Tentang Perayaan Natal: Surat Terbuka

lilin-adven-satu.jpg

SURAT TERBUKA KEPADA KETUA RAPAT PENDETA HKBP: TENTANG PERAYAAN NATAL

Ketua Rapat Pendeta HKBP yang terhormat,

Tak lama lagi Natal akan tiba. Dan sejak beberapa minggu lalu gereja – kita para pendeta dan anggota-anggota kita secara pribadi dan kelompok – telah mulai sibuk lagi mempersiapkan diri menghadapi perayaan Natal atau Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ini. Saya pikir kita para pendeta telah memiliki pemahaman yang sama bahwa ada dan banyak yang harus diluruskan dalam perayaan-perayaan Natal di gereja kita dan yang melibatkan anggota jemaat kita HKBP. Satu hal yang paling mendasar adalah menyangkut waktu perayaan natal yang sudah lama sekali – dan kita sadari – menyimpang dari kalender liturgi atau ibadah gereja. Bukan hanya kita pendeta, namun banyak warga HKBP pun sesungguhnya telah menyadari bahwa menurut kalender liturgi gereja saat-saat perayaan Natal atau biasa disebut Masa Raya Natal adalah tanggal 25 Desember sampai dengan 6 Januari (Hari Epifanias). Sebelum tanggal 25 Desember empat minggu berturut-turut kita merayakan Minggu Adven yang mengingatkan kita akan penantian Israel akan Sang Juruslamat dan sekaligus penantian kita akan kedatangan Kristus kedua kalinya kelak.

Kita ketahui dan pahami bersama bahwa minggu Adven pertama kita tandai dengan menyalakan satu lilin. Minggu Adven kedua kita nyalakan dua lilin. Minggu Adven ketiga, kita nyalakan tiga lilin dan minggu Adven ke empat kita nyalakan empat lilin. Keempat lilin itu adalah simbol pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian kita. Masa Adven sebab itu jelas adalah masa persiapan dan permenungan dan belum merupakan saat untuk berpesta Natal. Tanpa ingin menyalahkan siapa-siapa, namun kenyataan menunjukkan bahwa kalender liturgi gereja yang sangat baik menggambarkan sejarah keselamatan, telah menjadi kacau dan berantakan karena ketidaksetiaan kita mengikutinya. Pada minggu-minggu Adven telah terjadi (dan begitu banyak terjadi) perayaan Natal. Akibatnya masa Adven sebagai masa permenungan akan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian pun menjadi hilang maknanya. Contoh yang kita alami hampir saban tahun: pada hari ini kita merayakan natal namun besok minggunya kita kembali merayakan adven dan lusanya merayakan natal lagi.

Dampak lain dari pengingkaran kita akan masa Adven sebagai masa permenungan (dan bukan masa berpesta) adalah Natal pun kehilangan makna sejatinya. Sebab Natal pada hakikatnya hanya dapat dihayati oleh orang-orang yang berharap, bertobat dan bersukacita serta menanti-nanti kepada Kristus. Berhubung kita tidak lagi sungguh-sungguh ber-Adven maka kita pun menjadi tidak serius ber-Natal. Akibatnya Natal pun jatuh menjadi sekadar pesta hiruk-pikuk, seremonial konsumtif dan pemborosan belaka. Itulah yang terjadi selama bertahun-tahun dan kita dengan jujur mengakui ikut terlibat di dalamnya atau membiarkannya.

Ketua Rapat Pendeta Yth,

Pada tahun 2011 gereja kita HKBP akan merayakan Jubileum ke 150 tahun. Menurut kami inilah momentum atau saat yang paling tepat bagi kita untuk kembali kepada kebenaran. Marilah kita memberanikan diri mengambil keputusan untuk kembali ke liturgi gereja, salah satu wujudnya adalah kembali merayakan minggu-minggu Adven sebagai minggu permenungan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian. Sebab itu kami menyarankan melalui Ketua agar Rapat Pendeta HKBP yang akan datang mengambil keputusan yang berani dan ikhlas, kembali kepada kebenaran dan keindahan liturgi gereja.

Secara kongkret: saya menyarankan agar Rapat Pendeta HKBP sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam hal dogma dan ajaran mengambil keputusan melarang semua kegiatan pesta natal di lingkungan HKBP sebelum tanggal 25 Desember dan sesudah tanggal 6 Januari (Hari Raya Epifanias). Sejalan dengan itu maka pemasangan simbol-simbol natal di gereja, antara lain pohon natal, juga baru dilakukan tanggal 24 Desember dan telah diakhiri sebelum tanggal 6 Januari. Saya pikir secara substansial kita semua sepakat bahwa memang itulah sesungguhnya saat-saat perayaan Natal menurut kalender ibadah. Sebab itu yang menjadi persoalan bagi kita adalah bagaimana menjelaskannya kepada warga jemaat agar hal ini dipahami dan diterima. Untuk menghindarkan kekacauan di jemaat-jemaat, saya menyarankan agar keputusan ini dibuat di Rapat Pendeta terdekat, namun pelaksanaannya efektif mulai tahun 2009 atau paling lambat tahun 2010.

Ketua Rapat Pendeta Yth,

Demikianlah surat ini saya sampaikan secara terbuka. Harapan saya sebelum Jubileum ke 150 Tahun HKBP kita telah dapat kembali ke rel yang benar dalam hal merayakan Natal dan Adven ini. Saya percaya bahwa dengan kembali kepada kalender liturgi ini kita HKBP secara khususnya dan umat Kristen umumnya akan mendapat berkat yang berlimpah-ruah dari Allah dan dari AnakNya Tuhan Yesus Kristus melalui permenungan Adven yang tulus dan perayaan Natal yang sungguh-sungguh.

Serpong Tangerang, 11 Oktober 2008

Salam, doa dan hormat kami,

 

 

 

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

(salah seorang pendeta HKBP, kini melayani di HKBP Serpong Tangerang)

Tembusan disampaikan dengan hormat kepada: Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Bonar Napitupulu

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

85 comments for “Tentang Perayaan Natal: Surat Terbuka

  1. Joice.butarbutar
    October 15, 2008 at 1:40 pm

    Ha..ha..Amang ini belain orang Bogor..ya..anak saya bilang..ya..nggak bisa pulang kampung dong..(kok jadi kepentingan pribadi ya..he..he.) sudah lah..saya mah baca renungan hariannya aja..klo soal natal ini kelihatannya nggak sepaham kita he..he..boleh kan..But, I’m glad HKBP got you..you’re still the best..for me..God bless Ruma Metmet.

    Daniel Harahap:
    Inang, sekalian natalan di kampung saja. :-) Lebih dekat ke suasana Betlehem. :-) Soal kalender ibadah dan masa perayaan natal serta pentingnya adven saya masih berdoa Inang rela berubah setelah membaca banyak tulisan di sini. Saya sedang meminta Pdt Bonar Tobing, ahli liturgi kita dari STT HKBP, untuk menuliskan tentang tahun gerejawi atau kalender ibadah. Nanti kalau sudah dikirim saya posting semakin memperkaya kita. :-)

  2. Salngam
    October 15, 2008 at 9:59 pm

    Bagaimana kalau Almanaknya yang dirubah, minggu-minggu yang dinamai untuk 52 Minggu (seperti passion, rogate, ephipania dll) ditata ulang. Adventus !, II, III, IV digeser pada bulan Nopember??. Dan Mingu-mingu I, II, III dan IV Desember dibuat menjadi masa-masa natal (Chrismas Weeks/masa natal)?. Aturan /almanak /kalender kan dibuat oleh pembuat aturan. Kalau memang susah biarlah seperti itu dan tampaknya kegairahan jemaat HKBp toh tidak terganggu gara-gara ada natal kategorial pada masa-masa advent?? Natal Kategorial secara agenda/timetable malah menurut saya hanyalah sampiran tapi kenangannya khususnya anak-anak dan remaja kesannya sangat mendalam ( Untuk sekedar informasi buat bapak DTA malah di pargodungan HKBP Balige Gereja untuk Naposo Bulung malah terpisah karena disana dimungkinkan).

    Menurut saya sangat aneh malah kalau merayakan Natal pada bulan Januari (Sudah lewat pergantian Tahun), malah di Negara yang terdiri dari 4 musim sudah dalam proses pergantian musim (remmber easons Greetings). Prayaan Natal pada minggu-minggu setelah 25 Desember menurut yang saya amati roh Natalnya sudah nyaris hilang secara psikologis karena sudah anti klimaks karena klimaksnya adalah pada tanggal 25 Desember (di beberapa Gerea Protestan lainnya dan katholik24 Des. Jam.00). Perayaan Natal Kategorial menurut saya adalah semacam exercices untuk malam 24 Desembernya (HKBP malah melakukannya sebelum jam 12 malam bahkan dibeberapa Gereja 2 session: Jam 17.00 Bahasa Batak dan Jam 20 :00 Bahasa Indonesia) kenapa hal ini sekalian tidak dipersoalkan kalau mau dengan presisi waktu dan tanggal???. Lihat saja misalnya tanggal 26 Desember (Natal ke-II) gregetnya sudah hilang.
    Pembuat aturan biasanya membuat aturan berdasarkan fakta yang tidak memberatkan pada pelaksanaannya, tapi ada alasan pragmatisme dan alasan kepraktisan sehingga memenuhi rasa kepuasan yang tinggi (highest satisfaction. Dan dibeberapa Gereja di USA pada saat ini malah sudah memakai teori-teori marketing yang bisa memuaskan pelanngan/jemaahnya tentu secara rohaniah. Dan filosofi ini sangat kental untuk umat Protestan!!.

    Yang saya pernah baca dalam teori Pembangunan Ekonomi salah satu ciri masyarakat yang dinamis, dan konon katanya hampir semua negara maju di dunia ini – latar belakang agamanya adalah yang ber- Etika Protestanisme yang tinggi. Etika Protestanisme tidak menganut aturan untuk aturan tapi aturan yang dapat mencapai hasil akhr (Means to an end bukan means to the means).

    Janganlah kita bersengketa hanya masalah semantik tapi hendaklah kita bersengketa khususnya kepada diri kita terhadap buah-biah roh yang kita hasilkan. Sudahkah kehadiran HKBP di Indonesia ini telah dirasakan kehadirannya/ eksistensinya oleh lingkungannya??, sudahkah jemaat HKBP telah menjadi garam dan terang dimulai dari keluarganya? Malah menurut saya tolonglah dibangun citra HKBP yang gemar gontok-gontokan untuk sekedar sebuah aturan menjadi aebuah gereja yang perlu diteladani. Jadilah HKBP seharusnya menjadi pohon yang teduh (bukan makudnya hariara parbeguan), yang dapat memberikan kepuasan bathin, sumber inspirasi dan yang mencerahkan demi kemajuan jasmani dan rohani.

  3. Pardamean Ronitua
    October 16, 2008 at 1:22 am

    Numpang nanya Pak Pdt DTA dan Ibu/Bapak lainnya.

    1. Konfesi HKBP tahun 1951 Pasal 11 tentang Tata Gereja antara lain menyatakan, “Kita menyaksikan: Di dalam Gereja perlu ada tata-gereja yang berazaskan Alkitab. Sebab tata-gereja ialah saluran untuk memberikan ketertiban dan sejahtera di dalam Gereja…. (dst)”
    Apakah Konfesi 1951 Pasal 11 ini masih berlaku? Dan bila masih berlaku, apakah pengertian tata-gereja di dalam Konfesi ini mencakup pula kalendar Liturgi Gereja?

    2. Apakah Kalendar Liturgi Gereja bukan sesuatu yang harus ditaati dengan antara lain menjaga kesesuaian segala praktek terhadap Kalendar Gerejawi itu walaupun belum ada keputusan Rapat Pendeta seperti yang diusulkan Pak Pdt DTA dalam surat terbukanya di atas?

    Daniel Harahap:
    (1) Pengakuan Iman atau Konfessi HKBP 1951 pasal 11 maupun Konfessi HKBP 1996 pasal 10 tentang Tata Gereja masih berlaku.
    (2) Tata Gereja HKBP pasal 5 butir 1 mengatur tentang pelaksanaan Ibadah di HKBP harus menggunakan Almanak dan Agenda HKBP. Pasal 5 butir 8 mengatur tentang hari-hari raya yang dipestakan oleh HKBP.

    Dalam melaksanakan ibadah jelas HKBP harus menggunakan Almanak dan Agenda HKBP. Di kedua dokumen itulah diatur tentang kalender ibadah. Keputusan Rapat Pendeta dibutuhkan untuk menegaskan dan menggarisbawahi apa yang sudah ditetapkan sebab penyimpangan sudah terlalu jauh dan lama.

  4. Andar
    October 16, 2008 at 3:12 am

    Pro Amang Salngam:
    1. Saya usulkan membaca tulisan Pdt Joas Adiprasetya di web ini juga. Saya melihat Amang sepertinya belum memahami sejarah penyusunan kalender gerejawi yang sudah dipergumulkan ratusan tahun. Jadi kalau usul Amang untuk mengganti penanggalan (kalender) gerejawi di Almanak HKBP, janganlah Amang sampaikan di luaran sana (biarlah cukup disini saja), bisa ditertawakan jemaat lain kita nanti Amang. So tung didok halakan annon: “Botul ma hamu Batak jala ruas….., ari Natal dohot Advent pe naeng diganti-ganti hamu.”

    2. Merespon pernyataan Amang di atas: “Dan dibeberapa Gereja di USA pada saat ini malah sudah memakai teori-teori marketing yang bisa memuaskan pelanggan/ jemaahnya tentu secara rohaniah. Dan filosofi ini sangat kental untuk umat Protestan!!”. Dalam konteks kalender gerejawi, ini betul tetapi bukan kepada gereja-gereja yang beraliran Lutheran dimana HKBP termasuk di dalamnya. Saya alumni di sebuah seminari Lutheran di Minnesota, USA. Disana kita tidak akan pernah menemukan ucapan: “Selamat Natal” jika belum tanggal 24 atau 25 Desember. Yang ada hanya ucapan selamat Advent (Have a Blessed Advent). Seluruh jemaat Protestan beraliran Lutheran, Methodis, Calvinis, dll sangat taat kepada aturan kalender gerejawi Advent – Natal, kecuali gereja beraliran Pentakostal dan Karismatik. Saat ini saya di Jerman, juga sedang studi. Suasana serupa di USA juga saya temukan di Jerman ini. Gereja beraliran Protestan tidak akan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Disamping itu harus juga jelas, bahwa Gereja terpanggil bukan untuk memuaskan jemaat atau pelanggan (menurut istilah Amang), tetapi Gereja terpanggil untuk memuaskan dan memuliakan Tuhan.

    3. Masalah gereja gontok-gontokan menurut saya (seperti postingan saya di atas), analisa saya adalah karena beberapa warga jemaat dan pelayan tidak lagi taat kepada sistem (kalender gerejawi, aturan peraturan dan Alkitab). Ketika kita tidak mau lagi diatur oleh sistem yang telah kita sepakati bersama, akibatnya kita kehilangan pegangan dan terjadilah gontok2an. Lagi menurut saya, yang gontok2an bukan hanya HKBP tetapi masih banyak jemaat lain non-HKBP. Konflik adalah suatu dinamika berjemaat yang sudah terjadi bahkan ketika jemaat mula2 masih digembalakan oleh para rasul. Solusi: Marilah kita benar-benar merenungkan makna setiap kalender gerejawi dengan penuh takzim, jangan meloncat-loncat, jangan pongah dan jangan mengejar kemeriahan semata. Mengenai resolusi konflik di jemaat, saya pikir harus dibahas tersendiri, karena saya juga tidak mau loncat-loncat membahas sesuatu.

  5. Salngam
    October 17, 2008 at 10:38 pm

    Pro Pak Andar.
    Mengapa orang terutama Pesta Natal marga-marga, perkumpulan dll dilaksanakan Pra 25 Desember???. Apakah Bapak-Bapak pengurus Gereja (sekarang Pendeta sebagai uluan Gereja!!!???) pernah melakukan risetnya??? (Mudah-mudahan pernah).

    Saya memang tidak pernah melakukan riset akan hal tersebut. Namun dari beberapa kasus boleh saya sampaikan:
    1. Para perantau banyak yang pulang kampung untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di kampungnya.
    2. Para orang kaya banyak melakukan tur Natal dan tauun baru ke Luar negeri atau tempat-tempat turis di dalam negeri.
    3. Para kelompok marga ingin merayakan Natal bersama-sama dengan anggota kelompoknya.
    4. Natal menurut mereka kurang afdol kalau dilaksanakan pada bulan Januari apalagi pada bulan-bulan setelah itu.
    5. Para Pegawai sudah banyak mengambil Cuti Tahunan (12 hari) terhitung mundur Minggu Pertama Januari .
    6. Natal yang paling afdol buat mereka di dalam kelompok indahnya antara 1 Desember s.d 24 Desember karena Spiritnya lebih indah (Lihat saja Silent night sudah mulai dinyanyikan di mal-mal dan di mobil-mbil pribadipun stock lagu-lagu natal sudah mulai terdengar.

    Tentang merubah Almanak HKBP seperti saya sebutkan kalau toh memang tidak lagi bisa dirubah karena sudah sangat baku (Ratusan tahun) ya jangan dirubah!!!, tapi kepentingan masyarakat tadi juga jangan di nafikkan!!!.

    Konon katanya Gereja-geraja di Jerman (Lutheran, Kalvin dsb) sudah banyak yang bangkrut hanya diisi kalaupun ada hanya diisi oleh orang-orang tua!!! (tolong juga HKBP jangan samapai seperti itu). Di Jakarta ini jemaat HKBP telah banyak yang pergi ke Gereja Kharismatik (Alasan mereka khotbah para pengkhotbah di HKBP tidak bermutu!!).

    Waktu saya pernah belajar pendidikan Agama di SMP tahun 1969-1972. Seorang guru agama (HKBP) mengatakan, apa yang menjadi advantage dari pola keberagamaan kita ini adalah ke praktisannya, tidak ada hubungannya dengan ketaatan dll tapi hanya karena Sola Fide saja. Dengan demikian improvisasi Natal kategorial saja menurut saya bukanlah tidak menghargai masa-masa Advent. And it’s not a big deal.

    Walaupun saya mengucapkan Selamat Natal di Pesta-pesta Natal kategorial , setiap Minggu Advent I, II, III dan IV tetap juga saya khusuk mengikutinya. Dan klimaks natal saya adalah tetap Pada Malam natal 24 Desember dan 25 Desember siangnya (meminjam istilah Bapak-Bapak tentang urutan tanggal).

    Yang indah memang tentang HKBP/Lutheran adalah semua minggu itu diberi makna berikut dengan nama-nama minggunya selama setahun (kalau bisa seyogianya setiap tahun juga diberi makna jika dimungkinkan biar lebih mantab). Tidak seperti di Kharismatik semua minggu adalah sama (bahkan ada yang berminggu 2xseminggu).

    Dari apa yang Bapak-bapak usulkan ini saya menjadi lebih tidak paham mengapa pada jaman Ephorus Ds TS Sihombing dan GHM Siahaan perayaan kategorial ini ada. Persoalan ini muncul konon katanya pada jamannya Ephorus Dr SAE Nababan. Apakah para ephorus terdahulu itu tidak faham tentang almanak?

    Saya adalah jemaat HKBP yang rindu belajar dari para pendeta HKBP, dan saya akan sangat puas bila diajajar oleh Pendeta yang Ekselent dalam berfikir dan menelorkan ide-ide. I’ve seen and attented many kind of churches tapi pusok saya adalah HKBP. Tapi saya geli juga kalau ada ide yang aneh-aneh, khususnya di HKBP.

  6. Andar
    October 18, 2008 at 3:26 am

    Pro pak Salngam:
    1. Maaf, lagi2 saya berkesimpulan kalan bapak belum membaca seluruh koment saya sebelumnya. Yang saya batasi hanya perayaan Natal di lingkungan jemaat HKBP. HKBP memiliki Almanak dimana tertulis: tanggal 25 Desember adalah pesta Natal Parjolo. Lalu kalau Natal dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, itu namanya pesta Natal keberapa? Kemudian, saya juga sudah mengatakan bahwa pesta Natal lingkungan, instansi, sekolah, yang tidak ada kaitannya dengan HKBP, itu bukan urusan HKBP, karena tidak semua karyawan kantor (misalnya) yang gerejanya memiliki kalender gerejawi seperti HKBP.

    2. Dari uraian bapak memang semakin jelas bahwa makna Natal tidak lebih sekedar keafdolan, kepraktisan dan tur Natal dan tahun baru. Ini yang harus diluruskan karena bapak sama sekali tidak menyebutkan bayi kudus yang seharusnya dirayakan itu. Lagi2 makna Natal dan bayi kudus itu terhilang oleh kemeriahan sebagai produk dari konsumerisme dan kapitalisme (menurut bapak Natal terukur juga melalui lagu silent night di Mal dan di mobil2).

    3. Bangkrutnya gereja di Jerman bukan karena mereka tidak mengikuti kalender gerejawi, tapi karena berbagai faktor, salah satunya karena negeri ini sudah terlalu makmur sehingga mereka merasa tidak perlu lagi mengalami penyertaan Tuhan. Untuk itu, kita perlu kembali ke akar liturgi kita, memberi makna sebagai orang Kristen melalui kelender gerejawi dan Alkitab tentunya. Indonesia pun kalau nanti makmur suatu saat, lalu gereja2 larut & sibuk merayakan Natal ala kapitalisme dan konsumerisme, tidak menutup kemungkinan akan ditinggalkan jemaatnya karena gereja hanya berperan sebagai panggung hiburan yang tidak memberi penghiburan.

    4. Lho katanya bapak mau belajar dari pendeta HKBP, tapi kenapa tidak mau belajar mengenai ide yang menurut bapak aneh? Bukan belajar donk namanya. Menurut kami ide ini bukan hal yang baru dan aneh. Perayaan Advent & Natal sudah berlangsung ratusan tahun. Menurut penelitian seorang ahli liturgika HKBP (mudah2an saya tidak salah), perayaan Natal yang semrawut di kalangan masyarakat Kristen Batak baru berlangsung sekitar tahun 1960-an, jadi belum lama. Sebelumnya, orang2 Kristen Batak begitu taat merayakan Advent dan Natal pada waktunya. Pengkhotbah 3:1 mengatakan: “Segala sesuatu ada waktunya.” Saya memahaminya: “Jangan rayakan Natal kalau belum waktunya.” Jadi kami adalah para pendeta yang justru mau merevisi sebuah kebiasaan yang justru menurut kami aneh, yaitu merayakan sesuatu tidak pada waktunya.

    5. Konon menurut yang saya dengar IL Nommensen dulu selalu membuat orang mengantuk kalau berkhotbah. Tapi kenapa HKBP justru berbuah saat kepemimpinannya ya? Jadi kualitas khotbah menurut saya bukan hal yang membuat banyak jemaat HKBP “jajan rohani” ke gereja lain. Lalu kenapa? Mungkin karena justru gereja sering tidak konsisten dalam berbagai hal termasuk dalam tidak mentaati kalender gerejawinya sendiri.

  7. Parlindungan Hsb
    October 18, 2008 at 10:20 am

    Kayaknya issue ini menjadi hangat sekali ya. Terutama di ruas dan Parhalado HKBP. Saya kebetulan ruasnya GPIB (namun memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan HKBP (Dibaptis, Sidhi dan Pemberkatan Nikah di HKBP).

    Pemahaman saya terhadap masalah ini adalah permasalahan yang muncul diakibatkan Perayaan Natal yang bertentangan dengan Kalender Gereja HKBP plus liturgis Adventus pada masa pra-25 Desember. Untuk itu saya mencoba untuk meberikan pandangan sbb :

    1. Kalau enggak salah (berarti benar ?!?) peristiwa-peristiwa “kristiani” (saya enggak mendapat istilah yang pas) yang ada di Alkitab Perjanjian Baru meliputi : Kelahiran, Kematian, Kebangkitan, Kenaikan dan Turunnya Roh Kudus. ( Adventus dimana ya ?)

    2. Tanggal kelahirannya Yesus yang pasti masih menjadi tanya sangat besar, namun kita sudah memiliki konsensus dan cenderung “mengimani” tanggal 25 Des sbg “birthday” dari Yesus Kristus. Dalam merayakan ulang tahun Yesus ini, saya melihat tidak ada yang menjadi persoalan besar apalagi persoalan yang menyangkut keimanan kita terhadap Sang Bayi Kudus, kalau ada pihak yang merayakannya sebelum tanggal 25 des – yang menurut pemahaman saya bersifat menyambut sesuatu yang sudah pasti (Yesus sudah lahirkan 2008 tahun yang lalu) – ataupun jika itu dirayakan pas tanggal 25 Des atau sesudahnya – yang lagi-lagi menurut saya, bersifat merayakan.

    3. Kalau kemudian perayaan itu bertentangan dengan kalender gereja HKBP dan liturgi adventus, mohon maaf kalu saya katakan, menurut pendapat subyektif saya “kayaknya ada yang salah dengan kalender gereja dan liturgis adventus tsb. Why ???Apakah kita masih menunggu kelahiran Yesus ??? Apakah masa adventus ada dalam perjanjanjian Baru ??? Bukankan liturgi adventus itu adalah tradisi kristen purba di perancis yang sangat erat hubungannya dengan tradisi yahudi. Dimana orang melakukan puasa untuk menggambarkan penderitaan dalam menanti kehadirian sang juru selamat. Kalau kemudian liturgi Adventus itu dipahami sebagai penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Apakah Yesus akan datang yang kedua kali pada tanggal 25 Des tahun ?????? Sehingga kita menghitung mundur 4 minggu dari tanggal 25 des untuk menetapkan liturgi adventus yang minggu I – IV. Bukankah kita every day, every minute waiting for it ?. Bukankah kita berbuat baik, memanifestasi iman percaya dan melakukan semua yang dikotbahkan Pdt (Pak DTA dkk) untuk menyambut kedatangan Sang Juru Selamat yang kedua kali. What is so special on 4 week before 25 Dec. Pls kindly share it to us ?.Kalau saya boleh menyimpulkan, semuanya itu tidak lebih dari “simbolisasi”. Lalu apa yang kita perdebatkan kalau ternyata semua itu tidak lebih dan tidak kurang dari sebuah simbol. Apakah Yesus meminta kita untuk merayakan kelahiranNya, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ? (Kayaknya enggak ya ?) Apakah salah kalau merayakannya – sebelum atau sesudah tanggal 25 Des ? (kayaknya enggak juga khan ?). “Mungkin” yang Yesus mau, kita mengingat kelahirannya dengan mengingat “orang lain” (Correct me if I’m wrong ?) every day and every minute and before 25 Dec as well. Lalu apa yang terjadi dengan Kalender Gereja HKBP, GPIB dll. (Gus Dur bilang : “Itu saja kok repot !”) Bukankah itu semuanya “by design”. Kalau begitu ya “redesign”. Kalau Pak DTA dkk mau meminta kita merubah apa yang sudah terjadi ! Apakah kita tak bisa memenita Mereka untuk juga kembali berpikir secara theologis, secara praxis, secara humanis dan is – is yang lain (makin banyak makin baik).

    Daniel Harahap:
    Saya mau tanya: Anda sungguh-sungguh anggota GPIB? :-) Jika ya dimana? Setahu saya GPIB justru sudah lebih berhasil daripada HKBP kembali ke kalender liturgi. Dan saya justru ingin belajar dari GPIB bagaimana mengembalikan kalender gerejawi atau kalender liturgi dengan “smooth”. Berhubung Anda mengatakan lahir, baptis, sidi dan menikah di HKBP sebagai pendeta HKBP saya boleh kan mengingatkan: baik-baiklah di gereja. Banyak-banyak membaca dan belajar. :-)

  8. Parlindungan Hsb
    October 18, 2008 at 1:47 pm

    Karena Pak DTA tanya, maka saya tak berani untuk tidak menjawab. Kalau sungguh-sungguh anggota GPIB dalam pengertian menjalanan semua aturan dan dogma GPIB maka saya akan menjawab “heaven knows ?”. Tapi kalau ditanya terdaftar sebagai anggota GPIB, maka saya memberanikan diri menjawab “ya”. Saya kebetulan terdaftar sebagai Jemaat GPIB Immanuel di Pekanbaru. Terimaksih untuk nasehatnya. Don’t worry pak dta. I won’t let you and hkbp down. BTW. Saya juga mau ingatkan agar pak dta baik-baik juga membina Jemaat.

    Daniel Harahap:
    Saya bertanya apakah Anda benar anggota GPIB karena saya tahu GPIB sangat serius dengan kalender liturgi atau tahun gerejawi, sementara Anda (kesan saya, silahkan koreksi) tak menganggapnya penting.

  9. October 18, 2008 at 9:58 pm

    Hallo, Amang…yang sabar yah Amang atas comment semua orang tentang surat Amang…aku percaya kok Amang punya maksud yang baik… dan aku juga bersyukur pada TUHAN karena DIA telah memberikan kepada jemaat HKBP seorang Pendeta yang mau mengoreksi segala kesalahan yang sudah terjadi sejak berpuluh2 atau bahkan ratusan tahun yang lalu di dalam gereja kita tercinta ini… dan aku juga mengucapkan terima kasih ke Amang atas semua penjelasannya ttg Natal dan Adven…terima kasih karena udah mau membuka diri buat kritikan yang ada…terima kasih udah mau menjawab pertanyaan aku, walaupun kadang masih ada yang gak aku mengerti…. Tetaplah tersenyum walau orang2 membuat Amang jengkel dan tetap menjadi Teladan bagi semua umat Kristen….khususnya jemaat HKBP….dan tetap menjadi tempat curhatnya anak muda yah Amang….

    Daniel Harahap:
    Agnes, penyimpangan dalam perayaan natal setahu saya belum sampai empat puluh tahun. Jadi masih bisa diperbaiki. Yang penting sabar. Hari ini untuk kelima kalinya dalam sebulan ini saya menolak lagi permintaan kotbah natal sebelum 25 desember. Sebenarnya dari segi finansial, jika saya menerimanya sangat membantu kami. Namun saya sudah tekad tidak akan berpesta natal selama masa adven (kecuali untuk anak-anak SM HKBP Serpong) sebagai tanda kesungguhan saya menyatukan doa dan batin dengan semua jemaat yang sedang merintih dan menantikan-nantikan Tuhan: menyembuhkan, mengaruniakan anak, mempertemukan dengan jodoh, memulihkan rumah tangga dan pernikahan, mendamaikan keluarga dan berbagai pergumulan lain.

  10. Salngam
    October 19, 2008 at 4:15 pm

    Bpk Pdt Andar
    Justru karena saya telah membaca kontent yang Bapa maksudkan. Puluhan tahun natal kategorial dilaksanakan nothing happenned di HKBP, Tuhan tampaknya tidak menunjukkan kemurkaanNya karena sekedar Natal Kategorial before Christmas Day!. Justru Bapak tampaknya lamban menterjemah dan memahami jemaat awam seperti Saya. Dan tampaknya juga Bapak tidak membaca seluruh comment saya, karena kalian para pendeta tidak konsisten, kenapa kalian berpesta natal (Casus HKBP Jln. Jambu dan beberapa Gereja HKBP Besar di Jakarta) menyelenggarakan pesta Natal pada malam 24 Desember 2 sessi: Jm 17.00 dan 20.00
    (berarti belum tanggal 25 Desember) dan Katholik konsisten melakukannya tanggal 24 Desember jam 24.00 (tanggal 25 Desember)!!!???.

    Sepengetahuan saya IL Nomensen sangat concern dengan kebiasaan dengan Stylenya orang Batak.
    Bapak-Bapak ini boleh jadi mau berbuat sesuatu untuk merubah tabiat orang Batak, menurut saya itu sah-sah saja (mudah-mudahan berhasil). Namun perlu diingat merubah tabiat orang Batak apalagi tidak mengerti akarnya orang Batak bisa juga berakibat Fatal.

    Sepengatahuan saya di kampung tidak ada pesta-pesta Natal baik marga maupun kantor-kantor. Hal itu terjadi di kOTA-KOTA bESAR KHUSUSNYA jAKARTA. Natal pra 25 Desember pada jaman saya sering dilakukan oleh sekolah-sekolah baik SD, SMP dan SMA. ———– del ————–

    Daniel Harahap:
    Catatan: komentar yang tidak berhubungan dengan topik Natal dihapus.

  11. Pangondian Ritonga
    October 19, 2008 at 9:16 pm

    Benar Pak DTA, perayaan Natal dirayakan semasa saya anak-anak dahulu di kampung adalah malam 25 Desember dan 26 Desember, sekarang saja anak-anak saya sudah mereyakan Natal padahal masih minggu Advent. Saya rasa baik juga perayaan Natal dikembalikan ke 25 Desember mulai merayakan Natal agar persiapan kita untuk menyambut Natal bisa lebih khusuk dan merindukan kehadiran Natal, Menurut saya perayaan Natal zaman sekarang semakin tidak bermakna karena terlalu banyak acara Natal yang dihadiri setiap tahunnya.

  12. richard hutahaean
    October 19, 2008 at 9:44 pm

    1.Kepada seluruh pecinta rumametmet, saya menganjurkan untuk membaca dahulu semua pertanyaan dan tanggapan yg telah terlebih dulu ada. Berpendapat itu baik, tapi bila apa yg sudah ditanyakan orang sebelum kita dan telah ditanggapi amang DTA, sebaiknya tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi kejarlah dengan pertanyaan yg berbasis tanggapan dr amang DTA tersebut sehingga wawasan dan cakupan diskusi menjadi mendalam.
    2.Sama dengan DTA, saya sudah tahun ke empat tidak merayakan natal sebelum tanggal 25 des. Sekalipun natal dari pihak simatua, tetap saya menolak untuk hadir.
    3.Sayang sekali, ini yang sesungguhnya tidak disinggung di topik ini, yaitu:pada saat natal, sudahkah anda sekalian membayar “zakat fitrah” bagi kaum yg kurang beruntung dari kita, seperti Elim. Perhatikanlah Almanak HKBP setiap tanggal 25 des kita semua mandurung tu jolo, dan durung-durung itu diperuntukkan untuk siapa? Jadi, pada hari itu kita semestinya membayar “zakat”, bukan mengumpulkan kolekte seperti biasanya pada hari minggu.

    NB:mohon amang DTA memberi penjelasan sedikit, mangapa di HKBP tidak ditekankan agar jemaat mambayar “zakat fitrah”.

    Daniel Harahap:
    (1) Ruma Metmet ini bukan forum pengambilan keputusan termasuk soal Adven dan Natal. Kita disini hanya berdiskusi. Pengambilan keputusan di Rapat Parhalado dan Rapat Pendeta. Jadi tidak usahlah terlalu tegang di sini. Jika memang serius ingin mewujudkannya sampaikanlah pendapat di forum gereja masing-masing.
    (2) Kita tidak kenal zakat. Yang ada hanyalah: persembahan.

  13. Andar
    October 20, 2008 at 3:26 am

    Pro pak Salngam lagi:
    1. Perhatikan dulu baik2 Almanak bapak (saya harap bapak punya Almanak HKBP). Tanggal 24 Desember tertulis: “Parpunguan Bodari Parningotan di Hatutubu ni Tuhan Yesus.” Jadi kan memang sudah tertulis disitu agar jemaat HKBP berkumpul (marpungu) di malam hari untuk mengingat kelahiran Yesus Kristus. Itu pertemuan (parpunguan) bukan pesta. Jadi di Jl. Jambu & banyak gereja lain berkumpul di tanggal 24 Desember tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau ada yang merayakan Natal mulai tanggal 1 Desember (misalnya), karena di almanak HKBP tertulis itu masih minggu Advent. Saya bingung, apa beratnya mengikuti yang tertulis. Kemudian jika kita ganti perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember itu dengan perayaan Advent apa salahnya? Kasian kali lah Advent itu, tidak ada yang mau merayakannya.

    2. Saya memang harus lamban memahami aspirasi jemaat kalau memang itu tidak seturut dengan kebenaran yang dipahami oleh gereja. Lagipula ini bukan masalah kemurkaan Tuhan, tetapi apakah kita mau hidup dalam keteraturan seperti yang disuarakan rasul Paulus dalam 1 Kor 14: 40 & Pengkhotbah 3:1. Saya mau hidup dalam keteraturan dan tugas saya sebagai pendeta adalah menyuarakan kepada jemaat untuk juga mau hidup secara teratur, walau banyak perlawanan. Tapi itu sudah resiko saya menjadi pendeta. Atau bagaimana bapak memahami ayat2 diatas dihubungkan dengan konteks Advent dan Natal? Mohon pencerahan!

    3. Komen bapak: “Nommensen sangat concern dengan style-nya orang Batak.” Betul sekali! tapi tidak dalam segala hal. Dalam beberapa hal Nommensen justru banyak mendobrak kebiasaan orang Batak yang salah waktu itu termasuk melarang kebiasaan yang sudah banyak bercampur dengan penyembahan berhala. Saya pikir seluruh tabiat (bukan tabiat orang Batak saja) kalau memang perlu dirubah, itu harus dirubah. Itu tugas kita kan sebagai orang Kristen, untuk terus menerus mau berubah (Rom 12:2). Jadi walaupun harus fatal akibatnya, itu sudah menjadi hidup orang Kristen, untuk mau dirubah dan berubah.

  14. Maludin Sitanggang
    October 20, 2008 at 2:34 pm

    Pro Rissa:
    Rissa, yang harus dirayakan setiap minggu dan setiap hari itu bukan natal (kelahiran Yesus) tetapi paskah (kebangkitan Kristus). Kita berkumpul di gereja setiap minggu merayakan kebangkitan Tuhan. Pemahaman natal setiap hari adalah sesat.

    Waduh…., kalau sudah bicara SESAT, saya tidak ikutan. Masalahnya yang kita anggap sesat itu, juga mengatakan kita SESAT dan bahkan akan saling menyesatkan satu dengan yang lain. Masalahnya sesama penjahat juga saling mengasihi, dan saling mengaku dan menyembunyikan kejahatannya.
    Ditambah lagi PERAYAAN PASKAH.
    Hari menjelang penyaliban Kristus mereka berpestapora dan puas dengan keberhasilan penyaliban tersebut. Kalau itu yang perlu dirayakan, sudah tidak nyambung lagi pengetahuanku sampai kesitu. Karena saya hanya seorang Ahli Peneliti Muda bidang Aerodinamika.
    Bisa saja tafsiran itu berkembang supaya umat Kristiani ikutan merayakan supaya puas dengan penyaliban tersebut (saya tidak tau ini SESAT atau TIDAK). Sementara kelahiran Yesus disambut soraksorai bergembira oleh gembala dan dunia termasuk didalam hati saya sampai saat ini. Terimakasih dan saya berhenti mengkomentari tentang perayaan natal sebelum 25 desember, karena ilmu dan iman saya belum ada se bulirsesawi. (www.bulirsesawi@gmail.com, stgmaludin@yahoo.co.id, bulirsesawi.blogspot.com.).

  15. warman
    October 20, 2008 at 2:35 pm

    Sebenarnya tidak ada yang lelah walaupun perayaan Natal dilaksanakan sebulan penuh, karena yang merayakannya seara parsial .Menjadi beban bagi banyak orang?, kenapa menjadi beban ???? Beban dari segi biaya? tidak juga, khusus sm hanya bingkisan Natal senilai +/-Rp.10.000/anak, kategorial hanya lappet dan kopi. jadi tidak menjadi beban.
    Malahan sebaliknya dengan mengikuti perayaan Natal kelelahan dan beban kita selama setahun malah hilang berganti dengan suasana kegembiraan.

    saya hanya berharap usulan perayaan Natal setelah 25 Desember jangan sampai terjadi dan sampai terdengar oleh orang2 berjenggot, karena bila sampai terjadi dan terdengar oleh orang2 berjenggot, maka orang yang merayakan sebelum 25 desember akan di razia dan Gerejanya ditutup. Mungkin juga pengamen yang menyanyikan lagu Natal di bis, mal, penjual kaset dan cd akan dilarang memutar lagu Natal sebelum 25 Des. Juga pohon Natal terbesar tidak akan ditemui lagi di mal serta kebiasaan keluarga menghias pohon Natal tidak ada lagi, jadi makna Natal tidak akan terasa lagi.

    Maka dari itu biarkanlah Lagu Natal berkumandang selama bulan Desember sepanjang hari dan juga gunakan stiap kesempatan untuk merayakan Natal dimanapun di Negara ini kapanpun dan oleh siapapun, mumpung masih bisa dan tidak diganggu pihak2 yang berseberangan.

    Oleh karena itu janganlah ragu merayakan Natal sebelum 25 Desember,Baca Lukas 2 Ayat 10 .

  16. Andar
    October 20, 2008 at 6:50 pm

    Catatan untuk bapak Warman:
    Saya pikir Lukas 2:10 tidak ada hubungannya dengan perayaan Natal sebelum atau sesudah tanggal 25 Desember 2008. Justru melalui Lukas 2:10, penantian Advent karena segala ketakutan, kekhawatiran dan penantian umat akan kedatangan Juruselamat digenapi di dalam Natal. Tanpa Advent, bagaimana mungkin kita merasakan ketakutan dan penantian? itu penafsiran dari beberapa teolog yang saya kenal. Intinya, Lukas 2:10 mengajak kita untuk mengalami masa Advent agar kita lebih mampu memahami bagaimana rasanya khawatir, sabar menunggu dan merasakan penderitaan umat Tuhan, tapi malaikat mengatakan: “Jangan Takut”, karena Juruselamat sudah tiba.

  17. October 21, 2008 at 1:31 am

    Stop…stop…stop…gak usah dibahas lagilah…tunggu aja keputusan Rapat Parhalado dan Rapat Pendeta hasilnya bagaimana…
    Apapun yang diputuskan dalam Rapat Pendeta mengenai Pelaksanaan Perayaan Natal adalah keputusan yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat…
    Udah…mendingan kita semua berdoa biar surat yang udah Amang kirimkan dibahas dalam rapat tersebut… Dan hasil rapatnya tidak merugikan semua umat Kristen khususnya jemaat HKBP.

    Ciayo Amang Pdt. Daniel TA Harahap…

  18. Salngam
    October 22, 2008 at 1:29 am

    Bapak Andar
    Itulah hebatnya kalau punya blog. Jika ada yang tidak sesuai dengan pikiran kita dan akan mengganggu, cukup dengan alasan if you do not like it make your own blog. Banyak reasoning mengapa, dan mengapa orang melaksanakan natal sebelum pra 25 Desember (just for practical meaning) tapi mohon maaf Bapak menjadi misinterpretated karena sudah kena gunting sensornya Bapak DTA. Rupanya Bapak DTA ini hanya menyenangi komentar yang menyenangkan hatinya!!!. For me brainstorming even it cause pain it will bring happiness. No pain without gain. Peace.

    Daniel Harahap:
    Komen Bapak yang saya potong tidak ada hubungannya dengan argumentasi merayakan Natal sebelum 25 Desember tetapi hanya umpatan kepada kami pendeta dengan memakai tiga tanda seru (!!!).

  19. Pardamean Ronitua
    October 22, 2008 at 8:38 am

    Kita perlu lebih banyak lagi belajar menyampaikan pendapat secara santun.

    Tidak ada salahnya untuk MEWACANAKAN perubahan peraturan (termasuk: peraturan gereja). Akan tetapi tentu gagasan perubahan itu sebaiknya didukung argumentasi yang kuat. Dan dalam hal menyangkut peraturan gereja: tentu sebaiknya didukung juga oleh argumentasi teologis.

    Akan tetapi adalah sulit untuk diterima bila ada yang menyampaikan ajakan (apalagi secara terbuka) untuk melanggar peraturan gereja (termasuk: ajakan untuk melanggar atau mengabaikan kalendar gerejawi).

  20. Janpieter Siahaan
    October 22, 2008 at 1:49 pm

    Saya sudah membaca semua isi materi ini dan juga komentarnya. Masalah substansi memang ranah para pendeta dan masalah pragmatis ranah para jemaat. Kita memang merayakan natal harus lah taat pada asas dan sejarah natal itu sendiri yang diawali dengan masa penantian atau adven, namun kita juga tidak bisa melepas kepentingan merayakan natal ditilik dari sudut waktu, organisasi dan kepentingan, karena kita tidak bisa terlepas dari kepentingan pribadi di luar HKBP dan sebagai jemaat HKBP.

    Saya sebagai jemaat HKBP harus tunduk pada aturan yang berlaku yang diputuskan secara jernih, jujur, benar dan sudah dilakukan riset sebelumnya untuk meneliti kemanfaatan, ketepatan dan aspek lainnya. Namun kita juga harus membuka mata dengan adanya fakta-fakta yang dapat mempengaruhi keberadaan akan perayaan natal itu sendiri.

    Saya tidak meragukan kualitas amang DTA dalam hal ini, namun saya kuatir, apakah ini sudah banyak diuji di depan publik atau ruas yang berbagai profesi atau bukan hanya parhalado yang beberepa orang itu. Saya hanya kuatir, terjadinya kontra persepsi antara legalitas teoritis didasari keimanan dengan aspek manfaat natal itu sendiri.

    Pak Salngam banyak mengomentari dari aspek budaya yang menyangkut dinamika ruas itu sendiri. Sementara Pak Andar dan amang DTA sendiri banyak menganut teori legalitas dengan pendekatan sejarah dan juga keimanan. Saya kira keduanya sama-sama benar dan juga mungkin keduanya juga memiliki kelemahan. Jadi tidak ada yang benar secara absolut.

  21. kito
    October 22, 2008 at 9:33 pm

    Horas kita semuanya, topik yg disajikan sepertinya tidak menemukan tujuan, malahan membuat kita semakin bingung dan tanda tanya apa maksud Amang ini dengan memberikan topik ini. (topiknya bagus tp terlampau dipaksakan)

    Saya tertarik dengan komentar Ricard.hutahaean , kenapa pd saat natal kita hanya hura2 atau pesta2, benar memang itu adalah pesta , tapi menurut saya kelahiran Jesus adalah kesederhanaan dan setelah Jesus lahir banyak kasih dan membantu orang , baik sakit ,mati dll, bukankah lebih baik kita merubah topik ini gimana natal 2008 ini kita banyak melihat orang lain : memberi persepuluhan , melakukan sosial , melihat orang yg tdk punya, kalau kita hanya memikirkan selera dan ego kita
    jadi marilah kita sama-sama melihat natal sebagai bagian dari melihat atau membantu orang. bukan pesta2 atau pidato yg pakai jas baru dan pejabat2 HKBP lagi (parartaon, Parhalado yg udah de sama sama tau kita , individunya maksudku) yg sekarang banyak yg munafik.

    Daniel Harahap:
    Lho, bukankah maksud saya mengembalikan masa-masa Adven agar sebagian biaya2 pesta natal bisa disumbangkan? :-)

  22. Andar
    October 23, 2008 at 12:02 am

    Pro Pak Salngam:
    1. Saya setuju sekali kepada pemilik blog ini yang harus tetap menjaga etika mengingat kita semua adalah pengikut Kristus yang seharusnya tahu mengungkapkan idenya secara bebas tetapi tetap sopan dan bertanggung jawab.

    2. Saya hanya mengajak kita untuk hidup di dalam suatu bentuk keteraturan. Jujur! dengan menolak perayaan Natal pra 25 Desember, itu akan merugikan khususnya bagi saya sebagai pendeta secara finansial. Tetapi saya pribadi memiliki komitmen, bahwa gereja yang benar adalah ketika para pelayan dan jemaatnya mau hidup di dalam suatu etika liturgi yang telah kita terima bersama. Bagi kita umat Kristiani, kepatuhan pada liturgi dan tata ibadah harus mengalahkan segala kepentingan lainnya. Natal menurut saya akan sangat dalam maknanya jika kita tidak sekedar pongah (meminjam istilah bapak Salngam: karena cuti karyawan, lagu-lagu natal atau tiket pesawat) merayakannya.

    3. Makna Natal akan semakin berarti jika umat mau mengerti kepada seruan malaikat yang mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu, Juruselamat di kota Daud.” Kata: “Hari ini” jelas sekali hendak mengatakan bahwa setiap perayaan termasuk Natal memiliki suatu pemahaman teologis tentang waktu, ada masa tertentu kapan kita seharusnya lebih banyak merayakan kelahiran itu, bukan setiap hari tetapi hari ini. Mengapa umat Muslim dan Katolik (termasuk banyak juga jemaat Protestan lainnya) mampu memahami waktu dan tahu kapan harus berhari raya?

    4. Lantas ada yang mengatakan, kita seharusnya merayakan Natal setiap hari. Pertanyaan saya, apakah kita tidak perlu merayakan Paskah, Kenaikan dan turunnya Roh Kudus setiap hari? Ini jelas fanatisme sempit dalam memahami sebuah perayaan. Kita harus merayakan kehidupan di dalam Kristus setiap hari, itu yang benar! Karena Kristus bukan hanya lahir, tetapi mati, bangkit, naik dan bertahta di sorga.

    5. Bagi saya tiada ayat yang lebih mudah dipahami selain kata-kata rasul Paulus: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.” Tanpa mengabaikan makna Natal, saya hendak mengajak kita sekalian untuk tetap berimbang dalam merayakan seluruh perayaan termasuk Advent & Paskah. Tapi kalau mau ditanya, perayaan mana yang terbesar bagi iman saya sebagai Kristen? sampai detik ini saya tetap mengatakan: bukan Natal, tapi Paskah.

  23. pea
    October 23, 2008 at 4:20 pm

    Menarik aku membaca rumametmet , mudah-mudahan berguna untuk kita.
    saya setuju bahwah topik ini menarik tp terlampau dipaksa. amang yg blm terlampau sy kenal , amang pendeta dimana ya ?? .Amang apa sebetulnya yg harus kita buat pd natal ini , pesta hura-hura, atau membantu orang yg kekurangan??

    Amang aku agak kurang yakin hal-hal yg baik akan terjadi di hkbp , krn banyakan did alam telah dihuni oleh oknum-oknum yg tidak mau melihat orang lain,sebetulnya HKBP punya orang2 baik, tapi kekuasaan tanda kutip lebih kuat, contoh :
    1. tidak mau melihat jemaatnya yg membutuhkan
    2. oknum HKBP selalu mendekati orang yg mampu , yg kurang di cuekin
    3. Pemilihan pengurus aja telah bernuansa politik ( voting dan kelompok, ini voting yg telah lobi-lobi dulu, atau spy yg tdk disuksi tersingkir, ) , mudah-mudahan di gereja amang tdk begitu ya!!
    4. banyak oknum digereja yg munafik atau tidak bisa dipercaya , kalau lihat sekilas seperti orang benar, tp didalammi hanya topeng.
    5. Kalau di HKBP berbuat yg baik akan dikecilkan , karena akan mengganggu bagian yg selama ini pegang kekuasaan.
    6. Sebagian jemaat yg terkecilkan , dan tdk akan lg bergereja di HKBP tp pihak gereja tdk akan pernah memanggil malahan membiarkan krn dianggap bisa mengganggu kekuasaan.( biasanya penguasa adalah yg menganggap banyak bekerja di gereja walaupun itu paksan, tp bisa ditutup-tutupi seolah-olah dari dalam hati melayani.
    7. Biasanya yg punya jabatan digereja yg berduit dan punya sekolah S1 , S2 dan S tingkat atas , jd dengan itu semua dia bisa berkuasa dan menganggap paling pintar sedunia,
    8.Tidak bisa dikritik , menganggap paling oke
    9. Kita terlampu segan mengingati orang yg salah, pd hal kita disuruh mengatakan yg benar.

    Ini hanya unek-unek , mudah-mudahan di gereja yg amang pimpin tdk ada begitu , aku yakin amang akan konsekkwen dengan tulisan amang.
    krn dari tulisan amang banyak yg tertarik ide-ide amang, tapi klw amang melakukan begitu, apa kata dunia.b ravo amang. kembali ke Natal mudah-mudahan kita lebih melihat orang dan merasakan.

    Daniel Harahap:
    Kalau tentang proses pengambilan berdasarkan voting, saya termasuk yang menyetujui dan melakukannya, karena sesuai Aturan HKBP. Proses voting tak sempurna namun tetap lebih baik daripada main tunjuk. :-)

  24. jho
    October 23, 2008 at 8:17 pm

    bagus itu masukan dari pea , paling tdk kita bercermin dan memperbaiki .
    gimanapun HKBP mempunyai banyak umat jadi harus bisa adil dan bijak sana. mengutamakan kebenaran.

    benar memang sering yg tdk punya terpinggirkan malahan tdk digubris, mau datang gereja atau tdk ngak masalah. tp kalau yg berduit dicarii atau ditanyai.
    yang duduk di organisasi gereja tdk peka , terlampau merasa paling tinggi.
    paling pintar.( maksudku oknumnya)
    kalau voting aku tidak mengerti, setau aku di DPR itu ,tp kalau di gereja ada ya merekalah itu, kalau bernuasansa politik biar aja dosa mereka itu.

    tapi intinya marilah kita lihat yg benar , karena banyak jg sekarang dari depan benar tapi dari dalamnya busuk , bahasa politik , yg lg trend di tv politik busuk.bukan di HKBP maksudku.

    bagus ide amang itu mengenai natal sesudah advend , tapi perlu kembali dilihat lebih jauh karena natal telah menjadi budaya, maksudku gimana disosislisasikan kembali agar tau fokusnya.
    Tapi kenapa kalu kita bernatal begitu-begitu aja, maksudku kurang menyentuh, apa cuma aku yg gitu amang, mudah-mudahan. horas
    mudah-mudahan natal tahun ini lebih bermakna terutama di HKBP yg kita cintai.

  25. Salngam
    October 23, 2008 at 11:43 pm

    Pro Bapak Pdt Andar.
    About “Parpunguan Bodari Parningotan di Hatutubu ni Tuhan Yesus”. Yang Bapa sampaikan apakah artinya itu?. Apakah artinya bukan Peringatan Lahirnya Tuhan Jesus Kristus, atau saya yang kurang faham Bahasa Batak???. Dan di HKBP kami baik yang jam 17.00 dan yang jam 20.00 Pendeta selalau mengakhiri kebaktian Natalnya (acara jam 20.00 biasanya pakai Bahasa Indonesia dan dalam susunan acara disebut KEBAKTIAN NATAL!!!???) dengan kata-kata “SELAMAT NATAL MA DI HITA SUDENA”, laos masijalangan ma hita-sama hita. Hape ndang jatuh dope tanggal 25 Desember. Angka sintua dohot Pandita pe huroa ndang apala si jaha almanak ate di gareja nami i???.
    Begiitulah dahlu, nanti saya dibilang kurang santun. Mohon maaf, aku adalah par Balige, kami kurang diajar memperhalus bahasa alana sala do ninna memperhalus bahasa molo di hutanami. Songon umpama ni halak Batak Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hatani begu. Sampai sekarang saya pikir saya masih jolma!!!. Mudah-mudahan tidak pernah berubah. Peace. Tuhan memberkati.

  26. Andar
    October 24, 2008 at 3:12 am

    Pro Bapak Salngam.
    1. Saya pikir kita boleh sepakat untuk tidak sependapat dalam topik ini. Saya juga sedang mencari korelasi antara santun berbicara dengan isu kedaerahan. Seorang sahabat saya adalah orang Balige tulen, dia mengajar etika komunikasi. Kesimpulan saya, masih sangat banyak orang Balige yang santun dalam berbicara walaupun tanpa kehilangan makna. Di samping itu, apakah semua orang yang halus dalam berbicara dapat dikategorikan dengan begu? Wah bisa2 marah nanti orang-orang yang halus bicaranya kalau disetarakan dengan begu. Tapi mudah2an bukan itu yang bapak maksud. Kalau bapak punya Alkitab, dalam Galatia dikatakan salah satu buah2 roh adalah kelemahlembutan. Jadi saya harap, jangan membuat sebuah generalisasi jika belum berdasarkan penelitian secara ilmiah!

    2. Sekedar share pengalaman, di beberapa jemaat yang pernah saya layani, saya selalu mengatakan kepada parhalado jika saya berkhotbah tanggal 24 Desember malam, agar menulisan dalam tata ibadah dan mengucapkan: “Selamat Menyambut Natal,” bukan “Selamat Natal.” Nampaknya semuanya berjalan lancar dan baik2 saja.

    Daniel Harahap:
    Kesaksian Ibu saya yang kini berusia 80 tahun, pada masa remajanya di Laguboti Toba mereka masih bekerja di sawah pada tanggal 24 Desember, namun setengah hari. Malamnya mereka ke gereja untuk “manutung lilin” namun belum memakai baju baru. Pesta Natal adalah besoknya. Saya pikir hal ini sesuai dengan kalender gereja. Perayaan Natal sesungguhnya adalah tanggal 25 Desember. Namun pergeseran terjadi. Banyak orang menganggap bahwa ibadah tanggal 24 Desember itulah puncak pesta natal. Ini PR gereja kita.

    Saya pikir perdebatan soal natal dan adven ini sudah cukup. Kita disini bukan untuk mengambil keputusan. Terima kasih untuk semuanya. :-)

  27. Saurdot
    October 24, 2008 at 11:25 am

    Saya pernah ditegur oleh mendiang ‘inang pangintubu’-ku karena dalam suatu pembicaraan saya mengulang-ulang pendapat seolah-olah yang dijelaskan belum dimengerti kawan bicara, padahal sebenarnya sudah ada perbedaan pendapat. Teguran diberikan setelah selesai pembicaraan yang tak berujung dan tak berkesimpulan. Debat kusir. “Belajarlah bicara efisien, Amang!” (saya terjemahkan ke kalimat yang sopan).
    Menurutku, demi efisiensi penggunaan lahan rumametmet sebaiknya ‘parjabu’ boleh menggunting pendapat yang sama untuk topik yang sama yang bersumber dari satu orang. Ndang gabe pencerahan na ni dapot, malah berkesan pemaksaan kehendak.

  28. October 28, 2008 at 8:31 am

    Ada tertulis;
    1 Petrus 4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

    Mudah-mudahan apa yang dilakukan Amang ini adalah sesuai apa yang tertulis pada Lukas 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

    Apabila memang Amang menganggap bahwa Peringatan Natal yang ada sekarang (bertumpukan/bersinggungan) dengan Perayaan Advent, maka semuanya itu mungkin karena Matius 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

    Hanya pertanyaannya, kenapa musti ayam yang disalahkan ketika ayam tidak bertelur, kenapa angin laut yang disalahkan ketika ombak menghantam perahu, mengapa hujan yang disalahkan ketika banjir menghantam. mengapa tidak peringatan advennya yang diperpendek masanya agar perayaan Natal bisa sebelum natal.

    Daniel Harahap:
    Putra bungsu kami Wili pernah memohon dengan menangis kepada saya agar diijinkan membuka kado dari Tulangnya sehari sebelum tanggal ulang tahunnya. Hati saya sebenarnya sudah luluh, namun menurut saya anak kami yang berusia 7 tahun itu harus belajar sabar dan mampu menunda kesenangan. Saya tetap mengatakan: tidak. Akhirnya dia tertidur sambil memeluk kado dari Tulang masih dalam keadaan terbungkus dan membukanya keesokan harinya setelah bangun persis pada tanggal ulang tahunnya. Apa yang terjadi? Sukacitanya benar-benar meluap karena berhasil melewati masa penantian itu. Dan saya yakin itu akan sangat berharga baginya kelak setelah dewasa.

    Kisah lain: di sebuah konseling seorang pemuda bertanya: apakah dia boleh melakukan hubungan seks dengan calon istrinya (toh waktu pernikahan sudah dekat, tinggal sebulan lagi, dan undangan sudah disebar kemana-mana)? Saya menjawab: tidak. Tapi kalau kamu sungguh tidak sabar lagi dan tetap memaksa ingin melakukannya sebelum hari pernikahan, saya tidak bisa mencegahnya.

    Pesan moral: belajarlah bersabar dan menunda kesenangan. :-)

  29. Erina Christiani Ginting
    October 29, 2008 at 2:45 pm

    Wah..seru bgt ya baca semua pendapat2 di atas.. ! kelihatan sekali bahwa kita semua ingin terus mencari kehendak Allah disini.. (mudah2an saya tidak salah)

    Saya si bkn jemaat HKBP, tp saya sempat lho memikirkan apa yang Amang bilang. Masa2 Advent mmg jarang terpublikasikan dengan benar bg jemaat awam, mereka hanya tahu ada lilin yang terpasang setiap minggunya. Jujur saja, dulu saya jg kurang tahu Minggu Advent itu apa? tp setelah ikut dalam pelayanan mahasiswa, saya semakin banyak mengerti firman Tuhan.

    Di GBKP sendiri..khususnya di gereja saya di Medan, kami masih srg ngerayain Natal sblm tgl 25. Phn Natal jg uda dipasang tepat bln 12.. tp blm ada yang protes tuch Amang? Pengen sih Natal itu dirayain serentak untuk pertama kalinya pa tgl 25 Des, tp saya hanya bs ikut aturan lama..

    Harapan saya setiap kita yang telah mengenal Tuhan dan KebenaranNya, janganlah takut untuk menyatakan apa yang benar, bukan menurut kita, tp oleh karena kepekaan mendengar suara Tuhan…

    Semoga Amang pun demikian, juga kita Hamba2 Tuhan yang lainnya…semakin luar biasa dipakai Tuhan dan semakin rendah hati untuk menyatakan kebenaranNya.

  30. w_hut
    November 17, 2008 at 5:59 pm

    Horas amang,

    Menarik juga nie perdebatannya. Menurut saya, ajakan amang DTA tidak salah, tp sebenarnya perayaan sebelum tgl 25 di gereja HKBP terjadi di kebanyakan di kota-kota besar.

    Terkadang jadwal, jarak yang jauh, serta kerinduan merayakan natal bersama rekan2 sesama (banyak artinya: bisa sesama naposo, sesama ASM, sesama ina, dll) yang mempunyai ikatan batin lebih kuat membuat kita sebagai jemaat akhirnya memutuskan bernatal sebelum tanggal 25.

    Kalau boleh saya analisa, sebagian besar bisa meluangkan waktunya untuk perayaan hanya di hari jumat malam atau sabtu malam, dimana bila melihat jarak antara tgl 26 des – 6 jan sangat sempit, sementara gerejanya hanya 1.

    Mungkin hal ini juga perlu jadi pertimbangan amang. Janganlah disamakan dengan di kampung, karena jumlah penduduk kampung dan kota pun sudah berbeda dan amang juga mengambil pengalaman dari natoras amang yg sudah berumur 80 tahun(??) dimana penduduknya belum sebanyak sekarang…

    Mungkin bisa dicarikan suatu solusi amang, bukan suatu suatu keputusan yang akhirnya akan membuat orang mengalihkan perayaannya di luar HKBP.
    Bukankah keflexibelan itu yang membedakan dengan umat katolik (correct me if I’m wrong)?

    Daniel Harahap:
    Salah satu solusinya: lebih banyak merayakan paskah saja. :-)

  31. November 27, 2008 at 2:38 am

    Karena Alkitab sendiri tidak menuliskan tanggal kelahiran Yesus yang pasti, maka peristiwa perayaan natal merupakan peristiwa yang dirayakan sejak tahun 1100. Perayaan ini menjadi mentradisi dan oleh para pakar teologi menyusun tata cara merayakannya dengan memulai dari masa-masa adventus 4 Minggu. Dan hal ini diikuti oleh orang Kristen yang kemudian. Namun belakangan ini tradisi Natal lebih menonjol dari tradisi Adventus. Apakah menjadi berdosa jika orang Kristen lebih menonjolkan perayaan Natal? Dan orang yang merayakan Adventus adalah orang yang paling benar? Bukan soal dosa dan tidak berdosa dalam hal ini yang menjadi fokus kita. Tetapi bagaimanakah kita menjadikan Kristus lahir terus-menerus di hati kita itulah Natal itu sendiri. Perayaan itu hanyalah merupakan sarana untuk mengingatkan kita untuk kembali melahirkan Yesus di hati kita. Oleh sebab itu, janganlah kita habiskan energi kita hanya membahas seputar kapan sebaiknya Natal kita rayakan? Yang terpenting adalah lahirkah Yesus di hati kita setiap saat atau hanya pada bulan Desember saja Yesus mengisi hati kita masing-masing.

    Daniel Harahap:
    Kalimat terakhir menyesatkan. Yang benar Yesus lahir di Betlehem pada masa pemerintahan Kaisar Agustus dan Kirenius menjadi wali negeri Siria. Peristiwa kelahiran Yesus adalah peristiwa historis (walau tidak diketahui tanggalnya). Jangan dibuat kelahiran Yesus menjadi abstrak. Merayakan Natal mengikuti kalender (baca: bukan suka-suka) tidak berarti mengabaikan Yesus di hari-hari lain. Satu lagi: yang harus dirayakan setiap minggu adalah kebangkitan Yesus!

  32. November 27, 2008 at 8:03 am

    setuju banget natal dilaksanakan pada tgl 25 s/d 6 Januari, sosialisasi dan pelaksanaan sbb: natal kategorial hanya sekolah minggu 2 kali dan natal bersama(naposo/remaja,ama,ina,wilayah) satu kali, jadi natal dilaksanakan hanya memakan waktu 3 hari .dan juga dapat memangkas biaya natal yg begitu besar, seperti salah satu HKBP di Jaktim biaya Natalnya 110 juta rph. kan lebih baik dipergunakan sebagian utk pelayanan diakonia atau disumbangkan memperbaiki gereja yang tidak mampu.

  33. November 27, 2008 at 4:51 pm

    Ahhh…tapek dech….
    Pendeta ama jemaat sama aja, saling memaksakan pendapat. Lebih baik tunggu keputusan dari pimpinan (atau rapat pendeta dech….) jadi tidak perlu sampai tegang urat leher.

  34. December 22, 2008 at 8:59 am

    Boleh donk nimbrung dikit, saya adalah warga GPIB. Artikel blog ini memang belum saya caba seutuhnya tapi saya hanya tertarik dengan salah satu komentar pengunjungnya mengenai masa advent. Di GPIB saat ini sudah tidak diperbolehkan merayakan perayaan natal sebelum tanggal 25, dengan alasan itu adalah masa penantian. Tentu saja semua alasan dan dasar teologisnya sudah dipikirkan sebelumnya. Dan d GPIBpun pro dan kontra tetap saja ada tetapi ketika hal itu di putuskan maka apapun alasan kita menolak yah tetap harus menghormati keputusan bersama.

    Maaf rasanya Pendeta Daniel Harahap pernah melayani di Palembang yah….

    Daniel Harahap:
    Saya di Palembang 1991-1996. Saya sudah mulai tua: kita sudah pernah bertemu? :-)

  35. poltak limbong
    October 13, 2009 at 2:36 am

    Kepada bapak pelayan di HKBP….kami dari jemaat HKBP Limbong Sagala) yang sedang kuliah di medan membuat paniatia natal tuk kami rayakan bersama orang tua kami dikampung. kami ingin mengambil tema tentang keadaan alam di negara kita ini (gempa) tapi kami kesulitan untuk mendapatkan bahan. kami minta tolong kepada bapak ibu pelayan hkbp untuk mencari naskah tentang itu……kami berharap bantuan bapak…..klo boleh bersama drama…..terima kasih….

    Daniel Harahap:
    Kenapa tidak membuat Natal bertema lingkungan saja? Misalnya Natal dan pemulihan alam pulau Samosir dan Danau Toba? :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *