SURAT TERBUKA KEPADA KETUA RAPAT PENDETA HKBP: TENTANG PERAYAAN NATAL
Ketua Rapat Pendeta HKBP yang terhormat,
Tak lama lagi Natal akan tiba. Dan sejak beberapa minggu lalu gereja – kita para pendeta dan anggota-anggota kita secara pribadi dan kelompok – telah mulai sibuk lagi mempersiapkan diri menghadapi perayaan Natal atau Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ini. Saya pikir kita para pendeta telah memiliki pemahaman yang sama bahwa ada dan banyak yang harus diluruskan dalam perayaan-perayaan Natal di gereja kita dan yang melibatkan anggota jemaat kita HKBP. Satu hal yang paling mendasar adalah menyangkut waktu perayaan natal yang sudah lama sekali – dan kita sadari – menyimpang dari kalender liturgi atau ibadah gereja. Bukan hanya kita pendeta, namun banyak warga HKBP pun sesungguhnya telah menyadari bahwa menurut kalender liturgi gereja saat-saat perayaan Natal atau biasa disebut Masa Raya Natal adalah tanggal 25 Desember sampai dengan 6 Januari (Hari Epifanias). Sebelum tanggal 25 Desember empat minggu berturut-turut kita merayakan Minggu Adven yang mengingatkan kita akan penantian Israel akan Sang Juruslamat dan sekaligus penantian kita akan kedatangan Kristus kedua kalinya kelak.
Kita ketahui dan pahami bersama bahwa minggu Adven pertama kita tandai dengan menyalakan satu lilin. Minggu Adven kedua kita nyalakan dua lilin. Minggu Adven ketiga, kita nyalakan tiga lilin dan minggu Adven ke empat kita nyalakan empat lilin. Keempat lilin itu adalah simbol pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian kita. Masa Adven sebab itu jelas adalah masa persiapan dan permenungan dan belum merupakan saat untuk berpesta Natal. Tanpa ingin menyalahkan siapa-siapa, namun kenyataan menunjukkan bahwa kalender liturgi gereja yang sangat baik menggambarkan sejarah keselamatan, telah menjadi kacau dan berantakan karena ketidaksetiaan kita mengikutinya. Pada minggu-minggu Adven telah terjadi (dan begitu banyak terjadi) perayaan Natal. Akibatnya masa Adven sebagai masa permenungan akan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian pun menjadi hilang maknanya. Contoh yang kita alami hampir saban tahun: pada hari ini kita merayakan natal namun besok minggunya kita kembali merayakan adven dan lusanya merayakan natal lagi.
Dampak lain dari pengingkaran kita akan masa Adven sebagai masa permenungan (dan bukan masa berpesta) adalah Natal pun kehilangan makna sejatinya. Sebab Natal pada hakikatnya hanya dapat dihayati oleh orang-orang yang berharap, bertobat dan bersukacita serta menanti-nanti kepada Kristus. Berhubung kita tidak lagi sungguh-sungguh ber-Adven maka kita pun menjadi tidak serius ber-Natal. Akibatnya Natal pun jatuh menjadi sekadar pesta hiruk-pikuk, seremonial konsumtif dan pemborosan belaka. Itulah yang terjadi selama bertahun-tahun dan kita dengan jujur mengakui ikut terlibat di dalamnya atau membiarkannya.
Ketua Rapat Pendeta Yth,
Pada tahun 2011 gereja kita HKBP akan merayakan Jubileum ke 150 tahun. Menurut kami inilah momentum atau saat yang paling tepat bagi kita untuk kembali kepada kebenaran. Marilah kita memberanikan diri mengambil keputusan untuk kembali ke liturgi gereja, salah satu wujudnya adalah kembali merayakan minggu-minggu Adven sebagai minggu permenungan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian. Sebab itu kami menyarankan melalui Ketua agar Rapat Pendeta HKBP yang akan datang mengambil keputusan yang berani dan ikhlas, kembali kepada kebenaran dan keindahan liturgi gereja.
Secara kongkret: saya menyarankan agar Rapat Pendeta HKBP sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam hal dogma dan ajaran mengambil keputusan melarang semua kegiatan pesta natal di lingkungan HKBP sebelum tanggal 25 Desember dan sesudah tanggal 6 Januari (Hari Raya Epifanias). Sejalan dengan itu maka pemasangan simbol-simbol natal di gereja, antara lain pohon natal, juga baru dilakukan tanggal 24 Desember dan telah diakhiri sebelum tanggal 6 Januari. Saya pikir secara substansial kita semua sepakat bahwa memang itulah sesungguhnya saat-saat perayaan Natal menurut kalender ibadah. Sebab itu yang menjadi persoalan bagi kita adalah bagaimana menjelaskannya kepada warga jemaat agar hal ini dipahami dan diterima. Untuk menghindarkan kekacauan di jemaat-jemaat, saya menyarankan agar keputusan ini dibuat di Rapat Pendeta terdekat, namun pelaksanaannya efektif mulai tahun 2009 atau paling lambat tahun 2010.
Ketua Rapat Pendeta Yth,
Demikianlah surat ini saya sampaikan secara terbuka. Harapan saya sebelum Jubileum ke 150 Tahun HKBP kita telah dapat kembali ke rel yang benar dalam hal merayakan Natal dan Adven ini. Saya percaya bahwa dengan kembali kepada kalender liturgi ini kita HKBP secara khususnya dan umat Kristen umumnya akan mendapat berkat yang berlimpah-ruah dari Allah dan dari AnakNya Tuhan Yesus Kristus melalui permenungan Adven yang tulus dan perayaan Natal yang sungguh-sungguh.
Serpong Tangerang, 11 Oktober 2008
Salam, doa dan hormat kami,
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
(salah seorang pendeta HKBP, kini melayani di HKBP Serpong Tangerang)
Tembusan disampaikan dengan hormat kepada: Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Bonar Napitupulu
Share on Facebook
Bravo!
Mohon maaf sebelumnya. Saya bukan seorang pendeta tapi berusaha (baca: manjugulhon) memberi pendapat.
Ia pandapothu SANGAT SETUJU KALAU PERAYAAN NATAL DIADAKAN MULAI TGL 25 DESEMBER SAMPAI 6 JANUARI.
Mauliate godang. Ditambai angka dongan ma.
Terlepas dari bagaimana nanti tanggapan Rapat Pendeta/Pimpinan HKBP, bagaimana dengan Pak Pendeta sendiri?
Apakah Pak Pendeta akan konsekwen menolak undangan kelompok/persekutuan apa pun untuk memimpin ibadah Perayaan Natal yang diadakan sebelum 25 Desember?
Daniel Harahap:
Menunggu ada keputusan Rapat Pendeta HKBP ada beberapa hal yang saya lakukan:
Pertama: sebagai pendeta jemaat dalam banyak hal saya tidak bisa bertindak sendiri namun harus meminta persetujuan eforus, praeses, rapat pendeta dan rapat majelis. Sebab itu menyangkut perayaan natal yang dilakukan unit2 jemaat HKBP Serpong sebelum tanggal 25 Desember tentu tidak bisa saya tolak, artinya suka atau tak suka akan saya layani. Namun saya akan tetap menyuarakan baik melalui mimbar maupun berbagai kesempatan bahwa perayaan natal yang sesungguhnya harus dilakukan antara 25 Desember s/d 6 Januari. Namun jika tahun 2009 Rapat Pendeta HKBP mengambil keputusan melarang natal sebelum 25 Desember, tentu saja saya akan segera memberlakukannya di jemaat.
Kedua: jika ada permintaan pelayanan kotbah diluar HKBP Serpong sebelum tanggal 25 Desember yang bukan merupakan kewajiban saya langsung tentu akan saya tolak. Namun jujur beberapa bulan lalu saya sudah sempat terikat melayani natal di dua tempat di luar HKBP pada tanggal 8 dan 20 Desember nanti. Tentu saja apa yang sudah sempat saya sepakati di waktu lalu tidak mungkin saya batalkan lagi.
Ketiga: pohon natal di rumah saya akan saya pasang tanggal 24 Desember. Namun berhubung belum ada keputusan rapat pendeta hkbp, tentu saja saya tidak akan melarang pohon natal di gereja dipasang sebelum 24 Desember.
Saya harap pemegang otoritas tertinggi HKBP membaca surat ini dengan hati dan pikiran yang terbuka dan segera menindaklanjutinya.
(Hermin, yang sangat merindukan makna “pengharapan, pertobatan , sukacita dan penantian” )
Daniel Harahap:
Hanya informasi, yang harus menindaklanjuti surat ini bukan Eforus, tetapi Ketua Rapat Pendeta HKBP. Di gereja kita menyangkut ajaran atau dogma pengambil keputusan tertinggi adalah Rapat Pendeta HKBP. Doakanlah dan dukunglah Rapat Pendeta HKBP tidak sekadar membenarkan kebiasaan, tetapi berani memulai membiasakan kebenaran.
Usul amang baik, tapi saya lebih setuju Rapat Pendeta HKBP tidak langsung mengambil keputusan melarang semua kegiatan pesta natal di lingkungan HKBP sebelum tanggal 25 Desember dan sesudah tanggal 6 Januari (Hari Raya Epifanias), melainkan mengambil keputusan terlebih dahulu untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman yang benar kepada jemaat HKBP mengenai hal tersebut.
Daniel Harahap:
Setuju. Jika dibaca surat saya mengusulkan senadainya kepusan diambil namun tetap efektif di tahun 2009 atau 2010. Perlu masa penyesuaian dan penjemaatan agar tidak menimbulkan kekacauan.
Menurut saya persoalannya adalah ketaatan kita pada apa yang kita terima yaitu: Kalender Gerejawi. Kita merayakan Advent, lantas mengapa kita harus “pajolojolohon” merayakan Natal kalau memang di Almanak tertulis Natal baru dirayakan tanggal 25 Desember. Atau supaya kita tidak usah pusing-pusing diatur oleh kalender gerejawi, sepakat saja HKBP tidak usah mempergunakan kalender gerejawi, jadi tidak ada Advent, tidak ada Peringatan orang meninggal, dlsb. Rayakanlah Natal menurut tanggal yang telah kita sepakati dan terima bersama sebagai gereja. Jadi saya setuju kepada amang DTA, kalau HKBP mau kembali ke jatidirinya, ya kembalilah kepada kalender gerejawi dan kepada apa yang telah kita sepakati bersama.
Daniel Harahap:
Supaya lebih komplit kacaunya rayakan saja Paskah, Kenaikan Yesus dan Turunnya Roh Kudus juga di bulan Desember.
Natal memang dirayakan tanggal 25 Desember oleh Kristen Protestan, termasuk HKBP.. Saudara kita di Eropa Timur ( yang beragam Kristen Orthodox) kalau tidak salah merayakan Natal tanggal 7 Januari. Bukan kah yang terpenting adalah Esensi Natal itu sendiri. Bahwa hari itu adalah Hari Kelahiran Dia.. Dan kita merayakannya dengan suka cita, karena pada saat itu Juru Selamat manusia telah lahir, dan nantinya akan mengajarkan kebaikan ke dunia..
Tanggal dan sebagainya hanyalah seremonial… Semangat kasih dalam Natal jauh lebih penting…
Daniel Harahap:
Kenapa tidak merayakan Paskah dan Hari Turunnya Roh Kudus di bulan Desember? Bukankah yang pentingnya esensinya?
Ada-ada saja.
Kenapa tidak merayakan natal tanggal 17 Agustus atau minggu keempat Maret atau cocokkan saja dengan Lebaran?
Setahu saya gereja ortodoks tidak merayakan natal tanggal 7 januari. Tanggal 6 Januari adalah hari raya epifania atau hari raya tiga raja dari Timur baik di gereja ortodoks, katolik maupun hkbp dll sesuai kalender liturgi.
Sejak dulu HKBP sudah setuju dan memahami Perayaan Natal adalah dimulai tgl 25 Desember, dan saya ingat Pendeta kami di kampung setiap memimpin ibadah “natal” sebelum tgl 25 Desember selalu menyapa jemaat dengan sapaan “salamat maradvent ma dihita”. Usul saya kalau memang amang Daniel sudah “terlanjur” menerima bookingan jemaat untuk memimpin ibadah “natal” di bawah tgl 25. Amang kasi usul ama panitianya untuk membuat ayat-ayat liturgi yg isinya sampai BERITA PENGHARAPAN kedatangan Mesias dan tanpa nyanyian Malam Kudus, mungkin bisa diganti nyanyian Adven yg tidak kalah syahdunya. Unang holan sai paimaima sian pusat ate amang.. ai huria pe jongjong, tarlumobi HKBP mamungka sian toru do dungi dilayani pusat. Ra molo da denggan jala dibagasan HASINTONGAN do dang pola ingkon paimaimaon……..
Daniel Harahap:
Menurut saya mengucapkan selamat adven pada saat perayaan natal adalah rancu. Perayaan natal ya perayaan natal. Peringatan Adven ya peringatan Adven.
Sekedar masukan………… Pengalaman tingki pembentukan Panitia Natal Hampir semua anggota/jemaat tahu bahwasanya Natal adalah tanggal 25 Des. dan bagusnya dirayakan sesudahnya. Pertanyaannya : 1. Haruskah Perayaan Natal dibatasi dirayakan di Huria saja tanpa harus ada Panitia Natal Dongan sahuta, marga, sikkola minggu, remaja, Parende Ama, Parende Ina , Instansi, lingkungan kerja, dongan saparmeaman dna.
2. Jika tidak .. Cukupkah waktu dan tempat merayakannya kalau hanya boleh dirayakan dengan interval waktu 26 sampai 7 januari? Sementara kalau kita check di gereja maupun gedung yang biasa buat perayaan mungkin sudah full dari tanggal 1 des sampai (biasanya maks 30 des )
4. Panitia Juga akan kesulitan mencari waktu “Pengkotbah” jika dalam waktu sesingkat itu. Bukankah pada bulan Desember juga ” Pengkotbah” mendapat ” Extra Pelayanan ” alias Full Booking ? Dan juga bagi sebagian orang termasuk warga HKBP barangkali menjadikan perayaan tsb sekaligus Panen Rejeki ( gedung, catering, percetakan, dsb?? )
3. Jika dirayakan di bulan Januari biasanya sudah berubah nama menjadi “Pesta Bona Taon ” yang kadang juga diadakan sampai bulan Maret
4. Saya malah sangat setuju kalau boleh dirayakan ( Natal dan Hari raya juga ) diluar bulan biasanya ( dibagi dua ) sehingga tidak kesulitan untuk actualisasi kehidupan sehari hari cari Tiket Mahal, harga sembako yang melangit dna. Tapi mungkinkah ??
5. Intinya Semua Perayaan Natal (kurang pas kalau perayaan Advent )menginginkan Perubahan kearah KEBAIKAN masalah waktunya jadi maju atau mundur itu barangkali karena kemajuan/kecanggihan zaman………. mauliate
Las roha amang manjaha surat muna on. Ai nang pe so huria ni HKBP iba alai diuju haetekon rodi saonari, sai tontong do sukkun-sukkun di roha taringot tu akka huria-huria na marpesta natal di tikki masa advent. songon na nidok ni amang i, boasa ma ikkon marpestai di tikki masa-masa renungan.
Alai nabinoto, nagumodang alasanna ima asa godang jolma mangihuthon ulaon pesta i.. molo dibaen dung tgl 25 ai nga moru jolma namarhuria. Adong muse mandok, asa songon na asing tu katolik ninna (alana katolik di hutanta biasa mambaen pesta natal dung tgl 25). Alasan aha muse ma on inna rohakki sipata.. hehehe..
Songoni ma jolo amang tanggapan sian iba, horas jala gabe, sai dipatolhas Tuhan i sude akka rencana nauli, ungkap akka roha ni amanta pandita dohot pangula ni huria na asing, asa adong sada ni roha tu hadengganonta saluhutna. horas..
Daniel Harahap:
Tatangianghon ma Amang asa barani angka hurianta mulak tu kalender ni liturgi. Gurungku najolo mandok: holan angka na satia maradven do na boi manghilalahon balga ni las ni roha ni hatutubu ni Jesus i.
Tanggapan untuk Inang atau Amang Menanti:
1. Perayaan Natal menurut kalender Gerejawi menurut yang saya pahami dari paparan Amang DTA dimulai dari jemaat HKBP. Menurut hemat saya, HKBP tidak dapat memaksakan pelaksanaan kalender gerejawi yang diakuinya dalam lingkup marga, instansi atau pemerintahan yang tidak mengatur pelaksanaan kalender gerejawi. Tapi selama perayaan Natal itu adalah perayaan Natal di HKBP (kategorial), gereja HKBP memiliki kalender gerejawi dimana Adven dirayakan menurut rentang waktu tertentu seperti juga Natal yang memiliki rentang waktu tertentu pula. Jadi, mari! bagi yang merasa jemaat HKBP untuk turut terhadap tata cara liturgis (1 Kor 14:40).
2. Saya pikir untuk masalah gedung tidak ada persoalan untuk punguan2 marga atau instansi dlsb. Ketentuan kalender gerejawi berlaku untuk gereja-gereja yang mengakuinya. Kalau suatu gereja atau punguan marga memiliki pemahaman berbeda tentang Adven atau Natal, tidak menjadi masalah. Saya pernah menghadiri Natal sebuah instansi yang dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, yang juga dihadiri oleh warga Katolik, yang notabene hanya merayakan Natal setelah tanggal 25 Desember.
3. Memang sulit ketika makna Natal berubah menjadi ajang panen rejeki baik bagi kami para pengkhotbah maupun pengusaha katering. Tapi sebagai pengkhotbah, saya pribadi memahami Natal sebagai ibadah, peringatan, dan momen perenungan sama seperti saya merayakan Paskah (yang kurang populer dari Natal). Jadi tolong untuk tidak mengidentikkan karya keselamatan Kristus (yang jauh dari kemeriahan itu) dengan panen rejeki.
4. Lagi-lagi, Natal adalah karya keselamatan Allah yang terbesar bagi manusia melalui Kristus yang menjadi manusia dan turut menderita bersama manusia. Jadi menurut saya tidak ada hubungannya dengan tiket mudik dan harga Sembako yang melangit.
5. Ketika saya melayani di HKBP Sidoarjo, Jawa Timur (setahun yang lalu), saya berusaha mengajak seluruh jemaat HKBP Sidoarjo & kategorial untuk memahami makna Natal itu sendiri. Hasilnya cukup memuaskan, saat itu semua seksi sepakat merayakan Natal di gereja setelah tanggal 25 Desember, dan tidak ada masalah waktu itu. Walaupun saya tetap berkhotbah di punguan marga, instansi dan wijk (sebelum 25 Desember), karena saya beranggapan mereka tidak memiliki kalender gerejawi yang sama.
6. Sama seperti Amang DTA, saya sering risih ketika pada perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember saya sudah bernyanyi: “Nunga jumpang muse ari Pesta i, hatutubu ni Tuhanta Jesus i,” (BE 57:1) kemudian pada hari Minggunya (Minggu Advent) saya bernyanyi:”Hamuna na porsea i, sai tomu Tuhan Jesus i, pahehe rohamuna; Jonok do ari pesta ni saluhut huriana i, dsa (BE 44:1). Ai na dia do, nantoari nunga marari pesta, hape sadarion manjangkon ari pesta muse?
saran yg baik. tetapi sesama anggota rapat pendeta ‘dilarang saling mendahului.’ alangkah lebih tepatnya bila usul ini didiskusikan dulu di dalam rapat tertinggi tersebut. itulah menurut saya etika ‘profesional’ dimana-mana. sebab hal yang amang pendeta usulkan ini sesungguhnya bukan hal-hal yang dapat diputuskan secara demokratis (suara terbanyak) tetapi melalui pergulatan teologis. jadi kurang ‘une’ lah kalau dilemparkan melalui surat terbuka (sedangkan paus saja hati-hati sekali bila melontarkan surat terbuka).
jangan sampai seperti permasalahan hisab dalam penentuan dimulainya ramadhan dan lebaran. jemaat nanti jadi bingung. apalagi yang ada di huta-huta, yang tidak baca internet. akibat ketidakseimbangan informasi, mereka terlongo-longo sebab tiba-tiba mereka disodori adanya wacana natal sebelum dan sesudah 25 desember. masih banyak kan wacana lain yg lebih penting?
Daniel Harahap:
Masalah kalender liturgi ini sudah lama sekali menjadi bahan diskusi dan studi, dan sebenarnya secara umum para pendeta hkbp sepakat bahwa merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember adalah tidak sejalan dengan liturgi yang dipahami dan dihayati hkbp. Pertimbangan selama ini membiarkan natal selama masa adven tidak teologis, tetapi lebih karena faktor-faktor non teologis. Mengapa surat terbuka? Karena saya berharap agar warga jemaat HKBP ikut menggumulinya dan sebab itu akan lebih mudah menerimanya jika rapat pendeta memutuskannya. Jika pak atau “bu gokkon” menganggap ada wacana lain ya silahkan saja diutarakan, namun saya melihat pengembalian natal ke rel ini juga sangat penting dan mendesak dengan berbagai alasan yang saya kemukakan di surat.
Satu lagi: yang paling “heppot” dan “gintal” merayakan natal secepatnya, sebanyaknya dan semewah-mewahnya justru orang kota, sebab itu kemungkinan penolakan bukan datang dari jemaat desa tetapi kota metropolitan seperti jakarta.
Surat terbuka untuk Bapak DTA.
Tradisi HKBP yang saya alami tentang natal-natal yang dilakukan oleh sekolah-sekolah (dULU DISANA pEMDA TIDAK PERNAH MERAYAKAN NATAL BERSAMA) khususnuya di hitaan sifatnya adalah adventus (menurut pemahaman saya). tanggal 24 Desember Malam adalah natal umum merupakan puncak dari seluruh natal-natal parsial. Pada malam itu seluruh orang lengkap dengan baju barunya datang bernatal di Gereja.
Untuk penambahan pengetahuan bapak DTA, di kampung kami pada tanggal 24 desember dan 25 Desember setiap rumah tidak menyediakan kembang loyang dll atau memotong ayam DAN KELUARGA TIDAK BERKUMUPUL. Natal di kampung bagi HKBP lebih banyak tentang Gaba-gaba dan pajojorhon Festival yang dicampur dengan makanan, minuman enak dan keramaian lebih banyak pada malam 31 Desember 12.00 dan 1 januari , disinilah ayam dipotong, kue-kuean dan minuman disajikan dan terjadilah saling maaf memaafkan setelah dinyanyikan naung salpu taon na buruk i, dan di pangarantoan on tradisi ini masih dilakukan oleh keluarga saya.
Saya nggak tau persisnya Bapak DTA ini lahir dan besar dimana. Saya berasal dari kampung dan anak seorang almarhum mantan Wakil Guru Huria. Tradisi HKBP yang saya pernah alami dan sangat indah adalah pada saat menjelang 12.00 31 Desember saya dengan Bapak saya pergi jalan kaki ke Geraja pakai Mantel (overcoat burjer) karena di Balige jaman dulu sangat dingin untuk mamamalu lonceng gereja/giring-giring pertanda pergantian tahun. Yang aneh bagi saya adalah Why is it so important tu Bapak DTA untuk mengeluarkan Fatwa tentang perayaan natal??? Dan ada kecenderungan dari Bapak ini untuk lebih bergaya Top Down dalam bergereja???. Bapak DTA yang terhormat, kami hormat sama Pendeta dan aparatuturnya karena kami mau, bukan karena kami diatur untuk itu!. Apa yang mau saya sampaikan adalah jadilah Pendeta yang Toman, Porman jala gabe siitiruan asa gabe tabba hormat nmi tu hamu angka Pandita ni HKBP, apa bila tidak unang pola salahaon hamu ruas i molo hurang dihargai jala hurang hormat hamu Pandita i di mata ni ruas i.
Daniel Harahap:
Saran saya kepada Pak Salngam:
Pertama: belajarlah lagi tentang tata ibadah hkbp secara khusus kalender ibadah hkbp.
Kedua: belajarlah lagi membedakan makna natal dan tahun baru
Ketiga: belajarlah lagi tentang aturan hkbp khususnya tugas dan tanggungjawab rapat pendeta dibidang ajaran
Keempat: belajar juga tentang membedakan urusan gereja dan urusan pribadi.
HHmmmm, Natal pas 17 Agustus, Natal sama dengan lebaran? Atau Natal dan Paskah digabung? Kalau bisa semangat Natal ada tiap hari. Jadi Dunia menjadi damai dan tempat yang lebih baik untuk hidup….
Tidak apa2 juga kalau keputusan gereja nanti menetapkan natal pada hari tertentu.. Memang sudah seharusnya seperti itu. cheers
Catatan pro pak Salngam:
1. Sepertinya bapak kurang memahami makna Natal dan Tahun Baru ya. Yang dipermasalahkan Natal, koq yang dibahas malam tahun baruan.
2. Respon untuk kalimat bapak ini: “Bapak DTA yang terhormat, kami hormat sama Pendeta dan aparatuturnya karena kami mau, bukan karena kami diatur untuk itu!” Seharusnya menjadi Kristen yang baik taat kepada hamba Tuhan atau pelayan tidak cukup hanya karena mau, tetapi karena kita diajarkan Alkitab untuk taat kepada pemimpin apalagi kepada para pelayan. Silahkan baca Ibrani 13:7.
3. Saya pikir amang DTA tidak mengeluarkan Fatwa, dan gereja sendiri sepertinya tidak pernah mengenal istilah Fatwa. Yang ada paling surat penggembalaan. Yang hendak dijelaskan di surat terbuka amang DTA adalah kembali kepada semangat ajaran yang diterima oleh HKBP. HKBP dalam almanaknya menuliskan bahwa Advent ada 4 minggu, tapi kenapa sudah ada yang bernatal pada masa-masa Advent? Sama seperti kita kuliah, masih semester 1 koq sudah dikasih pelajaran semester 2. Kira2 begitu, maaf itu pemahaman saya orang awam. Jadi kalau ada jemaat yang kurang hormat kepada pendetanya karena pendetanya berkata benar (secara ajaran), siapa yang salah ya?
Untuk Fro7, kenapa hanya semangat Natal yang harus ada tiap hari, kenapa tidak sekalian semangat Paskah atau kenaikan Kristus? Sepertinya Natal lebih penting dari perayaan lainnya.
Dalam menetapkan keputusan, Rapat Pendeta HKBP sebaiknya mempelajari dulu kenyataan yang ada di lapangan (di jemaat-jemaat). Tahun lalu kami di HKBP sa-ressort Batam, telah disepakati tidak boleh ada perayaan natal sebelum natal 25. Tetapi yang terjadi malah ada perayaan Advent, yang isi acaranya liturgi natal pada umunya, hanya waktu penyalaan jumlah lilinnya disesuaikan dengan advent yang keberapa pada saat itu. Kalau boleh para theolog kami, bisa merancang konsep liturgi perayaan Advent yang sesungguhnya. Karena bagi para perantau yang akan mudik sebelum tanggal 25 tidak mungkin lagi bersama-sama dengan kelompoknya di Batam, merayakan momentum desember yang memang selalu mengharukan, karena hanya setahun sekali natal ini. Sebagai info: Saking banyaknya kelompok yang merayakan natal, gereja full jadwal, akhirnya ada perusahaaan di batam yang merayakan natal tanggal 30 November. Ini Kenyataannya. Kalau perlu diadakan seminar, atau pembinaan, pengarahan bagi para panitia natal, atau panitia advent.
Syalom buat semua pencinta Rumametmet !
Pembahasan mengenai waktu yang tepat untuk perayaan Natal ini sepertinya mulai menghangat. Tetapi, kita semua harus mengingat bahwa tema kelahiran Yesus Kristus (kalau nggak salah) adalah “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi, damai sejahtera di bumi bagi orang yang berkenaan kepadaNya”. Untuk itu, mohon Bapak/Ibu yang membuat pernyataan, analisa atau sejenisnya tetap harus berpedoman kepada “Damai sejahtera” dan “Kemuliaan Allah”. Terima Kasih
kalau memang mau dibuat christmas in april or july, why not? atau tiap hari kalau perlu
saya setuju dengan pendapat fro7, esensi dari natal itu yang paling penting, bukan sekedar ritual-ritual perayaan.
Daniel Harahap:
Sebagai pendapat dan sikap pribadi boleh-boleh saja. Tapi gereja tidak bisa seenaknya. HKBP masih memakai kalender ibadah atau kalender liturgi yang disusun sedemikian untuk membantu jemaat menghayati sejarah keselamatan. Salah satu ketetapan dalam kalender itu adalah ada empat minggu adven sebelum natal yang hendak mengingatkan jemaat akan penantian umat purba yang begitu panjang akan kedatangan Sang Juruslamat, sekaligus penantian gereja akan kedatangan Kristus kembali kelak. Pada masa penantian itu jugalah gereja hendak menyatukan dirinya berdoa bersama semua orang yang sedang menanti-nantikan kedatangan Tuhan ke dalam hidupnya dan jawaban Tuhan atas pergumulan dan kerinduannya. Pertanyaan saya: apakah Anda mau menafikan semua itu?
Pro Bapak DTA dan Bapak Antonio.
Melakukan parmahanion adalah tugas panggilan Gereja dari para Pendeta dan Partohonan. Membawa gembala ke padang rumput yang lomak adalah perbuatan terpuji. Membawa napinarmahanan tu tempat na koring dan tidak ada rumput akan kurang mendapat restu dari pemilik. Saya tidak tau persis lagi apa yang dimaksudkan dengan Aturan Peraturan HKBP saat ini.
Tata ibadah di Gereja HKBP kami, setahu saya sampai sekarang juga tidak berubah selama masa-masa adventus dan deimikian juga tetap masih pakai almanak HKBP, natal sekolah minggu, Natal remaja masih tetap juga dilakukan selama pra Natal Umum.
Yang saya komentari adalah ikut campurnya Pendeta dalam perayaan/pesta natal yang dilakukan oleh Kantor-kantor, marga dsb.
Menurut saya pesta tersebut adalah Festival, tidak ada kaitannya dengan kalender HKBP. HKBP khususnya jemaatnya terkenal dengan ke pragmatisannya
Jika Bapak Antonio kurang faham tentang read between the line, biar lah saya jelaskan, kenapa saya Bandingkan dengan Natal dan Tahun Baru adalah karena apa yang dilakukan dalam pesta-pesta tersebut adalah benar-benar tradisi festive/ fiesta/pesta rakyat bukan makna teologisnya.
Nomensen menurut saya adalah penganut Teologi kontekstual. Demikian juga kebanyakan orang HKBP sekarang. Apakah anda yakin aturan perauran yang dibuat itu sudah maha sempurna???. Wallahualam. Jika saya berdebat dengan orang Advent tentang tanggal 25 Des. selalu saya jawab (logically) apakah tanggal itu pasti atau tidak bukan itu yang penting, tapi kenyataan Jesus pernah lahir di Betlehem kira-kira 2008 tahun lalu. Peace. Tuhan memberkati.
Daniel Harahap:
saya tidak pernah ingin mencampuri apa yang bukan menjadi tanggungjawab dan wewenang saya. Jika saya membuat surat kepada Ketua Rapat Pendeta HKBP agar mengagendakan dan mengambil keputusan tentang tatacara pelaksanaan natal di HKBP itu tepat. Sebab menurut Aturan HKBP yang berwenang merumuskan ajaran dan dogma termasuk tentang kalender ibadah adalah Rapat Pendeta. Namun tidak terbersit pun sedikit dalam pikiran saya ingin mencampuri natal kantor, perusahaan, marga atau kampung. Itu bukan urusan dan tanggungjawab HKBP. Namun HKBP berhak dan wajib mengatur pelaksanaan natal di dalam lingkup HKBP, termasuk SM, remaja dan pemuda, dan unit2 HKBP lainnya. Forum pengambilan keputusan tertinggi untuk itu ada di Rapat Pendeta.
Pertama: Pak Salngam salah baca.
Kedua: saya juga tidak mengatakan aturan HKBP sempurna. Namun sebagai gereja HKBP harus memiliki dan menegakkan aturannya termasuk dalam hal pengaturan waktu ibadah. Dalam Almanak dan Agenda Ibadah HKBP (siapa anggota HKBP yang berani mengatakan kedua dokumen ini tidak sah, tidak benar dan tidak perlu dipatuhi? ayo tunjuk tangan!
diatur tentang waktu-waktu perayaan gerejawi mulai dari Adven, Natal, Epifanias, Pra-Paskah, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan, Pentakosta, Trinitatis, dan masa-masa sesudah Trinitatis. Pertanyaan saya kenapa Adven dilanggar sementara HKBP patuh kepada pelaksanaan kalender ibadah lainnya?
Ketiga: penetapan masa raya Natal 25 Desember s/d 6 Januari tidak mengatakan bahwa Yesus persis lahir tanggal 25 Desember jam 00.00 pulak lagi. Namun leluhur gereja telah bergumul beratus tahun menyusun masa-masa perayaan gerejawi dan menetapkan natal tanggal 25 Desember. Sebenarnya perayaan yang paling penting adalah Paskah atau kebangkitan Yesus, sebab itulah yang dirayakan pertama kali dan sampai sekarang dirayakan setiap minggu (Hari Minggu = hari Tuhan). Natal baru dirayakan abad ke-empat. Namun kini Natal telah menggeser Paskah, dan celakanya menghilangkan masa Adven sebagai masa permenungan, doa dan pertobatan.
Saya cuma seorang pendeta kecil. Saya hanya mengajak Rapat Pendeta HKBP bergumul dan mengambil keputusan dan belum tentu Rapat itu menerima saran saya. Bahasa Medan: apalah awak ini.
Namun sebagai seorang pendeta dan pribadi saya sudah mengambil keputusan: walaupun Rapat Pendeta HKBP belum mengambil keputusan saya akan menolak jika ada perusahaan, departemen, kantor, punguan yang meminta saya melayani natal sebelum tanggal 25 Desember. Dalam hal itu saya berhak penuh. Namun berhubung saya bukan hanya pribadi tetapi juga pendeta jemaat, maka sebelum ada keputusan resmi maka ibadah natal di jemaat HKBP sebelum tanggal 25 akan saya layani juga sebagai bagian dari tugas saya. Namun saya tidak akan jemu-jemunya mengatakan bahwa mari kita kembali ke rel. Mari kita hormati minggu Adven sebagai masa doa dan permenungan, penantian dan harapan. Seperti kata teman saya Muna di milis, mari kita pakai masa adven untuk menyatukan doa dan rintihan dengan jemaat yang menanti-nantikan Tuhan memberikan anak, mempertemukannya dengan kekasihnya, menyembuhkannya dan menjawab pergumulannya.
Mengikuti silang pendapat dalam menanggapi kalender gereja hkbp tentang NATAL kami mencoba tanya-jawab:
1. Jadi yang dilakukan hkbp selama ini apakah tidak sesuai dengan kalender gereja yang sudah ditentukan oleh pusat? kalau dari uraian pak DTA ini sudah tidak sesuai.
2. Kalau memang itu sudah tidak pada tempatnya, kenapa pusat yang baru saja bersinode tidak mengangkat case ini untuk diperbaiki? seperti kita ketahui dari hasil sinode lebih fokus kepada figur pimpinan pusat dst
3. Siapa sebenarnya ditingkat gereja yang menentukan tata ibadah setiap minggu/bulan atau tahun? yang kami amati adalah rapat sintua/sermon setiap minggunya
4. Apakah almanak yang menurut pengertian kami merupakan kalender gereja di hkbp bisa dirubah2 disesuaikan dengan sikon dalam pelaksanaannya? ya bisa nyatanya demikian.
Dari pemahaman kami seperti diatas, sebaiknya para uluan dimasing2 gereja hkbp/pak pendeta memulai melaksanakan perayaan natal sesuai dengan kalender gereja saja, tidak perlu menunggu ada rapat pendeta untuk mempertimbangkan hal itu, karena belum tentu juga nanti ditanggapi dan menunggu seperti yang disebutkan oleh pak DTA tahun 2010. Jika ada pihak2 yang keberatan digereja masing2 ini merupakan tugas penggembalaan dari masing2 uluan agar jemat mengerti.
Dan merayakan natal dengan perkategorial/seksi dimasing2 gereja juga menurut hemat kami tidak perlu karena tidak efisien dari segi waktu dan biaya.
Pak DTA sebagai yang telah melansir surat terbuka ini dapat memulai digerejanya dan tentu akan banyak nanti gereja hkbp lainnya yang akan ikut, percayalah dan nyatanya juga sudah ada gereja hkbp yang demikian. Terimakasih kepada pak DTA yang telah banyak memberi kami, mungkin banyak jemaat juga, hal2 yang belum diketahui tentang tataibadah di gereja hkpb diluar renungan2 tentunya. Maju terus para reformist HKBP.
Daniel Harahap:
Jawaban no (1): perayaan natal selama masa adven yang terjadi selama ini memang tidak sesuai dengan kalender ibadah HKBP. Titik.
Jawaban no (2): menyangkut dogma atau ajaran, dan tata ibadah, bukan wewenang sinode godang tetapi rapat pendeta hkbp.
Jawaban no (3): tata ibadah ditentukan oleh rapat pendeta hkbp berdasarkan pemahamannya tentang liturgi atau konsepsi teologis tentang ibadah yang benar dan baik.
Jawaban no (4): almanak tidak bisa diubah-ubah. Konstitusi HKBP mengatakan pelaksanaan ibadah (termasuk bacaan alkitab) harus sesuai almanak.
Horas.
Faktanya memang perayaan natal di gereja2 hkbp telah dimulai sejak minggu pertama bln Desember, sulit untuk mencari tau dimana awal salahnya dan siapa yang memulainya, persis seperti di umpasa ni halak hita” na pinungka ni na parjolo siihuthonnon ni na parpudi”, untuk merubah hasomalon yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang benar memang tidak gampang.
Tantangan terbesar, apakah para pendeta selaku uluan ni huria sepakat dan memiliki pemahaman yang sama dengan yang amang DTA utarakan?
Ai molo ruas biasana mangoloi do ta angka aha na nidongkon ni Panditana. Kami setuju apabila perayaan natal yang diadakan oleh masing2 seksi di huria disatukan/digabung dan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember(selama ini perayaan natal tanggal 26 Desember sangat memprihatinkan dari sisi animo ruas untuk datang ke perayaan tersebut.
Daniel Harahap:
Ya setuju. Kita selama ini cenderung membenarkan kebiasaan. Saatnya memulai membiasakan kebenaran.
Saya yakin semua pendeta HKBP tau perayaan natal boleh dilaksanakan setelah tanggal 25 Desember. Cuma sekarang, masalahnya bagaimana mengembalikan hal ini ke jalur yg benar. Walaupun tau, tapi cukup sulit untuk menyamakan persepsi di tubuh HKBP. Bukan nya saya mau berpikir negatif, banyak pihak yg mengambil keuntungan dari perayaan natal sebelum tgl 25 Desember. He…he..he!
Saya sendiri sering menghadiri perayaan natal sebelum tgl 25 Desember, dimana pengkotbah nya adalah Saudara Ephorus.
Horas..
Negara ini memiliki ratusan Undang-undang dan aturan, tapi jarang di laksanakan secara utuh, padu dan menyeluruh…
kenapa ??
karena tidak sesuai dengan kontekstual dan aspirasi seluruh rakyat..
jadinya, undang-undang itu tetap ada dan terlantar.
tak pernah murni dan tak pernah konsekwen.
aturan HKBP…???
Apalagi …
Mari kita cek dan ricek saja..
tradisi HKBP, kredo am ke Lutheran, liturgika, dan aturan -aturan dari zaman Van asselt , Nomensen bahkan sampai Ephorus sekarang…
berapa jumlah nya..???
berapa jumlah yang di jalankan ?
Saya masih punya file dokument itu secara kronologis..
dan saya juga memiliki fakta terhadap ketidak konsistenan aturan-aturan tersebut…
Lantas mau apa kita ini ???
BERDOA SAJA.
Keempat lilin yang dinyalakan sebelum 25 Des adalah simbol pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian kita.
Dalam Liturgi Natal (PANOMPAON, BAGA-BAGA, HATUTUBU, PENGHARAPAN?) Natal identik dengan “kelahiran” (Tuhan Yesus), “Ulang Tahun”. Setiap saat jemaat diajarkan untuk tetap lahir Yesus di dalam hatinya, bahkan ke empat seremonial diatas setiap khotbah disosialisasikan. HKBP dan gereja lainnya yang saya tau merayakan Natal itu tetap pada tanggal 24 Desember s/d 30 Desember. Tanggal 31 Des. digunakan untuk Ujung Taon (Jujur Taon). Terlepas dari yang merayakan Natal sebelum tanggal 24 Des, tujuan utamanya kebanyakan untuk mensosialisasikan Natal dan mempererat serta memperbanyak pengetahuan tentang Natal. Bahkan memberikan kesempatan turut ambil bagian setiap anggota punguan/kumpulan dalam kegiatan Natal tersebut (Contoh “Marliturgi”). Apa HKBP dan gereja lainnya bisa memberikan waktu untuk jemaatnya mendapat kesempatan “Pajojorhon” dalam kurun waktu kalender HKBP tersebut?.
Apakah mungkin yang amang DTA maksudkan adalah penggunaan GEDUNG GEREJA HKBP oleh punguan / kumpulan / kegorial-kategorial sebelum 24 Des.?
Atau supaya Pendeta-pendeta HKBP jangan melayani Khotbah Natal jika diminta oleh punguan/kumpulan tersebut?
Yang pasti selama pengamatan saya HKBP mengikuti kalender HKBP yang sudah ada.
Namun demikian perlu argument yang kuat untuk menggolkan permintaan ini ke pimpinan HKBP. Tentu dengan catatan, semakin hilang tentang kelahiran Yesus dihati umat Kristiani yang diminta setiap saat di hati kita harus lahir Yesus Kristus. Sedangkan ULTAH orangtua bisa dirayakan sebulan setelah lewat tanggal lahirnya karena menunggu anakdan cucunya bisa bersatu berkumpul. (Hanya Input ke DTA dan HKBP).
suatu terobosan yang sangat revolusioner dari seorang pendeta HKBP. maju terus amang. memang pasti banyak yang kontra karena ini masalah tradisi yang mendarah daging, tidak perduli apakah tradisi melanggar kalender gerejawi atau tidak. meskipun tidak mudah merubah yang telah menjadi tradisi beratus tahun.., hampir di semua gereja protestan pula. tapi yang penting bola itu sudah digelindingkan. wacana sudah dibuka, dan harus dibagi ke banyak orang.
Daniel Harahap:
Walaupun saya nanti gagal mengubah HKBP dalam hal natal ini, minimal saya telah berhasil mengubah diri saya.
Catatan kecil untuk diskusi ini:
1. Saya cukup terganggu dengan berbagai pernyataan: “Yang penting Yesus lahir di hati kita, tidak peduli tanggal berapa pun itu dirayakan.” Harus dicatat bahwa Yesus kita adalah Yesus sejarah yang pernah lahir di Betlehem, mati dan bangkit pada suatu waktu tertentu. Menafikan fakta sejarah kelahiran Yesus jelas suatu kesalahan besar dalam kekristenan.
2. Ketika kita tidak menganggap tahun gerejawi sebagai suatu hal yang penting (tergantikan oleh hingar bingar Natal termasuk dengan bisnis katering dan derasnya tawaran khotbah) maka gereja akan kehilangan jati dirinya. Ini juga akan mengakibatkan semakin banyaknya umat Kristen yang kebingungan dalam hidup Kristianinya. mengapa? Karena gereja tidak memiliki pakem yang jelas. Bayangkan jika kita tidak terlalu mempersoalkan urutan Adven dan Natal. Kemudian itu berarti seharusnya kita juga tidak perlu mempersoalkan urutan Jumat Agung dan Paskah. Bisa saja suatu saat kita merayakan Paskah terlebih dahulu (karena lebih meriah dengan telur paskahnya), baru tiga hari kemudian kita rayakan wafatnya Almasih. Lantas kita berdalih: yang penting makna Paskahnya atau yang penting Yesus bangkit di hati kita.
3. Banyak dari antara kita yang memang menurut saya telah terbelokkan pemahamannya mengenai Natal: dari sebuah peringatan dan permenungan menjadi budaya konsumerisme & hedonisme. Saya tidak salahkan kita, karena ini merupakan sebuah dampak globalisasi. Namun gereja harus tetap menyuarakan kebenaran ajarannya walaupun memperoleh tantangan dari berbagai fenomena jaman ini. Selamat berjuang untuk Amang DTA bagi sebuah kebenaran ajaran. Rasul Paulus mengatakan: “Jerih payahmu tidak sia-sia.”
Gabe jala Horas ma dihita,
Prinsipnya masa Adven adalah saat-saat yang berkesan menjelang Natal Kelahiran sang Juru selamatku (eh kita2 deh).Mengubah tangal pelaksanaan perayaan Natal di HKBP adalah privelege HKBP, shg konteksnya jelas dan tidak terkontamiasi dgn faham yg penting kan esesnsinya. Artinya Rapat Pendeta HKBP silahkan di rangrangi asa diberlakukan di internal HKBP. Ini jelas Penting tetapi tidak Mendesak.Tolong jangan amang DTA dijadikan martir untuk hal seperti ini. Karena kalo pun ini diterapkan,tetap masih mengemuka pertanyaan: Ibadah itu nantinya hanya Seremonial atau Sejati (sesuai dgn kerinduan Tuhan yang kita sembah)??? Kita tetap kembalikan kepada kita masing2kan. Mari berandai2: Kalo ternyata dgn menerapkan Kebenaran ini banyak atau ada ruas yang mundur dari HKBP karena merasa tidak nyaman kan nggak ada masalah. HKBP harus maju, kompak dan yakin se yakinnya dgn menu pelayanannya.Jadi Amang DTA sdh benar tapi slowdown ajalah spy konteksnya tidak lari. Surat sdh dilayangkan kita2 sdh mahfum inti pesannya dan sikon (Capek dhe) na poltang dijolota. Aku berikrar dan berterimakasih Hata na Uli hatana denggan na nilehon Aman DTA bohanonku ma martonga ni jabu untuk dipraktekkan ditahun 2008 ini juga. Don’t wait until tomorrow what you can do today.
Perayaan Natal agar dilaksanakan sesudah 25 Desember sudah lama sekali saya dengar, mungkin sekitar 16 tahun yang lalu ketika menjadi pengajar SM di salah satu HKBP. Itu dimulai pada masa SAE Nababan menjabat sebagai Ephorus HKBP. Saat itu banyak yang pro-kontra, dan perdebatan ‘tersembunyi’ di kalangan pendeta HKBP sendiri pun ada. Namun kami saat itu, karena merasa sebagai jemaat HKBP dan Guru SM, harus ikut dengan ketentuan baru itu walaupun saat itu ada perasaan aneh (mungkin karena tiba-tiba berubah). Akhirnya Natal SM dilaksanakan sesudah Natal Umum dari sebelumnya SM selalu bernatal di bawah tanggal 25 Des. Katanya, sampai saat ini Perayaan Natal SM masih terus mengikuti ketentuan itu (saya tidak lagi pengajar SM). Tapi ada imbas yang aneh, yaitu muncullah istilah Pesta Advent, misalnya Pesta Advent Ina. Sampai saat ini, saya mendapati bahwa acara itu tidak terlalu berbeda jauh dengan Acara Natal dalam kemasan sama cuman tanpa lagu “Sonang ni Borngin na i”. Masih ada saja lagu-lagu natal yang ‘tak sengaja’ masuk dalam acara. Jadi apa bedanya, ya? Malah jadi amburadul begitu. Dalam pikirku, Mereka sebenarnya mau ber-Pesta Natal, tapi waktu sesudah 25 Des sangat terbatas menjelang Tahun Baru. Merayakan Natal di bulan Januari? Kayaknya orang HKBP masih aneh menerimanya. Jadi hanya ada tgl 26, 27, 28, 29, dan 30 Des. 2 hari untuk
Naposo dan SM (kalo di tempat saya dulu, utk SM 2 hari), ditambah sandainya dua hari itu Hari Sabtu dan Minggu (Amang DTA tidak setuju hari Sabtu dan Minggu dipake ibadah natal). Belum lagi seperti saya di kantor selalu berperayaan di atas 25 Des. Sebaiknya bagaimana? Jawaban yang logis, ‘Sudahlah, cukuplah 25 Des itu saja utk Ama dan Ina!’ Kalo masih pengen banget pajojorhon atau mengenang natal, ikutilah kebaktian/perayaan natal di gereja lain yang ibadah gerejawinya masih bertoleransi dengan Natal ‘kapan saja bisa’.
Begitulah keadaannya apabila rapat Pendeta menyetujui “Perayaan Natal” dengan konteks ‘teratur’.
Namun saya perlu bersaksi, saya masih mengenang terus Natal-Natal ketika saya masih anak-anak yang sungguh indah sampai saat ini, walaupun saya tidak tahu aturan dan peraturan HKBP sebelumnya.
Horas Amang,
Saya hanya menyampaikan pendapat saya saja apakah kalau kita mengikuti seluruh aturan – aturan yang ada dengan benar membuat kita bisa disebut orang -orang yang beriman. Apakah kita tak lebih baik berserah diri & merendahkan diri kita kehadapan Tuhan setiap hari dan minta pengampunan kepadaNya daripada kita mempersoalkan masa – masa perayaan ? Mohon maaf Amang kalau saya salah.
Postingan Pak Pdt Andar Pasaribu tgl 12 dan 13 (di atas) sangat membantu bagi saya dalam mendapatkan secara lebih jelas lagi pemahaman yang benar tentang topik yang ramai didiskusikan — kalendar gerejawi serta makna minggu-minggu Advent dan perayaan Natal.
Terima kasih Pak Pdt Andar Pasaribu.
Terima kasih juga kepada Pak Pdt Jan Calvin Pindo (GKI) yang telah berbagi pengalamannya di dalam postingan yang lain.
Dan terima kasih Pak Pdt DTA yang telah mengangkat topik yang penting ini dan memposting surat terbukanya.
Semoga Bapak-Bapak Pendeta bersama seluruh ibu/bapak pendeta lainnya berhasil menegakkan secara benar kalendar gerejawi demi kemuliaan TUHAN dan dalam pertumbuhan iman warga jemaat.
Horas Amang,
Saya kok malah seteuju dengan Fro 7, Bukankah perayaan natal itu buatan manusia, mengapa kita harus mendogmatiskan semuanya itu . Saya mungkin tidak mempunyai latar belakang teologia tapi logika berpikir saya sih mengatakan demikian, menurut saya Tuhan Jesus juga ngak marah:-)
Saya memang dari dulu ingin bertanya masalah ini, karena dari kecil kami di Bandung selalu merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, nah ketika pindah ke Bogor, perayaan Natal diadakan harus setelah tanggal 25 Desember. Yang saya alami dan dengarkan adalah bahwa, apabila perayaan dilakukan setelah tanggal 25, banyak anak sekolah minggu yang selama kurang lebih 2 bulan berlatih pada akhirnya tidak dapat tampil pajojorhon karena harus pulang kampung (kelihatannya kecewa juga), dan banyak kategorial yang tidak dapat membuat acara karena jadwalnya begitu padat di gereja..belum kalau ada natalan Sektor..Saya sih berpikir kegembiraan natal harus juga dirasakan oleh anak2 kita (maklum saya ibu2) dan semua kategorial yang ada di Gereja..Demikian juga pohon natal, saya malah mulai memasang dari awal Desember dan membukannya di akhir Januari..bahkan ada yang sepanjang tahun saya pasang..saya bukan ingin bersaing dengan mall, tapi saya ingin suasana dan lagu2 natal yang kami putar di rumah memberi semangat baru kepada kami semua..saya yakin setiap orang punya kenangan tersendiri terhadap lagu2 (koesplus)..bahkan serasa berada di masa dimana Ayah ibu kita masih ada dan menyuruh memasang pohon natal bersama sama (maklum anak yatim piatu). Bahkan anak saya pernah bertanya ketika kami jalan2 ke pertokoan melihat banyaknya pohon natal dipasang ” kok gereja kita tidak merayakan natal Bu.” Saya juga bingung jawabnya apa..Ini sih curhat ibu2. Saya malah takut nantinya anak2 ini berpikir bahwa mall atau hotel/toko merayakan natal lebih baik dari pada gereja (he.he)..coba liturgi ada di mall, koor ada..gimana dong ini..
Lepas dari pro dan kontra saya sih melihatnya kalau dari sisi memaknai arti natal, seharusnya kita merayakan natal setiap hari, tapi kalau dari sisi perayaan ya bisa aja sebelum atau sesudah tanggal 25..
Mauliate.
Waduh membahas kapan Perayaan Natal yang tepat kayaknya jadi panjang bgt…tolong buat semuanya jangan sampai ribut gara2 tanggal doang… Jangan membuat ALLAH jadi menangis yah karena lihat umat pilihan-NYA ribut gara2 tanggal doank…
Gimana klo kalender sampai saat ini gak ada sama sekali? Kita mau ngerayain Natal tgl brp?
Klo menurut saya bukan tanggal berapanya, pestanya bagaimana, pakaiannya apa, atau dekorasinya gmn yang dilihat ALLAH…tapi ALLAH lebih melihat kedalaman hati kita….Sudah siapkah kita menerima sang Juruselamat lahir? Berapa byk jemaat yang rindu untuk menantikan sang Juruselamat? Berapa byk manusia yang percaya bahwa YESUS KRISTUS adalah Juruselamat?
Karena ALLAH menciptakan kita bukan untuk berpesta pora atau sibuk mikirin kapan tanggal yang tepat buat melakukan perayaan natal diluar tgl 25 Desember, akan tetapi ALLAH menciptakan kita semua untuk memperluas kerajaan ALLAH di dunia ini.
Bagi aku pribadi, natal itu setiap hari….bukan tgl 25 Desember aja.
ALLAH juga gak pernah ngasih tau tgl berapa YESUS KRISTUS lahir. Wong tanggal itu manusia sendiri yang buat itu, ALLAH cuma memberikan gambaran suasana pada saat kelahiran sang Juruselamat, nah manusia lah yang menerka2. Dan yang namanya masa adven pun itu adalah sepanjang masa bukan hanya 4 minggu saja….Baca dari kitab perjanjian lama sama perjanjian baru…berapa lama mereka menantikan sang Juruselamat dari mulai Adam dan Hawa melakukan dosa sampai Yesus dilahirkan….
Jadi tidak usah lagi dipermasalahkan tgl berapa perayaan Natal yang benar.
“Peraturan Gerejawi itu penting tapi Peraturan dari ALLAH jauh lebih penting”.
“Yang harus direnungkan sekarang adalah Sudah siapkah kita semua menerima kedatangan sang Juruselamat kedua kalinya ke dunia ini”.
Pro Rissa:
Rissa, yang harus dirayakan setiap minggu dan setiap hari itu bukan natal (kelahiran Yesus) tetapi paskah (kebangkitan Kristus). Kita berkumpul di gereja setiap minggu merayakan kebangkitan Tuhan. Pemahaman natal setiap hari adalah sesat.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa Yesus lahir tanggal 25 Desember. Yang saya katakan, sebagaimana dianut HKBP (silahkan periksa Almanak, Agenda, dan Aturan HKBP) bahwa gereja menetapkan masa perayaan natal tanggal 25 Desember. Saya tidak akan lelah-lelah mengatakan: mengapa kita merayakan Natal saat Adven? Itu sama saja jika saudara-saudara Muslim merayaka Idul Fitri dan berhalal-bilhalal saat bulan Ramadhan.
Itu sama dengan jika kita merayakan Jumat Agung sesudah Minggu Paskah. Itu sama artinya dengan: suka-suka.
Peraturan Allah? Dimana Rissa membaca Allah membuat peraturan bisa merayakan Natal kapan saja? Jangan-jangan itu peraturan Rissa sendiri.
Menurut saya orang Kristen yang tidak mau menghayati Advent sama sekali tidak mampu menghayati penantian umat yang sangat panjang akan kedatangan Juruslamat. Dan karena itu juga bohong mau menanti-nantikan kristus datang kembali. Serius.
Pro Joice Butar-butar:
Inang, dalam hal ini orang Bogor itu lebih benar dari orang Bandung.
Kalau pesta ulang tahun orang jarang dirayakan sebelum hari H, sebab takut nanti sebelum genap sudah dipanggil duluan, sehingga sering dirayakan pada hari “H” dan sesudahnya. Kalau Perayaan ulang Tahun Kemerdekaan, Ulang tahun Daerah,Kota ,Dan Institusi sering di mulai beberapa hari sebelum hari “H” dan puncak acaranya yaitu persis di tanggal hari ulang tahunnya, ini sesuai dengan kebiasaan sehari-hari, dan selama ini sering juga saya dengar sebelum natal 25 Desember, selalu ada pengumuman, mengatakan bahwa pada tanggal sebelum tgl 25 Des kita akan mengadakan pesta Advent untuk SM,RENA dll di gereja.
Artinya mereka tentunya sudah mengerti akan perbedaan natal dan Advent. Sekarang yang menjadi pertanyaan saya apakah salah pesta anvent(pesta menyambut hari natal) ?, Kalau pesta Advent kira-kira acara yang seperti apa yang seharusnya format acaranya?
terus ada pertanyaan lagi,kalau di daerah sumatera utara perayaan Tahun baru yang paling heboh dirayakan setiap keluarga, dan termasuk acara kunjungan dan silaturahmi, sementara di daerah lain justru kebanyakan pada acara natal tersebut, sebenarnya makna tahun baru apakah hanya karena pergantian tahun, atau ada makna khusus bagi orang kristen mohon sekalian penjelasannya.
Daniel Harahap:
Adven itu saat permenungan dan bukan saat berpesta. Adven masa hening, saat teduh, dan waktu menyepi untuk berdoa dan merenung. Sebab itu istilah “pesta adven” yang kini populer di HKBP salah kaprah. Tentang tahun baru nanti saya coba tuliskan di posting terpisah.
Saya sependapat dengan amang. Menurut saya Natal memang seharusnya diadakan setelah tanggal 25 desember setiap tahunnya. Saya juga terkadang jadi kecewa sendiri melihat minggu2 Advent yang akhirnya terlewatkan begitu saja tanpa ada kesan hanya karena adanya perayaan2 Natal setiap minggunya di bulan Desember.
Namun saya juga tidak bisa berbuat apa2 karna memang di setiap gereja termasuk gereja saya juga memiliki beragam kategorial (Ama, Ina, Naposo, Remaja, dan ASM) yang merayakan Natal dengan berbeda waktunya dan menurut Rapat Huria yang saya hadiri, Pendeta dan Parhalado Huria saya juga punya alasan mengapa mereka membuat tanggal perayaan Natal setiap kategorial ada yang sebelum tanggal 25 Desember. Mereka menyatakan bahwa akan lebih baik apabila setiap minggunya di bulan Desember ada sukacita Natal di Gereja kami.
Dan sekali lagi saya hanyalah seorang Remaja di HKBP Sr. Sawah dan mau tidak mau saya hanya bisa mengikuti kalender Huria yang telah di tetapkan setiap awal tahunnya.
Saya juga sangat mengharapkan Rapat HKBP dapat mempertimbangkan tentang artikel dan surat yang Amang buat ini agar di tahun yang akan datang kita semua dapat merayakan Natal sesuai dengan waktu yang seharusnya (25 Desember s/d 6 Januari) dan kita juga dapat tetap memaknai Minggu2 Advent yang seharusnya menjadi persiapan kita dalam menghadapi Kelahiran Yesus yang kita rayakan melalui perayaan Natal..
Inilah HKBP, kebanyakan ribut hal-hal yang tidak perlu. Miskin essensi… padahal di akar rumput jemaatnya memiliki banyak kegelisahan yang tidak pernah bisa ditangkap oleh HKBP.
Daniel Harahap:
Saya berani menduga Anda tidak termasuk orang yang saban minggu setia ke gereja HKBP dan saban hari baca Almanak HKBP.
Polemik merayakan Natal pada masa adventus yg diangkat oleh amang DTA, menurut saya tdk boleh hanya dibahas dlm lingkup HKBP. Apa lah artinya jika HKBP (bersama ruasnya) benar-2 memahami bahwa natal pada masa advent salah, namun dlm kehidupan sosialnya dia hrs ikut(terpaksa) merayakan dgn tetangga/rekan kerja stm/marga yg lain (mungkin di tempat lain/gereja lain). Harusnya ini digumuli tidak hanya oleh HKBP namun hrs oleh smua gereja yg ada. 9(berapa gereja yg ada ya…?) Toh tidak bijak untuk mengatakan tidak usah dihadiri.
Lagian keberatan Amang DTA kan didasarkan pada Kalender gerejawi (konon yg dipakai HKBP), Toh gereja tetap melaksanakan ibadah minggu raya sesuai dgn kalender gerejawi (yg dianut HKBP). Kenapa justru tidak memikirkan kemampuan/kehebatan Teologia untuk membelokkan segala sesuatu,(bahasa kerennya “merohanikan”) .Teologi yg gak ada aja bisa di bikin ada, (saya ingat teologi karet busa yg Amang DTA wacanakan). Ingat Rasul paulus pun membelokkan makna penyembahan orang Roma menjadi penyembahan yg lebih rohani (kepada Allah yg tidak dikenal). Mula Jadi na Bolon di rohanikan menjadi Allah yang alfa dan Omega dan yang Akbar. Bahkan Perayaan Natal sendiri pun asalnya dari perayaan Dewa Matahari yg dirohanikan oleh Konstantin. Konon pula kalau persoalannya hanya tanggal doang. Seperti yang dikatakan orang, bahwa Perayaan keagamaan sdh dikomersialkan orang, so what gitu loh. saya pikir teologia disini bisa memainkan peranannya, ya minimal untuk mewaraskan orang yg sdh keblinger. Tugas siapa itu,… Ya seperti yg Amang katakan, kalau di HKBP kita ini, ya tugas Pendetalah.
Namun Natal Staf HKBP dan Pimpinannya di Pearaja tgl 18 Desember pulak. Ah massam sajalah ini….. Botul tdk sih Pendeta HKBP ini botul-botul memahami bahwa sanya Natal tdk dirayakan pada masa Advent seperti yang dilansir Amang DTA.
hmm..sejujurnya saya kurang peduli mengapa gereja HKBP merayakan natal sebelum tanggal 25 des. berbeda dengan saudara kita yang beragama katolik yang merayakan Natal setelah melewati tanggal 24 des..tetapi setelah membaca paparan yang disampaikan pak pdt saya jadi mengerti dan tau apa sebenarnya yang terjadi.
walaupun ada pro dan kontra dalam mendiskusikan hal ini, hendaknya kita mau menyikapi dengan kepala dingin. intinya saya menyampaikan terimakasih kepada pak pdt yang telah memberikan informasi tentang pemahaman tersebut; dan saya mau melihat kondisi ini sebagai bentuk pendewasaan jemaat terhadap perubahan ke arah yang lebih baik (kembali ke rel)
secara sederhana saya juga akan meneruskan informasi ini (mensosialisasikan) kepada keluarga dan orang-orang terdekat. terimakasih.
Di Lingkungan saya, teman-teman yang katolik juga tidak protes/ membantah bila perayaan Natal sblm 25 Des. Bahkan ketika di STM kami di bahas apakah akan merayakan Natal, eh… malah mereka tuh yg getol mengatakan untuk dilaksanakan, tanggalnya… malah sebelum 25 Des. Toh.. Katolik yg katanya tidak melakukan perayaan Natal seblum 25 Des juga gak ketat-2 amat.
Dalam Perayaan Natal Oikumene yg dilakukan di kota kami, juga sblum 25 Des, dihadiri dan diikuti oleh umat katolik dan para pastur katolik.
Kami juga pernah merayakan Natal sblum 25 Des di Aula Gereja Katolik, toh mereka welcome aja tuh.
Point yang ingin saya sampaikan janganlah keinginan untuk”memfatwa Haram” Natal sebelum 25 Des justru membuahkan keresahan, malah membuahkan kebingungan. Kembali saya menawarkan Baharui kembali makna natal tsb sekalipun di lakukan sblum 25 Des. Yah… mau bilang apa lagi, Natal tdk hanya jadi komoditinya HKBP, tetapi sdh jadi komoditi dunia. Jepang yang mayoritas beragama Shinto saja, sejak awal Des sudh dihirukkan oleh hingar bingarnya suasana Natal.
Usulan buat amang DTA, silahkan saja wacana ttg perayaan Natal ini di agendakan di RP ya.. tapi lihatlah banyaknya kesulitan dan tantangan yang ada dilapangan. Namun menurut saya masih banyak yg juga perlu di agendakan. Masalah patik paopathon saja pun kita HKBP ini sdh tak sesuai dgn Bibel. Anehnya, tak satu pun Pdt HKBP yg saya tahu mau menggumulinya. Apa karena nggak ngefek ya…? Entah lah….
Daniel Harahap:
Pernah lihat wanita katolik atau pemuda katolik merayakan natal sebelum 25 desember di gerejaNya? (pake band hingar-bingar dan jingkrak2 di altar pulak lagi)?
Sebenarnya jika telah diputuskan dalam Rapat Pendeta tidak akan terlalu banyak kesulitan lagi mengembalikan masa perayaan natal sesuai kalender ibadah. Yang diperkukan hanya penjelasan atau penjemaatan keputusan itu dengan baik. Jika warga HKBP yang sadar atau melek kalender ibadah mendukung maka prosesnya akan lebih cepat lagi. Pada masa lalu (kesaksian ibu saya yang kini berusia 80 tahun) di kampung juga orang baru bernatal tanggal 24 desember malam dengan acara: manutung lilin. Malam natal itu jemaat belum pakai baju baru dan pagi sampai siang setengah hari masih bekerja di sawah. Namun kemudian setelah jemaat pindah ke kota rarat atau meleberlah perayaan natal itu dan celakanya dianggap kebenaran.
Amang, yang bilang tentang natal itu tiap hari yah Pendeta juga kok, aku mendengar sewaktu aku masih di sekolah minggu dan sampai aku SMP hal itu pun masih dibilangin… Aku sich mengatakan dari yang dibilang Pendeta ke aku, klo ditanya siapa nama pendetanya jelas aku sudah tidak mengingatnya…
But yang pasti mau kapan pun natal itu diadakan bagi aku gak masalah selama tidak menyedihkan hati ALLAH BAPA di SORGA…
Klo ngomongin masalah Natal, Adven dll gak akan ada habisnya…yang ada akan tambah bingung…dan banyak pro dan kontra…
Daniel Harahap:
Saya mau mengatakan pendapat itu salah. Yang harus dirayakan setiap hari, setiap minggu dan setiap saat bukan natal tetapi Paskah atau kebangkitan Tuhan. Sebab itulah kita berkumpul setiap hari Minggu, yaitu untuk merayakan kebangkitan Tuhan.
Syukurlah Rissa suydah lupa siapa pendeta yang mengatakannya.
[...] tidak kurang juga orang yang mendukung saran DTA sebagaimana terbaca dalam komentar-komentar di situsnya. Sebab, sesungguhnya, yang diajukan DTA bukanlah gagasan yang sama sekali baru sehingga layak [...]
Janganlah seperti orang2 FARISI, membebankan aturan-aturan yang sebenarnya secara pribadi tidak mereka hayati demi Kemulian ALLAH. Kita yakini bahwa kita di-BENAR-kan bukan karena kebaikan kita melakukan tata upacara gereja dan adat istiadat sebagainya. Tapi oleh karena BELAS KASIH TUHAN YESUS yang rela sengsara dan wafat di kayu salib demi umat manusia. Maka BERSUKA CITALAH ‘senantiasa’ dalam Tuhan oleh karena kasih setianya (bukan hanya pada saat/moment tertentu saja). Natal hanya moment, tapi wujud KASIH natal lah yang terutama. – 1 KOLOSE 2: 16-17 -
Daniel Harahap:
Perayaan Natal justru telah terlalu banyak dan menjadi beban dan melelahkan bagi banyak orang. Kita mau mengembalikan perayaan natal ke waktunya yang tepat. Juga ke tempatnya yang utama: keluarga dan gereja.
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan (Filipi 4:4) bukan berarti ber-pesta natallah setiap saat!
Melihat beragamnya komentar ini dari pembaca, menandakan kurangnya kita jemaat belajar dalam pemahaman secara rohani termasuk ajaran dari bapak-bapak gereja tentang pentingnya kontemplasi/ permenungan sekaligus transformasi pandangan tentang hakekat Natal. Inilah masalah utama kita bahwa banyak Natal telah banyak dirayakan secara sekuler,hedonis,konsumtif dan belanja-belanja sekaligus malpraktek kejahatan . Ada yang menganggap natal sebagai ulang tahun, komoditi dagang, pesta hura-hura, poya-poya atau mabuk-mabukan, cari hallet, travel/ liburan, bisnis entertain hotel dgn para artis dan natal mafia preman wah.. terlalu banyak yang semuanya memuakkan citra Kekristenan alias menjadi skandal rohani. Bukankah Natal adalah urusan kerohanian? Lalu buat apa merayakan natal banyak-banyak? Apakah nama Tuhan Yesus dimuliakan dan disenangkan?
Untuk itulah tulisan Amang DTA dan komen Amang Andar ini sangat mendesak untuk di paparkan supaya kita jemaat menghargai dan memahami/belajar pentingnya keteraturan bukan membebankan kita aturan-aturan yang tidak bertanggung jawab dan menghindari kita dari penyelewengan rohani .
Mari berubah merayakan natal secara teratur bahwa momen natal adalah perayaan komitmen kita menyonsong/masa Advent sampai menerima kehadiran Allah di bumi sebagai gambaran pertobatan kita. Perayaan Natal juga adalah perayaan pekerjaan Roh Kudus terbesar menurunkan Sang Firman menjadi Manusia Tuhan Yesus Kristus untuk itu Marilah kita lebih sungguh-sungguh membaca, belajar menggali isi Firman Tuhan.
Ok nanti kita sambung..
Daniel Harahap pro Joice Butar-butar:
Inang, dalam hal ini orang Bogor itu lebih benar dari orang Bandung.
Nalom (RN):
Tapi orang Bandung itu jauh lebih memahami apa yang diinginkan ruasnya. Sama seperti Allah yg tak egois untuk mempertahankan keIllahianNya agar dapat lahir dan hidup bersama/menjadi manusia.
Daniel Harahap:
Atau jangan-jangan kita sudah berprinsip: benar atau salah yang penting puas?
Lho, kita ini beribadah mau memuaskan jemaat atau memuliakan Allah sih?
Marilah coba lihat, komentar-komentar orang yang sepertinya “kontra” dng usulan Amang DTA, sama sekali bukannya tak memahami apa yang diwacanakan. Tapi kesemuanya hampir menyatakan, bagaimana bisa memaknai Natal dengan lbh baik. Jangan lah pula alasan kemewahan/mubazir, penghaburan dana, itu yang dijadikan alasan untuk menjudge perayaan natal sblm 25 Des haram. Saya pribadi tdk keberatan hal ini dibawakan dalam RP, tentunya dengan bijak dan arif juga melihat apa yang ada di tingkat jemaat/awam. Tapi ada hal-hal yg lebih penting dari sekadar natal di masa advent.
Daniel Harahap:
Melarang natal sebelum 25 Desember sama maknanya dengan melarang Perayaan Kebangkitan sebelum Jumat Agung. Atau di kalangan Muslim: melarang halal bil halal di bulan Ramadhan. Masih belum jelas juga? Oala.
Ini bukan soal haram halal.
Setuju Amang… Kalau sdh dimulai HKBP (sbg organisasi gereja Protestan terbesar) mudah mudahan akan diikuti gereja lain…
Kalau sdh begitu, saya tdk akan capek lagi meyakinkan panitia Natal di punguan marga dan di kantorku supaya tdk membuat acara Natal diawal bulan Desember setiap tahunnya. Sebagai pegawai dan anggota, saya wajib mengikuti kegiatan di punguan Marga dan kantor tapi sebagai warga Gereja Katolik, saya tidak bisa, akhirnya saya membuat keputusan tdk mau berpartisipasi di kepanitiaan cukup hadir pd saat acara Natal doang, i think it’s better than if i refuse. Mungkin org kantor atau punguan marga menganggap saya fanatik dengan aturan gereja Katolik yang melarang perayaan Natal sebelum tgl 25 namun saya berprinsip, aturan dibuat untuk ditaati bukan utk dilanggar. Apa gunanya dibuat aturan kalau memang untuk dilanggar…?? Saya bukan fanatik, kalau saya fanatik, mungkin saya tidak akan sering membaca tulisan amang Pdt DTA Harahap. Apalagi yang utama dalam ajaran Kristen bukanlah kelahiran namun Kebangkitan krn Kebangkitan ini lah Iman kita.
Setuju buat amang, bhw sebelum tgl 25 desember adalah masa Adven (penantian, pertobatan). Istilah kasarnya, sebelum tgl 25 Desember, Maria masih dalam perjalanan untuk di sensus di Bethlehem (penuh derita) kok kita sdh bersorak gembira…?? Sebab itu kita mencoba menghayati apa yg dialami oleh keluarga Kudus selama dlm perjalanan mereka, kita turut serta dalam penderitaan mereka. Saat ini lah kita diuji, apakah memang kita setia dlm penderitaan, apakah kita hanya ikut DIA pd saat bersorak gembira.
Tetaplah semangat amang Pdt DTA Harahap, jangan pesimis walaupun ada anekdot bhw “NABI selalu ditolak di kampungnya sendiri”
Memang tidak mudah membuat orang menerima suatu perubahan, sekalipun perubahan itu adalah sesuatu yang dikembalikan ke jalur yang benar. Ada yang bilang yang penting esensi Natal gak penting tanggalnya, semangat natal harus ada tiap hari, bahkan ada yang bilang ribut2 untuk hal yang gak penting ( ah.. yang benar saja, masa mengikuti aturan dan keteraturan itu gak penting ! Jangan2 masalah yang sering timbul karena kita ingin mudahnya saja dan cenderung tidak mengikuti aturan dan keteraturan ).
Sebaiknya postingan ini dibaca satu paket dengan postingan “Adven : Apa dan Kenapa Perlu”, sehingga kita lebih dapat memahami makna Adven yang selama ini sangat kabur, karena kita sudah sibuk berpesta natal di sana-sini dan tak ingat untuk melakukan perenungan tentang pertobatan, pengharapan, sukacita dan penantian.
Jujur, tahun ini mungkin saya lebih bisa merasakan makna sukacita Natal karena saya sudah mendapatkan pemahaman yang sangat dalam mengenai masa-masa Adven (thanks untuk postingannya Amang) .
Sambungan:
Perayaan Natal bukankah dari namanya saja sudah merupakan bentuk perayaan momentum sejarah? Berarti ada proses kronologi waktu yaitu rancangan keselamatan Allah, mulai dari nubuatan/ penantian para nabi sampai penggenapan yang disaksikan para rasul-rasul. Jadi tidak mungkin dong kita memaknai perayaan Natal dengan baik tanpa mengikuti jejak langkah proses ibadah spritual meta narasi ini yaitu (masa Advent sampai Natal).
Memang perayaan Natal banyak mengalami penetrasi budaya dunia pesta/festival, jadi jemaat cenderung lebih mempersiapkan semarak pestanya daripada tujuan Natal : kemajuan di bidang partondion. Ibarat pasangan muda yang mau menikah, kebanyakan lebih sibuk mempersiapkan pesta pamasu-masuon daripada mempersiapkan dasar parsaripeon. Adalah lebih baik kita membatasi jumlah perayaan Natal karena setiap kelompok kategorial marga, dongan sahuta, arisan saompung, ale-ale,dll punya semangat tidak mau ketinggalan tampil.
Dalam perayaan Natal, Acara Ibadah lebih utama daripada hiburan dan tata ibadah lebih baik ringkas/pendek untuk menjaga suasana lebih hikmat. Jauhkan kasak kusuk ngorol di luar dan di dalam selama ibadah atau sibuk mau salaman, mau markoor, mau tampil pajojorhon atau lihat artis padahal acara utama yaitu kotbah hanya seperti sampingan. Dan jangan lupa panitia memberi pertanggung jawaban masalah keuangan Natal yang akurat.