Almanak Selasa 28 Oktober 2008:
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu! (Yoel 2:13a)
Umat Israel memiliki tradisi untuk mengungkapkan kedukaan, penyesalan, pengakuan dosa dan permohonan ampun: merendahkan diri duduk di perapian dengan pakaian robek dan abu di kepala. Itu sesungguhnya suatu simbol yang bagus untuk membentuk spiritualitas. Penyesalan atau doa permohonan ampun tidak hanya diungkapkan secara verbal atau kata-kata belaka, namun dilakoni dan dihayati melalui suatu tindakan simbolis atau perlambang.
Namun dalam perkembangan, tindakan simbolis ini jatuh menjadi sekadar seremoni belaka yang tidak lagi keluar dari hati. Sebab itulah TUHAN Allah mengutus nabi Yoel menegur umatNya yang telah menjadikan “pengoyakan pakaian” sebagai tindakan setengah hati, asal-asalan atau main-main belaka. Kosong tanpa arti. Nabi Yoel mengatakan bahwa mengoyakkan pakaian sebenarnya hanyalah sebuah tanda lahiriah. Yang paling penting justru adalah mengoyakkan hati atau menyesali dosa-dosa dengan sepenuh hati. (Di kesempatan lain Yesaya juga menegur umat bahwa berpuasa dan merendah yang sesungguhnya bukanlah tidur beralas karung dan debu, namun berbuat baik kepada orang miskin! Lihat Yes 58:5-7).
Tuhan meminta hati yang tulus dan serius menyesal dan ingin bertobat. Namun kita jangan cepat-cepat menafsirkan bahwa simbol-simbol perendahan diri dan penyesalan sebagaimana biasa dipraktekkan umat Israel menjadi tidak penting. Kehidupan kekristenan kita sekarang justru menjadi kering kerontang karena sangat verbalistik dan miskin simbol, termasuk dalam mengungkapkan penyesalan, pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Tuhan Allah. Mungkin kita harus menemukan atau membuat kembali sejumlah tanda atau simbol mengungkapkan doa pengakuan dan penyesalan kita, lebih dari sekadar kata-kata. Apalagi sekadar kata-kata yang keluar tanpa perasaan. Itulah yang mendorong kita melakukan pertobatan sejati atau sungguh-sungguh.
Doa:
Ya Tuhan Allah, kami mengaku orang berdosa. Banyak kejahatan dan kesalahan kami lakukan dalam hidup kami dengan kata dan perbuatan. Ajarilah kami mengungkapkan penyesalan kami akan dosa dan kesalahan kami. Kami ingin merendah di hadapanMu, sungguh-sungguh bertobat dan hidup baru. Demi kemurahanMu, ijinkanlah kami hidup dalam pengampunanMu. Dalam Kristus yang telah mati dan bangkit kembali, kami datang padaMu. AMIN.
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Share on Facebook
Yang penting adalah PELAKSANAAN atau buah dari pertobatan bukan penyesalan apalagi simbol.
Pada saat kita menaikkan doa pengakuan dosa (manopoti dosa) setiap hari minggu di gereja, hendaknya (pelayan dan jemaat) jangan cuma sekadar kata-kata. Tapi lebih dari sekedar itu: bertobat dan berubah tingkah laku.
Daniel Harahap:
Saya mengatakan: simbol sangat penting. Melalui simbol-lah kita merumuskan dan mengungkapkan isi hati kita.
Sebuah kesaksian:
Suatu hari dibulan Mei tahun ini, anakku dibaptis oleh Pdt DTA Harahap. Riwayat kelahirannya melalui suatu jalan berliku dan berbatu. Belum tiba saat untuk lahir, di usia kehamilan 8 bulan, ketuban tiba-tiba pecah di rumah. Setelah sampai di RS, disimpulkan bayi harus dikeluarkan dengan cara induksi karena air ketuban sudah tidak cukup dan saat itu berat bayi diperkirakan 1,4 kg (kecil sekali). Setelah di induksi selama 12 jam (2 botol obat induksi), bayi tetap tidak keluar sehingga sangat mungkin harus di operasi.
Selama 12 jam induksi itulah saya bingung bukan kepalang. Tak tau harus mengadu kemana. Aku terus berdoa di RS. Hatiku terkoyak. Karena harus mengurus anak-anak lain di rumah aku pun pulang jam 4 pagi. Sesampai di rumah, masuklah aku ke kamar, berdoa dan menangis sejadinya. Aku koyakkan sungguh-sungguh bajuku. Aku pukul-pukul kepala ku. Aku menyesal atas dosaku. Aku berdoa dengan satu kalimat: Tuhan, selamatkan istri dan anakku. Terus terang, aku belum pernah berdoa seperti ini.
Setelah semua urusan di rumah beres, aku pun kembali ke RS. Kira-kira jam 8 pagi, dokter visit. Tuhan Maha Besar. Air ketuban kembali penuh. Aku dan dokter terkejut. Untuk memastikan, dibawalah istri ke ruang USG 3 dimensi. Hasil tetap sama. Air ketuban sudah penuh kembali. Proses pengeluaran bayi seketika itu harus dihentikan. Bayi harus dipertahankan tetap di perut. Tetap tak percaya, aku telepon kakakku yg berprofesi dokter. Dia sama bingungnya dengan aku. Kami simpulkan, itu adalah mujizat.
Demikianlah, bayi itu pun lahir setelah cukup bulannya. Sehat. Dan kami namai dia Rogate Domini Hotma Hutahaean. Karena: Terpujilah Tuhan, yg tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.
Saya sampai merinding saat membaca kesaksian dari Amang Richard Hutahaean. Namun, Amang Harahap, ada yang mau saya tanyakan tentang puasa. Sebenarnya, biasanya saya puasa selain untuk melatih penguasaan diri, saya juga berpuasa karena ada suatu masalah yang menurut saya berat atau ada keinginan. Bisakah saya memohon seperti itu kepada Tuhan? Tolong bantu saya memperdalam makna puasa sebagai salah satu bentuk peribadahan pribadi kita dengan Tuhan.
Daniel Harahap:
Puasa memang tujuannya melatih fokus atau konsentrasi kepada satu pergumulan atau doa. Silahkan saja puasa sambil berdoa. Namun harus diingat: puasa bukan untuk menyiksa diri memancing belas kasih Tuhan. Tuhan baik dan penuh belas kasih. Lebih lengkap tentang puasa bisa dibaca di kategori Pembinaan Warga Gereja di ruma metmet ini.
Hindari perbuatan jahat dengan selalu berbuat yang baik, dan jika berbuat dosa secepatnya lah berdoa mohon ampunan Tuhan, jangan tunda-tunda atau cuek, karena bisa-bisa kelupaan ……..