“Sumpah Orang Tua 2008″

October 28, 2008
By Daniel T.A. Harahap

selamatkan-indonesia.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Hari ini 28 Oktober. Hari Sumpah Pemuda. Saya bukan lagi pemuda. Lantas apa urusan hari bersejarah ini dengan saya (dan Anda yang jujur mengaku tak lagi muda)? Sekadar mengenangkan masa muda dengan semua heroisme, idealisme dan kenekadan dan kekonyolannya? Atau pura-pura haru merenung tentang Kongres Pemuda tahun 1928 silam yang melahirkan sumpah historis itu. Atau bikin upacara meriah walau sesudahnya tak terjadi apa-apa, baik dalam diri peserta apalagi negara.

Berhubung saya tidak lagi pemuda (Konferensi Pemuda HKBP di Sipirok menyatakan batasan umur pemuda 30 tahun dan kini saya 45 tahun), saya hanya ingin mengajak kawan-kawan saya “petua” atau orang-orang yang mulai menua untuk berjanji, bertekad, atau berkomitmen (iman Kristen saya melarang saya bersumpah kecuali diminta oleh hakim di pengadilan) sederhana:

Kami orang-orang tua Indonesia menyatakan:
bertanah air satu: tanah air Indonesia milik semua suku, agama, golongan dan ras di Indonesia.
berbangsa satu: bangsa Indonesia yang majemuk, bebas korupsi dan anti kekerasan.
berbahasa satu: bahasa Indonesia yang baik dan benar serta dipahami oleh semua.

Bagaimana? Ayo para “petua” atau orang tua Indonesia, tidak perlu sok muda apalagi pura-pura muda, namun lakukanlah sesuatu yang bermakna dan berguna. Jangan cuma menuntut pemuda bersumbah, mulailah janji, tekad, sumpah dan komitmen memperbaiki Indonesia justru dari orangtua apalagi yang sedang berkuasa.

Horas Indonesia!

Share on Facebook

8 Responses to “Sumpah Orang Tua 2008″

  1. richard hutahaean on October 28, 2008 at 8:53 am

    Hidup Syech Puji! ehhh…. Hidup Indonesia!

  2. JP Manalu on October 28, 2008 at 9:37 am

    Pdt. DTA Harahap
    …..berjanji, bertekad, atau berkomitmen (iman Kristen saya melarang saya bersumpah kecuali diminta oleh hakim di pengadilan).

    JP Manalu,
    Oh ya amang, sekalian minta “pencerahan”, apakah memang orang Kristen hanya boleh bersumpah jika diminta oleh hakim di Pengadilan?. Saya jadi ingat, pada tahun 1994 yang lalu ketika di tempat saya bekerja saya mengikuti “ritual” pengambilan sumpah. Ketika itu, saya kemukakan secara terbuka kepada pimpinan saya, bahwa sebagai orang Kristen saya tidak berhak untuk bersumpah, akan tetapi karena ini sudah merupakan prosedur “standar” di tempat saya bekerja, saya akhirnya mengikuti prosedur tersebut, walaupun dalam hati saya “merasa” kurang sreg. Belakangan saya dengar, khusus untuk yang beragama Kristen tidak lagi pengambilan sumpah tetapi menjadi pengucapan janji.
    Dengan kondisi seperti saya ceritakan di atas amang, (sebelum penggantian sumpah menjadi janji) langkah apa yang harus dilakukan seorang Kristen jika ada instansi yang memiliki prosedur standar pengambilan sumpah. Terimakasih.

  3. Saurdot on October 28, 2008 at 12:22 pm

    Ketika berangkat kantor hari ini, saya sempat mendengar obrolan pagi “Putri Suhendro dan M.Rafiq” tentang Sumpah Pemuda di siaran i-Radio Jakarta. Mereka membahasnya dengan seru diiringi sms-sms pendengar yang masuk yang tak kalah serunya dengan pesan dan kesannya sendiri-sendiri. Ketika memasuki lagi halaman rumametmet, saya mendapati ada lagi peringatan sejenis. Mungkin ada banyak komponen atau komunitas lainnya yang mengangkatnya menjadi topik hangat hari ini. Bahkan ada Instansi Pemerintah yang upacara bendera.

    Saat ini saya sedang berfikir dan merenung, mengapa content Sumpah Pemuda masih relevan dalam hidup berkebangsaan saat ini? Ternyata Sumpah Pemuda itu belum berhasil sepanjang 80 tahun sejak diikrarkan. Bahkan karena ketidakberhasilan ikrar itu, Amang DTA harus mengeluarkan lagi Sumpah Petua 2008 hari ini dengan penyempurnaan kata-kata disana-sini, seolah Sumpah Pemuda 1928 belum eksplisit. Namun begitu, Selamat Memperingati Sumpah Pemuda bangsaku. Dan selanjtnya mengajak, agar kita bersama-sama melepas semboyan “bhinneka tunggal ika” dalam cengkraman burung garuda itu dan menorehkannya di hati sanubari.

    Daniel Harahap:
    Yang hendak saya tekankan pertama: saya tidak pemuda lagi. Kedua: bukan hanya pemuda, tetapi kaum tua apalagi masih seperempat/ setengah tua pun harus tetap kommit kepada negeri ini. Salah satu komitmen yang diperlukan itu adalah: berbangsa dan bernegara satu yaitu bangsa dan negara Indonesia yang bebas korupsi.

  4. daniel simanjuntak on October 28, 2008 at 1:25 pm

    Jika saya tidak salah ingat, Marthin luther dalam kathekismus besar bilang bahwa sumpah dapat dilakukan oleh orang kristen dalam hal kita memang benar2 mau menaatinya (CMIIW).

  5. Rudi Juan Carlos Sipahutar on October 28, 2008 at 2:31 pm

    Content sumpah penatua, OK juga !
    kontekstualnya bagi yang muda :

    Wahai anak Muda,..
    Jangan terlalu cepat menyumpahi yang sudah tua..
    karena mereka juga mansia
    yang punya cinta dan tetap setia…

    yang Muda boleh bicara
    yang Tua boleh mendengar

    kalo yang Tua sdh bicara
    giliran yang muda harus dengar…

    Daniel Harahap:
    Huss. Bukan penatua tetapi petua. Itu istilah baru yang sepadan dengan pemuda. :-)

  6. togi sianipar on October 28, 2008 at 2:35 pm

    mumpung masih dalam semangat sumpah pemuda, jadi boleh dong aku nebeng posting ya amang. thx

    perkenalkan namaku togi sianipar, sekarang berdomisili di jakarta.
    sebenarnya ada sedikit azas manfaat nangkring di blog ini, gpp ya. toh juga untuk kebaikan.

    oh ya.., kami dari organisasi IKATAN ALUMNI DEL mengadakan kegiatan penggalangan dana yaitu:
    “IA DEL GIVES BACK”.
    http://nataldel2008.wordpress.com

    Daniel Harahap:
    Kalau mau nebeng ya nebeng saja, kalau mau numpang ya numpang aja. Tidak usah dikaitkan dengan Sumpah Pemuda apalagi Sumpah Manula segala. :-)
    Hidup Del! Jayalah Laguboti!

  7. sihomb on October 29, 2008 at 7:38 am

    tapi kalau deklarasi sumpah ini hanya di lingkungan halak hita, kayaknya kurang efektip juga .. apalagi untuk sumpah nomor 1
    gimana caranya ya supaya blogg ini juga dibaca oleh “mereka”
    ( ise do tahe “mereka” na humaksud on ? )

    http://rapmengkel.com

    Daniel Harahap:
    Segala sesuatu tetap harus dimulai dari yang hadir. :-)

  8. Perdanawan P. Pane on June 16, 2009 at 5:06 pm

    Bang Harahap,
    Saya mohon izin meminta foto “Merah Putih Terkoyak” untuk artikel saya di Facebook…

    Salam dari Pane.
    Ompung’ku Harahap pula… :D

    Daniel Harahap:
    Silakan. silakan. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*