dipajang di panggung). Walaupun banyak puak Batak mengingkarinya, namun sulit ditampik bahwa perundingan itu mirip dengan transaksi jual-beli dengan tawar-menawar harga di sana-sini. Istilah-istilah kunci dalam perundingan perkawinan itu adalah gadis (jual), tuhor (beli, harga), pangoli (pembeli), nanioli (yang dibeli), sinamot (pendapatan), upa tulang (komisi paman). Istilah-istilah itu masih dipertahankan sampai sekarang dan pengamatan penulis kayaknya juga belum mengalami perubahan makna secara signifikan.

Mengingat semua hal di atas wajarlah kalau jaman dahulu di kampung, si pengantin perempuan menangis, terutama saat dia diantar oleh kawan-kawan gadisnya ke batas kampung meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke dunia asing yang tak terperi. (Dulu konon di kawasan Angkola ada tradisi pengantin perempuan yang baru menikah akan menyanyikan lagu andung-andung atau ratapan saat hendak pergi meninggalkan kampungnya, yang isi pantunnya seakan-akan menyesali ibunya yang “tega” menjualnya demi mendapatkan uang mahar atau sinamot).

***
Dengan hormat tulus kepada pencipta lagu “Borhat ma Dainang” (saya yakin sang pencipta bukan saja tidak pernah menerima royalti atas lagunya tetapi bahkan tidak dikenal oleh masyarakat Batak, sebab materialisme membuat orang Batak lebih menghargai ciptaan dari sang pencipta), saya mengatakan lagu itu bagus. Kata-kata dan iramanya yang pedih bisa membuat air mata ini bercucuran. Sebab itu yang hendak saya pertanyakan hanyalah masalah penggunaan lagu tersebut di even pesta perkawinan atau pernikahan batak abad ke-21 – ketika dunia termasuk yang didiami komunitas Batak sudah berubah secara total dan mendasar. Konkretnya: apakah lagu andung (ratapan) yang merujuk ke praktek perkawinan di masa lalu itu cocok atau pas dipakai mengiringi pemberian ulos tanda doa dan restu orangtua kepada pengantin batak moderen?

Mayoritas orang Batak sudah tinggal di kota-kota besar. Berbeda dengan kampung-kampung tradisional Batak (dimana tanah identik dengan marga), kota adalah tempat tinggal bersama. Sebagian besar pengantin perempuan setelah menikah masih tinggal sekota, sekecamatan, atau se-real estate dengan orangtuanya. Juga masih segereja. Teknologi komunikasi maju membuat pengantin dan orangtuanya masih bisa telpon-telponan dan sms-sms-an tiap jam. Lantas kenapa masih menyanyikan: Borhat ma dainang? Yang lebih lucu jika pengantin setelah menikah ternyata malah tinggal menumpang di rumah orangtua si perempuan. (Bercanda, harusnya yang dinyanyikan: Hatop ma borhat daamang!) Lantas bagaimana pula kita harus memaknai lagu Borhat ma Dainang di pesta pernikahan jika faktanya (banyak) si anak perempuan bertahun-tahun sebelum menikah memang sudah “pergi merantau” dan hidup mandiri di kota-kota? Di sinilah kembali kita menemukan bahwa komunitas Batak memang sering kali tidak melihat situasi dan kondisi dan cenderung hanya mengikut mengekor saja kepada apa yang dianggap biasa atau lazim, apalagi diberi label “adat”.

Namun ada lagi menurut saya persoalan lebih serius. Lagu Borhat ma Dainang, baik kata-kata maupun iramanya sangat muram. Pertanyaan saya: mengapa di sebuah even yang seharusnya penuh sukacita dan tawa bahagia – apalagi di saat khusus orangtua pengantin hendak menyampaikan ulos tanda doa restunya mengapa banyak orang justru sengaja memilih lagu yang sangat pilu itu sehingga menjadikannya drama menguras air mata? Seorang teman mengatakan lagu itu pas sekali dengan suasana hati si orangtua pengantin perempuan yang sebenarnya berat dan hampir tidak ikhlas melepaskan putrinya. Mungkin tanpa membaca teks lagu, seorang teman lagi mengatakan lagu Borhat ma Dainang mengekspresikan rasa haru bercampur bahagia si orangtua yang merasa telah berhasil mengantar putrinya kepada kedewasaan penuh (ingat: orang batak masih menganggap pernikahan adalah ukuran kedewasaan!). Sebagai seorang ayah yang juga memiliki anak perempuan saya tidak menyangkal perasaan-perasaan bahagia bercampur-aduk haru, harap dan cemas dari orangtua si pengantin perempuan. Namun bagaimana pun juga perkawinan adalah momen bahagia dan gembira. Orangtua yang arif dan penuh cinta pastilah (di tengah perasaan sunyi hatinya yang terdalam sekali pun) akan tetap berjuang mendukung kebahagiaan putrinya bersanding dengan orang yang dicintai-mencintainya. Tapi alih-alih berusaha tegar dan ikhlas agar tidak merusak momen paling berbahagia dari pengantin, banyak orangtua batak justru terisak-isak dan karena itu mendorong putrinya menangis terisak-isak juga. Ada apa gerangan dibalik semua ini? Apakah di lubuk hatinya si orangtua tidak yakin putrinya sedang dan akan bahagia bersama pilihannya sendiri? Apakah komunitas ini sedang meramal (martondung) bahwa perkawinan ini pun akan dipenuhi air mata kelak, seperti banyak perkawinan-perkawinan sebelumnya? Dao ma na so tama. Jauhlah celaka! Pertanyaan ini terpaksa terlontar karena sebagai pendeta di gereja batak saya cukup banyak melihat perkawinan dan rumah tangga batak-kristen yang bermasalah dan tidak bahagia. Sebagian diantaranya diakibatkan karena orang Batak hanya sibuk mempersiapkan pesta dan bukan rumah tangga sesudah pesta itu usai.

Dalam kelana permenungan yang semakin jauh, tiba-tiba terbersit dalam pikiran saya: jangan-jangan konsepsi perkawinan batak belum ada yang berubah walaupun jaman sudah maju. Jangan-jangan orang Batak walau pun Kristen dan moderen – dalam hal menghayati perkawinan dan hubungan laki-laki-perempuan – masih sama saja dengan ompung moyangnya sebelum Belanda masuk dengan pameo khas “holan inang do na so boi tuhoron, anggo inang-inang boi do tuhoron” (hanya ibu kandung yang tidak bisa dibeli, istri/gundik bisa dibeli). Seandainya, semoga saja tidak, itu yang terjadi memang pantaslah kita menyanyikan andung-andung atau kidung ratap di pesta perkawinan batak masa kini. Sebagian untuk meratapi nasib perempuan batak yang tidak kunjung membaik dan sebagian meratapi ketidakmampuan gereja membaharui konsepsi adat batak tentang perkawinan dan kegagalan gereja mempersiapkan warganya membangun rumah tangga bahagia. (catatan: di gereja batak sampai kini tidak ada katekisasi pernikahan, dan itu juga salah satu sumber celaka itu. Jika ada itu hanya inisiatif pribadi si pendeta!)

***

Dalam Alkitab, yang semoga sungguh-sungguh menjadi Kitab Suci orang Batak Kristen, lembaga perkawinan telah dikuduskan dan diangkat menjadi lambang kasih dan kesetiaan Tuhan dengan umatNya. Yesus sendiri secara radikal menolak perkawinan sebagai transaksi properti, sebaliknya Dia menjadikan perkawinan sebagai persekutuan dua pribadi yang setara dan saling mencintai sampai mati. (Sebab itu bagi Yesus perzinahan bukan lagi sama dengan pencurian/ kehilangan properti tetapi pelanggaran komitmen pribadi). Dalam perkawinan kristiani yang pertama dan terutama bukan lagi perundingan keluarga atau marga, tetapi ketetapan hati kedua pribadi untuk bersama-sama bahagia yang diikat dalam suatu perjanjian kudus di hadapan Allah dan jemaat. Sebab itu adat dan perjamuan resepsi yang dilakukan seharusnya ditujukan melengkapi dan memperkaya sukacita dan kebahagiaan kedua pengantin, bukan untuk mementahkan kembali perjanjian kawin atau nikah kudus mereka dan membuat semua orang bersedih tak jelas.

Kembali ke lagu “Borhat ma dainang” dalam pesta perkawinan, saya ingin mengutip Matius 19:5 dimana Tuhan bersabda “laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging”. Ini aneh atau luar biasa! Sebab jika orang banyak termasuk Batak mengatakan perempuanlah yang meninggalkan ayah ibunya maka Yesus justru mengatakan laki-laki yang harus meninggalkan rumah ayahnya agar dapat bersatu dengan istrinya dalam “satu daging”. Kata satu daging sebab itu menunjuk kepada persekutuan yang sempurna intim, otonom, tunggal dan final. Itu artinya jika kita masih mau mempertahankan perkawinan (= pernikahan) sebagai suatu kepergian atau keberangkatan maka harus diartikan dua pihak. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama harus keluar dari masa lalunya dan membentuk rumah tangga baru yang bahagia. Pada akhirnya: lantas lagu, amanat dan doa apakah yang paling cocok untuk mendukung sepasang keluarga muda yang hendak membangun rumah tangga bahagia selamanya?

Horas

 

Pdt Daniel T.A. Harahap

(seorang pendeta hkbp yang sepanjang tahun ini banyak menerima pengaduan terjadinya kekerasan domestik dan kegoncangan rumah tangga muda kristen-batak-kota)

Kembali ke halaman depan:

 

Share on Facebook

Tags: , , ,

43 Responses to “BORHAT MA DAINANG” & REALITA PERKAWINAN BATAK MASA SEKARANG

  1. Obeth on September 15, 2007 at 8:14 am

    Horas..Amanguda!
    ————————————————————————————
    Kalo menurut saya, sebetulnya tidak ada kesedihan dalam acara pernikahan orang Batak. Kalaupun ada perasaan yg “agak mendekati kesedihan” yaitu perasaan “keharuan”.

    Secara psikologis, rasa haru ini sah sah saja muncul, baik bagi orangtua maupun putrinya. Sebelum pernikahan tsb, orangtua dan sang putri selama ini telah menjalani kebersamaan sebagai suatu keluarga, yaitu sbg orangtua dan sbg anak. Kebersamaan disini tidak harus dalam arti secara physik, misal : dlm 1 rumah, 1 kecamatan atau 1 kota, tapi lebih merujuk pada aspek psikologis, sbg ayah+ibu dan anak, sbg pemberi dan penerima kasih sayang. Dlm kebersamaan sbg keluarga tsb banyak sukacita & duka cita yg tlh dijalani bersama. Dan scr psikologis,baik sbg ortu maupun sbg anak, kini hal itu semua adlh kenangan indah. Dan kini scr kenyataannya, bhw mereka “hrs berpisah” dimana sang putri hrs meninggalkan keluarga yg dicintainya dan mengikuti sang suami yg jg dicintainya utk membentuk suatu keluarga baru. Pengertian “berpisah” disinipun bkn dlm arti harafiah atau berpisah scr physik atau geografis letak rumah/kota/negara. “Berpisah” disini jg tetap dlm makna psikologis.
    —————————————– cut —————————————–

    Mengenai lagu ”Borhatma Dainang” sendiri ? Bagi saya itu masalah sekunder. Bahkan kalo ada org Batak yg bisa menciptakan lagu2 utk pernikahan yg bernada riang penuh sukacita, bagi saya samasekali tdk masalah koq utk dinyanyikan dlm pernikahan adat Batak. Malah timbul pikiran iseng saya, sblm lagu ”Borhatma Dainang” ini diciptakan, lagu apa sih yg dinyanyikan pd pesta adat Batak saat ”pasahat ulos penganten” ?? Terus, lagunya lbh sedih, lbh riang atau malah tidak diiringi lagu sama sekali ? Apapun lagunya ketika itu (lbh sedih atau lbh gembira atau malah tidak ada lagunya), ternyata nggak masalah khan ? Pernikahan ttp berjalan dan bermakna penuh sukacita khan ? Dan yg paling penting, menurut saya, kehidupan pasca pesta adat pernikahan tdk terpengaruh atau tdk ditentukan oleh lengkingan menyayat dari lagu ”Borhatma Dainang”. Gak percaya ? Mari kita tanya orgtua atau ompung ompung kita dulu..huehehe… Sorry..ya..Amanguda…ini cuma pendapat pribadi saya lhoo….peaceeeeee !! huehehehe..
    Horas..Horass..Horrasssss…!!

  2. daniel harahap on September 16, 2007 at 12:27 am

    pro obeth:
    (1) sudah memeriksa syair lagu itu, dan menurut obeth apakah syairnya cocok dengan pernikahan kristen-batak-moderen? :-)
    2) sudah pernah tanya kepada para ompung boru bagaimana kehidupan pernikahan batak jaman dulu? kalau belum tanya ya? :-)

  3. Bisner on September 16, 2007 at 10:00 pm

    benar juga tuh pak pendeta,Mungkin kalau aku menikah nanti lagu borhat ma da inang enngak usah lagi lah di nyanyikan, tapi pak pendeta, terlepas dari syairnya tepat atau tidak lagu ini bagus untuk memancing rasa haru orang – orang di sekitar, sehingga membuat proses pelepasan itu menjadi lebih terkenang,

  4. daniel harahap on September 16, 2007 at 10:33 pm

    kenapa harus memancing haru apalagi isak di hari bahagia? :-)

  5. Julius on September 17, 2007 at 1:56 am

    Wah, jadi bingung mau ngomentari tulisan pak pendeta yang satu ini, tapi saya pribadi setuju dengan pak pendeta, menurut saya adat batak itu di buat jaman dahulu untuk kebutuhan orang-orang batak jaman dahulu. Saya juga heran kenapa sekarang adat itu masih dijalankan, karena menurut saya sudah tidak pas dengan jaman sekarang, atau mungkin kita orang batak ini takut atau malu dikatakan tidak beradat ?.
    Saya ingin bertanya pada pak pendeta, menurut pak pendeta apa tidak salah dalam setiap pesta batak [mulai pernikahan sampai kematian] selalu dilaksanakan dua acara yang jelas sangat bertolak belakang, yaitu acara adat dan acara gereja ?
    Terimakasih sebelumnya
    Tuhan memberkati !

  6. DeaSyEsther on September 17, 2007 at 2:03 am

    (seorang pendeta hkbp yang sepanjang tahun ini banyak menerima pengaduan terjadinya kekerasan domestik dan kegoncangan rumah tangga muda kristen-batak-kota)

    aku lebih concern di kalimat terakhir ini..
    secara…orang2 Batak (terutama orang tua Batak) selalu mengagung2kan bahwa hanya pada pria Batak lah anak gadisnya akan aman2 aja.
    padahal hari gini, semua pria dari kalangan suku manapun (yg belum bertobat&lahir baru) berpotensi untuk melakukan kekerasan.

  7. Ika on September 17, 2007 at 2:58 am

    Saya sudah baca artikel amang.. pendapat amang sama dengan saya. Saya juga heran mengapa itu bs dijadikan satu tradisi. Jika dipikirkan lebih, seakan2 itu perpisahan yg terakhir & ga akan bertemu lagi utk seterusnya.. aneh mmg, tapi itulah tradisi. dalam jgka waktu ini, saya sdah berencana akan menikah. Mudah2n saat pesta nanti, seluruh keluarga bs kompromi utk membuat suatu acara yg lain daripada yg lain, tapi ttp tdk menghapus dari segi ADAT.. Mohon Doa nya juga ya Amang.. mauliate. HORAS!!

  8. helena Siboro on November 26, 2007 at 10:33 pm

    Horas….

    Walaupun aku belum nikah… tapi aku pengen ngasih pendapat tentang lagu Borhat ma da inang di acara pernikahan Batak…
    Amang, tangisan bukan hanya karena duka tapi bisa juga karna rasa bahagia yang sangat dalam.. karna putrinya telah menemukan pasangan hidupnya…
    Borhat da inang, menurutku lebih menggambarkan penyertaan orang tua kepada putrinya lewat pasu-pasu (berkat) dan doa, agar dapat membangun rumah tangga bersama suami, melahirkan keturunan dan mewujudkan keluarga yang bahagia.
    Dalam membangun rumah tangga, memang laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga tapi kunci keberhasilan dan keutuhan keluarga bisa bertahan langgeng dan mendidik anak2 menjadi baik dan sukses, lebih banyak peran istri /sang ibu. dalam kehidupan nyata keluarga batak, bisa kita lihat kog.. betapa besarnya peran seorang ibu / perempuan batak dalam keluarga.. hehehe… (bukan genderisasi lhoo.. )

    tapi aku hanya heran dengan orang batak.. kenapa akan lebih marah bila dikatain “dang mar adat” daripada ” dang mar agama”???

    Oks deh…

    Syaloom,
    Helena

  9. jahorasnainggolan on December 11, 2007 at 4:49 pm

    kalau menurut saya tidak masalah lagu borhat ma dainang dinyanyikan saat pesta pernikahan,yang mau saya katakan disini apa yang dikatakan pak pendeta mengenai persiapan pesta yang beteletele dan menghabiskan banyak waktu dan biaya ,tanpa memikirkan masa depan yang baru kawin .itu yang penting.kalau lagu sih aha manasodokkononni lagu.nadilaninna sitengka,songoni do nang lagu adalah hiburan rayat ,aha nasopanhononni parende.pikirkan masa depan ,jangan sampai lupa karena harga diri.asa,denggan ,uli tongam ulaoni ninna,marsali petaho.ommanasalah

  10. paska on December 26, 2007 at 4:27 pm

    horas amang

    membaca pemahaman mengenai latar belakang borhat ma dainang, bisa diterima juga..memang pada saat saya menikah, kami jg menggunakan lagu tersebut. herannya saya bukan menangis malah wajah saya tetap ceria, tidak menunjukan muka sedih..hal ini sempat di komplain oleh beberapa kerabat. lalu saya menjawab kebetulan saya kurang mengerti arti lengkap dari lagu tersebut..hehehe

    sekedar pemikiran bagi saya memang untuk sebagian adat perlu ada kesepakatan utk merenovasi / memperbaiki konsep dasar dari adat itu dilaksanakan, sehingga adat bisa berjalan seiringan dengan konsep gereja bukan hanya sekedar pelengkap atribut orang batak tetap bisa menjadi tolak ukur keberadaan orang batak dari dulu hingga saat ini.

    yah satu lagi yang menurut saya perlu di tambahkan juga seperti yang amang kemukakan tidak adanya katekisasi pernikahan dalam gereja kita. sebenarnya saya jg kecewa karena tidak ada panduan kearah itu, karena untuk melangkah menuju perkawinan sangat diperlukan panduan dasar secara alkitabiah, baik itu mengenai karakter, hubungan suami isteri, masalah keuangan sampai dengan toleransi tingkat tinggi.

    mudah2an dengan sarana tukar pendapat seperti ini, ada response baik dari para petinggi demi perbaikan generasi batak ke depannya…mauliate ;)

  11. AE Saing on February 22, 2008 at 4:22 pm

    Borhat ma dainang?…
    Ketika kita merestui boru kita menikah dilambangkan dengan pemberian ulos hela, ada terbetik di hati bahwa mulai saat ini tugasku sebagai ayah banyak berkurang..

    Tidak ada lagi rasa kuatir boru akan pulang kerja larut malam.. karena dia tidak di rumah ini lagi.. ada suaminya yang lebih memperhatikannya..

    Tidak ada lagi susahku bila ia terbaring sakit karena lelah.. karena ada hela-ku yang merawatnya..

    TIdak ada rengeknya meminta uangku, walau pensiunku lebih kecil dari gajinya..

    Tidak ada harian kicauan cerewetnya kalau tensiku naik makan berlebih jambar setiap pesta, karena ada lelaki istimewa lain yang perlu dicereweti-nya…

    banyak lagi mulai hari ini yang tidak ada tentangnya…

    Borhat ma dainang?…
    tugasku & tanggung jawab sebagai ayah jauh berkurang, harusnya senang, tapi yang tersisa tangis haru kenang meletakkan ulos hela dipundaknya..

    Borhat ma dainang?… tak perlu apa syair lagunya, aku tetap menangis haru, boru-ku sudah dewasa, saatnya berdiri di atas kakinya sendiri dan
    melangkah bersama sang separuh jantung-nya..

    Borhat ma dainang?… tetap air mataku membungkus kata doa buat boru-ku.. entahkah kelam fajar hujan badai menaung hari, biarlah Tuhan mejadi Ayah-nya…
    Amin.

  12. Madonk on March 5, 2008 at 6:52 pm

    Bingung…. Bingung…. Bingung….!!!
    Pusing…… Pusing…… Pusing…..!!!

    Itulah komentar pertama dari saya. Biar lebih konsentrasi, topik yg diangkat adlh “Lagu Borhat ma da inang” dan “Realita penikahan suku batak zaman sekarang”.

    Masalah LAGU, sy sndiri tdk tlalu mempermasalahkan lagu itu jika TIDAK dikaitkan dgn Matius 19:5, tetapi jika kita kaitkan dgn kata “MENGAWINKAN” biar agak luas, dari sisi saudara kita Muslim bahwa Sang Ayah-lah mengawinkan Putrinya dgn kata lain tanpa di hadiri orangtua dari laki2 perkawinan sah. Dari Suku Batak pun tdk pernah kita dengar Mengawinkan Anak tetapi “Pamuli Boru (menikahkan anak perempuan)” sehingga konteks Jual Beli disini apakah Pihak perempuan yang MENAWAR JUAL (kasarnya OBRAL) atau pihak laki yang ingin Membeli? saya pikir dari bahasa Pamuli Boru berarti harusnya Perempuanlah yang mestinya duluan. Saya agak bingung disini.
    Jadi Lagu Borhat Ma Dainang sangat cocok dinyanyikan jika tidak mempermasalahkan/berbicara SINAMOT yg dirembukkan oleh raja hata. Dan renungan ini akan memancing suatu pertanyaan, Apakah Suku Batak yang menikahkan putrinya harus mendapat keuntungan dari sisi materi?. Semoga saya kelak mau menikah kelurga saya dan keluarga calon pendamping saya tidak membicarakan ini. Bukankah kita seharusnya bersyukur sudah mendapatkan pendamping hidup kita? jika kita bandingkan dengan saudara kita banyak yang belum menikah, kenapa? memang banyak faktor. tetapi apakah setelah sekian lama menunggu dan setelah dapat jodoh terus berdebat masalah Materi/Sinamot? Itulah konteks adat kuno yg harus kita rubah dan semoga kita menyadarinya.

    Realita Pernikahan Batak jaman ini? saya sendiri menjadi sedih dengan adat Batak. jaman sekarang jika tidak pake music minimal organ tunggal sudah dikatakan kolot. Tetapi dalam hal TOR-TOR di pernikahan dulu tidak ada koq, knp skrg malah semakin aneh? Jadi menurut saya Pernikahan Adat Batak=Hura-hura dan sudah tidak bermakna lagi.

    Akan tetapi membicarakan ini tidak akan pernah habis, kecuali ada satu kumpulan marga yang akan memulainya dan saya yakin itu akan berhasil, karena raja hata biasanya semarga yang diambil atau sepaham.

    Mungkin perlu dibawa di Kotbah gereja atau seminar Gereja untuk merubah pemborosan dari perilaku adat yang Jaim ini. Saya percaya jika Bapak Pendeta mencetuskan ini ke forum Gereja pasti akan berhasil. Biarlah kita melakukan adat itu sewajar dan sejalan dengan kemampuan lahir dan bathin kita, tidak terpaksa karena musim dan jaman serta tidak melirik pesta pernikahan yang “wah” sekarang ini.

    Terima kasih atas ruang untuk berkomentar, walaupun komentar saya tidak bermutu, tetapi semoga bisa menjadi acuan menjadi lebih baik.

  13. Pieter on March 24, 2008 at 10:58 am

    Horas ma Di Amang A.E. Saing…. kalimat indah amang sangat menyentuh hati saya… itulah intinya dari sebuah ritual pesta perkawinan, perasaan haru dari orang tua perempuan yang selama ini merawat mulai dari kandungan sampai akan mandiri secara sosial, ekonomi, dll… menciptakan suasana hati yang menyentuh kalbu begitu mendalam. Kalaupun ada lagu borhat ma dainang sewaktu akan memberi ulos hela.. itu merupakan improvisasi yang secara umum diterima oleh orang batak. Jadi tidak ada yang salah… lagu tersebut menambah suasana haru bagaimana seorang bapak dan ibu memberangkatkan borunya hidup mandiri ( terlepas masih hidup serumah… tapi jumlahnya sangat sedikit ).. dan kalau diganti dengan lagu marragam-ragam atau attar didokon…kayaknya nggak cocok apalagi sewaktu memberikan ulos hela dibarengi lagu Indonesia raya…( kan makin runyam amang Pandita…ha..ha…ha…) horas ma di hita sude…..

  14. Janpieter Siahaan on May 13, 2008 at 9:19 am

    Saya mau tanya amang… mana yang lebih banyak yah.. lagu batak yang bernuansa gembira atau sedih. Kalau saya memandang ada dua sifat batak yang berbeda yang nantinya berhubungan dengan perasaan
    ( termasuk seni suara ) Pertama : Di luar diri nya sendiri.. kita orang batak terkenal pekerja keras, jujur dan bangsa perantau. Kedua atau disisi lain, kita orang batak yang banyak merantau ( biasanya tamat SMU atau Kuliah ), sangat rindu atas kampung halaman dan sanak saudara sehingga sering bernostalgia dan membuat kita sering banyak haru atau sedihnya ( apalagi yang kita ingat perjuangan waktu hidup susah dulu ), wajah kita ada dua pada saat yang sama. Pernah dulu waktu ospek di salah satu PT di kota Medan, ketua SEMA mengatakan.. silahkan nyanyi lagu daerah tapi jangan yang sedih….( katanya : saya nggak suka kalau lihat orang batak nyanyi sedih dan nangis lagi ), nyanyi yang gembira aja. Nah… kenapa kita senang lagu yang banyak sedih atau harunya ? mungkin bisa dijawab angka dongan dari Psycholog. Mauliate.

  15. br Gultom on May 30, 2008 at 4:39 pm

    Sekarang juga masih dibumbui dengan air mata, jika lagu ini dinyanyikan dalam pesta pernikahan, tapi sepertinya, menurut perasaanku saja..kalau air mata sekarang dan dulu sangat beda sekali.

    Zaman dulu mgkin lagu ini sangat sedih sekali, tidak seperti zaman sekarang. Pesta pernikahan yg seharusnya mencerminkan suka cita, tapi kenapa dalam lagu ini terselubung suatu kesedihan yg dalam saat melepas gadisnya utk menuju hidup baru, yaitu hidup bersama keluarga suaminya. Aku kurang tau tahun berapa lagu ini diciptakan, tapi aku yakin saat itu keluarga batak masih dalam situasi, dimana tenaga dan kehadiran anak dalam rumahtangga masih sesuatu yang cukup penting. Dengan berangkatnya si gadis kerumah suami dan meninggalkan rumahnya, maka berkuranglah kehadiran si “Boru Nauli” dirumah, dan kata kasarnya..tidak adalagi yang nyuci, angkat air, dan memasak dirumah, jika si Ibu dan Ayah bekerja diladang sepanjang hari.

    Selain itu, kesedihan yang aku rasakan lewat lagu ini adalah bahwa dulu belum zaman lancar2nya transportasi dan komunikasi seperti sekarang, dimana kita bisa dalam sekejap sudah dirumah MAMI lagi jika kangen, dengan sekejap MAMA sudah dirumah melepas rindu. Atau kalau rindu bisa telp dan kirim sms. Coba kita lihat kehidupan 20 -30 tahun yang lalu, bisa jadi seorang boru yang sudah menikah dan membuka hidup baru dikota (desa) suaminya yang jauh dari kampungnya tidak ketemu bertahun tahun dan jika ada rindu, mereka hanya mampu menulis surat …kalau surat itu nyampe masih sukur ..hiks.

    Begitulah arti sebuah tetesan dalam lagu bisa bergeser dan tidak berarti jika keadaan perkembangan zaman begitu cepat berputar. :)

  16. Arlina Parhusip on June 27, 2008 at 11:04 am

    Sampai saat ini setiap mendengar lagu “Borhat ma Dainang” pd pesta2 pernikahan selalu membuat saya terharu, mengingat pada saat org tua yg sdh merawat kita memberangkatkan borunya utk masuk dlm pihak kelg Suami, dan memang seperti itu kenyataannya. Saya sendiri terkadang walaupun satu gereja dengan org tuaku hampir 3 minggu terkadang kami tidak bertemu. Tetapi yg smp sekarang menjadi pertanyaan besar dlm hati adalah saya menikah dgn anak sasada, apakah selamanya kami harus tinggal bersama org tua suami?? Krn sepertinya kelg suami berprinsip seperti itu, tidak boleh berpisah, dan suami pun tdk mau hidup mandiri, yah kata orang “Jauh lebih harum” kan?? Saya butuh saran amang dan angka dongan semua untuk dapat memberikan penjelasan yg baik kepada suami terlebih simatuaku, yah saya cuma ingin kami lebih mandiri dan punya ruang dan waktu khusus sebagai keluarga.

  17. John on July 10, 2008 at 9:01 am

    Saya sependapat dengan amang pendeta, seharusnya seiring dengan perkembangan jaman hrs ada perubahan2 dlm acara pernikahan batak semacam lagu atau prosesinya sendiri. Khususnya utk lagu Borhat ma dainang jg mungkin hrs ada yg berani utk memulai lagu ini diganti dengan yg laen mengingat artinya sudah tidak relevan dengan kondisi skrg. Tp alangkah baiknya kl ahli2 musik batak bisa memberikan kontribusinya utk lagu pemberian ulos hela. Tapi harus ada org yg berani utk memulainya. Saya yakin kl ada bisa memulainya pasti sedikit demi sedikit lagu itu akan tergeser khususnya utk di kota2 besar.

  18. Santinove Nainggolan on July 12, 2008 at 10:46 am

    Horas… Bagaimana kalau kita pesankan saja lagu batak yg modern dan liriknya penuh dengan kebahagiaan, untuk bisa mengiringi dalam acara pernikahan adat batak “modern” kepada rekan kita Vicky Sianipar? :)

  19. echie on August 7, 2008 at 7:34 pm

    saya sangat suka dengan lagu Borhat ma Da inang, apalagi kalo pada saat pesta pernikahan,,…… rasa na mengharukan apalagi pada saat orang tua memberikan ulos … wahhh makin mengharukan …..

    Daniel Harahap:
    Kalau sudah terharu, lantas apa? :-)

  20. rs sitorus on August 16, 2008 at 8:46 pm

    Menurut pandangan saya, lagu ini dinyanyikan untuk “menguatkan” mental si Boru – muli, yang selama ini tinggal diasuh oleh orangtuanya, semua selalu serba tersedia dan ada. Tapi setelah moment itu, dia harus berubah, harus bisa menjadi parumaen na burju tu Simatuana, harus bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya, dan ibu yang baik bagi anak2nya, berperan aktif di dalam kekerabatan dengan keluarga keduabelah pihak dan yang terpenting mengurus/membangun rumah tangga yang sukses. Bagi yang mengerti arti sesungguhnya lagu ini (bukan translation-nya) sangat jauh sekali berbeda context-nya. Kalo ibarat kata koor ‘ndang dapot lagu ompat na’

    Pengalaman saya merantau jauh di negeri orang, selain denggan BasaNi TuhanI, lagu PODA juga sangat memotivasi saya untuk bisa survive dan menggapai cita-cita, jadi di negeri orang kita ngga main2, tetap focus kepada tujuan. Disitu dibilang, “Ai damang do sijujung baringin Di au amang mon….Jala ho nama silehon dalan Dianggi ibotomi …..” menggambarkan seberapa besar harapan orang tua supaya kita berhasil dan bisa mengangkat derajat keluarga. Kalo lagu Indonesia sih ngga ada yang bisa mengangkat semangat seperti itu.

    Akhir kata, luar biasa deh semangat orang BATAK, apalagi yang “mangalului ngolu-ngolu di negeri si Bontar mata sana…. “Unang sai mian jat ni rohai Dibagasan rohami Ai ido mulani sikka mabarbar Da hasian Ipe ikkon ingot ma maho Tangiang mi do parhitean mi Dingolumi oh tondikku”

    Daniel Harahap:
    Kenapa sih harus lebih dulu menyebut “menjadi parumaen na burju tu simatuana” daripada menjadi “istri yang baik bagi suaminya”? Apakah karena lelaki Batak cenderung lebih mengasihi ibunya daripada istrinya? Kacian deh perempuan Batak. :-)

  21. aping on August 19, 2008 at 4:18 pm

    Pertama-tama ada beberapa kontradiksi yang saya lihat dari penjabaran Amang. Kontradiksi yang seharusnya tidak luput dari perhatian kita dalam pembahasan Adat Batak dan Kekristenan Orang Batak.

    Pertama..Kekristenan Orang Batak tidak lepas dari adat istiadat. Mudah-mudahan kita bisa bandingkan sejarah Kekristenan di Tanah Batak antara sejarah Musson & Leman dan Sejarah penyebaran agama Kristen oleh Nomensen. Ada relevansi kuat antara kekristenan dan Adat Batak Termasuk dalam hal perkawinan. Sementara pembahasan kita adalah Kekristenan dalam adat istiadat. Secara adat perkawinan orang Batak tetap menjalankan “negosiasi’ antara dua keluarga.
    Di sisi lain, kekristenan “yang pertama dan terutama bukan lagi perundingan keluarga atau marga, tetapi ketetapan hati kedua pribadi untuk bersama-sama bahagia yang diikat dalam suatu perjanjian kudus di hadapan Allah dan jemaat” (seperti tulisan Amang diatas).

    Kontradiksi kedua….Amang menyebutkan kalau Orang Batak sudah Maju. Bener. Tetapi tidak teraktualisasi dalam pembahasan Amang diatas.
    Kalau dalam perkawinan Orang Batak dulu, banyak menggunakan Sarune, Ogung, Uning-Uningan. Sekarang semua itu diganti dengan Band, Organ Tunggal atau gabungan Band, Ogung, Uning-uningan dalam mengiringi pesta perkawinan Orang Batak. Kenapa ini ada? Lebih condong kepada hasangapon, bukan masalah adat atau Kekristenan. Artinya dalam pembahasan kita kali ini seharusnya itu merupakan pelengkap yang bisa ada dan bisa juga tidak ada. Tanpa mengurangi esensi dari Adat itu sendiri dan kekristenan Orang Batak itu sendiri. Apa esesnsi dasar dari Ogung, uning-uningan, Keyboard tunggal, Band dalam perkawinan orang Batak. Itu yang Amang sebutkan ditulisan Amang dengan istilah “melengkapi”. Ya..musik dalam adat Batak itu tertutama dalam Pesta perkawinan adalah pelengkap. Bisa ada dan bisa tidak.

    Karena lagu Borhat Ma dainang itu Bukan Bagian dari adat Perkawinan Orang Batak, tetapi pelengkap Pesta Perkawinan Orang Batak SAAT INI. Kalau dulu sempat diisi oleh Paduan Suara ‘ TERIMA BERKAT ALLAH” atau diisi oleh Orang Tua mempelai wanita yang menyanyikan satu lagu, sebagai penggati HATA PODA tu Boruna (mempelai wanita). Lagu Borhat ma Dainang dan Lagu Ulos Passamot, saat ini hampir merupakan keharusan dalam pesta perkawinan Orang Batak, khususnya di Jakarta (yang saya perhatikan, saya tidak melihat di daerah lain, akrena itu saya tidak berkomentar di daerah lain). Tetapi apakah kedua lagu ini menjadi sesuatu yang signifikan kita sejajarkan dengan gambaran kekristenan Orang Batak. Saya kurang sependapat. Karena Lagu ini hanya merupakan pelengkap, bahkan kalau boleh saya katakan ini SUATU TREND. Apalagi kalau kita sampai worry dan berpikir…..

    “jangan-jangan konsepsi perkawinan batak belum ada yang berubah walaupun jaman sudah maju. Jangan-jangan orang Batak walau pun Kristen dan moderen – dalam hal menghayati perkawinan dan hubungan laki-laki-perempuan – masih sama saja dengan ompung moyangnya sebelum Belanda masuk dengan pameo khas “holan inang do na so boi tuhoron, anggo inang-inang boi do tuhoron” (hanya ibu kandung yang tidak bisa dibeli, istri/gundik bisa dibeli)”

    Kembali statement Amang: “Sebab itu yang hendak saya pertanyakan hanyalah masalah penggunaan lagu tersebut di even pesta perkawinan atau pernikahan batak abad ke-21 – ketika dunia termasuk yang didiami komunitas Batak sudah berubah secara total dan mendasar. Konkretnya: apakah lagu andung (ratapan) yang merujuk ke praktek perkawinan di masa lalu itu cocok atau pas dipakai mengiringi pemberian ulos tanda doa dan restu orangtua kepada pengantin batak moderen?”

    Menurut saya bukan lagunya yang kita pertanyakan amang, atau jenis musiknya. Lagu Borhat Ma Dainang adalah perwakilan dari Hata Poda pada umumnya yang akan disampaikan Orang Tua Mempelai wanita ketika akan menyampaikan Ulos Hela, di akomodir para pencipta lagu, menurut sudut pandang pencipta lagu dan diapreasiasikan para orang tua yang mendengarkannya. Dengan berbagai cara termasuk menangis, gembira dan menyanyikan sendiri (Walau suaranya serak tidak begitu enak di dengar atau tidak kesampaian karena lupa, dll).

  22. uthe on September 23, 2008 at 7:56 am

    Horas amang….. Aku sudah menikah, saat pernikahan ku dinyanyikan lagu borhat ma dainang. saat aku menikah ompung ku sedang sakit keras dan tidak dpt menghadiri pernikahanku (padahal dia sudah menanti-nantikan sekali), mama tetap mendampingi pernikahan ku dengan ceria (walaupun hatinya sangat galau). Bagiku lagu ini merupakan doa, nasihat dan penghiburan bagiku. Mungkin kita sedih saat dinyanyikan lagu ini, tapi saat itu aku mengaminkan kata-kata lagu itu bahwa supaya aku mempunyai anak, rukun dengan suami, selalu selalu saling mendoakan walaupun berjauhan (karena lagu itu ibu saya yg menyanyikannya bukan orang lain). Karena saat itu orangtua kita “ibu” paling mengetahui tugas-tugas selanjutnya seorang istri, menantu yang harus kami (pengantin wanita hadapi di hari ke depan). Tergantung dari sudut pandang kita melihat lagi itu ya…, but aku sangat suka lagu itu, apabila saya sedang menghadapi kerikil2 kecil dalam pernikahan aku selalu ingat waktu ibu saya menyanyikan lagu itu serta harapan dan doa yang iya berikan untuk kami. Terima kasih untuk menciptakan lagu ini ya.

  23. Jonggi Panjiatan on December 12, 2008 at 10:25 am

    Adat itu ada ketika anggotanya memeliharanya, meyakininya, dan menghormatinya.
    Adat dapat mengalami perkembangan, walau tanpa ukuran yang jelas, batasannya hanyalah pada norma2 yang hidup ditengah2 masyarakatnya.
    selalu dinamis, tergantung dari determinasi llingkungannya, bukan kita yang mendeterminasi lingkungan adat (habitual rule).
    Menurut saya lagu tersebut merupakan bagian dari adat masa kini.
    Saya tidak mempersalahkan adat tersebut, tata dan interaksi sosial yang terjadi didalamnya menciptakan satu pola didik yang cukup baik menurut saya. karena “kita” yang ada saat ini tidak terlepas dari kesinambungan adat yang dimulai dari jaman nenek moyang kita dahulu.
    Bahkan, amang pendeta, tidak akan jadi seperti sekarang kalau na tua-tua i tidak terbentuk dari pola pikira adat batak.

    Jadi, kalau memang kita tidak sependapat dengan adat masa kini. lebih baik kita keluar aja. secara sederhana hal ini akan menyeleksi kesesuaian norma adat itu terhadap perkembangan zaman.

    Daniel Harahap:
    Enak aja nyuruh orang ke luar dari adat. kenapa tidak “sop babi ecek-ecek” eh lagunya saja yang diganti? :-)

  24. M.O Situmorang on December 12, 2008 at 11:30 am

    barangkali sudut pandangnya agak berbeda, kalau dilihat dari sudut pandang adat, bukan masalah domisili si perempuan dimana, dan keadaan sudah modern, yang membuat si perempuan meninggalkan keluarganya, tapi karena di batak menganut adat patrelinial, (garis keturunan dari Bapak) dan pihak perempuan menjadi anggota keluarga pihak laki, makanya walaupun tinggal di rumah orangtua siperempuan, secara adat siistri itu sudah menjadi bagian dari keluarga suaminya. saya kira lagu haru itu lebih ke haru bahagia, seperti terjemahannya, berdoalah untuk keselamatan semua, selamat untuk keluarga “bawa” dan selamat untuk keluarga “boru”. bukannya mau menggurui amang, tapi menurut aku adat itu perlu juga sebagai kontrol sosial. Setuju sekali kalau diberikan proporsi yang lebih seimbang kalau terjadi kekerasan dalam rumah tangga, jangan langsung si wanita yang disalahkan tanpa melihat masalahnya secara objektif. :)

    Daniel Harahap:
    Saya anggota komunitas adat Batak. Namun saya pikir adat Batak juga harus direformasi dan disesuaikan dengan kemajuan jaman dan kekristenan. Jangan lupa: menurut Markus 10:7 yang meninggalkan keluarganya bukan perempuan tetapi justru laki-laki! Macam mana pulak itu? Harusnya lagunya: Borhat ma Daamang! (Unang holan marsigantung tu dainang) :-)

  25. Bulir Sesawi on December 12, 2008 at 2:28 pm

    PERKAWINAN ORANG BATAK
    Mujizat Yesus yang pertamakali adalah membuat ANGGUR TERBAIK dari air tawar pada suatu pesta pernikahan. Mungkin karena sebelum, saat dan sesudah Yesus sudah melihat hasil perkawinan itu sudah bukan yang terbaik lagi. Boleh jadi jika perkawinan/anggur tadi kalau sudah lama akan menjadi tawar, lango-lango, basi, dan membuat tidak enak. Boleh jadi perkawinan/anggur tadi awalnya manis, lalu pahit, kemudian panas dan memabukkan. Jangan heran jika perkawinan awalnya manis, lama kelamaan panas yang membuat gatot kaca (piring terbang), panirangnirangon, panas ditempat tidur sendiri, satu tidur ditempat tidur yang satu tidur di kursi, satu tidur di rumah yang satu tidur di parjujian, satu dirumah satu lagi di bar/puncak. Tetapi jika perkawinan/anggur tadi adalah anggur terbaik dan digunakan/diminum sesuai dosis, maka perkawinan/badan akan terasa hangat.

    Hal inilah yang diadopsi oleh orang Batak pada pesta pernikahan. Perkawinan orang Batak Full dengan Adat dan Saklar dengan Kekristenan. Perkawinan tersebut dimulai dari percintaan, pemberkatan, resepsi. Masing masing dihadiri oleh pihak keluarga, hula-hula, dongan tubu, boru, teman gereja, mungkin para pejabat. Butuh biaya, perasaan yang luar biasa. Maka terucaplah BORHAT MA DA INANG, lagu sedih dan lagu gembira.

    Jika mengamati alur pernikahan orang Batak, adalah sangat baik untuk diteruskan atau dipatenkan. Alasannya, menurut penelitian yang saya lakukan “Orang Batak yang terikat perkawinan Adat dan Gereja”, hanya ada yang panirang-nirangon saja, dan sangat minim dengan perceraian. Hal ini jika dibandingkan dengan pernikahan yang lain. Yaitu Adatnya gampang, tak perlu resepsi, dan diizinkan cerai dan kawin lagi. Orang Batak sudah terlebih dahulu berhadapan dengan adat tadi, kemudian akibat aturan yang dibuat oleh gereja, lalu penikahan menurut Kristiani. Puncaknya adalah mujizat Yesus pertama ANGGUR TERBAIK pada perjamuan nikah. Apapun alasannya Yesus pasti memberikan anggur terbaik dalam pernikahan tersebut. Marilah kita pelihara Adat Batak tadi, baik di Desa, Kota, maupun tinggalnya di Apartemen Mewah sekalipun. Horas. (St. Maludin Sitanggang, stgmaludin@yahoo.co.id, Bulir Sesawi.)

    Daniel Harahap:
    Ya pelihara adat. Sesuaikan dengan kemampuan. Jangan besar pasak daripada tiang. Jangan habiskan semua enerji untuk pesta sehari. Yang paling penting dipersiapkan bukan hanya pestanya tetapi kehidupan rumah tangga sesudah pesta usai. Satu lagi: kalau pesta kecilkan sedikit soundsystem agar para tamu bisa ngobrol enak. Oh ya, menunya diubahlah sedikit. Kalau bikin sop jangan basa-basi. :-)

  26. Robert Sibarani on December 12, 2008 at 2:35 pm

    Sepertinya koq jadi repot ya dengan lagu ini, Padahal ini kan bisa aja meniadakan lagu tersebut pada saat penyematan ulos tersebut, toh jg tidak mengurangi kesakralan adat yang akan dilakukan. Memang harus diakui bahwa secara keseluruhan orang Batak ini mempunyai emosional yang tinggi dan reaksi yang sangat cepat terhadap hal hal yang baru, tanpa menyortir dulu mana yang seharusnya dan tidak seharusnya ditambahkan, Masih ingat ada sebuah lagu “Parumaen Naburju” atau apalah itu ……….. Lagu ini dinyanyikan sambil mengiring pengantin depan loloan dan balik lagi ke temapt duduknya seiring berakhirnya lagu tersebut.Pada hal kalau kita pikir Makna nya apa, waktu habis, juga Parende juga harus dibayar hanya karena “supaya jagar ulaon i”(Songoni di bahen dongan , naeng ma songoni bahenon muse) Kalau menurut saya ini hanyalah variasi yang kebetulan secara emosional kena dihati rata rata orang batak padahal sebelumnya nyanyian tersebut tidak ada dalam tatanan acara pamuli boru (Tidak ada nyanyian Borhat ma Dainang ini dalam adat pesta Perkawinan)sebelumnya, Tetapi belakangan diadakan kalau tidak salah baru sekitar thn 80 an s/d sekarang hal ini dilakukan. Padahal masih banyak hal hal yang perlu disajikan dalam acara perkawinan tersebut, misalnya saja Patortor Parumaen, knapa ini bisa dihilangkan padahal ini menggambarkan betapa bahagianya Orang tua karena anaknya (sipangoli) bisa mandapot parumaen. Kalau kita mau jujur bahwa acara adat pamasumasuaon yang dilakukan belakangan ini saya pikir harus lebih dicermati para sesepuh adat Batak supaya peradatan tersebut berjalan dalam koridor yang sdh ada. Jangan hanya karena supaya Enak dilihat, enak didengar dan entah aplagi lah alasannya (Tidak hanya konsumsi mata semata). sudah waktunya kita berani melakoni apa yng pantas kita lakoni sesuai dengan ajaran para sespuh kita terdahulu. Mari ingat bahwa acara adat Pernikahan yang kit lakukan itu bukanlah suatu Show.Tetapi adalah Salah satu bagian yang mencerminkan tatanan Hidup Orang Batak.Akhirnya saya lebih setuju bahwa lagu2x tersebut sudah tdk relevan lagi untuk diperdengarkan pada saat mangulosi Hela.lebih baiknya dighanti saja lagu lagu yang menggambarkan pengucapan syukur dan pengaharapan ke Tuhan yang telah memberikan hidup baru kepada kedua mempelai (tentunya lebih pas kalau iramanya riang )
    songoni majolo na boi hupasat anggiat ma maruguna tu hita sude, mauliate ma di Amang Pandita namangangkat Topik On smoga bermanfaat. Horassss.

  27. 72gar on December 12, 2008 at 2:54 pm

    kenapa harus di reformasi? kenapa gak kita lestarikan adat batak karena jujur karena adat batak lah kita dapat menjadi kuat and ada tercipta suatu hubungan batin. mau kita tinggal di perantauan or dmn pun selain di bonapasogit, kita bisa kok mempelajari adat/budaya batak. yg penting yg pertama2 kita sadari adalah kita mesti bangga menjadi orang batak. aku dari lahir besar di jakarta and aku bangga menjadi orang batak malah aku lebih di bilang lebih mengerti adat di banding istriku yg asli dari bonapasogit sana. karena aku yakin dalam hal perkawinan orang batak/orang kristen tidak pernah ada kata cerai. kalopun ada, pasti dia batak ktp aja and pasti kurang mendalami agama nya.

    masalah siapa meninggalkan keluarga. aku pikir dua-duanya mesti meninggalkan keluarga nya masing2 and menjadikan keluarga baru yg di bentuk sebagai prioritas utama. memang kalo pasangan masih tinggal di salah-satu rumah orangtuanya, pastilah akan terjadi masalah or kalopun gak pasti di pendam karena gak enak atau jaim.

    banggalah jadi orang batak sebab kalo tidak, pastilah tidak akan ada HKBP.

    semua anak pasti manja dari orangtuanya (laki/perempuan). Jadi bukannya nakut-nakuin, tapi untuk yg mau membina rumah tangga, kehidupan berumah-tangga itu di mulai pada saat kita keluar dari rumah orang tua kita and membuat semua keputusan demi masa depan kita sendiri tanpa ada intervensi dari yg lain.

    Daniel Harahap:
    Adat Batak memang harus direformasi agar sinkron dengan modernitas dan kekristenan. Pada jaman pertanian (sesudah panen) tidak masalah orang berpesta lama-lama, karena padi memang sudah dituai dan tanah harus diistirahatkan. Namun ini jaman moderen, bagaimana orang-orang Batak bisa berlama-lama berpesta di hari dan jam kerja? (kecuali dia sudah pensiun). Contoh lain: adat batak yang kita warisi lebih menempatkan perempuan sebagai objek. Sementara peradaban dan iman menuntut kita menghargai perempuan sebagai pribadi dan subjek.

    Banggalah jadi orang batak sebab kalo tidak, pastilah tidak akan ada HKBP. Apa pulak maksudnya itu. Ada-ada saja batak ini. :-)

  28. nysiahaan on December 12, 2008 at 5:12 pm

    Walaupun sy baru mambacanya hari ini sy ingin berkomentar juga nih. Tugas grejalah yang seharusnya memberikan konseling kepada calon pengantin kira2 apa yg akan dihadapi sang calon pengantin 2,5,10,30,40 thn yg akan datang terutama tentunya bila peyot dan lemak dan gelambir sdh bergelayutan diseluruh tubuh ini sementara mungkin para suami sudah menduduki jabatan penting dikantornya dan berduit banyak,kira2 apa yg akan terjadi ,apakah janji pernikahan yg dulu masih diingat?

    Saat ini usia anak perempuan sy 21 dan 15,anak lelaki 18 thn ,mereka sdh mualai pacaran aja ada perasaan sedih, ada ketidakrelaan bahwa mereka akan meninggalkan sy yg sudah puas pais membesarkan nereka sehingga tdk ada lagi tempat sy bersayang2an,curahan emosi dan bercandaria juga betengkar, apabila mendengarkan lagu itu ada perasaan yang dalam dihati saya antara ingin cepat menyanyikan untuk anak gadisku tapi disisi lain belum rela ditinggalkan anak2ku he he he…

    Kadang2 bila 2 hari saja saya tdk sempat bincang2 dgn anak gadisku dia pasti sms,mamah rasanya kita sudah 7 thn tidak bertemu!!!!!!! nah bagaimana kalau dia meninggalkan saya????? tapi biarlah kehendakNya yg akan jadi dalam kehidupan dan rumah tangga saya

  29. Erpesim on December 12, 2008 at 5:55 pm

    Kita prihatin dengan persoalan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang belakangan ini menjadi keseharian perenungan Amang DTA. Mencari akar masalah KDRT ini dari sisi Amang DTA pasti mengunakan senter Iman dan Firman Tuhan. Objek yang diperhatikan sdh pasti si Adat Batak. (Kalo Amang DTA bukan orang Batak, mungkin masalah tata bahasa “mbataki” bisa jadi lucu).

    Saya pernah dan sering mendapati bahwa KDRT itu tidak selalu bermula dari pihak laki2,banyak boru Batak juga tampil prima dalam hal ini.Memulai topik reformasi Adat Batak melalui Lagu “Borhat ma dainang”,memang sangat genius.Tetapi bahayanya bisa salah arah,krn kayaknya jadi ada kesan bahwa perilaku Adat Batak dan turunanannya spt Lagu tsb menjadi penyebab KDRT dlm keluarga jemaat HKBP.Orang Batak pasti tidak terima kalo Adat Batak dijadikan Kambing Hitam penyebab KDRT.Adat Batak cepat atau lambat akan berkembang menemukan bentuknya yg paling pas.Pencerahan dan langkah2 konkrit petinggi Gereja HKBP pasti mempunyai kontribusi yg sangat signifikan untuk menghilangkan/ mengurangi/ mencegah kasus2 KDRT dlm kehidupan jemaatnya.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak pernah mengatakan bahwa adat Batak satu-satunya faktor penyebab kekerasan rumah tangga, apalagi lagu Borhat ma dainang atau Pos ni uhur. Namun saya memang mengatakan adat atau budaya yang sangat kental jiwa paternalistiknya memang sangat potensial melahirkan kekerasan dalam rumah tangga. Sebab itulah saya mengajak semua pihak adat atau budaya Batak yang lebih demokratis, egaliter dan terbuka.em>

  30. RUDI JUAN CARLOS SIPHUTAR on December 12, 2008 at 7:29 pm

    Borhat ma Dainang adalah Sebuah senandung Batak karya S Dis Sitompul.
    Borhat ma da Inang sebagai karya seni tentu cukup berhasil merasuk sampai ke telingga para pendengarnya dan melegenda..
    Tak ada yang salah dengan lagu itu..( dalam ranah kebebasan berdaya cipta, penulis punya hak berpersepsi dari sudut pandang pribadinya tentang pernikahan batak sesuai konteks pada lirik lagu yang menyoroti perpisahan “dainang dengan orang tuanya”)

    Lagu itu bagi sebagian orang batak tetap lebih assyik di nikmati dalam pesta pernikahan batak, walau sudah ada yg mengisi dengan lagu “Aku mau”yang melow dipopulerkan oleh Once (sering juga dinyanyikan di pesta pernikahan batak tahun 2008)..

    Selama pendengar lagu mengerti konteks dan makna liriknya tentu kapanpun lagu itu dinyanyikan tetap relevan…
    Tapi kalo cuma untuk tujuan ‘terharu’ / sedih/menanggis ..tanpa mencoba mengerti maknanya..tentu pendengar hanya terbuai emosi sesaat saja…
    setelah itu sudah selesai.

    Oh yaa, saya lagi berangan-angan kalo nanti menikah pengen nyanyi lagu “nasonang mahita nadua”..mau cari liriknya dulu akh…

  31. Salngam on December 12, 2008 at 11:49 pm

    Bpk DTA,
    1. Tentang lagu Borhat Ma Dainang. Saya bisa bayangkan nanti kalau Bapak memberangkatkan anak Bapak yang perempuan yang Bapak sangat kaksihi itu kawin dengan orang lain apalagi baru kenal. Apakah Bapak nanti ketawa-ketawa sangat senang atau was-was karena kehilangan si buah hati, apalagi dibawa ke Amerika dan bukan orang yang gampang pulang ke Indonesia atau meminta Bapak datang ke Amerika karena persoalan biaya.
    2. Tentang Perempuan dalam konteks adat Batak. Mohon maaf, dalam konteks orang Batak Ibu (Inanta soripada) adalah bagian yang paling dihormati. Bahkan Somba marhula-hula adalah manifestasi menghormati ibu/Isteri Kita. Kedatangan hula-hula ke pesta harus disambut dengan tangan dibawah dan tangan hula-hula di atas merupakan penghormatan Laki-laki kepada Ibu atau istrinya. Bapak boleh menurunkan marga kepada keturunannya, tapi peringatan kepada Ibu/istri adalah juga setimpal dengan istilah: Bona ni ari, Bona Tulang, Tulang, Tulang Rorobot. Biar tidak bias, karena Bapak adalah seorang Pendeta HKBP dimohon kesediannya untuk mempelajari Adat Batak lebih mendalam lagi.

    Daniel Harahap:
    (1) Saya akan menasihati anak-anak saya jangan kawin kepada orang yang baru kenal. :-) Saya kayaknya tidak akan ketawa-ketawa (apalagi pura2) jika anak perempuan saya menikah. Namun saya juga tidak akan memamerkan kesedihan saya. Seandainya (dan pasti) saya sedih, karena dia sudah dewasa dan harus mandiri, saya akan bersikap setenang mungkin meyakinkan diri saya bahwa dia akan hidup bahagia dengan pilihan hidupnya.
    (2) Tidak benar dalam kultur Batak perempuan sangat dihormati. Bahkan perempuan cenderung dianggap properti. Yang sangat dihormati oleh orang Batak bukan ibunya (apalagi kalau ibunya sudah janda) tetapi saudara lelaki ibunya. Dan jika tulangnya itu sudah meninggal maka istrinya jangan2 tidak dipandnag lagi. Semua yang Anda sebut Bona Tulang, Tulang, Tulang Rorobot menunjuk kepada laki-laki. Jika perempuan tentu namanya: bona nantulang atau nantulang rorobot. :-)
    (3) Saya telah dan sedang dan akan belajar adat batak, terutama untuk mensinkronkannya dengan keindonesiaan, modernitas dan kekristenan yang saya anut. :-)

  32. Garonggal on December 13, 2008 at 1:28 pm

    Memang lagu Batak yang satu ini (borhat ma dainang) tidak tepat lagi dinyanyikan pada jaman sekarang ini. Nggak nyambung lagi ama momentnya. Ada satu lagi lagu Batak :
    “di tonga borngin i, tarsunggul au ito, sai hubereng tu siamun… sai hubereng tu hambirang… hape soada manan aha ito, dilambungki.
    Hansitnai… dangolnai… parirnai… ito!”
    Syairnya dinyanyikan dengan nada yang riang, sementara jiwa lagunya harusnya sedih.
    Lagu “borhat ma dainang” syair dengan nadanya sudah sinkron.
    Tetapi dengan jamannya (jaman sekarang) sudah tidak sinkron lagi.

  33. Budiharjo Sihombing on December 13, 2008 at 7:41 pm

    Kalau tentang lagu ‘borhat ma dainang’ dinyanyikan pada waktu pesta adat pernikahan (waktu pasahatton ulos hela) itu bagus. Karena di syair lagu tersebut memberikan nasehat-nasehat kepada borunya yang mau membentuk rumah tangga yang baru. Kalau tanggapan saya tentang adat batak,adat batak itu sangat bagus dan perlu dipertahankan hanya saja orang batak memang banyak yang memaksakan diri untuk membuat suatu pesta, contohnya karena mengadakan pesta itu hingga berhutang (marutang) kepada orang lain. Sebenarnya pesta itupun dapat dibuat dengan sederhana saja,dan itu sah di adat batak.

  34. Robert Sibarani on January 14, 2009 at 4:55 pm

    Untuk Lae Rudi Juan Carlos Sipahutar
    Tak ada yang salah dengan lagu itu..( dalam ranah kebebasan berdaya cipta, penulis punya hak berpersepsi dari sudut pandang pribadinya tentang pernikahan batak sesuai konteks pada lirik lagu yang menyoroti perpisahan “dainang dengan orang tuanya”)

    Siapa bilang lae ada yang salah dalam lagu ini, memang tidak ada sama sekali , tapi pemakaian /penempatan lagu itu yang kurang tepat pada pesta perkawinan adat Batak Sekarang ini. Karena seseorang yang mau bermah tangga tentunya sebelumnya sudah diberi banyak petuah petuah oleh kedua orangtuanya, dan kalo masalah perpisahan itu kan hanya sementara , besoknya juga bisa ketemu, apalagi kalo sama sama tinggal di Jakarta ini, minggu besoknya juga sdh ikut arisan kali atau apalah itu momen moment pertemuan orang kita batak ini.

    knapa harus diulangi lagi melalui lagu ini didepan khalayak? ( atau jangan jangan ada unsur pamer, atau ikut ikutan , songoni dibahen dongan songonima bahenon muse?)

    Asa songon na sedih , manang terharu ma angka tutur na ro ?

    Tapi kalo cuma untuk tujuan ‘terharu’ / sedih/menanggis ..tanpa mencoba mengerti maknanya..tentu pendengar hanya terbuai emosi sesaat saja…
    setelah itu sudah selesai.

    Nah ini yang perlu dipertanyakan, kesetiap orang batak.
    Apakah halnya demikian?, Biar masing masing menjawab secara jujur dalam hati kita masing masing.
    Ini kan semakin membuka kesempata untuk menyajikan lagu lagu lainnya bahkan yang gak ada hubunganya dengan orang Batak.

    Coba lae perhatikan setelah itu adalagi lagu suku lain : Pocco Pocco, Sajojo, yang sebenarnya tidak ada relevansinya lagu ini dengan Orang adat Batak Padahal lagu ini sering disajikan untuk mangulosi, Cobalah Ulos adalah milik orang kita Batak, Sajojo , Pocco pocco milik orang lain
    Ini akibat terlalu gampangnya kita menerima dan memakai sesuatu yang sebenarnya bukan pada tempatnya .
    Takutnya nanti tata adat kita akan semakin teerosi adat hal hal seperti ini.

  35. t.m.sihombing on February 12, 2009 at 9:21 am

    Dalam jaman modern ini, pemakaian lagu Borhat ma dainang, poda, sah2 saja, karena itu merupakan manifestasi dari penciptanya kemudian lingkungan batak mau menerima lagunya karena liriknya enak didengar. Saya akan menyanyikan lagu ini pada saat memberikan ulos hela sebagai ungkapan pribadiku yang sangat senang karena borunya telah mendapatkan jodohnya dan menginginkan kelanggengan rumahtangga dan jauh dari perseteruan/saling mengasihi. Dan saat mendengar lagu itu orang tua atau pengantin bisah saja menagis sebagai ungkapan kegembiraan, ucapan terima kasih dan kegembiraan / rasa senang ini bisah saja berwujud dengan ketawa dan menangis.

    Lelaki akan berpisah dengan orang tuanya dan akan satu tubuh dengan istrinya , tidak ada kaitannya dengan lagu BORHAT MA DAINANG, toh sebelum boru dan anak kita nikah selalu mendoakan agar mereka mendapat jodoh yang cocok dan kata TONDINGKI HUMOKKOP HO adalah ungkapan daya, usaha, nasehat yang selalu diberikan orang tua dimanapun borunya berada. Ise do lebih sayang tu orang tua ? anakna do manang boruna ? Memang tidak lazim lagu borhat ma damang ? Boasa soadong ate Hari Bapa , gabe hari ni inanta do na adong ? boha muse i ??

    Soal marhata sinamot/hepeng saat ini sudah bergeser pada pemikiran bagaimana pembebanan biaya pesta dapat ditanggung bersama dan saat ini sudah sering terjadi biaya pesta adat ditanggung oleh pihak Paranak sedangkan parboru mendapat uang untuk beli ulos / dekke . Biaya di pihak parboru masih banyak misalnya perhiasan borunya, pakaian borunya, sulang2 untuk hula2 ,dsb dan uang sinamot dari paranak sering tidak cukup untuk membiayai keseluruhan biaya pesta adat yang artinya Tuhor ni boru sudah bergeser dalam istilah biaya pesta dan pemberangkatan anak.

    Kalau acara adat sering saya sarankan sbb : panandaion dikurangi (dari keluarga dekat saja), ulos dari parboru ke pengantin hanya keluarga Hasuhuton, ulos ke pihak paranak di batasi tujuh lembar saja, ulos dari Tulang hanya dari Tulang Tangkas saja, marhusip digabung dengan marhata hepeng, menu makanan dirobah diluar tudu2 ni sipanganon, lagu2 dari pemusik agar dipilih.

    Daniel Harahap:
    Bagaimana kalau tudu-tudu sipanganon dipanggang saja seperti babi guling korea? (catatan: semua na margoar atau “yang bernama” komplit). Amang setuju? :-)

  36. jonathan on February 12, 2009 at 12:11 pm

    Saya sudah membaca baik-baik terjemahan syair lagu itu.Kesimpulan saya tidak ada yang salah dalam arti mengundang kesedihan orang yang mendengarnya.Malah si orangtua melarang putrinya untuk menangis dan menghiburnya dengan mengatakan bahwa rohnya tetap memeluk putrinya. Berarti pendeta mempersoalkan nada lagu itu. Wah,kalau soal nada menurut pengalaman saya itu subyektif sekali. Mendengar nada-nada lagu sunda saya sering merasa pilu, sendu, sedih.

    Mendengar lagu “Hormat bagi Allah Bapa” yang dinyanyikan dengan musik yang lengkap bisa membuat saya merinding. Saya tak peduli kalau orang menertawai mata saya yang berkaca-kaca. Itu urusan saya dengan Tuhan, Raja Gereja, dan Roh Penghibur mengenai penghormatan yang sudah saya berikan secara ikhlas. Daripada tertawa terbahak-bahak atau menangis terisak-isak saya mengajak orang batak untuk mengambil jalan tengah yaitu tersenyum di kulum-kulum. Horas.

    Daniel Harahap:
    Yang lucu kalau lagu itu dinyanyikan untuk pengantin yang sesudah menikah masih tinggal di rumah mertua atau orangtua si perempuan. Anak perempuannya tidak berangkat kemana-mana malah masih menumpang, kok dinanyikan: borhat ma dainang. :-)

  37. batak juga on June 25, 2009 at 11:14 pm

    sesama batak dilarang saling mendahului…yang senang silahkan yang gak senang silahkan. Jangan masing masing merasa paling benar….

  38. richard silaen on June 26, 2009 at 5:25 pm

    horas amang pendeta, kapan bertugas kembli ke palembang, semoga amang Pendeta sekeluarga selalu di berikan kesehatan dan berkat dari Tuhan

    richard silaen a/n St. B.Silaen HKBP Palembang

  39. erichman silitonga on November 23, 2009 at 12:37 pm

    Saya merasakan perasaan yang campur aduk pada saat itu, sedih, terharu, gembira.yang jelas semua menggambarkan kesuksesan dari acara pernikahan secara adat ito/kakak (perempuan) saya.
    apalagi waktu mengiring ulos yang satu itu…..wow, Saya sampai larut dalam kesedihan, MENANGIS (seperti anak kecil), tidak perduli apa kata orang. itu menandakan rasa sayang kita satu sama lain dalam keluarga.
    ADAT BATAK = ADAT YANG MULIA.
    TUHAN tolong kabulkan doa saya, supaya saya menikah nanti dengan perempuan/boru batak dan kabulkan juga agar saya bisa ENGKAU mampukan untuk membuat acara secara adat pernikahan saya. kabulkan cita2 ku TUHAN. AMIN

  40. Romulo di Takalar on February 4, 2010 at 3:25 pm

    Ah amang ini bisa membaca isi hatiku juga. Pengalamanku memang seperti yang amang cerita diatas. Saat ini kami tinggal di rumah orangtuanya oleh karena istriku yang memaksa dan dimulailah ‘petualangan’ yang sangat tidak mengenakkan khususnya bagiku. Kami sudah menikah bertahun dan sangat jarang kulihat istriku menghormati orangtuaku apalagi memperhatikan adik-adikku. Apakah ini karena kami tinggal di rumah orangtuanya, entahlah. Terkadang saya jadi berpikir apakah boru ni raja memang seperti ini? Dan apakah menjadi boru itu sama saja dengan hatoban?

    Sewaktu menikah semua keluarganya menangisi dia (dengan lagu borhat ma dainang) seolah-olah dia akan pergi selama-lamanya, tetapi saat kami tinggal di rumah orangtuanya, dia benar-benar menjadi boru ni raja. Dan segala kesalahan dia dan juga orangtuaku semuanya ditambahkan ke diriku, untuk aku pertanggungjawabkan. Jadi orang batak memang susah ya amang.

  41. Sorta on September 25, 2011 at 11:19 pm

    Bukan adatnya yg salah…tapi manusianya…
    Kalau sampe seorang menjadi hamba adat, itu yg salah…
    adat apapun itu..batak, sunda, jawa…
    aq fikir itu kuncinya…
    karena semua yg ada di dunia ini, dari adat istiadat, suku, bahasa, adalah keragaman Ciptaaan Allah…jadi bukan itu yg salah…
    tapi bagaimana manusia melestarikan dan menghidupinya…

    saya kurang setuju dengan pendapat amang,.terlalu berlebihan amang berpendapat seperti di atas terkait lagu Borhat Ma Dainang…
    apa amang udah baca komentar amang A.E Saing??
    seperti itulah kurang lebih makna dari lagu itu…

    secara keseluruhan bukan sedih yg tercermin, tapi bahagia…hanya sajah kita yg melihatnya seperti sedih…

    amang boleh bilang menjaga dan melarang putri amang menikah dengan yg beda suku dengannya, tapi ketika Tuhan berkata…ini, maka ini-lah yg terjadi…dan salah jika amang berkata terlalu menunjukkan kesedihan amang…kenapa amang memikirkan orang yg melihat amang??wong itu putri amang…kenapa harus menutupi perasaan amang yang tidak menyinggung orang lain…naif sekali…

    dinyanyikan atau tidak, itu tidak mengurangi kesakralan pernikahan…
    itu hanya bagian dari adat istiadat sajah…
    dinyanyikan boleh, ga jg boleh…

    soal zaman dulu masalah beli membeli perempuan, apa amang yakin krna hal itu sehingga orang2 dulu ketika mendengar lagu borhat ma dainang menangis??pernah tanya??
    hmm…saya rasa…meskipun ada masalah tuhor atau sinamot toh itu dipake untuk biasa pesta pernikahan..bukan tu foya2 keluarga perempuan!! dan pasti jauh di lubuk hati orangtua ada cinta dan kasih untuk putrinya…jadi ga tepat bahasan tuhor ini!!!

    itu menurut saya,.maaf kalau kata2 saya ada yg tidak berkenan…
    terima kasih..
    Tuhan Yesus memberkati…

  42. pareman on November 18, 2012 at 12:59 am

    ai dia do amang pandita on,,,,na asal2 pandita do….?
    Orang menangis bukan hanya karna sedih amang…mengenai ulos saat pelepasan putrinya,,,orang tua wajar menangis,,,terharu campur sedih dan bahagia.
    Itu ibarat kita kehilangan orang tua untuk selamanya,,kenapa kita harus menangis,,? Bukan nya harusnya kita senang..karna dari sisi alkitab bahwa itulah jalan menuju kerajaan sorga. Tapi ingat amang kita itu masih manusia,,,dibalik tangisan itu ada kebahagian. Mengenai lagu borhat ma dainang. Menurut amang lagu apa yang cocok,,,poco2 kah atau cucak rowo,,atau barang kali lagunya boyband. Dimana yng salah dlam konteks nya.
    Borhat ma dainang
    Tubuan anak ho inang tubuan boru.

    Spertinya itu sebuah restu orang tua kepada anak nya.
    Yang pasti amang,,,, tidak ada adt yang membuat masyarakat nya sesat.

    Amang perlu belajar sejarah gereja di tanah batak,,,

    Kenapa Nomensen bisa diterima di tanah batak

  43. imelda on March 6, 2014 at 7:44 pm

    Wktu sya menikah saat pemberian ulos hela sempat mw di iringi dengan lagu ” borhat ma dainang ” -tp sma bapauda saya dilarang alasan ny ini pesta sukacita tidak ada airmata ( menangis )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*