Ibadah Saja Tak Cukup

October 29, 2008
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Rabu 29 Oktober 2008:

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari hadapan mataKu. Berhentilah berbuat jahat. (Yesaya 1:16).

Rajin dan tekunlah beribadah. Melalui ibadahlah kita menyatakan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Dalam ibadahlah kita berjumpa dengan Tuhan, mentaati hukum-hukumNya, mengaku dosa dan menerima pengampunanNya, mendengar petunjukNya untuk dilaksanakan dalam hidup sehari-hari, mengaku iman kepercayaan kita, memberi persembahan, mendengar firmanNya, menaikkan doa syafaat dan menerima berkat Allah. Sebab itu ibadah benar-benar penting dan berguna bagi kita membangun spiritualitas atau keimanan kita. Tanpa ibadah iman kita akan kerdil, layu dan mati.

Namun kerajinan dan ketekunan beribadah saja tidaklah cukup. Yang dituntut Tuhan dari kita sebenarnya bukanlah pujian atau persembahan, tetapi berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup rendah hati (Mikha 6:8). Tuhan lebih menyukai kasih setia dan pengenalan yang dalam kepadaNya dibandingkan korban atau persembahan (Hosea 6:6). Tuhan menginginkan ketaatan dan bukan korban (Yeremia 7:22-23). Hal ini menyadarkan kita bahwa ibadah bukan pengganti keadilan, kejujuran, ketaatan dan kasih. Persembahan, nyanyian, doa dan pujian bukanlah pengganti sikap hidup yang baik dan benar. Nabi Yesaya menegur umat Israel dulu karena umat sangat rajin dan antusias beribadah namun sangat suka juga melakukan yang jahat dan kejam terhadap sesamanya. Lantas bagaimana?

Tuhan menghendaki kita datang kepadaNya dengan hati dan pikiran yang bersih. Dia meminta agar ibadah kita benar-benar sejalan dengan hidup kita. Dia ingin kita bertobat sebelum datang kepadaNya apalagi sesudah pulang dari rumahNya. Lebih dari itu agar kita menjadikan ibadah itu sebagai bekal, modal, dan sumber untuk hidup baik, benar dan adil.

Doa:

Ya Tuhan Allah, ajarlah kami beribadah dengan tulus ikhlas kepadaMu. Kami sungguh ingin memujiMu dan bersyukur atas segala yang baik yang Kauanugerahkan kepada kami. Kami ingin menyampaikan nyanyian, doa dan persembahan sebagai tanda syukur. Terimalah ya Tuhan. Namun Engkau juga memanggil kami agar bertobat dan berhenti melakukan yang jahat. Murnikanlah ibadah-ibadah kami. Berilah kami RohMu agar kami mampu mengubah hati dan seluruh hidup kami sesuai dengan kehendakMu. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

8 Responses to Ibadah Saja Tak Cukup

  1. sihomb on October 29, 2008 at 7:46 am

    kadang saya jadi kasihan juga lihat teman yang berkata : “Imanku tidak tumbuh kalau ibadah di HKBP …. ”
    yang membuat saya kasihan : ….. dia tidak tau kalau beribadah itu adalah sesuatu yang sangat disukai Tuhan (NB: lebih untuk kepentingan DIA), sedangkan dia masih berpikir untuk kepentingannya sendiri saja

    http://rapmengkel.com

  2. Kimron Manik on October 29, 2008 at 8:46 am

    Sepertinya ayat-ayat almanak minggu ini bertemakan pertobatan, jadi bersyukurlah kita yang baca renungan di rumametmet ini, karena kita diingatkan terus untuk menjauhi perbuatan jahat dan selalu membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan.
    Yang jelas kalau secara manusia normal dan tanpa bantuan Tuhan, kita tidak akan mampu untuk seterusnya berbuat baik dan benar tanpa pernah berbuat jahat. Oleh karena itu jangan pernah berhenti bersihkan diri jika sudah disadari bahwa diri kita dalam keadaan kotor.
    Namun yang susahnya, kita lebih sering merasa diri kita yang bersih sementara orang lain yang kotor, sehingga kita sering menyalahkan orang lain tanpa introspeksi diri. Mari kita mulai dari diri sendiri…..

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on October 29, 2008 at 8:59 am

    Yang Tuhan inginkan adalah pelaksanaan dari Firman Tuhan yang kita dengar di Gereja, bukan pujian, bukan persembahan dan bukan korban.

    Dalam beribadah dibutuhkan kekhusyukan supaya kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dan puji-pujian. Coba bayangkan jika anda berdoa sambil mendengarkan suara radio atau TV, apakah bisa anda berkonsentrasi dengan doa anda tersebut?

    Ibadah yang trend masa kini adalah budaya pop yang dirohanikan. Contohnya: berteriak-teriak layaknya penonton sepak bola menyaksikan tim favoritnya menggolkan gawang lawan. Tuhan Yesus bukanlah Michael Jackson yang patut diberi tepuk tangan. DIA lebih berkuasa daripada Michael Jackson. Jadi, kita harus memberiNYA sesuatu yang lebih berharga dari sekedar menepuk tangan. Yakni perubahan tingkah laku (pertobatan).

    Penyaliban Tuhan Yesus bukan untuk ditangisi, tapi untuk disyukuri. Sebab DIA memberikan nyawaNya untuk menebus dosa-dosa kita. Itu adalah rencana Tuhan. Jadi yang harus kita lakukan adalah MENGUCAP SYUKUR, bukan menangisi penyalibanNYA. Sebab sesudah penyalibanNYA masih ada episode lain sesudah itu, yakni kebangkitanNYA dan kenaikanNYA. Saat ini DIA sudah di sorga, bukan di kuburan lagi. Jadi, penyalibanNYA tidak perlu ditangisi.

  4. Gerda Silalahi on October 29, 2008 at 10:08 am

    emmatutu.., jangan cuma badia dan rohani di ruangan ibadah, begitu keluar sudah kembali jadi manusia apatis. lagi-lagi unang holan hata.

  5. Agus Karta Parulian Panggabean on October 29, 2008 at 10:24 am

    Sesudah mengucap syukur, lalu perubahan tingkah laku. Dari yang tadinya berdoa panjang-panjang (sepanjang Jakarta-Medan) menjadi doa yang singkat tapi padat. Sebab itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus (Matius 6).

  6. Saurdot on October 29, 2008 at 12:09 pm

    Israel.. oh, Israel. Beruntunglah engkau menjadi kaum pilihan TUHAN. Bagaimana pun kondisimu, TUHAN tetap setia kepadamu. Engkau mendapatkan kemujuran itu karena setia-Nya terhadap janji yang disampaikan kepada nenek moyangmu, Abraham dan Ishak dan Yakub.
    Ketika engkau setia, hal-hal ajaib menjadi bagian kehidupanmu, namun ketika engkau mulai meninggalkan-Nya, Dia pun mengajar dan mengingatkanmu untuk datang kembali kepada-Nya. Malah, di saat engkau meninggalkan-Nya, masih ada keluar pernyataan menyejukkan “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Luar biasa kebaikan TUHAN kepadamu.
    Aku cemburu!!, jikalau aku tidak membaca bagian ini : Roma 11:11-24 – Israel tersandung, bangsa-bangsa lain selamat.

  7. Panca Bonar on October 29, 2008 at 1:49 pm

    Renungan hari ini sangat tepat untuk kejadian PILKADA di Taput yang berakhir dengan kerusuhan sebagai akibat kecurangan yang terjadi dalam proses pilkada oleh salah satu calon yang konon memperoleh suara terbanyak. Semoga tujuan pilkada untuk kesejahteraan masyarakat masih diingat bukan untuk memperoleh kekuasaan. Berhentilah berbuat jahat, termasuk berhenti dalam melakukan kecurangan saat pilkada itulah makna renungan hari ini. Mari kita doakan bersama dan terima kasih pak Pendeta atas renungan hari ini

  8. ama ni amsal siregar on October 29, 2008 at 2:09 pm

    thanks buat ruma metmet yang selalu eksis didalam menyampaikan / menyuarakan firman Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*