Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Pukul enam lewat. Serpong mendung sekali. Saya mendengar burung bernyanyi. Ini bukan puisi tapi laporan peristiwa pagi ini. Koneksi internet di rumah bermasalah, karena itu saya – dengan segelas kopi – pindah ke kantor gereja yang entah kenapa pulak harus dibangun dahulu bersebelahan dengan kamar tidur saya. Saya pun mulai membuka ayat Almanak hari ini (sebelum tidur kemarin sudah saya baca dan biarkan mengendap) dan mencoba merenungkannya dalam bentuk tulisan guna diposting ke blog Ruma Metmet. Pukul 07.03 renungan diposting dan saya pun pindah ke Facebook, lantas sebentar ke Friendster, kemudian ke Yahoogorups tepatnya milis HKBP yang sudah berusia sepuluh tahun. Semua sepi. Dunia maya mendung juga rupanya.
Syukurlah Hendro, koster gereja, datang membawa Kompas. Sedikit lusuh, mungkin dilempar loper ke teras depan sehingga kena air. Saya pun duduk bersandar baca koran setelah menghirup kopi di cangkir telkomsel. Headline Kompas Pemerintah Jaga Ketat Rupiah. Tidak mengerti, kata saya dalam hati. Ada foto SBY berbatik di halaman depan, mungkin saat peringatan Sumpah Pemuda, namun saya tidak selera membaca beritanya. Mata saya malah melorot ke bawah membaca kabar “sowan agung” dari Jogja: Sultan Maju sebagai Calon Presiden. Mana mungkin, komentar saya dalam hati? Tapi bagaimana kalau mungkin ya? Saya terus membolak-balik koran mencari berita hangat, menarik dan saya suka. Nah, ini dia: kabar tentang Pemilu AS. Diam-diam saya suka Obama dan mengharap dia menang dalam Pemilu 4 November ini. Namun saya tidak mau berharap sebab tidak mau kecewa. Saya masih tak yakin Amerika mau memilih orang kulit hitam sebagai presidennya. Jangan-jangan seperti dugaan pengamat, tiga hari menjelang Pemilu ada saja berita aneh yang bisa mengubah otak pemilih Amerika kembali menjadi rasis. Tapi moga-moga saja Obama menang.
Apa lagi? Membaca koran lecek (koran saya sering jatuh ke lantai kamar mandi) sangat tak nyaman. Tapi saya tidak punya pilihan. Saya terus bolak-balik mencari-cari berita lain yang menarik dibaca, tentu saja berdasar judulnya. Kadang saya merasa sudah cukup hanya membaca judulnya saja. Entah kemunduruan atau kemajuan, semakin tua saya merasa semakin tak guna membaca koran banyak-banyaknya.
Jakarta mulai tergenang (ah itu kabar lama kata saya). Sakit hati yang berujung mutilasi (ah, masak pagi-pagi harus sarapan potongan mayat?). PDIP tidak setujui pengesahan UU Pornografi (ah yang benar kata saya, akhirnya pasti setuju kan?!). Oh apa pulak ini? Halaman 24: Kantor KPU Tapanuli Utara Dibakar Massa!!!! (tanda seru itu dari saya). Mata saya melotot mencermati kata demi kata, huruf demi huruf. Oh. Ah. (Apa kubilang?).
Saya meletakkan koran ke samping dan menghirup kopi. Pagi masih mendung.
Share on Facebook
Coba baca Sumatera Express, halaman 17. Ada foto yang mudah-mudahan bisa menghibur.
wah, milis kita sedang berulangtahun yah? kok gak ada yang mention di milis yah.
kompas lecek karena jatuh di kamar mandi.., sama duonkkk !
Gisella yang berumur 3 bulan itu tidak selamanya menuntut digendong. Acapkali dia sudah cukup tenang asalkan saya ada di dekatnya.
Kesempatan seperti itu saya pakai untuk membaca koran. Tapi supaya anak kecil itu tidak rewel, saya harus membaca dengan bersuara. Dan begitu mendengar suara saya, anak kecil itu pun balik mengeluarkan suaranya.
“Presiden Yudhoyono meminta…..,” kata saya. “Hghwawawahghawa….,” kata anak kecil itu menimpali. “Sri Sultan menyatakan diri siap menjadi presiden….,” kata saya. “Hgrhwuughwruh…ghwruu…,” kata anak kecil itu menimpali.
Kalau saja ada “mesin” yang bisa membaca isi hati dan kepala manusia, barangkali celotehan seorang anak kecil berusia 3 bulan tentang peristiwa yang terjadi di negeri amburadul ini menarik juga untuk disimak
saya nonton beritanya di tv td malam, dan waktu pagi hari baca salah satu koran lokal beroplah besar utk ukuran Medan – analisa – saya cukup heran berita itu tidak tersirat di halamannya sedikitpun, kompas saja menyisakan space memuatnya.. padahal pilkada dairi yg sukses masih muncul di halaman agak belakang, klu rusuh pilkada taput ?
oh.. saya ga ngerti juga sih
Kalau aku salah satu jemaat Serpong, akan kutiru Tuhan Jesus dengan jubah dan brewoknya dan kuketuk pintu rumah pendeta DTA jam lima pagi. Sebelum ia sadar akan apa yang terjadi, aku menyapa dengan syalom dan menyodorkan setumpuk koran dan berkata; “Amang, ini ada banyak berita. Tapi ingatlah hanya ada satu berita baik”. Lalu aku segera menghilang di kegelapan. Apakah ia memakiku sebelum angsa berbunyi?
Memang lagi mendung… dan mendung sekali….
Harga sawit hanya seratus perak sekilo, petani nggak mau panen. Ekonomi di sumatera lumpuh….
Mendung…. Tapi masih ada PENGHARAPAN…..
Oh Indonesia…. Beritamu hanya menyangkut kekerasan , kemiskinan dan perselingkuhan tapi biarlah yang kudus semakin kudus dan Dia akan menjaga anak-anak pilihan-Nya sampai akhir zaman
comment5; cheap health insurance qwwi; new zealand gambling help 029153; ergonomic midi controllers 8-[[[; viagra skin rash ryxgky;
Kalau tidak heboh beritanya, ga akan makmur jacoeb utama
-sory to say-
negeriQ…
pakah akn slma na sprti ini ?
fuih…..