Perundingan Alot Itu Akhirnya Selesai Juga

December 4, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

main-di-kasur-1.JPG

Ini adalah perundingan paling alot dan panjang dalam keluarga kami. Dan kemarin perundingan itu akhirnya selesai juga dengan sebuah kesepakatan bulat. Soal apa? Hadiah ulang tahun! Ya kado ulang tahun anak-anak!

Pada mulanya kami mempunyai kesepakatan dengan anak-anak bahwa mereka boleh merayakan ulang tahun di sekolah sekali dalam dua tahun, atau pada saat umur ganjil (5,7,9 dan seterusnya). Jika ulang tahun genap maka tidak ada pesta di sekolah atau di restoran cepat saji (dengan mengundang teman-teman sekolah), namun cukuplah sebuah kue tar di rumah tanpa mengundang siapa-siapa. Inilah hasil kompromi maksimal yang bisa kami lakukan dengan anak-anak di jaman super canggih ini. (Catatan: sewaktu kecil saya tidak pernah memestakan ulang tahun di sekolah!). Kesepakatan itu berjalan dengan baik.

Namun setelah anak-anak mulai besar, saya dan Martha membujuk mereka agar tidak lagi memestakan ulang tahunnya di sekolah apalagi di restoran cepat saji. Alasan kami banyak anak tidak bisa membuat pesta ulang tahun dan kita harus ikut bersimpati dengan mereka yang kekurangan. Alasan lain: mending uangnya dipakai untuk membeli kebutuhan yang lebih berguna: sepatu, tas atau baju misalnya dan sisanya ditabung. Kika, Nina dan Wili (saya pikir faktor utama karena iming-iming uang kado ultah itu) setuju.

Berapa jumlah kado-nya? Saya (tanpa berpikir panjang) langsung mengatakan besar hadiah kompensasi tidak ada pesta itu adalah sesuai umur kali seribu bagi dua. Memakai rumus: 1/2 u x Rp 100.000. Jadi kalau umurnya tujuh maka hadiahnya Rp 350.000.  Jika umur delapan: kadonya Rp 400.000,- Tentu saja uang itu tidak diberikan bulat-bulat namun tetap disimpan Mama dan bisa dibelanjakan kapan perlu. Hitung-hitungan saya hadiah itu cukup “wajar dan rasional”, bahkan masih lebih murah dari biaya mengadakan pesta ulang tahun yang paling sederhana sekali pun dengan mengundang tiga puluh anak.

Namun berhubung kesepakatan awal itu tidak tertulis dan hanya merupakan keputusan saya pribadi maka dengan mudah terjadi penyimpangan. Saat Nina ulang tahun ke delapan dia protes dan menuntut keras agar hadiah ulang tahunnya sama dengan kakaknya. Alasannya: agar adil. Dan entah kenapa saya bisa mengiyakannya. Mengetahui adiknya mendapat hadiah sama dengan dia, Kika otomatis protes keras juga. Dia mengingatkan kesepakatan awal bahwa pesta ulang tahun sebenarnya hanya dilakukan pada usia ganjil, dan hadiah uang itu adalah kompensasi peniadaan pesta. Martha angkat tangan. Saya benar-benar bingung tidak tahu menyelesaikannya. Namun syukurlah, berhubung pesta ulang tahun anak-anak masih cukup lama, saya merasa masih bisa “membeli waktu” dan mengatakan agar masalah di-pending saja.

Begitulah berminggu-minggu dan berbulan-bulan masalah kado ultah itu terkatung-katung tidak tertuntaskan. Namun sekarang ini sudah bulan Desember. Bulan depan Kika ulang tahun dan bulan berikutnya Nina, dan lantas Wili. Itu artinya masalah kado ulang tahun ini mesti dibereskan sekarang juga. Jika tidak keadaan akan kacau. Tapi bagaimana? Kika dan Nina sama-sama keras pada prinsipnya. Kika memakai argumen: kesepakatan awal. Nina memakai argumen: keadilan.

Di mobil dalam perjalanan dari Bandara menuju rumah kemarin perundingan dibuka lagi. Namun tetap tidak ada kesepakatan. Saya bertanya bagaimana pendapat Wili. Si bungsu itu mengatakan condong kepada pendapat Kika: kado sesuai umur. Yaitu rumus: 1/2 U x Rp 100.000. Tapi dia bertanya: kalau umur 60 tahun Wili dapat berapa? Kami semua tertawa. Ya batasnya sampai tamat SMA saja, atau umur 18, kata saya. :-)

Kalau begitu bagaimana pendapat Mama? Martha sambil menyetir mobil berpikir lama. “Jujur, sebagai seorang ibu, kalian semua sama, sebab itu Mama berpendapat agar kado sama besarnya.” Nina bersorak mendapat dukungan dari Mama. Kini posisi seimbang dua versus dua. “Bagaimana Bapak?” tanya Nina. “Awas lo, kalo Bapak kasih kado tidak sama, Nina nggak mau teman ama Bapak” ancamnya dengan mimik serius. Saya tertawa. Saya tiba-tiba sadar bahwa posisi saya sekarang sangat menentukan untuk pengambilan keputusan. Sebenarnya hati saya lebih condong kado diberikan menurut umur. Menurut saya keadilan itu bukan sama rata sama rasa, tetapi juga pengakuan kepada siapa yang lebih dulu. Tapi saya tidak ingin anak-anak ini ada yang merasa tidak didengarkan.

Akhirnya karena pusing tidak tahu menyelesaikan dan tidak mau juga disalahkan apalagi dituduh memihak, saya melempar lagi masalahnya kepada mereka. “Pokoknya kalian bertiga berunding dan membuat kesepakatan. Jika tidak mau sepakat ya semua kado ulang tahun ditiadakan. Semua dapat nol.” kata saya mulai sengit. “Pokoknya anak-anak Bapak dan Mama harus bisa berunding dan membuat kesepakatan. Pesan Bapak: semua harus merasa menang. Kika menang. Nina menang. Wili menang. Semua senang.” Kami tiba di rumah. Perundingan terhenti. Namun saya masih sempat mengulangi: “pokoknya kalian berunding. Jika semua ngotot maka semua akan rugi.” Saya pun makan malam dengan Martha. Sementara kayaknya anak-anak melanjutkan perundingan di kamar dan gagal.

***

Besok siang. Ketika saya sedang mengetik dan Kika dan Nina makan siang, saya dapat laporan bahwa deal atau kesepakatan ternyata sudah tercapai. Syukurlah kata saya gembira dan lega. Bagaimana, Nina saja yang laporkan, kata saya. Sambil senyum lebar Nina memberitahu hasil perundingan. “Mulai tahun depan semua kado sama besarnya. Tapi tahun ini Kika dapat pengganti Rp 100.000. Tapi Kika memberi Nina Rp 10.000. Oke?” Saya tertawa geli. Bagaimana Kika? Si sulung mengangguk. Namun tiba-tiba Wili datang dengan muka cemberut. Saya tiba-tiba sadar bahwa rupanya si kecil ini tidak dilibatkan dalam kesepakatan. Kika dan Nina membela diri mengatakan “kata Wili kan terserah Kika dan Nina”. Saya menggeleng. Tidak bisa. Semua harus merasa menang termasuk Wili.

Saya menawarkan solusi: “oke mulai tahun depan semua kado sama besarnya. Tapi tahun ini Kika dapat tambahan Rp 100.000. Dari uang “kompensasi” itu Kika menyisihkan “komisi” ke Nina Rp 7500 dan ke Wili Rp 7.500. Jadinya Kika dapat Rp 85.000″. Selanjutnya tahun depan semua kado sama jumlahnya. Kika setuju. Nina diam sebentar kemudian mengangguk. Wili menerima. Saya bersorak dalam hati berhasil menyelesaikan masalah berlarut-larut ini. Namun tunggu dulu: Mama belum pulang dari kerja di Rumah Sakit. Ini baru kesepakatan kami berempat. Apa pulak nanti kata si Mama? Oh repotnya eh indahnya hidup ini. :-)

Share on Facebook

7 Responses to Perundingan Alot Itu Akhirnya Selesai Juga

  1. Ninggor Pardede on December 4, 2008 at 9:49 am

    Ancaman yang paling menakutkan dari sang pemimpin “Semua dapat nol”.
    Hahaha takut ah mending sepakat aja walaupun tdk sepakat.

  2. Gerda Silalahi on December 4, 2008 at 10:19 am

    bang, adik2 bisa dibukain tabungan pendidikan niaga (niaga junior). anak2 bisa belajar menabung sendiri ke bank, punya kartu atm sendiri.

    Daniel Harahap:
    Thx infonya. Kupikir tadi tidak ada lagi bank yang mau menerima anak-anak. Namun soal tabungan itu masalah lain lagi. Pulang dari Bekasi nanti kutuliskan apa yang terjadi. :-)

  3. nysiahaan on December 4, 2008 at 11:14 am

    He he he kalau usia sampai 60 thn siapa pulak yg akan memberikan hadiahmya?, calon2 demokrat sejati

  4. samS on December 4, 2008 at 11:30 am

    memang kalau menghadapi anak2 pusing2 enak, kadang dipikir lucu juga apalagi anak2 sekarang ini sangat kritis dlm berpikir. Seperti yg amang bilang kalau keadilan bukan diukur dari jumlah dan rasa. Pernah anak saya yg pertama laki (10 thn) ulang tahun lalu ia minta kado sepeda memang sepeda yg lama sdh kekecilan saya menyetujui krn sepeda tsb dipakai juga kesekolah lalu adiknya perempuan (5 thn) protes krn saya blg sepeda lama dia pakai. Tiba saatnya membeli siabang sdh memilih sesuai dgn selera dan dana yg tersedia dan adiknya juga sibuk memilih sambil dia pegang tangan saya dan membujuk saya, saya sdh panjang lebah memberi penjelasan tapi tdk mau mengerti. Setelah si abang sdh dpt maka kami pulang setelah sampai dirumah si adek langsung masuk kamarnya dan menangis di balik pintu hati saya langsung terenyuh lalu saya panggil dan saya peluk dia sambil menangis dia bilang papa aku kan bln depan ulang tahun sekarang aja beli dan kalau uang papa kurang ditambahin pakai tabungan aku aja katanya sambil menangis, krn hati saya juga udah meleleh melihat dia akhirnya kami kembali lagi ke toko untuk membeli sepeda dan ia berjanji pd saat ulang tahunnya tiba tdk perlu dirayakan. Ya seperti amang bilang itulah indahnya hidup. Tuhan memberkati keluarga amang.

  5. exaudi on December 4, 2008 at 2:13 pm

    Menyenangkan membayangkan semua itu bisa terjadi. Sama menyenangkannya saya hari ini setelah mengakses lagi situs baru http://www.tanobato.wordpress.com. Ada kartun dan karikatur orang Batak, dan juga HKBP. Perlu mikir juga sebentar supaya bisa paham (mungkin harus begitu menikmatinya ya?). Ada juga ide segar untuk HKBP. Menarik juga! Kartun dan karikaturnya berwarna, jadi lebih segar ‘nge-lihatnya. Amang DTA sudah pernah akses?

    Jadi tambah daftar wajib mengakses situs bermutu.

  6. Rudi Juan Carlos Sipahutar on December 5, 2008 at 4:32 pm

    Selamat merayakan kasih tanpa syarat…
    memberi tanpa syarat…..

  7. ria on December 12, 2008 at 8:35 pm

    wah senang sekali punya anak yang luchu…
    dan anda bisa mengajarkan mereka adil…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*