APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN, TUHAN?

October 29, 2008
By Daniel T.A. Harahap

SERMON MINGGU INI

petunia2.jpg

Bahan : Kisah Rasul 2 : 37 – 41

Kisah Para Rasul adalah buku kedua yang ditulis oleh Tabib Lukas. Kedua buku itu pada awalnya dituliskan untuk seorang bernama Teofilus (Luk 1:1, Kisah 1:1). Buku pertama berisi tentang “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus sampai pada hari Ia terangkat” (Kisah 1:1-2) dan buku kedua berisi tentang segala sesuatu yang terjadi dengan murid-muridNya atau para rasulNya sesudah peristiwa itu. Sebab itulah buku itu diberi judul (bukan oleh penulisnya) Kisah Para Rasul. Namun bila kita baca seksama, sebenarnya yang lebih berperan dalam kisah itu bukanlah para Rasul tetapi Roh Kudus. Sebab itu buku kedua itu sebenarnya menurut para ahli PB lebih tepat judulnya: Kisah Roh Kudus melalui para rasul.

Sementara itu Kisah Rasul 2:37-41 adalah bagian dari kisah Pentakosta atau kisah turunnya Roh Kudus yang telah dijanjikan Yesus (Lukas 24:49, Kisah 1:8). Lebih spesifik lagi perikop ini (kecuali ayat 41) adalah bagian dari kisah kotbah Petrus pada hari Pentakosta itu. Apakah yang dapat kita renungkan dari teks ini?

Pertama: Berilah respon kepada firman. Setelah mendengar kotbah Petrus tentang Yesus yang mati disalibkan oleh orang Yahudi namun justru dijadikan Allah sebagai Tuhan yang mulia itu, Penulis Kisah menceritakan orang banyak itu sangat tersentuh dan terharu. Dan mereka pun bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul lain: Apakah yang harus kami perbuat? Pertanyaan ini jelas-jelas lahir sebagai dampak dari kotbah atau firman yang yang disampaikan oleh Petrus. Orang banyak itu bertanya “apa yang harus dilakukan” setelah mendengar kotbah yang disampaikan Petrus. Hal ini menyadarkan kita bahwa kotbah atau firman Tuhan bukanlah sekadar untuk menghibur, menyenangkan hati atau memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk mendorong sikap dan tindakan. Sebab itu baiklah kita juga saban mendengar kotbah atau membaca Alkitab membiasakan bertanya: apa yang harus kulakukan, Tuhan?

Kedua: pertobatan sebagai respons terbaik terhadap firman. Terhadap pertanyaan orang banyak “apakah yang harus kami lakukan” Petrus menjawab: “bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi diri diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu”. Orang Yahudi menyalibkan Kristus karena tidak mengakuiNya sebagai Tuhan, Raja dan Juruselamatnya. Jika kini mereka mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, Raja dan Juruselamat maka itu hanya bisa terjadi jika ada pertobatan atau perubahan yang benar-benar mendasar dalam hati dan pikiran mereka. Disini Rasul Petrus mengaitkan secara erat pertobatan dan baptisan. Maksudnya: hanya dengan baptisanlah pertobatan itu diwujudkan. Sebaliknya hanya dengan pertobatan jugalah baptisan itu menjadi nyata. (Roma 6:4-5). Namun baptisan hanyalah satu kali untuk selama-lamanya. Bagi kita yang sudah dibaptis sebab itu yang harus dikerjakan tinggallah pertobatan. Apa arti pertobatan? Perubahan hati dan pikiran, pembalikan sikap dan tindakan: dari tidak percaya menjadi percaya kepada Allah, dari putus asa menjadi berpengharapan, dari jahat menjadi baik, dari kikir menjadi pemurah, dan dari penyembah berhala (atau uang) menjadi penyembah Allah atau kebenaran.

Terhadap orang-orang yang dibaptis dan bertobat Rasul Petrus menjanjikan karunia Roh Kudus. Kita dapat memahami hal ini secara sederhana. Setiap orang yang bertobat dan dibaptis boleh percaya dan yakin bahwa dia sudah menerima Roh Kudus (tanpa harus mengalami gejala-gejala aneh atau sensasional!). Ingat: tidak ada yang dapat menyebut Kristus sebagai Tuhan jika bukan atas dorongan Roh Kudus (1 Korintus 12:1-3). Jika kita percaya dan dapat berseru Yesus adalah Tuhan itu artinya Roh Kudus sudah ada dalam hati kita.

Ketiga: orang yang sudah dibaptis dan bertobat tetap membutuhkan banyak kotbah, nasihat, teguran, kritik dan tuntunan (ayat 40). Rasul Petrus tidak berhenti menasihati jemaat yang baru dibaptis itu. Sama seperti kematian Kristus, baptisan memang satu kali untuk selama-lamanya. Namun pertobatan harus dilakukan berulang-ulang dan proses belajar harus berlangsung seumur hidup. Tidak seorang pun yang boleh mengatakan: sudah tamat dan tidak membutuhkan lagi kotbah dalam hidupnya!

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap


Share on Facebook

3 Responses to APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN, TUHAN?

  1. richard hutahaean on October 30, 2008 at 1:06 am

    Menurut saya:
    1. Khotbah dapat juga berupa pukulan. Pukulan yg dikhotbahkan Petrus menyadarkan pendengar bahwa merekalah yg bertanggung jawab atas darah Orang yg diurapi Tuhan, sehingga mereka berseru “apakah yg harus kami perbuat, saudara-saudara”
    2. Dari khotbah Petrus juga pendengar memperoleh kepastian akan diselamatkan dan agar segera menyelamatkan diri dari generasi yg rusak itu; asalkan mau di babtis dalam nama Yesus sebagai Messias.
    3. Hikmah dari poin 1 & 2, setelah memberi pukulan/teguran mestilah dilanjutkan dengan memberi jalan keluar yg baik. Sehingga hidup diperbaharui.

    Mauliate Godang

  2. Kimron Manik on October 30, 2008 at 9:29 am

    Tapi bagaimana ya cara menegur seorang katakanlah Pensiunan Pdt atau Sintua, sudah tua, sudah berpengalaman, hkbp lagi, jika mereka melakukan sesuatu yang tidak benar?

    Daniel Harahap:
    Pakai orang yang lebih tua, kalau dia batak pakai hula-hulanya atau sahabatnya. :-)

  3. semi on September 9, 2009 at 9:08 pm

    respon gereja ketika mengalami pencurahan Roh kudus adalah harus mau memberitakan Injil kepada semua orang yang belim mengenal Injil itu karena konteks waktu itu ketika hari pentakosta orang-orang percaya menjadi sehati dan sekata dalam perkataan dan sikap hidup sebab itu dari persekutuan yang mereka lakukan dapat menarik orang di luar bangsa Israel tertarik melihat peristiwa yang menakjubkan itu. jadi terlebih lagi bagi gereja untuk saat ini bukan tren bagi gereja untuk berdiam diri tetapi sudah saatnya untuk keluar dan pergi memberitakan Injil bukan mengkristenisasi sebab menjadi Kristen belum tentu selamat tetapi mengenal Kristus dan mau menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara Pribadi sebab Ia telah menanggung segala dosa kita setiap orang yang percaya kepada Dia dan perlu di ingat bahwa Kristus datang untuk mencari orang yang berdosa itulah sebabnya Ia mencurahkan Roh-Nya kepada umat-Nya agar mau pergi memberitakan Injil kepada orang yang belum mengenal dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*