Almanak Kamis 30 Oktober 2008:
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Kejadian 15:6)
Di suatu malam TUHAN mengajak Abram ke luar kemahnya dan memandang ke langit serta menghitung jumlah bintang yang bertaburan di sana. Tentu saja Abram tidak sanggup menghitungnya. Lalu TUHAN berkata: “seperti banyaknya bintang itulah nanti jumlah keturunanmu”. Abram percaya kepada perkataan TUHAN itu walaupun pada saat itu dia dan istrinya Sarai sudah tua dan tidak memiliki anak. Lantas? TUHAN memperhitungkan kepercayaan Abraham itu sebagai kebenaran.
Mungkin sekali Abram tidak tahu bagaimana perkataan TUHAN itu bisa menjadi kenyataan. Dia dan istrinya sudah tua karena itu sebenarnya tidak berharap lagi dapat memiliki anak. Namun Abram percaya TUHAN tidak berbohong kepadanya dan akan sungguh-sungguh melakukan apa yang dikatakanNya. Apa dan bagaimana caranya TUHANlah yang tahu. Abram hanya percaya dan berserah kepada TUHAN. Itu jugalah yang dilakukannya saat dia dipanggil keluar dari rumah ayahnya ke negeri yang akan ditunjukkan TUHAN kepadanya (baca: belum diketahuinya).
Hari ini kita diajak untuk merenungkan ulang makna iman atau kepercayaan. Abram merupakan contoh iman atau kepercayaan sejati itu. Beriman kepada TUHAN berarti beriman penuh tanpa ragu kepadaNya. Percaya kepada TUHAN berarti percaya tanpa batas, tanpa syarat dan tanpa pamrih kepadaNya. TUHAN tidak pernah bohong. TUHAN mau dan mampu melakukan segala yang dikatakanNya. Sungguh ini suatu kekuatan bagi kita di tengah kenyataan hidup masa kini yang penuh dengan berbagai masalah dan kesukaran. Abram menginspirasi dan memotivasi kita agar selalu hidup dalam kepercayaan atau iman yang penuh kepada TUHAN.
Lantas bagaimana dengan akal budi pemberianNya? Silahkan tetap berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif dalam hidup ini namun percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hati dan jiwa.
Doa:
Ya Allah, karuniakanlah kami iman sejati yang berasal dari Engkau agar kami dapat percaya kepadaMu. Engkau sendirilah yang menumbuhkan dan meneguhkan iman di hati kami dengan firman dan RohMu. Di saat-saat kami menghadapi masalah yang berat dan banyak, dalam penderitaan dan pergumulan, atau ketika hati kami merasa sangat perih karena begitu lama menanti-nanti, peliharalah iman kami. Berkatilah kami berlimpah-limpah dengan damai sejahtera dan sukacita. Engkaulah Perisai dan Pelindung kami. Dalam Kristus. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Yang jelas jika kita percaya kepada Tuhan, dan menyerahkan seluruh kehidupan kita kepadaNya,
maka Tuhan akan selalu memberikan kepada kita sesuatu yang terbaik dan tepat pada waktunya.
Jika yang kita minta tidak dikabulkan, berarti permintaan tsb bukan yang terbaik bagi kita,
Jika yang kita minta itu tidak segera dikabulkan, berarti belum tiba saatnya,
Jika yang kita minta tidak seindah yang kita minta, berarti itulah yang terindah untuk kita.
Dan jika permohonan kita dikabulkan Tuhan, segeralah mengucap syukur,
dan jangan bersungut-sungut.
Berkat-berkat yang diterima oleh Abram (Abraham) adalah PEMENUHAN JANJI ALLAH terhadap orang yg DIPILIHNYA. Hak mutlak Allah, bukan karena kepercayaan Abraham.
Daniel Harahap:
Lho, kok tiba-tiba menekankan hak dan bukan anugerah Allah? Darimana pulak munculnya gagasan itu? Alkitab justru menekankan kepercayaan Abraham (kepada Allah) itu.
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Menanggapi Amang Pardede. Kejadian 15:6.
Logikanya: Allah terlebih dulu menyampaikan janjiNYA dan kemudian Abram percaya. Dan Allah memperhitungkan respon Abram sbg “kebenaran” bukan konfirmasi. Atau apakah janji Allah tersebut tidak akan dipenuhi apabila Abram pada waktu tdk percaya atau ragu2? Bagi kita saat ini semua Janji Allah Ya dan Amin. Saya mencoba merenungkan suasana bathin Abram ketika itu antara logika dan Iman amat kontradiktif. Pikirannya yakin bhw itu nggak mungkin tapi itu Janji Allah yang Maha Pencipta. Bgmn perilaku yang sama dapat di terapkan dalam keseharian Kerja dan Karya kita, itu sangatlah berharga.
Keraguraguan Abraham:
1. Kisah Abraham dan Abimelekh (kejadian 20)
2. Mengawini Hagar atas permintaan istrinya Sarai (kejadian 16).
Jadi saya berkesimpulan bahwa “Hak mutlak Allah untuk memberikan Anugrah kepada Abraham, sama sekali bukan karena kepercayaan Abraham”
Daniel Harahap:
Saya tidak menyangkal hak mutlak Allah (lho namanya juga Allah), tetapi Alkitab jarang sekali menekankan tema itu. Alkitab lebih banyak berkisah tentang Allah yang pengasih dan manusia yang berdosa namun percaya kepadaNya.
Kedua kisah itu mau mengatakan Abraham juga manusia.
Secara akal manusia, kadang pergumulan dan penantian yang kita hadapi membuat kita ragu, takut tidak terwujud dan ragu akan dijawab. Hanya dengan memohon kepada-Nya juga untuk tetap meneguhkan iman dan memeliharanya terus.
Bersyukurlah orang yang dipilihNya.
Mungkin kita atau saya bukan orang yang dipiliNya alai sai marpamuati ma tutu rohani Tuhan disude hita angka namarpangidoan tu Ibana. Jala tolap ma nian BasaNai sahat tu hita jolma namarpangidoan.
Daniel Harahap:
1 Korintus 12:3 mengatakan tidak satu orang pun yang dapat menyebut Kristus Tuhan jika bukan didorong Roh Kudus. Artinya: tak ada keraguan, semua yang percaya dan dapat berseru Kristus boleh mengklaim diri telah dipilih olehNya.
Benar Abram merupakan contoh iman atau kepercayaan sejati. Beriman kepada TUHAN berarti beriman penuh tanpa ragu kepadaNya. Percaya kepada TUHAN berarti percaya tanpa batas, tanpa syarat dan tanpa pamrih kepadaNya. TUHAN tidak pernah bohong.
“TUHAN mau dan mampu melakukan segala yang dikatakanNya.”
Ini mungkin yang perlu dikembangkan lebih dalam. Masalahnya walaupun Tuhan mampu melakukan, tapi belum tentu mau melaksanakannya. Walaupun mampu melaksanakan, tapi belum mau melaksanakan. Contohnya, jika iblis yang menyuruhNya membuat batu jadi roti, Tuhan tidak mampu dan tidak mau melaksanakan. Jika disuruh melompat dari ketinggian tertentu, walau mampu tapi tidak mau melaksanakan. Jika ditawari harta duniawi, namun tidak mau menerimanya. Jika dikatakan Tuhan mampu melakukan segalanya, Ia juga lebih selektif untuk melakukannya. Logika nyata inilah yang perlu dikembangkan kepada Jemaat. Thank’s.
Allah punya otoritas dan kita, umatNya, percaya (belajar percaya) pada otoritas Allah.
Daniel Harahap:
Otoritas atau kasih?
Kutipan dari amang Sitanggang:
“Jika ditawari harta duniawi, namun tidak mau menerimanya. Jika dikatakan Tuhan mampu melakukan segalanya, Ia juga lebih selektif untuk melakukannya. Logika nyata inilah yang perlu dikembangkan kepada Jemaat. Thank’s.”
Amang Sitanggang, mudah-mudahan saya salah
, amang seperti bisa membaca pikiran Tuhan. Dan apakah penjelasan amang itu logika?
Tuhan mengasihi kita lebih dari apa yang kita pikirkan dan harapkan, dan ada atau tidak pengakuan kita akan kasihnya semua berpulang kepada iman pribadi kita.
Taparhatutudo holongNai dihita manang daong? anggiatma sude hita mandok diparhatutu rohakkudo
Mauliate amang DTA di jamita muna, syalom
Pasu-pasu na godang, ima roha na sonang.
Biarlah iman ku dikuatkan dan diteguhkan dalam Kristus Yesus Tuhan ku.
mauliate ma di jamita sadarion amang DTA, kiranya KASIH Tuhan juga sampai kepada saya, mohon amang DTA bantu dalam doa, agar hari lepas hari, imanku semakin dikuatkan.
Allah sendiri adalah KASIH. KASIH mempunyai otoritas yang di luar kemampuan kita untuk memahaminya (mungkin ini yang dimaksud Amang Sitanggang soal Allah mau atau tidak mau). Oleh sebab itu kita yang mengaku sebagai umat Allah percaya saja (belajar percaya) pada otoritas Allah.
Daniel Harahap:
Kok suka banget sih pake istilah otoritas?
Terima kasih amang renungan ini mengingatkan saya tuk menyerahkan semua hidup saya kepada Tuhan. Tidak khawatir lagi atas masa depan asal qt tetap berada di jalan yang terang, walaupun saat ini sepertinya jalan yang saya lalui bnyk hambatan dan perkara….
Soalnya saya terus belajar dari pengalaman hidup, terutama ketika Allah dengan otoritasNYA memanggil suami saya (bapak dari anak2 saya) untuk pulang. Saya sudah minta dengan sungguh2 supaya “jangan dulu ambil dia, soalnya kami masih sangat membutuhkan dia”,hu..hu.., tetapi Allah berkata “TIDAK”. Saya tahu Allah adalah KASIH, tapi untuk otoritasNYA saya sering tidak mengerti dan tidak bisa berbuat apa2. Saya jalani saja sisa hidup ini untuk terus percaya dan menerima otoritas Allah.
Daniel Harahap:
Alkitab sangat jarang memakai istilah otoritas Allah (gagasan itu lebih disukai oknum tertentu) namun lebih banyak berkisah tentang Allah yang baik, penuh belas kasih dan murah hati.
Otoritas atau misteri?
Dearest a/DTA n i/DSB,.. biasanya kebaikan, belas kasih, dan kemurahhatian Allah baru kita sadari dan rasakan (misteri ALLah) setelah kita pasrah akan otoritasnya… jadi ada ztepznya atau tahapan-nya. Menerima otoritas Allah dulu, barulah menanti-nantikan (mengimani) misteri Allah.
Gitu… Jadi Apapun terminologinya menurut sayaaa…(sebagai orang percaya atau sebagai orang yang belajar percaya?) ya kita tetap harus mengimani bahwa semua itu untuk kemuliaan Tuhan.
Daniel Harahap:
Saya sangat sederhana berpikir. Bagi saya Allah itu baik dan sangat baik. Itu saja.
Abram vs Abraham; otoritas vs misteri; baik vs sangat baik;
Puji Tuhan lah ..
Kutipan DTA:
“Silahkan tetap berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif ……”
Kutipan Todungrs:
, amang seperti bisa membaca pikiran Tuhan. Dan apakah penjelasan amang itu logika?”
“Amang Sitanggang, mudah-mudahan saya salah
Penjelasan lanjutan saya :
Mat. 4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
Mat. 4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
Mat. 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Mat. 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
Luk. 4:2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
Luk. 4:3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
Luk. 4:6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
Luk. 4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.
Logikanya bahwa Yesus mampu melakukan, tapi tidak mau melaksanakan. Mampu melaksanakan, tapi belum mau melakukan. Dia selektif dalam melakukan dan melaksanakan tugasNya seperti tawaran-tawaran pada ayat diatas. Thanks, atas responnya.
Tu Amang St Maludin Sitanggang :
Menafsir dan menggumuli suatu teks/konteks kitab suci di samping berpikir logis, analitis, kreatif, sistematis maupun kreatif masih ada yang penting sebagai orang percaya dengan yaitu berpikir secara supra rasio, transenden dan berani berpikir paradoks karena ini masalah iman dan wahyu Allah. Karena apa yang dapat kita mengerti sebagai orang percaya dan sudah tercemar dosa, adalah terciptanya pengertian hanya spesial anugrah, yang mustahil dimengerti secara ilmiah. Menggali kitab suci harus dimulai dari titik tolak dari usaha untuk mengerti rancangan apa yang Tuhan inginkan kita tahu tentangNya bukan apa yang ingin saya tahu tentang Dia. Di sinilah kita mulai belajar berteologi sehingga kita menempatkan posisi Pencipta sebagai subjek dan kita sebagai objek. Ini polanya tentu berbeda dengan ketika kita melakukan metode ilmiah. Metode ilmiah mencari pembuktian kebenaran Discovery truth/kebenaran manusia sedangkan berteologi adalah pergumulan mencari kebenaran kehendak,kebenaran dan hukum-hukum Allah/Revealed truth yang tetap misteri bagi manusia.
Tuhan yang tak terbatas memang berbicara kepada manusia dengan bahasa manusia dan rela membatasi dirinya untuk boleh dimengerti manusia.
Tapi mengatakan Tuhan mau tapi tidak mampu atau DIa tidak mau tapi mampu dan Dia tidak mampu dan tak mau melaksanakan, adalah ungkapan yang sebenarnya kita tidak tau. Dengan lain perkataan, kita tidak mungkin tau bahwa Allah tidak sanggup menjadikan segitiga sekaligus bujur sangkar. Karena kita manusia tidak mampu menganalisanya.
Allah jelas tidak bisa melakukan yang bertentangan dengan diriNya seperti ketidakberdosaanya,kedaulatanya,kasihnya,kemahakuasaanya.
Tapi untuk konteks Lukas 4 adalah pengungkapkan karakter Iblis yang tidak sadar kuasa dan kedaulatan Allah dengan mencobai Dia seolah-olah iblis berkuasa dan pemilik seisi dunia atau dia sumber kerajaan. Bukan keterbatasan Tuhan.Di sinilah kebaikan Allah memberikan free will kepada iblis mencobai Tuhan dan juga kepada kita . Allah rela dicobai untuk membuktikan bahwa Dia tidak bisa dicobai oleh siapapun, Allah mau mati membuktikan bahwa Dia tidak bisa dibinasakan dll ( cara berpikir paradoks).
Daniel Harahap:
Harus ditambahkan bahwa penjelasan di atas adalah penjelasan seorang manusia dan bukan penjelasan langsung dari Tuhan.
Bagi saya Firman Tuhan di Matius 4,adalah Kisah Abadi dan Monumental sebuah Success story Bgmn Allah dalam rupa ” manusia” menyikapi,menjawab dan melewati cobaan2 kehidupan fana ini. Yaitu dari masalah Tubuh Jasmiah (makanan/Roti), Jiwa (Harta dan Kekayaan) dan Rohaniah (Kemuliaan dan Kehormatan). Dengan kisah ini saya mengerti bahwa Allah mengerti arti cobaan,godaan,tantangan dan suka duka kehidupan manusia.Lebih dari mengerti Allah jg perduli akan kehidupan kita masing-masing.Ingatlah bahwa Kesalamatan yang Tuhan berikan adalah Keselamatan PRIBADI shg romantisme kita msg2 jadi Unik.Walaupun jalan cerita hidup kita berbeda-beda,namun pada Prinsipnya kunci untuk mendapatkan Kesalamatan (seperti Kisah Mat fatsal 4 : pencobaan Yesus dipadang Gurun),adalah hanya “Porsea/ Percaya /Faith/Fide” (Yesus Kristus dan FirmanNYA). Selanjutnya seperti doa dalam lagu pujian kita: “aku berserah,aku berserah……”