Renungan Adven Pertama
Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Pukul 17.09. Saya sedang berada di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta menanti-nantikan panggilan keberangkatan pesawat Batavia ke Palembang. Semoga tidak ada keterlambatan atau pelambatan jadwal pesawat, kata saya dalam hati, agar Martha dan anak-anak tidak kemalaman menjemput di bandara dan kami masih punya waktu bermain sejenak. Sebenarnya saya ingin tidak dijemput mengingat jadwal yang tidak pernah pasti, namun ketiga anak itu memaksa harus menjemput bapaknya, dan saya mengalah. Ya sudahlah. Semoga hari ini cuaca baik, doa saya, sebab sudah tiga hari Palembang diguyur hujan deras.
Menunggu jam keberangkatan saya menghabiskan waktu meng-cropping foto-foto altar gereja kami yang saya ambil tadi pagi pukul enam pagi. Didominasi warna ungu, altar gereja kami tampak agung dan menyimpan misteri. Di atasnya menyala sebuah lilin menyimbolkan penantian yang sangat panjang. Yaitu: penantian umat Perjanjian Lama selama ratusan tahun akan kedatangan Kristus yang dijanjikan. Sekaligus penantian gereja masa kini akan kedatangan kembali Tuhannya kelak. Saya merasa terhisab ke dalam penantian iman itu. Kami sekeluarga pun sesungguhnya sedang menanti-nanti atau ber-adven. Satu hal yang kami nantikan: agar Martha bisa segera menamatkan studinya dan kami berlima tinggal serumah lagi. Penantian lain yang lebih panjang: anak-anak dewasa dan mandiri serta kami hidup lebih sejahtera. Juga sejumlah penantian kecil bercampur mimpi, angan dan humor: angsa-angsa bertelur, pohon yang saya tanam besar dan rindang, Kika dan Nina sudah waktunya dibelikan ponsel agar bisa tetap kontak setiap saat, tabungan anak-anak penuh, kami sekeluarga bisa liburan ke luar negeri dan banyak lagi.
Saya terpikir bahwa kawan-kawan dan saudara-saudara saya juga sedang menanti-nanti. Tadi pagi saya mendengar Theresia Hutasoit, ibu dari dua anak, guru sekolah minggu kami sedang diopname karena DBD. Sementara suaminya, Todung Siagian, penatua dan sahabat saya, tetap setia memimpin korps musik tiup melayani ibadah di gereja. Saya dapat merasakan bagaimana gundahnya perasaannya. Namun dia tetap setia melaksanakan tugas panggilan ibadah dia tabah, dan setelah kebaktian minggu mengajak kedua anaknya besuk. Biarlah lilin di altar ini menyatu dengan doa mereka sekeluarga.
Ungu adalah warna pengharapan dan bukan kesedihan apalagi keputus-asaan. Penantian kita adalah penantian berdasar harapan. Di minggu Adven ini saya teringat kepada dua pasang rumah tangga yang saya layani pernikahannya beberapa tahun lalu namun sampai saat ini belum dikaruniai anak. Beberapa kali mereka mengirim email kepada saya meminta doa. Oh Allah dengarkanlah kerinduan hati mereka yang merebah ke tanah memohon belas kasihanMu, doa saya saat menatap altar ungu berbunga putih dan lilin berseri. Tiba-tiba saya teringat, pasangan yang juga saya layani pernikahannya, namun kini terancam perceraian. Tuhan, maukah Engkau datang memulihkan kemelut pernikahan anakMu?
Seminggu lalu seorang anggota jemaat memberitahukan saya bahwa dia sudah di-PHK dari perusahaannya bersama ratusan buruh lain. Dan katanya dalam waktu dekat akan ada gelombang PHK di kawasan Tangerang Banten. Itu artinya pasti ada banyak warga jemaat HKBP di kawasan ini yang langsung terhempas. Dampak krisis global! Oh Tuhan! Sebab itulah kemarin Sinode Distrik 21 HKBP sudah memutuskan agar semua jemaat di distrik ini mendirikan credit union atau koperasi simpan-pinjam serta membentuk komisi beasiswa, sebagai salah satu ungkapan solidaritas gereja dengan warga jemaat dan masyarakat yang miskin dan paling terkena dampak krisis global ini. Namun apakah artinya itu dibandingkan dengan banyaknya masalah dan penderitaan warga? Saya tiba-tiba merasakan cahaya lilin adven yang bernyala di altar gereja hari ini adalah lambang setitik pengharapan di tengah sejuta masalah dan penderitaan. Betapa pun kecilnya cahaya pengharapan itu begitu penting agar kita tidak putus asa dan apatis.
Saya masih duduk termangu di ruang tunggu bandara. Saya tidak tahu berapa lama lagi saya harus menunggu pesawat yang akan menerbangkan saya ke Palembang, berjumpa dengan Martha dan ketiga anak kami. Namun sore ini saya tetap duduk tenang menantikannya. Saya ingin memakai waktu penantian ini untuk berdoa. Dalam keheningan. Dengan keikhlasan.
Selamat Adven untuk kita semua. Khususnya untuk Juan dan Mika yang sedang berdoa menanti mamanya segera pulang dari opname di Rumah Sakit.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Jujur, saya tidak mendapatkan kesan Advent seperti tulisan ini kemarin di gereja kami.
Terima kasih.
Terima kasih amang atas renungannya, sangat relevan dengan kondisi kekinian, memang benar amang kondisi saat ini terutama dalam bidang perekonomian cukup mengkhawatirkan. Saya akan mendukung dalam doa tentang rencana program beasiswa dan CU yang akan dilaksanakan oleh Distrik XXIII, serta berharap gereja lainnya juga mengikutinya. Semoga dengan demikian HKBP dapat berbuat lebih banyak lagi untuk warga dan juga untuk bangsa. Kalau di HKBP Solo, hingga saat ini gagasan untuk pembentukan CU dan diskusi dengan warga gereja yang berprofesi sebagai “pardalan-dalan” yang pernah kami lontarkan di rumametmet ini, belum ada yang “mau”, semoga di tahun 2009 yang akan datang mereka mau. Marilah kita saling mendoakan amang.
Salam dan doa kami juga kepada lae Kel. St. TR. Siagian, semoga isteri beliau lekas sembuh.
Amang DTA….tentang PHK, kita warga HKBP dan tentu HKBP sendiri harus bahu-membahu untuk mengantisipasi dampak PHK terhadap karyawan warga HKBP. Kemarin minggu…saat menjemput anak saya di sekolah minggu yang berlokasi di jl. Lombok Bandung, teman saya Ir. Ronald Butar-butar (sekjen ama HKBP Bandung Riau) berbisik kepada saya bahwa ayah salah satu anak sekolah minggu, baru di PHK dari pabrik.
Bandung coret merupakan lokasi dari banyak pabrik dan tentu banyak juga warga HKBP karyawan di tempat tersebut dan potensial untuk kena PHK.
Jika advent I ini adalah namanya penantian, kemarin di gereja pendeta saya bilang spy advent I (Jes 60:1-7) ini dimanifestasikan utk lingkungan. Saya mengeluh dgn kotbah ini, apa makna minggu advent pertama ini hanya begini saja? Tapi saya adalah manusia yang sangat rendah dan berdosa. Bgmnpun pendeta adalah bibir Allah bukan?
Pagi ini jika penantian itu adalah advent, aku hanya ingin berdoa semoga apa yang dinantikan kedua kakakku bisa tercapai
semoga mereka bertemu pasangan hidup mereka. Sama seperti doa-doa orang yang mengharapkan yang terbaik untuk sekitar mereka, dan semoga Allah dan orang2 yang memberikan doa ini memiliki perspektif yang sama, timing yang sama juga kali ini
(sedikit memaksa..)
Mauliate Amang untuk pagi ini..
Tidak seperti seperti kesan Advent I Amang DTA, acara Advent I di HKBP Tj. Sari-Medan, benar-benar hancur. Acara yg disiapkan dari Distrik (sekaligus ultah Distrik X medan-aceh) dominan dengan Ende dari Suplemen (yg belum begitu akrab di jemaat), song leader juga tidak ada persiapan, sangat mubazir dengan kelengkapan alat musik (drum, saxaphone, gitar, bas, poti marende, keyboard) yang ada di gereja yg hampir megah (karena blum selesai) serta anggota koor ama (yg saya termasuk di dalamnya) yg selalu protes dgn suara nyaris terdengar di seluruh isi gereja jika ada kekurangandan dengan pendeta berkhotbah (sbenarnya isi khotbah menarik) dengan menyisipkan kampanye walau hanya sekilas (katanya beliau calon DPD yg sdh direstui pucuk pimpinan HKBP??????????) Kesan Apa yang saya dapat??????????????
Seorang ponakan diminta berdoa sebelum pulang dari rumah saat kunjungan mereka kemarin sore. Papanya yang juga seorang pendeta, meminta agar dalam doanya ‘uda dan inang uda-nya’ diberi berkat hadirnya seorang anak sebagai buah kasih kami. ‘Saya sudah dua kali berdoa untuk itu, tapi TUHAN belum kabulkan, ya.’ Saya hanya tersenyum kecut sambil berdoa dalam hati, “TUHAN, beri kami kesabaran menantikan belas kasih-MU. Walau telah melewati masa enam setengah tahun hingga saat ini, kami takkan putus menantikan pintu surga-Mu terbuka mengabulkan doa-doa kami dan orang yang mencintai kami. Amin.”
SELAMAT ADVENT. MARI NAIKKAN NYANYIAN BARU BAGI TUHAN!
Satu hal yang ingin saya tambahkan dalam hal penantian (advent) adalah fokus. Kita harus memfokuskan diri terhadap apa yang sedang kita nantikan. Seekor keledai yang jatuh ke dalam lobang berhasil keluar karena dia memfokuskan dirinya terhadap apa yang diinginkannya (dinantikannya) sambil terus berusaha. Apalagi kita manusia…
saya jg berdoa semoga Advent kali ini memberi kita semua kekuatan utk menjalani apapun itu yg terjadi wlupun untuk saat ini tidak sesuai dgn harapan.. terimakasih Amg mengajarkan bagaimana tetap tenang dan tetap berharap di masa-masa Advent ini..
Advent pertama saya tidak bisa beribadah di gereja. Sebenarnya hal ini sudah lama saya nantikan setelah saya membaca tentang makna advent yag sebenarnya di blog ini. Saya berencana untuk membawa kegalauan hati,penantian saya selama ini di masa advent ini. Kemarin saya mencoba meng excuse diri sendiri untuk kealpaan saya beribadah. Saya harus bekerja , mencoba mencari langkah2 yang harus kami lakukan supaya perusahaan tetap survive dan terhindar dari gelombang krisis sehingga kami tidak perlu mengurangi karyawan. Tidak boleh ada PHK. Tapi sepanjang hari selama meeting saya merasakan kesedihan yang luar biasa atas kealpaan saya di advent I ini ditambah lagi saya tidak bisa menjenguk dan menemani saudara yang kebetulan diopname di Rumah Sakit.
Saya hanya berharap kealpaan saya tidak akan mengurangi masa2 perenungan dan penantian selama masa advent ini
To my sister in law, get soon well and you know we all love you.
Advent…yang selalu kutunggu dengan lagu “Paruak ma harbangan i…” kemarin di nodai oleh kotbah yang tidak ada hubungannya dengan Adven… ditambah ibadah tadi pagi di kantor kami tentang nyanyian baru diAdven I melengkapi penderitaan batin pendengar dengan renungan yang marrambalangan alias menghukum setiap pendengar.. gila! hari gene masih ada renungan spt itu….Untunglah ada tulisan ini.. Salut buat amang DTA….
Kalau di dstrik amang sudah digalakkan program CU… artinya ada dong beberapa diakones yang ditempatkan disana yang siap berjibaku… meski salah satunya dari mereka bukan aku… tapi kutahulah siapa yang bertalenta ke sana…he…he….
Daniel Harahap:
Koreksi: Sinode Distrik XXI baru memutuskan tanggal 29 November kemarin. Memang ada satu jemaat di distrik XXI yang telah melaksanakannya yaitu HKBP Kelapa Gading.
Adven tahun 2008 di HKBP Palembang berjalan dengan baik dan agak lengang, mungkin karena malam minggu hujan sehingga banyak jemaat yang tidak bisa mengikuti kebaktian. Masa penantian yang panjang yang harus diisi dengan kehidupan yang sesuai dengan Firman Tuhan sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Daniel Harahap:
Saya dengar kabar burung pohon natal sudah dipasang, dan pucuknya hilang. Benarkah?
membaca tulisan ini membuat hati ikut terhanyut dan syahdu. selamat adven.
doaku untuk kak theresia supaya cepat sembuh. amin.
Warna Altar yang ungu berarti pengharapan yang ragamnya banyak, tergantung masalah2 yang dihadapi. saya membaca cerita Pdt DTA ada yang belum mendapatkan anak, ancaman perceraian,PHK dan ada lagi Naposo yang belum sadar akan masa sulit sekarang, mala-malas kuliah, dsb. Dalam rangka PHK pendapat saya Gereja sudah segera menyikapinya yang dapat dilaksanakan dalam program 2009 yaitu dalam program Diakonia. Gereja sudah harus mempunyai suatu wadah usaha sebutlah Koperasi yang dapat dikelola secara komersil, membantu jemaat berupa pemberian kursus yang siap pakai, membantu permodalan dan sumber pendanaan Koperasi dapat digalang melalui Jemaat yang mampu. Bila Gereja sungkan memasukkan koperasi dalam program Diakonia, pengelolaanya dapat diberikan ke Koor Ama / Jemaat pengusaha dan pelindungnya/pengawasa,/legalitasnya tetap dilakukan oleh Gereja.
Pertanyaan:
Apa, bagaimana, dan siapa dapat mewujudkannya segera?
Terima kasih atas doa2nya Amang, juga buat Gerda dan amang JP Manalu yang turut mendoakan kami. Puji Tuhan, saya sudah bisa pulang dari RS kemarin siang dan hari ini sudah mulai masuk kerja walaupun masih sedikit lemas.
Selamat Adven buat semua, marilah kita naikkan doa-doa dan penantian kita kepada Tuhan yang baik.
“Sementara suaminya, Todung Siagian, penatua dan sahabat saya, tetap setia memimpin korps musik tiup melayani ibadah di gereja.”
Parulian : Saya teringat guru koor kami yang tetap setia melayani setiap jumat malam, sementara istrinya dirawat karena DBD, bahkan beliau sendiri sedang sakit. Trimakasih lae elumban…..upahmu besar di surga.
masa advent…masa pengharapan…….
Begitu banyak masalah yang telah dihadapi oleh aku sendiri dan lingkunganku………
Semoga di saat adven yg indah ini, pengharapan akan datangnya Sang Juruslamat membawa kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya buat kita semua. Amin
Selamat Advent, mari kita menanti dengan sukacita.
Hidup dengan harapan yang pasti adalah ciri-ciri dari orang Kristen. Jadi wajar amang memiliki harapan yang indah demi masa depan pribadi dan keluarga. Kita semua memiliki mimpi dan harapan. Itu semua membuat kita hidup lebih semangat untuk menorehkan prestasi. Semoga damai sejahtera dan limpahan kecukupan dari Tuhan Yesus menjadi milik kita semua. amin.
Berbahagialah orang2 yang mau dilatih oleh pelatih yang berkomitmen yang sangat tinggi.
Buat Lae Elumban, upah mu besar disorga seperti pengharapan lae Parulian Pangaribuan. Tetaplah berkarya lae, dan buat ito (istrinya elumban) doaku besertamu ito. Cepat sembuh ya.
@Lae Ninggor Pardede
Lae juga adalah salah seorang di antara mereka yang memiliki komitmen tinggi dalam pelayanan, utamanya paduan suara. Saya telah saksikan, lae menginggalkan apa pun itu demi komitmen pelayanan. Apalagi saat menjelang Natal ini, mungkin ada sekitar 5 (lima) paduan suara yang lae latih dengan pengaturan waktu yang sangat baik. Bahkan tiga diantaranya diselesaikan setelah pulang kantor.
Doaku agar Lae tetap sehat-sehat selalu.
Daniel Harahap:
Pesan tambahan utk Lae Pardede: jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah dan selalu cukup istirahat.
Mauliate ditangiang ni lae Saurdot dohot pesan ni amang DTA.
Terima kasih atas pencerahan melalui tulisan amang..
Amang mohon dukungan doanya, karena saat ini saya benar-benar mengalami putus asa.. saya bigung menghadapi suami saya yang otoriter, egois.. saya bigung dan mencoba instrospeksi diri sebenarnya penyebab setiap perselisihan kami.. Amang pendeta saya juga bigung di setiap perselisihan kami.. yang sebenarnya kami tidak pernah beradu mulut yang hebat.. oleh karena itu yang membuat saya putus asa karena saya tidak tahu akar masalahnya namun di setiap suami saya marah, beliau langsung ngambek dan hebatnya beliau mampu ngambek dan diam sampai berbulan2 tanpa berkomunikasi dengan saya sebagai istrinya..Kami sudah menikah hampir 3 thn. Dan sudah tidak terhitung beliau mendiami saya..Saya belum pernah menuntut apapun dari beliau…makanya saya sangat sedih dan putus asa..bagaimana kalau saya menuntut aneh-aneh, kalau saya tidak mengurus anak padahal saya juga bekerja…
Mohon doa dan sarannya Amang pendeta…
Daniel Harahap:
Sementara saya ikut berdoa dulu ya. Tuhan itu baik dan memahami kita secara mendalam.