Jaket Bertopi

October 31, 2008
By

nina-jaket.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Masih pukul setengah tujuh pagi. Sedang asyik-asyik memandangi tanaman di halaman gereja Serpong saya dikejutkan nada panggil telepon di rumah. Ah, siapa pulak menelpon pagi-pagi ini? Salah sambung lagi (seperti pukul lima pagi tadi)? Rupanya Martha dari Palembang. “Ada apa, Say?” tanya saya. Biasanya pada jam segini mereka sedang repot-repotnya hendak berangkat ke sekolah sebab itu jarang sekali menelpon. Jika menelpon, berarti ada yang penting atau ada masalah.

“Palembang sedang hujan deras. Anak-anak kusuruh pakai jaket. Wili pake sweater bertutup kepala yang kemarin kita beli. Kika pakai jaket Barbie yang dibeli Ompung di Bandung tahun lalu. Masalah: Nina nangis kenapa hanya jaketnya yang tidak bertopi!”Oala. Itu rupanya. Saya senyum sendiri membayangkan anak gadis kami nomor dua yang chubby berlinangan air mata. Pastilah mukanya tambah cantik.

Ini bukan pertama kalinya saya ditugaskan menyelesaikan urusan dari jarak jauh. Biasanya jika Martha sudah terlalu pusing (sebab semua hal termasuk yang baik bisa dipermasalahkan oleh ketiga anak kami) maka dia akan melempar ke saya, ke Serpong. “Mana Nina?” kata saya. Lama tak ada suara. Saya yakin Martha sudah memberikan ponsel itu ke tangan Nina. Terus terang, sepuluh tahun menikah membuat saya cukup piawai menyelesaikan urusan-urusan begini. “Hallo Nina? Hallo Nina?” Saya mencoba sangat rileks dan ramah. Pengalaman, sikap rileks dan ramah sangat membantu menyelesaikan masalah baik terhadap anak-anak maupun di Rapat Majelis sekali pun. :-) “Hallo Nina sayang, apa kabar, Palembang hujan ya?” Terdengar suara isak. Dia tetap tidak berkata apa-apa.

Saya menarik nafas. Memang dulu saya tak jadi masuk Psikologi UI karena memilih masuk pesantren teologi di Proklamasi, namun tak sombong saya sudah belajar sendiri aspek psikologi. Demi pertumbuhan anak, saya tidak boleh mendahului. Saya tak mau mengambil-alih masalah. Hakikatnya ini masalah Nina dan bukan masalah saya. Pagi ini saya baik-baik di Serpong. :-) Nina harus belajar mengungkapkan masalahnya. Dan lagi-lagi berdasar pengalaman, jika seseorang sudah berhasil menceritakan masalahnya dengan tepat, sebenarnya masalah itu sudah hampir selesai. Percayalah. “Hallo sayang, Serpong cerah tapi Palembang hujan deras ya, apa masalah, Inang?”

Bercampur isak Nina pun akhirnya mengeluarkan isi hatinya, “Kika dan Wili jaketnya bertopi cuma Nina sendiri jaketnya yang tidak pake topi” (lantas lanjut menangis lagi). Saya menarik nafas dan sikap tubuh menjaga ketenangan. Sebagian masalah bisa selesai bila kita tenang. Saya menggaris bawahi pernyataan Nina “Oh, itu masalah rupanya: Nina tidak punya jaket bertopi seperti Kika dan Wili!”. “Iya” katanya sambil menangis lagi.

Kami tinggal terpisah. Anak-anak ikut Mama yang sedang melanjutkan studi di Palembang. Saya tugas sebagai pendeta di Serpong Tangerang. Namun saya berpikir keras mengingat-ingat koleksi jaket dan baju hangat ketiga anak ini. Gagal. Saya mencoba menyelidik. Sok tahu saya bertanya saja “perasaan bapak jaket Nina ada beberapa, kemana jaket Nina yang bertopi rupanya?”

“Sudah sempit!” jawabnya. Aha, kata saya dalam hati ketemu solusi.

“Oh berarti jaket bertopi Nina ada namun sudah sempit. Nina cepat besar dan jaketnya jadi kekecilan. Baiklah. Bapak kasi ide. Pagi ini Nina pake jaket yang tidak ada topi ke sekolah. Sabtu besok atau Minggu minta Mama belikan jaket yang ada topi. Maukan?”.

Nina diam. Tapi tak ada lagi suara sesunggukan. Saya membayangkan Nina mengangguk. Berarti urusan beres. Senyum penuh kemenangan, saya pun minta disambungkan lagi dengan Mamanya. “Beres, Say” kata saya. “Besok belikan saja Nina jaket bertopi”. Martha diam. Entah apa yang dipikirkannya.

Saya duduk di teras sambil membayangkan Martha dan anak-anak bergegas masuk ke halaman sekolah dengan jaket dan payung. Uh pasti repot sekali. Syukurlah hujan hanya di luar dan telah berhenti di dalam. Namun tiba-tiba saya teringat lagi komplain Kika dua hari lalu kenapa oleh-oleh baju dari Mama untuk Nina lebih bagus? Aneh. Padahal saya membelinya bersama Martha di WTC Serpong dan tahu harganya sama betul. Sebelumnya Kika dan Nina mempersoalkan kenapa jumlah buku cerita (terutama harganya) yang dibeli untuk Wili lebih banyak. Dan kemarin Kika cemberut karena Mama mengganti sepatu Nina yang robek di sekolah. Namun yang paling lucu Wili si bungsu protes kenapa di album foto Kika dan Nina lebih banyak, dan dia tidak diajak ke Tangkuban Parahu. Bagaimana mau mengajaknya sementara dia belum lahir? Ada-ada saja. Masih ada lagi, entah siapa saya lupa, yang protes kenapa kue ulang tahunnya kotak sementara saudaranya bulat. Ya ampun. Saya pikir, kami sebagai orangtua sudah berusaha adil. Namun keadilan bukanlah berarti sama rata sama rasa. Itu gagasan komunis dan komunisme sudah mati. Apakah semua dalam hidup ini harus senada dan seragam seperti maunya Orde Baru? Ah Orde Baru sudah runtuh, ceramah saya kepada diri sendiri.

Ini hari Jumat. Besok Sabtu atau lusa Minggu jaket bertopi Nina sesuai janji akan dibeli. Adil: semua anak punya jaket bertopi. Apakah masalah selesai? Saya berdoa, semoga hari Minggu malam atau Senin pagi tidak ada komplain dari Kika atau Wili kenapa jaket Nina jadi lebih banyak. Kemarin yang dipermasalahkan bentuk, besok pasti jumlah. Lusa soal warna. Kalau sudah begitu, dan kemungkinan besar akan begitu, kapan selesainya semua urusan keadilan ini? Mungkin tak pernah selesai dan tak harus selesai. Tetap saja gembira. Walau hujan deras atau mendung cuaca. :-)

Share on Facebook

15 Responses to Jaket Bertopi

  1. Gerda Silalahi on October 31, 2008 at 10:19 am

    bang, gimana rasanya mengatasi kangen pada KNW dan juga pada kak Martha? kami sedang dihadapkan pilihan tinggal terpisah nih dengan papanya belle.

    Daniel Harahap:
    Cara mengatasi kangen: menulis di blog. Satu lagi: pelihara angsa. :-)

  2. Kimron Manik on October 31, 2008 at 10:38 am

    Saya juga punya pengalaman yang hampir sama, suatu hari kami sekeluarga jalan-jalan ke WTC Matahari, si Abang minta dibeliin buku di Gramedia, dan permintaannya dikabulkan, harga buku sekitar Rp. 10.000,- si Adik juga minta dibelikan buku juga dikabulkan, tapi harganya sekitar Rp. 15.000,- . Yang terjadi selanjutnya, si Abang tiba-tiba menangis, air mata bercucuran, ditanya kenapa? Dijawab si Abang, Papa tidak adil, masa buku si Adik lebih mahal. Saya mencoba memberikan penjelasan bahwa buku tersebut sesuai dengan kebutuhan si Adik, namun si Abang tetap tidak terima dan terus menangis, lalu saya tanya, Abang maunya apa? si Abang jawab, Papa berutang ke Abang sebesar Rp. 5.000,-, supaya sama dengan si Adik. Pusing juga jadinya, tapi untuk penyelesaian sementara terpaksa saya katakan kepada si Abang nanti Papa bayar di rumah, namun si Abang tetap menangis, dan akhirya saya mengalah juga, bayar juga Rp. 5.000,- baru dia diam.

    Tapi cerita ini mungkin juga bisa terjadi pada kita, pada saat teman atau tetangga kita mendapat sesuatu yang “lebih baik” dari yang kita peroleh, kita merasa Tuhan tidak adil.

  3. Nainggolan on October 31, 2008 at 11:56 am

    Itulah indahnya hidup, indahnya keluarga yang Tuhan anugrahkan buat kita. Thanks atas tulisan2 Amang yang menjadi inspirasi buat saya. Btw, saya mohon ijin link blog Amang di blog saya, jika berkenan mohon blog saya di link juga.

    Daniel Harahap:
    Berkenan. :-)

  4. Easther Agung on October 31, 2008 at 12:48 pm

    membaca pengalaman amang bersama keluarga sungguh semakin membuatku yakin bahwa Dia punya rencana bagiku untuk tetap tekun menunggu anugrahNya di tengah keluarga kecil kami ini sambil terus memperbanyak bekal dari pengalaman para orang tua lainnya untuk (mudah2an) dapat menjalani peran sebagai orang tua yang sesungguhnya dengan sebaik2nya kelak.

  5. Ninggor Pardede on October 31, 2008 at 3:10 pm

    Salah satu RESEHnya ama-ama sekarang. Borunya sudah berlinangan air mata tapi bapaknya membayangkan borunya tambah cantik. Sama kita amang.
    Kiranya kebahagiaan ini menular juga buat saudara-saudara kita yang belum mendapat momongan.
    Sai marpamuati ma Debata tu angka napasahat pangidoan tu Ibana.

    Daniel Harahap:
    Ada banyak teman, saudara, anggota jemaat (termasuk yang saya layani pemberkatan nikahnya) masih terus menanti-nantikan kehadiran anak di tengah-tengah mereka. Saya mau menyatukan doa dan hati dengan mereka. Dengan alasan itu jugalah salah satu saya menolak berpesta sebelum 25 Desember, saya ingin sebulan penuh berdoa dalam keheningan – menyatukan kerinduan, rintihan dan doa tak terucapkan dengan mereka. Bukan hanya dengan mereka, tetapi juga dengan yang bergumul lainnya termasuk menantikan kesembuhan, pemulihan hidup, panen, jodoh dan lain-lain.

  6. Ninggor Pardede on October 31, 2008 at 3:56 pm

    Mauliate godang Amang. Dipargogoi Tuhani ma Amang dinamandalanton angka naniula ni Amang, songon i nang hami angka ruas muna on.

  7. Ramouthy on October 31, 2008 at 6:36 pm

    hihihi… lucu sekali amang anak2nya…
    Saya jadi ingat dulu juga saya menjadi anak yang selalu protes soal keadilan sama mama dan papa. Gak percaya kalo perbedaan perlakuan mama dan papa terhadap kita masing2 itu sebenarnya penghormatan mereka terhadap perbedaan kepribadian kita. Kenapa warna tas saya dan kakak berbeda? kenapa bajunya kakak eka lebih banyak dari saya? hahahaha… sampai sekarang bahkan mama suka meledek saya atas slogan saya waktu kecil sama mama dan papa “Kalo saya benar katakan benar, kalo salah katakan salah!” karena saya selalu protes saja kerjanya.

  8. ny siaahaan on October 31, 2008 at 10:59 pm

    Andaikan semua bapak2nya orang batak seperti amang,yang sangat baik memperhatikan hal hal kecil dalam perilaku anak kelak akan ditemukan hal2 besar dalam diri anak tersebut,papanya anak2ku ga mungkin lagi merubah sikapnya terhadap anak2nya krn diapun pasti mendapatkan pola pemikiran dari arangtuanya. Kebiasan2 para bapak2 orang batak inilah yg ingin tdk diterskan lagi dikeluargaku untuk yg akan datang makanya anak lelakiku yg baru smester 1 kusuruh membaca tulisan amang ini disamping sesekali kami sekeluarga bareng nonton Nany 911 nya Metro TV.

    Buatku memang sdh terlambat tetapi buat anak2 itu kelak menjadi modal, kira2 begitulah bayanganku
    Membaca tulisan2 amang terutama kalau menyangkut anak amang. aku membayangkan mereka akan menjadi pribadi2 yang tangguh dan tdk rapuh krn dilimpahi kasih sayang yg luar biasa dari kedua oarngtuanya walaupun dgn bapaknya jauh, dan aku yakin seorang ibu seperti inang Martha adalah ibu yg luar biasa Dianugrahi kecerdasan untuk menjadi seorang mama dambaan semua anak2 didunia ini.

    Berbahagialah anak2 amang yang memiliki papa dan mama yg luar biasa , mudah2an keluarga amang menjadi Inspirasi buat rumah tangga pengunjung jabu nametmet siboan dameon alai mansai balga pengaruhnya.

    Daniel Harahap:
    Inang terlalu memuji dan menyanjung kami. Padahal memakai bahasa Medan: awak ini apalah?! :-)

  9. Pangondian Ritonga on November 1, 2008 at 11:05 am

    Saya juga sering berada di luar kota namun jika terjadi masalah antara dua “jagoan” saya, paling pusing jika diajak bicara tetapi mereka ngak mau malah diam dan ngambek. Kalau sudah begini ingin cepat-cepat mendatangi mereka agar masalahnya cepat selesai. Lae DTA, anak saya yang paling besar sering lebih menuntut keadilan daripada adiknya dan sepertinya adiknya lebih sayang kepada abangnya daripada sebaliknya
    Memang semakin gamang juga rasanya menjadi orang tua yang benar untuk masa sekarang

  10. Rissa Agnes Indralia Sitanggang on November 2, 2008 at 1:26 am

    Wah Amang, aku baru baca nich…anak2 Amang lucu dech…aku sam adeku yang bernama Angel melihat foto2nya mereka aja kagum…apalagi pas baca blog ini…jadi teringat masa kecilku bersama ke 4 saudaraku…

    Benar2 anak yang lucu…salam yah Amang buat Kika, Nina, dan Wili.
    Oh iya pesan buat Nina : Dimana belajar photography? Photo yang dihasilkan keren2 lho.

  11. Rudi Juan Carlos Sipahutar on November 2, 2008 at 10:45 am

    ……Saya pikir, kami sebagai orangtua sudah berusaha adil. Namun keadilan bukanlah berarti sama rata sama rasa. Itu gagasan komunis dan komunisme sudah mati. Apakah semua dalam hidup ini harus senada dan seragam seperti maunya Orde Baru…….

    keadilan tak mesti seragam,…..
    Tapi siapakah yang menentukan/ memutuskan hal yang baik dan adil buat Kika, Nina n Willy ??
    untuk kasus ” jaket bertopi”, Nina menggugat “yang baik dan adil “. Nina menuntut hak untuk di perlakukan sama tanpa pengecualian. Saya yakin Nina menginginkan jaket bertopi, tapi pasti beda warna dari jaket yang di miliki k”kika n d’ willy. Nina punya pilihan nya sendiri….Keputusan tetap ada di Nina sendiri.. he…he…he..

    Dalam kasus jaket bertopi, saya fans berat NINA yang chubby…
    sebagai anak tengah dari 3 bersaudara, tidak bisa di pungkiri sering jadi ” korban” kurang perhatian ortu dibandingkan dengan kakak n adiknya..
    ( status anak sulung n anak bungsu sering jadi senjata pembelaan).

    Ayo Nina.. sesama anak tengah dari 3 bersaudara, kita perjuangkan hak-hak kita untuk diperlakukan sama oleh ortu kita! Kita harus menghapuskan “pilih kasih”….

    tapi ingat! Apapun yang terjadi, Kita harus tetap sayang kepada semua anggota keluarga kita…
    NINA.. Maju TERUS PANTANG MUNDUR
    (btw, jaket bertopi yang baru da di beliin mama kan?)

  12. Denny Sitinjak on November 2, 2008 at 11:01 am

    Saya salut sama dengan caranya amang memberikan solusi pada keluarga amang. Sederhana namun besar hasilnya. Ini mengingatkan kita untuk belajar menggunakan komunikasi yang baik dan tepat, dan itu tidak selau berarti uang. Saya juga punya pengalaman yang hampir sama dimana anak saya yang masih TK, dia akan mengingat dan meminta untuk pergi ke kolam renang. Saban bicara: ini hari apa ??? ini kamis. besoknya jumat terus besoknya hari SABTU. Ayooo pak kita Ke kolam berenang… sambing merengek…, tetapi sesudah kita bisa kasih penjelasan dan alasan yang baik dia bisa menerima dengan jawabannya… ya sudah. Tapi nanti kita pergi pak yaa.

  13. shanty simanjuntak on November 19, 2008 at 2:16 pm

    wah senang baca bagian ini…jadi pembelajaran buat aku yang sekarang mjd ibu dari anak 3.8 tahun dan baby 11 bulan..rasanya memang jadi orang tua harus bener2 super super bijak amang..aku banyak belajar nih dari cerita2 amang, boruku si 3 tahun itu belum2 udah cemburu berat sama adiknya..maklumlah kami menunggu ada dia 8 tahun jadi kami sempat sangat2 memperlakukan dia istimewa sekali sampai ketika adiknya lahir perhatian kami otomatis sudah terbagi..dan dia seringkali protes dengan berbagai macam pola tingkahnya ..hm ya begitulah warna warni kehidupan berumah tangga ya amang..sekali lagi thanks for sharing the story – GBU always

  14. rio on November 21, 2008 at 4:33 pm

    salut…salut, sebagai anak muda saya salut sama Tulang, semoga keluarga tulang selalu terberkati oleh Tuhan dimanapun Tulang berada…Amin.

  15. D Sinaga on June 7, 2009 at 12:24 pm

    Saya melihat ini sebuah ajaran /pengetahuan tentang posisi Bapak sebagai kepala kk, toladan , Kewibawaan sekaligus pelindung, bagi kelaurga.
    Sebuah cerita yang simple yang disajikan dengan ringkas dan mudah dimengerti namun memiliki isi yang kuat untuk memperlihatkan seorang tua yang bijak tanpa hadir didepan anaknya namun bisa didengar dan dituruti anak-anaknya, mauliate untuk amang semoga kami bapak-bapak yang membaca bisa mendapatkan makna yng amang ceritakan .
    Horas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*