Dua Kejadian Di Kampung Kami

December 1, 2008
By

Oleh: Erwinthon Napitupulu

 

kampung-buka-tanah-lembang.JPG

Selasa Malam, 25 November 2008

Minggu ini di kampung kami ada dua kejadian menyedihkan.

Kejadian pertama, Mang Mumu kehilangan satu dari dua ekor sapinya. Sapi perahnya sekarat hari Jumat lalu. Dan seperti kebiasaan di kampung, ketika sapi sekarat, jagallah yang bekerja mengambil nyawanya. Daripada keburu mati, sapi yang sekarat masih bisa dihargai 4,5 juta, hanya sekitar 30% dari harga pasaran seeokor sapi perah sekarang, 13 jutaan.

Awal bulan ini Mang Mumu masih memiliki 3 ekor sapi. Dan sebenarnya dengan tiga ekor sapi, ia bisa memperoleh pendapatan yang cukup meskipun minim untuk menghidupi keluarganya. Namun minggu pertama bulan ini ia harus merelakan seekor sapinya untuk dijual, untuk membiayai pengobatan ayahnya, Aki Ena (79 tahun), di rumah sakit AURI Ciumbuleuit. Minggu pagi, saya sempat mengamati Mang Mumu mengangkut rumput makanan sapi dari kebon kami. Ia kelihatan murung. “Kehilangan sapi, bagi pemilik sapi yang mencari nafkah dari perahan susu, tidak kalah menyedihkan dari kehilangan anggota keluarga”, begitu salah seorang keponakan Mang Mumu bilang. Saya bayangkan hari2 ke depan mungkin Mang Mumu harus mencari cara bagaimana dengan penghasilan dari seekor sapi perah ia bisa menghidupi keluarganya.

Kejadian kedua, Aki Ena meninggal Senin malam kemarin. Tadi pagi jenazahnya dimakamkan tidak jauh dari rumah kami. Anak2nya sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Tiga puluh enam hari yg lalu Aki jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dan sekitar dua minggu lalu saya menjemput Aki Ena dari rumah sakit. Tadinya saya membayangkan Aki bisa dengan wajar dibawa pulang ke rumah dengan kijang lama saya. Ternyata dugaan saya keliru. Aki sudah terlalu payah, dan keluarganya sudah tidak sanggup membiayainya lagi. Saya sempat ingin minta tolong ambulans rumah sakit itu saja yang mengantar, tapi tidak jadi. Satu2nya ambulans yang ada di sana adalah ambulans super mewah–belum pernah saya melihat langsung ambulans semewah itu–yang menurut perkiraan saya, minimal digunakan untuk pasien setingkat jendral. Daripada sakit hati ditolak atau dikenai biaya sangat tinggi, akhirnya kembali kembali ke rencana awal. Tubuh Aki dibaringkan dan dipangku be-ramai2 di bagian belakang mobil. Di tengah hujan yg sangat deras kami membawa Aki pulang ke kampung. Mobil tua saya pun beranjak naik curam 400m ke atas, dengan diisi 9 orang. Orang di kampung kami memang selalu melaksanakan sesuatu ramai2. Kami berangkat ber-5, dan ternyata di sana sudah ada 3 orang lagi. Aki dirawat di rumah sampai akhir hayatnya tadi malam. Dan sebagai seorang cucu langsung dari “pembuka” kampung kami, cukup banyak yang melayat.

Barusan saya merenung. Sore tadi ada sedikit diskusi di milis menyoal pajak di negeri ini. Beberapa hari sebelumnya saya juga sempat mengikuti diskusi di milis lain menyoal pajak. Pantaslah saya agak berang dalam diskusi sore tadi. Dua kejadian menyedihkan di kampung kami mungkin membuat saya kesal. Aki meninggal dalam usia lanjut, 79 tahun. Tetapi dalam kemiskinan, meskipun di tengah anggota keluarganya. Sangat mungkin banyak kejadian yg lebih menyedihkan terjadi di banyak tempat negara ini.

Saya membayangkan sudah cukup banyak Aki memberi hal positif bagi kehidupan. Ratusan kali dia sudah menanam sayuran, berjalan kaki memikul dan menjualnya langsung ke daerah Pasar Baru Bandung, sekitar 15 km dari tempat kami, pada sekitar tahun 70-an. Bandung masih sepi, katanya. Ketika kecil dia juga sering melihat tentara lewat kampung kami. Pun anak2nya pernah cerita, kalau di masa mudanya Aki pernah ikut berjuang bagi negeri ini.

Mungkin juga sudah ribuan bungkus rokok dia isap dan berbagai produk lain dia pakai dengan cukainya sudah masuk ke kas negara. Tapi mengapa, untuk orang yang sudah sepuh seperti itu, yg sudah memberikan banyak pemasukan bagi negara, baik secara langsung, atau tidak langsung (sayuran2 dia sebagian juga masuk ke supermarket, lewat tengkulak), tidak ada layanan yang layak yg disediakan negara di akhir hidupnya? Ini baru satu contoh. Ada sangat banyak contoh yang membuktikan bahwa pemanfaatan dana pajak di negara ini masih kacau balau. Anak2 kampung kami banyak yg putus sekolah, air tidak ada di musim kemarau, bayi2 lahir tanpa akta lahir, mengurus macam2 surat IMB/sertifikat/ dll masih dikontrol oleh birokrat pemangsa, tidak ada jaminan kesehatan bagi warga2 yg dikelaskambingkan spt warga kampung kami, departemen pertanian mandul bin impoten, dll. dll. dll.

Jadi, sampai sekarang saya kembali ragu dan belum tahu gunanya saya mengurus NPWP dan membayar pajak.

Horas!
Erwin

NB.
Sehari setelah saya mengirim tulisan di atas ke tiga milis, seorang yang belum saya kenal sebelumnya mengirim email menyatakan ia ingin meminjamkan uang agar Mang Mumu bisa membeli seekor sapi, dengan pengembalian yang tidak mengikat. Dan Jumat kemarin ia mengirim uangnya. Siang harinya saya mendatangi keluarga Mang Mumu. Istrinya menangis menerima berita itu, karena sebelumnya mereka sudah bingung dan sudah memutuskan kalau Ujang, anak mereka akan berhenti sekolah demi mencari tambahan pemasukan keluarga. Karena akhirnya mereka bisa lagi membeli seekor sapi, rencana itu dibatalkan. Kawan yang baik hati itu sangat bersyukur mengetahuinya.

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

4 Responses to Dua Kejadian Di Kampung Kami

  1. Hedmon Tampubolon on December 2, 2008 at 1:08 pm

    Pertolongan Tuhan akan tiba dengan tidak diduga. Ajaib dan besar kasih Tuhan pada kita.

    Doa: orang2 yang dalam situasi terjepit dan tertekan beban berat.

  2. Monang Sirait on December 2, 2008 at 10:26 pm

    Itulah kondisi bangsa kita Amang! Pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri atau kelompoknya! Semoga Pemimpin rohani/ rohaniwan juga tidak begitu ya amang!

  3. MM Timbo on December 3, 2008 at 8:23 am

    gunanya mengurus NPWP dan membayar pajak,
    Melaksanakan firman Tuhan yaitu : berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar.

  4. Saurdot on December 3, 2008 at 9:34 am

    Beragam lagi kejadian seperti cerita di atas kalau disisir. Pelayanan publik di negeri harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Saya salah satu pelayan publik yang harus bertanggung jawab. :-( Maafkan kami. Kami sedang berusaha lebih baik lagi. Mudah2an kami tidak memakan gaji buta!
    Hal seperti ini sebaiknya dilaporkan ke: Kantor Ombudsman Republik Indonesia! Melalui e-mail: ombudsman@ombudsman.go.id atau fax dengan nomor (021) 7258579 atau paket surat dengan alamat Komisi Ombudsman Nasional, Jl. Aditiawarman 43 Kebayoran Baru Jakarta 12160.
    Semua kita ingin lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*